Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2011

Pemenang Lomba Blog Gempita Bulan Bahasa Powered by Indosat

Pada mulanya, rangkaian Gempita Bulan Bahasa yang digelar oleh Rumah Kata Bogor dan didukung penuh oleh Indosat hanya dirancang sehari saja, yakni pada 4 November 2011. Namun, setelah penyelenggara berbincang-bincang dengan pendukung acara, disepakati untuk menyertakan satu rangkaian tambahan, Lomba Menulis di Blog Pribadi.

Tersebab tenggat waktu penayangan tulisan yang sangat singkat, yakni 7 s.d. 15 November 2011, ditaksir pesertanya bakal tak banyak. Ternyata perkiraan itu meleset. Jumlah peserta mencapai 21 orang. Tentu saja, ini sangat menggembirakan. Terlepas dari waktu yang mepet, disadari bahwa tema yang diusung bukanlah sesuatu yang popular sehingga bisa memancing minat banyak orang.

Lumrahnya lomba yang lain, kegiatan ini juga meniscayakan penilaian. Ada empat kriteria yang digunakan dalam menilai tulisan peserta. Pertama, keunggulan bahasa. Kriteria ini meliputi penggunaan ejaan yang benar, kelengkapan struktur kalimat, penyajian bahasa yang mudah dicerna, dan penggunaan ka…

Mantra Leviosa

Berucaplah, “Wingardium Leviosa!” Dan benda-benda

akan melayang di udara, mengabaikan gravitasi.

Kau mencari kepala, “Seratus dua puluh delapan lagi…”

Tapi, lampu mati, kemudian kami tidak mengenali beda

kelapa dan kepala. Di malam-malam seperti ini, biasanya

banyak suara jangkrik. Seseorang yang bernyanyi, kukira

Presiden. Bila saja di radio, akan kumatikan.


Belum juga Kau tarik mantra itu, kantuk menyerang

kelopak, bunga di taman belum mekar, dan dadaku tak jua

berhenti berdebar, mengingat ciuman kemarin terekam

beredar di laman-laman maya;


Seorang anak kecil terkutuki mantramu, melayang ia

berenang-renang dan berucap ingin jadi presiden juga.

“Sebaiknya sedari sekarang kamu belajar memegang

pelantang,” Dan semalaman akhirnya kami mengajarinya

sebelum Tuhan di atas sana tengah sibuk menceramahi

Newton atas kegagalan hukum pertamanya.

Solilokui Kebebasan

I

Kebebasan berpendapat, mengungkapkan perasaan, tertuang
di gelas kopi ayah. Diaduk-aduknya pelan, sambil membaca
koran kemarin yang tak sempat dibacanya. Aku kira, kisah pi
ada di dalamnya, seorang pemuda terombang-ambing di atas

sekoci, menatap langit dan laut yang sulit dibedakan. Ia
begitu benci dan bosan, kematian telah jadi lelucon, ditonton
seperti menunggu nomor undian.

Ayah juga melarang kami menyalakan televisi, sebab ini 27 Juli—
pahlawan yang tak dikenal dibawa mati Toto Sudarto Bachtiar.


II

Ketika itu kuturut ayah ke kota, mencari bunga kantan.
Dipotong pada bagian yang lembut, dikelupas kulit yang keras.
O, demi salad ikan jantung pisang, kami mengutuk kemacetan.
Rumput yang terinjak mati, suatu hari akan menuntut balas.

Tapi siapa yang masih peduli kemanusiaan—kemerdekaan telah
tanpa cinta. Jalanan seperti mati, mengaduk-aduk isi dada.
Di sanalah ayah menyimpan gerimis—seekor rubah sedang

menangis kehilangan kekasihnya; seorang gadis bercerita
tentang padang rumput da…

Merilis Daftar Buku yang Pernah Memuat Nama Saya

1. Kepada Cinta
2. Alusi
3. Kain Batik Ibu
4. Musibah Gempa Padang
5. G 30 S
6. Akulah Musi
7. Memburu Matahari
8. Dongeng Afrizal
10. Jurnal Amper
11. Empat Amanat Hujan
12. Si Murai dan orang Gila
13. Hampir Sebuah Metafora
14. Koloid
15. Zane, Diary dan Cinta
15. Teka-teki Tentang Tubuh dan Kematian
16.
17.
18.






Kepada Cinta

Memuat dua judul:
1. Angin September
2. Love and Friendship


Alusi

Kumpulan puisi, beriisikan 88 puisi.


Kain Batik Ibu memuat satu cerpen berjudul Nol: Angka--Manusia

Katarsis, Sastra, dan Sutasoma

Saya pernah begitu terperangah menyaksikan penampilan Cok Sawitri dan Ayu Lakshmi di perhelatan konser koin sastra. Selain pembacaan puisi yang memukau, dipadukan dengan musik, nyanyi, dan tari, ada kalimat yang begitu menyedot perhatian saya. Yaitu ketika Cok mengutip kata-kata dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular mengenai definisi sastra (kurang-lebih) bening telaga, bayang bulan memantul sempurna di atasnya.

Saya juga pernah mengalami fase, memandang sastra dari sisi teknik semata. Mengutip De Poetica Aristoteles mengenai metafora sebagai dasar memandang keberhasilan sebuah puisi. Bahwa metafora lahir karena keterbatasan bahasa dalam merengkuh realitas, itu yang harus disepakati. Bahwa kemudian metafora membentuk ruang sebagai sebuah semesta—menghablur dari hanya sebuah pernyataan puitik, itu menjadi aksioma kedua.

Kritik sastra pada bakunya adalah perihal di atas teori dan sejarah sastra (dalam tiga unsur sastra). Akan tetapi, yang lamat saya sadari kemudian, kritik sastra m…

Hujan Menulis Ayam

Tentang Judul dan Tardji

Bila membaca judul di atas, ingatan kita akan tersengat oleh kumpulan cerpen milik Tardji berjudul sama. ‘Kebesaran’ Sutardji Caldzoum Bahri tentu tidak dibangun semata-mata dari hanya kredo mantra atau upayanya melepaskan diri dari pendefinisian leksikal—kata-kata dijungkirbalikkan sedemikian rupa hingga mereka memiliki definisi tersendiri yang bebas, mandiri, atau tidak terikat logika. Tardji, barangkali, mengembalikan pengertian kata sebagai wahyu—bahwa wahyu/kehendak Ilahiah tidak mungkin terperangkap dalam ruang dan waktu. Kata-kata (sebagai cerminan kata-kata yang berasal dari Tuhan) itu tidak hanya dinamis, tidak hanya beragam pemaknaan, tetapi juga memiliki fungsi hermeunatis: penemuan dan seni.

Namun, judul ini tak hendak membahas Tardji dan kredonya. Judul ini juga bukan ingin menelaah kumpulan cerpen Hujan Menulis Ayam dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Judul ini hanyalah sebuah pintu dari kedinamisan bahasa, pola-pola yang terbentuk se…

Simbiosis (Sumatera Ekspres. 30 Oktober 2011)

Simbiosis

Aku ingin membagi setengah jantungku, untukmu. Dan harga yang kuinginkan dari itu adalah kau menjadi sebelah sayapku. Sebab sayapku tak lagi dua, hingga aku tak lagi bisa terbang sempurna. Sebab sayapku tinggal sebelah. Sebelah satunya telah patah. Dan sebab aku juga tahu, sayapmu juga tinggal sebelah. Juga telah patah. Tidak ada salahnya bukan jika kau menjadi sebelah sayapku? Hingga kita bisa terbang bersama, berdua, kemana pun kau dan aku menginginkan.



“What I need is to be needed, what I loved is to be loved.”

Aku berterima kasih kepadamu karena telah membuatku berpikir kau membutuhkanku. Aku tidak pernah benar-benar tahu, angin apa yang membawamu ke hadapanku, dan menggodamu untuk membuka dirimu di hadapanku. Tak perlu dua kali kau tanya, aku tak merasa terganggu. Aku benar-benar menyukaimu. Menyukaimu karena telah membuatku berpikir kau membutuhkanku.

Aku ingin sekali bisa mencintaimu. Kau percaya? Atau malah tertawa geli mengelus kepalaku, dan berkata bahwa ucapanku…