Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2012

Joko Pinurbo. Puisigrafi dan Hidup

Joko Pinurbo (jokpin) lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; bermukim di Yogyakarta. Belajar berpuisi sejak akhir tahun 1970-an. Karya-karyanya dimuat dalam berbagai bunga rampai; sebagian telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ia sering diundang baca puisi di berbagai acara sastra. Selain digubah menjadi musik, sejumlah sajaknya juga dipakai untuk iklan. Buku kumpulan puisinya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Trouser Doll (terjemahan Celana; 2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004, cetak ulang 2010), Pacar Senja (Seratus Puisi Pilihan; 2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (cetak ulang tiga kumpulan puisi, 2007). Penghargaan yang telah diterimanya: Hadiah Sastra Lontar (2001), Sih Award (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001), Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2002), Khatulistiwa Literary Award (2005).
Ulang Tahun
Hari ini saya ulang tahun. Usia saya genap 50. Saya duduk membaca di bawah jend…

Lomba Menulis Cerpen Banten

Lomba itu sendiri didisain secara serius, hal itu dibuktikan  salah satunya dengan menghadirkan dewan juri yang kompeten  di bidangnya, yakni, Iwan Gunadi (kritikus sastra),  Zen Hae (Cerpenis) dan Yanusa Nugroho (Cerpenis).
Berikut syarat lomba dan hadiah bagi para pemenang:

Lomba Menulis Cerpen Faber Castle

Catatan Hati: Penghargaan Diri, Penghargaan Orang Lain

"Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Barang siapa mengenal Tuhannya, maka ia tak mengenal apa-apa."
[Salahuddien GZ]Kadang-kadang saya bertanya, apakah saya telah benar-benar mengenal diri saya. Dua puluh empat tahun lebih saya hidup, saya masih merasa ada bagian diri yang tak saya kenali. Perjalanan demi perjalanan yang telah dilalui memang memberikan banyak pemahaman, tetapi yang telah dipahami belum membuat saya paham mengenai hidup.

Adik kelas saya, Indah Permatasari pernah bilang, kerap kita dipertemukan seseorang yang kita sayangi bukan untuk dimiliki, tetapi justru untuk mengajari kita sesuatu. Terlepas dari sayang dalam taraf spesial atau tidak, saya sering merasa bersyukur dikelilingi teman yang baik. Hanya saja dari sekian banyak teman itu, ada satu orang yang pernah terang-terangan mengkritik perangaiku. Namanya Isyatur.


Catatan Hati: Syukur, Sebagai Kunci Kebahagiaan Hidup

Janganlah tertawa melihat orang jatuh, sebab tidak ada suatu yang jatuh disengaja, tetapi bersyukurlah kepada Tuhan karena kita sendiri tidak jatuh. Di dalam hal jatuh janganlah percaya kepada diri sendiri dan kepada datarnya jalan karena menurut laporan dinas lalu lintas lebih banyak mobil jatuh di tempat datar. Jika dibandingkan dengan yang jatuh di tempat pendakian atau penurunan yang berbelok – belok. (Buya Hamka)
Ketika saya mengantarkan Zane ke dokter, sekitar satu tahun lalu, dan ia dinyatakan positif hamil, seseorang di sana mengatakan, berhati-hatilah bila membawa istrimu naik motor, teruama pada lubang-lubang dan kerikil-kerikil yang kecil. Kita seringkali meremehkan hal yang kecil itu, tapi tak jarang orang terpeleset karena mengabaikan mereka.


Cerpen Seno Gumira Ajidarma: Rembulan dalam Capuccino

Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappuccino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. Cappuccino¹ dalam lautan berwarna coklat, datang langsung dari tercemplung cangkir, tenggelam sebentar, tapi lantas pingpong-tapi bukan bola pingpong, ini rembulan. Semua orang berada dalam kafe diam-diam melangkah keluar, menengok ke langit, ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa terapung-apung cangkir perempuan sebenarnya, seperti telah pelajari semenjak di sekolah dasar, yakni yang tiada pernah mereka saksikan sisi gelapnya, dan rembulan itu memang sudah tidak ada. Mereka bergumam, tapi tidak menjadi gempar, bahkan pura-pura seperti tidak terpengaruh sama sekali. Mereka kembali duduk, berbincang dengan bahasa yang beradab, namun diam-diam melirik, seperti kepalsuan yang telah biasa mereka peragakan selama ini. Para pelayan yang berbaju putih lengan panjang, mengenakan rompi, ber…

Catatan Hati: Mulut yang Manis

Entah berapa malam yang lalu, Zane tiba-tiba berbisik kepada saya, "Uda, kok mulut Uda manis sekali sih?"

Saya tidak tahu apakah pertanyaan itu merupakan sebuah ungkapan pujian atau malah kekhawatiran. Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama saya dicap demikian. Mama Nelfi, ibu Zane, bahkan dalam beberapa kesempatan mengatakan, "Manisnya mulut Adi ini ya?"

Menilik ke belakang, saya pernah dikenal (dan terkenal) bermulut pedas. Itu terjadi tatkala saya duduk di bangku kelas III SMA. Saya sangat pendiam dan ketus di kelas. Maksudnya, saya lebih sering diam. Namun bila berbicara selalu ketus dan sering menyakiti perasaan orang lain. Pernah suatu ketika saya membikin nangis Dian, jilbaber yang duduk di bangku sebelah saya. Saat itu entah dia menanyakan apa, saya tak begitu peduli. Begitu dia selesai bicara, saya katakan, "Tolong ya, kalau mau bicara sama saya, sikat giginya dilepas dulu..." Dian pun langsung ngelonyor pergi. Kata Genta, dia menangis di kamar ma…

Cerpen Suara Merdeka: Macondo, Melankolia (21 November 2010)

oleh: Pringadi Abdi Surya
“ALINA, tolong aku!”
“Kamu di mana sekarang?”
“Di kartu pos.”
“Kartu pos?”
“Iya, aku terkurung di dalam kartu pos.”
“Sontoloyo!”
Begitulah, Alina tidak percaya aku berada di dalam kartu pos. Seorang pria berkaca mata hitam dan bertopi khas koboi tiba-tiba menarik kerah bajuku sebelum memukul mataku—dengan tenaga yang cukup untuk meninggalkan lebam—lalu mendorongku masuk ke dalam kartu pos. Beruntung, setelah beberapa menit aku terpekur di dalam, memandangi lanskap kota tua yang sepertinya tak berpenghuni, kafe-kafe yang lengang, gerobak buah yang ditinggalkan, dan sobekan koran minggu yang terbang ditiup angin, aku sadar aku membawa handphone dan meski sisa pulsanya tidak cukup buat menelepon, masih ada sisa bonus SMS harian. Dan satu-satunya yang kupikirkan (dan berada dalam pikiranku) cuma Alina. Karena itulah aku mengirim pesan singkat kepadanya.
Beberapa saat yang lalu, aku berjanji untuk bertemu Alina di Kota X. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai…

Cerpen Koran Tempo, 29 April 2012: Si Penebar Pasir dan Si Pemanggil Hujan

oleh: Yudhi Herwibowo




SUDAHKAH engkau melihat jejaknya? Tubuhnya yang besar dan lebih tinggi dari orang-orang pada umumnya, telah membuat jejaknya lebih tertanda di tanah. Angin tak akan mudah menghapusnya, dan debu tak akan mudah menutupnya.
Dialah Matu Lesso.
Orang-orang di sepanjang pantai selatan Flores ini lebih kerap memanggilnya Si Pemanggil Hujan, walau ia sendiri lebih suka menyebut dirinya Si Penebar Pasir.

Bukune: Sayembara Menulis Cinta Pertama

Deadline: 20 September 2012
Cinta pertama, mungkin ia bagai rasa manis yang kali pertama mampir di lidahmu, atau rasa pahit yang membuatmu mengernyit, atau juga aroma kopi yang kali pertama menguar saat kau terjaga. Tak terlupakan.
Bagaimana kisah cinta pertamamu? Manis? Pahit? Pahit-manis? Tak terlupakan? Abadikan kisah cinta pertamamu dalam sayembara “Ini Cinta Pertama” yang diadakan Bukune ini.
Ketentuan Sayembara Tema cerita adalah kisah cinta pertama. Kisah ini berupa pengalaman nyata kamu dalam merasakan cinta yang kali pertama hadir di hatimu.Lomba ini terbuka untuk siapa saja, tanpa batasan usia.Cerita berupa kisah nyata yang dialami penulis, ditulis dalam bahasa Indonesia, dan orisinal (bukan saduran, bukan terjemahan, bukan jiplakan).Panjang cerita 5—8 halaman kertas A4, Font Times New Roman 12, spasi 1.Sayembara dibuka hingga Kamis,20 September 2012, pukul 23.59 WIB.

Gagas Media: Lomba Menulis Cerita Patah Hati

LOMBA MENULIS CERITA ‘PROYEK 14: DONGENG PATAH HATI’
Masih ingat pengalaman pahit ketika orang yang kau cintai memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang kalian bina selama ini? Atau, merasa mampu menulis cerita yang bisa meremukredamkan perasaan pembacanya? Kalau jawabannya iya, berarti kamu WAJIB ikutan lomba menulis cerita ‘PROYEK 14: DONGENG PATAH HATI’ yang diadakan oleh GagasMedia ini. Caranya gampang banget: Panjang naskah 5-10 halaman (spasi 1, Times News Roman 12). Cerita boleh berdasarkan pengalaman nyata ataupun fiksi (rekaan).Di halaman pertama naskah kamu, harap menyertakan data singkat (di-copas aja, biar nggak repot :D): NAMA LENGKAP                              : NAMA PENA (optional)                     : AKUN FACEBOOK                             : AKUN TWITTER                               : ALAMAT E-MAIL                              : ALAMAT SURAT MENYURAT              : NOMOR TELEPON                            :

Lomba Menulis Cerpen & Cerber Femina 2012

info lebih lengkap bisa dilihat di Femina
dan formulir bisa diunduh di Formulir

Episode Pagi

sama-sama tak kita kenali
matahari yang bersembunyi
di rapat pelepah pohon kelapa
padahal pagi yang sama
masih saja memisahkan kita
Tuhan barangkali sengaja
menciptakan jarak
karena rasa cemburu
dan tak ada cinta
yang lebih bijak dari kedekatan
kau dan aku
maka di barat jauh
yang udaranya sedingin kutub
tak juga ada pesan singkat
yang disampaikan merpati
padahal susah payah
kutuliskan surat
berisi bau laut dan sejumlah
butir pasir yang telampau suci
untuk diijak
atau terinjak
dan pelepah-pelepah itu
gagal disibak angin
yang sedemikian malu-malu
seperti gadis kecil
mengakui perasaan pertamanya

aku dan semua kau
yang tertinggal di ujung bibirku
masih meraba
adakah matahari
akan ditemukan seseorang
lalu kita yang tak pandai bersembunyi
mencari tempat yang tak dikenali
seperti juga pahlawan
yang ditulis Toto Sudarto Bachtiar
itu?

Beberapa Sajak Terbaik di Dunia

Sonnet 18
by William Shakespeare

Shall I compare thee to a summer's day?
Thou art more lovely and more temperate:
Rough winds do shake the darling buds of May,
And summer's lease hath all too short a date:
Sometime too hot the eye of heaven shines,
And often is his gold complexion dimm'd;
And every fair from fair sometime declines,
By chance, or nature's changing course, untrimm'd;
But thy eternal summer shall not fade,
Nor lose possession of that fair thou owest;
Nor shall Death brag thou wander'st in his shade,
When in eternal lines to time thou growest;
So long as men can breathe, or eyes can see,
So long lives this, and this gives life to thee.



Undangan

datanglah, datang. pintu gerbang
sengaja kubiarkan terbuka
pelancong yang lelah karena perjalanan
akan duduk mencari angin
debu-debu yang lengket di tubuhnya
rontok, meminta dimakamkan
dijauhkan dirinya dari api karena
cahaya dan panas adalah pilihan
aku hidangkan secangkir nanah
yang disuling seperti air laut
tak ada lagi rasa luka, karena madu
dan susu telah menjadi perbincangan
sesuatu milikmu yang tertinggal
masih kusimpan di dalam dada
khawatir bila para kolektor mencurinya
dan menganggapnya sebagai antik

undangan ini tidak tertulis di selembar kertas
apalagi menyertakan alamat kediaman
biarlah, biar. aku dan semua hingar
yang kini kenangan
menunggumu
atau sebenarnya telah menunggumu
seolah-olah selamanya

Bayangan

biarlah. aku telah lelah
lari dari kenangan
bayang-bayang selalu dapat muncul
padahal tak ada cahaya
bahkan ketika kukatupkan kelopak mata
mimpi menjadi tamu tak diundang
seenaknya duduk di meja makan
meminta beberapa menu dihidangkan
aku memang seorang hamba
akan melakukan apa pun
demi seorang raja, hanya saja
dadaku yang telah seperti lemari pendingin
tak menyisakan satu pun buah
apel yang terakhir dicuri adam

pada itu aku termenung di pinggir kolam
dengan masih memejam, kuingat seseorang

Kabut

belum pulang sisa kabut
yang gagal menyusup
ke dalam kalut milikmu
seseorang masih berlindung
di balik selimut

mengingat mimpi semalam
gigi geraham tanggal
seekor burung gereja sesat
terjebak dalam ruang tamu
aku dan kesalihan sementara
lenyap karena cahaya
melihat mangga baru bunga
ratusan gugur karena cuaca
entah pukul empat sore nanti
apakah sepasukan kabut lain
akan datang menjemput mereka
sambil mengumumkan perang
setelah lama bergencatan?
padahal masing-masing kita
diam-diam bergerilya
seperti para pahlawan
sebelum agresi militer kedua
aku telah tertembak beberapa kali
di antaranya tepat di bibirku
aku kira peluru, tetapi kata-katamu
yang tiap malam mengatakan cinta
telah jadi mesiu

mula-mula ini memang tentang kabut
mula-mula kita pula tengah kalut

ANALISIS PENDEKATAN SEMIOTIK DALAM PUISI “DAUN JENDELA”KARYA PRINGADI ABDI SURYA (Ayu Amaliyah Mardhotillah)

ANALISIS PENDEKATAN SEMIOTIK DALAM  PUISI “DAUN JENDELA”KARYA PRINGADI ABDI SURYA DALAM KOMPAS
Oleh: Ayu Amaliyah Mardhotillah 09.520.0061 / A
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

ABSTRAK             Sebagai wacana sastra, konteks penyampaian makna dari sebuah puisi selalu dis

Sudut Pandang dalam Fiksi

 oleh: Denny Prabowo
Sudut Pandang (SP) merupakan salah satu unsur fiksi yang dapat digolongkan sebagai sarana cerita. Meski begitu unsur ini tidak bisa dianggap remeh.Apa yang Anda lihat dan rasakan ketika menyaksikan sebuah mobil menabrak sepeda motor, tentu akan berbeda dengan yang dilihat dan dirasa oleh si pengendara mobil yang menabrak, atau si pengendara sepeda motor yang menjadi korban tabrakan. Akibat dari peristiwa itu pun akan berbeda bagi anda, si pengendara mobil, dan si pengendara motor. Sebab itu, pemilihan SP tidak saja akan mempengaruhi penyajian cerita, tetapi juga mempangaruhi alur cerita. SP sendiri memiliki pengertian sebagai cara pengarang menempatkan dirinya di dalam cerita. Dengan demikian, SP pada hakikatnya merupakan teknik atau siasat yang sengaja dipilih penulis untuk menyampaikan gagasan dan ceritanya, melalui kaca mata tokoh—atau tokoh-tokoh—dalam ceritanya.
Ragam Sudut Pandang Friedman (dalam Stevick, 1967:118) mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang jawaban…