31 December 2009

Kenapa ada lima belas menit yang terlewat dari gerbang sekolah itu?

Lima belas menit mungkin sedikit;
duduk di toilet, membaca koran, sambil
menyanyikan kenangan tentang garam-garam,
dan pasir yang diambil di pesisir
akan habis juga
menuju menit-menit setelahnya

tetapi, lima belas menit ini
mampu menutup pintu gerbang
membariskan kaki-kaki
seperti sebuah antrian
yang panjang
demi mendapatkan
teriakan peringatan
dan tamparan di pipi
sebagai bonus

lima belas menit ini pun
adalah pasar-pasar
dan berjubel kendaraan
yang bertumpuk
dengan dalih jam kerja
dan sinar matahari yang terik

aduh, papa…
bisa kau ganti lima belas menit ini
dengan lima belas menit lain
di jam yang rusak itu?

(2009)

26 December 2009

Cerpen: Vaginalia (Dimuat di Global Medan, 26 Desember 2009)

http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=28002:vaginalia&catid=45:kalam&Itemid=69

24 December 2009

Hatiku Pohon

hatiku adalah pohon-pohon
di hutan hujan tropis
sesekali menanti tangis
atau kematian
dari gergaji mesin
meraung-raung
menjadi gaung
dibawa angin
dibawa daun-daun
dibisikkan ke rawa-rawa
dan sungai-sungai
sebelum kembali sunyi

hatiku adalah pohon-pohon
di taman-taman kota
sejumlah jari
atau kurang dari
tetapi musim
adalah kabar burung
yang menyampaikan rindu
dari anak-anak laut
menggenang
berenang
menggunjingkan sampan
dan banjir Nuh
yang menenggelamkan
gunung-gunung

hatiku adalah pohon-pohon
atau mungkin akar
dan belukar
yang terbakar
dalam kobar api rindu
api kau itu
yang memantik rasa cemburu

hatiku adalah pohon-pohon
yang kutanam
di beranda rumah kau
kau tulis gambar hati
dan sepasang nama
sebuah janji
untuk saling mencintai
dan mempercayai

22 December 2009

Tak Ada Sajak Buat Ibu

barusan ibu kirim sms, minta bikinin sajak
padahal aku benar-benar sedang sesak
sedang tak bisa bikin sajak

muter otak
ke kiri
dan ke kanan
baca sajak lain
tentang ibu
mungkin bisa jadi
sebuah
atau dua boleh juga
terus bikin ibu bahagia
membaca sajak aku itu

tetapi tak ada ibu yang sama
seperti ibu aku itu
ibu yang memetik bulan
kemudian memasaknya pagi-pagi
dihidangkan dengan goreng teri
lezat sekali
aku jadi penuh energi
berangkat ke sekolah
dengan bulan jadi nutrisi

aduh, aku jadi rindu ibu
ibu ibu, ibu mendengarkanku?
ih, angin cemburu
ga mau menyampaikan rinduku
ini pasti gara-gara
nggak ada yang rindu
sama angin itu

Tiga Bulan Setelah Mawar Putih Itu Layu

tiga bulan saja
kita akan duduk
sambil berpikir
tentang mawar
-mawar putih
yang layu
sendiri

mungkin kita lupa
menyiramnya
dengan airmata
atau air kencing
yang pesing
sebab kita kerap
kekurangan pupuk
urea atau organik
dari kayu-kayu lapuk
daging-daging lapuk
atau kau juga
yang bujang lapuk

mungkin pula
gara-gara matahari
yang pilih kasih
diam-diam tak mau
menyinari kebun bungaku ini
seperti kau itu
yang menolak datang
padahal sudah janji
menyaksikanku
membaca puisi
sambil menyerahkan
mawar putih ini
kau malah pamerkan mawar lain
yang bukan putih
tetapi merah
membara
seperti warna
celana dalammu itu
yang diam-diam tersingkap
oleh angin genit
yang matanya
sudah bintit

aih, tiga bulan saja
setelah mawar putih ini
kusiram dan kupupuk
tiap minggu
tetapi layu juga
gara-gara mawar merah
yang tadi kau bawa itu

16 December 2009

Di Merah Rona Wajahmu

tiga titik darah
di merah rona wajahmu

ada bulan yang memar
sebelum mencair
lalu mengalir
di sungai-sungai
yang tak
memiliki
hulu

kemudian menjadi dahak
bergerak
pelan
-pelan
mengejan pulau-pulau asing
yang pernah ingin
kau kunjungi

tetapi wajahmu kini
telah menjadi
pulau lain itu
yang mengasingkan tubuh
pada selimut
dan bantal-bantal lusuh
dikelilingi benang-benang
ditangis orang-orang


tiga titik darah
di merah rona wajahmu

mungkin kali lain
di samudra bernama engkau
aku akan diam
dan mengecupmu
dua kali

sambil berharap
engkau kembali

Ketika Kausaksikan Sriwijaya FC Ditahan Imbang Persib Bandung

Kayamba sudah lima gol sebelum ini dan kau mengirim pesan singkat
sudah siapkah aku bermandikan keringat dan berteriak hingga sekarat?

kau punya dendam dengan orang sunda, ditinggal menikah
dengan dalih takut durhaka, tetapi masalah kemapanan semata

makanya kau benci sekali orang bandung, persib bandung
dan segala macam hal yang berbau bandung, pun warna biru

seperti kostum yang kerap kau lihat di langit itu.

*

entah bagaimana kau menyelundupkan petasan, dan ketapel
dan batu-batu tajam yang mungkin kau pungut di jalanan

"aku akan menembak sang kiper, juga sang striker yang mukanya
mirip dengan joker, selalu seolah troublemaker"

tetapi ketika kayamba mencetak gol keenam kau bersorak gembira
dan menyimpan ketapelmu di bawah kursi yang setia kau duduki

*

kau sudah berpikir sriwijaya akan menang, dan membawa tiga poin penuh
mengantarkan kita ke posisi kedua di bawah arema indonesia

tetapi tepat menit ke-90, kita kebobolan dan matamu memancarkan kemarahan

kau ambil saja ketapelmu, melemparkan batu-batu
bertingkah burung bulbul di jaman abrahah itu

05 December 2009

Dua Hal Yang Ingin Kuungkapkan Kepadamu

1. Bagaimana Caranya Menerjemahkan Rindu?

rinda, rindi, dan tak ada kata rindu
padahal kamus ini ngakunya lengkap sekali
ada sejuta kata yang berhasil ditangkap
kemudian diterjemahkan oleh para ahli

tetapi, kemana rindu pergi?

rindu mungkin sudah menjadi telepon genggam
yang suka sekali berdering malam-malam

rindu mungkin sudah menjadi televisi
yang asik sekali menayangkan tubuh-tubuh seksi

rindu mungkin saja sudah jadi presiden
yang selalu siap bersumpah tak terlibat dalam insiden


2. Harus dengan Apa Kulambangkan Kata Cinta?

seorang anak laki-laki bertanya,
kenapa burung garuda yang jadi lambang negara
bukan ayam jagonya yang selalu berkokok dengan ramah?

karena kita tidak menyembelih burung garuda saat lebaran, Nak.

seorang perempuan yang baru pertama kali kasmaran ikut bertanya,
bagaimana dia harus melambangkan cinta pada sang lelaki pujaan?

nah, kau potong seekor ayam jago, dan ambil tajinya
katakan pada lelaki itu, mana yang lebih tajam: tajimu

atau taji ini?

29 November 2009

Jorge Luis Borges

We are the time. We are the famous
by Jorge Luis Borges

We are the time. We are the famous
metaphor from Heraclitus the Obscure.

We are the water, not the hard diamond,
the one that is lost, not the one that stands still.

We are the river and we are that greek
that looks himself into the river. His reflection
changes into the waters of the changing mirror,
into the crystal that changes like the fire.

We are the vain predetermined river,
in his travel to his sea.

The shadows have surrounded him.
Everything said goodbye to us, everything goes away.

Memory does not stamp his own coin.

However, there is something that stays
however, there is something that bemoans.



The Art Of Poetry
by Jorge Luis Borges

To gaze at a river made of time and water
And remember Time is another river.
To know we stray like a river
and our faces vanish like water.

To feel that waking is another dream
that dreams of not dreaming and that the death
we fear in our bones is the death
that every night we call a dream.

To see in every day and year a symbol
of all the days of man and his years,
and convert the outrage of the years
into a music, a sound, and a symbol.

To see in death a dream, in the sunset
a golden sadness--such is poetry,
humble and immortal, poetry,
returning, like dawn and the sunset.

Sometimes at evening there's a face
that sees us from the deeps of a mirror.
Art must be that sort of mirror,
disclosing to each of us his face.

They say Ulysses, wearied of wonders,
wept with love on seeing Ithaca,
humble and green. Art is that Ithaca,
a green eternity, not wonders.

Art is endless like a river flowing,
passing, yet remaining, a mirror to the same
inconstant Heraclitus, who is the same
and yet another, like the river flowing.



Instants
by Jorge Luis Borges

If I could live again my life,
In the next - I'll try,
- to make more mistakes,
I won't try to be so perfect,
I'll be more relaxed,
I'll be more full - than I am now,
In fact, I'll take fewer things seriously,
I'll be less hygenic,
I'll take more risks,
I'll take more trips,
I'll watch more sunsets,
I'll climb more mountains,
I'll swim more rivers,
I'll go to more places - I've never been,
I'll eat more ice creams and less (lime) beans,
I'll have more real problems - and less imaginary
ones,
I was one of those people who live
prudent and prolific lives -
each minute of his life,
Offcourse that I had moments of joy - but,
if I could go back I'll try to have only good moments,

If you don't know - thats what life is made of,
Don't lose the now!

I was one of those who never goes anywhere
without a thermometer,
without a hot-water bottle,
and without an umberella and without a parachute,

If I could live again - I will travel light,
If I could live again - I'll try to work bare feet
at the beginning of spring till
the end of autumn,
I'll ride more carts,
I'll watch more sunrises and play with more children,
If I have the life to live - but now I am 85,
- and I know that I am dying ...



Limits
by Jorge Luis Borges

Of all the streets that blur in to the sunset,
There must be one (which, I am not sure)
That I by now have walked for the last time
Without guessing it, the pawn of that Someone

Who fixes in advance omnipotent laws,
Sets up a secret and unwavering scale
for all the shadows, dreams, and forms
Woven into the texture of this life.

If there is a limit to all things and a measure
And a last time and nothing more and forgetfulness,
Who will tell us to whom in this house
We without knowing it have said farewell?

Through the dawning window night withdraws
And among the stacked books which throw
Irregular shadows on the dim table,
There must be one which I will never read.

There is in the South more than one worn gate,
With its cement urns and planted cactus,
Which is already forbidden to my entry,
Inaccessible, as in a lithograph.

There is a door you have closed forever
And some mirror is expecting you in vain;
To you the crossroads seem wide open,
Yet watching you, four-faced, is a Janus.

There is among all your memories one
Which has now been lost beyond recall.
You will not be seen going down to that fountain
Neither by white sun nor by yellow moon.

You will never recapture what the Persian
Said in his language woven with birds and roses,
When, in the sunset, before the light disperses,
You wish to give words to unforgettable things.

And the steadily flowing Rhone and the lake,
All that vast yesterday over which today I bend?
They will be as lost as Carthage,
Scourged by the Romans with fire and salt.

At dawn I seem to hear the turbulent
Murmur of crowds milling and fading away;
They are all I have been loved by, forgotten by;
Space, time, and Borges now are leaving me.


Elegy
by Jorge Luis Borges

Oh destiny of Borges
to have sailed across the diverse seas of the world
or across that single and solitary sea of diverse
names,
to have been a part of Edinburgh, of Zurich, of the
two Cordobas,
of Colombia and of Texas,
to have returned at the end of changing generations
to the ancient lands of his forebears,
to Andalucia, to Portugal and to those counties
where the Saxon warred with the Dane and they
mixed their blood,
to have wandered through the red and tranquil
labyrinth of London,
to have grown old in so many mirrors,
to have sought in vain the marble gaze of the statues,
to have questioned lithographs, encyclopedias,
atlases,
to have seen the things that men see,
death, the sluggish dawn, the plains,
and the delicate stars,
and to have seen nothing, or almost nothing
except the face of a girl from Buenos Aires
a face that does not want you to remember it.
Oh destiny of Borges,
perhaps no stranger than your own.


History Of The Night
by Jorge Luis Borges

Throughout the course of the generations
men constructed the night.
At first she was blindness;
thorns raking bare feet,
fear of wolves.
We shall never know who forged the word
for the interval of shadow
dividing the two twilights;
we shall never know in what age it came to mean
the starry hours.
Others created the myth.
They made her the mother of the unruffled Fates
that spin our destiny,
they sacrificed black ewes to her, and the cock
who crows his own death.
The Chaldeans assigned to her twelve houses;
to Zeno, infinite words.
She took shape from Latin hexameters
and the terror of Pascal.
Luis de Leon saw in her the homeland
of his stricken soul.
Now we feel her to be inexhaustible
like an ancient wine
and no one can gaze on her without vertigo
and time has charged her with eternity.

And to think that she wouldn't exist
except for those fragile instruments, the eyes.

24 November 2009

Aku Bayangkan Ampera Itu Terbelah Dua Persis Ambacang Yang Kau Cinta

#1
Mungkin sebab pondasi, bayanganku itu tak terjadi
atau jumlah lantai kami yang cuma sebilah panjang
lalu memanjang seperti bayang-bayang

menyambungkan seberang ulu dan ilir.

Tapi mungkin nanti, akan dibangun hotel di ampera itu
enam lantai dengan lima bintang yang menjulang
dan ku memanggilmu dari ketinggian, meneriakkan
sebuah dukungan untuk kiamatkan saja dunia
biar tak ada lagi cicak yang tertindas saat sedang merayap
mengendap dengan tiada derap.

Tapi derap sore itu, yang kau dengar adalah nyanyian kematian
atau sebuah sangkakala kecil yang ditupkan kunang-kunang.

#2
Amperaku ini adalah sebuah amanat penderitaan
seperti pesan yang masih sempat terkirim
oleh korban di reruntuhan itu

tapi kunang-kunang malam itu, saat kita bermain di pematang
adalah kuku dari nyawa-nyawa yang terbang
dan memantik kerinduan


#3
Suatu malam, aku bayangkan
ampera itu terbelah dua
aku yang sedang duduk memandang kapal ketek, rumah rakit,
dan sepasang ibu yang menyuci baju di air yang parit,
tiba-tiba terhenyak
seolah ada dua puluh dua mata dari langit
tengah menanti bau angit
dari darah
dan teriakan-teriakan
yang sengit


#4

Ambacang yang jauh, tempat kau terlelap
dalam tidur terakhirmu

mungkin cinta, dan bukan pondasi
yang seperti kukatakan tadi

atau kunang-kunang yang diam menyela
dan memanggil kenangan
dari sebuah masa kecil kita yang lampau
untuk mendengar
atau malah memainkan
sebuah sangkakala kecil
yang lain

lagi.

(2009)

*dalam mengenang korban-korban di Ambacang
sampai kini, jumlah korban tetap menjadi misteri

23 November 2009

Kiri, Bang!

kiri, bang. kiri, bang. aku sudah mau turun nih
sudah teriak-teriak begini masa' abang ga dengar sih?

apa telinga abang tuli, seperti pemerintah negeri ini
yang pura-puranya sutradara paling canggih?

tapi lucu ya, bang, seperti komedi saja---opera van java
yang suka main pukul, tapi cuma pura-pura?

*

kiri, bang. kiri, bang. kenapa abang ga mau berhenti
apa karena aku begitu rapi seperti selebriti?

tapi nggak mau ah, bang, kerjaannya kawin-cerai melulu
bolak-balik ke pengadilan buat bikin sensasi yang nggak mutu

aku sih cocoknya jadi pengusaha, bang---eksekutif muda
kemana-mana naik mobil mewah, dikelilingi para wanita?

*

kiri, bang. kiri, bang. lihat nih sudah jam berapa
sudah kelewat jauh, aku jadi telambat, tau?

aduh, aku jadi malu begini, teriak-teriak dari tadi
jadi mirip mahasiswa yang suka demonstrasi

mana ada cewek lagi, yang dari tadi behaha-hihi
....................ih, benar-benar bikin keki

*

kiri, bang! kiri, bang! aku sudah tak sabar saja
sudah ingin memanggil pengacaraku yang sepuluh itu

biar abang sopir ini tahu, seberapa besar kuasaku
di pengadilan yang hakimnya sudah kusogok lebih dulu

seketika mobil ini berhenti, bukan karena teriakanku tadi
"kanan, bang." bahkan tak perlu diulang.

(2009)

22 November 2009

Bakal Calon Penyair Paling Kreatif di Dunia



---diam, dan perhatikan!
tidakkah kau merasakan
ada sesuatu yang ia sembunyikan
dan tersimpan

di balik matanya yang misteri?

21 November 2009

Distikon: Falling In Love

---sebuah dimensi pembacaan lain dari lagu J-Rock, Falling In Love

bagaimana membaca lagu ini, jirok atau jorok?

*

tapi kita malah ingat dengan gadis yang memakai rok
yang membuat kita jatuh hati. roknya seperti puisi

yang terhidang pagi-pagi bersama sepiring nasi,
segelas kopi, dan selintasan berita tentang konspirasi

kita mulai bertanya-tanya apa yang tersembunyi
di balik roknya yang makin hari makin mini

mungkin ada hutan lebat yang tiba-tiba gundul
seperti pemerintahan kita yang makin amburadul

*

aih, aku tak bisa berhenti memikirkanmu, memikirkan
rok minimu yang beberapa centi di atas lutut itu

tapi ada ketakutan jika aku coba-coba mengintipmu
takut ketahuan lalu dihukum tiga bulan kurungan

padahal aku tidak korupsi, tidak mencuri, membunuh,
apalagi meminta kakao di kebunmu dengan sesukaku

*

aku jatuh cinta, sejak pertama berjumpa
entah senyummu, entah rok minimu tadi itu

sampai kemudian kutemukan rok minimu hanyut
bersama banjir bandang yang gemar bertandang

aih, aku jadi memikirkanmu. memikirkan perjumpaan
lain, denganmu, yang tak memakai rok mini lagi.

*

sudah bisa kau baca dengan benar lagu
ini, jirok atau jorok?

Ketika Tiba-Tiba Aku Menjadi Adrian Martadinata Sore Itu

Tiba-tiba aku berada di MTV AMPUH. bukan menguji keris
sakti buatan para empu. bukan duduk bersimpuh lantas
membaca mantra-mantra keluh. bukan. bukan itu.

aku membawa gitar yang lekuknya persis tubuhmu dengan
lima senar yang sama jumlahnya dengan sila-sila yang kita
hafal sejak dulu.

Adrian, bernyanyilah. Entah itu Marissa atau siapa, pastinya
dadanya mengingatkanku pada utang negeri ini yang makin
membengkak. pada cicilan bunganya yang makin menunggak.

Intro C 2X

baru intro, matanya sudah menganggap aku maestro.

C F

ajari aku untuk bisa melipat kertas ini menjadi pesawat mini.
dari dulu sekali aku selalu gagal, pesawatku selalu kandas
dengan korban-korban yang meninggal.

G C

supaya aku bisa menjadi yang engkau cinta. lalu terbang
ke eropa. menaiki menara pissa. lalu ke eiffel, tempat kita
membuang hajat tanpa pernah takut dikena hujat.

Am F C

tapi ini negara yang pemerintahnya tak punya rasa.
tak pernah sadar bahwa masyarakatnya sudah pintar
semua. malah dibikinnya melodrama yang dianggapnya
luar biasa hebatnya. seperti telenovela. maria marcedez
atau betty la fea?

F Dm G C

apa beda opera sabun dan telenovela? suatu saat ada ibu-ibu
bertanya pada aku.

opera sabun itu adalah adu siapa yang paling mampu
melicinkan suasana. sedangkan telenovela adalah adu
siapa yang paling mampu mengaku sumpah dengan
cucuran airmata.


C F

anggodo dan anggoro, aku sering-sering salah sebut.
sebab dua-duanya berkepala sabut. dan bekerja
secara serabut. serabut sana. serabut sini. mana-mana
yang bisa dicatut ya dicatut.

hebat, hebat, keduanya tak ada rasa takut!

G C

pak hakim yang terhormat, kamu minta berapa?

sekarang aku tak takut jika berada di persidangan.
sudah aku dapatkan sebuah jimat, untuk selamat
dari pasal-pasal yang tersumat.

Am F C

rayuan gombal apalagi yang kau utarakan, o,
wahai, pak presidenku yang badannya sehat?

aku bukan cahaya hidupmu, aku juga bukan
malammu, aku pun tak berteduh di langit birumu.


F Dm G C

lantas bagaimana mungkin kau mampu
menerangi hidupku jika ada pintu-pintu
yang sengaja kau tutup-tutupi

tak kau bukakan untukku---untuk kami?


*

Baru mau kumainkan reff, mikeku mati
segerombolan laki-laki berpakaian polisi datang sok aksi

Maaf, Anda dituduh subversi
itu bukan lagu Adrian Martadinata yang asli

19 November 2009

Rendra Main Kelereng

#1

Rendra main kelereng, sampai maghrib. Pagi-pagi sekali
tadi dia ke sekolah membawa kelereng tiga butir. Warnanya
hitam semua seperti kain-kain yang dikenakan ibunya
di pemakaman yang ia tak tahu namanya.
Saat bel sekolah berbunyi satu kali itu tanda
Rendra akan main kelereng di halaman depan.
Ia gambar pohon beringin yang lebat buat mengurung
kelereng-kelerengnya yang jahat. Temannya protes
ingin menggambar segitiga atau segi-segi lain yang mereka
suka. Tapi Rendra melarangnya.
Rendra takut teman-temannya akan hilang
seperti kelereng-kelerengnya yang lain yang bukan
hitam warnanya.


#2

Saat bel dua kali, Rendra tahu ini saatnya ia main kelereng lagi.
Ia tidak takut ada ayahnya yang membawa kayu sabit
menyuruhnya pulang ke rumah untuk makan masakan ibu.
Rendra memilih puasa sambil main kelereng bersama teman-temannya
sepuasnya, sampai maghrib. Sampai ada bedug enam kali terdengar
di telinganya. Rendra sudah menang banyak, dihitung kelerengnya
ia selalu lupa setelah angka sembilan. Diulang-ulang hitungannya
makin pusing saja pikirannya. Rendra tahu, ia harus setia dengan kelereng hitamnya.
Dihitung kelerengnya yang hitam, masih sama berjumlah tiga butir.
Rendra pulang dengan kecewa, kelereng hitamnya tidak bertambah-tambah.

Main Petak Umpet

Kalah suit, aku yakin mereka sekiwit. Aku tak tahu
kenapa aku selalu memilih gunting. Bukan batu bukan
kertas. Aku terpaksa berjaga, menghitung sampai lima.
Tapi bilamana mereka minta tambah, aku pun menghitung
sampai lima puluh lima. Kalau sudah, tinggal aku bertingkah
peramal. Tukang prediksi. Mencari di mana mereka bersembunyi.
Bak truk yang terbuka, atap rumah, atau lubang sampah,
aku terbiasa bersembunyi di situ kalau mereka yang jaga.
Tapi kulihat-lihat tetap tak ada.

Aku ingin menangis, Ibu. Tapi ibu bilang cuma perempuan
yang boleh menangis. Seperti kadang kulihat ayah pulang
membawa kemarahan yang panjang. Teriakan yang
panjang. Sampai kemudian ibu memelukku dengan air
mata berlinang.

Lima puluh lima menit lebih aku mencari, aku bosan sendiri.
Aku tak peduli. Terus pulang ke rumah, mencari ibu. Di ruang
tamu, di dapur, di kasur atau di kamar mandi tempat aku
biasa berkumur pagi-pagi. Ibu juga tak ada.

Sepertinya sedang menantangku main petak umpet juga.

18 November 2009

Dua Zikir yang Dibaca Diam-Diam

#1
dari debu kembali ke debu.

#2
kami ranting yang diam-diam patah
sebelum kembali menjadi nutfah

Anafora: Aku Ingin

Aku ingin menjadi sunyi yang menyelinap di balik bola matamu
Aku ingin menjadi nada yang kau dengar dari speaker-phonemu
Aku ingin menjadi tuts-tuts keyboard yang bersentuhan dengan jemarimu
Aku ingin menjadi bahasa bagi bibirmu
Aku ingin menjadi kupu-kupu di atas jendela rumahmu
Aku ingin menjadi ragu yang terus bergerak di benakmu
Aku ingin menjadi udara yang menghidupi nafasmu
Aku ingin menjadi mendung yang kemudian menghujanimu
Aku ingin menjadi korek api dalam tubuhmu
Aku ingin menjadi diary bagi kehidupanmu
Aku ingin menjadi mimpi yang diam-diam datang di tidurmu
Aku ingin menjadi cita-cita di masa depanmu

Aku Ingin
Ingin
Kau

Kau?

16 November 2009

Tentang Seorang Yang Terbunuh Disekitar Hari Pemilihan Umum

oleh: Goenawan Muhammad

“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku”

Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan mayatnya
di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan hangat padi.

Tapi bau sing itu dan dingin pipinya jadi aneh, di bawah bulan.
Dan kemudian mereka pun berdatangan - senter, suluh dan
kunang-kunang - tapi tak seorang pun mengenalnya. Ia bukan orang sini, hansip itu berkata.

“Berikan suara-Mu”

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik.
Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak
bertandagambar. Ia tak ada yang menagisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya ?

“Juru peta yang Agung, dimanakah tanah airku ?”

Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman
pertama. Ada seorang menangis entah mengapa. Ada seorang
yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang letih
dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan angin
kemudian. Lihatlah. Di udara berpasang layang-layang, semua
bertopang pada cuaca. Lalu burung-burung sore hinggap di kawat,
sementara bangau-bangau menuju ujung senja, melintasi lapangan
yang gundul dan warna yang panjang, seperti asap yang sirna.

“Tuhan, berikan suara-Mu, kepadaku”

Horison, September 1971, Thn VI.
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Aku Ingin

oleh: Sapardi Djoko Darmono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

14 November 2009

Lomba Cipta Puisi Religius

Batas akhir: 14 Desember 2009

Dewan Ekskutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto menyelenggarakan lomba cipta puisi religius. Tercantum dalam jajaran dewan juri ialah Evi Idawati, Abdul Wachid B.S., Heru Kurniawan, dan Kuswaidi Syafi’ie.
Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia

Diselenggarakan Oleh Dewan Ekskutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto

TEMA “Puisi Religius”

KETENTUAN UMUM

Melampirkan copy Kartu Mahasiswa yang masih berlaku;

Puisi diketik dengan hurup time new roman size 12, di antara baris spasi 1, di antara bait spasi direnggangkan ;

Puisi yang diikutkan lomba adalah karya yang belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun;

Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 5 judul puisi dari karya terbaiknya;

Melampirkan biografi singkat maksimal 1 halaman;

Semua hal tersebut diemailkan ke obsesipress@gmail.com ;

Batas terakhir penerimaan naskah 14 Desember 2009.

PENGUMUMAN NOMINATOR DAN PEMENANG PUISI: 1 Januari 2010

HADIAH

Bagi puisi nominator dan puisi pemenang akan dibukukan eksklusif oleh Penerbit OBSESI Press: 3 judul puisi pemenang, dan puisi-puisi nominator;

Bagi Juara ke-1 mendapatkan uang Rp 1.000.000; Juara ke-2 Rp.750.000; Juara ke-3 Rp 500.000 ;

Baik nominator maupun pemenang diberi hak mendapatkan buku bunga rampai puisi tersebut 2 eksemplar, dan masing-masing akan mendapatkan Piagam Penghargaan ;

Baik hadiah maupun buku puisi tersebut hanya akan diberikan jika yang bersangkutan hadir pada acara “Peluncuran dan Diskusi Buku Puisi Pemenang Lomba Nasional” pada Senin 8 Februari 2010 ;

Jika yang bersangkutan berhalangan hadir, maka disilahkan menghubungi Panitia (Presiden DEMA – Saudara HERI KURNIAWAN 085 227 4505 32), dan buku puisi akan dikirim jika sudah mengirim ongkos pengganti biaya kirim.

DEWAN JURI
Evi Idawati (Novelis TERATAK, Cerpenis MAHAR, Penyair NAMAKU SUNYI, Aktris);
Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. (Penulis Buku: GANDRUNG CINTA, Tafsir terhadap Puisi Sufi K.H. Ahmad Mustofa Bisri);
Heru Kurniawan, S.Pd., M.A. (Penulis Buku: MISTISISME CAHAYA);
Kuswaidi Syafi’ie, M.Ag. (Penyair TARIAN MABUK ALLAH, Cerpenis MEMANJAT BUKIT CAHAYA, Esais, Editor Ahli Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta).

Pahlawan Tak Dikenal

Pahlawan Tak Dikenal
oleh: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

11 November 2009

Kabar Indonesia Pagi

Indonesia pagi adalah anak-anak berseragam bendera
menyanyikan kilometer kemacetan di setiap upacara

06 November 2009

Lomba Karya Tulis dalam Rangka Hari Pahlawan 2009

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November 2009 Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Yogyakarta Mengadakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Dengan Tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan Dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa”.

A. KETENTUAN LOMBA
1. Karya tulis harus asli, bukan kutipan, terjemahan atau saduran dari tulisan orang lain, dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba karya tulis manapun, serta belum pernah dipublikasikan.
2. Karya tulis disusun dengan menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dalam bentuk ilmiah populer, dan harus mengacu salah satu judul yang telah ditetapkan panitia.
3. Karya tulis diketik dengan jarak 2 (dua) spasi menggunakan kertas HVS ukuran kuarto sebanyak 15-20 halaman tidak timbal balik (tidak termasuk lampiran, daftar isi, dan foto).
4. Karya tulis yang jumlah halamannya kurang atau melebihi dari ketentuan tersebut tidak akan dinilai oleh dewan juri.
5. Lomba bersifat karya individu, bukan kelompok. Masing-masing peserta bisa mengirim maximal 2 (dua) judul.
6. Karya tulis dibuat rangkap tiga dan dikirim langsung atau melalui pos dalam amplop tertutup pada sudut kiri atas amplop ditulis ” Lomba Karya Tulis Kesejarahan ”, atau dapat diserahkan langsung ke panitia Lomba Karya Tulis Kesejarahan yang beralamat di Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Yogyakarta, Jl. Brigjen Katamso No. 139 Yogyakarta, Telp. (0274) 373241
7. Karya tulis dilengkapi dengan identitas diri sebagai berikut :
a. Nama, tempat dan tanggal lahir peserta
b. Foto copy kartu pelajar atau surat keterangan sekolah, nomor telepon sekolah atau fax, nomor telepon peserta (HP)
8. Karya tulis yang masuk menjadi hak panitia sepenuhnya.
Lomba karya tulis dimulai tanggal 1 April 2009 dan ditutup tanggal 15 Oktober 2009 (cap pos).

B. JUDUL
Adapun judul-judul yang bisa dipilih oleh peserta sebagai berikut :
1. Kepahlawanan di mata generasi muda
2. Nilai-nilai kepahlawanan di era reformasi
3. Pendapat saya tentang sosok pahlawan
4. Menyambut hari Pahlawan tahun 2009 : Potret Diri Anak Zaman
5. Generasi muda sebagai pewaris nilai-nilai kepahlawanan
6. Dengan semangat kepahlawanan kita wujudkan persatuan dan kesatuan bangsa
7. Nilai-nilai kepahlawanan dalam pembentukan karakter bangsa
8. Nilai-nilai kepahlawanan sesuai jiwa zaman
9. Nilai-nilai kepahlawanan dan semangat generasi muda dalam melestarikan kehidupan bangsa
10. Pahlawan dan jati diri bangsa

03 November 2009

Daftar Isi dari Buku Puisi Penyair Muda yang sedang Naik Daun

Hal. 1

Pikirnya buntu, seperti habis kena flu---mungkin hujan, mungkin
tarian, dan sepasang sayap patah mengingatkannya pada alergi
yang dulu lupa dicek ke dokter yang hobinya pake baju abu-abu
itu.

Hal. 2

Padahal hari ini dia sudah ada janji, buat naik daun bersama
teman-temannya yang lucu---mengenakan sepasang sepatu
dengan motif peluru atau bom yang bentuknya dibikin imut
mirip boneka barby yang cenderung laku di pasaran.

Hal. 3

Mengecek kopernya: baju, celana, kutang atau beha,
lengkap sudah (parfumnya pun tak ketinggalan), tapi sepertinya
ada yang kurang di benaknya, sebuah remote televisi yang kerap
ia tonton di setiap minggu: seperti gereja-gereja yang rutin
ia tunggu.

Hal. 4

Ah, minggu yang lalu ia ke pasar saham, mengecek indeks harga
sebuah nyawa.

Hal. 5

Sebelum pergi, ia menonton tivi dan menyaksikan Noordin M Top
tertembak mati.

Hal. 6

Ia jadi geli sendiri, menyaksikan namanya diakui.

Hal. 7

Akhirnya ia memutuskan untuk menyamar menjadi penyair
dengan mengirimkan kesepuluh sajaknya ke koran ibukota
disisipi ancaman ke redakturnya,

“Wahai redaktur yang terhormat, ini sajak dari akhirat. Kalau
tak kau muat kusumpah kau mendapat laknat!”

Hal. 8

Ia pun terkenal dalam beberapa hari dan sudah diundang
untuk membacakan puisi di bienalle sebuah komunitas
anak negeri sambil malu-malu ia datang, berteriak lantang:
“Aku sungguh penyair, tak rela jika sajakku dianulir!”

Hal. 9

“Berapa usiamu?” Tanya si kakek yang janggutnya sudah
serba putih dan konon pencinta hujan di bulan Juni itu. “Aih,
aku masih 21, Kek, persis merk bioskop.”

Hal. 10

Terakhir kali ia ke bioskop, ada dua film yang ditontonnya
di satu ruangan itu: film yang asli dan film buatan anak negeri
yang isinya bibir semua.

Hal. 11

Sudah beberapa bulan ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Aku ini penyair atau tukang bunuh diri?

Hal 12

Ia masih saja suka main ledak-ledakkan dan meledakkan
bukunya di pasaran dengan judul Kisah Seorang Penyair
dan Sajak-Sajak yang sedang Naik Daun

Hal. 13

Tapi cuma tiga belas sajak di dalam buku puisinya seperti
tiga belas barang di dalam kopernya yang berbau mesiu itu,
bekal buat akhirat, dalihnya sambil memamerkan giginya
yang sudah kekuning-kuningan.

02 November 2009

Pita Hitam di Lengan Kiriku

mari kita kenakan
pita hitam di lengan kanan
tanda duka cita
sebuah kematian
dari lagu masa kanak-kanak
tentang cicak-cicak di dinding
yang diam-diam merayap

aduh, tapi kau
bersikeras tak mau
mengenakan pita hitam
di lengan kanan

bagaimana kalau di kiri saja?

katamu sambil memainkan lagu baru
semi-melayu
yang nadanya mendayu-dayu
persis kesedihan

tapi ini rayuan (katamu)
supaya aku tak memakai pita hitam
di lengan kanan

sebab kanan selalu saja penuh kepura-puraan
dalam hal kebaikan

makan tangan kanan
memberi tangan kanan

korupsi tangan kanan juga kah?

tanyamu sok retorika

tapi akhirnya aku mengalah saja
takut kalau saja aku korupsi
pakai tangan kananku

oke lah
besok mari kita kenakan
pita hitam di lengan kiri

Ke Mana Rekanmu, Wahai Kakek Tua Penanam Benih?

: sapardi djoko

panggung itu sudah tinggal kau, menoleh ke kanan
atau menunduk seperti mencari sebuah kerinduan

kami terdesak dan berebut, mungkin ada sebait
di kolammu yang hijau, benih-benih rasa sakit

seperti hujan di bulan juni, dan kemarau-kemarau
lain di balik teriak dan suara-suara yang memarau

o, wahai kakek tua penanam benih, bolehlah kami
ikut mencari barang sehelai dua helai uban putihmu

lewat lampu sorot, dan sebuah kursi kosong yang
seperti menunggu, seperti menunggu kedatangan

jarum jam yang menyilang di atas pangkuanmu?

(2009)

01 November 2009

Ketika Teleponku Tak Kunjung Kau Angkat

1
aku menebak-nebak
dalam sembilan ketukan panjang
ada irama di sana
seperti bunyi piano
yang kaumainkan dulu
dengan merdu
dengan jemarimu
yang masih
genap sepuluh

2
aku berharap kali ini suara lelaki
bukan suara perempuan pemberi kabar
bahwa nomor yang kutuju
mungkin sedang sibuk
mungkin sedang menghitung bintang
yang semakin menghilang dari pandangan
tetapi tidak cintaku
yang masih kutaruh
di atas meja judi
aku pasang sepuluh
semuanya
tanpa ragu
tanpa takut
mungkin saja ada suara lelaki
yang menghardikku
untuk tidak lagi meneleponmu

3
aku masih menebak-nebak
dalam sembilan ketukan panjang yang lain
mungkin kau sedang berbaring di atas tempat tidur
memikirkan kenapa tanganku terus terulur
menunggu kau
menyambutnya
mungkin juga kau sedang di hadapan segelas kopi
yang sudah berjam-jam kau pandang
dan dingin

4
aku masih saja menebak-nebak
setelah berapa menit saja aku menatap namamu
dalam daftar kontakku yang sedikit

tapi mungkin kau
sudah tak lagi mau
mengangkat teleponku itu

(2009)

29 October 2009

Pemilihan Duta Bahasa 2009 Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan

Jumat, 16 Oktober 2009

Pemilihan Duta Bahasa 2009 Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan

Pemilihan Duta Bahasa 2009 dalam rangkaian Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan telah dilaksanakan tanggal 6-7 oktober 2009. Koordinator kegiatan ini Dewi Sartika, M.Pd. mengatakan bahwa Duta Bahasa yang terpilih nanti akan mewakili wilayah Sumatera Selatan ke tingkat Nasional yang akan diselenggarakan di Pusat Bahasa. Krireria penilaian Duta Bahasa meliputi: 1) Tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia., 2) Tes Bahasa Inggris tertulis, 3) Presentasi makalah atau artikel ilmiah yang ditulis untuk keperluan lomba., dan 4) Wawancara lisan dari juri yang ditunjuk oleh panitia.

Materi Yang diujikan meliputi: Pengetahuan umum/potensi akademik, Pengetahuan kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah, Kecakapan bahasa Inggris secara lisan, serta Etika dan kepribadian. Dewan juri terdiri atas Dr. Indawan Syahri, M.Pd., Prof. Dr. Ratu Wardarita, M.Pd., dan Dr. Rita Inderawati, M.Pd.

Duta terpilih yang diputuskan oleh dewan juri meliputi Duta Bahasa dan Wakil Duta Bahasa. Adapun Pemenang Duta Bahasa dan Wakil Duta Bahasa yang diputuskan dewan juri adalah: Pringadi Abdi Surya dengan total nilai 1394 sebagai Duta Bahasa Pria mewakili Sumatera Selatan di Tingkat Nasional, Putu Karolina dengan total nilai 1351 sebagai Duta Bahasa Wanita mewakili Sumatera Selatan di Tingkat Nasional, Rudi Hartono dengan total nilai 1359 sebagai Wakil Duta Bahasa Pria, dan Rini Mayasari dengan total nilai 1346 sebagai Wakil Duta Bahasa Wanita. (am)

Sebab yang Mungkin Tertinggal di Balik Jas Warna Coklatmu

mungkin hujan
mungkin puisi
atau nyala lilin yang menari-nari
membiaskan titik-titik air
kemarin
di matamu

sebuah kuiskah ini
tebak-tebakan
atau mengisi
teka-teki silang
antara ilalang
dan bunga talang?

aih

mungkin hujan
mungkin puisi
mungkin bajumu yang warna putih
bersembunyi
di balik jas warna coklatmu

seperti kulitku

seperti cat tembok rumahku

seperti cintaku
yang terjemur

matahari terik
siang tadi

26 October 2009

Tentang Kubur dan Aroma Tuan yang Tertinggal di Reruntuhan

#1
Mungkin kita anjing pemburu. Mencium bau. Mencium aroma-aroma yang tersembunyi di balik amuk bumi. Mungkin juga cacing. Menggeliat ke sana kemari. Mangaduk-ngaduk tanah tempatmu berpijak, wahai Tuan, atau mungkin kuburmu yang pernah kau impi untuk kau gali sendiri?

Tetapi ternyata, kau tak perlu repot-repot menggali, bukan?

#2
Aromamu kesturi, Tuan? Atau mawar dan melati seperti lagu kanak-kanak yang sering kau nyanyikan dulu bersama kampung yang jauh di mata---jauh di hati?

Tetapi katamu, kau adalah sang pejalan. Kau adalah sang pengembara yang mencari jejak doa ibumu. Melempar galau dari surau-surau tua di belakang rumahmu?

Dan aroma tubuhmu, tidak lupa kau masukkan ke dalam kopormu, bukan?

#3
Tapi mungkin kami yang keliru. Kata orang-orang kubur dan aromamu tertinggal di reruntuhan ini? Terkubur bersama kata-kata yang sering kau ucapkan tentang bai’at perantauan, dan nyatanya kau kembali?

Aih, aih, kami mungkin anjing pemburu.
Mungkin juga cacing.

Mungkin juga

Kau?

(2009)

19 October 2009

Tiga Sajak Buat Antologi Puisi Padang

Tentang Sebab Gempa Kemarin Itu
: Prof. Tsuboi

kalau begitu, bolehlah kami pergi ke pengadilan
demi menggelar persidangan, siapa sesungguhnya
yang bersalah atas gempa kemarin itu?

begini: kami telah letih dengan segala macam spekulasi
ada yang bilang ini adalah azab, atau kutukan, atau
peringatan karena kami telah tidak taat pada jam gadang
yang selalu berdentang lima kali itu?

ada pula yang bilang ini gara-gara pergeseran lempengan
di perut bumi. padahal kami tak bisa membayangkan
apakah perut bumi itu sama seperti perut kami? Buncit,
kerempeng, ataukah bersisi rata laiknya binaraga?

aih, ada lagi yang berani tampil beda. katanya ini semua
karena letak planet-planet tengah sejajar dengan bumi, mempengaruhi
aliran listrik dari kutub ke kutub? aih aih, padahal di sini saja
pemadaman listrik bisa tiga kali seminggu. pusing tahu!

nah, jadi begitu. daripada kami berdebat, sampai melontarkan
ayat-ayat, merapal mantra dan jimat, bahkan terkomit-komat
kita pergi ke pengadilan saja, dan kau jadi saksi ahlinya
biar pak hakim yang kemudian memutuskan: siapa yang sebenarnya
bersalah dari gempa yang terjadi kemarin itu?

(2009)

Kalau Mungkin Kau Sedang Tidur dan Tiba-Tiba Jam Gadangmu Berdentang Tak Normal

Tiba-tiba jam gadangmu berdentang tak normal!

Tapi kau tengah memejamkan mata, menghindari realita
Kemarin baru saja kau dengar, maria ozawa akan datang ke Indonesia
Beradu akting dengan Raditya Dika
Padahal kau ingin sekali menjadi pemeran prianya
Menggandeng sang maria keliling ibukota
Naik metromini yang sebenarnya tak lolos uji emisi
Atau menikmati kerak telor, yang mungkin imitasi.
Tetapi matamu tak lepas dari pinggul dan dada
Milik sang gadis (boleh disebut seperti itu?) di sebelahmu
Sambil memikirkan sebuah pertanyaan yang lucu:
Apakah itu susu asli atau imitasi?

Tiba-tiba jam gadangmu berdentang tak normal!

Tapi kau masih melanjutkan mimpi indahmu di atas kasur
Berdiri di atas panggung, berduet dengan Sherina yang kau idola
Menyanyikan cinta pertama dan terakhir
Yang kerap menjadi inspirasi bagi syair-syairmu itu,
Syair tentang Adonis yang mistis, seperti dua macam layang-layang
Yang saling berparit untuk memperebutkan kenang
Dari udara yang makin menjuling itu

Tiba-tiba jam gadangmu berdentang tak normal!

Kau bangun juga, pukul lima lebih lima
Kau pun menganga, memikirkan kenapa jam gadangmu itu
Berdentang lebih dari lima, bahkan belasan kali lebih banyak
Mungkin kehabisan baterai, atau kekurangan materai
Buat syahnya perizinan dentang jam gadang
Yang memang kadang terlalu berbelit-belit

Tapi belasan menit kemudian, sebelum kau tunaikan sembelitmu
Yang kesekian hari itu, ada getaran mendadak
Rumahmu berderak-derak
Tetanggamu bahkan berteriak-teriak
Ah, padahal belum tuntas kau tunaikan berak…

(2009)




Santi dan Sebuah Keinginan di Hari Kematianmu Itu
: afrizal malna

Ada orang hilang, Santi. Ini sudah bukan orde baru. Kucing-kucing sudah berani berpesta di malam minggu. Orang-orang sudah duduk di taman di bawah lampu-lampu. Lampu-lampu pun tidak kuning lagi, Santi. Tidak menyerukan hati-hati. Tapi ada orang hilang, Santi. Ada orang hilang.

Orang-orang berkiblat ke barat. Orang-orang menonton pertandingan sepakbola. Orang-orang belanja di supermarket. Orang-orang bertaruh di pasar saham. Orang-orang beradu kerbau. Tapi ada orang hilang, Santi. Ada orang hilang di antara orang-orang.

Dengkulku yang menyembunyikan tanah yang berjatuhan. Dengkulku pula yang menyembunyikan korek api dalam tubuhmu. Dengkulku yang sudah aku lempar ke luar jendela. Dengkul, o, dengkul, kembalikan hari kematian aku. Kembalikan mimik mukaku. Kembalikan tanah-tanah yang berjatuhan, korek api, dan jendela kaca rumahku.

Kembalikan, o, kembalikan, orang hilang itu, o, dengkul, o, Santi, o…

(2009)


Biodata Singkat:

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang sedang kuliah di D3 Akuntansi STAN. Duta bahasa Provinsi Sumatera Selatan 2009 ini sudah termuat dalam antologi Kepada Cinta (Gagas Media, 2009) dan Alusi, Kumpulan Puisi (Pustaka Pujangga, 2009). ngah asyik mengurus blognya http://reinvandiritto.blogspot.com

15 October 2009

Tentang Seseorang yang Tiba-Tiba Ingin Jadi Cerpenis


#1


Sudah lima dukun ia datangi tetapi kelima-limanya mengaku pikun setiap ia bertanya bagaimana cara cepat menjadi cerpenis. Tidak, sebenarnya dukun kelima malah tertawa-tawa, mengolok-ngolok sambil memamerkan gigi-giginya yang kuning---tidak pernah digosok. “Oi bujang, ngapo la kau tanyoke hal cak itu. Kau tu la punyo penis. Ngapo masih nak jadi cerpenis? Ia cuma bisa terperangah mendengarkan pertanyaan itu. Ia tidak habis pikir, padahal dukun ini ngakunya lulusan S1 sebuah perguruan tinggi negeri sampai ijazah kelulusannya dibingkai di ruang tamu dengan pigura beremas sepuh. Mungkin biar pelanggannya makin yakin dialah dukun terhebat di negeri ini, satu-satunya dukun bergelar sarjana. Perguruan tinggi negeri pula.

Sakum mulai kehabisan akal. Tinggal seminggu tenggang waktu yang diberikan Maemunah, gadis dari desa tetangga yang dicintainya itu, untuk membuatkannya sebuah cerpen sebagai mahar jika Sakum mau mengawininya. Apalah Maemunah itu, padahal sudah mau diberikan segala yang Sakum punya sebagai pembuktian cintanya. Tapi, Maemunah malah minta dibuatkan cerpen!

#2

Mak Ida yang memang sangat sayang dengan Sakum mulai meratapi nasib anaknya itu. Mak Ida ingat, dulu ia pernah punya pacar seorang cerpenis. Itu dulu sekali, waktu Mak Ida masih perawan. Siapa yang tidak jatuh cinta pada cerpenis? Bang Benny namanya, seorang cerpenis yang tulisannya sudah merambah nusantara. Banyak perempuan sebayanya yang juga tergila-gila pada Bang Benny. Tapi tak disangka-sangka, Bang Benny malah menyatakan cinta pada Mak Ida. Bertahun mereka berpacaran sampai suatu saat Mak Ida menuntut pernikahan. Tidak elok pacaran terlalu lama. Nanti bisa jadi fitnah. Tapi, Bang Benny menggeleng---mengatakan tidak. Ia tidak mau terkurung dalam sebuah ikatan, apalagi pernikahan. Ia takut cintanya pada kata-kata akan luntur setelah menikah. Makanya ia tak mau menikah. Dan setelah itu, Bang Benny menghilang entah ke mana.
Karena itulah, Mak Ida tidak pernah mengajari Sakum menulis cerpen. Jangankan mengajari, setiap ada yang berbau cerpen, Sakum dilarang dekat-dekat. Mak Ida, bahkan, pernah menghujat guru bahasa Indonesia Sakum yang mewajibkan muridnya menulis cerpen sebagai syarat kenaikan kelas. Sakum menurut saja. Ia tidak pernah membantah Mak Ida. Dan tidak pernah tahu, hal-hal yang berbau cerpen akan menyakiti hati Mak Ida.

Tapi sekarang Mak Ida mulai menyesal. Ia tidak mau Sakum, yang sangat ia sayang itu, akan juga merasakan sakit hati, seperti yang ia rasakan dulu.

#3

“Kum, sudah makan kau?”

Sakum tampak malas-malasan menjawab, “Belum, Mak.”

“Makanlah, Nak. Gek kau sakit…”

Mak Ida berusaha membujuk Sakum yang sudah beberapa hari ini sangat malas makan nasi. Kerjaannya hanya mengunci dirinya sendiri di dalam kamar. Atau duduk di teras, memandangi langit sambil sesekali bergumam pelan. Gumam yang sangat getir.

Oh dek Maemunah, apalah yang kurang dari Abang
Akan kuberikan semua surga, bahkan jantungku, untukmu
Tapi apalah daya abang, yang tidak bisa membuat cerpen

Lama-lama Mak Ida juga turut menangis di dalam kamar. Menangisi Sakum. Menangisi Bang Benny yang sudah meninggalkannya pergi.

#4

Sakum tidak pernah bertanya, kenapa Maemunah menghendaki cerpen sebagai mahar pernikahannya? Sakum juga tidak pernah tahu bahwa Maemunah sesungguhnya juga mencintai Sakum. Sakum, anak Mak Ida, seorang pemuda yang tekun bekerja. Meski Sakum sudah ditinggal mati ayahnya sejak balita, itu tidak mengurangi kehormatannya sebagai laki-laki. Sudah sebuah perternakan ayam potong ia kembangkan, omsetnya jutaan. Untuk seseorang muda di sebuah lingkungan yang penduduknya mayoritas petani, Sakum sudah sangat luar biasa. Sakum juga sangat tampan. Badannya pun kekar. Jika dibanding-bandingkan, Sakum tak kalah lah sama artis-artis ibukota semacam Saiful Jamil atau Sutan Jorghi. Apalagi Sakum terkenal pandai berpuisi, pandai menyanyi, pun pandai bela diri. Tak ada yang kurang darinya.

Senang hati Maemunah saat Sakum melamarnya tiba-tiba. Akan tetapi, adalah wasiat ibunya yang menghendaki Maemunah menikah dengan seorang cerpenis.

#5

Tiba-tiba Mak Ida sudah berdiri di depan pintu kamar Sakum. Ia mengetuk pintu dua kali. “Ini Mamak, Nak. Bukakan pintu, ada yang Mamak mau bicarakan.”
Sakum membukakan pintu. Matanya tampak merah, tidak tidur semalaman memikirkan kata-kata untuk cerpennya yang tak mulai-mulai.

“Kum, dengarkan Mamak…”

Mak Ida mulai terisak. Sakum tampak kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa Mamaknya tiba-tiba jadi begini.

“Carilah Bang Benny, secepatnya, waktumu tinggal tujuh hari kan?”

“Bang Benny? Siapa itu, Mak?”

“Cerpenis handal.”

“Cerpenis handal?”

“Iya, cukuplah itu yang kautahu.”

“Aku harus mencarinya ke mana, Mak?”

“Dia selalu berada di arah senja. Setelah sampai di kota, pasti kau akan mendengar namanya. Tak ada yang tak kenal dia.”

“Apa dia mau mengajariku, Mak?”

“Tenang saja. Dia pasti mau. Sebutlah kau anak Mak Ida, dia pasti akan mengajarimu.”
Sakum percaya. Malam itu juga ia berangkat ke arah kota. Ke arah senja yang baru saja terbenam.

#6

Matahari terbit, Sakum baru sampai di kota. Sisa-sisa keletihan tampak di wajahnya. Perjalanan jauh semalam membuat ia lapar. Ia pun berjalan pelan menyusuri pasar kota yang sesak dengan keramaian. Mencari makanan buat perutnya yang sudah keroncongan itu. Sakum pun memilih satu tempat, sambil mencoba mencari informasi tentang bang Benny.

“Mang, tahu tentang bang Benny?” Sakum memulai pembicaraan dengan pria tiga puluhan di depannya. Mang Juhai namanya.

“Bang Benny yang cerpenis handal itu?”

“Iya…”

“Tentu, siapa yang tak tahu dia!”

“Jadi, Mang Juhai tahu dia ada di mana?”

“Tidak. Tapi dia selalu berada di arah senja. Nanti, begitu senja tiba, carilah tempat yang paling dapat melihat senja. Konon, ia akan berada di sana. Aku juga tak begitu mengerti. Tetapi seperti itulah keadaannya.” Jawab Mang Juhai sambil mengipasi dagangannya untuk mengusir lalat-lalat yang mendekat. “Ngomong-ngomong kenapa kau mencarinya? Apa kau juga mau jadi cerpenis?”

Sakum menganggukkan kepala. “Kenapa Mang Juhai bisa tahu?”

“Kau bukan yang pertama, Nak.”

“Bukan yang pertama?”

“Ya, sudah beratus-ratus bujang sepertimu mencarinya. Semua bilang ingin jadi cerpenis. Ada yang bilang kalau jadi cerpenis bisa jadi kaya raya. Ada juga yang bilang semua wanita akan takluk di kaki cerpenis. Aku tak percaya.”

“Mang Juhai tidak percaya?”

“Ya, bagiku usaha halal macam inilah yang patut dipercaya. Buktinya aku sudah punya istri punya anak. Bisalah buat makan sehari-hari. Sedang Bang Benny, yang kau cari-cari itu, belum kawin-kawin juga!”

Sakum sebenarnya juga tidak pernah terpikir untuk menjadi cerpenis kalau Maemunah itu tak meminta cerpen sebagai maharnya. Maklum, Sakum sudah cinta mati sama Maemunah. Sakum jadi ingat, ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Maemunah. Saat itu, Sakum sedang mengantar ayam ke pasar desa sebelah. Tak disangka Maemunah sedang berbelanja berdua dengan temannya. Apatah takdir atau entah, hati Sakum berdegup tak karuan. Beribu salam dan puisi ia kirimkan buat Maemunah. Tetapi ketika hatinya sudah bulat hendak melamar Maemunah, Maemunah malah minta dibuatkan cerpen. Terpaksalah kini ia mencari bang Benny. Satu-satunya harapan. Apalagi waktu tinggal enam hari lagi.

Sakum terus berjalan mencari arah senja. Ia hanya bisa percaya pada kata hatinya. Percaya bahwa cintanya pada Maemunah akan menuntunnya ke bang Benny.

Hari sudah mulai gelap. Arah senja telah membuatnya memilih arah Lubuk Parau, Lubuk Kesunyian, begitu daerah ini terkenal. Tidak ada siapa-siapa di sana selain surai-surai pohon tua yang kelihatan angker. Tapi Sakum tidak takut. Keinginannya tidak surut. Sampai ia melihat sosok berambut putih sedang mendekam di atas batu, melihat senja yang baru akan terbenam.

La i la, demit mendemit, setan sesetan, mati kau mati kau!

“Aku bukan setan. Toh kalau aku setan, serapahmu tadi salah, Kawan. Setan sudah mati.”

Sakum masih ketakutan, “Jadi siapa kau ini?”

“Aku? Bang Benny, yang kau cari-cari,” jawab lelaki itu sambil tersenyum.

Bukannya damai, Sakum malah tambah ketakutan melihat senyumnya yang lebih mirip seringai itu. Sakum masih terpaku di tempatnya. Dan sosok yang mengaku bang Benny itu beranjak dari dekamnya. “Hei kau, kau mau jadi cerpenis kan? Apa yang membuatmu yakin aku akan mengajarimu untuk menjadi cerpenis?”

“Aa…Aku anaknya Mak Ida. Mamakku bilang kau pasti akan mengajariku kalau aku bilang kepada kau, aku anaknya Mak Ida.”

“Mak Ida? Mak Ida dari desa Petani di Ujung Gerong? Kau anaknya?”

“Iya.”

“Hmm, apa Mak Ida juga cerita tentang resiko menjadi cerpenis?”

“Resiko?”

“Sebenarnya tidak bisa disebut resiko, tapi mungkin lebih tepat sebagai peringatan.”

“Peringatan?”

“Ya. Seorang cerpenis tak akan bisa menikah?!”

“Apa?! Tapi aku mau jadi cerpenis untuk bisa menikahi Maemunah.”

“Aku tak peduli,” jawab bang Benny enteng.

“Aku juga tak peduli. Pokoknya kau harus ajari aku!” Sakum ngotot minta diajari jadi cerpenis. Akhirnya bang Benny pun bersedia. “Baiklah, tapi ingat aku sudah memperingatkan kau.”

Sakum pun disuruh duduk bersila di atas batu yang tadi didekami bang Benny. Ia pun disuruh memejamkan mata. Konsentrasi. Dan tidak makan nasi selama empat hari empat malam. Sakum menyanggupi semua syarat itu, demi cintanya pada Maemunah.

#7

Tapa Sakum sudah selesai. Tulang-tulang rahang di pipinya tampak menonjol sebab ia sudah tidak makan nasi selama empat hari empat malam. Tapi bang Benny kadang menyuguhinya dengan kopi dan kue-kue saji yang biasa dipersembahkan penduduk desa kepada yang dianggap penghuni Lubuk Parau. Bang Benny mencurinya diam-diam, dan penduduk percaya bahwa penunggu Lubuk Parau telah menerima sesaji dari mereka itu.

“Bang, apa aku sudah sakti kini? Sudah bisa membuat cerpen?” Tanya Sakum penasaran.

“Nantilah itu, kau tes sendiri. Sekarang masih belum boleh.”
Bang Benny tampak merapikan rambutnya yang sudah memutih itu. Walaupun rambutnya putih, ia masih tampak muda. Sakum tak habis pikir, bagaimana Mak Ida dan bang Benny bisa saling tahu. Mamaknya sudah tua begitu, sementara bang Benny seperti pemuda berumur tigapuluhan, yang lagi matang-matangnya sebagai lelaki.

“Hei, aku belum memberitahumu satu rahasia lagi,” ujar bang Benny.

“Rahasia apa itu, Bang?” Tanya sakum yang makin penasaran.

“Kau tidak bisa tua,” jawab bang Benny serius.

“Maksud abang, aku akan tetap muda? Selamanya?”

Bang Benny menganggukan kepala. Sakum, entah bahagia entah berduka, malah tenggelam di dalam pikirannya sendiri.

#8

Sakum bertambah heran, bang Benny mengikutinya pulang kampung. Mau ketemu Mak Idah sekaligus penasaran dengan Maemunah yang membuatnya jatuh cinta, akunya. Sakum terpaksa percaya. Toh, ia tidak bisa menolak keinginan gurunya itu.

Sampai di desa, waktu yang dijanjikan tepat di hari terakhir. Sakum langsung datang menemui Maemunah, diikuti bang Benny tentunya.

“Wahai Maemunah yang Abang Sakum Cinta, Abang datang dengan membawa gembira. Abang akan membuatkanmu cerpen! Hari ini, di sini juga!” teriak Sakum dengan semangat-semangatnya. Maemunah yang melongok dari jendela tiba-tiba berlari turun dari rumah panggungnya. Sakum sumringah. Pasti Maemunah akan memeluknya.

Tapi perkiraan Sakum meleset. Maemunah malah memeluk bang Benny.

“Ayah? Kau ayahku ‘kan? Kau bang Benny, kekasih dari Mak Subah, ibuku?” Maemunah tampak penuh rindu. Sakum bingung sendiri dengan keadaan ini.

Sementara bang Benny cuma tersenyum. Sebenarnya bang Benny sendiri lupa tentang pernah ia meninggalkan benih di perut Mak Subah, dulu ketika ia masih muda, dan hobi bergonta-ganti wanita. Tapi tak ada wanita yang dinikahinya karena ia merasa mencintai semua wanitanya itu. Kalau ia pilih salah satu, pasti yang lain akan cemburu. Kalau ia nikahi semuanya, ia merasa tak sanggup mengurusnya. Jadi, bang Benny memutuskan pergi. Mencari senja---cinta yang ia anggap sejati.

“Oh, kau guruku, dan kau mertuaku kini. Takdir yang sempurna kan, bang?”

Sakum tambah sumringah. Sementara Maemunah masih memeluk tubuh bang Benny, menuntaskan kerinduannya pada ayah kandungnya yang hanya ia tahu dari wasiat yang ditinggalkan Mak Subah.

Akan tetapi, kondisi itu tidak berlangsung lama. Terdengar tiba-tiba teriakan kemarahan, “Hentikan! Hentikan! Tidak ada pernikahan antara Sakum dengan Maemunah!”

Ternyata Mak Ida. Matanya merah. Marah. Sakum yang tadi sumringah menjadi heran tak karuan. “Mak, Mak, ada apa?”

“Kau tahu, Kum… siapa bang Benny ini?” Mak Ida berapi-api.

“Tahu, Mak. Dia guruku. Dia calon mertuaku…”

“Dia juga ayah kandungmu!” sergah Mak Idah dengan cinta yang sepertinya patah. Sementara Sakum menatap bang Benny tak percaya. Begitupun Maemunah.

“Sudah kuperingatkan, bukan?” senyum bang Benny yang lebih mirip seringai itu.

Sakum membalikkan badannya. Ia tertunduk. Tanpa seorang pun yang tahu, matanya tiba-tiba berubah. Menjadi senja.


(2009)

14 October 2009

Tentang Ramalan di Kelas Geologi Itu

Tentang Ramalan di Sebuah Mata Kuliah Geologi Itu


#1
Tidak ada yang tahu: nasib mengantarnya
Ke sebuah ruang mata kuliah geologi itu

Meneliti batu, meneliti tanah
Sampai membuatnya lupa waktu

Tapi itu dulu, sampai ia menemukan sebuah skala
Yang meramalkan kematian dan penderitaan

#2
Ia tidak pernah percaya ramalan
Seperti anak-anak lain yang kerap membaca zodiak
Di majalah-majalah para remaja

Hei, hei… berapa tanggal lahirmu?


Tiba-tiba ia ingat: ia lupa
Pada tanggal lahirnya sendiri

#3
Dosennya mirip dengan Antonio Banderas
Datang ke ruang kelas membawa sebuah tas
Yang mungkin gitar, atau senjata berkaliber teras
Tapi mungkin juga seismograf
Yang ia ciptakan sendiri---semalam
Sambil membuat ramalan lain
Tentang skala getaran yang akan terjadi

#4
Suatu hari, Sumatera akan terbagi
Gempa dahsyat melebihi yang lalu dan kini
Retak pulau, lahirlah selat


Ia pikir dosennya sedang bercanda
Sebab suatu saat beliau pernah berhasrat
Untuk menjadi seorang pendongeng
Tentang kisah ketimuran, di dunia Barat

#5
Tapi kisahnya di kelas geologi tinggal kenangan
Ia menatap dirinya di ruang kaca
Di antara bola Kristal yang menyala-nyala
Dikelilingi roda gila, ranjang cinta, dan komedi putar
Di sebuah pasar malam yang melupakan
Tentang ramalan di kelas geologi itu

Tentang Perasaannya Sendiri

#1

Ada perasaan yang menyusun sendiri petualangannya

obsesi masa kecilnya kah ia?
bermimpi menjadi sutradara
mencipta film-film baru

tentang perasaannya sendiri?

#2

Akunya: ia suka drama korea
yang isinya airmata semua

dulu sekali, ia pernah jatuh cinta
pada un so, gadis bermata saphire
yang harus mati, karena kanker darah

penasaran ia dengan darahnya
apakah merah juga?

ah, tiba-tiba ia teringat dengan bendera.

#3

baru saja ia membeli film indonesia
ayat-ayat cinta, dan laskar pelangi

sebab malam tadi ia baru bermimpi
tiba-tiba ia jadi habiburrahman el shirazy

tapi setelah shubuh ia berkaca di jendela
kok malah makin mirip andrea hirata?

#4

siang ini, ia duduk di pinggir telepon
menunggu dering yang bunyinya merdu
seperti lagu indonesia raya itu
yang liriknya tak sengaja ia lupakan

tapi dua jam sudah berlalu
teleponnya tak kunjung memerdu

ah presiden sialan, kata kau
aku akan jadi menteri perfilman


#5

tiba-tiba saja sudah maghrib

ia ingat hikayat tua, saat ia masih kecil:

pulang ke rumah, gelar sajadah
jangan keluyuran entah ke mana
ayo ayo giatlah shalat dan berdoa
biar kelak surga tempat kita


tapi ia tak pulang juga
rumahnya sudah tak ada
baru saja tertelan gempa

#6

aih, aih, ia selalu tak bisa
menghitung lebih dari angka lima

sebab sebelah tangannya
sudah jadi korban tabrak lari

tapi kini, ia terpaksa
mengingat angka setelah lima
sebab itulah rukun yang nyata
untuk hati yang masih percaya

13 October 2009

Pelukis, Ksatria, dan Kuda Putih Itu

kanvas:
mata kau
yang awas
dan alismu
yang kuas
mungkin adalah
rajam
atau
tiang gantungan
bagi kepalaku
yang tunggal
hendak kaupenggal

tapi
aku ingat kata kau
yang percaya
sebelum
ada ksatria
membawa pedang
menusuk aku
di jantung

tetapi mungkin pancasona
atau rawarontek
yang membuatmu ingat
hari-hari
sekolahmu
dulu sekali
saat sejumlah lelaki
beradegan
atau berparodi
pura-puranya ksatria
yang memacu kuda putih

tetapi tidakkah kautahu
ada istal di belakang rumahku
yang diam-diam kusiapkan
ketika sepasang sepatu kaca
sudah kaukenakan
di kakimu

12 October 2009

Tentang Setangkai Mawar Yang Tersisa di Vas Ruang Tamu Kau Itu

Aku benci pelajaran bahasa Indonesia, terutama mengarang
dan menulis puisi. Seperti ketika aku disuruh menganalogikan
kesepian yang akut, tentang bagaimana rasanya kehilangan,
patah hati, dan dikhianati orang yang kita cintai

Aku duduk di ruang tamu, memikirkan kata yang purba untuk
mewakilkan semuanya. Bulan dan kulit jeruk mungkin serasi,
kecut dan sunyi, bulat tetapi tak rapi. Tapi kopi pahit malah
membuat dahiku berkernyit, memikirkan kenapa setiap cinta

yang kujalani dengan kesungguhan selalu berujung penolakan?
Dan kulempar gumpalan kertas keseribu kalinya, mencoba
mengingat setangkai mawar hitam yang pernah aku simpan
diam-diam dari sebuah vas di ruang tamu kau itu

ruang tamu yang membuat aku heran, sebab ada foto lelaki yang mirip
guru bahasa Indonesia aku yang menyuruh aku membuat puisi ini.

09 October 2009

Kalaulah putih tak pantas untukmu, lantas kemana Harus kucari kafan ungu di hari kematianmu?

Jejak-jejak pasir dan jam dinding kita adalah laut
Yang tiba-tiba seperti hendak merebut setiap kenangan
Dari seraut wajah yang kau goreskan di atas kanvas itu

Apalah aku, di lubang dua kali satu itu, ketika kau (dan aku)
Tiba-tiba berpikir hendak menjadi ulat, menjadi belatung
Daripada hidup terkatung-katung dan saling meninggalkan

Tapi di sebuah kalender yang kau letakkan di atas tempat tidur
Kau, tertanggal sebuah angka, seperti bentuk jam dinding
Yang sering kau tanyakan padaku: tentang detik ke berapa

Aku hendak mencuri sepasang rindu dari sepasang dada kau.

Sajak-Sajak Afrizal Malna

Kamar yang Terbuat dari Laut

Masa kanak-kanakmu terbuat dari sebuah pulau, Ram, di Tomia, Buton. Setiap malam, di antara suara batukku, demam yang tinggi, aku mendengar nafas laut. Laut yang tak punya listrik. Laut yang menyimpan masa kanak-kanakmu. Sebuah kamar yang dihuni orang-orang Bajau. Mereka, laut, kamar dan orang-orang Bajau itu, bercerita tentang …

Lidahku jatuh dekat ujung sepatuku. Laut memiliki sebuah kamar di atas bukit Kahiyanga. Ikan-ikan dan batu karang juga punya sebuah kamar di situ. Aku harus menggunakan lidahku sendiri untuk membukanya. Dan suara batuk, dan demam. Dan pulau yang bising oleh pengendara-pengendara ojek. Kamarmu itu, tempat bahasa melompat-lompat seperti ada api yang terus membakarnya.

Setiap malam, aku seperti mendengar nafas laut, ikan lumba-lumba yang sedang menidurkan anaknya … wa ina wandiu diu … malam tak pernah memukuli anak-anaknya di dasar laut. Malam tak pernah membuat dirimu terus menangis setelah bangun tidur. Lalu pulaumu itu, Tomia, mengambil batuk dan demamku dengan jari-jarinya yang terbuat dari tulang-tulang ikan, dengan jari-jarinya yang terbuat dari darah ikan. Laut tempat waktu melukis seluruh warna di permukaannya. Laut yang membuat kerudung ibumu seperti lempengan emas di senja hari. Sebuah hempasan waktu yang telah menelan seluruh leherku.

Kamar yang terbuat dari laut itu kemudian bercerita … kau telah menjadi seorang ibu, Ram, untuk masa kanak- kanakmu sendiri.



Ketukan-ketukan Kecil di Atas Dengkulku


Aku mengetuk-ngetuk dengkulku, ada tanah yang berjatuhan. Dengar. Tanah itu seperti sebuah malam minggu yang mati. Seperti sungai yang berjalan di atas jembatan. Dengkul tidak seperti kota yang kau bangun di mulut knalpot. Bukan sebuah kebahagiaan yang berisik seperti kantong plastik, tempat orang membuang malam dengan bercakap-cakap, dan mencari sedikit pelukan dari kesepian yang biasa. Pelukan yang biasa. Keparat. Seperti piring yang pecah dan meninggalkan lubang hitam di dalamnya. Lalu aku bangkit, dengkulku sudah tak ada. Dengkulku telah pergi dari tubuhku. Tubuh tanpa dengkul itu pun aku buang. Aku buang dekat jendela. Aku terkejut. Aku berada di mana kini? Di luar jendela atau di luar jendela. Siapa yang telah dibuang? Aku yang telah membuang tubuhku ke luar jendela, atau jendela itu yang telah membuangku? Bagaimana aku menentukan arah tanpa bersama tubuhku? Lalu kucing berpesta di malam minggu. Membuat negara dari piring-piring pecah. Aku lihat piring pecah di malam minggu. Aku lihat malam minggu pecah di lubang hitam yang mulai berotot itu. Aku dengar dengkulku menyembunyikan semuanya. Tentang tanah yang berjatuhan di atas bantal tidurmu. Tentang korek api dalam tubuhmu.



Guru dan Murid Dilarang Masuk ke Dalam Sekolah yang Terbakar


Sebuah truk mengangkut bayangan, lebih banyak lagi bayangan dari sebuah jalan dari sebuah truk. Bayangan itu seperti mengenalmu dan berusaha mengenalmu, seperti ada tulisan yang tak bisa dihapus pada keningmu yang demam.

Manusia dilarang masuk dilarang berdiri di situ, dilarang memberi rantai di leher anjing dan memasang perangkap tikus. Dan kau mulai mengerti kenapa harus mengucapkan assalamualaikum untuk masuk ke negeri ini. Sebuah truk seperti anakmu masuk sebagai pegawai Bank Dunia, dan seorang tentara keningnya seperti stempel pada punggung sapi yang memasuki ruang jagal.

Aku tak percaya pada tanganku sendiri yang pagi ini telah membakar ratusan sekolah di kotaku sendiri, sekolah untuk anak-anakku sendiri. Aku tak percaya pada tanganku yang telah menyalakan api, aku tak percaya pada api yang telah membakar sekolah itu, aku tak percaya pada sekolah yang terbakar itu, aku tak percaya pada peristiwa yang telah membakar pikiranku, pergi dan tak mau melihatmu lagi yang penuh dengan kawat berduri di wajahmu. Aku tak percaya berita yang datang dari botol-botol kecap di warung soto dekat rumahmu.

Guru dan murid-murid dilarang masuk ke dalam sekolah yang terbakar. Membiarkan lidah sendiri menjadi ular di depan cermin. Aku tak percaya pada negeri di mana kata-kata telah dibakar. Tetapi guru dan murid-murid tetap memasuki sekolah yang terbakar itu sambil membawa segenggam tanah untuk menyelamatkan kapur tulis, dan tetap menulis bayangan sebuah kebebasan, punggung dan kakinya dan lehernya. Dan papan tulis dari punggung api. Dan api ingin melihat wajahmu, ingin melihat air mukamu, ingin melihat tatapan matamu.

Dan api ingin membuat sebuah kampung, seperti kampung yang telah melahirkanmu. Dan api menuliskan kembali semua kalimat-kalimat ini dalam rahim ibumu, sebelum anak-anak pergi ke jalan, melihat bayangan truk melintas pergi dan bekas air mata di telapak tangan.



Aku Baru Saja Mengepel Lantai


Aku baru saja mengepel lantai. Aku berjalan dengan ujung jari-jari kakiku, agar lantai yang baru dipel tidak kotor lagi oleh telapak kakiku. Di dalam kamar, aku lihat tubuhmu telah menjadi genangan air yang dasarnya tak bisa kulihat lagi. Bagaimana aku bisa memelukmu kalau tubuhmu telah menjadi air? Bagaimana aku bisa menciummu kalau keningmu telah menjadi air? Aku pikir aku harus menjadi ikan agar bisa berenang di dalamnya. Tapi aku bukan ikan. Ikan juga berpikir dirinya bukan diriku. Ikan tidak bisa mengepel lantai dan berjalan dengan ujung jari-jari kakinya. Aku juga berpikir aku tidak bisa dipancing seperti ikan lalu dijual di pasar lalu digoreng. Ikan juga berpikir tidak terbayang ada yang mengepel dan suara tangisan di dasar laut. Aku juga berpikir tidak mungkin ada kehidupan ikan di dalam pikiranku.

Aku bukan laut. Aku yakin aku bukan laut. Ikan juga tak akan pernah percaya bahwa akhir hidupnya ada dalam tubuhku. Tetapi aku tetap memelukmu. Lalu aku memelukmu. Dan aku memelukmu pagi itu. Lalu aku tenggelam. Dan aku tenggelam. Hati-hati, biarkan aku tenggelam. Biarkan aku menjadi air untuk memanggilmu.



Korek Api di Atas Bayanganmu

Ada masa kanak-kanak yang masih mengenalmu, datang di suatu sore, dan menuliskan sesuatu di atas bayang-bayangmu. Sebuah korek api bekas membersihkan gigi. Masa kanak-kanak itu menulismu, rasanya perih. Seperti belahan pada telur asin. Sore itu, aku masih memeluk lehermu: Sebuah kota di masa liburan sekolah. Anak-anak belajar memelihara orang tua, memandikannya, memberinya makan, dan menguburkannya bila mati aku menulisnya. Anak-anak belajar membeli beras dan minyak goreng, dan menjadi orang tua dengan bayangan yang terbuat dari korek api. Anak-anak melahirkan, aku menulisnya sore itu ketika ombak datang membasahi lehermu. Anak-anak dari bayangan korek api. Anak-anak sekolah, sekolah dari bayangan korek api. Anak-anak mencari kerja, lapangan pekerjaan dari bayangan korek api. Lehermu kemudian mengeras, seperti masa liburan sekolah yang telah berakhir. Seperti kemarahan korek api terhadap kotamu. Seperti perjalanan korek api kembali ke hutan, kembali ke batang-batang pinus, tempat api melahirkan ibumu. Tempat api melahirkan sebuah sore. Dan aku menulis bayanganmu dengan tangan-tangan api.



Sebutir Telur di Belakang Punggungku


Kau telah menjadi air ketika melihat semua kejadian yang berlangsung di belakang punggungmu. Kita menginap di sebuah hotel murah, dekat bandara. Hari ini kau berulang tahun. Aku bergegas membersihkan kamar. Kau sibuk membeli coklat, roti, jeruk dan minuman kaleng. Kau bilang kau sedang ngobrol dengan ayahmu tentang seorang perempuan yang matanya terbuat dari sebuah pantai. Tapi ayahmu bilang kau sedang tak di rumah.

Di kotamu aku seperti bisa melihat mataku sendiri dengan mataku. Hati-hati berjalan di situ. Ada kepiting yang sedang menggali lubang di dalam pasir. Pantai itu, seperti sepasang kelopak mata yang tak pernah terpejam. Karena orang terus berdatangan, karena pesta belum berakhir. Kepiting dalam lubang itu terus menggali, dan menemukan laut yang lain di punggungku. Menurutku bukan laut, itu sebutir telur. Sebutir telur tempat ibuku dikuburkan. Tapi kukira itu juga bukan sebutir telur, itu buah semangka yang tumbuh di lapangan bola. Aku tak pernah tahu, siapa saja yang telah membakar diriku dalam pesta itu.

Lalu aku buat sebuah bantal, sebuah bantal dari waktu-waktu yang berjatuhan untuk tidurmu. Pesta belum berakhir, hingga punggungku berwarna putih. Putih seperti musim dingin.



Bau Air Mata di Bantal Tidurmu

Pagi-pagi sekali hutan telah bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya seperti jubah matahari. Disel telah mati. TV telah mati. Ada musang mengambil kepala ayam. Anak-anak babi berebut tetek ibunya. Aku menari, tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur. Pagi-pagi sekali. Pagi-pagi sekali batang-batang pohon berjatuhan dari perutku. Gelondongan-gelondongan kayu, pagi-pagi sekali, gelondongan-gelondongan kayu mengapung di sungai Mahakam, diseret oleh ribuan kapal yang seperti menyeret tubuh ibumu pagi-pagi sekali. Ibu yang dilahirkan dari rahim Dayak Bahau. Namaku Lung Ding Lung Intan. Aku juga dipanggil Daleq Devung dan Joan Ping. Bapak dan hinangku adalah sepasang burung elang yang terbuat dari karung plastik. Malam ini aku sedang berhudoq, menari hingga perahu-perahu melaju di permukaan pagi. Pagi yang membuat pusaran- pusaran air di Tering Seberang.

Tarian yang mengajariku tentang sebuah goa di Matalibaq, tempat hutan membuat keluarga. Matahari terbuat dari butiran-butiran jagung, kata mereka. Dan malam baru datang, kalau batang-batang kayu besi telah mengucapkan mantra-mantranya. Burung-burung bangaulah yang telah membuat bulan, kata mereka, ketika permukaan sungai masih bisa membaca kesedihan-kesedihanmu. Lalu ibuku menari kenyah. Burung-burung berhinggapan di jari-jari tangannya.

Pagi-pagi sekali, ribuan bangkai hutan diseret di atas sungai Mahakam. Kau setubuhi juga anak-anak gadis kami dengan penismu yang terbuat dari gergaji. Kau curi hati anak-anak muda kami lewat perahu bermotor. Lalu bayangan hutan jatuh di atas permukaan sungai, seperti jatuhnya sebuah mahkota. Sejak itu ibuku tak pernah menari lagi.

Pagi-pagi sekali aku ambil kembali sungai Mahakam, seperti mengambil selimut tidur ibuku dan aku kembalikan ke dalam goa itu. Sejak itu, kau tak akan pernah lagi menemukan hutan di mana pun, kau tak akan melihat lagi sungai di mana pun. Tetapi burung-burung terus bernyanyi tentang hutan dan sungai agar ibuku kembali menari. Tarian yang membuat seluruh isi rumahmu bergerak seperti kaki-kaki hutan. Daun yang tiba-tiba tumbuh di seluruh dinding rumahmu. Bau air mata yang masih tercium dari bantal tidurmu.

Sajak-Sajak Sapardi Djoko

RUANG INI



kau seolah mengerti: tak ada lubang angin

di ruang terkunci ini



seberkas bunga plastik di atas meja,

asbak yang penuh, dan sebuah buku yang terbuka

pada halaman pertama


kaucari catatan kaki itu, sia-sia



CATATAN MASA KECIL, 4



Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua

hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar

dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol.

Dan setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat

Kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam

Ketika ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di

Halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya

Dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat

Sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.



AUBADE





percik-percik cahaya. Lalu kembali hijau namamu,

daun yang menjelma kupu-kupu, ketika anak-anak bernyanyi—

melintas di depan jendela itu

lalu kembali cahaya sebutanmu, hatiku pag ini



DI DEPAN PINTU





di depan pintu: bayang-bayang bulan

terdiam di rumput. Cahaya yang tiba-tiba pasang

mengajak pergi

menghitung jarak dengan sunyi



AKU TENGAH MENANTIMU






aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas

di pucuk kemarau yang mulai gundul itu

berapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu

yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas



awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu

musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku

kudengar berulang suara gelombang udara memecah

nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah



telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak sepi

ditengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti

barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana

dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama




KELERENG





Kalah main, kelerengku tinggal lima butir. Aku anak

laki-laki tidak boleh manangis, kata Ibu. Kupungut

kelereng itu satu demi satu, kumasukkan ke saku. Di

jalan pulang, selalu kuraba-raba sebab khawatir kalau-kalau

ada yang terjatuh dri lubang kantung celanaku.

Ketika mau belajar, selesai makan malam, kudapati

kelerengku berkurang satu. Kutaruh semua yang sisa di

atas meja, tak ada lagi yang bulat sempurnya sebab

seharian berbenturan dengan sesama, tetapi di mana

gerangan kelerengku yang belimbing, yang warnanya

biru? Aku anak laki-laki, tidak berhak menangis, kata

Ibu.

Aku boleh saja tak peduli, tetapi kelerengku yang lain

— yang bintik-bintik, yang belimbing coklat, yang susu,

dan yang loreng merah hijau — akan selalu bertanya

padaku di mana gerangan temannya yang satu itu. Itu

sebabnya aku harus mencarinya, tetapi ke mana aku tak

tahu.

08 October 2009

Pringadi Abdi Surya, Duta Bahasa Sumatera Selatan 2009

Aku Ingin Mencurahkan Beberapa Hal Saja

1

aku akan muncul di koran, seakan
bintang masa depan yang dielu-elukan

padahal aku ingin memegang senjata,
mengusir penjajah, menurunkan kuasa
pemerintah yang sudah tak benar usahanya
seperti mahasiswa yang barapi-api
diculik, ditembak mati, dan hilang nama

sehingga aku tetap akan muncul di koran
sebagai salah satu korban tragedi '98

2

tapi selempang itu disarungkan menyilang ke kiri
padahal selangkah ke kiri lagi, aku akan jadi
lupa diri. lupa jati. lupa pada susi. pada santi.
yang namanya lebih dikenang dari aku.

3

aku tak paham tentang sungai musi
selain betapa kuning cokelatnya
seperti batang-batang emas yang dicuri
dari timika. dari papua dengan
kerugian yang tak terhingga

4

aku jadi duta bahasa katanya
mewakili provinsi, mewakili harga diri

tetapi aku cuma punya puisi
cuma punya hati yang seakan-akan
ingin dielu-elukan

dengan nama yang ditulis koran-koran
sebagai salah seorang pionir perjuangan

(2009)

02 October 2009

Semacam Puisi atau Curahan hati

Aku Akan Menjelaskan Beberapa Hal Saja
: dd

1
Kau pasti akan bertanya: kenapa ada rasa sayang
Sementara kita belum pernah menukar pandang,
belum pernah duduk berdua, menonton film-film
bioskop yang kata kau kadang terlalu bising, terlalu
asing bagi telinga kau yang penuh melodi kenang itu
tentang lagu-lagu lain yang terdaftar di playlist kau

mata kau, menjelaskan itu, kepada aku yang tak pernah
bermain dadu, menebak angka yang cuma itu-itu: dua, tiga,
enam, satu. ah, tiba-tiba saja aku menawarkan kata aku:
“boleh aku membuatkan puisi untukmu?” tawar aku di
suatu saat, ketika aku menyadari ada kata-kata di dalam
tubuh kau, di mata kau yang menanti aku menuliskannya.

lalu di suatu hari yang lain, hari yang aku ingat, betapa debar
telah begitu hangat untuk mendengar suara kau, tangis kau,
dan keluh kau dalam telepon-telepon aku. aku sudah jatuh
cinta kepada kau. dan ingin mencintai kau dengan diam aku

tapi, kau mawar, bukan? mawar dengan kelopak yang membuat
dawai harpa orpheus itu putus. mawar dengan sejuta pengagum.
mawar dengan duri-duri setajam pisau di dapur aku. mawar yang
aku nanti untuk menjadi kekasih aku, kekasih aku, kekasih aku
teratai di sebuah kolam asing.

tapi kau malah memberiku setangkai mawar lain berwarna kuning
keemasan sebagai tanda persahabatan.

2
aku percaya takdir. aku percaya bahwa cinta akan hadir
tanpa kehendak aku. tanpa aku sadar betapa kau telah
menjadi nama yang paling sering aku sebut di bibir aku
hingga basah, untuk sekadar menyebut nama kau.

3
Kau pernah mencicipi es krim termanis di hidupmu?
Sambil jalan-jalan di taman hiburan, naik kora-kora
Hingga halilintar yang membuat dada ini gemetar?

aku belum.

aku mungkin ingin jadi sutradara, pembuat skenario,
pengisi suara, hingga aktornya. dari film-film aku yang
mengisahkan sepasang sejoli, seperti romeo dan Juliet
layla dan majnun, siti nurbaya dan samsul bahri
tetapi dengan akhir cerita yang membahagiakan.

dan kau, menjadi pasangan aku.


4
tentang kau itu, adalah benar-benar tanggal yang bisa
menemukan tanggal aku. jadi aku memutuskan menunggu
seperti kata aku di suatu malam

jika laki-laki itu tinggal aku, maka bersediakah kau

menjadi aku?

30 September 2009

Sonnet Yang Bersembunyi di Balik Punggungmu

---Kepada Kau

Empat belas baris lagi yang kucari mungkin sedang bersembunyi
Di balik punggungmu yang selalu saja membelakangiku.
Aku bertanya-tanya, kepada seorang pengendara ojeg yang kerap
Menjadi langgananmu setiap sore ke murid-murid les privatmu.

Tapi beliau itu malah bercerita tentang rumahnya yang baru saja kena gusur
Oleh pemerintah dengan alasan untuk lahan hijau, padahal kabarnya untuk
Sorum internasional yang uang ganti ruginya bahkan tak cukup buat bayar
Tunggakan kredit motornya yang belum lunas itu.

Aku beralih kepada ibu-ibu penjual jamu kunyit asem yang kau beli
Setiap pagi, agar makin mulus kulit wajahmu seperti mulusnya
Proyek-proyek para pemilik modal setelah memberi gratifikasi kepada
Pada anggota dewan yang terhormat itu.

Ah, belum juga kutemu jawabnya. Bagaimana kalau nanti malam aku datang saja
Ke dalam mimpimu, berpura-pura jadi murid les privatmu?

(2009)

28 September 2009

Cerpen Gregorio Lopez y' Fuentes: Surat Untuk Tuhan


Diindonesiakan oleh Saut Situmorang
dari READER’S DIGEST GREAT SHORT STORIES OF THE WORLD



Rumah itu – satu-satunya di lembah itu – terletak di puncak sebuah bukit yang rendah. Dari situ nampak sungai dan, setelah tempat kandang binatang, nampak ladang jagung yang sudah matang diselang-selingi bunga-bunga kacang yang menjanjikan musim panen yang baik.

Hanya satu saja yang dibutuhkan ladang itu saat itu: turunnya hujan, atau paling tidak gerimis. Sepanjang pagi Lencho, yang akrab dengan setiap lekuk ladangnya itu, tak henti mengamati langit bagian timur laut.

“Hujan pasti akan segera turun sebentar lagi.”

Istrinya yang sedang menyiapkan makan malam menjawab:

“Ya, mudah-mudahan.”

Anak-anak laki-lakinya sedang kerja di ladang sementara yang masih kecil-kecil bermain-main di dekat rumah waktu perempuan itu memanggil mereka:

“Makan malam sudah siap...”

Waktu mereka sedang makan malam hujan lebat pun turun, tepat seperti yang diramalkan Lencho. Di langit sebelah timur laut nampak awan-awan sebesar gunung berarakan mendekat. Udara sejuk dan segar.

Lencho beranjak ke luar rumah menuju kandang binatang hanya untuk merasakan nikmat air hujan di tubuhnya, dan waktu kembali ke dalam rumah dia berseru:

“Bukan air hujan yang sedang turun dari langit ini tapi uang! Gumpalan-gumpalan air yang besar adalah uang limapuluh ribuan, dan yang kecil-kecil sepuluh ribuan...”

Dengan wajah puas dipandanginya ladang jagungnya yang penuh bunga kacang diselimuti tirai hujan.

Tapi tiba-tiba angin kencang berhembus dan bersama hujan mulai turun pula batu-batu es yang besar-besar. Batu-batu es itu kelihatan seperti uang perak benaran. Anak-anak laki-lakinya menghambur ke luar rumah dan mengutipi mutiara-mutiara beku itu.

“Hujan ini sudah mulai merusak sekarang!” teriak Lencho, cemas. “Semoga segera berhenti.”

Hujan tidak segera berhenti. Selama satu jam hujan batu es itu turun menghajar rumah, kebun, bukit, ladang jagung, seluruh daerah lembah. Ladang jadi putih seperti ditutupi garam. Tak satu pun daun tertinggal di ranting pohonan. Jagung semuanya rusak. Bunga-bunga tanaman kacang musnah. Lencho betul-betul sedih. Setelah badai itu berlalu, dia berdiri di tengah-tengah ladangnya dan berkata pada anak-anaknya:

“Wabah belalang pun masih menyisakan lebih daripada ini... Hujan es telah merusak semuanya. Tahun ini kita bakal tak punya jagung atau kacang...”

Malam itu adalah malam yang sangat menyedihkan.

“Semua kerja kita sia-sia.”

“Tak ada yang bisa menolong kita.”

“Kita akan kelaparan tahun ini...”

Tapi dalam hati mereka yang tinggal di rumah terpencil di tengah lembah itu ada satu harapan yang tinggal: pertolongan dari tuhan.

“Jangan terlalu bersedih walau semuanya ini seperti sebuah kehilangan total. Ingat, tak ada yang mati kelaparan!”

“Begitulah kata mereka: tak ada yang mati kelaparan.”

Sepanjang malam Lencho hanya berpikir tentang satu-satunya harapannya itu: pertolongan tuhan, yang menurut apa yang diajarkan padanya melihat segalanya termasuk apa yang ada dalam hati nurani manusia.

Lencho adalah seorang pekerja keras, dan dia juga tidak buta huruf. Hari Jumat berikutnya setelah matahari terbit dan setelah berhasil meyakinkan dirinya akan keberadaan suatu zat yang akan memberikan pertolongan, Lencho pun mulai menulis sepucuk surat yang akan dibawanya sendiri ke kota untuk diposkan.

Surat itu tidak tanggung-tanggung ditujukannya kepada TUHAN.

“Tuhan,” tulis Lencho, “kalau Kau tidak menolong aku, keluargaku dan aku akan kelaparan tahun ini. Aku perlu satu juta rupiah untuk menanami ladangku kembali dan untuk biaya hidup sampai panen tiba, karena badai hujan es....”

Dia menulis “KEPADA TUHAN” di amplop, memasukkan surat itu ke dalamnya dan, masih merasa sedih, berangkat ke kota. Di kantor pos ditempelkannya perangko dan dimasukkannya surat itu ke kotak surat.

Salah seorang pegawai kantor pos menemui atasannya sambil ketawa geli dan menunjukkan surat untuk tuhan itu. Belum pernah dalam sejarah karirnya sebagai tukang pos dia mengalami hal seaneh ini. Kepala kantor pos yang gemuk dan ramah itu juga terpingkal-pingkal dibuatnya tapi tiba-tiba dia jadi serius dan sambil meletakkan surat itu di atas meja, dia berkata:

“Betapa kuat imannya! Seandainya saja aku punya iman seperti orang yang menulis surat ini. Seandainya saja aku punya keyakinan sebesar keyakinannya ini. MENULIS SURAT KEPADA TUHAN!!!”

Untuk tidak mengecewakan iman luar biasa yang ditunjukkan sepucuk surat yang tak mungkin dikirimkan itu, kepala kantor pos itu mendapat satu ide: balas surat itu. Tapi waktu amplop surat dibukanya, ternyata untuk membalasnya, maksud baik, tinta dan kertas belaka tidaklah cukup. Tapi dia tetap pada pendiriannya. Dia lalu minta sumbangan uang dari para pegawainya dan dia sendiri menyumbangkan setengah dari gajinya, sementara beberapa kawannya dengan sukarela juga menambah “sumbangan kemanusiaan” itu.

Tapi tak mungkin untuk mengumpulkan uang sebanyak satu juta rupiah, maka dia mengirimkan hanya sedikit lebih daripada setengah yang dibutuhkan petani itu. Dimasukkannya uang itu ke dalam amplop yang dialamatkan kepada Lencho dengan disertai secarik kertas yang hanya bertuliskan satu kata sebagai tanda tangan si pengirimnya: TUHAN.

Hari Jumat berikutnya Lencho datang lebih cepat dari biasanya ke kantor pos dan bertanya kalau ada surat untuknya. Tukang pos itu sendiri yang menyerahkan surat itu padanya sementara kepala kantor pos yang merasa bahagia telah melakukan sebuah perbuatan mulia mengintip dari pintu kantornya.

Lencho sama sekali tidak menunjukkan rasa heran waktu melihat uang dalam amplop itu – begitulah besarnya imannya – tapi dia malah jadi marah setelah menghitung jumlah uang tersebut... Tuhan pasti tidak membuat kesalahan, atau menolak apa yang dimintanya!

Cepat-cepat Lencho mendatangi loket dan minta kertas dan tinta. Di meja yang khusus disediakan untuk umum di kantor pos itu dia pun segera mulai menulis, sambil mengerutkan keningnya karena berusaha keras untuk mengutarakan isi pikirannya. Setelah selesai, dia pergi membeli perangko di loket yang lalu dijilat dan dilekatkannya ke amplop dengan pukulan tinjunya.

Begitu surat itu masuk ke dalam kotak surat, kepala kantor pos segera mengambil dan membukanya. Beginilah isinya:

“Tuhan, dari jumlah uang yang aku minta itu, hanya tujuhratus ribu saja yang sampai ke tanganku. Kirimkanlah sisanya karena aku betul-betul membutuhkannya. Tapi jangan kirim uang itu lewat pos karena para pegawai kantor pos bajingan semuanya. Lencho.”

Sonnet Lain Dari Gugur Daun Di Kedua Telapak Tanganku

Apa yang hendak kau genang di kedua belah telapak tangan
Selain semacam airmata kenangan dari cinta yang tak biasa?
Cicak, buaya, kau memilih berada di pihak mana? Aku memilih
Jadi kunang-kunang saja yang pura-puranya lampu
Memberi harapan pada kerlap-kerlip aku.
Tapi kau memilih jadi kupu-kupu, pilihan lain yang bersembunyi
Di balik gugur daun bulan Juni, sehingga aku benar-benar harus
Mencari mana kau mana daun ketapang di ranting itu yang dulu
Pernah kita tandatangani, seolah-olah baru saja proklamasi kebebasan
mencintai antara kau yang kupu-kupu dan aku yang kunang-kunang.
Jadi, apa yang kau tangkupkan di kedua belah telapak tangan kau itu
Seolah segalanya harus tampak malu-malu dan rahasia
Padahal, tidakkah kau tahu, seluruh dunia tengah memperhatikan kau,
aku, dan tingkah kita yang makin jauh dari kunang-kunang dan kupu-kupu.

23 September 2009

Semacam Sonnet Tentang Bunga Yang Tak Ingin Kubiarkan Berkembang

: kau

aku takut membiarkanmu berkembang. dari sekumpulan putik
menjadi puisi dengan larik-larik yang menuntut jawaban-jawaban
dari sekian pertanyaan yang tak ingin kucatat di berlembar surat
entah itu cuma kata 'mungkin' yang kerap melahirkan derap kaki

kuda yang terpacu oleh pengendara, tanpa pelana. tapi sepertinya
aku telah patah, sebelum engkau menjadi bunga. sebelum menjadi
teratai yang tertawa-tawa pada cassanova, tatkala ia bertanya
pada dewi air, "wahai siapa yang paling indah di muka bumi ini?"

tapi aku tak bertanya demikian. aku tak bertanya tentang mengapa
aku (mungkin) bisa jatuh cinta. aku diam. dengan seribu bahasa
yang kudekam di dalam riam-riam hatiku yang karam.

tetapi kau mungkin saja tersenyum. jika tak tahu betapa ada hati
yang patah sebelum kau berkembang menjadi bunga. menjadi
jejak bulan baru yang mati sebelum purnama.

Tentang Jam di Tangan dan di Dinding Kamar-Kamar Aku itu

: dd

sebenarnya aku ingin menawari kau jam baru. jam dengan tahta seribu teratai yang mengambang di antara mimpi-mimpi kau dan aku. jam dengan sejuta taman bermain dari masa kanak-kanak yang tidak ingin kau (dan aku) lupakan. jam yang akan terus setia melingkari keduabelas angka itu. angka-angka yang kerap kau perhati ketika aku telah mengingkari pertemuan yang telah aku (dan kau) janjikan.

tapi kesekian kali pertemuan, tak kau saksikan jam di tangan. tak kau saksikan pula di dinding kamar-kamar aku itu.

kata kau, apa aku tak punya jam?
apa aku mau kau belikan jam?

sudah aku buang semua jam aku. jam yang tidak aku percayai. jam yang membuat aku ingat ada enam jam kau yang sudah kau berikan ke lelaki yang bukan aku. jam yang semakin lama semakin cepat seperti mau berkhianat kepada aku. jam yang setiap hari menuntut aku untuk mengingat kau.

sementara aku tidak tahu, sudah berapa jam kau mengingat aku?

(2009)

21 September 2009

Seolah Sajak Berjudul Panjang

KETIKA KUPIKIR KAU AKAN MUNCUL DALAM MIMPI AKU, KAU BENAR-BENAR MUNCUL DALAM MIMPI AKU DENGAN BAJU PENGANTIN YANG LELAKI KAU BUKAN AKU. YANG HATI KAU BUKAN AKU. SAMBIL BERDADAH-DADAH KEPADA AKU SEBELUM KAU MELEMPAR KARANGAN BUNGA KAU ITU YANG JATUH TEPAT DI PELUKAN AKU

: desi diarnitha

tapi tak ada mawar di karangan bunga itu. sebab mawar aku adalah kau yang membuat aku terluka dengan hanya memandang kau. memunggungi kau yang semakin lama semakin menjauh.

kata kau dulu, di hari kematian sebuah lagu kanak-kanak berjudul satu-satu yang liriknya sudah kau ganti itu, kau akan mencintai lelaki yang mencintai pasir. mencintai desir dari setiap airmata kau. tapi kemudian kau bilang sudah mencintai lelaki yang bukan aku. lelaki yang memiliki enam jam dalam satu hari kau.

tapi aku tak punya jam. di tangan dan di dinding kamar-kamar aku. aku cuma punya hati. cuma punya puisi. dan setangkai mawar yang persis kau.

Enigma

Engkau selalu seolah paham: aku adalah makhluk paling kelam. Kulitku yang hitam legam setidaknya telah menjadi salah satu parametermu dalam menilaiku. Matamu bahkan akan selalu terpicing saat aku dengan pakaianku yang sudah compang-camping ini melewati rumahmu. Padahal aku tak pernah menganggumu. Tak pernah mengusikmu. Tapi selalu saja engkau mengusirku pergi, melemparku dengan kerikil-kerikil dari halaman rumahmu. Sebab katamu, aku adalah makhluk paling kelam. Hanya akan merusak pandangan matamu.

Tapi, tetap saja aku melewati rumahmu setiap hari. Sebab rumahmu adalah salah satu jalan hidupku. Sebab di depan rumahmu ini, aku menemukan banyak hal yang berguna untuk mengisi perutku dan adik-adikku. Sesuatu yang engkau sebut sampah tak berguna, telah menjadi sumber kehidupanku.

Seperti hari ini, aku kembali melewati rumahmu. Kuperhatikan dulu sejenak, barangkali engkau sedang duduk di teras menungguku. Menunggu untuk melempariku lagi dengan kerikil-kerikil itu. Tapi tampaknya engkau sedang tidak ada. Maka aku dengan santai memunguti setiap sampah yang masih kuanggap berguna. Tapi belum beberapa lama, aku sudah mendengar teriakanmu yang sudah tidak asing lagi di telinga. Engkau baru saja pulang sekolah. Seragam putih abu-abu itu buktinya. Sementara aku tidak lagi melanjutkan sekolah. Terhenti di sekolah dasar tahun kedua.

“Itu Si Kelam,” katamu sambil menunjukku. Di belakangmu, tidak kurang dari tiga orang memakai pakaian serupa seragammu.

“Loe barusan ngambil apa di sini?” Bentakmu padaku. Dan aku diam saja. Bukan tak ingin. Tapi tak bisa.

“Loe maling ya?”

Aku menggeleng.

“Udah, ngaku aja!”

Aku masih terus menggeleng, dengan suara sengau tanpa satu pun kata yang terucap dari bibirku. Sementara engkau dan teman-teman sejenismu mulai menarik paksa karung yang masih kupegang erat dengan tangan kiriku. Menggeledah isinya satu per satu.
Aku berontak. Lantas engkau meninjuku tepat di ulu hati. Membuatku meringkuk, sulit bernafas. Engkau bukannya puas malah menginjak tubuhku sambil meludahiku. Aku marah. Aku gerah. Dengan segenap tenaga yang kupunya, aku balik menyerangmu. Mengarahkan benda yang ada di tangan kananku ke arah tubuhmu. Besi (ternyata besi) untukku memulung itu berujung runcing. Menembus perutmu. Darah. Warnanya merah.
Engkau teriak kesakitan memegangi lukamu. Teman-teman sejenismu mulai mengerubunimu, salah satunya berteriak ke dalam rumah, meminta pertolongan. Tak sampai satu menit kukira, sudah belasan orang mengerubuni kita. Salah satunya mendekatiku. Lalu membekukku. Dan engkau, kuperhatikan, digotong ke dalam kendaraan. Lalu hilang.

***

Di ruangan ini, aku tak lebih seorang perindu yang cemas. Pertanyaan orang-orang berseragam tadi tak kujawab. Bukan tak ingin. Tapi tak bisa. Alhasil, mereka yang kebingungan malah memasukkanku ke ruangan ini: sebuah ruang dengan jeruji-jeruji tua, dan gelap.

Aku cemas. Bukan mencemaskan diriku. Tapi mencemaskan kedua adikku yang pasti sedang menungguku hari ini. Aku mulai menangis. Membayangkan bagaimana kedua adikku itu bisa makan hari ini. Sebab kami sudah tak memiliki orangtua. Aku yang menjadi tulang punggung bagi mereka. Tapi, dulu kami punya ibu. Saat usiaku dua belas tahun, ibu menghilang. Tak kembali. Tanpa pernah kutahu apa sebabnya. Saat itulah aku tiba-tiba kehilangan suaraku. Tak lagi bisa bicara.

Sebilah tangan menepuk pundakku, “Dik, kamu lapar?”

Aku baru menyadari keberadaannya. Seorang laki-laki dengan janggut yang lebat ternyata juga berada di ruangan ini. Kutaksir usianya sekitar empat puluhan akhir. Kutebak dari rambutnya yang sudah banyak beruban.

Aku diam. Tak menjawab. Dan laki-laki itu tersenyum sambil menyodorkan sebungkus roti kepadaku.

“Makanlah,” katanya lagi.

Aku pun makan pelan-pelan, sambil memperhatikan sekelilingku. Ruangan ini gelap, Remang-remang. Tapi ada yang berbeda. Tidak seperti citra penjara yang umumnya sering kudengar. Tak ada bau pesing. Tak ada sampah atau kotoran yang berserakan. Semua tertata rapi. Bahkan di ujung sebelah kanan, ada sebuah sajadah. Dan laki-laki itu, sedang memegang sebuah buku. Ah, tidak. Ia memegang Al-Quran. Dan mengaji. Aku tahu karena dulu aku pernah belajar mengaji. Tapi kini sudah tidak lagi. Aku sudah berhenti mengaji saat ditinggal ibuku pergi. Sebab tidak ada gunanya mengaji. Aku tak bisa hidup dengan mengaji. Tak kenyang dengan mengaji. Jadi, lebih baik aku tak mengaji lagi. Lebih memilih untuk bekerja mencari sesuap nasi.

“Dik, kenapa kau di sini?” Tanyanya membuyarkan lamunanku. Ia sudah selesai mengaji.

Aku mengarahkan tanganku ke mulutku, lalu kugoyangkan ke kanan dan ke kiri.

“Kau tak bisa bicara?”

Aku menganggukkan kepalaku. Lalu kuarahkan tangan ke dada, lalu ke telingaku sambil mengacungkan jempolku. Dan ia tersenyum. Mengerti bahwa aku bisa mendengar dengan baik.

Aku masih menatapnya. Ingin bertanya, kenapa dia sampai berada di sini.

“Apa kau bingung, kenapa aku bisa berada di sini?” Tanyanya paham.

Aku menganggukkan kepalaku lagi.

“Aku membunuh.”

Dan ia mulai bercerita. Dulu, ia adalah seorang tukang kebun di rumah seorang pengusaha. Suatu malam katanya, ia menyambangi rumah itu, hendak mencuri. Sebab ia tahu, saat itu, hanya anak majikannya yang berada di rumah. Tapi sayangnya, ia kepergok. Karena panik, tanpa sadar ia pukulkan linggis ke kepala anak itu. Terkapar. Dan tak bernyawa.

Setelah beberapa hari penyelidikan, ia tak bisa mengelak dari tuduhan. Melakukan pengakuan. Hingga ditahan selama dua puluh tahun.

Aku melihat ia menangis. Airmata penyesalan.

“Aku menelantarkan anak dan istriku.”

Dan aku kembali terenyuh, mengingat kedua adikku.

***

“Semoga Allah menerima taubatku, Dik.”

Aku hanya diam. Bukan tak bisa. Tapi tak mengerti.

Aku menggerakkan anggota tubuhku, memberi bahasa isyarat, “Kenapa kau masih percaya Tuhan?”

Ia hanya tersenyum. Aku tambah tak mengerti.

“Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar,” sementara aku dibiarkannya berpikir sejenak, “dulu aku tidak pernah shalat,” lanjutnya lagi.

Aku masih diam.

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, Dik. Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa diatasi oleh kita. Seperti sekarang. Aku, di sisi lain, merasa bersyukur dengan dipenjaranya diriku ini. Di sini, aku mengenal Tuhan, Allah. Di sini, aku belajar shalat. Dan dengan shalat lah aku mendapatkan ketenangan hati…”

Ia diam sejenak. “Ini sebuah skenario, Dik. Skenario yang terbaik buat kita. Percaya lah.”

Aku diam. Merenung. Kalau begitu, skenario macam apa yang disiapkan untukku. Membiarkan adik-adikku mati kelaparan? Membiarkan aku yang tak bersalah ini dihukum bertahun-tahun di dalam kurungan?

“Kau hanya harus bisa berpikir positif, Dik. Mengambil hikmah.”

Ia beranjak, meminta izin kepada sipir penjara. Lalu kembali dengan muka basah, berseri-seri. Menunaikan shalat. Entah shalat apa.

***

Hari ke tiga. Masih pukul tiga pagi. Aku terbangun ingin ke kamar mandi. Sipir pasti masih pulas. Aku buang saja di botol yang sudah disiapkan untuk keadaan seperti ini.

Samar terdengar suara, Allah… Allah… Allah

Bukan dari tempat tidur. Ia sedang di atas sajadah, menunaikan shalat malam. Kepalanya tertunduk ke tanah. Aku masih ingat, ini sujud namanya.

Kuperhatikan sesaat, dan ia masih dalam sujud. Dan lebih lama, ia tetap dalam sujud. Maka kudekati ia. Kugoyang-goyangkan tubuhnya.

Ia tak menjawab. Hanya lafadz Allah yang mengalun dari bibirnya.

Aku ikut menunduk, memperhatikan wajahnya. Dan aku tersentak, saat kulihat wajahnya bercahaya. Benar-benar bercahaya. Dan tiba-tiba ia ambruk.

“Dik… Dik…” ia memanggilku dua kali. Aku lebih kaget. Kupikir tadi, ia sudah mati.

Matanya kosong. “Ambilkan aku air…”

Segera kupenuhi permintaannya. Ia minum air itu. Cuma seteguk.

“Dik… sepertinya waktuku akan tiba. Apa Allah menerima taubatku?”

Aku diam. Lalu menganggukkan kepalaku.

Ia tersenyum. Mulai meringis. Lalu perlahan, matanya mulai terkatup. Tidak lagi ada nafas terasa dari hidungnya. Tidak detak jantungnya. Tidak denyut nadinya. Kali ini, ia benar-benar mati. Dan ini, kali pertama dalam hidupku, menyaksikan kematian seseorang, dengan tersenyum pula.

***

Aku masih ingat senyum terakhirnya itu. Membuatku menangis mengingatnya. Bukan karena kesedihan akibat kematian. Lebih kepada kehilangan sosoknya, yang selalu memberikanku ketenangan meski baru beberapa hari kami berkenalan. Aku buka Al-Quran peninggalannya, tak satu pun masih kukenali hurufnya, apalagi artinya. Aku buka buku-buku peninggalannya yang lain: tentang doa, tentang shalat.

Maka pagi itu, aku mengambil wudhu, membasuh tubuhku. Menunaikan shalat meski aku tak hafal bacaannya. Tak paham gerakannya. Aku hanya mencoba shalat. Dengan tanpa kata-kata. Hendak mencari ketenangan yang ia ceritakan. Hendak mencari Tuhan yang ia agung-agungkan.

Pantai Mutun