15 November 2013

#5BukuDalamHidupku DONGENG AFRIZAL






Laki-laki itu memulai cerita dengan memberikan aku sebuah surat. "Bacalah..." katanya.

"Aku tidak bisa membaca."

"Bacalah..."

Lalu dia menuntunku membaca surat itu. Sekejap aku seperti seorang pintar yang pandai membaca. Tetapi belum habis surat itu kubaca, dia memberikan aku surat-surat lain. Semuanya ada tujuh surat.

"Kalau kau sudah membaca semua surat ini, aku menanti balasan suratmu. Tulislah... 1 saja."


Peristiwa ini tidak terjadi di Gua Hira. Pada tahun 2011 lalu, seorang lelaki menulisnya. Laki-laki itu narsis. Laki-laki itu manis. Laki-laki itu mencintai cerita seperti kekasihnya.

Dia juga mencintai Arsenal. Dan Afrizal. "Afrizal itu penyair," katanya memberitahuku.

"Penyair itu apa?" tanyaku.

"Penyair itu aku."

"Kau bukan cerpenis?"

Dia tidak menjawab. Dia memberiku sebuah doa. "Kau yang akan jadi cerpenis."

Aku lupa setelah kami berkenalan, berapa kali kami bertemu. Kadang-kadang di kafe, di bioskop, di pantai, di kamar kos. "Belajarlah memeluk kehilangan..."

"Tapi apa kita bisa kehilangan tanpa pernah memiliki?"

Sampai sekarang pertanyaan itu tak dapat dia jawab. Aku sendiri tak pernah menemukan jawabannya. Bahkan ketika aku rindu lelaki itu, dia tidak pernah menjawab kerinduanku. Meski aku telah berdiri di depan rumahnya. Dia tidak pernah muncul lagi. Dia tidak pernah ada lagi di dalam cermin itu.

(2013)

14 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Simfoni Dua






Agak lucu jika sampai buku ketiga, tak ada satu pun buku puisi yang menginspirasiku. Seseorang yang berpengaruh pada cara pandangku terhadap puisi adalah Subagio Sastrowardoyo. Mulanya, ketika kali pertama kudengar nama itu, aku berpikir beliau adalah ayahnya Dian Sastrowardoyo, atau kira-kira punya hubungan kekerabatan. Aku di sini tidak akan membahas kesukaanku pada kualitas akting Dian Sastro yang mumpuni, atau pembacaan puisinya di Ada Apa Dengan Cinta yang menakjubkan, atau malah bertanya alasan dia mau menikahi Adiguna Sutowo. Tidak. Tidak seperti itu. Ini adalah perjumpaanku dengan Subagio Sastrowardoyo, sosok yang membuatku semakin mencintai puisi, dengan sebab ketulusan.

Di buku inilah, aku pada akhirnya menyadari satu unsur penting yang harus dimiliki setiap penyair: Kredo.

Nada Awal

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo
Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh takada titik darah. tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih

Seolah aku menemukan kesadaran puitik yang selama ini aku idam-idamkan. Sekaligus menjawab balik kata-kata Vermouth, "Secret makes woman woman" itu. Tetapi pengucapan di puncak sepi, adalah jawaban atas rahasia-rahasia yang setiap orang miliki. Termasuk rahasiaku, atau bahkan rahasia Tuhan.

Subagio Sastrowardoyo yang muncul pada tahun 1950-an, puisi-puisinya sempat menarik perhatian banyak pengamat. Puisi-puisinya dinilai berani menggugat hakikat hidup dan sikap keagamaan, yang kemudian banyak dihubungkan orang dengan filsafat eksistensialisme.

Tapi dalam suratnya kepada H.B. Jassin yang merupakan kritik atas kritik, Subagio terang-terangan menolak anggapan tersebut: “Di dalam dunia sastra aku tak mau ikut-ikutan mengulang-ulang pandangan filsafat yang tidak menarik lagi bagiku, baik yang Sartreaans, karena absurditas yang terlalu palsu romantis, maupun yang Nietzcheans, karena cita-cita Uebermensch-nya terlalu mengingatkan aku pada pada bayangan cita-cita dan sikap hidup anak puber. Aku bukan penganut buta suatu ajaran filsafat atau dogma agama. Aku mau dengan persediaan pengalaman dan studi mengisi dan membentuk diriku mencapai kesadaran yang setinggi-tingginya tentang hidup ini dan tentang manusia. Dan aku beranggapan, bahwa kebenaran yang hakiki hanya dapat disorot dengan matahari, dengan menggali lebih dalam ke dalam bawah sadar”. [Selengkapnya]

Sementara pada diriku, Nada Awal dan Subagio membuatku kembali mengingat masa-masa awal menulis puisi. Tidak ada tujuan lain selain untuk menyampaikan perasaan. Ketulusan. Berusaha menihilkan posisi "aku" di hadapan objek. Inilah sepertinya fungsi puisi, membuang ego manusia. Juga perasaan ingin bertanya, rasa ingin tahu yang lekat pada diriku. Kepedulian terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarku.

Dan semua anggapan itu tampaknya diamini juga oleh Hasan Aspahani yang menulis paradigma Subagio di dalam blognya.

Lima Paradigma Subagio

Pasal 1. Jangan menyekatkan perhatian hanya kepada diri sendiri.

Penjelasan: Perhatikanlah diri kita, tapi perhatian kita jangan hanya tersekat pada kepada diri sendiri. Sehebat apapun, kita hanya punya satu kehidupan yang amat sempit dibandingkan betapa banyak kehidupan di luar diri kita. Perhatikan kepada kehidupan lain di luar diri kita akan memperkaya kita dan juga membuat lebih mengenal siapa kita sesungguhnya.

Pasal 2: Sajak yang hanya berisi sedu-sedan dan keluh-kelah bukan sajak yang cukup berarti.

Penjelasan: Sajak seringkali suka menempuh jalan sunyi. Sajak kerapkali berisi perayaan atas sedih dan duka. Sajak acapkali seperti meruapkan aroma darah yang menetes dari hati yang luka. Tapi sajak yang baik tidak menjadikan kesunyian, dukalara dan luka itu sebagai alasan untuk jadi cengeng, tersedu-sedu dan mengumbar keluh-kesah. Sunyi, duka dan luka di dalam sajak hendaknya bisa mengingatkan bahwa memang mereka adalah bagian mutlak dari kehidupan. Sunyi, duka dan luka di dalam sajak yang penuh bermakna mampu menghadirkan alasan bahwa hidup memang berharga untuk dilanjutkan.

Pasal 3: Penyair harus mempertalikan diri dengan lingkaran dunia yang lebih luas.

Penjelasan: Mempertalikan diri berarti kita menaruh perhatian, meluangkan waktu untuk melihat gerak-gerik dunia: alam, binatang, benda mati, langit, dan manusia, sesempatnya. Pasti ada yang luput dari perhatian kita, tapi selalu saja ada yang hanya kita sendiri yang melihat gerak-geriknya. Kita yang memberi makna pada gerak-gerik yang remeh itu. Setiap kali menemukan sesuatu dari dunia luas yang sedang diperhatikan maka kita sedapat mungkin terpandang juga pada diri sendiri, yang ternyata ah betapa kecilnya.

Pasal 4: Tema cinta abadi dalam sajak.

Penjelasan: Kupaslah sajak sampai ia telanjang bulat, maka yang tersisa adalah Cinta. Bawalah sajak jauh mengembara, maka ia selalu bisa dikembalikan pada Cinta. Yaitu Cinta pada indahnya kebenaran, kedamaian, dan damba untuk mewujudkan keadaan terbaik yang paling mungkin untuk dicapai.

Pasal 5. Sajak adalah catatan pengalaman batin dalam menangkap dan merasakan cinta.

Penjelasan: Cinta yang ditangkap dan dirasakan oleh penyair adalah pengalaman batiniah. Menulis sajak adalah menjasmanikan rasa cinta itu. Sajak adalah catatan dari apa yang dialami oleh batin yang merasakan cinta itu. Di dalam sajak penyair tidak melulu hanya mencatat cinta, cinta, cinta dan cinta itu saja. Dalam sajak, cinta pun kadang hanya hadir sebagai rasa. Ia bisa dirasakan dari apa-apa yang dicatatkan oleh penyair. Sajak yang baik bisa menawarkan pengalaman batin bagi pembaca, dan si pembaca juga bisa menangkap dan merasakan cinta yang ada di dalam sajak itu atau bahkan cinta lain yang berada tidak pada sajak itu.

* Dari catatan Hasan Aspahani yang katanya diolah dari "Kata Pengantar Penyair", Subagio Sastrowardoyo pada buku "Dan Kematian Makin Akrab", PT Grasindo, 1995.

Begitulah, Simfoni Dua kemudian seakan menjadi kitab suci puisi bagiku. Manakala aku merasa tersesat dalam hidup, aku akan terus kembali padanya. Membaca sajaknya. Satu per satu. Huruf demi huruf.



13 November 2013

#5BukuDalamHidupku: DRAGON BALL





Belum lama ini, One Piece, sebuah komik, memecahkan rekor penjualan. Pertama, ia memecahkan rekor tercepat, 4 juta sekian eksemplar dalam 1 minggu (untuk volume 63) mengalahkan rekor sebelumnya atas nama Harry Potter and Deathly Hallows. Dan secara penjualan pun, seri One Piece mengalahkan penjualan terbanyak dalam sejarah yang selama ini dipegang oleh Dragon Ball!

Apakah aku akan menulis tentang One Piece sebagai buku kedua dalam hidupku? Tidak. Tidak kali ini. Aku malah akan bercerita tentang Dragon Ball. Komik yang menceritakan tentang pemuda Saiya yang terdampar di bumi dan petualangannya mencari tujuh bola naga itu.

Eichiro Oda, sang maestro pengarang One Piece pernah mengungkapkan bahwa Akira Toriyama adalah sumber inspirasinya. Lebih lanjut, Oda mengatakan, jika Dragon Ball tidak ada, maka tidak ada One Piece. Tidak ada pula Naruto dan Fairy Tail. Hampir semua mangaka berkiblat kepada Akira di masa kecilnya. Lalu, jika semua mangaka itu terinspirasi dari komik ini, kenapa saya tidak?

Sejak TV Swasta masuk Desa, ada 3 tontontan favorit yang wajib dan kudu ditunggu oleh setiap anak. Yakni, Pendekar Rajawali alias Yoko, Doraemon, dan tentu saja Dragon Ball. Setiap hari Minggu, aku juga tak mau diganggu. Saat itu aku tak punya komiknya. Tak bisa beli komiknya.

Bapak cuma PNS di Dinas Perkebunan Sumsel. Satu bulan sekali aku, dan biasanya kakak keempat dan ketiga, diajak ke Gramedia. Di sana, kami akan membaca sampai puas sementara Bapak dan Ibu ke Pasar 16 untuk belanja kebutuhan rumah tangga. Kami bertiga diberi uang 10 ribu. Dan harus berembuk, buku-buku apa saja yang dapat dibeli dengan uang itu. Kamu tahu, dalam sekian tahun itu, hanya sekali aku membeli komik Dragon Ball. Adalah seri saat kedatangan Bejita ke Bumi bersama Nappa. Nomor 18 kalau nggak salah. Sisanya, aku baca serampangan di rumah teman-teman ketika SMA.

10 tahun kira-kira aku mengikuti cerita itu di televisi. Dan baru beberapa minggu lalu, aku menonton kembali Dragon Ball The Movie: The Battle of God, yang langsung ditulis oleh Akira Toriyama lagi (Kamu yang belum tahu, Dragon Ball GT tidak ditulis oleh Akira Toriyama).

Apakah kamu juga suka Dragon Ball? Kalau suka, apa yang kamu inginkan jika mendapat tujuh bola naga itu?

Cerita-cerita tentang sesuatu yang dapat mengabulkan harapan memang sangat populer. Ada juga cerita tentang lampu dan jin yang dapat mengabulkan permintaan. Seorang pemuda tersesat di sebuah gurun dan menemukan lampu tua. Dia menggosok lampu itu dan jin keluar, menantikan 3 permintaan. Sang pemuda meminta harta yang berlimpah dan buzz, emas permata menumpuk di dekatnya. Lalu ia meminta umur yang panjang dan buzz, ia merasa sangat sehat dan seakan bisa hidup selamanya. Lalu pada permintaan ketiga ia mulai berpikir, dan malu-malu mengatakan ingin selalu berada di dekat banyak wanita, dan buzz, dia menjadi pembalut!

Sementara Son Goku dalam kesempatan pertamanya bertemu Shiryu, dengan konyolnya juga malah  meminta sebuah celana dalam!

Saya jadi ingat kata Bapak, ketika berdoa kita harus spesifik. Jangan berdoa cuma, Ya Tuhan, luluskanlah aku di SPMB. Karena kita akan lulus tapi nggak tahu lulusnya di mana. Tapi berdoalah, Ya Tuhan, luluskanlah aku di Kedokteran UI pada tahun ini. Misalnya.

Kespesifikan itulah yang terus saya genggam dalam harapan saya. Meski banyak dari mereka yang belum tercapai.

Mengaitkannya dengan Dragon Ball, ada satu kemampuan milik Son Go Ku yang saya idam-idamkan. Yakni jurus berpindah dalam sekejap. Bukan terbang atau kamehameha. Bahkan sampai sekarang pun, jurus itu kerap muncul dalam mimpi-mimpi saya yang kebanyakan tidak masuk akal.

Dua jari diletakkan di jidat, rasakan tujuannya, lalu zapp, sekejap kita sudah berada di tempat yang kita inginkan.

Lalu di mana tempat yang aku inginkan? Ialah Arasy. Aku begitu penasaran dengan kediaman Tuhan.

PS:
Tidakkah ini masih tulisan tentang Dragon Ball?

12 November 2013

#5BukuDalamHidupku KALKULUS






Adakah buku yang tebalnya melebihi buku-buku kalkulus?

Bahkan Hitler akan mencukur kumisnya dengan buru-buru sejak mula ia membaca halaman depan sebuah buku kalkulus yang diwariskan kakak tingkatnya yang juga warisan dari kakak-kakak tingkatnya. Bukan. Bukan karena ketebalannya yang menyebabkan buku kalkulus abadi, dikenang, diwariskan tujuh turunan dan selalu menempati rak bagian depan di setiap kamar mahasiswa tingkat I. Namun, tahukah kamu fungsi buku kalkulus sejatinya?

Ada banyak hal yang menjadikan kalkulus begitu berkenang di hatiku. Meski, takdir mengatakan, aku harus terdrop out dari Matematika ITB dan selama tiga tahun di tempat perkuliahan baru, tak sekali pun kutemukan pelajaran yang sama. Hanya ada akuntansi dan tetek-asmanya. Keseimbangan antara debit dan kredit sekaligus pertanyaan, jika seseorang memiliki pahala dan dosa yang sama banyaknya, di manakah ia akan ditempatkan? Surga? Neraka? Tetapi, kenyataan paling menyedihkan dalam akuntansi bukanlah hal itu. Melainkan kenyataan bahwa jika sisi debit dan kredit tidak seimbang, itu pasti sebuah kesalahan, dan bila pun terjadi keseimbangan, itu belum tentu sebuah kebenaran. Hal inilah yang menyakitkan karena hidup barangkali juga benar demikian.

Di kelas kalkulus inilah, kali pertama aku melihat Zane. Perempuan atau bidadari, aku tak paham. Dia masuk dari pintu itu, GKU Barat itu, mengenakan baju krem, berkacamata, tas biru dongker yang seakan bisa memuat semesta, di tangannya ada buku kalkulus. Teman, inilah pemandangan paling artistik yang pernah kulihat selama hidupku. Bahkan bila sebuah sepatu menempel di wajah Bush, atau kemben yang dikenakan Julia Perez tiba-tiba melorot di ruang yang sama, pandanganku tak akan bisa teralihkan. Cinta ternyata benar, bisa datang kapan pun, di mana pun, dalam keadaan bagaimana pun tanpa bisa kita tahu.

Dalam tahun-tahun ke depan itu, otomatis, kelas kalkulus adalah salah satu dari sedikit kelas kami bisa bersama. Zane jurusan Fisika. Kelas TPB hanya 1 tahun, tentu aku harus merekam baik-baik setiap waktu keberadaannya.

Tiga orang lain kemudian kukenal dari kalkulus. Tiga orang yang sangat menginspirasiku. Rene Descartes, Leonhard Euler, dan Carl Friedrich Gauss.

Je pense donc je suis. Aku berpikir maka aku ada. Inilah pernyataan beliau yang paling terkenal. Sedikitnya ada lima ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran Eropa: (a) pandangan mekanisnya mengenai alam semesta; (b) sikapnya yang positif terhadap penjajakan ilmiah; (c) tekanan yang, diletakkannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan; (d) pembelaannya terhadap dasar awal sikap skeptis; dan (e) penitikpusatan perhatian terhadap epistemologi.

Keren kan? Pak Rene ini juga orang yang menemukan koordinat kartesius lho. Hidup kita itu bagai berada pada sebuah titik pada koordinat kartesius itu. Lalu bergerak ke titik yang lain. Membentuk sebuah kurva. Aku juga membayangkan aku dan Zane adalah dua titik yang jauh. Untuk berpindah menuju satu sama lain, diperlukan sebuah energi yang besar. Kau bayangkan, beginilah kira-kira kisah cinta ini dimulai, semua hal yang kukenal di kelas, menjadi tentang dia. Bahkan daun gugur pun tidak hanya daun gugur. Dia bisa gravitasi. Dia bisa apel Newton. Dia bisa jatuh cinta.

Euler. Sebenarnya dia lebih populer ketika hadir di komik QED dengan rumus euler yang dianggap paling misterius dalam jagad matematika. Menelisik aliran filsafat dan kepercayaan Euler pun sangat menarik. Ada satu legenda yang terkenal, terinspirasi dari argumen Euler kepada filsuf duniawi lintas agama, yang berlatar selama tugas kedua Euler di Akademi St. Petersburg. Filsuf Perancis Denis Diderot berkunjung ke Rusia atas undangan Catherine Yang Agung. Sang Permaisuri telah diperingatkan bahwa ateisme yang dibawa filsuf tersebut telah mempengaruhi anggota sidangnya, hingga Euler diminta untuk menghadapi pria Perancis tersebut. Diderot kemudian diberitahu bahwa seorang matematikawan terpelajar telah membuat bukti akan keberadaan Tuhan: dia berkenan untuk menyaksikan bukti tersebut yang dipresentasikan dalam sidang. Diderot, yang menurutnya matematika itu omong kosong (ini jelas tidak benar, karena Diderot sendiri membuat riset dalam matematika), dia mau saja memperhatikan (presentasi bukti tersebut) dengan (pura-pura) tercengang karena (dia tahu bahwa) suara gemuruh tawa akan meledak di persidangan.


Nama dosenku juga Gauss. Gauss terkenal sebagai Pangeran Matematika. Waktu masih SD, gurunya menyuruh menghitung jumlah dari bilangan 1 sampai 100. Dalam hitungan detik, dia bisa menyelesaikan soal tersebut? Mau tahu caranya? Dia membuat dua baris yang saling berpasangan, antara angka 1 dan 100, 2 dan 99, 3 dan 98, dst yang dia tahu jumlahnya bakal ada 50 pasang. Tiap sepasang jumlahnya adalah 101, lalu ia kalikan 50, dan hasilnya 5050. Kalau nggak percaya hitung sendiri sampai keriting ya?

Gauss memberikan beragam kontribusi yang variatif pada bidang matematika. Bidang analisis dan geometri mengandung banyak sekali sumbangan-sumbangan pikiran Gauss, ide geometri non Euclidis ia garap pada 1797. Tahun 1799 menyumbangkan tesis doktornya mengenai Teorema Dasar Aljabar. Pada 1800 berhasil menciptakan metode kuadrat terkecil . Dan pada 1801 berhasil menjawab pertanyaan yang berusia 2000 tahun dengan membuat polygon 17 sisi memakai penggaris dan kompas. Di tahun ini juga menerbitkan Disquisitiones Arithmeticae, sebuah karya klasik tentang teori bilangan yang paling berpengaruh sepanjang masa. Gauss menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Gottingen dan meninggal di sana juga.

Betapa mengagumkannya orang-orang itu sejak usia mudanya. Aku, kamu, apa yang dilakukan ketika muda?

Membayangkan lagi masa-masa belajar kalkulus itu sama saja ingin kembali ke masa muda. Sudah tujuh tahun berlalu sejak saat itu, dan untuk menjawab pertanyaan di kalimat pertama dan kalimat terakhir dari paragraf berikutnya masih sangat rancu.

Adakah buku yang tebalnya melebihi buku-buku kalkulus? Adakah yang tahu fungsi sejatinya buku kalkulus itu?

Tidak salah mungkin, jika aku menjawab, buku kalkulus berfungsi untuk melempar anjing seperti halnya arti kalkulus itu sendiri yakni batu kerikil!

(2013, di ruang rindu)

Pantai Mutun