Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2009

Kenapa ada lima belas menit yang terlewat dari gerbang sekolah itu?

Lima belas menit mungkin sedikit;
duduk di toilet, membaca koran, sambil
menyanyikan kenangan tentang garam-garam,
dan pasir yang diambil di pesisir
akan habis juga
menuju menit-menit setelahnya

tetapi, lima belas menit ini
mampu menutup pintu gerbang
membariskan kaki-kaki
seperti sebuah antrian
yang panjang
demi mendapatkan
teriakan peringatan
dan tamparan di pipi
sebagai bonus

lima belas menit ini pun
adalah pasar-pasar
dan berjubel kendaraan
yang bertumpuk
dengan dalih jam kerja
dan sinar matahari yang terik

aduh, papa…
bisa kau ganti lima belas menit ini
dengan lima belas menit lain
di jam yang rusak itu?

(2009)

Hatiku Pohon

hatiku adalah pohon-pohon
di hutan hujan tropis
sesekali menanti tangis
atau kematian
dari gergaji mesin
meraung-raung
menjadi gaung
dibawa angin
dibawa daun-daun
dibisikkan ke rawa-rawa
dan sungai-sungai
sebelum kembali sunyi

hatiku adalah pohon-pohon
di taman-taman kota
sejumlah jari
atau kurang dari
tetapi musim
adalah kabar burung
yang menyampaikan rindu
dari anak-anak laut
menggenang
berenang
menggunjingkan sampan
dan banjir Nuh
yang menenggelamkan
gunung-gunung

hatiku adalah pohon-pohon
atau mungkin akar
dan belukar
yang terbakar
dalam kobar api rindu
api kau itu
yang memantik rasa cemburu

hatiku adalah pohon-pohon
yang kutanam
di beranda rumah kau
kau tulis gambar hati
dan sepasang nama
sebuah janji
untuk saling mencintai
dan mempercayai

Tak Ada Sajak Buat Ibu

barusan ibu kirim sms, minta bikinin sajak
padahal aku benar-benar sedang sesak
sedang tak bisa bikin sajak

muter otak
ke kiri
dan ke kanan
baca sajak lain
tentang ibu
mungkin bisa jadi
sebuah
atau dua boleh juga
terus bikin ibu bahagia
membaca sajak aku itu

tetapi tak ada ibu yang sama
seperti ibu aku itu
ibu yang memetik bulan
kemudian memasaknya pagi-pagi
dihidangkan dengan goreng teri
lezat sekali
aku jadi penuh energi
berangkat ke sekolah
dengan bulan jadi nutrisi

aduh, aku jadi rindu ibu
ibu ibu, ibu mendengarkanku?
ih, angin cemburu
ga mau menyampaikan rinduku
ini pasti gara-gara
nggak ada yang rindu
sama angin itu

Tiga Bulan Setelah Mawar Putih Itu Layu

tiga bulan saja
kita akan duduk
sambil berpikir
tentang mawar
-mawar putih
yang layu
sendiri

mungkin kita lupa
menyiramnya
dengan airmata
atau air kencing
yang pesing
sebab kita kerap
kekurangan pupuk
urea atau organik
dari kayu-kayu lapuk
daging-daging lapuk
atau kau juga
yang bujang lapuk

mungkin pula
gara-gara matahari
yang pilih kasih
diam-diam tak mau
menyinari kebun bungaku ini
seperti kau itu
yang menolak datang
padahal sudah janji
menyaksikanku
membaca puisi
sambil menyerahkan
mawar putih ini
kau malah pamerkan mawar lain
yang bukan putih
tetapi merah
membara
seperti warna
celana dalammu itu
yang diam-diam tersingkap
oleh angin genit
yang matanya
sudah bintit

aih, tiga bulan saja
setelah mawar putih ini
kusiram dan kupupuk
tiap minggu
tetapi layu juga
gara-gara mawar merah
yang tadi kau bawa itu

Di Merah Rona Wajahmu

tiga titik darah
di merah rona wajahmu

ada bulan yang memar
sebelum mencair
lalu mengalir
di sungai-sungai
yang tak
memiliki
hulu

kemudian menjadi dahak
bergerak
pelan
-pelan
mengejan pulau-pulau asing
yang pernah ingin
kau kunjungi

tetapi wajahmu kini
telah menjadi
pulau lain itu
yang mengasingkan tubuh
pada selimut
dan bantal-bantal lusuh
dikelilingi benang-benang
ditangis orang-orang


tiga titik darah
di merah rona wajahmu

mungkin kali lain
di samudra bernama engkau
aku akan diam
dan mengecupmu
dua kali

sambil berharap
engkau kembali

Ketika Kausaksikan Sriwijaya FC Ditahan Imbang Persib Bandung

Kayamba sudah lima gol sebelum ini dan kau mengirim pesan singkat
sudah siapkah aku bermandikan keringat dan berteriak hingga sekarat?

kau punya dendam dengan orang sunda, ditinggal menikah
dengan dalih takut durhaka, tetapi masalah kemapanan semata

makanya kau benci sekali orang bandung, persib bandung
dan segala macam hal yang berbau bandung, pun warna biru

seperti kostum yang kerap kau lihat di langit itu.

*

entah bagaimana kau menyelundupkan petasan, dan ketapel
dan batu-batu tajam yang mungkin kau pungut di jalanan

"aku akan menembak sang kiper, juga sang striker yang mukanya
mirip dengan joker, selalu seolah troublemaker"

tetapi ketika kayamba mencetak gol keenam kau bersorak gembira
dan menyimpan ketapelmu di bawah kursi yang setia kau duduki

*

kau sudah berpikir sriwijaya akan menang, dan membawa tiga poin penuh
mengantarkan kita ke posisi kedua di bawah arema indonesia

tetapi tepat menit ke-90, kita kebobolan dan matamu memancarkan kemarahan

kau ambil saja ketapelmu, melemparkan bat…

Dua Hal Yang Ingin Kuungkapkan Kepadamu

1. Bagaimana Caranya Menerjemahkan Rindu?

rinda, rindi, dan tak ada kata rindu
padahal kamus ini ngakunya lengkap sekali
ada sejuta kata yang berhasil ditangkap
kemudian diterjemahkan oleh para ahli

tetapi, kemana rindu pergi?

rindu mungkin sudah menjadi telepon genggam
yang suka sekali berdering malam-malam

rindu mungkin sudah menjadi televisi
yang asik sekali menayangkan tubuh-tubuh seksi

rindu mungkin saja sudah jadi presiden
yang selalu siap bersumpah tak terlibat dalam insiden


2. Harus dengan Apa Kulambangkan Kata Cinta?

seorang anak laki-laki bertanya,
kenapa burung garuda yang jadi lambang negara
bukan ayam jagonya yang selalu berkokok dengan ramah?

karena kita tidak menyembelih burung garuda saat lebaran, Nak.

seorang perempuan yang baru pertama kali kasmaran ikut bertanya,
bagaimana dia harus melambangkan cinta pada sang lelaki pujaan?

nah, kau potong seekor ayam jago, dan ambil tajinya
katakan pada lelaki itu, mana yang lebih tajam: tajimu

atau taji ini?