Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2008

PPn di Restoran (?)

A. Permasalahan

Tentunya kita pernah makan di restoran. McDonald misalnya. Pernahkah Anda melihat struk pembayarannya? Pasti akan tertera, ‘PPN 10%’. Lantas kita tak acuh. Tanpa pernah bertanya, benarkah ada PPN yang dikenakan di restoran?

PPN (Pajak Pertambahan Nilai), yang sebelumnya bernama Pajak Penjualan memang terasa belum tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat yang rata-rata awam dengan hal ini. Seperti kasus pajak restoran, kami sendiri – sebelum belajar pengantar pajak – beranggapan bahwa penetapan PPN di restoran adalah sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan. Muncul pikiran, mungkin pajak diberlakukan atas tempat, atau penjualannya. Dengan diri kami sebagai sample yang salah kaprah ini, kami perkirakan tidak kurang dari 80% masyarakat juga berpikir sama. Bahwa tidak ada masalah dalam penetapan PPN di restoran.

B. Pembahasan

Sebelum melangkah jauh, kita perlu meninjau, apa saja yang termasuk barang dan jasa yang kena pajak. Sejak 1 Januari 1995 (dari rangkaian Pasal 4…

Pajak Ekologi

I. Permasalahan

Bidang yang mengalami perbenturan paling keras dengan urusan lingkungan hidup adalah ekonomi. Sebagian besar termologi ekonomi, mulai dari yang Marxis sampai Monetarian terbukti gagal mempertemukan kepedulian lingkungan dengan kenyataan praktik berekonomi di dunia nyata.

Perusahaan harus mengalokasikan biaya ekstra untuk memperoleh air bersih atau me-lakukan treatment untuk udara dan air yang tercemar. Hal ini tentunya diikuti dengan terjadinya krisis sosial budaya termasuk kesehatan masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Biosfer bumi merupakan sumber dan tata kehidupan yang memberikan manfaat ekologi (ecological benefit), manfaat ekonomi (economical benefit), dan manfaat sosial (social benefit). Tiga pilar ini merupakan rantai keberlangsungan bagi kehidupan manusia dan pembebanan yang paling mempengaruhi kesejahteraan manusia adalah bersumber pada ekologi yang memberi efek pada kemakmuran ekonomi, sosial budaya. Ekonomi tidak akan bergerak tanpa sumber daya alam.

B…

Lacur

Saya masih duduk sendiri. Menunggu. Memandang tanah-tanah kering.

Di taman ini, saya adalah tak lebih seekor cacing. Menggeliat ke sana ke mari mencari celah basah. Sebab cacing tak suka cahaya berlebih, menusuk pori-pori. Sebab cacing juga tak perlu mencari pasangan untuk kawin. Tidak
seperti manusia.

Di taman ini, saya adalah seorang sepi. Tak menanggapi lalu lalang yang tak berarti.

Pukul tiga sore.

Hari sudah tua, namun bayang-bayang masih bertenaga. Sebab setiap hari matahari tampak kian berapi. Pohon-pohon ditebangi, polusi menjadi-jadi. Manusia semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Hingga lalu lalang tak pernah berhenti. Tak pernah cahaya padam. Tak pernah musik berhenti berdentang. Sementara makhluk-makhluk lain mulai mengungsi, mencari sepi.

Seorang pengemis datang meminta sedekah. Saya tidak tahu siapa dia, darimana asalnya, berapa umurnya. Yang saya tahu, pakaiannya kumuh selusuh jiwanya yang tak punya malu. Yang saya tahu, manusia harus berusaha dengan cara terhormat untuk mempe…

Kisah Abrahah

Kami bangsa Shan'a. Dendam tak redam seorang Ibnu Kinana. Dinoda marah Raja Abrahah. Telah ludah Katedral suci yang kami sembah.

Kami benci berhala. Abrahah bergolak, teriak koyak luluhlantakkan kesesatan bid'ah. Kerahkan Shan'a yang kuasa atas warisan Abyssina yang melegenda.

Terkerah pasukan gajah. Lupakan nasehat Siraaj yang wibawa. Murka Abrahah. Anggap leceh ajaran Kristus yang Kuasa.

Terguncang Mekkah. Niat lindungi Kakbah suci tak bertara. Shayba bertarung gundah. Lindungi Kakbah lawan Abrahah. Atau lari mengalah biar Kakbah dilindungi Empunya.

Shayba berdendang lantang. Tantang Abrahah dengan damai merindang.

"Kami serahkan Kinana, tinggalkan Mekkah."

"Tidak, Mekkah sumber bid'ah. Berhala Tuhan yang salah."

"Kakbah adalah sucinya Ibrahim atas sejarah. Ingat kisah Ismail di padang darah."

"Kakbah telah noda, cuma Latta Uzza yang kalian sembah."

Shayba terus gundah. Tak mampu lawan Abrahah. Diungsi seluruh Mekkah. Biarkan Tuhan tunj…