Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2010

Thou Heart

Should I ask for the dust?
Thou heart more lonely and more temperate:
Soft wind does string the handling of June,
As a lil kid leapt through the time

A blue window soaring free,
“Shall I share thee on an Autumn’s day?”
In me, thou heart’s the twilight of such day
As after the sunny’s journey in the west;

By chance, a bird crossed over through thou lip
Compare thee, when look behind eyelids
“It’s a brown day,” thee yelled on thy

This thou heart, that thee loved:
Feel so sad when losing
Like so glad when having

Kliping dan Terompet Tahun Baru

: mom

Aku menggunting ibu. Jadi pulau-pulau kertas. Kutempelkan di
Buku gambar. Kupajang di lemari dalam kamar;
Perasaan memang selalu ambigu. Koran-koran kerap memuat
Berita palsu. Jam dinding itu tak pun menunjukkan sebenarnya
Waktu;
Ibu tidak pernah mencuri cokelat. Ibu tidak pernah melumat
Ayah. Ibu tidak pernah menyembunyikan surga di bawah telapak
Kakinya. Ibu tidak pernah mengeluhkan kusut rambut
Sebagai sesuatu yang absurd. Tapi aku menggunting ibu, jadi
Pulau-pulau kertas. Pulau-pulau telur yang lupa caranya
Menetas. Sudah hari ke dua puluh dua padahal, persis bulan
Ke dua belas di tanggal yang tertinggal

Di kalender yang usang jadi terompet tahun baru.

Tertidur Jauh

: dv

Tertidur jauh ke samudra api yang menjilati pesisir, cinta kerap hadir tanpa
Disangka-sangka. Seperti api yang tiba-tiba laut menyalakan kekalutan yang akut.
Aku di kapal, biduk para perantau yang mengikuti kata-kata peramal: Suatu hari,
Ada perempuan pembawa pintal. Ia akan menambal lubang di hatiku yang bebal.
Ia akan meniupkan sejuta domba ke balik mata seolah aku penggembala
Yang lupa caranya tertidur. Seolah anjing penjaga taklah lagi setia memaknai
Lolongan serigala yang sebenarnya kesepian.

Aku berlayar ke pulau-pulau terluar di negeri tak bercadar. Pudar kalimat
Ibu di malam-malam yang berbeda tentang legenda dan dongeng,
Kisah nyai ronggeng yang menggoyangkan pinggulnya ke balik dada lelaki;
Aku lelaki yang sama yang memainkan gamelan dengan ketukan-ketukan
Pelan. Aku lelaki yang sama yang melemparkan ingatan ke jendela. Aku
Lelaki yang sama yang melukiskan peradaban di peta-peta palsu.

Begitulah, sampai aku tertidur jauh ke samudra api yang membakar semua
Jejak kaki di padang pasir, …

Violin

: dv

dari sejumlah alat musik aku memilih violin, biar tampak lebih maskulin memanggulmu mesra
di antara dagu dan dada. di antara ragu dan rasa rindu yang sama di perhelaan konser musik malam
bulan yang penuh titik-titik air pertanda pancaroba; perasaan memang terkadang
memilukan. seperti gesekan violin ini yang begitu menyayat memenuhi penghayatan aku
di luar lampu-lampu sorot yang memilih mengkhianati janjinya sendiri – meredup
begitu aku tampak hidup mengundang degup dada para penonton yang sebagian penuh
dengan kursi kosong. seperti pula suara sejuta burung yang berteriak memanggil kematiannya
sendiri.

PENGUMUMAN: EMAIL DAN FB PRINGADI ABDI DIHACK!

Email dengan nama prince_darkness101@yahoo.com dan FB saya yang bernama "Pringadi Abdi"
sudah nonaktif dan tidak bisa saya buka. Sekarang, beralih ke "Pringadi Abdi Surya"

Mohon apabila ada yang menerima email atau fb yang sudah nonaktif itu, tak usah digubris. Dan mohon add fb saya yang masih baru itu.

Terima kasih

Setengah Hati, Mencintaimu

Dengan setengah hati engkau keringkan kolam di pekarangan di sebuah taman kecil yang sepi dari bunyi cicit burung itu. Ada sebatang pohon sawo yang diikat janji oleh benalu hingga sebagian rantingnya mati mengorbankan dirinya sebagai tumbal kumbang-kumbang yang mencuri madu bunga sebelum buah. Musim gugur yang lamban, andai pun ada, tetapi buah-buah selalu jatuh ke kolam daripada ditikam kelelawar saat malam. Dengan setengah hati aku menyaksikan kematian ikan-ikan yang kehilangan insang dan anak-anak katak yang masih belajar memiliki kaki harus terenggut oleh engkau yang menjadi malaikat kematian sore hari.

Sejak saat itu, aku mengerti mencintaimu adalah setengah hati sementara setengah hati yang tersisa sudah menjadi ulat sebelum kupu-kupu. Sebelum daun-daun sawo itu runtuh menjadi pupuk, andai pun, tak ada tukang sapu yang menemuinya.

Tiga Catatan Terakhir, Jurnal Bogor 18 April 2010

Cerpen ini adalah hasil interpretasiku atas puisi Aan Mansyur berjudul sama

http://www.jurnalbogor.com/?p=96003

Mereka Bilang Aku Kunang-Kunang

Seharusnya aku ikut mati bersamamu. Seharusnya aku tak lari meninggalkanmu. Seharusnya aku menggendongmu di pundakku ketika aku melihat kau yang tiba-tiba terbaring di tengah kerumunan orang-orang yang berlarian. Aku kerumunan itu. Aku orang-orang yang tak mampu menyembunyikan ketakutan. Aku orang-orang yang takut airmataku sendiri akan membunuh atau membuatku menggelepar-gelepar melebihi rasa lapar yang sudah aku koar-koarkan.

Di Jepang, musim Sakura belum lama berakhir. Dua minggu di awal April menandai musim semi dengan mekarnya kelopak bunga sakura. Mereka bilang itu adalah kelopak dari mata para dewa yang menitikkan kasihnya ke dunia. Kemudian kasih itu laun menjadi cinta di akhir tanggal, ketika kelopak-kelopak yang semula dominan putih berubah warna menjadi merah jambu. Aku ingat kau mengungkapkan itu sebelum kita berdiri di antara lauta…

Fabel Sebuah Sajak

Aku berpura-pura menulis sajak malam ini. Sajak tentang kucing
terbang menangkap paruh elang yang kembali dari kematian.

Bayangkanlah, ada aku jendela yang terbuka menanti angin
dari lembah masuk kemari, ke dadaku yang kembang kempis
menahan puasa senin-kamis. Kucing tidak pernah mengerti
bagaimana gonggong anjing adalah separuh pergunjingan
ibu-ibu di jam tujuh pagi. Kucing tidak pula tahu ada ikan
tinggal tulang yang tengah belajar berenang di meja kaca.

Ruang pula setengah terbuka, setengah tertutup. Matamu
adalah katup seperti menanti aliran darah dari aorta ke
kantung mata. Televisi dua satu inchi juga seperti lantai ini
pura-puranya wajah tapi pantat gajah. Ke mana lagi tubuh
ini rubuh, selain ke runtuh bibirmu, Kekasih? Sedari dulu saja
kucing-kucing tidaklah pernah bertanya, kenapa tikus bisa
bikin ia gemas sampai ingin meremas-remas dengan cakarnya
yang lemas, dada, Oh, Dada, mungkin pangkal dari pertanyaan
ini. dadamu yang dua, seperti kacamata, skor adil dari pertandingan
sang pengadil, …

Kanna dan Tujuh Kepiting dalam Toples

dalam toples lebaran jadi tujuh kepiting kue-kue kering
dilempar ke mulut anjing apa itu yang bersembunyi di
salammu o wahai kekasih juling mata aku pulau pecah
ditelan gurih selaksa kelanting bulan-bulan terpelanting
gravitasi malam pasang surut air laut o tujuh kepiting
malang yang rindu pasir-pasir pesisir ke mana hendak
dirimu berpaling sebab toples ini hanya serupa caping
para petani yang memendam dendam pada rendam musim
palsu pipit dan ular o sembah raja belalang aku tulang
pulang ke persendian di balik keriput kulit pembuluh besar
bilik dan serambi malam dalam toples dalam toples aku
kepiting anjing di pulau pucah rajah tuan penyair.

*
Kanna ingin jadi kepiting. Kepiting goreng. Kepiting rebus.
Mama sedang menggoreng kepiting di dapur. Matanya bau
Kapur. Bibirnya berasap sepur. Kanna setengah bertanya
Ke mana papa pergi, sudah jam sebelas malam kini, dia
Belum jua mengetuk pintu dari tulang-tulang pendosa itu?
Sebab papa suka berjalan miring, Kanna ingin jadi kepiting.
Mama se…

Lelaki Kipas Angin dalam Playlistmu

: geisha dan wanita kecebong

Aku lelaki kipas angin, tak pernah ada dalam playlistmu kah?
Benar. Benar hanya dia yang tiba-tiba puisi, hadir di isi hati.

Satu SMS berisi rayuan:

O, wanita kecebong, aku adalah tak gendong kemana-mana
ke malam ke relung terdalam, boleh aku menyelam ke dasar?

tapi kamu jadi lilin, jadi api ulangtahun, jadi unggun malam
minggu dering rindu telepon genggamku, kamu setuju?


Kamu minta aku menyanyi. Lelaki kipas angin tidak bisa menyanyi
Kalaulah berfatwa, aku bisa. Fatwa Pujangga, tak pantas putus
asa. Fatwa penyair, tak boleh menahan desir. Aku pujangga,
kipas angin adalah kata-kata yang membawa rahasia dari
balik mata. Aku penyair, membaca sajak di punggung ibukota
mencari ayah yang pergi entah ke mana. Hei, wanita kecebong
berudu di kamus-kamus, sup asparagus, ramalan nostradamus

aku tak bisa bikin kuatrin, sajak romantis malam cahaya lampu:

di kereta, kau duduk sendiri, memeluk selimutmu yang hangat
aku tubuh, biar ngengat, adalah sama keringat laki-laki

Bagaimana Aku Melukiskan Pemandangan di Pantaimu, Kekasih?

i:

aku lebur. dalam nyala ganggang laut kepulangan di debur
api menari-nari di atas kayu bakar di atas tungku perapian
meletupkan ingatan-ingatan kecil ikan yang berenang ke
tepian ketika kaki kau malu-malu mencintai pasir memanggil
ombak menanti geladak yang sebulan lebih tak kembali.


ii:

aku unggun menyalakan kepedihan dari matamu yang arang

kepulangan tak pernah kau harapkan sebab ia
adalah melankolia burung camar yang hinggap di sebuah kamar
lewat lubang pintu yang lupa kau sumpal dengan sandal
menyisakan kaki-kakimu yang telanjang, memancing kerang agar
terdampar di pasir-pasir yang tertampar

sementara, aku yang unggun adalah camar yang dulu singgah
di kamar yang sama. ketika kau bercermin di salah satu jendela

dan ia tak bisa menampilkan wajahmu seutuhnya.


iii:

seandainya bulan bisa tenggelam di garis laut
seperti matahari yang terbenam (membenamkan rasa takut)
aku
tiba-tiba akan jadi sepeda
yang dengan berat kau kayuh
melewati jejak malam yang rapuh

aku sungguh tidak mau
menjad…

Dari Sekian Kematian, 2

: kak irvan

dari sekian kematian, aku pun mencintai kematianmu. kematian yang nyangkut
di ring basket dekat kantin penjaja senja penawar airmata yang runtuh dari
balik rimbun daun di halaman sekolah pinggir jalan bus-bus kota yang sama
kita naiki pula dengan berdiri berdesak-desakkan menamai keringat dengan
malam yang padam malam yang mati lampu berbumbu cerita-cerita hantu
tiba-tiba menarikmu dari kolam padahal belum malam padahal belum dalam
lagu-lagu di bus-bus kota tadi menyanyikan berenang-renang ke tepian.

Puisi Pringadi Abdi Surya di Harian Global, 11 April 2010

http://harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=34833:puisi-pringadi-abdi-surya&catid=45:kalam&Itemid=69

Puisi-puisi ini ditulis tahun 2008, di masa-masa awal saya berkenalan dengan puisi. Saat itu adalah TS Pinang dan Bernard Batubara yang membikin saya kagum. Saya biasanya mendapatkan nilai 0,1,2,3 oleh TS Pinang di tulisan-tulisan saya (di sebuah situs). Bahkan tak jarang beliau bilang, "Ini bukan puisi" atau "Ini belum puisi". Hal itu justru membuat saya termotivasi. Ode untuk Pendosa adalah puisi dengan nilai tertinggi yang pernah beliau beri, yaitu 5.

Silahkan menikmati masa muda saya.



Gitar Pancing

Bukan dengan senar kupetik nada
dari gitar tuaku;

ini tali pancing yang kucuri dari
orang-orang tua yang ingin pergi ke sungai
memancing kolibri-kolibri yang baru saja turun
dari langit

Aku mainkan lagu rindu, milikku
memanggil mendung
memanggil hujan, agar gelegak di tiap
sungai, melarikan kolibri

melarikan aku.



Ode Untuk Pendosa

A…

Seseorang dengan Agenda di Tubuhnya

[1]
Biasanya, setiap cerita pembunuhan akan dimulai dengan ditemukannya mayat korban. Lalu dimulailah penyelidikan oleh seorang inspektur polisi, meneliti satu per satu misteri sampai ditemukan motif dan bukti-bukti yang mengarahkan kebenaran siapa pelaku pembunuhan. Tetapi, saya tidak akan bercerita dengan metode kuno seperti itu. Saya akan mulai dengan sebuah pengakuan, sayalah yang telah melakukan pembunuhan dengan memukulkan benda keras ke kepala, berkali-kali (saya akan berhenti kalau sudah merasa puas), sampai berdarah-darah dan sang korban sudah tak lagi menghembuskan napas. Kemudian, akan saya tinggalkan sebuah jam dinding di samping mayat korban. Jam dinding yang jarum-jarumnya sudah saya atur sesuai urutan dan waktu pembunuhan.

Ini sudah korban yang kesebelas. Tidak seperti cerita-cerita yang umum terjadi, saya tidak butuh topeng darah yang misteri yang bikin saya jadi gila. Saya juga tidak memiliki kepribadian ganda atau motif biasa seperti untuk melindungi diri, kepentinga…

Dari Sekian Kematian

: rumsah

dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. kematian dari kanak-kanak, kematian dari
bak mandi yang luap hingga ke taman mengambil bayangan masing-masing kita yang tertawa
mengejek beringin tua yang lupa caranya mati di samping ayunan dengan karat besi sepucat
pasi wajahmu sore itu di gendongan paman yang matanya jadi bendungan kakinya jadi
tonggak-tonggak bambu galah mengambil jambu-jambu merah di depan rumahmu yang abu
tetapi aku memang mencintaimu kematianmu ketika hampir sembilan tahun lamanya kau
terbaring tetapi bukan tidur tetapi bukan pura-pura bukan pula bercanda seperti kita
melempar batu menakar airmata;

kembang sepatu di halaman masih setia berwarna merah muda.

Cataluna, Kau dan Aku

#1
Sudah seharusnya, jalanan kota Barcelona itu dipenuhi suara gegap gempita, Kemenangan yang sudah diprediksi dan segala perhitungan ataupun asumsi-asumsi di atas kertas itu terbukti. Siapa yang menyangkal permainan Barcelona di Emirates, pada leg pertama, di babak pertama, adalah yang terbaik di dunia? Peluru-peluru muda yang biasanya memberondong dengan begitu rapi dibuat tak berkutik oleh penguasaan bola klub Catalan itu. Hanya dewi Fortuna sajalah yang membuat dominasi Messi dkk. tidak berujung pada kemenangan.

Khrisna berjalan dengan muka lesu. Ia masih tidak percaya, sampai menit ke-85, kedudukan masih 1-0 untuk keunggulan Barcelona. Siapa lagi kalau bukan Messi yang melewati Clichy sebelum berhadapan satu lawan satu dengan Alumunia dan dengan mudahnya ia menceploskan bola lewat sela-sela kaki. Tetapi, dua menit kemudian, public Nou Camp dibuat terdiam ketika lagi-lagi Walcott bergerak seperti kilat dan mengirim umpan kepada Nasri yang tidak terjaga untuk menyamakan kedudukan. Dé…

Sampai Habis Pelangi

: sandhy sondoro

Terbang ke matahari, cita-cita Icarus muda. Bulu-bulu
Sayap angsa adalah perjalanan mengudara. Seperti di studio
Radio ibukota, hari itu, aku malu-malu mengungkap rindu.
Tidak seperti hujan di luar yang berisik dan berebut
Saling menyebut cinta masing-masing;
Aku ingin tenggelam menaiki kapal-kapal karam
Terseret arus, mengikuti angin yang berhembus
Ibarat layar yang nurut, tak mengenal rasa takut.

Semestinya, kisah ini berakhir di habis pelangi. Tetapi
Tak pernah ada pelangi hari itu, ketika hujan lelah
Matahari pun keburu lelap dan kembali ke dalam gelap.
Kapal-kapal tak lagi kembali ke dermaga. Hanya tiang
Kayu pancang yang belah, patah, seperti hatiku.

(2010)

kincir telur

setiap memandang kincir, aku takut tergelincir;
hidup memang berputar, sesekali aku di atas
memandang realitas, sesekali pula aku
di bawah tak mampu bermwah-mewah. kincir ini
memanggil angin dari udara bertekanan tinggi
seperti hati dan kedudukan yang lalu
turun ke jalan, menyaksikan kerikil-kerikil
memainkan musik yang musykil.

setiap kali kincir ini berputar, aku takut masa laluku
akan pudar. aku takut kembali sadar bahwa dunia
hanyalah seperti menggoreng telur dadar.
diaduk dengan sendok, dicampur sedikit garam
lalu digoreng di wajan bermuka muram. dulu sekali
telur ini pasti sudah pula dieram.

Penyair Sekali Lagi

Anggaplah aku penyair, penyair sekali lagi. Kamu minta
Puisi dari aku. Puisi dari daun gugur. Puisi dari cawan anggur. Puisi
bikin mabuk. Puisi arak, bir, chocktail di bar-bar yang sibuk
sebelum tutup jam dua pagi. Kamu bilang bartender itu ganteng sekali.
Kamu bilang aku kalah seksi, kecuali puisi. Baru kamu minta aku
bawa ke kamar hotel paling samar sesamar jejak bulan
di atas atap malam itu, sebelum bayang-bayangnya
mengetuk-ngetuk jendela yang terantuk.

Kamu telanjang memamerkan dadamu yang bidang. Kelaminmu
menegang. Kamu penipu yang curang. Aku pikir kamu wanita jalang
tahu-tahunya kamu bissu, calabai, lelaki setengah arang. Kamu
sudah mengunci pintu. Aku sudah mengunci kelaminku.
Kamu membuka tirai jendela, menyaksikan lampu-lampu kota. Aku
berharap bulan sudah saja pura-pura kelinci. Lalu masuk kemari.
Tetapi, aku takut setengah mati. Tiba-tiba wajahmu jadi aku.
Kelaminmupun jadi kelaminku!

kue tart

kwek li na, tahun yang berulang

ada percakapan antara lilin dan korek api;
semua mata sepertinya tertuju pada cherry merah
siap berebut sambil pura-pura menyebut ucapan
selamat ulang tahun, kawanku li na. tetapi, aku asik
memandangi matamu yang persik. seperti sedang
menyanyikan lagu seratus tahun kesunyian milik
marquez tua duduk di kursi goyang
menyulut cerutu lonjong pemberian moyang

lilin dan korek api sepertinya masih bercakap-cakap
menyamakan daya ungkap yang telah lama terbekap
di dada masing-masing;

aku memegap di ruang pengap ini. aku saksikan
matamu semakin lembap seperti tetesan-tetesan lilin
yang terbakar dan mengendap di atas kue tart itu.

Kota yang Membakar Aku

kelak, kota ini yang akan membakar aku;
suatu siang saat aku membayangkan tawamu yang riang
sedang bermainan ayunan di taman itu dengan
seorang laki-laki yang mengaku Ibrahim, aku malah
berpura-pura sebagai Namrud, mengumpulkan kapak
dan kayu bakar, menegakkan kembali patung-patung raksasa
lambang para pendoa

gedung-gedung tinggi, dan jalan layang di sekitar aku
mungkin adalah rantauan laki-laki yang mengikuti
kemana hendak kakinya melangkah, mengumpulkan kisah;
ia adalah laki-laki lain di taman itu, bermain
pasir membangun piramida yang dibekukan setengah air

kelak, kota ini yang akan membakar aku;
kali-kali yang dulu kita berenangi sudah jadi rumah belut
mewarnai kedua hati kita yang sedang kemelut

Kereta masa Lalu

: wanita d, dalam impian


Kereta selalu meninggalkan bayangan. Koper-koper berisikan angan
sama saja dengan teriakan pedagang asongan; udara
jam sepuluh malam ini begitu dingin, aku membayangkan
dirimu menjadi selimut menghidangkan
panekuk hangat yang sering kau sebut. Di luar, kabut
beringsut membikin ciut nyalimu yang pengecut. Seperti saat
kau tak datang mengantarkan kepergianku yang bimbang.

Kereta malam ini adalah kehilangan. Televisi itu tak pernah
dimatikan meski tak ada gambar yang menceritakan
kenapa aroma parfummu tetap saja tak bisa kulupakan;
Di beberapa baris, kursi-kursi kosong seperti
tengah menasbihkan rasa sakit yang liris.

Ketika Aku Pulang

Aku pulang dari rantauku yang malang. Bulan
pucat pasi dan ketukan-ketukan kecil dari
penjaja mie dan nasi goreng masih setia
menemani gitar tua yang tak lagi bisa kugenjreng;
Aspal basah. Tiang-tiang listrik berdiri resah
sedang menanti hujan datang lagi sampai
memecahkan genting
dan membawa ranting-ranting yang hanyut
ke dalam selimutku yang lembut.

Aku menantimu, kekasih. Membawa kunci yang
mampu membukakan pintu rumah ini. Terlebih dinding-dinding
kusam di dalamnya bercerita tentang kisah
sebuah teko tua di atas kompor gas yang renta.

(2010)