16 August 2011

Sajak Subagio Sastrowardoyo

Kampung

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.


Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.

Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.





Sajak Yang Dewasa



sajak yang dewasa
sudah tak peduli
apakah aku menangis atau ketawa

di muka cermin
aku tak mengenal lagi
ia bayangan siapa

setiap hendak kutangkap
ia lolos dari dekap

tak mau menampung rasa

di luar jamah
ia sebagian dari semesta
satu dengan suara manusia

setelah ia dewasa
aku tak punya kuasa
maka kubiarkan dia berjalan merdeka


Salam Kepada Heidegger

Sajak tetap rahasia
bagi dia yang tak pernah
mendengar suara nyawa.
Kata-kata tersembul dari alam lain
di mana berkuasa sakit, mati
dan cinta. Kekosongan harap
justru melahirkan ilham
yang timbul-tenggelam dalam arus
mimpi. Biarlah terungkap sendiri

makna dari ketelanjangan bumi.
Masih adakah tersisa pengalaman
yang harus terdengar dalam bunyi?
Sajak sempurna sebaiknya bisu
seperti pohon, mega dan gunung
yang hadir utuh tanpa bicara



Ambarawa 1989

Sebelum tidur istriku menyulam
di bawah lampu temaram. Sebuah bunga
biru dengan latar kelabu yang akan diberi
pigura dan digantungkan di dinding.
Aku menyempatkan diri mengikuti
berita terakhir di koran yang belum
dapat kubaca pagi hari.
Kami sudah lupa bahwa di kota ini
pernah terjadi revolusi dengan kekejaman
dan kematian. Keluarga lari mengungsi

ke gunung dan aku turut bergerilya
mengejar Belanda. Berapa peluru sudah
kutembakkan di malam buta menyerang
musuh yang menghadang dengan senjata.
Pikiran tegang selalu oleh cemas
dan curiga.
Kini peperangan hanya terjadi di roman
petualangan yang kubaca dan yang kulihat
di layar TV, jauh entah di negeri mana.
Nampak tak nyata dan hampir tak bisa
dipercaya.
Ah, biarlah kedamaian berlanjut
begini. Semua -- bunga, dinding, lampu,
kuri, istri -- terliput dalam kabut
puisi. Suling mengalun menembus
malam. Aku tak tahan lagi melihat darah.

Kangen, Rendra

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
Aku tungku tanpa api.

03 August 2011

Pada Saat Kucingku Wafat

Kemudian, yang kudengar ia telah wafat dengan
mata limaunya yang sendu. Lewat
surat, kututipkan air mataku yang kelewat asin
tercampur ombak selat Sumba. Tidak seharusnya
kematian datang begitu cepat. Padahal
pesawat-pesawat begitu sering terlambat berangkat
dan para kekasih kerap gagal memenuhi janji
menjemput pasangannya dengan gaya rapi,
mengantarkannya ke salon, ke mal--membelanjakan
seluruh isi tabungan. Kucingku bak kekasihku
dan kami berhubungan jarak jauh. Sesekali
kutelepon ia, demi mendengar meongnya yang lucu.
Sekadar merindukan bulu-bulunya yang rontok
di pangkuanku. Kau harus percaya, ia lebih setia
dari banyak manusia yang sering pura-pura lupa
atau tuli ketika Kekasihnya memanggil di lima
waktu. Waktu baginya adalah semangkuk susu
dan tulang-tulang ikan, sisa makanan sang Tuan.

Pantai Mutun