Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2009

Gadis Badra #2

aku mencintai enam jam yang lampau
yang meski pekak telingaku, parau sudah teriakku
tapi engkau, gadis badra, makin membuatku sakau
sakau dengan aroma pulau bakau yang kerap
menjadi cerita kita, menjadi guyonan di antara
bekas-bekas cabe merah yang menyangkut
yang tersangkut di sela-sela gigi kelincimu

aku mencintai enam jam yang lampau
yang dengan hujan kau tertawa, di bawah peluk
payungku yang kuyup, dan sayup kau dengarkah
detakku yang makin menyebut-nyebut namamu
namamu, namamu - gadis badraku?

Romantisme Biasa

- Aibon

jelang ekstasi: bibir, lelaki, dan mimpi. Kita sepakat, s e p a k a t
tentang betapa kita menghisap dengan erat, mengendus dengan
begitu pekat.

tapi bukankah kita telah sama-sama ingat
pada perjanjian yang kita catat, yang kita taruh di rok minimu
yang super ketat?

- Rok Mini

ini tidak jorok, sama sekali tidak jorok. kita hanya begitu suka
mendengarkan musik rock di sebuah kedai mini tempat kita
menciumi asbak rokok.

tapi tadi kedai mini itu hanya beberapa centi di atas lututmu, menampilkan
pahamu yang begitu putih dan mulus. seperti kasihku yang suci

dan tulus.

- Paha

paha dan dada, kau pilih mana (jika keduanya begitu sempurna)?

Catatan Pinggir, Sebelum Urban

1
pedagang kaki lima, pengemis lunta, dan sepasang sandal jepit
selalu kita catat di pinggir garis, diapit dengan tanda kutip

sedang fontnya kita lupa ukurannya, mencari angka-angka
yang tertera di scrollbar, tapi tetap tak ada

2
shubuh hari, kita tak lagi hirau
pada suara adzan di surau, dan kajian
yang dulu kerap kita ikuti, tentang ayat-ayat
yang tak pernah kita pahami

kita memilih untuk menikmati sisa igauan malam tadi
bermain roulette bersama maria ozawa dan sora aoi
yang kerap kita download dari link-link berwarna biru sapih

3
nietzche, faust, dan sri sultan
sedang kita makin asik main setan-setanan
dan kejar-kejaran di lahan gandum

4
urbanisasi yang lampau
atau kita, yang makin parau?

5
ini keringat, kerap masih kita catat
cita-cita yang dulu kita dekap dengan erat
makin lama makin melambat

sementara umur berjalan makin cepat

6
pedagang kaki lima, pengemis lunta, dan sepasang sandal jepit
sementara mata kita semakin sipit
menahan sengat yang makin sengit

7
o, maria, o, aoi sora
kemana engkau sudah
setelah beb…

Resesi, Rasi, dan Resi

1

Resesi, rasi, dan resi
Mana yang lebih sakti?

arena pertarungan kita bukanlah ubin seukuran lapak,
bedeng, bahkan rumah susun yang ditata seperti botol-botol
di pekan raya kota: mari mari sini, siapa yang bisa menyusun
paling tinggi kami kasih sepeda motor tak bergigi?

tapi kita sepakat, menyediakan tempat di ukuran kertas A4
untuk dituliskan angka – berapa jumlah kematian

yang bersedia dilahirkan?

2

Resesi, rasi, dan resi
Mana yang lebih seksi?

ukuran tubuh: lingkar dada, pinggang, dan paha
dan masing-masing memilih bikini dengan warna
merah yang cerah secerah urutan nama-nama yang
dengan mudah ditinggalkan, secerah kerut
wajah dengan g-string dan bra yang kerap lupa

dikenakan.

3

Resesi, rasi, dan resi
Mana yang lebih bikin keki?

ah, kubuka saja polling sms, bebas buat semua
operator dengan tarif normal, tak usah mahal-mahal
nanti kupajang di koran-koran, di iklan-iklan:
besaran persentase yang kamuflase, gelitik statistik
yang bikin terkikik-kikik (dan terpekik)

(2009)

Menyeduhmu, di Pukul Dua

1
“Octopus, sial!”

menyeduhmu di pukul dua membuatku ragu
membaca tanda-tanda dan jejak arah dari arus
yang kian bersilangan seperti wajah di bendera
yang lama tenggelam di dasar laut dengan detak
kerut bak mukamu yang kerap cemberut
menahan sakit yang akut

tetapi kita menikmati derita ini, bukan? mengingat
kenangan di pemanggangan, pesta barbeque
di sepanjang malam: gurita, udang, dan cumi, dan
yakinlah kita pada tanda yang samar, pada getah
yang damar – melukis jejak-jejak memar.

2
“ Expecto Patronum, Potter”

sapaanmu yang lalu adalah sebongkah cahaya
yang kurangkum dalam sebuah summary yang
kusimpan di laci sebelah kiri. kiri yang tak pernah
kau toleh, meski aku meleleh memohon-mohon kau
sambil menyeduh teh kita di pukul yang biasa – pukul dua,
denyut nadiku.

3
“avakadavra!”

mati maka matilah. kisah octopus di pukul dua
ternyata bukanlah fakta, kawan. ia adalah sekumpulan
ranting yang kusut seperti rambut yang tak pernah
kau gerai, bahkan, untuk sekedar mencari apakah
uban telah kau miliki. apakah ket…

Abstraksi dari: Fetus Logika dan Kontingensi Sejarah dalam Alusi

Setiap orang punya ingatan, ingatan dari nama-nama atau peristiwa-peristiwa yang mereka ketahui dari bacaan, tontonan, dan media lain yang menjadi asupan informasi. Ingatan-ingatan ini secara sadar atau tidak, kadang, menjadi dasar pemikiran dan tindakan, menjadi falsafah dan pedoman, atau sekadar menjadi kutipan dari pembicaraan-pembicaraan yang kerap terjadi di kehidupan sehari-hari. Dan alusi adalah sebuah gaya bahasa yang mewakili ingatan-ingatan itu. Ia (alusi) adalah sebuah acuan, kerangka dari simbol-simbol yang membawa penceritaan tersendiri. Penceritaan ini membawa alur yang runut, yang menuntut pembacanya untuk tahu kisah atau sejarah di balik simbol yang termaktub di dalam sebuah karya. Ia seperti perkawinan antara parafrase, metonimia, dan metafora dalam ruang lingkup ilmu dan dogma, bahwa seni (khususnya sastra) sangat menuntut pembacaan ke belakang. Kehadirannya adalah untuk menghubungkan masa lalu yang jauh dengan masa depan yang jauh dengan berada di posisi ekuilibrium…

Seusai Membaca Aan

Jika Mungkin Kau Sempat, Setelah Lewat Sebelas Tahun Kematian Kau, Menghadiri Undangan Konser Perayaan Kelahiran Kau (Sekaligus Kematian Kau) Yang Aku Catat Di Kalender Dan Buku Harian Aku Yang Aku Bawa Kemana-mana, Sambil Mengingat-ngingat Kau, Menyebut-nyebut Kau: Di Jalan-Jalan, Spanduk, Poster, Dan Iklan-Iklan Di Tivi Yang Semakin Sering Aku Tonton, Mungkin Juga Kau, Menyaksikan Aku Menonton Nama-Nama Kau Yang Sudah Kau Tanggalkan --- Kau Tinggalkan

aku akan tiba-tiba ada di tivi itu jadi penyanyi menyanyikan kau, mengumandangkan kau
dengan lantang, dengan air mata yang berlinang sambil memegang mike hadiah dari kau dulu yang kusimpan di lemari aku - tak pernah aku pakai karena aku takut akan teringat kau

mungkin juga kau akan teringat dengan kisah aku dan kau, yang juga menyebut-nyebut kau dengan mike yang bukan pemaberian kau, sebelum aku tanpa sengaja membunuh kau, membunuh nama kau

dan hari ini, di hari setelah lewat sebelas tahun kematian kau, aku menyertakan kau dalam daftar und…

Profil Penulis

Sedikit mengenalkan diri saya yang baru saja ingin memperkenalkan diri lewat karya yang tiba-tiba saya beranikan untuk dikirimkan ke Panitia KLA

Pringadi Abdi Surya. Lahir di Palembang, 18 Agustus 1988. Tahun 2005 dia diterima di Matematika ITB sebelum terkeluarkan secara tidak resmi, dan kini sedang menempuh pendidikan di D3 Akuntansi Pemerintahan STAN.
Mulai rutin menulis sejak bulan berakhiran –ber di 2007, dan mulai sangat tertarik dengan puisi sejak di bulan yang sama (bulan berakhiran –ber) di tahun 2008. Pringadi juga terus melatih kemampuannya di dunia maya bersama penyair guru dan teman-temannya.

Telah memenangkan berbagai perlombaan kepenulisan antara lain juara I Cerpen HOKI Literary Award 2008 (kabarindonesia.com), juara harapan lomba menulis cerpen 2008 di kolomkita.com, nominee Radar Bali Literary Award 2009, dan berbagai perlombaan yang diselenggarakan di kampusnya (ITB dan STAN). Karya-karyanya bisa dilihat juga di kompas.com (puisi), fordisastra.com, esastera.com, kapas…

ALUSI : Kumpulan Puisi Pringadi A.S

Telah Terbit kumpulan puisi tunggal Pringadi A.S
Judul : Alusi
Penerbit : pustakapujangga
jumlah halaman : 144 halaman

mulai terdistribusi sekitaran 2-3minggu lagi
karena dicetak 1000 eksemplar
maka tidak menjangkau semua daerah

tapi
kalau mau dapat lebih cepat dan dikirim langsung
silahkan kirim request ke nomor ini:
085664711070
harga Rp 25.000


dapat tanda tanganku langsung lho
hehehe