25 March 2014

Di Antara Kemustahilan, Catatan Pembacaaan "Perempuan Lolipop"


George Smith, pada tahun 1908, disebutkan di dalam buku "Food For Thought (Extraordinary Little Chronicles of The World)", ialah yang pertama kali menciptakan dan memberi nama Lolly Pop. George Smith mendapat inspirasi nama Lolly Pop dari nama kuda kesayangannya yang juga bernama Lolly Pop.
Sumber lain mengatakan bahwa kata Lolly Pop berasal dari bahasa Romawi yang berhubungan dengan tradisi orang-orang Roma yang sering menjual permen apel yang diberi tangkai dan biasa disebut toffee apples. Dan red apples dalam bahasa Romawi berarti loli phaba.
Menilik buku kumpulan cerpen “Perempuan Lolipop” karya Bamby Cahyadi, saya jadi menduga-duga, barangkali, Lolipop yang dimaksudkan Bamby adalah metafora mengenai kehidupan yang manis hanya ada dalam waktu yang relatif singkat. Di lidah pun, rasa manis hanya ada di ujung lidah. Membayangkan seseorang mengemut permen lollipop, di sela kesibukannya dalam bekerja, saya jadi menduga beberapa hal lagi, yakni kenangan dan jeda.

~

            Tak ada hal yang baru di bawah matahari. Tapi kau lahir, dari rahim ibumu, di bawah matahari. Kira-kira itulah kutipan tentang arti kebaharuan.
            Bakda membaca Perempuan Lolipop, saya menemukan beberapa tema dan intertekstualitas dari tema-tema tersebut.
            Bamby punya kecenderungan untuk menulis hal-hal berbau jiwa—dalam definisi “soul”, atau suprarasional. Ada dua cerita yang mengisahkan pertukaran “jiwa”. Pertama, seseorang yang terbunuh berpindah ke tubuh pembunuhnya. Kedua, seseorang yang ingin bunuh diri berpindah ke tubuh seseorang yang ingin hidup selamanya.
            Pertukaran jiwa tentu bukanlah cerita baru. Di Korea baru-baru ini, ada drama yang dirilis berjudul “Secret Garden” dan juga “Big”. Keduanya juga mengisahkan pertukaran jiwa. Ini tampak mustahil, tapi Bamby sendiri mengatakan sesuai cerpen pertamanya, Aku percaya karena mustahil.         
            Berbeda dengan surealisme yang hadir karena upaya untuk melanjutkan Dadaisme dari sisi positif, saya tak menemukan upaya yang serius dari Bamby untuk mengangkat alam bawah sadar.
Pertukaran jiwa adalah mitos. Mitos-mitos menarik bagi surealis dikarenakan peran pentingnya bagi budaya-budaya non-barat. Peradaban barat berada dalam bahaya karena menceraikan kemanusiaan dari sifat alaminya sementara budaya non-barat lebih selaras dengan sifat dan dorongan-dorongan alami yang diekspresikan melalui mitos-mitos dan seni kebudayaan tersebut. Hanya saja, ada yang hilang dari cara Bamby melakukan pendekatan atas pertukaran jiwa.
Ada syarat mutlak bagi terjadinya pertukaran jiwa. Pertama, ikatan karma antara jiwa-jiwa yang tertukar. Di dalam drama Big misalnya, Kang Kyung-joon adalah seorang murid sekolah yang baru pindah dari Amerika. Ia bertemu wali kelas yang ternyata adalah tunangannya Seo Yoon-jae. Singkat cerita, karena konflik dengan wali kelas ini, mereka mengendarai kendaraannya, dan tidak sengaja terlibat dalam kecelakaan lalu lintas. Pada saat tercebur ke dalam laut, Yoon-jae hendak menolong Kyung-joon yang tak sadarkan diri. Setelah itu, jiwa Kyung-joon masuk ke dalam tubuh penolongnya. Sementara jiwa Yoon-jae yang mungkin di dalam tubuh Kyung-joon (atau sudah tak ada) sedang tak sadarkan diri.
            Untuk membuat pembaca percaya, sebuah pertukaran jiwa dapat terjadi, ada baiknya Bamby mengulik lebih jauh hubungan karma antara para tokoh, sehingga ketemulah benang merah yang menjadi epistemology cerita—menjadi jawaban atas pertanyaan “mengapa”.

~

            Berbeda dari buku kumpulan cerita Bamby Cahyadi sebelum-sebelumnya, Perempuan Lolipop lebih banyak mengungkapkan etre en soi yakni being in itself.
 Being-in-itself refers to objects in the external world — a mode of existence that simply is. It is not conscious so it is neither active nor passive and harbors no potentiality for transcendence. This mode of being is relevant to inanimate objects, but not to humans, whom Sartre says must always make a choice.

         Bamby memberikan jalan kesadaran bagi para tokoh-tokohnya, tidak seperti di buku lain yang tokoh-tokohnya lebih banyak dipengaruhi berita dan lingkungannya. Di cerpen utama, Bamby memutarbalikkan citra malaikat maut sebagai seorang gadis imut yang suka permen lollipop. Ini menjadi menarik bila kita mengingat bahwa citra malaikat maut yang dilihat setiap jiwa adalah berbeda sesuai dengan individu masing-masing. Siapa diri kita akan menampakkan wajah Izrail itu. Artinya, citra sang gadis yang suka lollipop sebenarnya adalah metafora atas jiwanya sendiri.
            Ini kemudian membuat saya bingung. Beberapa cerpen Bamby terdahulu, selain pop urban, juga berada dalam koridor realism magis. Sementara, di Perempuan Lolipop, Bamby berupaya menaiki perahu surealisme tanpa meninggalkan pendekatan-pendekatan yang sebelumnya Bamby gunakan. 

Bila melihat sinopsis buku ini pun, semua itu mengarah ke automatisme, sebuah teknik yang sering digunakan oleh para surealis.

Tak ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat. Ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan. Terus saja berjalan. Setiap belokan, setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri. Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di balik tiap kelokan. Bukankah begitu dengan kehidupan, bahkan kematian sekalipun
Dalam lukisan, automatisme dibuat dengan membiarkan tangan menjelajahi permukaan kanvas tanpa campur tangan dari pikiran sadar. Tanda-tanda yang dihasilkan, mereka pikir, tidak akan menjadi acak atau tak berarti, tapi akan dibimbing pada setiap titiknya dengan memfungsikan pikiran bawah sadar, dan bukan oleh pikiran rasional atau pelatihan keartistikan.
Ada juga yang menuangkan zat warna secara acak ke atas kanvas dan membiarkan lukisannya melaju melintasi permukaannya mengikuti gravitasi, menciptakan serentetan hasil yang tak bisa ia prediksi ke depannya.
Ketersesatan yang dimaksud Bamby seharusnya menjadi labirin di dalam karya sastra. Bukan semata-mata jalan tanpa jawaban, ketersesatan milik penulisnya sendiri. Artinya  di sini, menjadi penting bagi Bamby untuk mengambil jarak antara dia dengan tokoh-tokohnya, agar para tokohnya itu sendiri yang menciptakan jalan bagi ceritanya. Dalam sudut pandang itu, saya pikir Bamby perlu menambah intensitasnya.

~
            Kejutan menjadi kejutan ketika berhasil membuat pembaca tersentak, berpikir, merenung dalam-dalam, dan tersesat di dalamnya.

(2014)

12 March 2014

Pembunuh Ajidarma (Not Finished)




Ajidarma meninggal. Sebuah luka sedalam lima senti meter ditemukan di dadanya. Tetapi bukan luka itu, bukan luka sedalam lima sentimeter itu yang ditengarai sebagai penyebab kematian Ajidarma.
“Bahkan luka itu tidak sedikit pun mengenai jantungnya…”
“Dia juga tidak kehabisan darah!”
“Setahuku, Ajidarma itu kebal senjata?”
Desas-desus kematian Ajidarma merebak seperti L’Eau Bleue D’Issey pour Homme milik Issey Miyake. Koran-koran memuatnya sebagai headline. Para penulis obituari turun gunung. Televisi, dari pagi hingga kembali dini hari tak henti-hentinya memuat sosok Ajidarma mulai kisah hidupnya, cerita kontrovesialnya saat berani menolak sebuah penghargaan dengan hadiah uang berlimpah atau drama percintaannya yang selama ini begitu rahasia. “Alina itu pasti cinta pertamanya,” timpal seorang tokoh yang mengaku baru kali pertama membaca cerita-ceritanya. Sebuah stasiun televisi swasta bahkan melakukan liputan investigatif, memaparkan dugaan-dugaan tentang penyebab kematian Ajidarma. “Saya tidak tahu teori konspirasi apa yang melatarbelakangi ini. Tapi saya meyakini, kematian Ajidarma ini semata pengalihan isu.” Anak muda dari LSM antikorupsi berapi-api menyatakan pendapatnya. Tampak sekali ia resah, berita kematian Ajidarma menggeser isu-isu korupsi yang sebelumnya hangat dibicarakan. “Coba kita telaah, berapa juta masyarakat yang lupa dan tidak peduli, hari ini sidang kasus wisma atlet tengah dilangsungkan?” Ia menyindir persidangan seorang artis cantik ibukota yang kebetulan jadi wakil rakyat.
Para penggemar Ajidarma berkumpul di bundaran HI. Masing-masing mereka membawa karangan bunga putih. Hari itu tidak mendung. Cuaca cerah sebenarnya. Hanya saja langit tidak pula berwarna biru. Padahal masih pukul tiga, langit mulai tampak kemerah-merahan. “Ajidarma mengirimkan senja kepada kita semua!” Mereka bersorak.
Kemacetan mulai terbentuk. Thamrin hingga Soedirman, kendaraan terpaksa merayap. Orang-orang yang mengantri di Harmoni, harus menunggu transJakarta satu jam sekali. Bahkan ke arah Kemayoran, jalan Garuda otomatis nyaris tidak bergerak. Hal itu diperparah karena palang pintu kereta api di dekat stasiun mengalami kerusakan. Seorang pegawai Ditjen Perbendaharaan di Wahidin II menggerutu, “Duh, gara-gara Ajidarma hari ini aku harus pulang di atas jam sembilan malam lagi. Daripada kena macet di jalan....” Ia harus berpura-pura lembur meski tahu sia-sia karena anggaran untuk lembur dibagi rata ke semua pegawai.
Ketika dimintai keterangannya, juru bicara presiden mengatakan hal seperti ini wajar terjadi. “Kita boleh berduka untuk satu hari, tetapi esok kita harus melupakan kesedihan ini,” ujarnya. Juru bicara presiden di bidang penanggulangan bencana itu menambahkan, “saat ini Presiden sedang membikin lagu untuk mengenang jasa beliau. Insyaallah bulan depan albumnya sudah bisa dinikmati rakyat Indonesia.”
Nyatanya, prediksi itu meleset. Keesokan harinya, makin bertambah massa yang datang ke bundaran HI. Seseorang di antaranya membawa marah merah. “Maklum, bunga warna putih di Jakarta dan sekitarnya sudah habis diborong pengusaha. Biasa lagi cari muka… dengar-dengar dia mau nyalon Presiden 2014? Eh…”
Maka, Thamrin menjadi lautan manusia. Mereka menangis. Mereka membawa spanduk, berteriak-teriak, “Cepat usut tuntas kematian Ajidarma. Kami tidak mau polisi yang menuntaskan kasus ini. Polisi tidak bisa dipercaya. Huuu…” Kebetulan Kapolri sedang menonton tayangan itu di ruangannya. Dia menggebrak meja. Mejanya itu retak. “Apakah polisi sudah sedemikian tidak dipercaya?” Di dalam hatinya dia menangis.
Di twitter, Ajidarma menjadi trending topic. #Ajidarma bahkan sudah dua hari bercokol di urutan teratas. Rio Ferdinand yang kerap kali mengomentari hal-hal yang terjadi di Indonesia terutama saat final Piala AFF di Bukit Djalil lalu turut berkata, “Ajidarma? I should read his works too…” Ajidarma? Seharusnya aku juga membaca karya-karyanya. Ada pula yang berkomentar negatif, “Ah, bukannya dia pernah memplagiasi Tolstoy ya?” Komentar itu dijawab penggemarnya, “Itu bukan plagiat, bego! Coba kamu baca Matius 6: 7-8 dan Matius 14: 30-31.” Dia tidak menjelaskan lebih panjang. Twitter cuma memuat 140 karakter.


Pantai Mutun