Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2011

Ezra Pound

The Return


See, they return; ah, see the tentative
Movements, and the slow feet,
The trouble in the pace and the uncertain
Wavering!

See, they return, one, and by one,
With fear, as half-awakened;
As if the snow should hesitate
And murmur in the wind,
and half turn back;
These were the "Wing'd-with-Awe,"
inviolable.

Gods of that wing├Ęd shoe!
With them the silver hounds,
sniffing the trace of air!

Haie! Haie!
These were the swift to harry;
These the keen-scented;
These were the souls of blood.

Slow on the leash,
pallid the leash-men!




Ballad of the Goodly Fere


Simon Zelotes speaking after the Crucifixion. Fere=Mate, Companion.

Ha' we lost the goodliest fere o' all
For the priests and the gallows tree?
Aye lover he was of brawny men,
O' ships and the open sea.

When they came wi' a host to take Our Man
His smile was good to see,
"First let these go!" quo' our Good…

Dua Puisi Pringadi Abdi Surya di Akulah Musi [Buku Puisi Pertemuan Penyair Nusantara V, Palembang]

Beberapa Catatan Sebelum Ia Pulang ke Indonesia

I.

Ia sempat mengetukkan sepatunya ke batu, seakan-akan laut akan terbelah. Di belakangnya orang-orang meributkan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Kayu memang barang langka meski bisa patah kapan saja. Ia merasa dadanya pun terbuat dari kayu, sebagian sudah lapuk, sebagian yang lain sedang diintai oleh rayap yang kehilangan rumah,

dan amarah berlenyapan. Berubah menjadi burung-burung. Ia tahu mereka akan kembali ke kandang saat cuaca buruk. Saat badai menyerang gurun pasir dan piramida-piramida tak lagi berbentuk limas bersegi.

Ia mencoba lagi, mengetuk-ngetukkan sepatunya ke atas batu. Di belakangnya orang-orang mulai saling melempar sepatu masing-masing. Di depannya gelombang bersiap pasang.


II.

Ketika Tuhan mengutus Musa, ia masih belum bersekolah dan tak mengenal sejarah. Ia selalu iri manakala para tetangganya memakai seragam bendera, lalu memamerkan lagu Indonesia Raya dengan sumbang, berdiri dan hormat sambil sesekali menaha…

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …

Cinta Pertama

Tiba-tiba Kau sentuh ingatan, bau garam
pun menyengat tiba-tiba. Sajian ombak
seperti tarian selamat datang,
menyambut--menyebut nama Kau yang baru
saja kutulis di pesisir. Ada yang berdesir
lembut, kupikir Kau sedang menggelar jalan
kembali, berupa karpet merah Timur Tengah.
Banyak hal yang ingin kusebut, namun telah
Kau kunci mulut. Jantungkulah yang berdenyut,
kehilangan cinta pertama seperti ketinggalan
kapal terakhir sebelum senja. Gerimis
menetes setelahnya, dan mencoba memenuhi
cakupan telapak tangan.

Acep Zamzam Noor Lagi

Bagian dari Kegembiraan

1
Jalan di belakang stadion itu sudah lama tidak kulewati
Mungkin madrasah yang dibangun persis depan kamarmu
Sekarang sudah rampung. Aku teringat pohon beringin
Yang berdiri anggun dekat taman kanak-kanak dan pos ronda
Setiap pulang mengantarmu aku sering kencing di sulur-sulurnya
Yang rimbun. Sepi terasa menyayat jika kebetulan lewat:
Ingin sekali minum jamu kuat, tapi kios yang biasa kita kunjungi
Sudah tidak nampak di sana

2
Volkswagen yang bentuknya mirip roti tawar itu masih kusimpan
Di garasi. Aku belum berniat menjualnya meski dengan harga tinggi
Di badannya yang mulai karatan masih tersimpan ratusan senja
Yang pernah kita lewati bersama. Di joknya yang mulai rombeng
Masih melekat ribuan pelukan dan ciuman. Catnya belum kuganti
Aku masih ingat bagaimana dulu kau ngotot memilih hijau lumut
“Biar mirip seragam tentara,” ujarmu. Tapi mobil yang usianya
Delapan tahun lebih tua darimu atau tiga belas tahun di bawahku itu
Akhirnya kulabur dengan hitam. Kini m…

Acep Zamzam Noor

Puisi-puisi Acep Zamzam Noor


KAU PUN TAHU


Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi kerinduan
Bintang-bintang yang kuburu
Semua meninggalkanku
Lampu-lampu sepanjang jalan
Padam, semua rambu seakan
Menunjuk ke arah jurang

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi nyanyian
Suara yang masih terdengar
Berasal dari kegelapan
Kata-kata yang kusemburkan
Menjadi asing dan mengancam
Seperti bunyi senapan

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi keindahan
Kota telah dipenuhi papan-papan iklan
Maklumat-maklumat ditulis orang
Dengan kasar dan tergesa-gesa
Mereka yang berteriak lantang
Tak jelas maunya apa

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi persembahan
Aku sembahyang di atas comberan
Menjalani sisa hidup tanpa keyakinan
Perempuan-perempuan yang pernah kupuja
Seperti juga para pemimpin brengsek itu –
Semuanya tak bisa dipercaya

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi yang perlu dinyatakan
Pidato dan kentut sulit dibedakan
Begitu juga memuji dan …

Perjalanan, 1

Menunggu di Kayangan, Kau berasumsi bukit yang tinggi itu
adalah Gunung Rinjani. Dan laut yang seperti tak berbatas
akan mengantarkanmu ke Antartika. Tidak perlu cemas, suatu
saat kita akan kembali ke Senggigi, bermain pasir pantai
dan berendam di dalam senja yang sedikit malu-malu. Itulah
cinta, lautan kini sedikit berombak tapi kuajak Kau berdiri
di geladak. Menikmati angin dan waktu yang pelan merambati
lekuk Kau. "Bagaimana Poto Tano nanti?" Bertanyalah seolah
tak ada jawaban yang dapat kuberikan. Kapal belum berangkat,
orang-orang duduk--beristirahat. Kita berupa inedia, memakan
cahaya yang kian raib itu.

Jompong Suar

1

Karena mulut adalah sarang ular: Tak dibilang
jadi binasa, dibilang pun jadi bencana.

Bilamana tak Kau dapatkan bambu berbatang
perak, berdaun emas, berbunga intan,
akan kualamatkan seribu luka yang dititipkan
sejuta penyair di ujung tombak ke dada Kau

dari lubangnya akan keluar Kekasih dengan tergesa
seperti tak akan kembali


2

Tinggimu hanya sehasta, empat ruas, empat pula buku.

Sebuah tangkai di tiap buku. Sebuah daun di tiap
tangkai. Darinya pun dian bermunculan dalam empat
kuncup. Tapi,

tak mampu menyaingi Mandang Wulan yang seperti putri.

Halnya aku dan penjagaan raksasa betina yang kesepian
tak mengenal cinta apalagi rindu. Kutinggalkan gua
yang bersarang laba-laba.


3

Pada suatu Desember, angin mengekalkan ingatan.
Barangkali akhir tahun ini akan tersaji kisah
yang bahagia,

ketika masing-masing kuncup menjelma api, bersemburan,
juga tanah yang ingin kembali ke tanah. Berapa
rindu yang dipendamnya, tercetak di batu nisan?

Aku kekekalan. KekekalanMulah kenangan.

Sabalong Samalewa

Ada beringin berakar lima. Barangkali menjangan
pernah berteduh di bawahnya. Menunggu buah jatuh
dan takkan jauh. Begitu pun jalan ke Seketeng,
yang tak mungkin Kau anggap enteng. Kita diberkahi

sepasang kaki, sepasang tangan, sepasang pendengaran
dan penglihatan. Tetapi Kau menyanggah bilamana
hanya ada satu dada, yang siap menampung jutaan gulung
angin yang turun dari gunung-gunung. Sebab berapa

langkah yang telah dititipkan, untuk suatu hari
kembali. Jika saja di jalan-jalan yang sepi, udara
kian mengaribi keleluasaanMu; seekor burung gereja
mungkin pula tengah membuat sarang di dahan-dahan itu.