Skip to main content

Posts

Showing posts from 2009

Kenapa ada lima belas menit yang terlewat dari gerbang sekolah itu?

Lima belas menit mungkin sedikit;
duduk di toilet, membaca koran, sambil
menyanyikan kenangan tentang garam-garam,
dan pasir yang diambil di pesisir
akan habis juga
menuju menit-menit setelahnya

tetapi, lima belas menit ini
mampu menutup pintu gerbang
membariskan kaki-kaki
seperti sebuah antrian
yang panjang
demi mendapatkan
teriakan peringatan
dan tamparan di pipi
sebagai bonus

lima belas menit ini pun
adalah pasar-pasar
dan berjubel kendaraan
yang bertumpuk
dengan dalih jam kerja
dan sinar matahari yang terik

aduh, papa…
bisa kau ganti lima belas menit ini
dengan lima belas menit lain
di jam yang rusak itu?

(2009)

Hatiku Pohon

hatiku adalah pohon-pohon
di hutan hujan tropis
sesekali menanti tangis
atau kematian
dari gergaji mesin
meraung-raung
menjadi gaung
dibawa angin
dibawa daun-daun
dibisikkan ke rawa-rawa
dan sungai-sungai
sebelum kembali sunyi

hatiku adalah pohon-pohon
di taman-taman kota
sejumlah jari
atau kurang dari
tetapi musim
adalah kabar burung
yang menyampaikan rindu
dari anak-anak laut
menggenang
berenang
menggunjingkan sampan
dan banjir Nuh
yang menenggelamkan
gunung-gunung

hatiku adalah pohon-pohon
atau mungkin akar
dan belukar
yang terbakar
dalam kobar api rindu
api kau itu
yang memantik rasa cemburu

hatiku adalah pohon-pohon
yang kutanam
di beranda rumah kau
kau tulis gambar hati
dan sepasang nama
sebuah janji
untuk saling mencintai
dan mempercayai

Tak Ada Sajak Buat Ibu

barusan ibu kirim sms, minta bikinin sajak
padahal aku benar-benar sedang sesak
sedang tak bisa bikin sajak

muter otak
ke kiri
dan ke kanan
baca sajak lain
tentang ibu
mungkin bisa jadi
sebuah
atau dua boleh juga
terus bikin ibu bahagia
membaca sajak aku itu

tetapi tak ada ibu yang sama
seperti ibu aku itu
ibu yang memetik bulan
kemudian memasaknya pagi-pagi
dihidangkan dengan goreng teri
lezat sekali
aku jadi penuh energi
berangkat ke sekolah
dengan bulan jadi nutrisi

aduh, aku jadi rindu ibu
ibu ibu, ibu mendengarkanku?
ih, angin cemburu
ga mau menyampaikan rinduku
ini pasti gara-gara
nggak ada yang rindu
sama angin itu

Tiga Bulan Setelah Mawar Putih Itu Layu

tiga bulan saja
kita akan duduk
sambil berpikir
tentang mawar
-mawar putih
yang layu
sendiri

mungkin kita lupa
menyiramnya
dengan airmata
atau air kencing
yang pesing
sebab kita kerap
kekurangan pupuk
urea atau organik
dari kayu-kayu lapuk
daging-daging lapuk
atau kau juga
yang bujang lapuk

mungkin pula
gara-gara matahari
yang pilih kasih
diam-diam tak mau
menyinari kebun bungaku ini
seperti kau itu
yang menolak datang
padahal sudah janji
menyaksikanku
membaca puisi
sambil menyerahkan
mawar putih ini
kau malah pamerkan mawar lain
yang bukan putih
tetapi merah
membara
seperti warna
celana dalammu itu
yang diam-diam tersingkap
oleh angin genit
yang matanya
sudah bintit

aih, tiga bulan saja
setelah mawar putih ini
kusiram dan kupupuk
tiap minggu
tetapi layu juga
gara-gara mawar merah
yang tadi kau bawa itu

Di Merah Rona Wajahmu

tiga titik darah
di merah rona wajahmu

ada bulan yang memar
sebelum mencair
lalu mengalir
di sungai-sungai
yang tak
memiliki
hulu

kemudian menjadi dahak
bergerak
pelan
-pelan
mengejan pulau-pulau asing
yang pernah ingin
kau kunjungi

tetapi wajahmu kini
telah menjadi
pulau lain itu
yang mengasingkan tubuh
pada selimut
dan bantal-bantal lusuh
dikelilingi benang-benang
ditangis orang-orang


tiga titik darah
di merah rona wajahmu

mungkin kali lain
di samudra bernama engkau
aku akan diam
dan mengecupmu
dua kali

sambil berharap
engkau kembali

Ketika Kausaksikan Sriwijaya FC Ditahan Imbang Persib Bandung

Kayamba sudah lima gol sebelum ini dan kau mengirim pesan singkat
sudah siapkah aku bermandikan keringat dan berteriak hingga sekarat?

kau punya dendam dengan orang sunda, ditinggal menikah
dengan dalih takut durhaka, tetapi masalah kemapanan semata

makanya kau benci sekali orang bandung, persib bandung
dan segala macam hal yang berbau bandung, pun warna biru

seperti kostum yang kerap kau lihat di langit itu.

*

entah bagaimana kau menyelundupkan petasan, dan ketapel
dan batu-batu tajam yang mungkin kau pungut di jalanan

"aku akan menembak sang kiper, juga sang striker yang mukanya
mirip dengan joker, selalu seolah troublemaker"

tetapi ketika kayamba mencetak gol keenam kau bersorak gembira
dan menyimpan ketapelmu di bawah kursi yang setia kau duduki

*

kau sudah berpikir sriwijaya akan menang, dan membawa tiga poin penuh
mengantarkan kita ke posisi kedua di bawah arema indonesia

tetapi tepat menit ke-90, kita kebobolan dan matamu memancarkan kemarahan

kau ambil saja ketapelmu, melemparkan bat…

Dua Hal Yang Ingin Kuungkapkan Kepadamu

1. Bagaimana Caranya Menerjemahkan Rindu?

rinda, rindi, dan tak ada kata rindu
padahal kamus ini ngakunya lengkap sekali
ada sejuta kata yang berhasil ditangkap
kemudian diterjemahkan oleh para ahli

tetapi, kemana rindu pergi?

rindu mungkin sudah menjadi telepon genggam
yang suka sekali berdering malam-malam

rindu mungkin sudah menjadi televisi
yang asik sekali menayangkan tubuh-tubuh seksi

rindu mungkin saja sudah jadi presiden
yang selalu siap bersumpah tak terlibat dalam insiden


2. Harus dengan Apa Kulambangkan Kata Cinta?

seorang anak laki-laki bertanya,
kenapa burung garuda yang jadi lambang negara
bukan ayam jagonya yang selalu berkokok dengan ramah?

karena kita tidak menyembelih burung garuda saat lebaran, Nak.

seorang perempuan yang baru pertama kali kasmaran ikut bertanya,
bagaimana dia harus melambangkan cinta pada sang lelaki pujaan?

nah, kau potong seekor ayam jago, dan ambil tajinya
katakan pada lelaki itu, mana yang lebih tajam: tajimu

atau taji ini?

Jorge Luis Borges

We are the time. We are the famous
by Jorge Luis Borges

We are the time. We are the famous
metaphor from Heraclitus the Obscure.

We are the water, not the hard diamond,
the one that is lost, not the one that stands still.

We are the river and we are that greek
that looks himself into the river. His reflection
changes into the waters of the changing mirror,
into the crystal that changes like the fire.

We are the vain predetermined river,
in his travel to his sea.

The shadows have surrounded him.
Everything said goodbye to us, everything goes away.

Memory does not stamp his own coin.

However, there is something that stays
however, there is something that bemoans.



The Art Of Poetry
by Jorge Luis Borges

To gaze at a river made of time and water
And remember Time is another river.
To know we stray like a river
and our faces vanish like water.

To feel that waking is another dream
that dreams of not dreaming and that the death
we fear in our bones is the death
that every night we call a dream.

To see in every day an…

Aku Bayangkan Ampera Itu Terbelah Dua Persis Ambacang Yang Kau Cinta

#1
Mungkin sebab pondasi, bayanganku itu tak terjadi
atau jumlah lantai kami yang cuma sebilah panjang
lalu memanjang seperti bayang-bayang

menyambungkan seberang ulu dan ilir.

Tapi mungkin nanti, akan dibangun hotel di ampera itu
enam lantai dengan lima bintang yang menjulang
dan ku memanggilmu dari ketinggian, meneriakkan
sebuah dukungan untuk kiamatkan saja dunia
biar tak ada lagi cicak yang tertindas saat sedang merayap
mengendap dengan tiada derap.

Tapi derap sore itu, yang kau dengar adalah nyanyian kematian
atau sebuah sangkakala kecil yang ditupkan kunang-kunang.

#2
Amperaku ini adalah sebuah amanat penderitaan
seperti pesan yang masih sempat terkirim
oleh korban di reruntuhan itu

tapi kunang-kunang malam itu, saat kita bermain di pematang
adalah kuku dari nyawa-nyawa yang terbang
dan memantik kerinduan


#3
Suatu malam, aku bayangkan
ampera itu terbelah dua
aku yang sedang duduk memandang kapal ketek, rumah rakit,
dan sepasang ibu yang menyuci baju di air yang parit,
tiba-tiba terhenyak
seolah ada dua …

Kiri, Bang!

kiri, bang. kiri, bang. aku sudah mau turun nih
sudah teriak-teriak begini masa' abang ga dengar sih?

apa telinga abang tuli, seperti pemerintah negeri ini
yang pura-puranya sutradara paling canggih?

tapi lucu ya, bang, seperti komedi saja---opera van java
yang suka main pukul, tapi cuma pura-pura?

*

kiri, bang. kiri, bang. kenapa abang ga mau berhenti
apa karena aku begitu rapi seperti selebriti?

tapi nggak mau ah, bang, kerjaannya kawin-cerai melulu
bolak-balik ke pengadilan buat bikin sensasi yang nggak mutu

aku sih cocoknya jadi pengusaha, bang---eksekutif muda
kemana-mana naik mobil mewah, dikelilingi para wanita?

*

kiri, bang. kiri, bang. lihat nih sudah jam berapa
sudah kelewat jauh, aku jadi telambat, tau?

aduh, aku jadi malu begini, teriak-teriak dari tadi
jadi mirip mahasiswa yang suka demonstrasi

mana ada cewek lagi, yang dari tadi behaha-hihi
....................ih, benar-benar bikin keki

*

kiri, bang! kiri, bang! aku sudah tak sabar saja
sudah ingin memanggil pengacaraku yang sepuluh itu

bi…

Bakal Calon Penyair Paling Kreatif di Dunia

---diam, dan perhatikan!
tidakkah kau merasakan
ada sesuatu yang ia sembunyikan
dan tersimpan

di balik matanya yang misteri?

Distikon: Falling In Love

---sebuah dimensi pembacaan lain dari lagu J-Rock, Falling In Love

bagaimana membaca lagu ini, jirok atau jorok?

*

tapi kita malah ingat dengan gadis yang memakai rok
yang membuat kita jatuh hati. roknya seperti puisi

yang terhidang pagi-pagi bersama sepiring nasi,
segelas kopi, dan selintasan berita tentang konspirasi

kita mulai bertanya-tanya apa yang tersembunyi
di balik roknya yang makin hari makin mini

mungkin ada hutan lebat yang tiba-tiba gundul
seperti pemerintahan kita yang makin amburadul

*

aih, aku tak bisa berhenti memikirkanmu, memikirkan
rok minimu yang beberapa centi di atas lutut itu

tapi ada ketakutan jika aku coba-coba mengintipmu
takut ketahuan lalu dihukum tiga bulan kurungan

padahal aku tidak korupsi, tidak mencuri, membunuh,
apalagi meminta kakao di kebunmu dengan sesukaku

*

aku jatuh cinta, sejak pertama berjumpa
entah senyummu, entah rok minimu tadi itu

sampai kemudian kutemukan rok minimu hanyut
bersama banjir bandang yang gemar bertandang

aih, aku jadi memikirkanmu. memikirkan perj…

Ketika Tiba-Tiba Aku Menjadi Adrian Martadinata Sore Itu

Tiba-tiba aku berada di MTV AMPUH. bukan menguji keris
sakti buatan para empu. bukan duduk bersimpuh lantas
membaca mantra-mantra keluh. bukan. bukan itu.

aku membawa gitar yang lekuknya persis tubuhmu dengan
lima senar yang sama jumlahnya dengan sila-sila yang kita
hafal sejak dulu.

Adrian, bernyanyilah. Entah itu Marissa atau siapa, pastinya
dadanya mengingatkanku pada utang negeri ini yang makin
membengkak. pada cicilan bunganya yang makin menunggak.

Intro C 2X

baru intro, matanya sudah menganggap aku maestro.

C F

ajari aku untuk bisa melipat kertas ini menjadi pesawat mini.
dari dulu sekali aku selalu gagal, pesawatku selalu kandas
dengan korban-korban yang meninggal.

G C

supaya aku bisa menjadi yang engkau cinta. lalu terbang
ke eropa. menaiki menara pissa. lalu ke eiffel, tempat kita
membuang hajat tanpa pernah takut dikena hujat.

Am F C

tapi ini negara yang pemerintahnya tak punya rasa.
tak pernah sadar bahwa masyarakatnya sudah pintar
semua. malah dibikinnya melodrama yang dianggapnya
luar biasa h…

Rendra Main Kelereng

#1

Rendra main kelereng, sampai maghrib. Pagi-pagi sekali
tadi dia ke sekolah membawa kelereng tiga butir. Warnanya
hitam semua seperti kain-kain yang dikenakan ibunya
di pemakaman yang ia tak tahu namanya.
Saat bel sekolah berbunyi satu kali itu tanda
Rendra akan main kelereng di halaman depan.
Ia gambar pohon beringin yang lebat buat mengurung
kelereng-kelerengnya yang jahat. Temannya protes
ingin menggambar segitiga atau segi-segi lain yang mereka
suka. Tapi Rendra melarangnya.
Rendra takut teman-temannya akan hilang
seperti kelereng-kelerengnya yang lain yang bukan
hitam warnanya.


#2

Saat bel dua kali, Rendra tahu ini saatnya ia main kelereng lagi.
Ia tidak takut ada ayahnya yang membawa kayu sabit
menyuruhnya pulang ke rumah untuk makan masakan ibu.
Rendra memilih puasa sambil main kelereng bersama teman-temannya
sepuasnya, sampai maghrib. Sampai ada bedug enam kali terdengar
di telinganya. Rendra sudah menang banyak, dihitung kelerengnya
ia selalu lupa setelah angka sembilan. Diulang-ulang hitunga…

Main Petak Umpet

Kalah suit, aku yakin mereka sekiwit. Aku tak tahu
kenapa aku selalu memilih gunting. Bukan batu bukan
kertas. Aku terpaksa berjaga, menghitung sampai lima.
Tapi bilamana mereka minta tambah, aku pun menghitung
sampai lima puluh lima. Kalau sudah, tinggal aku bertingkah
peramal. Tukang prediksi. Mencari di mana mereka bersembunyi.
Bak truk yang terbuka, atap rumah, atau lubang sampah,
aku terbiasa bersembunyi di situ kalau mereka yang jaga.
Tapi kulihat-lihat tetap tak ada.

Aku ingin menangis, Ibu. Tapi ibu bilang cuma perempuan
yang boleh menangis. Seperti kadang kulihat ayah pulang
membawa kemarahan yang panjang. Teriakan yang
panjang. Sampai kemudian ibu memelukku dengan air
mata berlinang.

Lima puluh lima menit lebih aku mencari, aku bosan sendiri.
Aku tak peduli. Terus pulang ke rumah, mencari ibu. Di ruang
tamu, di dapur, di kasur atau di kamar mandi tempat aku
biasa berkumur pagi-pagi. Ibu juga tak ada.

Sepertinya sedang menantangku main petak umpet juga.

Anafora: Aku Ingin

Aku ingin menjadi sunyi yang menyelinap di balik bola matamu
Aku ingin menjadi nada yang kau dengar dari speaker-phonemu
Aku ingin menjadi tuts-tuts keyboard yang bersentuhan dengan jemarimu
Aku ingin menjadi bahasa bagi bibirmu
Aku ingin menjadi kupu-kupu di atas jendela rumahmu
Aku ingin menjadi ragu yang terus bergerak di benakmu
Aku ingin menjadi udara yang menghidupi nafasmu
Aku ingin menjadi mendung yang kemudian menghujanimu
Aku ingin menjadi korek api dalam tubuhmu
Aku ingin menjadi diary bagi kehidupanmu
Aku ingin menjadi mimpi yang diam-diam datang di tidurmu
Aku ingin menjadi cita-cita di masa depanmu

Aku Ingin
Ingin
Kau

Kau?

Tentang Seorang Yang Terbunuh Disekitar Hari Pemilihan Umum

oleh: Goenawan Muhammad

“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku”

Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan mayatnya
di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan hangat padi.

Tapi bau sing itu dan dingin pipinya jadi aneh, di bawah bulan.
Dan kemudian mereka pun berdatangan - senter, suluh dan
kunang-kunang - tapi tak seorang pun mengenalnya. Ia bukan orang sini, hansip itu berkata.

“Berikan suara-Mu”

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik.
Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak
bertandagambar. Ia tak ada yang menagisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya ?

“Juru peta yang Agung, dimanakah tanah airku ?”

Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman
pertama. Ada seorang menangis entah mengapa. Ada seorang
yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang letih
dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan angin
kemudian.…

Aku Ingin

oleh: Sapardi Djoko Darmono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Lomba Cipta Puisi Religius

Batas akhir: 14 Desember 2009

Dewan Ekskutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto menyelenggarakan lomba cipta puisi religius. Tercantum dalam jajaran dewan juri ialah Evi Idawati, Abdul Wachid B.S., Heru Kurniawan, dan Kuswaidi Syafi’ie.
Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia

Diselenggarakan Oleh Dewan Ekskutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto

TEMA “Puisi Religius”

KETENTUAN UMUM

Melampirkan copy Kartu Mahasiswa yang masih berlaku;

Puisi diketik dengan hurup time new roman size 12, di antara baris spasi 1, di antara bait spasi direnggangkan ;

Puisi yang diikutkan lomba adalah karya yang belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun;

Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 5 judul puisi dari karya terbaiknya;

Melampirkan biografi singkat maksimal 1 halaman;

Semua hal tersebut diemailkan ke obsesipress@gmail.com ;

Batas terakhir penerimaan naskah 14 Desember 2009.

PENGUMUMAN NOMINATOR DAN PEMENANG PUISI: 1 Jan…

Pahlawan Tak Dikenal

Pahlawan Tak Dikenal
oleh: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

Lomba Karya Tulis dalam Rangka Hari Pahlawan 2009

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November 2009 Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Yogyakarta Mengadakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Dengan Tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan Dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa”.

A. KETENTUAN LOMBA
1. Karya tulis harus asli, bukan kutipan, terjemahan atau saduran dari tulisan orang lain, dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba karya tulis manapun, serta belum pernah dipublikasikan.
2. Karya tulis disusun dengan menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dalam bentuk ilmiah populer, dan harus mengacu salah satu judul yang telah ditetapkan panitia.
3. Karya tulis diketik dengan jarak 2 (dua) spasi menggunakan kertas HVS ukuran kuarto sebanyak 15-20 halaman tidak timbal balik (tidak termasuk lampiran, daftar isi, dan foto).
4. Karya tulis yang jumlah halamannya kurang atau melebihi dari ketentuan tersebut tidak akan dinilai oleh dewan juri.
5. Lomba bersifat karya ind…

Daftar Isi dari Buku Puisi Penyair Muda yang sedang Naik Daun

Hal. 1

Pikirnya buntu, seperti habis kena flu---mungkin hujan, mungkin
tarian, dan sepasang sayap patah mengingatkannya pada alergi
yang dulu lupa dicek ke dokter yang hobinya pake baju abu-abu
itu.

Hal. 2

Padahal hari ini dia sudah ada janji, buat naik daun bersama
teman-temannya yang lucu---mengenakan sepasang sepatu
dengan motif peluru atau bom yang bentuknya dibikin imut
mirip boneka barby yang cenderung laku di pasaran.

Hal. 3

Mengecek kopernya: baju, celana, kutang atau beha,
lengkap sudah (parfumnya pun tak ketinggalan), tapi sepertinya
ada yang kurang di benaknya, sebuah remote televisi yang kerap
ia tonton di setiap minggu: seperti gereja-gereja yang rutin
ia tunggu.

Hal. 4

Ah, minggu yang lalu ia ke pasar saham, mengecek indeks harga
sebuah nyawa.

Hal. 5

Sebelum pergi, ia menonton tivi dan menyaksikan Noordin M Top
tertembak mati.

Hal. 6

Ia jadi geli sendiri, menyaksikan namanya diakui.

Hal. 7

Akhirnya ia memutuskan untuk menyamar menjadi penyair
dengan mengirimkan kesepuluh sajaknya ke koran ib…

Pita Hitam di Lengan Kiriku

mari kita kenakan
pita hitam di lengan kanan
tanda duka cita
sebuah kematian
dari lagu masa kanak-kanak
tentang cicak-cicak di dinding
yang diam-diam merayap

aduh, tapi kau
bersikeras tak mau
mengenakan pita hitam
di lengan kanan

bagaimana kalau di kiri saja?

katamu sambil memainkan lagu baru
semi-melayu
yang nadanya mendayu-dayu
persis kesedihan

tapi ini rayuan (katamu)
supaya aku tak memakai pita hitam
di lengan kanan

sebab kanan selalu saja penuh kepura-puraan
dalam hal kebaikan

makan tangan kanan
memberi tangan kanan

korupsi tangan kanan juga kah?

tanyamu sok retorika

tapi akhirnya aku mengalah saja
takut kalau saja aku korupsi
pakai tangan kananku

oke lah
besok mari kita kenakan
pita hitam di lengan kiri

Ke Mana Rekanmu, Wahai Kakek Tua Penanam Benih?

: sapardi djoko

panggung itu sudah tinggal kau, menoleh ke kanan
atau menunduk seperti mencari sebuah kerinduan

kami terdesak dan berebut, mungkin ada sebait
di kolammu yang hijau, benih-benih rasa sakit

seperti hujan di bulan juni, dan kemarau-kemarau
lain di balik teriak dan suara-suara yang memarau

o, wahai kakek tua penanam benih, bolehlah kami
ikut mencari barang sehelai dua helai uban putihmu

lewat lampu sorot, dan sebuah kursi kosong yang
seperti menunggu, seperti menunggu kedatangan

jarum jam yang menyilang di atas pangkuanmu?

(2009)

Ketika Teleponku Tak Kunjung Kau Angkat

1
aku menebak-nebak
dalam sembilan ketukan panjang
ada irama di sana
seperti bunyi piano
yang kaumainkan dulu
dengan merdu
dengan jemarimu
yang masih
genap sepuluh

2
aku berharap kali ini suara lelaki
bukan suara perempuan pemberi kabar
bahwa nomor yang kutuju
mungkin sedang sibuk
mungkin sedang menghitung bintang
yang semakin menghilang dari pandangan
tetapi tidak cintaku
yang masih kutaruh
di atas meja judi
aku pasang sepuluh
semuanya
tanpa ragu
tanpa takut
mungkin saja ada suara lelaki
yang menghardikku
untuk tidak lagi meneleponmu

3
aku masih menebak-nebak
dalam sembilan ketukan panjang yang lain
mungkin kau sedang berbaring di atas tempat tidur
memikirkan kenapa tanganku terus terulur
menunggu kau
menyambutnya
mungkin juga kau sedang di hadapan segelas kopi
yang sudah berjam-jam kau pandang
dan dingin

4
aku masih saja menebak-nebak
setelah berapa menit saja aku menatap namamu
dalam daftar kontakku yang sedikit

tapi mungkin kau
sudah tak lagi mau
mengangkat teleponku itu

(2009)

Pemilihan Duta Bahasa 2009 Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan

Jumat, 16 Oktober 2009

Pemilihan Duta Bahasa 2009 Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan

Pemilihan Duta Bahasa 2009 dalam rangkaian Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan telah dilaksanakan tanggal 6-7 oktober 2009. Koordinator kegiatan ini Dewi Sartika, M.Pd. mengatakan bahwa Duta Bahasa yang terpilih nanti akan mewakili wilayah Sumatera Selatan ke tingkat Nasional yang akan diselenggarakan di Pusat Bahasa. Krireria penilaian Duta Bahasa meliputi: 1) Tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia., 2) Tes Bahasa Inggris tertulis, 3) Presentasi makalah atau artikel ilmiah yang ditulis untuk keperluan lomba., dan 4) Wawancara lisan dari juri yang ditunjuk oleh panitia.

Materi Yang diujikan meliputi: Pengetahuan umum/potensi akademik, Pengetahuan kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah, Kecakapan bahasa Inggris secara lisan, serta Etika dan kepribadian. Dewan juri terdiri atas Dr. Indawan Syahri, M.Pd., Prof. Dr. Ratu Wardarita, M.Pd., dan Dr. Rita Inderawa…

Sebab yang Mungkin Tertinggal di Balik Jas Warna Coklatmu

mungkin hujan
mungkin puisi
atau nyala lilin yang menari-nari
membiaskan titik-titik air
kemarin
di matamu

sebuah kuiskah ini
tebak-tebakan
atau mengisi
teka-teki silang
antara ilalang
dan bunga talang?

aih

mungkin hujan
mungkin puisi
mungkin bajumu yang warna putih
bersembunyi
di balik jas warna coklatmu

seperti kulitku

seperti cat tembok rumahku

seperti cintaku
yang terjemur

matahari terik
siang tadi

Tentang Kubur dan Aroma Tuan yang Tertinggal di Reruntuhan

#1
Mungkin kita anjing pemburu. Mencium bau. Mencium aroma-aroma yang tersembunyi di balik amuk bumi. Mungkin juga cacing. Menggeliat ke sana kemari. Mangaduk-ngaduk tanah tempatmu berpijak, wahai Tuan, atau mungkin kuburmu yang pernah kau impi untuk kau gali sendiri?

Tetapi ternyata, kau tak perlu repot-repot menggali, bukan?

#2
Aromamu kesturi, Tuan? Atau mawar dan melati seperti lagu kanak-kanak yang sering kau nyanyikan dulu bersama kampung yang jauh di mata---jauh di hati?

Tetapi katamu, kau adalah sang pejalan. Kau adalah sang pengembara yang mencari jejak doa ibumu. Melempar galau dari surau-surau tua di belakang rumahmu?

Dan aroma tubuhmu, tidak lupa kau masukkan ke dalam kopormu, bukan?

#3
Tapi mungkin kami yang keliru. Kata orang-orang kubur dan aromamu tertinggal di reruntuhan ini? Terkubur bersama kata-kata yang sering kau ucapkan tentang bai’at perantauan, dan nyatanya kau kembali?

Aih, aih, kami mungkin anjing pemburu.
Mungkin juga cacing.

Mungkin juga

Kau?

(2009)

Tiga Sajak Buat Antologi Puisi Padang

Tentang Sebab Gempa Kemarin Itu
: Prof. Tsuboi

kalau begitu, bolehlah kami pergi ke pengadilan
demi menggelar persidangan, siapa sesungguhnya
yang bersalah atas gempa kemarin itu?

begini: kami telah letih dengan segala macam spekulasi
ada yang bilang ini adalah azab, atau kutukan, atau
peringatan karena kami telah tidak taat pada jam gadang
yang selalu berdentang lima kali itu?

ada pula yang bilang ini gara-gara pergeseran lempengan
di perut bumi. padahal kami tak bisa membayangkan
apakah perut bumi itu sama seperti perut kami? Buncit,
kerempeng, ataukah bersisi rata laiknya binaraga?

aih, ada lagi yang berani tampil beda. katanya ini semua
karena letak planet-planet tengah sejajar dengan bumi, mempengaruhi
aliran listrik dari kutub ke kutub? aih aih, padahal di sini saja
pemadaman listrik bisa tiga kali seminggu. pusing tahu!

nah, jadi begitu. daripada kami berdebat, sampai melontarkan
ayat-ayat, merapal mantra dan jimat, bahkan terkomit-komat
kita pergi ke pengadilan saja, dan kau jadi saksi ahlinya
bi…

Tentang Seseorang yang Tiba-Tiba Ingin Jadi Cerpenis

#1

Sudah lima dukun ia datangi tetapi kelima-limanya mengaku pikun setiap ia bertanya bagaimana cara cepat menjadi cerpenis. Tidak, sebenarnya dukun kelima malah tertawa-tawa, mengolok-ngolok sambil memamerkan gigi-giginya yang kuning---tidak pernah digosok. “Oi bujang, ngapo la kau tanyoke hal cak itu. Kau tu la punyo penis. Ngapo masih nak jadi cerpenis? Ia cuma bisa terperangah mendengarkan pertanyaan itu. Ia tidak habis pikir, padahal dukun ini ngakunya lulusan S1 sebuah perguruan tinggi negeri sampai ijazah kelulusannya dibingkai di ruang tamu dengan pigura beremas sepuh. Mungkin biar pelanggannya makin yakin dialah dukun terhebat di negeri ini, satu-satunya dukun bergelar sarjana. Perguruan tinggi negeri pula.

Sakum mulai kehabisan akal. Tinggal seminggu tenggang waktu yang diberikan Maemunah, gadis dari desa tetangga yang dicintainya itu, untuk membuatkannya sebuah cerpen sebagai mahar jika Sakum mau mengawininya. Apalah Maemunah itu, padahal sudah mau diberikan segala yang Sakum…

Tentang Ramalan di Kelas Geologi Itu

Tentang Ramalan di Sebuah Mata Kuliah Geologi Itu


#1
Tidak ada yang tahu: nasib mengantarnya
Ke sebuah ruang mata kuliah geologi itu

Meneliti batu, meneliti tanah
Sampai membuatnya lupa waktu

Tapi itu dulu, sampai ia menemukan sebuah skala
Yang meramalkan kematian dan penderitaan

#2
Ia tidak pernah percaya ramalan
Seperti anak-anak lain yang kerap membaca zodiak
Di majalah-majalah para remaja

Hei, hei… berapa tanggal lahirmu?

Tiba-tiba ia ingat: ia lupa
Pada tanggal lahirnya sendiri

#3
Dosennya mirip dengan Antonio Banderas
Datang ke ruang kelas membawa sebuah tas
Yang mungkin gitar, atau senjata berkaliber teras
Tapi mungkin juga seismograf
Yang ia ciptakan sendiri---semalam
Sambil membuat ramalan lain
Tentang skala getaran yang akan terjadi

#4
Suatu hari, Sumatera akan terbagi
Gempa dahsyat melebihi yang lalu dan kini
Retak pulau, lahirlah selat

Ia pikir dosennya sedang bercanda
Sebab suatu saat beliau pernah berhasrat
Untuk menjadi seorang pendongeng
Tentang kisah ketimuran, di dunia Barat

#5
Tapi kisahnya di kel…

Tentang Perasaannya Sendiri

#1

Ada perasaan yang menyusun sendiri petualangannya

obsesi masa kecilnya kah ia?
bermimpi menjadi sutradara
mencipta film-film baru

tentang perasaannya sendiri?

#2

Akunya: ia suka drama korea
yang isinya airmata semua

dulu sekali, ia pernah jatuh cinta
pada un so, gadis bermata saphire
yang harus mati, karena kanker darah

penasaran ia dengan darahnya
apakah merah juga?

ah, tiba-tiba ia teringat dengan bendera.

#3

baru saja ia membeli film indonesia
ayat-ayat cinta, dan laskar pelangi

sebab malam tadi ia baru bermimpi
tiba-tiba ia jadi habiburrahman el shirazy

tapi setelah shubuh ia berkaca di jendela
kok malah makin mirip andrea hirata?

#4

siang ini, ia duduk di pinggir telepon
menunggu dering yang bunyinya merdu
seperti lagu indonesia raya itu
yang liriknya tak sengaja ia lupakan

tapi dua jam sudah berlalu
teleponnya tak kunjung memerdu

ah presiden sialan, kata kau
aku akan jadi menteri perfilman

#5

tiba-tiba saja sudah maghrib

ia ingat hikayat tua, saat ia masih kecil:

pulang ke rumah, gelar sajadah
jangan keluyuran…

Pelukis, Ksatria, dan Kuda Putih Itu

kanvas:
mata kau
yang awas
dan alismu
yang kuas
mungkin adalah
rajam
atau
tiang gantungan
bagi kepalaku
yang tunggal
hendak kaupenggal

tapi
aku ingat kata kau
yang percaya
sebelum
ada ksatria
membawa pedang
menusuk aku
di jantung

tetapi mungkin pancasona
atau rawarontek
yang membuatmu ingat
hari-hari
sekolahmu
dulu sekali
saat sejumlah lelaki
beradegan
atau berparodi
pura-puranya ksatria
yang memacu kuda putih

tetapi tidakkah kautahu
ada istal di belakang rumahku
yang diam-diam kusiapkan
ketika sepasang sepatu kaca
sudah kaukenakan
di kakimu

Tentang Setangkai Mawar Yang Tersisa di Vas Ruang Tamu Kau Itu

Aku benci pelajaran bahasa Indonesia, terutama mengarang
dan menulis puisi. Seperti ketika aku disuruh menganalogikan
kesepian yang akut, tentang bagaimana rasanya kehilangan,
patah hati, dan dikhianati orang yang kita cintai

Aku duduk di ruang tamu, memikirkan kata yang purba untuk
mewakilkan semuanya. Bulan dan kulit jeruk mungkin serasi,
kecut dan sunyi, bulat tetapi tak rapi. Tapi kopi pahit malah
membuat dahiku berkernyit, memikirkan kenapa setiap cinta

yang kujalani dengan kesungguhan selalu berujung penolakan?
Dan kulempar gumpalan kertas keseribu kalinya, mencoba
mengingat setangkai mawar hitam yang pernah aku simpan
diam-diam dari sebuah vas di ruang tamu kau itu

ruang tamu yang membuat aku heran, sebab ada foto lelaki yang mirip
guru bahasa Indonesia aku yang menyuruh aku membuat puisi ini.

Kalaulah putih tak pantas untukmu, lantas kemana Harus kucari kafan ungu di hari kematianmu?

Jejak-jejak pasir dan jam dinding kita adalah laut
Yang tiba-tiba seperti hendak merebut setiap kenangan
Dari seraut wajah yang kau goreskan di atas kanvas itu

Apalah aku, di lubang dua kali satu itu, ketika kau (dan aku)
Tiba-tiba berpikir hendak menjadi ulat, menjadi belatung
Daripada hidup terkatung-katung dan saling meninggalkan

Tapi di sebuah kalender yang kau letakkan di atas tempat tidur
Kau, tertanggal sebuah angka, seperti bentuk jam dinding
Yang sering kau tanyakan padaku: tentang detik ke berapa

Aku hendak mencuri sepasang rindu dari sepasang dada kau.

Sajak-Sajak Afrizal Malna

Kamar yang Terbuat dari Laut

Masa kanak-kanakmu terbuat dari sebuah pulau, Ram, di Tomia, Buton. Setiap malam, di antara suara batukku, demam yang tinggi, aku mendengar nafas laut. Laut yang tak punya listrik. Laut yang menyimpan masa kanak-kanakmu. Sebuah kamar yang dihuni orang-orang Bajau. Mereka, laut, kamar dan orang-orang Bajau itu, bercerita tentang …

Lidahku jatuh dekat ujung sepatuku. Laut memiliki sebuah kamar di atas bukit Kahiyanga. Ikan-ikan dan batu karang juga punya sebuah kamar di situ. Aku harus menggunakan lidahku sendiri untuk membukanya. Dan suara batuk, dan demam. Dan pulau yang bising oleh pengendara-pengendara ojek. Kamarmu itu, tempat bahasa melompat-lompat seperti ada api yang terus membakarnya.

Setiap malam, aku seperti mendengar nafas laut, ikan lumba-lumba yang sedang menidurkan anaknya … wa ina wandiu diu … malam tak pernah memukuli anak-anaknya di dasar laut. Malam tak pernah membuat dirimu terus menangis setelah bangun tidur. Lalu pulaumu itu, Tomia, mengam…

Sajak-Sajak Sapardi Djoko

RUANG INI



kau seolah mengerti: tak ada lubang angin

di ruang terkunci ini



seberkas bunga plastik di atas meja,

asbak yang penuh, dan sebuah buku yang terbuka

pada halaman pertama


kaucari catatan kaki itu, sia-sia



CATATAN MASA KECIL, 4


Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua

hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar

dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol.

Dan setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat

Kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam

Ketika ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di

Halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya

Dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat

Sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.



AUBADE





percik-percik cahaya. Lalu kembali hijau namamu,

daun yang menjelma kupu-kupu, ketika anak-anak bernyanyi—

melintas di depan jendela itu

lalu kembali…

Pringadi Abdi Surya, Duta Bahasa Sumatera Selatan 2009

Aku Ingin Mencurahkan Beberapa Hal Saja

1

aku akan muncul di koran, seakan
bintang masa depan yang dielu-elukan

padahal aku ingin memegang senjata,
mengusir penjajah, menurunkan kuasa
pemerintah yang sudah tak benar usahanya
seperti mahasiswa yang barapi-api
diculik, ditembak mati, dan hilang nama

sehingga aku tetap akan muncul di koran
sebagai salah satu korban tragedi '98

2

tapi selempang itu disarungkan menyilang ke kiri
padahal selangkah ke kiri lagi, aku akan jadi
lupa diri. lupa jati. lupa pada susi. pada santi.
yang namanya lebih dikenang dari aku.

3

aku tak paham tentang sungai musi
selain betapa kuning cokelatnya
seperti batang-batang emas yang dicuri
dari timika. dari papua dengan
kerugian yang tak terhingga

4

aku jadi duta bahasa katanya
mewakili provinsi, mewakili harga diri

tetapi aku cuma punya puisi
cuma punya hati yang seakan-akan
ingin dielu-elukan

dengan nama yang ditulis koran-koran
sebagai salah seorang pionir perjuangan

(2009)

Semacam Puisi atau Curahan hati

Aku Akan Menjelaskan Beberapa Hal Saja
: dd

1
Kau pasti akan bertanya: kenapa ada rasa sayang
Sementara kita belum pernah menukar pandang,
belum pernah duduk berdua, menonton film-film
bioskop yang kata kau kadang terlalu bising, terlalu
asing bagi telinga kau yang penuh melodi kenang itu
tentang lagu-lagu lain yang terdaftar di playlist kau

mata kau, menjelaskan itu, kepada aku yang tak pernah
bermain dadu, menebak angka yang cuma itu-itu: dua, tiga,
enam, satu. ah, tiba-tiba saja aku menawarkan kata aku:
“boleh aku membuatkan puisi untukmu?” tawar aku di
suatu saat, ketika aku menyadari ada kata-kata di dalam
tubuh kau, di mata kau yang menanti aku menuliskannya.

lalu di suatu hari yang lain, hari yang aku ingat, betapa debar
telah begitu hangat untuk mendengar suara kau, tangis kau,
dan keluh kau dalam telepon-telepon aku. aku sudah jatuh
cinta kepada kau. dan ingin mencintai kau dengan diam aku

tapi, kau mawar, bukan? mawar dengan kelopak yang membuat
dawai harpa orpheus itu putus. mawar dengan sejut…

Sonnet Yang Bersembunyi di Balik Punggungmu

---Kepada Kau

Empat belas baris lagi yang kucari mungkin sedang bersembunyi
Di balik punggungmu yang selalu saja membelakangiku.
Aku bertanya-tanya, kepada seorang pengendara ojeg yang kerap
Menjadi langgananmu setiap sore ke murid-murid les privatmu.

Tapi beliau itu malah bercerita tentang rumahnya yang baru saja kena gusur
Oleh pemerintah dengan alasan untuk lahan hijau, padahal kabarnya untuk
Sorum internasional yang uang ganti ruginya bahkan tak cukup buat bayar
Tunggakan kredit motornya yang belum lunas itu.

Aku beralih kepada ibu-ibu penjual jamu kunyit asem yang kau beli
Setiap pagi, agar makin mulus kulit wajahmu seperti mulusnya
Proyek-proyek para pemilik modal setelah memberi gratifikasi kepada
Pada anggota dewan yang terhormat itu.

Ah, belum juga kutemu jawabnya. Bagaimana kalau nanti malam aku datang saja
Ke dalam mimpimu, berpura-pura jadi murid les privatmu?

(2009)

Cerpen Gregorio Lopez y' Fuentes: Surat Untuk Tuhan

Diindonesiakan oleh Saut Situmorang
dari READER’S DIGEST GREAT SHORT STORIES OF THE WORLD


Rumah itu – satu-satunya di lembah itu – terletak di puncak sebuah bukit yang rendah. Dari situ nampak sungai dan, setelah tempat kandang binatang, nampak ladang jagung yang sudah matang diselang-selingi bunga-bunga kacang yang menjanjikan musim panen yang baik.

Hanya satu saja yang dibutuhkan ladang itu saat itu: turunnya hujan, atau paling tidak gerimis. Sepanjang pagi Lencho, yang akrab dengan setiap lekuk ladangnya itu, tak henti mengamati langit bagian timur laut.

“Hujan pasti akan segera turun sebentar lagi.”

Istrinya yang sedang menyiapkan makan malam menjawab:

“Ya, mudah-mudahan.”

Anak-anak laki-lakinya sedang kerja di ladang sementara yang masih kecil-kecil bermain-main di dekat rumah waktu perempuan itu memanggil mereka:

“Makan malam sudah siap...”

Waktu mereka sedang makan malam hujan lebat pun turun, tepat seperti yang diramalkan Lencho. Di langit sebelah timur laut nampak awan-awan sebesar g…

Sonnet Lain Dari Gugur Daun Di Kedua Telapak Tanganku

Apa yang hendak kau genang di kedua belah telapak tangan
Selain semacam airmata kenangan dari cinta yang tak biasa?
Cicak, buaya, kau memilih berada di pihak mana? Aku memilih
Jadi kunang-kunang saja yang pura-puranya lampu
Memberi harapan pada kerlap-kerlip aku.
Tapi kau memilih jadi kupu-kupu, pilihan lain yang bersembunyi
Di balik gugur daun bulan Juni, sehingga aku benar-benar harus
Mencari mana kau mana daun ketapang di ranting itu yang dulu
Pernah kita tandatangani, seolah-olah baru saja proklamasi kebebasan
mencintai antara kau yang kupu-kupu dan aku yang kunang-kunang.
Jadi, apa yang kau tangkupkan di kedua belah telapak tangan kau itu
Seolah segalanya harus tampak malu-malu dan rahasia
Padahal, tidakkah kau tahu, seluruh dunia tengah memperhatikan kau,
aku, dan tingkah kita yang makin jauh dari kunang-kunang dan kupu-kupu.

Semacam Sonnet Tentang Bunga Yang Tak Ingin Kubiarkan Berkembang

: kau

aku takut membiarkanmu berkembang. dari sekumpulan putik
menjadi puisi dengan larik-larik yang menuntut jawaban-jawaban
dari sekian pertanyaan yang tak ingin kucatat di berlembar surat
entah itu cuma kata 'mungkin' yang kerap melahirkan derap kaki

kuda yang terpacu oleh pengendara, tanpa pelana. tapi sepertinya
aku telah patah, sebelum engkau menjadi bunga. sebelum menjadi
teratai yang tertawa-tawa pada cassanova, tatkala ia bertanya
pada dewi air, "wahai siapa yang paling indah di muka bumi ini?"

tapi aku tak bertanya demikian. aku tak bertanya tentang mengapa
aku (mungkin) bisa jatuh cinta. aku diam. dengan seribu bahasa
yang kudekam di dalam riam-riam hatiku yang karam.

tetapi kau mungkin saja tersenyum. jika tak tahu betapa ada hati
yang patah sebelum kau berkembang menjadi bunga. menjadi
jejak bulan baru yang mati sebelum purnama.

Tentang Jam di Tangan dan di Dinding Kamar-Kamar Aku itu

: dd

sebenarnya aku ingin menawari kau jam baru. jam dengan tahta seribu teratai yang mengambang di antara mimpi-mimpi kau dan aku. jam dengan sejuta taman bermain dari masa kanak-kanak yang tidak ingin kau (dan aku) lupakan. jam yang akan terus setia melingkari keduabelas angka itu. angka-angka yang kerap kau perhati ketika aku telah mengingkari pertemuan yang telah aku (dan kau) janjikan.

tapi kesekian kali pertemuan, tak kau saksikan jam di tangan. tak kau saksikan pula di dinding kamar-kamar aku itu.

kata kau, apa aku tak punya jam?
apa aku mau kau belikan jam?

sudah aku buang semua jam aku. jam yang tidak aku percayai. jam yang membuat aku ingat ada enam jam kau yang sudah kau berikan ke lelaki yang bukan aku. jam yang semakin lama semakin cepat seperti mau berkhianat kepada aku. jam yang setiap hari menuntut aku untuk mengingat kau.

sementara aku tidak tahu, sudah berapa jam kau mengingat aku?

(2009)

Seolah Sajak Berjudul Panjang

KETIKA KUPIKIR KAU AKAN MUNCUL DALAM MIMPI AKU, KAU BENAR-BENAR MUNCUL DALAM MIMPI AKU DENGAN BAJU PENGANTIN YANG LELAKI KAU BUKAN AKU. YANG HATI KAU BUKAN AKU. SAMBIL BERDADAH-DADAH KEPADA AKU SEBELUM KAU MELEMPAR KARANGAN BUNGA KAU ITU YANG JATUH TEPAT DI PELUKAN AKU

: desi diarnitha

tapi tak ada mawar di karangan bunga itu. sebab mawar aku adalah kau yang membuat aku terluka dengan hanya memandang kau. memunggungi kau yang semakin lama semakin menjauh.

kata kau dulu, di hari kematian sebuah lagu kanak-kanak berjudul satu-satu yang liriknya sudah kau ganti itu, kau akan mencintai lelaki yang mencintai pasir. mencintai desir dari setiap airmata kau. tapi kemudian kau bilang sudah mencintai lelaki yang bukan aku. lelaki yang memiliki enam jam dalam satu hari kau.

tapi aku tak punya jam. di tangan dan di dinding kamar-kamar aku. aku cuma punya hati. cuma punya puisi. dan setangkai mawar yang persis kau.

Enigma

Engkau selalu seolah paham: aku adalah makhluk paling kelam. Kulitku yang hitam legam setidaknya telah menjadi salah satu parametermu dalam menilaiku. Matamu bahkan akan selalu terpicing saat aku dengan pakaianku yang sudah compang-camping ini melewati rumahmu. Padahal aku tak pernah menganggumu. Tak pernah mengusikmu. Tapi selalu saja engkau mengusirku pergi, melemparku dengan kerikil-kerikil dari halaman rumahmu. Sebab katamu, aku adalah makhluk paling kelam. Hanya akan merusak pandangan matamu.

Tapi, tetap saja aku melewati rumahmu setiap hari. Sebab rumahmu adalah salah satu jalan hidupku. Sebab di depan rumahmu ini, aku menemukan banyak hal yang berguna untuk mengisi perutku dan adik-adikku. Sesuatu yang engkau sebut sampah tak berguna, telah menjadi sumber kehidupanku.

Seperti hari ini, aku kembali melewati rumahmu. Kuperhatikan dulu sejenak, barangkali engkau sedang duduk di teras menungguku. Menunggu untuk melempariku lagi dengan kerikil-kerikil itu. Tapi tampaknya engkau sedang…