26 November 2011

Pemenang Lomba Blog Gempita Bulan Bahasa Powered by Indosat

Pada mulanya, rangkaian Gempita Bulan Bahasa yang digelar oleh Rumah Kata Bogor dan didukung penuh oleh Indosat hanya dirancang sehari saja, yakni pada 4 November 2011. Namun, setelah penyelenggara berbincang-bincang dengan pendukung acara, disepakati untuk menyertakan satu rangkaian tambahan, Lomba Menulis di Blog Pribadi.

Tersebab tenggat waktu penayangan tulisan yang sangat singkat, yakni 7 s.d. 15 November 2011, ditaksir pesertanya bakal tak banyak. Ternyata perkiraan itu meleset. Jumlah peserta mencapai 21 orang. Tentu saja, ini sangat menggembirakan. Terlepas dari waktu yang mepet, disadari bahwa tema yang diusung bukanlah sesuatu yang popular sehingga bisa memancing minat banyak orang.

Lumrahnya lomba yang lain, kegiatan ini juga meniscayakan penilaian. Ada empat kriteria yang digunakan dalam menilai tulisan peserta. Pertama, keunggulan bahasa. Kriteria ini meliputi penggunaan ejaan yang benar, kelengkapan struktur kalimat, penyajian bahasa yang mudah dicerna, dan penggunaan kata yang tepat (dalam bahasa tulisan). Acuan nilai tertinggi untuk kriteria ini adalah 40.

Kedua, kekuatan tulisan, mencakup penjudulan, kerunutan penyampaian, kemampuan menyampaikan gagasan, dan langgam pemaparan ide. Nilai tertinggi untuk kriteria ini adalah 30. Ketiga, kesesuaian tema. Kriteria ini menyangkut tingkat keterkaitan tulisan dengan tema yang ditentukan oleh penyelenggara dalam lomba. Nilai tertinggi untuk kriteria ini adalah 20. Keempat, aspek penunjang, mencakup pemenuhan ketentuan tertentu yang harus dicantumkan dalam tulisan. Nilai tertinggi untuk kriteria ini adalah 10.

Berdasarkan kriteria di atas, juri melakukan penilaian pada 17 s.d. 23 November 2011. Pemenangnya adalah:

1. Pringadi Abdi Surya, Hujan Menulis Ayam, nilai 152. [Blackberry Gemini]
2. Reyhan Satria Adinur, Bahasa yang Dirusak, nilai 149. [Samsung Galaxy Y]
3. Fauzan Mukrim, Tante dan Pob, nilai 141. [Smartphone]

Ketiga pemenang di atas akan dihubungi oleh pengurus Rumah Kata Bogor terkait pengiriman hadiah yang disediakan oleh pendukung acara, Indosat—seperti yang telah diumumkan sebelumnya. Sedangkan tiga pemenang hiburan akan mendapatkan paket buku dari Rumah Kata Bogor, masing-masing:

1. Erik, Feni Rose Berpuisi di Gempita Bulan Bahasa, nilai 140.
2. Andi Hardiyanti Hastuti, Bahasa Indonesia dan Mereka yang Mencinta, nilai 139.
3. Firman Akbar, Menulislah: Maka Kamu Akan Abadi, nilai 139.

Bagaimanapun, hadiah hanyalah sebatas apresiasi dari penyelenggara terhadap partisipasi dan keseriusan peserta. Semoga kegiatan seperti ini semakin sering digelar, demi menumbuhkan dan melestarikan kecintaan kita terhadap bahasa Indonesia.

25 November 2011

Mantra Leviosa

Berucaplah, “Wingardium Leviosa!” Dan benda-benda

akan melayang di udara, mengabaikan gravitasi.

Kau mencari kepala, “Seratus dua puluh delapan lagi…”

Tapi, lampu mati, kemudian kami tidak mengenali beda

kelapa dan kepala. Di malam-malam seperti ini, biasanya

banyak suara jangkrik. Seseorang yang bernyanyi, kukira

Presiden. Bila saja di radio, akan kumatikan.


Belum juga Kau tarik mantra itu, kantuk menyerang

kelopak, bunga di taman belum mekar, dan dadaku tak jua

berhenti berdebar, mengingat ciuman kemarin terekam

beredar di laman-laman maya;


Seorang anak kecil terkutuki mantramu, melayang ia

berenang-renang dan berucap ingin jadi presiden juga.

“Sebaiknya sedari sekarang kamu belajar memegang

pelantang,” Dan semalaman akhirnya kami mengajarinya

sebelum Tuhan di atas sana tengah sibuk menceramahi

Newton atas kegagalan hukum pertamanya.

24 November 2011

Solilokui Kebebasan

I

Kebebasan berpendapat, mengungkapkan perasaan, tertuang
di gelas kopi ayah. Diaduk-aduknya pelan, sambil membaca
koran kemarin yang tak sempat dibacanya. Aku kira, kisah pi
ada di dalamnya, seorang pemuda terombang-ambing di atas

sekoci, menatap langit dan laut yang sulit dibedakan. Ia
begitu benci dan bosan, kematian telah jadi lelucon, ditonton
seperti menunggu nomor undian.

Ayah juga melarang kami menyalakan televisi, sebab ini 27 Juli—
pahlawan yang tak dikenal dibawa mati Toto Sudarto Bachtiar.


II

Ketika itu kuturut ayah ke kota, mencari bunga kantan.
Dipotong pada bagian yang lembut, dikelupas kulit yang keras.
O, demi salad ikan jantung pisang, kami mengutuk kemacetan.
Rumput yang terinjak mati, suatu hari akan menuntut balas.

Tapi siapa yang masih peduli kemanusiaan—kemerdekaan telah
tanpa cinta. Jalanan seperti mati, mengaduk-aduk isi dada.
Di sanalah ayah menyimpan gerimis—seekor rubah sedang

menangis kehilangan kekasihnya; seorang gadis bercerita
tentang padang rumput dan seekor burung di seberang jalan.

(2011)

*Puisi ini akan masuk dalam antologi Forum Sarbi

17 November 2011

Merilis Daftar Buku yang Pernah Memuat Nama Saya

1. Kepada Cinta
2. Alusi
3. Kain Batik Ibu
4. Musibah Gempa Padang
5. G 30 S
6. Akulah Musi
7. Memburu Matahari
8. Dongeng Afrizal
10. Jurnal Amper
11. Empat Amanat Hujan
12. Si Murai dan orang Gila
13. Hampir Sebuah Metafora
14. Koloid
15. Zane, Diary dan Cinta
15. Teka-teki Tentang Tubuh dan Kematian
16.
17.
18.






Kepada Cinta

Memuat dua judul:
1. Angin September
2. Love and Friendship


Alusi

Kumpulan puisi, beriisikan 88 puisi.


Kain Batik Ibu memuat satu cerpen berjudul Nol: Angka--Manusia

16 November 2011

Katarsis, Sastra, dan Sutasoma




Saya pernah begitu terperangah menyaksikan penampilan Cok Sawitri dan Ayu Lakshmi di perhelatan konser koin sastra. Selain pembacaan puisi yang memukau, dipadukan dengan musik, nyanyi, dan tari, ada kalimat yang begitu menyedot perhatian saya. Yaitu ketika Cok mengutip kata-kata dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular mengenai definisi sastra (kurang-lebih) bening telaga, bayang bulan memantul sempurna di atasnya.

Saya juga pernah mengalami fase, memandang sastra dari sisi teknik semata. Mengutip De Poetica Aristoteles mengenai metafora sebagai dasar memandang keberhasilan sebuah puisi. Bahwa metafora lahir karena keterbatasan bahasa dalam merengkuh realitas, itu yang harus disepakati. Bahwa kemudian metafora membentuk ruang sebagai sebuah semesta—menghablur dari hanya sebuah pernyataan puitik, itu menjadi aksioma kedua.

Kritik sastra pada bakunya adalah perihal di atas teori dan sejarah sastra (dalam tiga unsur sastra). Akan tetapi, yang lamat saya sadari kemudian, kritik sastra memiliki dimensi yang tidak baku. Ia bisa didekati dari berbagai sudut pandang, sehingga diharapkan disiplin-disiplin ilmu yang ada dapat juga memandang sastra dalam sebuah kritik. Hingga kemudian sastra tidak menjadi eksklusif, bertahan di atas teori-teorinya sendiri. Keeksklusifan itu sendiri pada dasarnya disebabkan oleh pelaku sastra dan pelaku sejarah sastra itu sendiri, terutama melihat apa yang telah banyak terjadi di Indonesia, bahwa sastra dipolitisasi, sastra dikuasakan dan dengan kuasa itu oknum-oknum tertentu membangun dinding tebal, monumen, menara, yang tinggi menjulang, namun ia hanya bisa dilihat dari kejauhan sehingga ketika masyarakat melihat sastra, ia akan seperti sesuatu yang “asing”, “tak terjangkau”, dan pelan namun pasti, sastra menjadi dunia tersendiri yang tidak terpolarisasi di masyarakat.

Hingga ketika era cybersastra muncul ke permukaan, kebebasan berekspresi itu meluap tiba-tiba. Tulisan-tulisan yang diatasnamakan puisi itu muncul ke permukaan, sementara beberapa pihak yang selama ini memiliki “kekuasaan” dalam menyeleksi, mengurasi, memilih puisi-puisi yang pantas untuk ditampilkan di media menyebut fenomena itu sebagai “sastra sampah”.

Saya tidak akan membahas bagaimana kemudian fenomena itu berlanjut, namun saya mengingat Pablo Neruda yang sebagai seorang penyair pernah hendak dicalonkan sebagai calon presiden Cile. Bila kita membaca sajak-sajaknya, sebenarnya kita sangat dapat memperlakukan mereka sebagai sajak cinta biasa. Saya yakin mereka yang awam puisi pun, akan bisa menikmati sajak-sajak Neruda seperti judul-judul “Malam ini aku akan menulis baris puisi yang paling pedih”, “Aku tidak mencintaimu kecuali karena aku mencintaimu”. Di Indonesia sendiri, ada seorang kakek tua yang salah satu sajaknya menjadi sajak paling popular, yaitu Sapardi Djoko dengan “Aku Ingin”. Apakah sajak-sajak tersebut memang berupa sajak cinta biasa?

Saya selalu mengacu pada sebuah pendapat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yaitu katarsis. Katarsis adalah pelepasan, atau bila mengacu ke Injil ia berarti penyucian diri. Sebuah puisi yang sangat baik harus memiliki fungsi ini (menurut saya). Penulis mengalami katarsis. Pembaca pun mengalami katarsis. Tidak masalah bila kemudian katarsis yang timbul di antaranya tidak serupa karena bisa saja pemaknaan yang dilakukan oleh pembaca jauh melampaui harapan penyairnya.

Artinya di sini, selain menulis puisi, butuh jiwa yang besar untuk membaca puisi. Jiwa inilah yang kemudian menginterpretasikan sebuah sajak ke pemaknaan yang agung. Saya menganggap rakyat Cile pasti mengetahui, menginterpretasi Neruda lebih dari sebuah sajak cinta biasa. Ada muatan politik, filsafat, antropologi, psikologi, sampai spiritual di dalamnya. Dari stigma ini, sebenarnya saya ingin menyimpulkan, seseorang yang menyebut sebuah sajak sebagai sampah, bisa dituding memiliki jiwa sampah juga.

Akan tetapi¸ saya tak hendak menyimpulkan demikian, karena dua sisi katarsis memiliki dua mata pisau. Bila saja seseorang dikritik sajak sampah (tentu saja sebuah kritik harus memiliki landasan, bukan asal mengecap/menyatakan), ia harus kembali bermeditasi, mematangkan dirinya karena sebuah karya sastra tidak bisa melepaskan diri dari kapasitas penulisnya. Ia harus bertanya, menggali jauh ke dalam dirinya sendiri, dan melupakan jalan ke atas karena kesempurnaan, karena Tuhan sebenarnya ada di dalam diri sendiri.

Maka benarlah Sutasoma itu, bahwa telaga yang dapat memantulkan bayang bulan adalah telaga yang bening seutuhnya, yang tenang seutuhnya. Dan analogi telaga itu adalah hati Anda.

14 November 2011

Hujan Menulis Ayam


Tentang Judul dan Tardji


Bila membaca judul di atas, ingatan kita akan tersengat oleh kumpulan cerpen milik Tardji berjudul sama. ‘Kebesaran’ Sutardji Caldzoum Bahri tentu tidak dibangun semata-mata dari hanya kredo mantra atau upayanya melepaskan diri dari pendefinisian leksikal—kata-kata dijungkirbalikkan sedemikian rupa hingga mereka memiliki definisi tersendiri yang bebas, mandiri, atau tidak terikat logika. Tardji, barangkali, mengembalikan pengertian kata sebagai wahyu—bahwa wahyu/kehendak Ilahiah tidak mungkin terperangkap dalam ruang dan waktu. Kata-kata (sebagai cerminan kata-kata yang berasal dari Tuhan) itu tidak hanya dinamis, tidak hanya beragam pemaknaan, tetapi juga memiliki fungsi hermeunatis: penemuan dan seni.

Namun, judul ini tak hendak membahas Tardji dan kredonya. Judul ini juga bukan ingin menelaah kumpulan cerpen Hujan Menulis Ayam dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Judul ini hanyalah sebuah pintu dari kedinamisan bahasa, pola-pola yang terbentuk secara disengaja maupun tidak disengaja kemudian pola itu justru menjadi jamur parasit yang pelan-pelan menghabisi nilai dasar bahasa sebagai fungsi komunikasi.

Makhluk Itu Bernama Telepon Seluler

Tujuh tahun lalu, ketika kali pertama saya mengenal telepon seluler, saya belum terbiasa menerjemahkan bahasa SMS/pesan singkat yang biasa dikirimkan oleh teman-teman saya. Saya menduga-duga, jangan-jangan ini karena memang kemampuan berbahasa saya yang kurang baik, atau ada yang salah dengan operator sehingga huruf-huruf yang diketikkan berubah otomatis menjadi simbol-simbol. Misalnya saja, pR1N6, k4mU l461 4p4? atau aqtuchgabisahngelupainkamu atau i dh blg kmrin kl u hrs dtg jm5, bkn jm7. Maka, manakala saya tetap mencoba menulis dengan bahasa yang baku, mereka malah berkata, “k0k k4mU k4kU b4n6et s1h?

Lamat-lamat saya pun mulai terbiasa dengan bahasa alien itu. Meski mencoba bertahan dari semua godaan, sedikit-sedikit saya pun latah menyingkat atau mengubah kata demi memenuhi kuota karakter yang dapat dimuat dalam satu tarif sms, mengingat saat itu tarif sms masih relatif lebih mahal dibandingkan saat ini.

Saya kini jadi berpikir, seandainya orang-orang yang menginisiasi kebiasaan menulis pesan singkat semacam itu berprofesi sebagai penyair, bom yang diledakkan barangkali akan lebih menggelegar ketimbang Tardji. Saya bayangkan, dengan gagah mereka menyatakan kredo pesan singkat di dalam puisi, melampaui fungsi teks, dan mencatut Descartes sebagai dasar penyatuan simbol-simbol matematika dalam berbahasa!

Karantina Duta Bahasa

Ketika tiba-tiba terpilih menjadi Duta Bahasa Provinsi Sumatera Selatan 2009 lalu, saya tidak bisa membayangkan pengalaman yang akan didapatkan selama 7 hari karantina di Pusat Bahasa kemudian. Saya ingin berteriak waw, amboi, aduhai karena di sinilah (barangkali) ahli-ahli bahasa itu berasa, di sinilah saya bisa mendapatkan banyak pengetahuan tentang kebahasaan itu.

Namun, dari hari ke hari pemateri tampak membosankan. Semua hal yang diutarakan tampak begitu kulit. Saya ingin mereka mengelupasnya jauh ke tulang, ke sumsum, ke pembuluh darah, ke jantung! Hanya saja, para ahli bahasa itu mungkin belum mengenal Van Bouri, Conditio Sine Qua Non sehingga hal-hal yang dibanggakan adalah prestasi pembentukan undang-undang kebahasaan yang bahkan tidak memiliki sanksi di dalam pasal-pasalnya. Bayangkan, di pengantar ilmu hukum saja dikatakan salah satu unsur hukum adalah memiliki sanksi, tetapi undang-undang (sekelas undang-undang) memuat pernyataan tanpa adanya hukuman bagi yang melanggarnya!

Saya ingin bertanya banyak, tapi saya ragu apakah mereka bisa menjawabnya. Semisal, sejauh mana parameter pernyataan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan standardisasi pembentukan sebuah kata. Di acara tersebut, para panitia yang terlibat sibuk membenahi penggunaan kata-kata yang bukan bakunya, bertanya kepada kami tentang bahasa baku ini-itu tapi tak pernah membeberkan alasan penggunaan kata-kata tersebut. Sebut saja, mouse menjadi tertikus, hembus menjadi embus, dan mike menjadi pelantang.

Entah prihatin atau mengolok-olok kondisi berbahasa pemuda-pemudi sekarang, topik-topik yang tersaji di menu diskusi tidak lepas dari bahasa gaul atau bahasa prokem. Saya sebetulnya ingin mengembalikan alas berpikir kami pada saat itu, aksioma pertama bahwa bahasa itu dinamis. Lantas, mengapa kami malah tidak berpikir, mencoba mencari jawaban mengenai sebabnya?

Di hari ke-3, ketika Remy Silado datang dengan gamblang menyatakan kesalahan berada di Pusat Bahasa yang begitu gagal mengakomodasi arus kedinamisan itu, saya tertawa terbahak-bahak di dalam hati. Remy Silado mengungkapkan ketidakpopuleran bahasa Indonesia yang benar disebabkan pusat bahasa yang tidak sensitif terhadap selera penggunaan bahasa dipadukan dengan tidak adanya sinergi untuk membendung kuatnya pengaruh bahasa dan budaya asing.

Memang ada yang salah dengan pusat bahasa ini. Setidaknya selama 1 tahun lebih saya berkenalan dengan dunia bahasa, tidak sekalipun saya menemukan peran pusat bahasa dalam komunitas ataupun turunnya mereka ke grass root. Kegiatan-kegiatan yang diadakan hanya bersifat seremonial, menara, namun sekadarnya. Contohnya saja, penyelenggaraan duta bahasa ini, saya sama sekali tidak menemukan umpan balik, peran pusat bahasa bakda pemilihan sebagai mediator, fasilitator bila ada ide yang dimunculkan oleh peserta. Sampai dua tahun berlalu, duta tidak memiliki tupoksi duty. Bahkan ketika saya diwawancarai oleh wartawan muda dari inioke.com beberapa bulan lalu, saya mengatakan tidak ada tugas yang dilakukan secara bersama-sama oleh para duta setelah menjadi panitia konferensi bahasa. Saya hanya bisa terus menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan (diniatkan) benar.

Alay dan Ababil


Ketika generasi ini muncul dan menyeruak, saya lebih garuk-garuk kepala. Bila tujuh tahun lalu bahasa pesan singkat masih sebatas pencampuradukkan abjad dan angka, penihilan spasi, kapitalisasi yang sembarangan, dan penyingkatan kata, sekarang bahasa lebih mengalami deviasi yang membikin saya putus asa membacanya.

Barangkali benarlah mereka disebut alay alias anak layangan karena bahasa seperti hanya diikat sebuah benang. Yang tidak bisa melihat benang, tidak tahu cara memarit lawan. Pun ababil, dari kata babil, yang berarti bandel, bengal. Generasi ini sama sekali tidak mau berbahasa yang bisa dibaca. Mereka seolah berbakat dalam mengenkripsi sesuatu sehingga yang dienkripsikan itu hanya bisa dibaca oleh sesama jenis mereka.

Mencoba memahami fenomena ini, saya akhirnya kemudian menyadari bahwa kedinamisan bahasa bukan hanya pengaruh dari ketidakmampuan pusat bahasa, keminiman fasilitas kepustakaan, belum merakyatnya penggunaan bahasa Indonesia yang benar, tetapi juga faktor psikologi dan sosio-kemasyarakatan yang kian akut. Jika Karni Ilyas mengutip Luis Suarez yang menyebutkan carut-marutnya persepakbolaan suatu negara adalah cerminan carut-marutnya perpolitikan bangsa tersebut, saya akan mengekivalensinya menjadi carut-marutnya kebahasaan suatu negara adalah cerminan carut-marutnya bangsa tersebut.

Menulis Ayam, Disapu Hujan


Tulisan yang berantakan sering diidentikkan dengan tulisan cakar ayam. Nah, coba bayangkan bila kita menulis dengan tulisan cakar ayam di tanah kemudian hujan turun menimpanya.

Tardji barangkali tidak menyangka di pengujung hayatnya kini, remaja Indonesia mulai belajar melampaui kemantraannya itu tanpa bisa menyalahkan siapapun. Jika Tardji yang disalahkan, saya ragu apakah mereka bahkan pernah mendengar nama Tardji? Jika guru-guru bahasa Indonesia di sekolah yang disalahkan, saya ragu guru-guru mengajar tidak menggunakan bahasa Indonesia? Jika kurikulum yang disalahkan, saya ragu para penyusun kurikulum itu bukan orang-orang yang kompeten? Bagaimana kalau Tuhan saja yang disalahkan, kalau benar beritanya bahwa manusia hanya berasal dari Adam, mengapa turunan-turunannya menghasilkan banyak bahasa?

Di tiap Oktober, saya sering merenungkan ini, di antara gegap gempita bulan bahasa (salah satunya Gempita Bulan Bahasa powered by Indosat di Rumah Kata, Bogor), di antara sekian banyak perlombaan menulis untuk remaja, adakah mereka (kegiatan-kegiatan tersebut) mampu menyentuh ruh para remaja tentang filosofi berbahasa? Bahwa, meskipun bahasa selalu terbatas dalam mengungkap realitas, ia memiliki fungsi komunikasi yang seharusnya menguniversal? Seperti halnya ketika kali pertama menginjakkan kaki di Sumbawa Besar, saya sangat terkejut. Di Sumbawa Besar, orang-orang tuanya sangat fasih berbahasa Indonesia dengan sintaksis yang benar, dengan penggunaan kata yang tepat, meski dengan logat yang tak bisa ditinggalkan. Saya membayangkan, sepuluh dua puluh tahun lagi, apakah persentase penggunaan bahasa Indonesia (sebagai alat pemersatu bangsa) ini akan meningkat atau malah terjun bebas tanpa parasut? Ah, hanya waktu yang dapat menjawabnya.

(Labuhan, 2011)

01 November 2011

Simbiosis (Sumatera Ekspres. 30 Oktober 2011)



Simbiosis

Aku ingin membagi setengah jantungku, untukmu. Dan harga yang kuinginkan dari itu adalah kau menjadi sebelah sayapku. Sebab sayapku tak lagi dua, hingga aku tak lagi bisa terbang sempurna. Sebab sayapku tinggal sebelah. Sebelah satunya telah patah. Dan sebab aku juga tahu, sayapmu juga tinggal sebelah. Juga telah patah. Tidak ada salahnya bukan jika kau menjadi sebelah sayapku? Hingga kita bisa terbang bersama, berdua, kemana pun kau dan aku menginginkan.



“What I need is to be needed, what I loved is to be loved.”

Aku berterima kasih kepadamu karena telah membuatku berpikir kau membutuhkanku. Aku tidak pernah benar-benar tahu, angin apa yang membawamu ke hadapanku, dan menggodamu untuk membuka dirimu di hadapanku. Tak perlu dua kali kau tanya, aku tak merasa terganggu. Aku benar-benar menyukaimu. Menyukaimu karena telah membuatku berpikir kau membutuhkanku.

Aku ingin sekali bisa mencintaimu. Kau percaya? Atau malah tertawa geli mengelus kepalaku, dan berkata bahwa ucapanku cuma bualan yang takkan bisa menjadi kenyataan?

Faktanya, yang kuakui secara logika, kita memang tak bisa saling mencintai. Tentu kau tahu kenapa, karena kita begitu berbeda, meski kuakui juga bahwa kita memiliki banyak kesamaan. Mungkin kesamaan-kesamaan itulah yang seringkali membuatku berpikir, aku ingin kau berada di sisiku. Selalu.

Sebab aku sudah terlanjur menyukai bola matamu, yang memandangku dengan penuh keberartian. Tidak mengganggapku sebagai simbol keangkuhan. Sebab aku juga sudah terlanjur menyukai lembut suaramu, yang menyapa pagiku dengan kehangatanmu. Tidak pernah menghentakku. Sebab aku sudah terlanjur menyukai tiap kata yang senantiasa kaurangkai untukku, mengajakku bicara dari hati ke hati.


“Kupu-kupu biru, itu aku,” katamu di suatu saat.

Aku tak begitu mengerti, kenapa kau menganalogikan dirimu sebagai kupu-kupu biru? Aku mengharap hijau kembali namamu, seperti dedaunan yang memberi aroma kesejukan. Sedang biru adalah simbol ‘kedalaman’. Maksudku, kau seolah ingin berkata bahwa kau tak semuda itu dipahami. Kau seolah membisikkan rasa tentang kedalaman jiwamu yang menuntutku untuk menyelami diri jauh dan lebih jauh lagi, sampai ke dasar jiwamu. Begitu kah?

Sebab aku adalah pria malammu, katamu.

Kau seolah mengerti, aku adalah laki-laki yang ingin menjadi malam. Bukan berarti aku ingin menjadi ‘gelap’. Tidak. Justru aku ingin melindungimu dari gelap itu, seolah selimut yang menyelubungimu hingga kau terlelap dan bangun dalam keadaan tersenyum di esoknya.

Tanpa kau minta, aku bersedia menjadi pria malammu.



Aku sering mengatakan kepadamu, aku butuh tempat menyandarkan kepalaku. Sebab kepalaku ini terasa sangat berat. Aku ingin membagi bebannya, bukan berarti aku ingin menjadi beban, kepada siapapun yang bersedia duduk di sampingku.

Tidak… semakin lama, aku semakin ingin membuka diriku yang sebenarnya memiliki banyak kerapuhan di balik topeng keangkuhan yang kubuat. Sepertimu yang sudah lebih dulu mempersilahkan aku masuk ke duniamu. Sebab duniaku sangat sulit dipahami jika aku sendiri tak membukakan pintu pemahaman. Sebab duniaku terlalu pekat, kau takkan bisa melihat, tak bisa mendengar, semua panca indramu tak berfungsi di dalamnya. Yang hanya bisa kau lakukan adalah mengikuti perintah hatimu, mengikuti aliran sinkronisasi antara hatimu dan hatiku. Maka yang jadi pertanyaan adalah, apakah kau merasa hatimu sudah memiliki sebuah synchro dengan hatiku? Laiknya sebuah benang merah kasat mata yang menarikmu untuk mendekat padaku?



“What will happen, just happen.”

Seandainya perbedaan itu tidak menjadi sebuah alasan bagi logika, mungkin kita akan benar-benar saling jatuh cinta. Aku membayangkanmu mempertanyakanku saat aku selalu memakai kata ‘mungkin’ di setiap kalimat pernyataanku. Ya kan? Sebab dunia ini penuh ketidakpastian. Sepasti-pastinya sesuatu, selalu ada ketidakpastian mutlak di dalamnya. Dan mungkin saja (lagi-lagi aku menggunakan mungkin), kita berada di dalam areal ketidakpastian itu, bermain-main di dalamnya. Pertanyaannya, sampai kapan kita mampu bertahan bermain di dalamnya? Adakah hati kita, terutama hatiku, mampu menolak kehadiranmu yang makin lama makin terasa ada di hari-hariku?

Sementara untukmu, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, as long as you need me, I’ll be here for you (not to be ‘there’). Have you believed?




AKU TENGAH MENANTIMU*
Aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
berapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas

awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
kudengar berulang suara gelombang udara memecah
nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah

telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak sepi
ditengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama

*)Puisi Sapardi Djoko Damono


(Palembang)


Pringadi Abdi Surya dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang bekerja di Ditjen Perbendaharaan Negara. Blognya: http://reinvandiritto.blogspot.com

Pantai Mutun