31 July 2010

Vagina yang Haus Sperma: Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami

Vagina yang Haus Sperma:
Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami

oleh Katrin Bandel


Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdebat dengan seorang kawan mengenai karya Ayu Utami. Setelah membaca beberapa tulisan saya yang mengkritik karya itu dan mempertanyakan politik sastra seputarnya, kawan saya tersebut dapat memahami pandangan saya. Tapi meskipun demikian, baginya novel Ayu Utami tetap memiliki sebuah kelebihan: Menurut pengamatannya, novel Saman merupakan karya pertama yang dengan cukup tepat merepresentasikan gaya hidup kelompok masyarakat tertentu, yaitu gaya hidup yang dipilih sebagian perempuan kelas menengah perkotaan di Indonesia (terutama Jakarta). “Memang seperti itulah gaya hidup dan pergaulan sebagian kerabat dan kenalan saya di Jakarta”, jelas kawan saya itu dengan merujuk pada deskripsi kehidupan keempat tokoh perempuan muda dalam novel Saman dan Larung. “Baru dalam novel Ayu Utami saya menemukan representasi realitas yang saya kenal tersebut.”

Mungkin penilaian kawan saya tersebut ada benarnya. Tidak banyak novel yang menggambarkan kehidupan perempuan kelas menengah perkotaan Indonesia sebelum terbitnya Saman (1998), apalagi dengan fokus perilaku seks. Menurut pandangan saya, pada dasarnya gaya hidup perempuan kelas menengah bukan tema yang tidak menarik atau tidak relevan sebagai tema utama sebuah novel Indonesia. Namun ada hal yang bagi saya terasa sangat mengganggu pada novel Saman/Larung dan wacana seputarnya. Baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, novel Ayu Utami tersebut umumnya tidak diperkenalkan dan dibicarakan sekadar sebagai representasi gaya hidup sekelompok perempuan perkotaan (yaitu kelompok masyarakat yang relatif kecil). Karya Ayu Utami kerapkali diperkenalkan sebagai karya feminis yang dengan berani dan subversif menyuarakan perlawanan baik terhadap tabu seputar seksualitas maupun terhadap rejim Orde Baru. Disamping itu, bahasa dan gaya tulisnya konon mengandung pembaharuan yang mengagumkan.

Sejauh ini saya belum pernah membaca pembahasan yang dapat menerangkan secara argumentatif mengapa karya Ayu Utami dapat disebut feminis atau pembaharuan bahasa dan gaya tulis apa yang dilakukannya. Tulisan yang saya baca sering begitu saja mengasumsikan kelebihan-kelebihan tersebut. Dalam pembahasan berikut saya ingin menjelaskan mengapa penilaian tersebut, khususnya penilaian bahwa karya Ayu Utami adalah karya feminis, merupakan penilaian yang salah dan menyesatkan. Disamping itu saya ingin menunjukkan bahwa kesan yang menyesatkan tersebut bukanlah hal yang bisa dilepaskan dari tanggung jawab Ayu Utami dan komunitasnya. Baik dalam novelnya, maupun dalam sebuah esei seputar proses kreatifnya, Ayu Utami sendiri dengan cukup jelas menyampaikan harapannya agar novelnya dibaca sebagai karya feminis dan sebagai pembaharuan gaya tulis. Pesan serupa juga disampaikan dalam sebuah tulisan yang mengawali resepsi novel Ayu Utami di luar Indonesia, yaitu tulisan Goenawan Mohamad berjudul “Ayu Utami – The Body Is Heard” dalam buku 2000 Prince Claus Awards.

Saya sudah cukup sering menulis dan berbicara tentang Ayu Utami dan Komunitas Utan Kayu. Masih perlukah pembahasan itu diperpanjang? Bukankah masih banyak karya sastra lain yang lebih menarik dibahas?

Bagi saya, Ayu Utami tetap relevan dibahas bukan karena karyanya luar biasa menarik atau karena tidak ada karya lain yang pantas dibahas, tapi karena sampai saat ini penilaian menyesatkan yang saya sebut di atas tetap memiliki pengaruh yang cukup besar. Tidak jarang saya menjumpai orang yang secara spontan menghubungkan feminisme dengan Ayu Utami, kadang-kadang bahkan sambil menyamakan feminisme dengan pembebasan seksual atau dengan seks bebas. Definisi feminisme yang keliru tersebut cukup merugikan menurut pandangan saya karena menimbulkan kesan seakan-akan “maju” atau “terbelakang”nya seorang perempuan tergantung terutama pada perilaku seksualnya. Disamping itu, di dunia sastra dan kritik sastra (termasuk dunia akademis) pun pandangan tentang kelebihan-kelebihan karya Ayu Utami tetap kuat. Hal itu bukan hanya menguntungkan Ayu Utami dan komunitasnya secara finansial dan dari segi reputasi, tapi juga mempengaruhi penilaian terhadap karya sastra lain.

***

Pada bulan Maret-April 2008 sebuah esei saya yang berjudul “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa” diterbitkan di koran Republika. Esei tersebut menimbulkan perdebatan yang cukup sengit di sebuah mailing list, yaitu mailing list jurnalperempuan@yahoogroups.com. Di sini saya tidak bermaksud melanjutkan perdebatan tersebut secara keseluruhan, tapi saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk secara khusus membahas salah satu teks yang memiliki peran penting dalam wacana seputar representasi Ayu Utami dan karyanya di Eropa. Teks tersebut adalah tulisan “Ayu Utami – The Body Is Heard” oleh Goenawan Mohamad yang dimuat di buku 2000 Prince Claus Awards.

Buku yang diterbitkan dalam rangka merayakan dan mendokumentasikan pemberian penghargaan Prince Claus kepada ke-11 pemenang (satu pemenang utama dan 10 pemenang lainnya, di antaranya Ayu Utami) pada tahun 2000 tersebut tidak dijual secara bebas, juga tidak dapat diakses lewat internet. Karena keterbatasan akses itu, dalam esei “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa” saya terpaksa hanya menggunakan beberapa bagian dari teks tersebut, yaitu bagian yang sempat dikutip oleh penulis lain. Namun saat ini buku 2000 Prince Claus Awards sudah berhasil saya dapatkan. Maka kesempatan ini akan saya manfaatkan untuk membahas teks tersebut secara lebih menyeluruh.

Tulisan Goenawan tersebut relatif pendek (2 halaman), tidak jauh berbeda daripada tulisan-tulisan lain dalam buku itu (kecuali tulisan tentang pemenang utama). Novel Saman (yaitu satu-satunya karya fiksi Ayu Utami yang sudah terbit pada saat itu) hanya dibahas secara amat singkat di akhir tulisan tersebut. Selain itu Goenawan merujuk pada beberapa esei Ayu Utami, namun tidak menyebut judulnya dan di mana esei tersebut diterbitkan. Oleh karena itu, pembacaan Goenawan terhadap esei tersebut sulit dinilai. Referensi lengkap juga tidak disebut untuk buku bawah tanah tentang Suharto (“a readable booklet on Suharto’s business empire”) yang konon ditulis Ayu Utami. Yang pasti, penyebutan tulisan-tulisan tersebut menimbulkan kesan bahwa Ayu Utami sudah cukup lama aktif di dunia penulisan pada saat dirinya menerima Prince Claus Award. Hal itu berseberangan dengan kenyataan bahwa Ayu Utami tidak dikenal di dunia sastra Indonesia sebelum novel Saman memenangkan sayembara roman DKJ pada tahun 1998.

Fokus utama tulisan Goenawan Mohamad adalah posisi Ayu Utami di masa Orde Baru, khusunya hubungannya dengan kekuasaan. Goenawan menggambarkan Ayu Utami sebagai penulis muda yang aktif dalam perlawanan terhadap rejim Orde Baru. Sebagian besar dari tulisan Goenawan yang pendek itu menggambarkan keterlibatan Ayu Utami di AJI dan ISAI . Sejauh mana deskripsi tersebut tepat dan sesuai dengan kenyataan, sulit saya nilai. Yang pasti, representasi Ayu Utami sebagai disiden politis tersebut kemudian dikutip dan direproduksi oleh beberapa penulis dan institusi di Eropa.

Secara khusus, Goenawan Mohamad kemudian berfokus pada persoalan bahasa dalam kaitannya dengan kekuasaan dan dengan tubuh perempuan. Sayang sekali pembahasan tersebut bersifat sangat abstrak dan umum, sehingga sulit dipahami secara konkret apa yang dimaksudkan oleh Goenawan. Menurut pandangannya, di bawah rejim Orde Baru dimana kata-kata sering “dikorbankan” (“words [...] became victims of sacrifice”), manusia selalu terancam “kehilangan diri” dalam menggunakan bahasa (“The speaker [...] loses his selfhood.”) Ayu Utami, begitu penjelasan Goenawan selanjutnya, menggeluti dunia penulisan agar tidak kehilangan diri (“Not to lose her selfhood, that is what pushes Ayu further into writing.”). Mengenai cara Ayu Utami melakukan hal itu Goenawan Mohamad mengatakan:

“For a writer, however, there was a risk that the first casualty of such a confrontation would be his or her own relation with words. She or he could be drawn into imitating the regime’s practice – i.e. treating language as a mere sequence of messages. Ayu was one of the very few Indonesian writers who resisted the prevailing trend. The literary is political only when it stays ‘literary’, meaning that it is free from what she calls ‘functional language’.” (Goenawan Mohamad 2000, hlm. 81)
(Yang dimaksudkan dengan “confrontation” di kalimat pertama adalah konfrontasi dengan rejim Orde Baru.)

Argumentasi tersebut terkesan ganjil bagi saya. Mengapa Goenawan berpendapat bahwa rejim Orde Baru menggunakan bahasa “sekadar sebagai rangkaian pesan”? Bukankah justru sebaliknya, yaitu rejim Orde Baru dengan sengaja dan terencana menggunakan bahasa sebagai alat ideologis, dalam arti bahwa bahasa Orde Baru sering sama sekali tidak menyampaikan sebuah pesan secara apa adanya? Bukankah misalnya kata “pembangunan” sering bermakna penggusuran dan korupsi, “persatuan dan kesatuan” bermakna kekerasan dan pembungkaman, dan sebagainya? Bukankah bahasa Orde Baru penuh eufemisme (misalnya istilah seperti “lembaga pemasyarakatan”) dan kebohongan (misalnya pemalsuan sejarah seputar peristiwa 65)?

Menurut pengamatan saya, tulisan yang menjadi ancaman bagi rejim Orde Baru justru tulisan yang menggambarkan realitas sehari-hari di Indonesia secara apa adanya. Maka tidak mengherankan bahwa karya sastra yang dilarang atau disensor umumnya karya realis yang menyampaikan secara terbuka apa yang umumnya disembunyikan dalam wacana publik. Contohnya adalah karya Pramoedya Ananta Toer dan puisi Wiji Thukul, juga trilogi Ahmad Tohari yang sempat disensor.

Sebelum menyampaikan argumen di atas seputar bahasa yang digunakan Ayu Utami, Goenawan Mohamad menyebut usahanya bersama kawan-kawan (termasuk Ayu Utami) untuk “tidak membiarkan rejim meraih kemenangan total dalam perang informasi” (“not to give the regime the pleasure of getting a total victory in the information war”). Perang informasi itulah yang kemudian, menurut argumentasi Goenawan dalam kutipan di atas, mengandung risiko bagi penulis. Saya dapat menerima argumen Goenawan Mohamad bahwa ideologi yang dominan, dalam hal ini ideologi Orde Baru, sulit ditolak. Ideologi dominan umumnya hadir dalam kegiatan dan bahasa sehari-hari tanpa kita sadari. Mengambil jarak dan membangun sikap kritis terhadap ideologi itu adalah pekerjaan yang cukup berat.

Namum lompatan argumentasi seputar gaya tulis Ayu Utami sulit saya ikuti. Goenawan tidak menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan sastra yang “tetap ‘sastrawi’” dan “bebas dari ‘bahasa fungsional’”. Disamping itu, kalau memang gaya bahasa Ayu Utami memiliki kelebihan tertentu yang membuatnya lebih subversif atau lebih ampuh dalam perlawanan terhadap rejim Orde Baru, seharusnya hal itu dijelaskan, bukan sekadar diasumsikan. Dan saya tidak menemukan penjelasan semacam itu dalam tulisan Goenawan Mohamad tersebut.

Karena itu, menurut pandangan saya, pernyataan bahwa Ayu Utami merupakan “salah satu dari sangat sedikit penulis Indonesia yang melawan kecenderungan umum” adalah pernyataan yang sangat berlebihan. Bukankah banyak penulis, mungkin bahkan sebagian besar sastrawan Indonesia, bersikap kritis pada rejim Orde Baru – terutama sekali pada tahun-tahun terakhir rejim tersebut? Dan bukankah dalam situasi dimana kebebasan berpendapat sangat terbatas, banyak penulis memilih untuk tidak menyampaikan kritik mereka bukan sebagai protes yang lantang dan apa adanya, tapi mencari gaya dan cara penyampaian yang berbeda? Dalam hal apakah gaya tulis Ayu Utami begitu khas sehingga pantas disebut “melawan kecenderungan umum”?

Lebih jauh lagi, Goenawan Mohamad kemudian menghubungkan persoalan perlawanan terhadap rejim Orde Baru dan persoalan bahasa Ayu Utami yang konon menjadi terobosan baru tersebut dengan keperempuanan Ayu Utami:

“For this reason, I believe, she wrote a novel that uses words differently; making a paradigm of, as she puts it in an essay, kudangan. Kudangan is a moment when a Javanese mother, holding and touching her baby joyously and excitedly, sings words that carry nonverbal signification and sensuousness. In Ayu Utami’s highly acclaimed novel, ‘Saman’, one can feel the sensuous materiality of the words in its syntaxes. My impression is that her experience as a woman in today’s Indonesia has urged her to reinstall the presence of the body in language, as if insisting, to paraphrase Hélène Cixous’s slogan of 1974, that her body ‘must be heard’.” (Goenawan Mohamad 2000, hlm. 81)

Feminis Perancis Hélène Cixous terkenal terutama karena tulisan-tulisannya mengenai écriture féminine, “penulisan feminin”. Salah satu esei Cixous seputar tema tersebut yang paling sering disebut adalah “Le rire de la Méduse” (“The Laugh of the Medusa”, 1975 ). Dari esei itulah Goenawan mengutip pandangan Cixous mengenai tubuh dan bahasa.

Écriture feminine merupakan konsep yang cukup rumit dan sulit dipahami. Menurut Cixous dan beberapa pemikir pascastrukturalis lainnya, bahasa yang umumnya kita gunakan adalah bahasa yang maskulin dan logosentris, atau “phallogosentris”. Kebiasaan berbahasa yang dominan membuat kita berbicara/menulis seakan-akan kebenaran bersifat tunggal dan bisa diekspresikan secara linear, berjarak (objektif) dan terstuktur. Écriture féminine adalah usaha untuk mencari dan mengembangkan bahasa yang berbeda, yaitu bahasa yang mampu mengakomodasi dorongan-dorongan bawah sadar, yang tidak mengharuskan rasio menguasai atau menindas tubuh, dan yang lebih menghormati pluralitas dan ambiguitas. Seperti apakah “bahasa feminin” tersebut? Sudah adakah penulis yang berhasil menciptakannya? Sampai saat ini pertanyaan tersebut tetap terbuka.

Maka pernyataan Goenawan Mohamad tentang bahasa Ayu Utami di atas merupakan klaim yang luar biasa! Menurut pandangan Goenawan, Ayu Utami terdorong untuk “menghadirkan kembali tubuh dalam bahasa” (“reinstall the presence of the body in language”), sesuai dengan harapan Cixous agar perempuan membuat “membuat tubuhnya didengar”. Lebih jauh lagi, di mata Goenawan, Ayu Utami bukan hanya berusaha menciptakan bahasa baru yang diimpikan Cixous tersebut tapi dia benar-benar sudah berhasil menciptakannya! Paling tidak itu yang disampaikan oleh judul tulisan Goenawan, yaitu “The Body Is Heard” – tubuh bukan lagi mesti didengar, tapi sudah didengar!

Klaim tersebut sangat berlebihan menurut pandangan saya, terutama karena Goenawan Mohamad sama sekali tidak memberikan argumentasi yang lebih mendetil ketimbang sekadar asumsi-asumsi abstrak dan sulit diikuti dalam alinea yang saya kutip di atas. Apa yang dimaksudkan dengan “sensuous materiality of the words in its syntaxes” yang konon bisa dirasakan dalam novel Saman? Dengan cara apakah Ayu Utami menghadirkan tubuh dalam bahasa?

Seperti apa sebetulnya bahasa yang digunakan Ayu Utami dalam novel Saman? Ayu Utami sering memakai kata atau ekspresi yang kurang lazim digunakan (misalnya “selarit matahari”, “ceruk jalan” , dsb.), atau yang bahkan sama sekali tidak biasa digunakan dalam bahasa Indonesia (misalnya “bujet” ). Dia sering menggunakan perbandingan yang unik atau ganjil, misalnya “pucat bagai cicak” atau “wajahnya padam seperti api sumbu yang ditangkupkan stoples bening” . Disamping itu, dalam novel tersebut kita sering menemukan kalimat-kalimat “berfilsafat” yang terkesan abstrak atau “puitis”, tapi tidak begitu jelas maksudnya (paling tidak bagi saya), misalnya: “Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong. Tapi yang terjadi di sini adalah asmara, yang mengosongkan sesuatu yang semula ceper. Dengan rindu. Belum tentu nafsu.”

Itukah écriture féminine? Ciri khas apa yang membuat bahasa Ayu Utami tersebut “lebih perempuan” daripada bahasa penulis lain? Dan di manakah perlawanan terhadap rejim Orde Baru yang konon hadir dalam bahasa Ayu Utami?

Tulisan Goenawan tidak memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yang saya temukan di situ hanya asumsi dan renungan abstrak yang tidak dipertanggungjawabkan lewat argumentasi dan bukti.

***

Goenawan Mohamad dalam tulisannya yang saya bicarakan di atas hanya secara sekilas saja menyebut tema seksualitas dalam karya Ayu Utami. Fokusnya adalah representasi Ayu Utami sebagai peserta aktif dalam perjuangan melawan rejim Orde Baru. Mungkin fokus semacam itu dianggapnya lebih cocok dalam memperkenalkan Ayu Utami di luar negeri dan mempertanggungjawabkan pemberian Prince Claus Award.

Namun di Indonesia unsur yang paling banyak disebut seputar kedua novel Ayu Utami, Saman (1998) dan Larung (2001), adalah “keterbukaan baru” dalam representasi seksualitas. Pada bagian-bagian novel yang menceritakan keempat tokoh perempuan Shakuntala, Laila, Yasmin dan Cok, seks menjadi tema utama. Perilaku seksual yang diceritakan hampir sepenuhnya bertentangan dengan norma masyarakat (Indonesia), dalam arti bahwa yang diceritakan bukanlah hubungan heteroseksual yang disahkan oleh surat nikah. Shakuntala mempunyai kecenderungan biseksual, Laila jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sudah menikah, namun akhirnya berhubungan seks dengan Shakuntala, Yasmin menghianati suaminya dengan sekaligus “memurtadkan” seorang pastor, lalu mewujudkan fantasi sadomasokisnya dengan bekas pastor tersebut, dan Cok gemar berganti-ganti pasangan. Kiranya tidak salah kalau kita menyimpulkan bahwa dalam kedua novel tersebut seksualitas direpresentasikan dengan cara yang provokatif.

Namun representasi seksualitas tersebut bukan hanya bersifat provokatif, tapi juga dengan sangat jelas dihubungkan dengan persoalan gender dan dengan feminisme. Seperti yang dikemukakan antara lain oleh Kris Budiman dalam bukunya Pelacur dan Pengantin Adalah Saya (2005), perlawanan terhadap ideologi patriarki alias falosentrisme terungkap dengan cukup eksplisit pada beberapa bagian kedua novel Ayu Utami tersebut. Khususnya, stereotipe perempuan sebagai pihak yang pasif di hadapan laki-laki yang aktif digugat antara lain dalam deskripsi hubungan seksual dimana vagina digambarkan sebagai bunga karnivora yang menjebak dan menghisap “binatang yang [...] bodoh, dan tak bertulang belakang” alias penis. Deskripsi itu bersama beberapa bagian novel yang lain menurut Kris Budiman “menunjukkan bahwa modus relasi seksual perempuan vis-a-vis laki-laki sebetulnya bukanlah intrusi atau secara pasif ‘di-coblos’, melainkan secara aktif mengkonsumsi, ‘meng-hisap’” .

Representasi perilaku dan orientasi seksual yang demikian beragam dan gugatan terhadap stereotipe perempuan yang pasif dengan mudah dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa novel Ayu Utami jauh dari nilai heteronormatif dan falosentris, atau bahwa Ayu berhasil menciptakan representasi seksualitas yang berbeda (“lebih perempuan”) daripada yang kita kenal selama ini (di Indonesia). Saman dan Larung hadir sebagai novel yang jelas-jelas minta dibaca sebagai novel feminis.

Feminisme macam apakah itu? Tampak dengan cukup jelas bahwa Ayu Utami terpengaruh oleh teori yang sama atau sejalan dengan yang dikutip Goenawan Mohamad dalam tulisannya yang saya bahas di atas. Ide-ide yang diungkapkan dalam kedua novel itu tampaknya sengaja disesuaikan dengan teori-teori feminisme Perancis (feminisme pascastruktural), paling tidak secara permukaan. Seperti yang sudah saya bicarakan secara sekilas di atas, menurut pemikiran Cixous dan pemikir lain yang “sealiran” (terutama Luce Irigaray), cara berpikir yang dominan dalam masyarakat modern (Barat) bersifat maskulin atau falosentris. Cirinya antara lain kepercayaan pada kebenaran yang tunggal, hierarki yang kaku dan pandangan humanis tentang individu yang bebas dan mandiri. Bagi pemikir tersebut, femininitas menjadi semacam konsep alternatif yang dipertentangkan dengan maskulinitas yang dominan itu - sebuah sikap hidup yang dinilai lebih positif.

Salah satu adegan novel Ayu Utami yang tampaknya terpengaruh oleh konsep-konsep tersebut adalah bagian novel Larung dimana Shakuntala membandingkan sikap hidupnya sendiri dengan sikap hidup abangnya. Penggambaran sifat si abang itu merupakan semacam karikatur maskulinitas dalam pemahamannya yang paling negatif: Si abang selalu berusaha membuktikan diri, “mencoba segala hal hingga maksimal” , khususnya dalam dua wilayah yang “khas laki-laki”, yaitu kemampuan berereksi dan kebolehan membawa sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Mengenai latihan ereksi abangnya, dengan nada sedikit mengejek Shakuntala mengatakan: “ia bisa menyuruh-nyuruh bagian-bagian tubuhnya seperti seorang komandan memerintah batalyon dan kompi” . Perbandingan dengan dunia militer itu pun tentu merupakan unsur konstruksi maskulinitas yang sangat sesuai dengan stereotipe negatif yang ingin dibangkitkan di sini. Disamping itu, si abang memiliki kepercayaan pada akal/rasio yang amat berlebihan, yakin “bahwa akal akan menaklukkan badan” , dan dia bahkan “tak mau percaya bahwa ada otot sadar dan otot tak sadar. Semua otot adalah sadar, ia bersikeras” . Berkat latihannya, dengan kekuatan akal (yaitu dengan mengulang-ulang kata “ngaceng”) dia dapat memerintah alat vitalnya untuk berdiri. Pendek kata, tokoh abang Shakuntala tampil sebagai wujud atau lambang falosentrisme par excellence. Dan penilaian yang ingin disampaikan terhadap sikap hidup semacam ini pun tampak dengan amat jelas. Karena begitu berlebihan, sifatnya terkesan konyol, dan akhirnya bahkan membawa celaka: Si abang meninggal disebabkan sebuah kecelakaan lalulintas ketika dia mencoba merealisasikan ambisinya untuk mengelingi pulau Jawa “dengan kecepatan puncak” di atas sepeda motornya.

Berseberangan dengan sikap abangnya, bagi Shakuntala “keputusan-keputusanku diperintah oleh dorongan tubuh untuk menari. Sebab bagiku menari adalah menjadi. [...] Tubuhku hanya ingin menjadi. Tapi apa salahnya menjadi tidak genap?” . Dalam sebuah esei berjudul “Membantah mantra, membantah subjek” di jurnal Kalam (edisi 12, 1998) Ayu Utami secara langsung menghubungkan sikap tokoh Shakuntala dalam novel Saman dengan sikapnya sendiri sebagai pengarang. Di bagian lain dari esei yang sama Ayu mengatakan: “Mengarang, bagi saya, adalah kesediaan melibatkan, meleburkan diri, dan menerima kemungkinan-kemungkinan yang tak direncanakan” – sangat mirip dengan ungkapan Shakuntala di atas. Dengan pilihannya untuk “menjadi tidak genap” (seperti novel Ayu yang diterbitkan sebagai “fragmen”), biseksualitasnya, dan pemberontakannya terhadap nilai-nilai patriarkal, Shakuntala menjadi semacam tokoh perempuan ideal yang sekaligus melambangkan “filsafat posmo” yang dipilih Ayu sebagai kredo kepengarangannya.

Seperti yang dilakukan Goenawan Mohamad dalam tulisan “Ayu Utami – The Body Is Heard”, Ayu Utami sendiri pun mempersoalkan gaya tulisnya dan menggambarkan gaya tulis tersebut sebagai pilihan yang istimewa dan baru. Dalam eseinya, Ayu menceritakan betapa dia “sengaja” memilih menulis “novel polifonik” dengan “diksi yang berbeda bagi masing-masing Aku”. Namun dia juga mengaku bahwa “novel itu tidak sepenuhnya menurut padaku”, kadang-kadang cerita berkembang di luar rencananya sendiri.
Pengakuan tersebut tentu sama sekali bukan sesuatu yang luar biasa. Bahwa dalam proses menulis ada hal-hal yang dengan sadar diatur dan diciptakan, dan ada pula hal yang timbul begitu saja tanpa sengaja, merupakan pengalaman yang pasti dikenal hampir setiap penulis. Yang terkesan sedikit ganjil bagi saya adalah penilaian yang secara implisit terkandung dalam ungkapan Ayu tentang pengalaman mengarangnya tersebut. Bukan saja dengan sangat percaya diri dia menilai novelnya sendiri sebagai “novel polifonik” (yang berarti memuji diri sendiri sebagai “pembaharu”, pembawa gaya tulis yang masih belum lumrah di Indonesia), juga ceritanya mengenai perkembangan alur novel yang di luar rencana semula terkesan amat tidak kritis. Menurut pengakuannya, pada titik tertentu tokoh-tokoh novelnya seakan-akan mulai memiliki hidup dan kemauannya sendiri, sehingga sebagai pengarang dia “terpaksa” “takluk [p]ada ciptaannya”. Meskipun menggunakan kata “terpaksa”, cukup jelas bahwa dia tidak menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang negatif. Malah timbul kesan bahwa dia sangat membanggakannya. Sepertinya dia merasa tidak perlu bersikap kritis terhadap bagian teks yang muncul “di luar rencana” itu, seakan-akan apa yang mengalir dari tangannya bersumber pada semacam “jenius” di kedalaman dirinya yang tak perlu diragukan. Padahal dalam esei yang sama, bahkan pada alinea yang sama, dia merujuk pada pemikiran Roland Barthes tentang matinya sang Pengarang!

Saya tidak percaya pada “jenius” semacam itu. Namun saya yakin bahwa dalam setiap teks pasti ada hal-hal yang disampaikan secara eksplisit, dan ada yang ikut tersampaikan dengan tersembunyi atau tanpa sengaja. Dan menurut pengalaman saya, hubungan antara kedua jenis “isi teks” itu sering penuh ambivalensi. Misalnya dalam sebuah novel dengan pesan yang jelas, mungkin saja kita menemukan bagian yang secara agak tersembunyi justru berlawanan dengan pesan tersebut. Ambivalensi semacam itu biasanya sangat menarik disoroti dan diteliti, dan itulah yang ingin saya lakukan dalam pembahasan saya terhadap novel Ayu Utami.

Dalam hal representasi seksualitas, novel Ayu Utami memiliki pesan yang cukup eksplisit, yaitu apa yang sudah saya sebut di atas: membicarakan seks dengan keterbukaan yang provokatif, memprotes stereotipe pasif perempuan, menolak falosentrisme pada umumnya, mengakui orientasi seksual yang plural. Namun ambivalensi tak terlalu sulit dicari. Berikut ini saya akan mengemukakan beberapa hal yang justru bertentangan dengan pesan eksplisit tersebut.

Dalam representasi hubungan homoseksual antar-perempuan (lesbianisme), novel Saman/Larung ternyata justru mereproduksi stereotipe yang sangat tidak menguntungkan bagi perempuan, khususnya lesbian. Tokoh Laila digambarkan sebagai seorang perempuan yang sama sekali tidak memiliki kecenderungan menjadi seorang lesbian. Dia heteroseksual 100%. Namun pada saat sedang patah hati karena dikecewakan oleh pacarnya, dia tidak menolak ketika didekati secara seksual oleh Shakuntala. Hubungan seks antara kedua perempuan itu pun terjadilah. Stereotipe yang direproduksi di sini adalah anggapan bahwa perempuan cenderung menjadi lesbian karena dikecewakan oleh laki-laki! Disamping itu, sebuah prasangka yang sering kita dengar dari orang awam tampaknya justru terbukti benar di sini, yaitu kekhawatiran bahwa lesbianisme dapat “menular” sehingga berbahayalah bagi perempuan “normal” (baca: heteroseksual) seperti Laila untuk bergaul dengan orang seperti Shakuntala.
Alasan Shakuntala mengajak Laila bercinta adalah untuk mengajari kawannya itu mengenal tubuhnya sendiri. Menurut penilaian Shakuntala, Laila belum pernah mengalami orgasme, dan keadaan itu tidak boleh dibiarkan berlangsung lebih lama. Argumentasi ini terasa janggal bagi saya: bukankah untuk mengenal tubuhnya sendiri dan mengalami orgasme seorang perempuan tidak mesti berhubungan seks, apalagi melakukan hubungan seks yang tidak sesuai dengan orientasi seksualnya sendiri? Kalau Laila memang begitu lugu atau kaku sehingga dia tidak berinisiatif untuk mengeksplorasi tubuhnya sendiri, bukankah cukup kalau Shakuntala menyarankan padanya untuk mencoba masturbasi, seperti yang misalnya dilakukan tokoh Lara pada Mei dalam situasi yang serupa dalam novel Tujuh Musim Setahun karya Clara Ng ?

Meskipun hampir seluruh kisah keempat sahabat Shakuntala, Laila, Cok dan Yasmin itu berkisar pada pengalaman seksual mereka, masturbasi hampir tidak pernah disebut, paling tidak masturbasi yang dilakukan perempuan. Misalnya pada bagian akhir Saman yang terdiri dari email Yasmin dan Saman, Saman memberitahukan bahwa dia masturbasi, dan Yasmin membalas bahwa dia membayangkan Saman pada saat dia melakukan hubungan seks dengan suaminya – hanya tokoh laki-laki yang melakukan masturbasi!

Absennya masturbasi tersebut dapat dihubungkan dengan sebuah gejala lain yang terdapat pada representasi kenikmatan seksual dan orgasme perempuan dalam novel Saman/Larung. Dalam buku hariannya, tokoh Cok menceritakan pengalamannya ketika sebagai murid SMA dia mulai melakukan hubungan seks. Karena tidak mau kehilangan keperawanannya, pada awalnya hubungan dengan pacarnya berbentuk tindakan sang pacar merangsang alat kelaminnya dengan menggosokkannya pada payudara Cok dan seks anal. “Lalu kupikir-pikir, kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? Enak di dia nggak enak di gue”, begitu kesimpulan Cok mengenai pengalaman itu, dan dia pun memutuskan untuk berhenti menjaga keperawanannya . Di sini timbul kesan bahwa dalam hubungan heteroseksual, perempuan hanya dapat merasa nikmat dan mencapai orgasme apabila terjadi koitus (penetrasi penis ke dalam vagina), sedangkan laki-laki mempunyai alternatif lain untuk mencapai orgasme. Hal yang sama terjadi pada Laila saat dia berhubungan seks dengan pacarnya Sihar tanpa terjadinya penetrasi. Di sini pun Sihar mencapai orgasme, sedangkan Laila tidak .

Tentu saja kisah pengalaman seksual semacam itu dapat dikatakan cukup realistis sebab mungkin saja laki-laki, dalam hal ini pacar Cok dan Sihar, hanya mementingkan kenikmatannya sendiri dan tidak memperhatikan kebutuhan seksual pasangannya. Namun peristiwa hubungan seks yang kurang memuaskan itu sama sekali tidak dihubungkan dengan sebuah kelalaian, dalam arti bahwa seharusnya si gadis pun dirangsang, misalnya dengan jari atau mulut, sehingga tanpa terjadinya koitus pun dia dapat mencapai orgasme. Seperti juga masturbasi, praktek seks di luar koitus menjadi monopoli laki-laki.
Dalam sebuah email pada Saman, Yasmin menulis: “Orgasme dengan penis bukan sesuatu yang mutlak.” . Kalimat ini tampaknya berlawanan dengan apa yang saya kemukakan di atas. Apakah ini merupakan kalimat pembuka untuk bercerita tentang masturbasi atau tentang praktek seksual lain yang memberi kenikmatan pada perempuan tanpa terjadinya koitus, misalnya seks oral? Ternyata tidak. Yasmin melanjutkan emailnya: “Aku selalu orgasme jika membayangkan kamu. Aku orgasme karena keseluruhanmu.” Ternyata sekadar rayuan gombal untuk meredakan rasa rendah diri Saman karena tak mampu membuat Yasmin mencapai orgasme. Paling tidak, kata “orgasme” dalam konteks ini bisa dipahami sekedar sebagai ungkapan metaforis, bukan sebagai kata untuk menyebut pencapaian puncak seksual secara fisik.

Lalu bagaimana dengan hubungan seks yang terjadi antara Shakuntala dengan Laila? Jelaslah di sini tidak terjadi koitus, dan praktek seksual yang saya sebut sebagai monopoli laki-laki dalam hubungan heteroseksual di atas mestilah digunakan oleh kedua perempuan itu. Namun justru adegan itu diceritakan dengan sangat singkat dan kabur. Dengan “kesopanan” yang terasa janggal dalam sebuah karya yang begitu “terbuka” mengenai seks di bagian-bagian lain, narasi diputuskan pada saat Shakuntala membuka baju dan mulai berdekatan dengan Laila . Narasi kemudian malah dilanjutkan dengan cerita metaforis mengenai vagina sebagai bunga karnivora yang sudah saya sebut di atas, yaitu cerita yang justru mempersoalkan hubungan seksual antara perempuan dan laki-laki! Hanya kalimat terakhir yang, mungkin, dapat dibaca sebagai semacam keterangan mengenai apa yang terjadi antara Shakuntala dan Laila: “Tapi klitoris bunga ini tahu bagaimana menikmati dirinya dengan getaran yang disebabkan angin” . Apa perlunya “pengaburan” semacam itu? Mengapa misalnya cara abang Shakuntala melatih ereksinya diceritakan dengan begitu gamblang, sedangkan untuk mendeskripsikan rangsangan pada klitoris saja diperlukan metafora aneh yang kurang mengena tentang “angin” yang menggetarkannya?!

Bahwa cerita tentang bunga karnivora ditempatkan pada adegan itu bukanlah sebuah anakronisme. Setelah Shakuntala memutuskan bahwa Laila perlu diberi “pelajaran seks” sebelum menemui Sihar lagi, dia melanjutkan: “Setelah itu kamu [Laila] boleh pergi: Sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora ...” Artinya, lewat hubungan seks antar-perempuan Shakuntala bermaksud mengajari Laila mengenai hakekat hubungan seks “secara umum”, dan yang dimaksudkan dengan seks “secara umum” itu adalah hubungan heteroseksual. Heteronormatifitas yang tampak sangat jelas dalam adegan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Laila tertarik pada sisi maskulin dalam diri Shakuntala, dan pada saat hubungan seks dimulai, Laila “tak tahu lagi siapa dia. Apakah Tala apakah Saman apakah Sihar” . Hubungan homoseksual di sini sekadar semacam variasi dari heterosexual matrix.

Seperti yang sudah diutarakan di atas, metafora bunga karnivora dapat dipahami (dan tampaknya dimaksudkan) sebagai gugatan terhadap stereotipe kepasrahan perempuan. Perempuan yang sering diibaratkan bunga yang madunya diisap kumbang, yaitu sebagai pihak yang pasif, di sini disulap menjadi pihak yang aktif sebagai bunga penghisap “cairan dari makhluk yang terjebak dalam rongga di balik kelopak-kelopaknya yang hangat”. Tapi di sisi lain, di sini pun sekali lagi ejakulasi laki-laki menjadi pusat segala kenikmatan: “Otot-ototnya yang kuat [...] akan memeras binatang yang masuk, dalam gerakan berulang-ulang, hingga bunga ini memperoleh cairan yang ia hauskan. Nitrogen pada nepenthes. Sperma pada vagina.” . Vagina yang haus akan sperma – itukah representasi seks versi perempuan, versi yang tidak falosentris? Dilihat dari segi biologis, representasi tersebut bisa dikatakan tidak sesuai dengan anatomi tubuh dan fungsi seksual perempuan. Dalam merasakan kenikmatan seksual dan mencapai orgasme ketika berhubungan seks, bagi seorang perempuan semprotan sperma ke dalam vagina jelas tidak terlalu berpengaruh, atau mungkin bahkan bisa dikatakan tidak berarti sama sekali. Misalnya kalau si laki-laki belum/tidak berejakulasi atau berejakulasi ke dalam kondom, hal itu tentu tidak menjadi halangan bagi pasangan perempuannya untuk mencapai orgasme.

Yang terasa mengganggu pada gambaran sterotipikal tentang perempuan sebagai bunga dan laki-laki sebagai kumbang antara lain adalah implikasi yang timbul karena gambaran itu diambil dari alam. Bunga sudah secara alami diam di tempat, dan kumbang sudah secara alami berpindah dari satu bunga ke bunga lain. Jadi dalam penggunaan pengupamaan semacam itu terdapat asumsi bahwa sifat pasif pada perempuan dan sifat aktif serta tidak setia pada laki-laki pun merupakan sifat alami (kodrati). Ayu Utami mengganti bunga yang pasif itu dengan jenis bunga yang ganas dan aktif namun cerita mengenai “kehausan” bunga itu akan cairan kembali membawa kita pada persoalan kodrat. Bukankah akhirnya kontraksi otot vagina (yang terjadi ketika perempuan mengalami orgasme) terkesan sebagai semacam “naluri alam” untuk menghisap sperma, dalam arti bahwa orgasme perempuan terjadi bukanlah demi kenikmatan, tapi demi masuknya sperma ke dalam rahim, atau dengan kata lain: demi kelanjutan umat manusia?

Dari sebuah novel yang mengangkat seksualitas perempuan sebagai salah satu tema utamanya saya tentu saja mengharapkan perhatian terhadap beberapa persoalan dasar yang menjadi ciri khas pengalaman seksual perempuan. Salah satunya adalah kenyataan bahwa perempuan dapat melakukan hubungan seks, dan bisa hamil karenanya, tanpa menikmatinya dan tanpa mencapai orgasme. Cerita mengenai vagina sebagai bunga karnivora menghubungkan kenikmatan/orgasme perempuan dengan ejakulasi laki-laki. Tapi bukankah setiap perempuan menyadari bahwa tanpa “diperas” sekalipun, “binatang bodoh tak bertulang belakang” itu tetap akan memuntahkan cairannya! Dengan kata lain, pengibaratan vagina sebagai bunga karnivora hanyalah sekedar sebuah permainan imaji yang tidak sesuai dengan realitas pengalaman perempuan.

Representasi seksualitas dalam novel Saman/Larung berpusat pada hubungan heteroseksual, khususnya pada koitus. Kecenderungan itu bahkan dapat ditemukan pada representasi tingkah laku seksual yang jauh menyimpang dari norma, yaitu hubungan sadomasokis Yasmin dengan Saman. Dilihat secara sekilas, di sini sekali lagi kita menemukan pemberontakan atau pemutarbalikan terhadap relasi kekuasaan laki-laki-perempuan yang normatif: Yasmin mengambil peran sebagai penyiksa, Saman sebagai korban. Kutipan berikut ini adalah deskripsi Yasmin tentang pengalaman itu dalam sebuah suratnya kepada Saman:

“Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia menginterogasi mata-mata yang tertangkap. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu, atau membiarkan kamu tak memperolehnya, membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harafiah.” (Larung, hlm. 157)

Meskipun permainan seks yang digambarkan di sini jauh dari imaji normatif tentang persetubuhan, sekali lagi pusatnya adalah koitus. Dan siksaan yang diceritakan dengan paling rinci dan jelas adalah penundaan atau pencegahan orgasme Saman, sehingga timbul kesan bahwa coitus interuptus menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi seorang laki-laki. Penderitaan itu terkesan jauh lebih hebat daripada misalnya penderitaan Laila atau Cok yang terangsang dan birahi, namun tidak mencapai orgasme dalam permainan seks, seperti yang sudah saya sebut di atas. Ternyata dalam hubungan seks yang didominasi oleh seorang perempuan ini pun koitus digambarkan sebagai satu-satunya cara berhubungan seks, dan orgasme laki-laki menjadi pusat perhatian. Apakah Yasmin mencapai orgasme, sama sekali tidak dipersoalkan!

Disamping Shakuntala, Laila, Yasmin dan Cok, masih ada seorang tokoh perempuan lain yang tingkah laku seksualnya dipersoalkan dengan cukup rinci. Tokoh yang saya maksudkan adalah Upi, seorang gadis cacat mental yang diberi perhatian khusus oleh Romo Wis (Saman). Upi menjadi tokoh yang cukup penting bagi representasi seksualitas dalam novel Saman/Larung. Karena cacat mental, Upi digambarkan sebagai semacam wujud seksualitas yang tidak terkekang, yang “alami”. Bahwa birahi Upi dipahami terutama sebagai persoalan alam atau persoalan biologis, terlihat misalnya pada deskripsi Upi sebagai gadis “yang mentalnya tersendat namun fisik dan estrogen dan progesteronnya tumbuh matang” (Saman, hal. 76-77), juga pada keterangan ibu Upi bahwa sang gadis biasanya mengalami semacam masa birahi, yaitu dia menjadi beringas kira-kira seminggu sebelum haid.

Representasi seksualitas yang “alami” tersebut dalam beberapa hal tidak jauh dari seksualitas tokoh perempuan yang lain. Upi mencari kepuasan seksual secara aktif dan agresif seperti Cok dan Shakuntala, dan dia menggabungkan pemuasan birahi dengan tindakan penyiksaan seperti Yasmin, yaitu penyiksaan terhadap binatang. Namun ada hal yang khas pada representasi seksualitas Upi: gadis itulah satu-satunya tokoh perempuan yang diceritakan beronani. Masturbasi dilakukannya dengan cara menggosokkan selangkangannya pada pohon, tiang listrik, pagar atau sudut tembok , dan selain itu dia gemar “memperkosa” binatang. Tidak diterangkan dengan rinci apa yang dimaksudkan dengan “memperkosa” di sini, hanya satu kasus yang digambarkan dengan jelas, yaitu “ia mengempit seekor bebek di pangkal pahanya sambil mencekik leher binatang itu” .

Seksualitas Upi awalnya digambarkan seperti berikut:

“Gadis itu terkenal di kota ini karena satu hal. Dia biasa berkeliaran di jalan-jalan dan menggosok-gosokkan selangkangannya pada benda-benda [...] seperti binatang yang merancap. Tentu saja beberapa laki-laki iseng pernah memanfaatkan tubuhnya. Konon, anak perempuan ini menikmatinya juga. Karena itu, kata orang-orang, dia selalu saja kembali ke kota ini, mencari laki-laki atau tiang listrik” (Saman, hlm. 68).

Di sini timbul kesan bahwa pada awalnya Upi tidak birahi pada laki-laki, tingkah laku seksualnya berfokus pada tubuhnya sendiri. Seks baginya bukan interaksi dengan orang lain, melainkan stimulasi tubuhnya sendiri yang memberi kenikmatan. Segala macam rangsangan psikologis yang biasanya sangat berpengaruh dalam perilaku seksual manusia yang sehat mental, tampaknya tak begitu penting baginya. Seksualitasnya sepenuhnya persoalan tubuh. Dan hubungan seks dengan laki-laki yang kemudian terjadi atas inisiatif para laki-laki yang birahi, dinikmatinya bukan karena sifat hubungan pribadinya dengan laki-laki itu tetapi semata-mata karena rangsangan seksual yang diterimanya.

Tapi interpretasi dan intervensi yang kemudian dilakukan Romo Wis sangat jauh dari gambaran awal tentang seksualitas Upi tersebut. Karena kelakuan Upi kadang-kadang agresif dan membahayakan orang lain, keluarganya menguncinya dalam sebuah bilik. Wis pun tidak mampu mencari solusi lain – pengobatan di rumah sakit terlalu mahal – tapi dia memutuskan untuk meringankan penderitaan Upi dengan membuatkan “penjara” yang lebih luas dan bersih untuknya. Dalam pembuatan tempat tinggal Upi itu, kebutuhan seksual Upi juga diperhatikan. Wis mengenal tingkah laku seksual Upi (kutipan di atas adalah cerita seseorang padanya), dan dia sendiri pun sempat dikagetkan oleh pendekatan seksual Upi: Upi tiba-tiba meraba kemaluannya . Sebagai “solusi”, tempat tinggal Upi yang baru dilengkapinya dengan sebuah patung yang dipresentasikannya pada Upi dengan kata-kata berikut: “Upi! Kenalkan, ini pacarmu! Namanya Totem. Totem Phallus. Kau boleh masturbasi dengan dia. Dia laki-laki yang baik dan setia.” . Kalau pada awalnya masturbasi digambarkan sebagai perilaku seksual Upi yang utama, sedang seks dengan laki-laki hanya kebetulan dikenalnya, maka dalam ucapan Wis ini kita temukan asumsi bahwa seksualitas Upi adalah birahi pada laki-laki.

Masturbasi mengalami degradasi, dalam arti: masturbasi hanya menjadi pengganti seks yang “sungguhan”, yaitu seks dengan seorang laki-laki. Anehnya, meskipun konon dibuat untuk keperluan masturbasi, patung itu tidak dilengkapi alat kelamin! Artinya, yang dibuatkan Wis adalah simbol laki-laki atau simbol phallus, bukan alat yang secara teknis pantas digunakan sebagai alat masturbasi. Atau mungkin Upi diharapkan menggosokkan selangkangannya pada patung yang terbuat dari batang pohon itu seperti sebelumnya dia menggosokkannya pada benda lain – hanya saja batang pohon itu kini telah disulap menjadi “laki-laki”. Mungkinkah batang pohon itu akan mampu memberikan kenikmatan yang lebih pada Upi hanya karena sudah dijadikan simbol “laki-laki baik dan setia”?

Seksualitas Upi yang pada awalnya digambarkan sebagai semacam hasrat primitif untuk memperoleh kenikmatan dengan merangsang alat kelamin, diarahkan dan dipersempit menjadi hasrat heteroseksual. Penggunaan kata “phallus” dan “totem” bisa dipahami sebagai rujukan pada psikoanalisis dan pada totemisme, kepercayaan kuno yang sering diasosiasikan dengan “manusia primitif”. Karena kedua kata itu digunakan sebagai nama patung laki-laki yang diharapkan menjadi objek birahi Upi, pesan yang tersampaikan adalah bahwa hasrat heteroseksual-lah yang paling wajar, alami dan asli. Keterpusatan psikoanalisis pada penis atau phallus yang banyak dikritik feminis di sini diulangi tanpa sifat kritis sama sekali, phallus malah dijadikan totem, pusat pemujaan!

Memang pembuatan patung “Totem Phallus” itu dan pemahaman seksualitas Upi yang terkandung di dalamnya diceritakan sebagai buah pikiran dan perbuatan Romo Wis. Namun karena dalam novel “polifon” ini tidak terdapat suara lain yang menyoroti peristiwa itu dari perspektif lain, itulah satu-satunya versi yang tersampaikan. Bahwa interpretasi Wis terhadap seksualitas Upi merupakan penyempitan, sama sekali tidak dipersoalkan, sehingga saya rasa tidak terlalu mengada-ada kalau kita menganggap penyempitan itu tidak disadari penulis.

***

Kembali pada persoalan ambivalensi yang saya sebut di atas. Saya telah memperlihatkan bahwa dalam novel Saman/Larung disamping pesan-pesan eksplisit dan provokatif yang menentang falosentrisme (menempatkan perempuan sebagai pihak yang aktif, dan mengakui berbagai macam orientasi seksual) pada banyak adegan yang membicarakan seksualitas justru terdapat kecenderungan falosentis dan heteronormatif. Tentu adanya ambivalensi semacam itu tidak bisa begitu saja dijadikan indikator kegagalan sebuah karya. Ambivalensi merupakan hal yang lumrah, dan kita akan sulit mencari karya sastra yang bebas darinya.

Dalam eseinya yang sudah saya kutip di atas, Ayu mengatakan: “Saya berharap kritikus yang mencoba mendekati novel Saman dengan mencari subjek tunggal dan utuh pengarangnya akan kecewa. Sebab bukan itu sikap saya terhadap karya”. Bukankah menolak keutuhan dan ketunggalan subjek berarti membuka diri untuk menerima segala ambivalensi dan pertentangan dalam diri dan dalam karya dengan sadar dan lapang dada? Seorang perempuan bisa saja menggabungkan feminisme dan falosentrisme dalam dirinya, misalnya dengan memperjuangkan kebebasan perempuan, tapi sekaligus justru merindukan laki-laki yang dominan. Ambivalensi semacam itu adalah bagian dari kehidupan, konsekuensi dari kenyataan bahwa hidup manusia tidak sepenuhnya dapat dikuasai oleh akal seperti abang Shakuntala memerintah alat kelaminnya. Sebagai kritikus saya kecewa pada karya Ayu Utami justru karena ambivalensi yang seharusnya dipeluk dengan sadar dalam sebuah karya yang konon tanpa subjek tunggal dan utuh itu, ternyata kurang diolah.

Saya tidak menemukan indikasi bahwa ambivalensi dalam representasi seksualitas di novel Saman/Larung merupakan ambivalensi yang disadari. Karena itu, mungkin lebih tepat kalau pesan eksplisit mengenai seksualitas yang terdapat dalam novel itu kita sebut sebagai sebuah pretensi. Kritik terhadap falosentrisme hanya terjadi di permukaan, atau dengan kata lain, kritik itu dengan sengaja dimasukkan dalam beberapa adegan. Di level yang lain, yang justru jauh lebih penting secara tekstual, novel Ayu justru sangat falosentris.

***

Apakah keluhan saya seputar representasi seksualitas dalam novel Ayu Utami tidak terlalu mengada-ada? Bukankah seperti yang saya katakan di atas, gaya hidup perempuan kelas menengah perkotaan Indonesia sebelumnya belum banyak diangkat sebagai tema novel, khususnya dengan fokus terhadap kehidupan seksual? Bukankah usaha untuk menggali tema tersebut dan untuk meninggalkan tabu seputar seksualitas, pantas dihargai?

Saya rasa kritik saya tidak mengada-ada. Bukan sayalah yang menciptakan ekspektasi yang berlebihan terhadap karya Ayu Utami, yaitu bahwa karya tersebut merupakan karya feminis yang subversif dan penuh terobosan baru. Ekspektasi tersebut dengan sengaja ditimbulkan oleh novel itu sendiri dan oleh tulisan-tulisan di seputarnya, termasuk tulisan Goenawan Mohamad yang saya bahas di awal esei ini. Maka sudah sewajarnya kalau tidak terpenuhinya ekspektasi tersebut saya keluhkan dan pemujaan yang berlebihan saya kritik.***


Daftar Pustaka

Ayu Utami, Saman, Jakarta 1998.
---, “Membantah mantra, membantah subjek” Kalam edisi 12, 1998.
---, Larung, Jakarta 2001.

Bandel, Katrin, “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa”, Republika 23 Maret, 30 Maret dan 6 April 2008.

Clara Ng, Tujuh Musim Setahun, Jakarta 2002

Kris Budiman, Pelacur dan Pengantin Adalah Saya, Yogyakarta 2005.

Goenawan Mohamad, “Ayu Utami – The Body Is Heard”, 2000 Prince Claus Awards, The Hague 2000, hlm. 78-81.

29 July 2010

Sajak-Sajak Raudal Tanjung Banua

Di pintu Quan Am Tu Pulau Galang
Tua dan sepi tidak menenggang
Serombongan peziarah bersideku.
Seorang tua gemetar
dan berkisah kepadaku.
Berhari-hari lalu
Kusalin ia kembali
jadi lilin jadi api jadi lapar
yang terus kunyalakan
untuk sampai pada sebagian kecil
inti perih puisi ini—lilin kecil
kesaksian
di bumi:

Di pintu Quan Am Tu, seperti Tuan lihat, selalu

gemetar tubuhku. Terbayang semenanjung jauh
kilatan-kilatan pedang dan bunga api malam-malam
Terkenang bintang-bintang merah nyala
—bukan, merah dadu, mempertaruhkan kelam
untung-malang manusiaku
Terbayang, kapal-kapal ikan, kapal-kapal kayu tua
oleng di mata pusaran: arus topan, badai yang kejam
dan goncang nafas tuhan

Ke mana kami hendak menuju? Lautan luas
tak bertara. Daratan tak dikenal
bagai bintik hitam di luka telapak tangan
mengelupas dan hilang,
seperih harapan yang direnggutkan
seperti garam dibasuh air garam

Di manakah pintu harapan sebuah pulau? Dermaga,
pantai yang landai, atau pengap-hampa
ruang periksa? Kami ingin berlabuh
supaya tenang goncangan nafas tuhan
—reda tangis Dewi Quan Im
di dada kami yang redam.
Tapi pelabuhan dan pantai bukan lagi pintu
sejak laut dan gelombang api bersekutu
meminta kami pergi
dari tepi semenanjung…

sejak itu, api dalam diri mesti dibangkitkan
jika perlu sehalus sekaligus setegar nyanyian topan
di lapuk buritan:

Ya, ya, secerlang mata ikan dalam keranjang
seredup mata-mata ikan di air dangkal
mati lebih baik kami dapatkan
di air dalam, di tangkapan perompak

atau jaring nelayan Siam
Jangan di tanah sendiri
darah tak lagi suci
maka kami pun berkorban
demi pelayaran tak pasti ini:
sepasang kakek-nenek yang sakit, mati
berpeluk hilang ranjang. Dengan keharuan yang jinak
kami lempar mereka ke laut
tubuh mereka terapung hilang dayung
lepas dari kekangan tangan dunia
yang mengepung arah lempang ke sorga.
Lima orang anak gadis kami
diseret awak kapal patroli
dua jatuh ke tangan ketua perompak kidal
dan sambil tertawa melengking
ia bilang akan dikawini di pulau karang tersembunyi.
Seorang putra kami luka pada lambung
—kanan atau kiri, aku tak ingat lagi;
tapi apa bedanya, Tuan? Ia sudah melawan
para perompak, lalu menghadapi awak kapal patroli
yang ternyata menyita lebih banyak
dari sisi kami. Sebagian putra-putri kami, o, kefanaan,
menderita kejang-kejang karena lapar
dan infeksi luka pertempuran,
bertelentangan di geladak
menunggu ajal
Kami sendiri, sembilan keluarga
Empat puluh delapan orang—dari enam puluh enam
yang tersisa—sama menunggu pedang langit
memutus ikatan kami dengan dunia
Tapi api dalam diri harus tetap dibangkitkan
nyanyian mencari pintu harapan tak boleh majal
oleh kecut kematian:

“Para komandan, perompak dan tukang jagal
biarkan kami terus ke selatan
biar berlumut atau pecah perahu
mengeras batu kapal kayu tunggangan
biarkan kami terdampar
di pintu harapan sebuah pulau
tak perlu harpun atau terompet lokan ditiupkan!”

Akhirnya memang kami terdampar
Di pulau sebintik hitam di tengah luka telapak tangan
tapi itu yang terbaik kami dapatkan
Dari Teluk Tonkin dan Teluk Siam
akhirnya di Natuna Laut Cina Selatan
kami temui jalan; mengeram di rawa-rawa sagu,
masuk hutan bakau di celah sempit sulur akar,
dan tinggal di kebun cengkeh
di pedalaman; kapal-kapal karam dan terbakar
sudah kami lepaskan. Saudara-saudara lapar,
mati, dan bunuh diri pelan-pelan
sudah kami upacarai
sekadar menghibur diri
bahwa di tanah pijakan—seperti mimpi setengah khayalan—
kami diterima selayaknya keluarga sendiri
Kami bertukar tempe, tahu, kacang kedele,
dan sesekali emas batangan lama tersimpan
dengan beras dan sagu
Yang lain ikut ke ladang
memetik cengkeh
dan membuka huma baru
Ada yang mengajar, menjadi guru
di sekolah berdinding papan dan kulit sagu
Mendirikan bangunan, membuka jalan
Satu dua anak kami dan pemuda kampung
terlibat percintaan, oh, Dewi Quan Im
kami merasakan engkau mulai tersenyum
meski dingin, meski cengkeh dan sagu-sagu pun
berbunga di Natuna
Tapi di sini tetap lebih baik
karena tak ada perang dan pengusiran
meski bukan tak ada penderitaan
kenangan akan kampung halaman
dan panjang perjalanan
bagaimana mungkin dapat hilang?

Dan entah pada bulan atau tahun keberapa
Datang perintah bahwa kami harus pindah
ke mari. Kami pun berpisah dengan saudara-saudara kami
di Natuna yang kami cintai. Tak apa. Dengan sisa kasihan ombak
kami bersorak,”Pulau Galang, kami datang, kami datang
dan kami tak akan pulang!”

Di sinilah, di pulau sunyi ini, kami tinggal dalam kampung
berupa kamp. Para tentara dan pengawal
memisahkan kami dari kampung-kampung di seberang
O, amis darah tercium juga sampai ke mari
ketika orang berbicara soal garis dan batas,
asal-usul dan negara
Kami ingin di sini, tapi ternyata mesti pergi
selamanya.

Demikianlah akhirnya, kami diminta kembali pulang
ke kampung halaman kami di tepi semenanjung
Itu bahasa paling layak ketimbang meminta kami pergi
tanpa alasan. Tapi, apakah artinya kampung halaman
jika seseorang merasa tenang
di tengah tanah dan air yang bermil-mil ia jelang?
Beratus kami menolak,
beratus kami bilang kata tidak
bahkan dengan membakar sisa-sisa kapal kenangan
yang lain, betapa sedih, membakar dirinya sendiri
Sebagian memutuskan pergi
jadi burung-burung migrasi
mencari daratan baru di bintik luka suratan telapak tangan
Dan semakin jauh kami, semakin kekal kenangan atas pulau-pulau
tak pernah lampau ini
Maka ke sini jua kami ziarah, menghadap Dewi Kasih Sayang
Di pintu Quan Am Tu
Kami pulang dan tersedu
Terimalah doa kami, Dewi,
Terimalah kesaksian kami, Tuan,
sebagai manusia sesama pemilik hidup
di bumi yang satu.

Selesai bercerita ia ulurkan tangannya,
Aku terkesiap dan menjabat hangat
Tapi sebentar kami sudah saling melepaskan
“Nguyen, di bumi yang satu,
kita bertemu dan berpisah
di Quan Am Tu
kuziarahi jejak sunyi
derita bangsamu
di tengah kandil gemerlap
cahaya dan laku bangsaku…”

/2008-2009



Candi Tikus

terkubur ratusan tahun
di bawah air dan lumpur
ia muncul
seperti gadis habis dimandikan
fajar yang menyelinap
sampai ke tiap lekuk
tak dikenal.

ia tak bangkit dari keruntuhan
karena tak pernah runtuh
bersemayam di bawah tanah
ia sesungguhnya kepundan
di tengah kaldera
ia menampung segala makhluk melata
yang memanjat dan mengerat
tubuhnya; dan ia tabah
seperti pertapa
menunggu datangnya
cahaya pertama.

/Trowulan, 2009



Batang Nibung

bermiang bukan jelatang
berduri bukannya rotan
lurus-ramping serupa pinang
buah tiada diharap orang
mekar pelepah bukan zaitun
daun bukan tatahan lontar
hidup di hutan dan belukar
sendiri meninggi
dalam keheningan—penunjuk arah

bagi perimba
membuka jalan
menebangnya.

/Rumahlebah Yogyakarta, 2009

*) Lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Mengelola Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia di Yogyakarta. Buku puisinya adalah Gugusan Mata Ibu (2005) dan Api Bawah Tanah (dalam proses terbit).

Sajak-Sajak Bode Riswandi

Sajak-Sajak Bode Riswandi
JURNAL BOGOR (MINGGU, 6 JUNI 2010)
Rubrik: Ruang Sajak


DI BERANDA SAJAKMU

Aku membayangkan tubuhku
Seperti pohon di beranda rumahmu
Daun yang kuning, satu-satu jatuh
Di rumput tanpa merasa terbanting

Di beranda itu dan di pohon yang sama
Aku melukis tubuhku seperti rumputmu
Yang lebat menangkup setiap kejatuhan
Daun dari rantingnya

Seperti itu kiranya usia jatuh
Dan menangkup. Meski tak ada gelagat
Yang perlu didebat, atau silsilah kelahiran
Yang perlu diperbincangkan

Di beranda itu, seperti di beranda sajakmu
Keriangan dan ketakutan tumbuh bergantian:
Menjadi tungku juga kayu bakar bagi segala
Musim yang mengakar.

2010

***


YANG MENCARI TAMASYA

Aku mencarimu ke rak-rak buku
Mencari alamat seseorang yang luput
Dicatat di buku tamu: tapi jelas di puisimu

Ada yang akrab dari sekedar percakapan
Sebuah nama yang diberikan angin, ihwal
Tamu lain dari pintu sajak yang lupa kau
Tutupkan.

Aku mencarimu ke lemari-lemari pakaian
Menata warna risalah dari sekian lipatan
Badan: tapi pengembaraan usai

Sehabis kulit sunyi yang telanjang di pohonnya
Jadi kudapan waktu yang memaksa segalanya
Jadi abadi. Jadi nama di buku tamu berikutnya.

2010

***


DARI CATATAN HARIAN NADJA HALILBEGOVICH 4 Oktober 1993

Kau menanam sepasang kaki mudamu
Ke dalam puisi yang ditulis seseorang
Di tembok kota dini hari tadi, menggali
Segara dengan darah segar Ibumu, Irma.
Dan langit seperti membisikkan sesuatu
Kepadaku. Mungkin seperti dongeng itu
Yang ingin kubacakan untukmu saat ini.

2010

***


AKU MEMBISIKIMU DENGAN TENAGA SISA

Ketika musim dingin datang kepadamu
Ciuman waktu yang dilesatkan kepadaku
Ibarat kayu bakar dari sisa musim dingin
Sebelumnya. Aku tak mungkin menolak
Ketika gairah nyalakmu terus-terusan
Berontak.

Kau bakar apapun. Musim yang terlewatkan
Kau bakar di musim yang lain. Kau panggil
Siapapun bila sepi tak lagi bersahutan gema.
Lalu kita dihangatkan musim berikutnya
Menangkap suara yang datang tiba-tiba.

Dalam kobaranmu aku memasuki tubuh
Masa lalu menutup pintu yang terbuka.
Angin dan debu datang saling mengikat
Dari siulan yang lekat. kemudian melesat
Ia kemanasuka jadi debu di ubin waktu.

Dengarlah, aku membisikimu dengan tenaga
Sisa “Kau selalu tumbuh jadi kuncup api
di mana lengan musim hari ini terasa beku
untuk dimaknai sebagai panas juga sumbu”.
Tapi aku tetap bergolak, selama sunyi-senyapmu
Memuaskan dirinya jadi kediaman yang baru.


2010

***



Bode Riswandi
Lahir di Tasikmalaya, 6 November 1983. Mengajar di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi Tasikmalaya (Unsil). Bergiat di Komunitas Azan, Sanggar Sastra Tasik (SST), Rumah Teater, dan Teater 28. Menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah drama.

Sajak-sajak Goenawan Muhammad

Perempuan Itu Menggerus Garam

Perempuan itu menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.
“Aku akan menciptakan harapan,” katanya, “pada batu hitam.”
Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia
dalam mimpi Yeremiah

Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,
seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,
ungkapannya, di angkasa. “Merekalah yang bermimpi,”
katanya dalam hati.

Tapi ia sendiri bermimpi. Ia memimpikan busut-busut terigu, yang
turun, seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang. Enam
orang berlari seakan ketakutan akan matahari.
“Itu semua anakku,” katanya. “Semua anakku.”

Ia tidak tahu ke mana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada
yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di Rusia, tak pernah
menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,
“Mak, kami hanya pengkhianat.”

Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,
(atau mungkin mimpi itu hanya kembali,)
yang tak mengenalnya. Ia sering berpesan dengan
bahasa diam asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia,
ia tidak berani tahu.

Perempuan itu hanya menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.

1995


Kwatrin Musim Gugur

I

Di udara dingin proses pun mulai: malam membereskan daun
menyiapkan ranjang mati.
Hari akan melengkapkan tahun
sebelum akhirnya pergi.

II

Kini akan habis matahari
yang membujuk anak ke pantai
Tinggal renyai.
Warna berganti-ganti. Dan engkau tak mengerti

III

Pada kalender musim pun diam.
Pada kalender aku pun bosan.
Di bawah daun-daun merah, bersembunyi jejak-Mu singgah
Sunyi dan abadi. Musim panas begitu megah.

IV

Kabar terakhir hanya salju
Suara dari jauh, dihembus waktu
Kita tak lagi berdoa. Kita bisa menerka
Hanya ada senja, panas penghabisan yang renta

1967-1968


Kwatrin tentang Sebuah Poci

Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

1973



Di Muka Jendela

Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil.
Ketika angin terputusputus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: –Datanglah!

Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:
Tidakkah sapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?

1961


Dongeng Sebelum Tidur

“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”

Itulah yang dikaakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.

“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.”

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia

“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?’

1971

Sajak-Sajak Leon Agusta

DARI SUATU MASA

“Mungkin, masih ada yang tersisa dari prahara selain
kitab suci dan puisi,” katamu, sembari bergegas pergi
Aku tak begitu sadar, apa pernah mengucapkannya
Gerangan berapa kali atau mungkin tak pernah
Tapi kenapa ada yang mendengar dan mengingatnya
Aku ingin mengatakan, kau mungkin benar
Ketika kau melangkah, meningggalkan pagar terbuka
Aku kira kamu masih akan menoleh sejenak. Kau pun
berangkat, meninggalkan suatu masa yang pincang
Menuju sebuah zaman lain yang belum bernama

KETIKA LANGIT DAN BUMI TAK LAGI TERBAYANGKAN

Apakah aku terlihat siang atau kabut atau debu-debu
Tak tahulah. Sungguh tak lagi terbayangkan
Tapi barangkali ketika itu di suatu senja yang asing
Aku pernah punya wajah buat dikenal. Wajahku
Barangkali ketika itu aku hendak mengenangnya
Sebagai tanda dari perkenalan yang diterima
Sebagai tanda dari percintaan yang selesai buat mencipta
Atau barangkali pernah pula ada perkenalan yang lain
Namun segalanya jadi lupa. Tak lagi terpikirkan. Pula
Bagaimana aku kan tahu sekiranya masih ada saat dan ketika
Masih meniti nafas dalam kesendirian yang lemas indera
Bahkan maut pun tak tersapa dan cinta pun tiada bangkit
Cuma, ada perasaan kehilangan yang melaju. Melaju.
Kehilangan di daerah pengasingan. Terhantar di sini
Dalam segala tak lagi punya warna atau ungkapan
Ketika langit dan bumi tak lagi terbayangkan


CATATAN HUKLA MEI 2008

Puluhan ribu senja tenggelam
Dalam kabut remang-remang labirin
Sejak terlihat ada pohon tumbuh di atas kertas
Dulunya kabur namun kini tampak rimbun
Menjelma jadi taman impian

Daun-daun berguguran jadi dendang kata-kata
Di atas kertas-kertas resmi, dalam aneka risalah
Memuat pasal demi pasal dan ayat demi ayat

Maka terjadilah
Bibit tumbuh bersemi di negeri nusa-antara
Lebat buahnya berjatuhan di negeri tetangga

Pasal-pasal tak sakral
Ayat-ayat pun tak suci
Hanya taman
Yang terlarang

Kini genderang mulai riuh bertalu
Barisan gelombang menderu berpacu
Tanpa bimbang dan ragu
Gemertap maju menyerbu
Hukla, ke taman impian menuju



KISAH BURUNG-BURUNG BEO

Burung beo di dalam sangkar itu
Dulunya adalah seorang filosof
Konon kata orang dia juga seorang ahli hukum
Bertahun-tahun dalam hidupnya dia telah dengan gigih
Mengajarkan kejujuran dan keadilan bagi rakyatnya
Hingga, setelah melalui perjalanan yang panjang

Dia sampai di satu tikungan berbukit batu.
Ia teramat letih.
Dan seseorang pun datang
Membisikkan sesuatu kepadanya

Kemudian, mereka menghilang di balik tikungan itu
Lama sekali tak ada kabar tentang sang filosof
Gema suaranya pun sudah menghilang
Sampai suatu hari orang-orang mulai mendengar cerita

Tentang burung-burung beo yang tinggal dalam sangkar emas
Gemuk-gemuk dan sangat manja, tapi sangat pendendam
Konon, seekor diantaranya adalah filosof itu
Kini, bila anakku Hukla Inna Alyssa mendengar

Orang-orang bicara lembut penuh petunjuk dan ajaran
Segera saja ia menutup kedua telinganya
Dan menatap dengan jelas kemudian wajahnya pucat pasi
Melihat banyaknya burung-burung beo menyamar jadi filosof





Leon Agusta (Ridwan Ilyas) lahir di Desa Sigiran, daerah pinggiran Danau Maninjau, 1938.
Pernah mengikuti International Writing Program di Iowa University, tahun 1976 dan 1978.
Karya-karyanya, berupa puisi, cerpen, esei, dan novel, dimuat di berbagai media massa, termasuk Horison, dan diterbitkan dalam sejumlah buku antologi. Walaupun usianya sudah kepala enam, Leon masih aktif menulis puisi, dan mengikuti berbagai forum sastra di dalam dan luar negeri.

17 July 2010

Puisi-Puisi Asep Sambodja untuk Fordisastra

Berhala Obama

jakarta membangun berhala obama
“obama kecil,” kata walikota, dan lucu

berhala ditaruh di tengah kota
“agar jadi inspirasi bagi anak-anak kita,” kata walikota

berhala itu berkata
“the future belongs to those who believe in the power of their dreams.”

dan ron muellers bilang,
“obama sering bermain di sini, dulu
dan sekarang dia jadi pemimpin dunia.”

orang-orang percaya
presiden amerika itu dibaptis jadi pemimpin dunia
seperti mereka percaya pada makanan siap saji
mereka menari dan menyanyi
di depan berhala kecil
semacam menyambut bintang film amerika

di oslo, berhala itu mendapat nobel
tapi oslo harus mengeluarkan 16 juta dolar
untuk mengamankan berhala itu
artinya lebih dari 10 kali lipat
nilai hadiah sebuah nobel perdamaian
keluar dari kocek panitia

mei-britt gundersen, warga oslo
merasa heran dan berpikir
“apakah sedang ada seorang teroris
sehingga perlu pengamanan seketat ini.”

sepulang membawa nobel
obama akan mengirim lebih dari 30.000 pasukan
ke afghanistan

untuk apa?
untuk membunuh manusia?
inikah arti pemimpin dunia?
inikah arti nobel perdamaian?

bencana apa yang kau ciptakan di timur tengah?

berhala obama kecil hanya nyengir di jakarta

Citayam, 13 Desember 2009
Asep Sambodja



Sepatu buat Bush


dua juta rakyat Irak yang mati
kini menjelma sepatu
yang ingin mencium mukamu, Bush

kau menolak ciuman itu
kau memalingkan wajahmu, Bush
karena yang ingin menciummu
hanyalah sepatu
hanya sepatu!

apa yang berharga pada wajahmu, Bush?
hingga sepatu demikian bernafsu
untuk menciummu
dan mungkin menidurkanmu
selama-lamanya

apa yang berharga dari kekuasaanmu, Bush?
kalau pada akhirnya
kado yang terbaik untukmu hanyalah sepatu
yang akan melekat di wajahmu
di wajahmu!

dua juta rakyat Irak yang mati
oleh pasukan yang kau kerahkan ke ladang minyak itu
kini menjelma sepatu
yang meruntuhkan harga dirimu
sebagai seorang laki-laki.

Citayam, 2009
Asep Sambodja



Misalkan Kita di Gaza

kematian adalah kawan yang paling menenangkan
di luar itu, wajah-wajah yang mirip drakula
ehud olmert
ehud barak
tzipi livni
bertaring dan beracun

27 desember 2008
satu demi satu bom mereka jatuhkan
satu demi satu orang palestina mati
1.203 orang palestina mati
5.200 orang palestina terluka
jutaan manusia tak sanggup lagi
menyaksikan perkosaan
yang dilakukan israel
terhadap palestina
di depan mata
secara nyata
dan membabi buta

menjelang pelantikan obama,
israel umumkan genjatan senjata
sementara resolusi pbb tak pernah dianggap
tak pernah dihirau

kembang api di malam hari
itu fosfor putih, sayang
yang membakar dan menguliti kulitmu
permainan ini terlalu serius
dan di luar batas kemanusiaan

misalkan kita di gaza
sulit bagiku makan di restoran amerika
yang tak menganggap orang-orang palestina
sebagai manusia

Citayam, 18 Januari 2009
Asep Sambodja






Pidato Rendra saat Menerima Achmad Bakrie Award 2006

“Manjing ing kahanan
nggayuh karsaning Hyang Widhi
masuk dalam kontekstualitas
meraih kehendak Allah”

dengan rasa hormat
dan perasaan yang tulus
saya ucapkan terima kasih
kepada Freedom Institute
dan Keluarga Bakrie
yang dengan khidmat
meneruskan cita-cita dan laku kebajikan
almarhum Achmad Bakrie

“masuk dalam kontekstualitas itu
bekalnya rewes, kepedulian
dan sih katresnan, cinta kasih”

saya juga ucapkan simpati yang dalam
kepada Keluarga Bakrie
yang terlanda musibah
terseret dalam kemelut
yang diciptakan PT Lapindo Brantas
yang telah melakukan kesalahan fatal
dalam eksplorasi yang mengakibatkan banjir lumpur
di Jawa Timur

“ananingsung marganira
ananira marganingsung
aku ada karena kamu
kamu ada karena aku”

tiga desa telah tenggelam
dan tak bisa dihuni lagi
lima belas pabrik yang mempekerjakan 1.736 karyawan
terpaksa tutup
dan menimbulkan masalah sosial ekonomi
delta Sungai Brantas yang subur
yang proses pembentukannya berabad-abad
melebihi usia peradaban manusia
hancur tertimbun lumpur
untuk selama-lamanya

saya yakin
Keluarga Bakrie tidak akan berpangku tangan
dan pasti akan mengerahkan
segenap usaha untuk bertanggung jawab
atas kecerobohan pekerja
dan orang-orang di PT Lapindo Brantas


Citayam, 26 Oktober 2009
Asep Sambodja



Setelah Lumpur Lapindo Menggenangi Semuanya



setelah lumpur lapindo menggenangi semuanya
aku mencari rumah lagi
seperti keong yang mencari rumah

setelah lumpur lapindo menggenangi semuanya
aku mencari kerja lagi
seperti semut yang mencari kerja

setelah lumpur lapindo menggenangi semuanya
aku mencari keadilan lagi
seperti merpati yang mencari keadilan

tapi penggede-penggede itu tetap berpesta
bermiliar-miliar rupiahnya
seperti cacing-cacing yang berpesta
di atas bangkai korban lumpur lapindo


Kebagusan City, 28 Mei 2010
Asep Sambodja



Apa yang Kau Lihat, Pak Gubernur?


ketika kau anugerahkan
zero accident award
pada PT Lapindo Brantas
apa yang kau lihat, Pak Gubernur?

karyawan lapindo yang selamat
atau rakyat sidoarjo yang sekarat?

atau uang?


Kebagusan City, 28 Mei 2010
Asep Sambodja




In Memoriam: Gus Dur



di ujung 2009
kau dijemputNya, Gus
hujan di luar gerimis
hujan di dalam menangis
mengiringi kepergianmu

semua tertunduk
dan berdoa untukmu, Gus
untuk tempat terbaik
dan mulia di sisiNya

rakyat sungguh mencintaimu
dan menyayangimu, Gus
kau telah memberi contoh terbaik
bagaimana selesaikan tragedi 65
bagaimana selesaikan konflik israel

“gitu aja kok repot.”

tapi di ujung 2009
kau pergi
ketika rakyat belum sempat melihat fajar
menyinari negeri ini

selamat jalan, Gus
doa kami selalu untukmu


Citayam, 30 Desember 2009
Asep Sambodja



Kepada Suwarimah Suhud

bu, kenapa ibu bunuh diri
di penjara lamongan?

aku hanya bisa membaca riwayat ibu
dari sebuah foto tua:
seorang perempuan tangguh
dan berhati baja

yang tak ingin disentuh
lelakilelaki begundal-amoral
saat interogasi dilakukan
dalam penjara orde baru

1967
kau pergi, ibu
saat aku turun ke bumi

semoga di surga
tak ada interogasi seperti itu lagi, bu


Citayam, 26 Desember 2009
Asep Sambodja

* Suwarimah Suhud adalah Ketua Gerakan Wanita Indonesia, Jawa Timur. Pada 1967 ia bunuh diri di Penjara Lamongan, Jawa Timur.
** Terinspirasi dari buku Perempuan, Kebenaran, dan Penjara: Kisah Nyata Wanita Dipenjara 20 Tahun karena Tuduhan Makar dan Subversi karya Sulami (1999). Sulami adalah Wakil Sekjen II DPP Gerakan Wanita Indonesia.



Sudjijem, 20/6/1965

di hutan situkup
desa dempes, kaliwiro, wonosobo
ditemukan sebuah nama: sudjijem
dan sebuah tanda
cincin kawin bertarikh 20 juni 1965
yang melingkar pada jari manis
seorang—ah, bukan, seonggok kerangka
tidak kurang sembilan bulan lamanya
sejak janur kuning melengkung
dengan tempurung kepala berlubang
bekas didor tentara
tepatnya diberondong pelor tentara
bersama kawan-kawannya

sejarah hendak dibenamkan
dalam kuburan massal
di hutan situkup
desa dempes, kaliwiro
wonosobo

penduduk desa yang mendengar
peluru-peluru yang dimuntahkan aparat
hanya mendapat sepotong informasi
khas orde baru
“tentara sedang menembaki monyet-monyet”
dan mereka sangat percaya dengan penuh ketakutan

mereka boleh saja berdusta
tapi selalu saja ada nama
dan tanda
yang membuka aib kebiadaban mereka

detik berjalan ke angka 2000
di hutan situkup
di bawah pohon kelapa
sebuah sejarah tengah dibongkar

aku sudjijem
kebiadabanmu terekam dengan baik
di batok kepala suamiku
yang bolong
oleh peluru sialmu


Ungaran, 28 November 2009
Asep Sambodja

*) terinspirasi dari film Mass Grave karya sutradara Lexy Junior Rambadetta.





Kepada Koin

menegakkan hukum
ternyata butuh biaya
beratus-ratus juta

mencari keadilan
ternyata melelahkan
dan perlu uang
beratus-ratus juta

tapi rakyat sudah melek hukum
tanpa ketukan palu hakim
mereka sudah tahu
siapa yang benar
siapa yang butuh uang
beratus-ratus juta

“okelah kalau begitu”
kata warteg boys
dan rakyat tahu
dewi keadilan sudah tak tahu malu
ia tak hanya menggenggam pedang
tapi sudah tahu uang
beratus-ratus juta

koin-koin dikumpulkan
uang recehan dihimpun
orang-orang kecil
yang sering ditelikung pengadilan korup
bah!

kini beratus-ratus juta
uang recehan itu siap dilemparkan
ke muka hakim


Argo Lawu, Yogya-Jakarta, 10 Desember 2009
Asep Sambodja


Kepada Kakao, Semangka, Jagung, dan Kapuk Randu

aku cuma seorang anjing
bukan hakim
dan hukum harus ditegakkan

kepada kakao, semangka, jagung, dan kapuk randu
kuvonis penjara
bagi yang iseng mengutil
meski sudah nenek-nenek
karena barangkali aku sekadar anjing
yang bukan hakim
yang ingin menegakkan hukum
seadil-adilnya

tapi karena aku hanyalah anjing
dan bukan hakim
aku tak bisa
memvonis para koruptor
karena koruptor-koruptor itu telah menyumpal
mulutku dengan uang
dan mereka pun merantai leherku
dengan uang
karena aku hanyalah anjing
yang keleleran

Argo Lawu, Yogya-Jakarta, 10 Desember 2009
Asep Sambodja




Hikayat Pentungan

"Ceritakan padaku apa arti duka wong cilik?" tanya Seno pada sang penyair.

Lalu penyair bercerita,
pada mulanya adalah pentungan
yang bergerak semena-mena

pentungan itu melayang sendiri
tanpa diketahui siapa yang menggerakkannya
pentungan itu memukuli kepala-kepala kami
memecahkan kaca jendela rumah idaman kami
merobohkan istana kami
--kalian menyebutnya gubuk--

pentungan itu mengangkut gerobak kami
yang sejatinya adalah nyawa kami
dan menendang-nendang dagangan kami
yang sejatinya adalah napas kami

kami tak takut pada pentungan itu
hingga pentungan menggelindingkan traktor
yang melindas dinding-dinding rumah kami
meratakan denyut napas kami, tempat tidur kami

pentungan itu tertawa sendiri
tertawa terbahak-bahak keras sekali
melotot kesana-kemari
memamerkan seragam beracun

sepertinya pentungan itu hanya berani pada wong cilik
tapi tak punya nyali pada para tikus
yang menggerogoti uang rakyat
tikus-tikus got yang menguasai kantor-kantor pemerintah
pentungan itu jayus pada tikus

pentungan itu
akhirnya kepentung
pentungannya sendiri
ketika orang-orang tertindas
tak ingin makam mbah priok dilindas pentungan


Citayam, 16 April 2010
Asep Sambodja



Puisi 24 Karat buat Yuni


selamat ulang tahun istriku
cinta tulusmu telah menghidupkanku kembali
dari kematian yang panjang

mungkin aku sudah bukan aku yang dulu
karena dalam diriku telah mengalir 14 kantung darah
dari 14 manusia mulia di muka bumi ini
kau bilang aku seperti drakula
dan ada 15 kepribadian dalam diriku
aku setuju
meski aku tetap cinta padamu

di kafe pinggir danau yang sepi
kau dengar apa yang kukatakan pada guru
yang sangat kucintai
bahwa aku serupa manusia multikultural
seperti yang sering ia ajarkan padaku

hari-hari dalam hidup baruku ini
kuingin selalu bersamamu
apakah arti kekuasaan
tanpa kau di sampingku
apakah arti kejayaan
tanpa kau di sampingku

hidupku yang paling berarti
adalah senyummu yang melekati hatiku
setiap saat
setiap tarikan napas
setiap kau menyanyi lagu cinta yang kau suka

selamat ulang tahun istriku...

Citayam, 16 April 2010
Asep Sambodja





Doa Kami buat Bunda

pada mulanya adalah waktu
jam dinding, penanggalan, dan ibu
yang terbujur kaku

masih kulihat senyum dan ikhlasmu
meninggalkan kami

tapi masih kurasai kasih
dan kesabaranmu
yang baluri jiwa-jiwa kami

saatnya kini kami hangati tidur panjangmu
dengan doa-doa dan ayat-ayat suci
agar kau tak merasa sepi sendiri

ibu, sudah banyak yang kau beri
dan kau tak harap kembali
ada satu waktu kita kan bertemu lagi
dan cukup bagiku pernah lahir dari rahimmu
dan senang bisa mencintaimu

ibu, aku ingin berdoa seperti yang pernah
kau ajarkan dulu:
"Tuhan, sayangilah ibu dan bapakku
sebagaimana mereka menyayangiku"

amin.

Ungaran, 7 Mei 2010
Asep Sambodja




Kepada Nari Asmiati


ingin kutulis sebuah surat
buat seorang malaikat
yang dengan sayapnya terbang kian kemari
melintasi pulau-pulau dan samudera

ingin kukatakan padanya
betapa aku bahagia
entah mengapa
yang pasti karena sayap malaikat
yang mendekap segala haru

ingin kuingat kata-kata sakti
seorang dewa yang baru turun ke bumi
indonesia
"nari, cintaku berdarah-darah padamu."


Kebagusan City, 16 Mei 2010
Asep Sambodja








Ia Menulis Puisi Sedih


ia merasa sebagai laki-laki paling malang sedunia
ia menulis puisi cinta
antara ibunya dengan laki-laki entah siapa

ia merasa sangat peduli dengan adik-adiknya
yang tertidur dengan tenang
di bawah batu-batu nisan
di taman makam bukan pahlawan

hanya ibunya yang belum ia bunuh
meski ia tahu ibunya selingkuh

ia merasa sebagai laki-laki paling malang di dunia
ia menulis puisi cinta
dengan darah yang mengalir dari jari-jarinya

tapi puisi itu tak pernah selesai ditulisnya
tak kan pernah selesai
karena sang ibu menangis
di depan jasadnya


Citayam, 22 September 2009
Asep Sambodja




Kepada Medy Loekito

bahwa kita akan mati itu sudah pasti
tapi siapa bersamamu menjengukku?
menjenguk rangkaku?

aku tahu ada nonny, anggoro, tulus…
ada endo, badri, arumdono…
tapi siapa yang bersamamu?
penyairkah?
penyihir? semacam peri?

bahwa kematian itu kepastian dalam hidup
malaikat pun tahu
penyair tua pun tahu
tapi apa yang kau berikan padaku
lewat belaian jemarimu itu?
lentik jarimu itu?
apa yang kau ucapkan dalam diammu?

ada yang kau lekatkan di keningku
saat kau sedih katakan:
“mas asep sakit, bung saut sakit…”

hidup seperti sebuah puisi
yang harus segera diselesaikan


Citayam, 26 Oktober 2009
Asep Sambodja




Kepada Novi Diah

telah kuarungi filsafat pemberontakan
tentang hidup yang absurd
tentang cinta yang nonsens
dan yang ketemukan adalah empu gandring
yang mengelus-elus kerisnya
untuk menjemput maut dengan segala sumpah-serapah
yang tak menambah kesaktiannya

aku bertemu madame bovary
yang bimbang antara cinta dan birahi
ia menyesali perkawinannya dengan seorang dokter
yang tak bergairah di ranjang
dingin
dan ia lari pada pelukan tuan tanah la huchette
dan hanyut dalam pelukan seorang juru tulis rouen
ia mendapatkan hangatnya birahi
luapan nafsu yang memuncak dan tak tertahankan
tapi ia tak dapati cinta
hanya gairah
hanya birahi
yang tak habis-habis
hingga ia memilih menenggak arsenik bikinan homais
agar tak merepotkan suaminya yang baik hati
yang baik hati!

di sebuah kitab cinta kaum sufi
terpatri kata-kata suci
bahwa cinta yang kau berikan
adalah untukmu sendiri
cinta yang kau berikan padanya
adalah untukmu sendiri
meski ia tak acuhkan cintamu
ia tetap milikmu sendiri
tak ada yang kurang
tak ada yang hilang


Citayam, 21 Februari 2010
Asep Sambodja




Jangan Sakiti Luna

jangan sakiti luna
ia seperti prita
yang hanya mengkritik ketidakberesan

prita mengkritik rumah sakit
luna mengkritik infotainment
tapi rakyat menyayangi prita
rakyat mencintai luna

maka jangan sakiti luna
ia cukup menghibur rakyat kecil
walau hanya senyum di televisi
daripada menonton pejabat-pejabat korup
yang bicara berbusa-busa
menutupi kebohongan dengan kebohongan lain

lebih baik menonton luna
daripada menonton gosip
yang presenternya aduh lucu sekali
berkerudung di bulan suci
tapi di bulan tak suci
payudaranya senantiasa berjuang
demi kemerdekaan abadi

pring reketeg gunung gamping ambrol
susu menteg-menteg bokong gede megal-megol…

Citayam, Natal 25 Desember 2009
Asep Sambodja



Seandainya Saya Luna Maya

barangkali aku akan mati berdiri
kalau setiap hari
pertanyaan yang kudengar hanya ini:
kapan kawin?

ah, pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu saja
tak pernah berkembang
tak pernah bermutu
dari dulu hingga nanti
pertanyaannya melulu kawin, kawin, kawin…
kalau sudah kawin:
selingkuhkah?
kapan cerai?
ah!

tak ada berita

dan aku hanya jadi barang dagangan
bagi gosipers dan paparazi
yang haus urusan orang lain


Citayam, 18 Desember 2009
Asep Sambodja

Selamat Natal, Mr. Pringadi

Sudah berapa jam ya sinterklas itu belum juga datang. Aku sudah menanti di perapian, di jendela, di depan pintu, atau pintu kecil di gudang belakang. Aku mau tarik janggutnya, palsu nggak ya? Pukul delapan malam masih, orangtuaku berjanji untuk menukarkan bibirnya di pegadaian. Aku ditinggal sendirian. Aku perhatikan sekeliling ruangan. Pohon cemara yang penuh hiasan. Meja makan yang cuma jadi pajangan. Aku lupa kapan terakhir kali kami membiarkan sendok dan garpu saling bertemu. Hari itu piring dan mangkuk dilempar. Mereka lagi-lagi bertengkar. Aku kangen suasana-suasana kebersamaan. Pergi ke bukit kecil, menggelar tikar, dan menghidangkan ikan bakar. Atau ke pantai, melihat ombak dan riak air laut yang asin. Aku baru mengerti hidup ini pun begitu asin. Aku menyalakan televisi kali-kali ada pengeboman lagi. Aku ingin paham sejatinya kehidupan ini ada rasa selain asam dan garam. Tetapi, sinterklas itu belum datang juga. Aku ingin minta padanya sebuah mantra. Biar lampu terus menyala. Biar perapian selalu memberi kehangatan. Biar meja makan itu mulai dihidangkan banyak menu. Biar aku tak merasa asing dengan diriku.

16 July 2010

aku akan berhenti mencintaimu di 21 desember 2012

aku akan berhenti mencintaimu di 21 desember 2012
di tagihan listrik yang belum tuntas. di kotak-kotak lampu bekas
di kelokan
di kulit bibirmu yang terkelupas
oleh panas
dan tangisan-tangisan panjang anak laki-laki
kehilangan sepatu, kehilangan
gundu yang hitam dan selalu
menangan;
perihal itu
kubayangkan
dalam sebuah gelas
setengah isi setengah tuntas
dalam sumur yang menyelia umur
lalu lumpur
lum
pur
berisi cinta
yang luap
lalu lesap
di 21 Desember 2012
ketika aku
berhenti
mencintaimu

Berkenalan dengan Tujuh Penyair Belanda

Rudy Kousbroek



Berkenalan dengan Tujuh Penyair Belanda


oleh Asep Sambodja



Festival Puisi Internasional Indonesia 2002 merupakan salah satu peristiwa puisi yang penting di mata dunia. Dalam festival ini, penyair-penyair dari berbagai negara diundang untuk membacakan puisi-puisi mereka dalam bahasa mereka sendiri. Pendengar yang tidak mengerti dan memahami puisi yang dibacakan biasanya diberikan terjemahannya oleh panitia. Penyair-penyair yang diundang dalam acara ini telah melewati suatu proses seleksi yang dilakukan oleh para penyair senior dan mendapatkan honorarium yang sangat pantas. Dalam hal ini, yang menjadi kurator dalam Festival Puisi Internasional Indonesia 2002 adalah Rendra, Remco Campert, Martin Mooij, dan Silke Behl.

Festival ini tidak bisa dipisahkan dari tradisi yang sudah diadakan di Belanda sejak 1970, yakni Poetry International di Rotterdam. Orang yang paling berjasa atas keberlangsungan festival puisi dunia ini adalah Martin Mooij. Ia bekerja pada Dewan Kesenian Rotterdam pada 1969 dan mulai mendesain Festival Poetry International di Rotterdam. Martin Mooij adalah sosok yang unik, karena ketika muda sudah berani membangkang penguasa. Dalam arti, ia menolak wajib militer yang diselenggarakan pemerintahnya pada 1940-an. Adapun alasan penolakannya adalah karena ia merasa keberatan untuk membunuh orang lain, apalagi orang yang sedang berjuang demi kemerdekaan bangsanya (Mooij, 2002: 7).

Alasan Martin Mooij itu sangat manusiawi dan sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun demikian, ia memetik risiko akibat pembangkangannya tersebut, yakni tidak mendapat akses untuk bekerja di instansi pemerintah Belanda. Karena itu, bisa dipahami jika Martin Mooij memberikan perhatian yang demikian besar pada Poetry International di Rotterdam. Ia sangat memegang teguh pernyataan Manager Kebudayaan Dewan Kesenian Rotterdam, Adrian van der Staay, yang diungkapkan pada pembukaan Poetry International Rotterdam pada 1970. Adrian mengatakan, “Suara kemanusiaan sangatlah lemah. Di tengah kekerasan perang hanya tangis yang bisa didengar. Setelah terlalu banyak dijejali oleh mesin, diabaikan oleh teknik, dibungkam oleh kelaparan, suara kemanusiaan jadi senyap tak terdengar. Poetry International ingin memberi tanggapan pada suara kemanusiaan.” (Mooij, 2002: 9).

Rendra, Ketua Umum Puisi Internasional Indonesia 2002 mengatakan, festival ini dimaksudkan menjadi tempat orang-orang dari bahasa, nasionalitas, dan latar belakang berbeda dapat saling berjumpa dari hati ke hati lewat puisi (Ismail, 2002: 4).

Ada tujuh penyair Belanda yang tampil dalam Puisi Internasional Indonesia 2002 ini, selain beberapa penyair dari Jerman, Afrika Selatan, Jepang, Malaysia, Austria, dan Indonesia sebagai tuan rumah. Ketujuh penyair Belanda itu adalah Remco Campert, Gerrit Komrij, Rudy Kousbroek, Mustafa Stittou, Ramsey Nasr, dan dua penyair perempuan Belanda: Gerry van der Linden dan Hagar Peeters. Yang menarik adalah salah satu di antara mereka, yakni Rudy Kousbroek lahir dan besar di Indonesia, tepatnya di Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Dalam membahas puisi-puisi mereka, saya menyertakan biodata singkat masing-masing penyair yang terdapat dalam majalah Horison edisi khusus, April 2002, untuk mengenal lebih dekat penyairnya. Dalam kesempatan ini, masing-masing penyair hanya saya analisis sebuah puisinya, yang menurut saya merepresentasikan kepenyairan mereka. Secara garis besar, saya melihat bahwa penyair-penyair Belanda sangat menikmati dengan permainan bunyi dan permainan makna. Kata-kata yang mereka gunakan relatif ringan dan sederhana, namun terkadang memunculkan makna yang dalam. Puisi-puisi yang saya tampilkan di sini setidaknya memperlihatkan bahwa persoalan yang mereka ungkap atau sampaikan melalui puisi-puisi mereka adalah persoalan sederhana yang bisa dialami oleh siapa pun.


1. Gerrit Komrij
Gerrit Komrij lahir di Winterswijk, 1944. Ia sejak lama termasuk penyair paling populer di Belanda dan disebut sebagai Dichter des Vaderlands (‘penyair negara’). Tidak hanya itu, ia juga adalah esais yang cerdas, kritikus yang tajam, dan penerjemah berbakat. Pada 1968 ia menerbitkan kumpulan sajaknya yang pertama Maagdenburger halve bollen en andere gedichten. Dia menjadi terkenal karena humor-humornya yang garang dan teknik persajakannya yang sempurna. Dia termasuk penyair Belanda yang diundang dalam festival Poetry International yang pertama di Rotterdam (1970).

Gerrit Komrij juga dipandang sebagai penyusun bunga rampai yang paling pandai mengenai puisi Belanda dari abad keduabelas sampai dengan abad keduapuluh. Ia membuka ilmu persajakan untuk publik pembaca yang luas. Kritik-kritik serta pandangan-pandangannya mengenai puisi yang terbit dalam bentuk buku serta surat kabar dan majalah—baik harian maupun mingguan—sering dijadikan acuan dalam meluaskan perhatian pembaca mengenai ilmu persajakan pada dasawarsa-dasawarsa terakhir. Jumlah karangannya pun banyak, meliputi puisi, esai, kritik, dan artikel. Belum lama ini, telah terbit pula Awater, majalah puisi yang didirikannya. Sebuah majalah yang dimaksudkan untuk memberi penerangan mengenai ilmu perpuisian kepada para pembaca yang umum. Dan Gerrit Komrij dikenal luas juga sebagai performer yang hebat bagi pembacaan puisinya sendiri.


Makhluk Komrij

Ada binatang dongengan yang bernama ‘Komrij’,
Nama aneh bagi sesuatu yang begitu menyenangkan.
Kepalanya memang agak lebar,
Tapi dia tak punya keajaiban lain.

Dia agak terlalu sabar, semacam kegagalan.
Tangannya sangat menyerupai sekop batu bara.
Juga kepalanya biasa di atasnya.
Dia tak akan menjelma menjadi sesuatu yang indah.

Dia adalah anjing, tak lain. Selama hidup dia
akan menjadi makhluk yang ‘selalu mengerti’.
Hanya pada larut malam dia melolong,
karena ada sakit rahasia yang mencekiknya.


Puisi Gerrit Komrij ini memperlihatkan keberanian Komrij untuk mengkritik dan menertawakan dirinya sendiri; sesuatu yang sulit dilakukan oleh manusia biasa. Ia bahkan menganalogikan dirinya sebagai seekor anjing—sesuatu yang justru dihindari oleh siapa pun, mengingat kata ‘anjing’ bisa berarti sesuatu yang rendah dan biasa dijadikan sebagai cacian—dengan tanpa beban. Namun, metafora anjing yang digunakan Komrij, yang dilekatkan pada dirinya sendiri sebagai “Makhluk Komrij”, berisi pesan yang penting, yakni adanya rasa sakit yang mencekik yang dilolongkannya pada setiap malam. Kata-kata pada bait terakhir ini memberi makna lebih pada puisi ini. Bahwa penyair menyuarakan sesuatu, atau “melolongkan sesuatu” karena memang ada sesuatu yang menyesakkan hatinya.


2. Gerry van der Linden
Gerry van der Linden (Eindhoven, 1952) mempublikasikan sajak-sajaknya untuk pertama kali di majalah Gedicht. Tiga tahun kemudian dia menerbitkan kumpulan sajaknya yang pertama De Aantekening. Selepas itu, dia meninggalkan Belanda untuk beberapa lama dan tinggal serta bekerja di San Francisco, tempat ia antara lain memimpin bengkel puisi, membacakan sajak-sajaknya dan menerjemahkannya. Pada 1990, kumpulan sajaknya yang kedua Val op de rand terbit di Belanda. Dalam kumpulan sajaknya tersebut, ia menunjukkan diri sebagai penyair lirik yang membangkitkan minat di satu sisi dan sekaligus bersikap bandel. Tema-tema pokoknya umumnya berkisar antara pertalian hubungan, maut, anak, keluarga, perjalanan. Dan dalam seluruh tema itu selalu saja terdapat ketegangan tersembunyi. Beberapa kumpulan sajaknya sejak itu bermunculan.

Gerry van der Linden kemudian juga mulai menulis prosa. Pada 2001, terbit kumpulan sajak yang terbarunya, Uitweg. Di dalamnya, sang ayahnya yang meninggal dunia memegang peranan yang sangat penting. Pada 1998 Gerry van der Linden pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Bersama Remco Campert dan beberapa penyair Indonesia, ia membacakan sajak-sajaknya di Jakarta dan Bandung.


Kebahagiaan

Aku tak tahan lagi
pasangan muda pakai tas untuk bermalam minggu

atau suami istri separo baya pakai ransel
melambaikan rambutnya berwarna abu-abu
seakan mereka saling melambai di sebuah ladang
gandum….

Apakah karena itu mereka kelihatan
begitu berjarak?

Tetapi pasangan-pasangan muda!
Mereka mempertunjukkan kewajaran
yang sangat tak tertahankan

seakan hari membentang untuk mereka
seperti permadani panjang
seakan di sana kebahagiaan berada
di jalan untuk didekap erat.


Dalam puisi “Kebahagiaan”, Gerry van der Linden membandingkan pasangan muda yang dibelenggu dengan formalitas dengan pasangan muda yang bebas lepas dari tetek-bengek formalitas. Gerry juga membandingkan pasangan suami-istri yang telah diikat dengan tali perkawinan dengan pasangan muda yang belum terikat dalam satu ikatan perkawinan. Gerry menilai bahwa formalitas dan ikatan perkawinan menjadikan hubungan antara laki-laki dengan perempuan menjadi berjarak, berbeda dengan hubungan pasangan muda yang benar-benar tidak terikat dengan lembaga perkawinan itu dan tidak terbelenggu dengan formalitas hubungan. Gerry ingin mengatakan bahwa pada pasangan muda yang bebas seperti itulah akan direguk kebahagiaan. Karena, “seakan hari membentang untuk mereka, seperti permadani panjang, seakan di sana kebahagiaan berada, di jalan untuk didekap erat.”


3. Hagar Peeters
Hagar Peeters lahir di Amsterdam, Belanda, 1972. Dia menempuh studi Sejarah Kebudayaan, Universitas Utrecht dan memenangkan the National Thesis Award 2001 untuk tesis terbaik yang ditulis di Belanda. Topik tesisnya adalah “Humanisasi Pengadilan Kriminal Belanda Sejak 1945”. Pada Mei 2002, sejarah biografis yang berdasar pada tesisnya akan diterbitkan. Pada 1999 terbit kumpulan puisinya yang pertama, Genoeg gedicht over de liefde vandaag (‘Cukup sekian Puisi tentang Cinta Hari Ini’). Pada 2000, dia masuk nominasi dalam NPS Culture Award. Hagar Peeters banyak menampilkan sajak-sajaknya di Belanda. Pada Mei 2000, dia tampil membacakan sajak-sajaknya di Kepulauan Antilla (Dutch Antilles).


Janji

Dia tak muncul.
Barangkali sakit atau tertabrak
trem, barangkali orang lain
menyapanya. Barangkali dia lupa jam tangannya
atau jam tangan lupa menunjukkan waktu.
Barangkali mobilnya tak mau menyala
atau rusak di tengah jalan.
Barangkali ada yang meneleponnya
tepat sebelum berangkat,
dengan kabar dia harus ke kremasi
atau bahwa ibunya meninggal.
Barangkali dia bertemu kenalan lama.
Barangkali dia sedang bertengkar di tempatnya kerja
kemudian dipecat dan menyembunyikan kepala
di bawah bantal. Barangkali jembatan membuka,
juga yang berikutnya.
Barangkali lampu lalu-lintas tetap merah.
Barangkali kartu banknya ditelan mesin uang
atau di tengah jalan dia lupa dompetnya.
Barangkali dia kehilangan kaca mata
tak bisa berhenti membaca
ada acara di TV yang ingin dia tonton sampai tamat
pintu rumahnya tidak bisa dikunci
dia kehilangan gepokan kunci,
dan tiba tiba anjingnya mulai muntah.
Barangkali tak ada telepon di sekitarnya,
alamat restorannya tak bisa dia temukan
atau dengan tak sengaja dia menunggu
di tempat berbeda.
Barangkali –kemungkinan terakhir
yang tak terpahami dan tak terduga—
dia tak lagi mencintaiku.

Terjemahan Linde Voûte dan Agus R. Sarjono


Hagar Peeters sangat jeli dengan permainan imajinasi. Ia berandai-andai kenapa kekasihnya tidak datang menepati janji sebagaimana yang telah disepakati bersama. Dalam pengandaian itu, Hagar Peeters mengeksplorasi segala kemungkinan yang ada, yang barangkali bisa saja apa yang dibayangkan aku-lirik mengenai kekasihnya itu memang benar adanya. Di sinilah kecerdikan seorang Hagar Peeters benar-benar dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah puisi yang sarat humor dan mengembangkan narasi dalam sebuah puisi. Meskipun demikian, apa yang diandaikan penyair masih merupakan keutuhan, dan mendapatkan klimaksnya pada baris terakhir, bahwa “barangkali dia tak lagi mencintaiku”. Menurut saya, puisi Hagar Peeters ini sangat menarik dan kuat dalam gagasan.


4. Mustafa Stittou
Mustafa Stittou lahir di Tetouan, Marokko, 1974, dan tumbuh di Lelystad. Ia kini tinggal dan bekerja di Amsterdam. Selain belajar filsafat, ia menulis ulasan puisi di majalah mingguan Vrij Nederland. Pada 1994 terbit kumpulan sajak pertamanya Mijn Vormen (‘Bentukku’). Pada 1998 terbit Mijn Gedichten (‘Sajak-sajakku’). Dua kumpulan sajaknya itu mendapat pujian. Stittou menulis sajak-sajak lucu dan semaunya, yang ketika dipanggungkan hadir dengan penuh semangat. Ia bersedia melihat puisi pada apa saja dan ingin tahu tentang yang asing maupun yang sudah dikenal.

Ia berhasil mendapat nama baik sebagai performer di beberapa festival sastra, seperti Poetry International di Rotterdam pada 1994. Stittou juga menulis beberapa sajak pesanan, antara lain untuk Nationale Dodenherdenking 1999 (peringatan pada korban yang gugur dalam Perang Dunia II). Mustafa Stittou mengikuti Festival Winternachten pada Januari 2001.


2.

Si kepiting buruk rupa:
mencipta diri sendiri karena jumawa.

Suku bangsa mandi dengan susu:
demikianlah kera terjadi.

Buah delima terdiri
dari air mata beku

dari nabi.
Kalimat syahadat,

ada foto-foto dari itu, tertulis
di dedaunan.

Dari Armstrong
(tiada orang diizinkan tahu di Amerika)

telah mendengar azan
di rembulan.

diterjemahkan oleh Linde Voûte


Penyair asal Maroko, Mustafa Stittou ini memang dikenal sebagai penyair yang suka main-main. Dari segi tipografi, Mustafa Stittou tampak tidak main-main, namun dari segi diksi, ia sungguh-sungguh bermain-main, sehingga jalinan kata yang terbangun menjadi absurd karena kalimat yang tercipta tidak lagi mudah dipahami. Pembaca harus benar-benar jeli dengan kata-kata yang digunakan Mustafa Stittou ini, karena hubungan antara satu kata dengan kata lainnya bukanlah hubungan semantis, melainkan hanya sebatas hubungan sintaksis. Dalam arti, secara tata bahasa, struktur kalimat dalam puisi Mustafa Stittou bisa dibenarkan, namun tidak menghasilkan makna yang utuh. Kalaupun harus dicari maknanya, karena penyair memiliki kebebasan licentia poetica, maka makna yang tercipta adalah makna baru. Meskipun demikian, dalam puisi tersebut, terutama pada bagian akhirnya, terbaca juga bahwa Mustafa Stittou hendak mengkritik Amerika Serikat yang dikenal dunia telah mendaratkan Neil Armstrong di bulan. Sebab, ada yang masih meragukan apakah benar Neil Armstrong mendarat di bulan? Atau, benarkah Neil Armstrong mendengar suara azan di bulan? Dan, kalaupun benar, kenapa Amerika menutup-nutupi persoalan ini? Inilah yang mendasari kritik Stittou pada Amerika.


5. Ramsey Nasr
Ramsey Nasr (1974) adalah penyair, pemain sandiwara, penulis, dan sutradara. Keberhasilannya sebagai teaterawan dimulai pertama kali dengan monolognya De doorspeler. Pada 2000, terbit kumpulan sajaknya yang pertama, 27 gedichten & Geen Lied. Sebagai pemain teater dia bergabung selama lima tahun dengan salah satu rombongan sandiwara paling penting di Belanda, dan Vlaanderen. Dia pernah memainkan De doorspeler di Palestina dan Yordania dalam versi bahasa Inggris-Arab. Ia pun telah bermain dalam sejumlah film, dan kini tengah menjadi pemain utama dalam serial TV tiga jilid, De enclave.
Ramsey Nasr tampil dalam festival-festival puisi penting di wilayah berbahasa Belanda. Pada 2001 terbit novelnya yang pertama. Dia juga menulis dan menyutradarai Leven en Hel-de operette. Sehari sebelum berangkat ke Indonesia, dia menyutradarai Il Re Pastore, sebuah opera dari Mozart, di Gent, Belgia.


Malam

Aku tak membencimu. Aku mencintaimu dan membunuhmu,
Seperti orang sering lakukan untuk bertahan hidup,
Kamu tahu bahwa aku tak ada pilihan lain lagi: atau kamu,
Atau aku mau tidak mau. Kamu berdosa.
Kematian itu agak aneh bukan?
Kecepatannya mengherankan. Ya, dipikir kembali
seharusnya aku melakukannya tak tergesa-gesa,
Ludieker. Dalam terikat kau pun
berhari-hari menghiburku, kalau aku
memotong jaringan atau organ pada tubuhmu: sebuah ritual,
dengan itu hidup dengan sendirinya akan meninggalkanmu
dan bukan karena sakit, tetapi karena rasa hampa
yang demikian dalam. Teriak-teriakan ingin kudengar,
mengaduh, air-mata, tanda-tanda pertama
penyesalan. Betapa aku sungguh ketawa,
meludah di mukamu dan ketawa lagi,
tertawa besar yang berkali-kali bergema.
Itulah, manis, dari semua yang aku paling mau,
namun demikian aku tak beruntung.
Bahkan dari kematianmu aku tak dapat satu hasil pun.
Kamu sempurna dan utuh, aku berserah diri.
Sebentar saja aku merasa lega waktu bayangan
mu mengabur, tak sadar bahwa
kamu juga memerintahi malam. Dalam kegelapan
aku tinggal dan mengapa aku tak mengerti.


Dalam puisi “Malam” karya Ramsey Nasr terbaca bahwa penyair ingin menggambarkan sesuatu yang sadis namun disampaikan dengan biasa, seolah-olah kesadaisan itu sudah merupakan sesuatu yang biasa dan sangat wajar. Diksi yang digunakan pun memperkuat citraan yang hendak dibangun Ramsey. Dalam hal ini, diksi yang saya jadikan patokan adalah diksi dalam bahasa Indonesia—karena keterbatasan pembacaan saya pada karya aslinya. Dari kata-kata yang digunakan, seperti “malam”, “kegelapan”, “bayangan”, “kematian”, “membunuh”, “membenci” yang semuanya memiliki makna negatif. Puisi Ramsey Nasr ini mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma yang menggambarkan kesadisan dengan sangat biasa, namun makna yang tertangkap dari teks itu adalah sesuatu yang sarkastis. Demikian pula dengan karya Ramsey Nasr ini, yang saya kira juga sangat sarkastis dalam menggambarkan hubungan sesama manusia yang dilandasi dengan “kegelapan”.


6. Remco Campert
Remco Campert lahir di Den Haag, 1929. Namanya mulai bersinar setelah ia menerbitkan kumpulan sajaknya yang pertama Vogels vliegen toch (1951). Sajak-sajaknya menunjukkan keengganan terhadap hal-hal penting dan dalam. Intisari dari kesungguhan, kemarahan, dan sebagainya, dibungkusnya dengan bahasa yang ringan. Ia mendedikasikan bakatnya bagi keragaman masyarakat kecil dengan kegigihan dan integritas yang tinggi.

Remco Campert pernah menjadi redaktur majalah Podium (1954-1955 dan 1970-1979) dan Tirade (1957). Dari 1973-1976 dia punya majalah sendiri, Gedicht (‘Sajak’) yang kini dianggap klasik dan dicari para kolektor.

Remco Campert bukan hanya seorang penyair, melainkan juga banyak menulis prosa dan esai. Kolom kecilnya muncul setiap dua hari sekali di koran terbesar Belanda dalam kolom CaMu (Campert & Mulder) selama bertahun-tahun dan telah menjadi bacaan kegemaran para pembaca koran itu. Dalam festival Poetry International di Rotterdam, Remco memegang peranan penting sejak 1972, baik sebagai peserta, sebagai penyaji, sebagai penerjemah, maupun sebagai tuan rumah. Dan pada 1997, dia menjadi Ketua Poetry International Advisor Board. Ia juga salah seorang pendiri Yayasan Poets of All Nation (PAN).

Remco Campert adalah sastrawan yang sangat produktif. Buku demi buku kumpulan sajaknya telah terbit, demikian pula esai dan novelnya. Kumpulan sajaknya Remco Campert—Dichter (‘Remco Campert—Sang Penyair’) dapat dijadikan rujukan bagi pembaca yang ingin bertemu dengan sajak-sajaknya secara relatif lengkap. Dedikasi, produktivitas, dan kualitas karya-karyanya bukan hanya menempatkan Remco Campert sebagai penyair paling terkenal di negerinya, tetapi juga mengukuhkan kenyataan bahwa hingga saat ini dia tetap merupakan salah satu penyair paling indah dalam khasanah sastra berbahasa Belanda. Sepilihan sajak-sajaknya telah diterjemahkan oleh Linde Voute ke dalam bahasa Indonesia dan terbit dalam edisi dwibahasa dengan judul Ratapan/Lamento.


Di Jawa

Sementara kau memetik daun teh
demi sedikit nasi dan ikan
dan sebuah honda untuk kakakmu
di kaki gunung
yang berkalung kabut
sebentar saja aku lihat wajahmu
ketika kau mengangkatnya
capek dan penuh keinginan

kelak kemudian di stasiun
dimana aku berlindung untuk hujan
sosok tubuh pada gambar
berwarna lusuh
kau sedang berciuman dengan lelakimu
di bangku untuk rakyat
bebas namun tertangkap


Penyair senior Remco Campert tampak telah sangat piawai menggunakan kata-kata. Dari puisi-puisinya terbaca bahwa penyair tidak lagi bersusah payah mengeksplorasi kata-kata. Sebaliknya, Remco Campert sangat menikmati dengan permainan kata yang dilakukannya. Dalam pembahasan ini, saya sengaja membaca puisinya yang berjudul “Di Jawa” untuk mengetahui bagaimana penyair Belanda memotret wajah Indonesia, dalam hal ini Jawa. Terlepas dari kualitas terjemahannya yang terasa kurang puitis, namun yang tertangkap dari keseluruhan puisi Remco Campert adalah bagaimana penyair memotret sepenggal kehidupan seorang pemetik teh yang tekun bekerja hingga kelelahan. Namun, di waktu lain, penyair menemukan sang pemetik teh telah berpacaran dengan lelakinya, hingga yang tertangkap adalah “zet je te kussen met je jongen”. Sekali lagi, penyair Belanda tampak sering menampilkan puisi-puisi yang sarat humor kemanusiaan.


7. Rudy Kousbroek
Rudy Kousbroek lahir di Pematang Siantar, 1929. Bersama Remco Campert, ia mendirikan majalah Braak pada 1950, yang berperan besar dalam gerakan puisi baru dan berdampak luas pada para penyair Belanda selepas Perang Dunia II. Dia belajar ilmu pasti dan fisika di Amsterdam dan kemudian belajar bahasa Cina dan Jepang di Paris, Prancis, tempat tinggalnya selama puluhan tahun. Pada 1953, ia memulai debutnya sebagai penyair dengan menerbitkan kumpulan sajaknya yang pertama, Begrafenis van een keerkring. Dia terutama sangat terkenal sebagai seorang esais dan penulis polemis, terutama dengan memberi reaksi terhadap iklim kebudayaan di Belanda. Ketika ia dianugerahi P.C. Hooftprijs yang merupakan hadiah negara pada 1975, dia mengucapkan terima kasih dengan mengatakan, “Di Belanda kebudayaan tidak begitu perlu.”

Selain menulis esai, Rudy Kousbroek tak berhenti menulis puisi dan mempublikasikan sebuah roman, tetap menyimpan di hatinya bagi Indonesia. Dia selalu ingat masa kecil dan masa remajanya di Nederlands Indie kolonial pada masa sebelum perang dan masa pendudukan Jepang. Itulah yang menyebabkan dia berkali-kali datang kembali ke Indonesia, negeri kelahirannya. Tentang itu, ia menerbitkan antara lain Het Oostindisch kampsyndroom en Terug naar Negeri Pan Herkomst. Bahwa hingga saat ini ia tetap terpikat pada masa lampau, terbukti dari diterbitkannya kumpulan sajak Heimwee pada 2001, yang merupakan kumpulan puisi Amir Hamzah yang dikumpulkan dan diterjemahkan Rudy Kousbroek dan A. Teeuw. Dengan ini mereka memperkenalkan penyair besar Indonesia ke wilayah publik berbahasa Belanda.


Freddy

Freddy adalah seekor kelinci,
Tetapi dia tak tahu.

Freddy berwarna putih dan hitam,
Tetapi dia tak tahu.

Freddy punya telinga terkulai,
Tetapi dia tak tahu.

Hidungnya Freddy berbintik
bintik-bintik kecil yang melembutkan
- rupa titik-titik coklat -
Tetapi dia tak tahu.

Freddy kadang-kadang tinggal duduk waktu hujan,
Tetapi dia tak tahu.

Freddy senantiasa menggerakkan hidungnya
Tetapi dia tak tahu.

Freddy sama sekali tak berdosa
Tetapi dia tak tahu.

Kau ingin melindunginya
terhadap segala malapetaka di dunia
Tetapi dia tak tahu.

Freddy memang juga sedikit bodoh,
Tetapi dia tak tahu.

Saya sangat mencintai Freddy,
Tetapi dia tak tahu.


Yang menonjol dari puisi “Freddy” karya Herman Rudolf “Rudy” Koesbroek ini adalah repetisi pada setiap baitnya. Dan, kata-kata yang sering digunakannya adalah “Tetapi dia tak tahu”. Kata-kata itu digunakan dari bait pertama hingga bait terakhir. Tentu saja Freddy tidak tahu apa-apa, karena Freddy yang dimaksud Rudy Koesbroek adalah seekor kelinci. Semua deskripsi mengenai sosok dan perilakunya tampak sia-sia, karena objek yang digambarkan adalah seekor binatang. Sebagaimana Remco Campert, dalam puisi ini pun Rudy Koesbroek memperlihatkan humor dalam puisinya.



Simpulan
Dari pembacaan terhadap puisi-puisi penyair Belanda, saya mendapatkan kesan yang hampir ada dalam semua puisi, yakni unsur humor, bermain-main dengan mengangkat persoalan yang sederhana. Selain itu, ada kecenderungan estetika yang digunakan para penyair Belanda adalah art for art, seni untuk seni, yang menempatkan penyair lebih mementingkan mengenai bagaimana cara menyampaikan pesan kepada pembacanya, bukan mementingkan pesan itu sendiri. Dari ketujuh puisi yang saya analisis di atas tampak bahwa mereka sangat terbiasa mengangkat persoalan-persoalan keseharian yang bisa menimpa siapa saja pada kapan pun, seperti soal janji dan harapan mengenai kebahagiaan.

Satu hal yang paling menonjol adalah sikap humor yang seringkali mewarnai puisi-puisi para penyair Belanda. Mereka tidak hanya menertawakan keadaan saja, melainkan berani menertawakan diri sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Gerrit Komrij.***




Bibliografi
Aveling, Harry. 2003. Rahasia Membutuhkan Kata. Magelang: Indonesiatera.
Damono, Sapardi Djoko. 1990. Bilang Begini Maksudnya Begitu. Depok: FSUI.
Ismail, Taufiq. 2002. “Keyakinan bahwa Puisi Memberi Arti bagi Kehidupan,” dalam
Horison, edisi khusus, April.
Kurnia, Anton. 2006. Ensiklopedi Sastra Dunia. Yogyakarta: Iboekoe.
Mooij, Martin. 2002. “Semacam Pidato Pembukaan,” dalam Horison edisi khusus, April.
Rendra. 2002. “Puisi di Tengah Semua Ini,” dalam Horison edisi khusus, April.
Sambodja, Asep. 2007. Cara Mudah Menulis Fiksi. Jakarta: Bukupop.

Pantai Mutun