25 September 2008

PPn di Restoran (?)

A. Permasalahan

Tentunya kita pernah makan di restoran. McDonald misalnya. Pernahkah Anda melihat struk pembayarannya? Pasti akan tertera, ‘PPN 10%’. Lantas kita tak acuh. Tanpa pernah bertanya, benarkah ada PPN yang dikenakan di restoran?

PPN (Pajak Pertambahan Nilai), yang sebelumnya bernama Pajak Penjualan memang terasa belum tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat yang rata-rata awam dengan hal ini. Seperti kasus pajak restoran, kami sendiri – sebelum belajar pengantar pajak – beranggapan bahwa penetapan PPN di restoran adalah sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan. Muncul pikiran, mungkin pajak diberlakukan atas tempat, atau penjualannya. Dengan diri kami sebagai sample yang salah kaprah ini, kami perkirakan tidak kurang dari 80% masyarakat juga berpikir sama. Bahwa tidak ada masalah dalam penetapan PPN di restoran.

B. Pembahasan

Sebelum melangkah jauh, kita perlu meninjau, apa saja yang termasuk barang dan jasa yang kena pajak. Sejak 1 Januari 1995 (dari rangkaian Pasal 4 dan Pasal 16C serta Pasal 16D UU PPN 1984), objek PPN dapat disusun sebagai berikut :

a. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha

b. Impor Barang Kena Pajak

c. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha

d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah Pabean di dalam daerah Pabean

e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah Pabean di dalam daerah Pabean

f. Ekspor barang kena pajak oleh Pengusaha Kena Pajak

g. Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya akan digunakan sendiri atau digunakan oleh pihak lain

h. Penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang PPN yang dibayar pada saat perolehannya dapat dikreditkan.

Dari kedelapan objek PPN tersebut, adakah yang mengarah pada pengenaan PPN di restoran?

Dalam hal ini, kita perlu memperjelas arti dari restoran dan pengusaha arti restoran tersebut. Restoran adalah tempat menyantap makanan dan atau minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jasa boga dan atau catering. Sedangkan Pengusaha Restoran adalah perorangan atau badan yang menyelenggarakan usaha restoran untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.

Dari rujukan pengertian di atas, Pajak Restoran mendekati objek PPN (c). Dalam UU no.11 Tahun 1994, Jasa Kena Pajak didefinisikan sebagai setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau peruatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atas hak bersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan, yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang ini.
Berdasarkan pengertian tersebut, Restoran tidak termasuk Jasa Kena Pajak.

(Mungkin) Karena inilah, dalam pasal 4A UU PPN 1984, dikatakan bahwa makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya adalah bukan barang atau jasa kena pajak.

Lantas muncul pertanyaan, apa sebenarnya pajak restoran ini?

Kami menemukan sebuah artikel yang menarik, dengan judul “Analisis Potensi Pajak Restoran dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah”. Dikatakan bahwa, pada tahun 2003, realisasi penerimaan pajak restoran di Ponorogo mencapai Rp. 164.650.448. Dan di 2004 meningkat menjadi Rp. 299.923.523 atau mencapai 160,02 %. Angka ini sungguh signifikan. Belum lagi ditambah faktor tidak disetorkannya pajak terkait. Hal ini terjadi karena pemungutan pajak restoran ini adalah self assestment. Artnya bahwa, mungkin saja ada penyelewengan dalam pemungutan atau penyerahannya. Misalnya ada restoran yang belum berhak memungut pajak ini malah memungutnya.

Pajak Restoran, dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b UU No. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Restoran merupakan Pajak Kabupaten/Kota dan dipungut sesuai peraturan daerah. Subyek pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran terhadap restoran. Sedangkan wajib pajaknya adalah pengusaha restoran. Dasar pengenaan pajak adalah berdasarkan pembayaran terhadap restoran dengan tariff 10%. Berasas domisili, artinya pajak dipungut di wilayah yang bersangkutan. Dan masa pajaknya adalah 1 (satu) tahun.

Jelas adanya bahwa pajak restoran adalah pajak daerah yang dipungut oleh daerah. Bukan pajak pertambahan nilai yang dipungut oleh Dirjen Pajak.

Pajak Ekologi

I. Permasalahan

Bidang yang mengalami perbenturan paling keras dengan urusan lingkungan hidup adalah ekonomi. Sebagian besar termologi ekonomi, mulai dari yang Marxis sampai Monetarian terbukti gagal mempertemukan kepedulian lingkungan dengan kenyataan praktik berekonomi di dunia nyata.

Perusahaan harus mengalokasikan biaya ekstra untuk memperoleh air bersih atau me-lakukan treatment untuk udara dan air yang tercemar. Hal ini tentunya diikuti dengan terjadinya krisis sosial budaya termasuk kesehatan masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Biosfer bumi merupakan sumber dan tata kehidupan yang memberikan manfaat ekologi (ecological benefit), manfaat ekonomi (economical benefit), dan manfaat sosial (social benefit). Tiga pilar ini merupakan rantai keberlangsungan bagi kehidupan manusia dan pembebanan yang paling mempengaruhi kesejahteraan manusia adalah bersumber pada ekologi yang memberi efek pada kemakmuran ekonomi, sosial budaya. Ekonomi tidak akan bergerak tanpa sumber daya alam.

Berbeda dengan pembangunan yang secara drastis mengubah dan menghilangkan nilai ekologi suatu sumber daya, perkembangan lingkungan justru memerlukan waktu jangka panjang. Banyak komponen lingkungan adalah milik umum seperti laut, udara, angin dan air, namun manfaat dan kerugian lingkungan selalu berada di luar perhitungan (externality) biaya perusahaan. Lingkungan tunduk kepada hukum alam seperti keterkaitan keanekaragaman hayati yang tidak masuk perhitungan ekonomi pasar, tetapi ketiadaan fungsi alam ini jelas menimbulkan distorsi ekonomi. Ekologi harus dipandang sebagai aset utama di dalam proses ekonomi yang berdampak pada kehidupan sosial budaya manusia.

Dari sekian banyak jenis pajak yang diberlakukan oleh pemerintah, tidak ada yang dikhususkan untuk mengganti kerusakan udara, air, tanah, hutan, pesisir dan laut. Industri secara sadar harus menginternalkan berbagai eksternalitas yang ditimbulkan melalui retribusi, pajak, pengutan dan iuran lingkungan (pajak ekologi), dalam komponen harga melalui kebijaksanaan ekonomi makro. Industri masa datang harusnya mampu berproduksi dalam jangka panjang dengan tetap memelihara ekosistemnya. Untuk melestarikan ekosistem, kegiatan pembangunan industri harus mencegah pencemaran, mengurangi emisi-emisi, melestarikan keanekaragaman hayati, menggunakan sumber daya biologi terpulihkan secara berkelanjutan dan mempertahankan keterpaduan ekosistem-ekosistem lain dalam ekosistem besar biosfer bumi.

II. Pembahasan

Menurut Prof. Dr. PJA Adriani, pajak adalah iuran Negara (yang dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

Dari definisi tersebut, salah satu ciri pajak adalah bahwa pajak dipungut berdasarkan undang-undang (UUD 1945 Pasal 23 A). Dalam kaitannya dengan ‘Pajak Ekologi’, kita perlu menilik UUD 1945 Pasal 33 Ayat 2 dan 3.

Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara (2). Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. (3)

Interpretasinya adalah bahwa Negara sebagai ‘pemilik’ Indonesia wajib melindungi alam Indonesia ini. Dari mulai air, tanah, hutan, juga udara. Pemerintah perlu menetapkan sebuah aturan khusus yang memiliki fungsi sebagai filter untuk meminimalisir kerusakan lingkungan tersebut. Dan salah satunya adalah penetapan Pajak Ekologi.

Lantas kita bertanya, bagaimana aplikasi pajak ekologi ini? Contoh hal kecilnya adalah penggunaan kendaraan bermotor. Dalam setiap pembelian kendaraan bermotor juga harus ditetapkan pajak ekologi. Selain itu, setiap kilometer penggunaannya wajib direkapitulasi untuk pembayaran pajak tiap bulannya. Misal, 1000 km/bulan. Pastinya dari jumlah kilometer ini, kita bisa menghitung jumlah BBM yang digunakan. Yang selanjutnya bisa dikalkulasi jumlah polutan yang telah mencemari udara. Dalam hal ini, sistem yang digunakan adalah official assesstment pada awalnya, dan lambat laun menuju self assessment, wajib pajak berada dalam posisi yang aktif. Dan penetapan tarif pajak ekologi individu (pemakaian kendaraan bermotor, dsb) tentu harus beda dengan tarif pajak ekologi industry/pabrik. Karena tarif pajak yang digunakan adalah tarif pajak progresip proporsional, yaitu tarif pemungutan pajak dengan prosentase yang naik dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak, namun kenaikan prosentase untuk setiap jumlah tertentu tetap.

Bagaimana jika ada yang protes? Apakah pemungutan pajak ekologi telah memenuhi syarat-syarat pemungutan pajak? Jelas Iya! Dari segi syarat keadilan, maka pemungutan pajak ekologi memenuhi syarat ini. Mengapa? Memang terlihat pemilik kendaraan misalnya, memiliki keuntungan dari penggunaannya. Tetapi ia telah mencemari udara yang dihirup oleh semua orang. Polutan tesebut terakumulasi di udara dan menurunkan kualitas lingkungan. Oleh karena itulah, ia harus membayar pajak ekologi yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kualitas ekologi.
Dilihat dari syarat Yuridis pun telah jelas. Dan sungguh, pemungutan pajak ekologi tidak akan melanggar syarat ekonomis pemungutan pajak. Hal ini tidak akan mengganggu kestabilan perekonomian. Malah mampu menciptakan kesadaran lingkungan. Dengan penetapan pajak ekologi, masyarakat akan menimbang lebih lanjut jika ingin membeli kendaraan bermotor. Pembelian yang tidak efektif dan tidak urgent hanya akan menambah beban pajak. Masyarakat akan lebih sadar asas manfaat. Secara tidak langsung, hal ini mampu mendidik masyarakat bawah untuk lebih ekonomis.

Kerusakan lingkungan seperti hutan dan lainnya juga bisa diminimalisir. Perusahaan-perusahaan kayu, bubur kertas, dan lainnya yang menggunakan kayu sebagai bahan bakunya akan memberikan input ‘dana segar’ dari kegiatannya. Kemudian dana ini digunakan untuk merebosiasi hutan yang telah rusak atau malah membuat hutan produksi sendiri. Coba bandingkan efektivitas penerapan pajak ekologi dengan undang-undang yang mengatur penyewaan hutan ke pihak swasta. Tapi memang official pemungut pajak harus kompeten di bidangnya dan mampu menciptakan kesadaran lingkungan bagi para pengusaha tersebut untuk kemudian berubah menjadi self assessment ketika kesadaran itu telah terbentuk.

Dan asas pemungutan pajak yang dipakai tentu adalah asas domisili. Perusahaan/individu manapun yang berdomisili di Indonesia berhak dikenakan pajak ini.
Dan perlu diperhatikan bahwa peran pemerintah sangat besar di sini untuk menyosialiasikan penerapan pajak ekologi itu. Bukan sekedar ‘himbauan’ tapi sebuah ‘keharusan’. Konsistensi para pemungut pajak juga diharapkan, agar nantinya dana dari pajak ini dapat disalurkan dengan benar. Jika benar terealisasi, maka akan banyak perubahan positif dalam kualitas lingkungan juga kualitas bangsa Indonesia.

21 September 2008

Lacur

Saya masih duduk sendiri. Menunggu. Memandang tanah-tanah kering.

Di taman ini, saya adalah tak lebih seekor cacing. Menggeliat ke sana ke mari mencari celah basah. Sebab cacing tak suka cahaya berlebih, menusuk pori-pori. Sebab cacing juga tak perlu mencari pasangan untuk kawin. Tidak
seperti manusia.

Di taman ini, saya adalah seorang sepi. Tak menanggapi lalu lalang yang tak berarti.

Pukul tiga sore.

Hari sudah tua, namun bayang-bayang masih bertenaga. Sebab setiap hari matahari tampak kian berapi. Pohon-pohon ditebangi, polusi menjadi-jadi. Manusia semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Hingga lalu lalang tak pernah berhenti. Tak pernah cahaya padam. Tak pernah musik berhenti berdentang. Sementara makhluk-makhluk lain mulai mengungsi, mencari sepi.

Seorang pengemis datang meminta sedekah. Saya tidak tahu siapa dia, darimana asalnya, berapa umurnya. Yang saya tahu, pakaiannya kumuh selusuh jiwanya yang tak punya malu. Yang saya tahu, manusia harus berusaha dengan cara terhormat untuk mempertahankan kehidupannya. Seperti saya.

Sebab saya sedang menunggu seseorang di tempat ini. Di tempat dimana pengemis itu masih memandangi saya. Saya benci tatapannya. Seperti ingin kawin, menelanjangi saya bulat-bulat. Sebab saya tahu tatapan lelaki yang ingin kawin, tidak ubahnya monyet yang ingin kawin. Liar. Buas. Atau pura-pura malu-malu. Menunggu hingga mangsanya lengah.

Mas Danu, lelaki yang saya tunggu. Sudah paruh baya. Sebab katanya dia mau menghidupi saya. Menjadikan saya simpanannya. Pelayan birahinya. Saya tidak menolak. Sebab saya tidak suka hidup miskin. Saya tidak suka menjadi pengemis yang meminta-minta mengorbankan rasa malu. Kamu bertanya apa saya tidak malu menjadi simpanan orang lain? Tidak. Siapa yang tahu, Tidak ada kamu. Tidak ada orangtua. Tidak ada saudara. Tidak juga ada istri pertamanya.

Sebab saya juga sudah terlanjur mencintai bau keringatnya. Kamu tidak tahu, keringat lelaki itu mendamaikan. Tidak bisa dibandingkan dengan wewangian manapun. Sebab saya juga sudah terlanjur mencintai kenakalan lidahnya yang bergerilya di langit-langit mulut saya. Pun lembut tangannya yang menggeranyangi tiap jengkal tubuh, membuka kancing satu per satu. Hingga kami telanjang bulat. Tak ditutupi dosa. Bercinta dengan buasnya. Berjam-jam. Berhari-hari.

Mas Danu datang kemudian. Saya sambut dia dengan senyum bahagia. Saya peluk dia. Saya cium dia. Dia juga memperlakukan saya sama. Tak lama kami pun berpagut. Tak peduli dengan pengemis tadi yang mungkin memandangi kami iri, juga ingin menikmati tubuh saya. Sebab katanya ukuran tubuh saya sangat indah, kulit putih bersih, dan bibir yang seksi. Mengundang birahi lelaki manapun yang memandang saya.

“Ikut saya.” Mas Danu menggamit lengan saya, menuju ke arah mobilnya yang tengah di parkir tak jauh.

“Kemana mas?”

Mas Danu tidak menjawab. Sebab katanya saya akan diberi kejutan. Saya mulai mengira-ngira apa. Cincin sudah. Perhiasan apa saja sudah. Tidak mungkin saya akan diberi kejutan ‘perlakuan istimewa’. Sebab hari masih sore. Tidak ada tempat terbuka untuk kami bercinta. Tidak mungkin di dalam mobil tempat parkir. Saya pernah melakukannya. Malam hari sepulang ia memanjakan saya untuk berbelanja. Dari sentuhan ke pagutan. Dan setelah itu kami bercinta dua ronde di areal parkir tempat perbelanjaan. Yang paling tidak terlupakan, saat kami menonton bioskop. Malam itu begitu sepi. Tampak hanya beberapa pasang muda-mudi yang sedang asik menonton (juga membuat tontonan). Mas Danu tidak mau kalah. Setelah tangan dan bibirnya puas menggeranyangi saya, dia berbisik lembut, “Biarkan saya yang melayanimu malam mini.” Saya tidak berhenti berdesah, menggigit bibir saya, menahan jeritan kenikmatan yang Mas Danu berikan.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Melewati jalan tol. Tiba-tiba Mas Danu memberhentikan mobilnya. “Rin, tolong pake ini.” Kata Mas Danu sambil memberikan sebuah kain berwarna hitam.

“Untuk apa, Mas?”

“Tutup matamu…”

Saya menurut. Ia membantu saya mengikatkan kain itu untuk menutupi penglihatan saya. Saya sudah pasrah. Saya sudah percaya Mas Danu. Entah apa yang Mas Danu ingin perlihatkan kepada saya nanti.

Beberapa lama kemudian mobil tampak berhenti. Mas Danu membuka penutup mata saya. Saya tidak tahu berada di mana. Tampak sebuah rumah minimalis yang sangat indah dengan hehijauan tamannya. “Ini untukmu.” Kata Mas Danu.

Saya mengernyitkan dahi.

“Mulai sekarang, ini rumahmu.” Kata Mas Danu lagi.
Aku memeluknya bahagia. Dan kami mulai berpagut. Terus berpagut, meski kemudian Mas Danu membopongku masuk ke rumah baruku. Dan kami, lagi-lagi, bercinta sampai pagi hari di rumah baru ini.



Saya masih terus menunggu. Tapi saya tidak lagi duduk sendiri memandang tanah-tanah kering. Tidak ada lagi pengemis yang meninta-minta, memandang saya dengan tatapan birahi.

Mas Danu semakin sering ke sini. Awalnya satu kali seminggu. Lalu dua kali. Tiga kali. Dan kini, sudah lima kali dalam minggu ini.

“Istri Mas tidak curiga?” tanya saya manja sambil mengupas buah mangga yang dia bawa.

“Dia tidak akan tahu, sayang.” Jawabnya sambil bersandar di pangkuan saya. “Mas sudah bilang, mas mau rapat ke luar kota.”

“Kenapa tidak Mas ceraikan saja?”

“Itu tidak mungkin. Semua harta masih atas namanya.”

Mas Danu memang seorang Direktur perusahaan besar. Tetapi perusahaan itu bukan miliknya. Dulu dia hanyalah seorang karyawan biasa. Dari keluarga biasa. Atasannya, yang kemudian jadi mertuanya, sangat perhatian dan puas dengan kinerja Mas Danu. Karena itulah, Mas Danu dijodohkan dengan anak atasannya itu.

“Rin, Mas sayang kamu …”

Kami baru mulai berpagut; terdengar pintu digedor berkali-kali.

Praaang!

Terdengar suara kaca dipecahkan.

“Keluar kalian!” terdengar suara seorang wanita teriak. Sementara wajah Mas Danu tampak pucat pasi. Mas Danu tampak tergesa. Panik. Kemudian membuka pintunya.

“Jadi di sini rapatnya?!” wanita itu berteriak dengan nada tinggi.

“Maaf, Ma. Maaf.” Mas Danu tampak merengek, seperti anak kecil.

Wanita itu mendekati saya. “Kamu rupanya?!”

Plaak! Wanita itu menampar saya. Berkali-kali. Saya coba menghindar. Saya coba lari. Sementara Mas Danu hanya diam saja menyaksikan kami berkelahi.

“Sundal Wanita perusak rumah tangga!” bermacam-macam cacian dialamatkan pada saya. Saya hanya bisa menangis. Dan ia mulai menendangi saya. Saya mulai tidak terima. Saya mulai melawan. Tapi tenaga saya kalah. Kemudian… saya melihat pisau! Ya, pisau tadi untuk mengiris buah. Saya ambil pisau itu. Saya tusukkan di perut sebelum kirinya. Darahnya mulai terasa di tangan saya. Wanita itu masih melototi saya setengah tidak percaya saya telah menusuknya. Saya cabut. Saya tusukkan lagi. Kali ini di dada sebelah kiri. Di jantungnya.

Mas Danu ternganga melihat adegan ini. Saya juga tidak percaya. Saya (mungkin) sudah menjadi seorang pembunuh. Mas Danu mendekat. Menampar saya. “Apa yang sudah kamu lakukan?!”

Saya hanya bisa terus menangis. Menangis dan menangis. Mas Danu tampak membopong istrinya yang sudah tidak berdaya. Saya tahu, begitu Mas Danu keluar dari rumah ini, ia takkan pernah lagi kembali. Saya takut. Saya benar-benar takut. Saya ambil tindakan nekad. Saya tusukkan pisau tadi di punggungnya. Saya cabut. Dia memegangi bekas tusukan yang sudah penuh darah. Menatap saya marah. Tapi saya tahu, dia tidak akan mati kalau hanya ditusuk di punggungnya. Belum sempat Mas Danu menghimpun tenaga, saya sudah tusukkan lagi pisau itu di dada sebelah kirinya. Dan beberapa detik kemudian Mas Danu juga tergeletak tak berdaya.

Saya masih menangis. Terus menangis. Sementara darah sudah membanjir kemana-mana. Pisau itu masih ada. Saya masih sadar kalau saya akan dipenjara setelah ini. Seumur hidup. Tidak! Saya tidak mau hidup di penjara. Saya tidak mau hidup sengsara. Kemudian saya memandangi pisau itu beberapa lama.

Bluss!

Saya tusukkan juga pisau itu ke dada kiri saya.

(Sementara pandangan saya mulai memudar, saya ingat, dulu juga saya seorang wanita biasa yang mengharap hidup bahagia dengan orang yang saya cintai. Saya juga bernah berharap ciuman pertama dan harga kewanitaan saya, saya serahkan kepada seorang pendamping yang resmi.)*

07 September 2008

Kisah Abrahah

Kami bangsa Shan'a. Dendam tak redam seorang Ibnu Kinana. Dinoda marah Raja Abrahah. Telah ludah Katedral suci yang kami sembah.

Kami benci berhala. Abrahah bergolak, teriak koyak luluhlantakkan kesesatan bid'ah. Kerahkan Shan'a yang kuasa atas warisan Abyssina yang melegenda.

Terkerah pasukan gajah. Lupakan nasehat Siraaj yang wibawa. Murka Abrahah. Anggap leceh ajaran Kristus yang Kuasa.

Terguncang Mekkah. Niat lindungi Kakbah suci tak bertara. Shayba bertarung gundah. Lindungi Kakbah lawan Abrahah. Atau lari mengalah biar Kakbah dilindungi Empunya.

Shayba berdendang lantang. Tantang Abrahah dengan damai merindang.

"Kami serahkan Kinana, tinggalkan Mekkah."

"Tidak, Mekkah sumber bid'ah. Berhala Tuhan yang salah."

"Kakbah adalah sucinya Ibrahim atas sejarah. Ingat kisah Ismail di padang darah."

"Kakbah telah noda, cuma Latta Uzza yang kalian sembah."

Shayba terus gundah. Tak mampu lawan Abrahah. Diungsi seluruh Mekkah. Biarkan Tuhan tunjukkan Kuasa.

...

Abrahah tak sempat serang Kakbah. Tuhan tunjukkan kuasa dengan batubatu dari neraka. Dan semua musnah.

...

Siraaj wibawa datangi Shayba.
"Bukan Latta. Bukan Uzza. Abrahah tidak salah. Hanya Tuhan punya kuasa. Menghendaki Kakbah tetap Mekkah. Akan tercatat sejarah manusia mulia di dunia. Sucikan Kakbah. Sucikan Mekkah. Terus selurh dunia. Ia akan lahir dari perut anakmu, Aminah."

Shayba terpana. Berkata fana, "Berkatilah cucuku itu, wahai hamba mulia"

"Tidak. Malah aku yang butuh berkat darinya."

Siraaj wibawa lenyap. Terbawa kisah dalam sejarah

Pantai Mutun