Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2011

Tuhan Milik Penyair

Ia mencari suara burung, tapi masih
terperangkap di dalam pagi.
Anak-anak yang tersesat tempo hari
bermukim di balik batu. Ia kasihan
meminjamkan sebuah pelepah kelapa
yang dipatahkan hujan tadi malam.

Tuhan telah mati, Tuhan telah mati

bunyi sebuah igau,
tapi tidak Tuhan milik penyair, pikirnya

Ia mencari suara burung, tapi tak ada
pohon-pohon.Ia pun mengatupkan
tangan, kembali belajar memohon.

Karena Kesedihan Tak Pernah Usai

Maka sebuah sapu tangan basah,
Kau melempar kesedihan ke udara.
Seekor burung memangsanya,
mengira ia adalah sebutir biji jagung
milik petani yang gagal tanam.
Aku tak hendak menebak, kemana
ia akan terbang. Sementara langit
betah gabak, sebatang pohon tumbang,
pohon-pohon lain banyak ditebang.
Karena kesedihan tak pernah usai,
air mata meluap, membanjir, mencapai
betis kaki. Kau berenang ke tepi
takut hanyut kemudian dilupakan.
Maka, sebuah sapu tangan basah
menjadi milik matahari yang masih
malu-malu mengatakan
aku cinta padamu;

Seekor burung dan air mata
adalah kita.

Mi Querido

cerpen yang dibukukan dalam rampai karya Temu Sastrawan Indonesia IV di Tarnate



Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran. Padahal kau (begitu pun aku) telah sama-sama jatuh cinta pada Braga yang menguapkan segala kekakuan kota. Kekakuanmu. Kekakuanku. Kekakuan segala tetek bengek rumus matematika dan fisika di kelas-kelas jam tujuh pagi. De Gauss gila. Descartes yang sia-sia. Cinta. Ah, aku padamu bagai dahan pohon cemara, ditepuk angin, dan benarlah Chairil itu, hidup hanya menunda kekalahan.

“Katakanlah...”

“Apa?”

“Yang seharusnya ingin kau katakan.”

Padahal aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak ingin membiarkan segala huruf berloncatan dan meledekku dari kejauhan, kemudian udara dingin menggigilkanku lewat sela sweater yang kuk…