Skip to main content

Posts

Showing posts from 2012

Pada Suatu Hujan

aku masih menunggu hujan ini reda
seperti menunggumu di sebuah halte
sebelum menumpangi keberangkatan
                     bus yang terakhir

tidak peduli ke mana tujuan, aku
berjanji akan menggenggam tanganmu
erat-erat seolah simpul tali terikat
lalu berbisik,
        "cinta kita tidak sedang sekarat..."

aku masih menunggu hujan ini reda
seperti menunggumu kembali berbicara
semisal mengucapkan cium, menanyakan
kabar, apakah nanti aku dapat letakkan
telinga di dadamu sekadar menyimak debar?

kita tidak tahu, tidak pula pernah tahu
apakah hujan ini akan berhenti sore ini juga
apakah bus itu tidak mengalami kemacetan
apakah kita masih diizinkan saling bertukar cemas

kita tidak tahu, kita tidak tahu

(2012)

Kepada Linggar

i.

aku tak akan berangkat menuju musim hujan
karena kukagumi daun-daun gugur
                   korbankan diri demi kehidupan

kadang kubayangkan, kutemui perempuan
yang memandangku pedih di seberang jalan
sebuah sapu tangan basah, bekas air mata

aku harapkan dia segera pergi menyeberang
karena aku takut langkahkan kaki, kendaraan
yang sering mengebut lalu tabrak lari

musim hujan yang turun di pada mu itu
apakah sama dengan musim hujan lain
yang pernah turun di dadaku?

pertanyaan itu hanya satu dari pertanyaan lain
yang pelan-pelan mulai menggerogoti keimanan,
dan aku fana seperti cahaya pada lilin


ii.

sebelum badai, akan kukunci pintuku rapat-rapat
tetapi kau udara, begitu mampu menyelinap

kini aku terbiasa, bernapas dengan udaramu
tapi aku tak tahu, apakah kau damai di paru-paruku?



*linggar dalam bahasa Kawi berarti hijrah/berangkat

Catatan Hati: Cincin, Buku, dan Persahabatan

Tahun 2012 menjadi tahun yang pasif bagi riwayat kepenulisanku di koran-koran. Tercatat hanya dua kali aku dimuat dalam koran atau majalah yakni sejumlah puisi di berita pagi dan cerpen "Dua Kelopak Krisan" di Majalah Story edisi 31. Bakda itu, tak ada kabar. Beberapa kali mencoba mengirimkan ke koran Kompas atau Tempo, tapi tak ada yang dimuat. 

Barangkali ini bukan tahunku. Itu yang ada di dalam pikiran. Saya pun kembali menulis di blog, sekadar menuntaskan rasa sepi dan ekspresi yang tak kuat lagi terbendung di dalam diri. Ketika sebelumnya saya cenderung menyepi, bersunyi-sunyi dalam aktivitas kepenulisan, menulis blog dan aktif di twitter membuat saya "terpaksa" membuka diri, bergaul dan berinteraksi.

Beberapa kali aku ikut kurasi dan perlombaan, dan ada yang menghasilkan. Bedanya, bila dulu akumenulis untuk kemenangan, kini aku menulis untuk hati. Ternyata dari hati yang terbuka itu, aku menerima lebih dari sekadar hadiah, tetapi juga cinta dan perkenalan. Awal…

Kepada 7 Desember

: dd

beginilah. seharusnya kita diciptakan untuk saling
mengenali. burung-burung yang terbang dari matamu
hinggap di dadaku. burung-burung yang terbang
dari dadaku, bersarang di dada yang lain.

Momen-Momen One Piece

Kepada Trafalgar Law

Tak ada yang menarik menjadi sichibukai
selain seribu jantung bajak laut yang kau serahkan
pada world government

bahkan jantungmu, yang dijaga gadis cantik
dan kau terbebaskan, berjalan-jalan tanpa jantung

Tetapi tolong, jangan istriku. Yang jantungnya berdenyut
sambil menyebut nama cinta, dan bila tiada
tak ada lagi senyum canda di rumah

Sedikit Catatan Kecil Mengenai Diri Sendiri

Catatan ini dipersembahkan untuk acara penghimpunan penulis indie.
Selama menempuh pendidikan, hanya dua kali saya mendapatkan nilai merah di rapor yakni pada mata pelajaran Kesenian dan Bahasa Indonesia. Keduanya mendapatkan nilai 4 padahal saya tak pernah merasa berkemampuan seburuk itu. Waktu membuktikan, pada kedua bidang itu saya meraih banyak pencapaian ketimbang bidang Matematika yang melambungkan saya karena selalu menjadi wakil perlombaan matematika selama sekolah. Bahkan predikat sebagai mahasiswa Matematika ITB 2005 rasanya tidak begitu berkenang.
Tentang indie, saya pertama tahu ini dari bidang musik.  Segala yang independen belum tentu bisa disebut indie. Gaya rambut suku indian mohawk sudah ada sebelum punk. Namun orang cenderung menggeneralisir semua gaya rambut mohawk sebagai representasi punk. Padahal tidak semua orang yang berambut mohawk menganut ideologi punk. Kita bisa mencetak buku kapan saja dengan alasan kebebasan berekspresi atau minimnya budget atau karena tida…

Lomba Menulis Bertemakan Perempuan

Dunia dikejutkan oleh berita tentang seorang anak perempuan dari Pakistan berumur 14 tahun, Malala Yousufza. Gadis kecil ini tak berdaya, bergelimang darah, setelah ditembak oleh Militan Taliban di negara tempatnya menancapkan pemikiran-pemikiran cerdas dari kepala ranum yang berkerudung indah. Apa yang membuat Malala menjadi sasaran kemarahan Militan Taliban ini?Gadis cemerlang ini menulis di dalam blognya dan aktif menyebarkan ide-ide tentang pendidikan bagi anak perempuan. Diapun mengkritisi kegiatan kelompok-kelompok militan di negaranya. Seorang feminis, pegiat kemanusiaan dari India, Kamla Bhasin, menulis sebuah puisi yang berjudul "Because I am a girl I must study". Puisi ini berbentuk percakapan seorang ayah dengan anak perempuannya mengenai mengapa si ayah harus menyekolahkan anak perempuannya, sedangkan dia mempunyai banyak anak lelaki yang lebih baik disekolahkan. Anak perempuan itu menjawab dalam salah satu argumennya, "Knowledge bring…

Ada Sapardi, Malna, Tolong Aku!

jam patah. seorang gadis membawakan sekeranjang jeruk lalu mengirisnya kecil-kecil. di meja. di dinding cat-cat mengelupas, bata berlubang. ada mata abu-abu mengintaiku. tiga tahun, Malna aku bersetia dan mengiris pergelangan tanganku juga. darah di jalan-jalan. berjalan-jalan. pemerintah bertanya dan panik. bukan! semalam malaikat bunuh diri, mayatnya ditemukan di dalam got. tikus-tikus ketakutan—hijrah ke senayan.  jam patah. dinding kesepian. apa yang kau kupas, gadis kecilku?  Waktu. musim hujan terpanjang tahun ini aku tidak membeli payung, Malna. seorang lelaki tua berdiri di seberang jalan, menatapku kasihan sisa-sisa pesawat kertas berhamburan di trotoar jam patah. lampu lalu lintas patah. tiang listrik patah. jalanan lengang, gadis-gadis muda dilarang berok mini. lelaki tua berjalan kaki ke kafe, mengetuk pintu, masuk, memesan kesedihan. seseorang telah memesannya duluan dan membungkusnya rapi. untuk sang Kekasih. aku menatap punggungnya kasihan;
gadis kecil itu mendekat, entah mengapa ia me…

Catatan Hati: Sepotong Ternate

Dulu, saya menulis dengan begitu banyak obsesi. Dan salah satu obsesi saya itu adalah sesuatu yang dinamakan titik puncak. Saya ingin bisa melihat dari atas, saya ingin tahu jalan-jalan yang sudah saya lalui dengan berdarah-darah, terseok-seok, berliku-liku. Saya menulis, kemudian saya kirim ke berbagai media. Pada saat itu saya memang memiliki banyak waktu luang sembari mengerjakan tugas akhir kuliah yang saya selesaikan kurang dari satu minggu, meski kemudian saya tahu (dan kecewa) hasilnya cuma dapat B.  Saya terhitung begitu produktif dan sering terpampang di koran-koran minggu baik puisi maupun cerpen baik kesemuanya itu tidak pernah menembus koran besar di Republik ini.
Terbitnya Dongeng Afrizal menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan itu. Dikirimkannya buku tersebut ke seleksi UWRF 2011 dan keyakinan bahwa ia akan memenangkan KLA Penulis Muda Terbaik (ketika itu saya berpikir kategori ini masih diadakan) membuat saya agak berbunga-bunga. Saya sempat yakin, saya puas dengan…

Catatan Hati: Harapan Orang Tua

Saya masih selalu merasa takjub bila melihat Hanna. Ia kini telah berusia tujuh bulan lebih. Mengingat bobot tubuhnya yang hanya 1,6 kg saat baru lahir, seringkali kami merasa was-was dalam menjaga Hanna. Dua kali ia jatuh menggelundung dari tempat tidur, berkali-kali kami membawanya ke dokter karena khawatir. Saya terutama memang tidak percaya pada dokter-dokter di Sumbawa Besar (bisa dibaca di sini). Setelah tiga kali dinyatakan tidak apa-apa, barulah saya merasa sedikit lega.


Sampai sekarang, Hanna masih sering disangka bayi berumur 4-5 bulan karena bobotnya yang mungil. Terakhir ditimbang, ia berbobot 6,2 kg. Kadang-kadang ingin melihat dia gemuk, banyak makannya meski kenyataan berkata Hanna sangat sulit memakan makanan pendamping. Ia tidak suka susu formula, dan sangat tergantung mood untuk makan bubur bayi. Ia hanya suka ASI dan itu pun dengan berbagai gaya semisal nendang-nendang, meremas sesuatu, dikipas-kipas barulah bisa tenang.


Ketapang

terlalu rapuh dahan-dahan ketapang
yang merentangkan pelukan kepadamu
sebab hanya cemburu telah dapat
mematahkan sebagian dan mati
sebelum datang ajal sesungguhnya. aku
dan semua pagi yang punah satu-satu
membawa semua kerinduan itu
ketika sepi menjadi lawan sepadan
bagi adu ketabahan

sekaligus peneman setia
secangkir teh dan semangkuk cinta.

(2012)

Catatan Hati: Jarak

Dalam fisika, jarak adalah panjang lintasan yang ditempuh oleh suatu obyek yang bergerak, mulai dari posisi awal dan selesai pada posisi akhir. Konsep ini seringkali dipetukarkan dengan konsep perpindahan[1]. Jarak dapat dituliskan sebagai
yang dapat dibaca sebagai panjang lintasan yang menghubungkan titik dan menggunakan kecepatan .

Dalam cinta, jarak sering kali menjadi alasan perpisahan. Aku tidak paham, di medium apa sebenarnya cinta merambat dan dengan kecepatan bagaimana ia berpindah. Yang aku tahu ada tiga jenis perpindahan kalor yakni radiasi, konduksi, dan konveksi--mengingat kerap kita dengar cinta adalah hati yang terbakar asmara, pastilah cinta memiliki unsur kalor ini.

Aku beberapa kali menjalani hubungan cinta jarak jauh ini. Dan dari situ aku menyimpulkan, jarak hanya sering dijadikan alasan pembenaran. Bisa kujamin, pria-pria (atau wanita-wanita) yang memutuskan Anda dengan alasan jarak boleh dicap sebagai jablai! Alias jarang dibelai.

Tapi, malam ini saya tidak i…

Oktober Mula-Mula

"Oktober bukan hanya milik kamu!" Mulanya

hujan tidak turun di kota ini, kamu memanjat
di dahan terjauh, mencari jarak terdekat
dengan matahari. Seseorang meneriaki kejatuhan
menasbihkan kesakitan sebagai bencana, tetapi
kamu berkata Oktober hanya tiga puluh hari
dan kami terdiam, dibungkam tanda tanya.

Siapa saja yang memarkirkan kesabaran
di pojok taman itu kemudian tidak sadar, tanpa
yang menjaga, mereka dengan mudahnya hilang:
pergi atau tercuri, lalu masing-masing
mulai belajar arti kehilangan. Kamu

entah kehilangan sesuatu, mencari sesuatu
ketika kamu berteriak, "Oktober ini hanya milikku!"

Gerimis

: dd, min ah
gerimis pertama yang turun di kota ini begitu tipis daun-daun yang tak sempat ranggas masih menyimpan debu milikmu. aku dan semua kenangan yang tak pernah bisa kutepis seolah saling menopang dagu, menyaksikan para bidak di papan catur tak juga digerakkan. sedikit hal yang tidak menjadi biasa, kemarau  tak akan pernah disamakan dengan kebaikan-- bagaimana mungkin jika gerimis setipis ini dituduh sebagai penjahat yang menghapus sekian tahun                        di kalender itu? bahkan seorang grand master akan tawarkan remis melihat keadaan akan sama-sama adil bagi kita untuk mengenang gerimis lain di masa lalu yang sejujurnya tak pernah kita tempuh.
aku dan semua milikmu atau kau dan semua milikku bersandar di pinggir jendela, malu-malu mengeluarkan telapak tangan, menampung gerimis itu.

Joko Pinurbo. Puisigrafi dan Hidup

Joko Pinurbo (jokpin) lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; bermukim di Yogyakarta. Belajar berpuisi sejak akhir tahun 1970-an. Karya-karyanya dimuat dalam berbagai bunga rampai; sebagian telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ia sering diundang baca puisi di berbagai acara sastra. Selain digubah menjadi musik, sejumlah sajaknya juga dipakai untuk iklan. Buku kumpulan puisinya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Trouser Doll (terjemahan Celana; 2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004, cetak ulang 2010), Pacar Senja (Seratus Puisi Pilihan; 2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (cetak ulang tiga kumpulan puisi, 2007). Penghargaan yang telah diterimanya: Hadiah Sastra Lontar (2001), Sih Award (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001), Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2002), Khatulistiwa Literary Award (2005).
Ulang Tahun
Hari ini saya ulang tahun. Usia saya genap 50. Saya duduk membaca di bawah jend…

Lomba Menulis Cerpen Banten

Lomba itu sendiri didisain secara serius, hal itu dibuktikan  salah satunya dengan menghadirkan dewan juri yang kompeten  di bidangnya, yakni, Iwan Gunadi (kritikus sastra),  Zen Hae (Cerpenis) dan Yanusa Nugroho (Cerpenis).
Berikut syarat lomba dan hadiah bagi para pemenang:

Lomba Menulis Cerpen Faber Castle

Catatan Hati: Penghargaan Diri, Penghargaan Orang Lain

"Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Barang siapa mengenal Tuhannya, maka ia tak mengenal apa-apa."
[Salahuddien GZ]Kadang-kadang saya bertanya, apakah saya telah benar-benar mengenal diri saya. Dua puluh empat tahun lebih saya hidup, saya masih merasa ada bagian diri yang tak saya kenali. Perjalanan demi perjalanan yang telah dilalui memang memberikan banyak pemahaman, tetapi yang telah dipahami belum membuat saya paham mengenai hidup.

Adik kelas saya, Indah Permatasari pernah bilang, kerap kita dipertemukan seseorang yang kita sayangi bukan untuk dimiliki, tetapi justru untuk mengajari kita sesuatu. Terlepas dari sayang dalam taraf spesial atau tidak, saya sering merasa bersyukur dikelilingi teman yang baik. Hanya saja dari sekian banyak teman itu, ada satu orang yang pernah terang-terangan mengkritik perangaiku. Namanya Isyatur.


Catatan Hati: Syukur, Sebagai Kunci Kebahagiaan Hidup

Janganlah tertawa melihat orang jatuh, sebab tidak ada suatu yang jatuh disengaja, tetapi bersyukurlah kepada Tuhan karena kita sendiri tidak jatuh. Di dalam hal jatuh janganlah percaya kepada diri sendiri dan kepada datarnya jalan karena menurut laporan dinas lalu lintas lebih banyak mobil jatuh di tempat datar. Jika dibandingkan dengan yang jatuh di tempat pendakian atau penurunan yang berbelok – belok. (Buya Hamka)
Ketika saya mengantarkan Zane ke dokter, sekitar satu tahun lalu, dan ia dinyatakan positif hamil, seseorang di sana mengatakan, berhati-hatilah bila membawa istrimu naik motor, teruama pada lubang-lubang dan kerikil-kerikil yang kecil. Kita seringkali meremehkan hal yang kecil itu, tapi tak jarang orang terpeleset karena mengabaikan mereka.


Cerpen Seno Gumira Ajidarma: Rembulan dalam Capuccino

Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappuccino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. Cappuccino¹ dalam lautan berwarna coklat, datang langsung dari tercemplung cangkir, tenggelam sebentar, tapi lantas pingpong-tapi bukan bola pingpong, ini rembulan. Semua orang berada dalam kafe diam-diam melangkah keluar, menengok ke langit, ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa terapung-apung cangkir perempuan sebenarnya, seperti telah pelajari semenjak di sekolah dasar, yakni yang tiada pernah mereka saksikan sisi gelapnya, dan rembulan itu memang sudah tidak ada. Mereka bergumam, tapi tidak menjadi gempar, bahkan pura-pura seperti tidak terpengaruh sama sekali. Mereka kembali duduk, berbincang dengan bahasa yang beradab, namun diam-diam melirik, seperti kepalsuan yang telah biasa mereka peragakan selama ini. Para pelayan yang berbaju putih lengan panjang, mengenakan rompi, ber…

Catatan Hati: Mulut yang Manis

Entah berapa malam yang lalu, Zane tiba-tiba berbisik kepada saya, "Uda, kok mulut Uda manis sekali sih?"

Saya tidak tahu apakah pertanyaan itu merupakan sebuah ungkapan pujian atau malah kekhawatiran. Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama saya dicap demikian. Mama Nelfi, ibu Zane, bahkan dalam beberapa kesempatan mengatakan, "Manisnya mulut Adi ini ya?"

Menilik ke belakang, saya pernah dikenal (dan terkenal) bermulut pedas. Itu terjadi tatkala saya duduk di bangku kelas III SMA. Saya sangat pendiam dan ketus di kelas. Maksudnya, saya lebih sering diam. Namun bila berbicara selalu ketus dan sering menyakiti perasaan orang lain. Pernah suatu ketika saya membikin nangis Dian, jilbaber yang duduk di bangku sebelah saya. Saat itu entah dia menanyakan apa, saya tak begitu peduli. Begitu dia selesai bicara, saya katakan, "Tolong ya, kalau mau bicara sama saya, sikat giginya dilepas dulu..." Dian pun langsung ngelonyor pergi. Kata Genta, dia menangis di kamar ma…

Cerpen Suara Merdeka: Macondo, Melankolia (21 November 2010)

oleh: Pringadi Abdi Surya
“ALINA, tolong aku!”
“Kamu di mana sekarang?”
“Di kartu pos.”
“Kartu pos?”
“Iya, aku terkurung di dalam kartu pos.”
“Sontoloyo!”
Begitulah, Alina tidak percaya aku berada di dalam kartu pos. Seorang pria berkaca mata hitam dan bertopi khas koboi tiba-tiba menarik kerah bajuku sebelum memukul mataku—dengan tenaga yang cukup untuk meninggalkan lebam—lalu mendorongku masuk ke dalam kartu pos. Beruntung, setelah beberapa menit aku terpekur di dalam, memandangi lanskap kota tua yang sepertinya tak berpenghuni, kafe-kafe yang lengang, gerobak buah yang ditinggalkan, dan sobekan koran minggu yang terbang ditiup angin, aku sadar aku membawa handphone dan meski sisa pulsanya tidak cukup buat menelepon, masih ada sisa bonus SMS harian. Dan satu-satunya yang kupikirkan (dan berada dalam pikiranku) cuma Alina. Karena itulah aku mengirim pesan singkat kepadanya.
Beberapa saat yang lalu, aku berjanji untuk bertemu Alina di Kota X. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai…

Cerpen Koran Tempo, 29 April 2012: Si Penebar Pasir dan Si Pemanggil Hujan

oleh: Yudhi Herwibowo




SUDAHKAH engkau melihat jejaknya? Tubuhnya yang besar dan lebih tinggi dari orang-orang pada umumnya, telah membuat jejaknya lebih tertanda di tanah. Angin tak akan mudah menghapusnya, dan debu tak akan mudah menutupnya.
Dialah Matu Lesso.
Orang-orang di sepanjang pantai selatan Flores ini lebih kerap memanggilnya Si Pemanggil Hujan, walau ia sendiri lebih suka menyebut dirinya Si Penebar Pasir.

Bukune: Sayembara Menulis Cinta Pertama

Deadline: 20 September 2012
Cinta pertama, mungkin ia bagai rasa manis yang kali pertama mampir di lidahmu, atau rasa pahit yang membuatmu mengernyit, atau juga aroma kopi yang kali pertama menguar saat kau terjaga. Tak terlupakan.
Bagaimana kisah cinta pertamamu? Manis? Pahit? Pahit-manis? Tak terlupakan? Abadikan kisah cinta pertamamu dalam sayembara “Ini Cinta Pertama” yang diadakan Bukune ini.
Ketentuan Sayembara Tema cerita adalah kisah cinta pertama. Kisah ini berupa pengalaman nyata kamu dalam merasakan cinta yang kali pertama hadir di hatimu.Lomba ini terbuka untuk siapa saja, tanpa batasan usia.Cerita berupa kisah nyata yang dialami penulis, ditulis dalam bahasa Indonesia, dan orisinal (bukan saduran, bukan terjemahan, bukan jiplakan).Panjang cerita 5—8 halaman kertas A4, Font Times New Roman 12, spasi 1.Sayembara dibuka hingga Kamis,20 September 2012, pukul 23.59 WIB.

Gagas Media: Lomba Menulis Cerita Patah Hati

LOMBA MENULIS CERITA ‘PROYEK 14: DONGENG PATAH HATI’
Masih ingat pengalaman pahit ketika orang yang kau cintai memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang kalian bina selama ini? Atau, merasa mampu menulis cerita yang bisa meremukredamkan perasaan pembacanya? Kalau jawabannya iya, berarti kamu WAJIB ikutan lomba menulis cerita ‘PROYEK 14: DONGENG PATAH HATI’ yang diadakan oleh GagasMedia ini. Caranya gampang banget: Panjang naskah 5-10 halaman (spasi 1, Times News Roman 12). Cerita boleh berdasarkan pengalaman nyata ataupun fiksi (rekaan).Di halaman pertama naskah kamu, harap menyertakan data singkat (di-copas aja, biar nggak repot :D): NAMA LENGKAP                              : NAMA PENA (optional)                     : AKUN FACEBOOK                             : AKUN TWITTER                               : ALAMAT E-MAIL                              : ALAMAT SURAT MENYURAT              : NOMOR TELEPON                            :

Lomba Menulis Cerpen & Cerber Femina 2012

info lebih lengkap bisa dilihat di Femina
dan formulir bisa diunduh di Formulir

Episode Pagi

sama-sama tak kita kenali
matahari yang bersembunyi
di rapat pelepah pohon kelapa
padahal pagi yang sama
masih saja memisahkan kita
Tuhan barangkali sengaja
menciptakan jarak
karena rasa cemburu
dan tak ada cinta
yang lebih bijak dari kedekatan
kau dan aku
maka di barat jauh
yang udaranya sedingin kutub
tak juga ada pesan singkat
yang disampaikan merpati
padahal susah payah
kutuliskan surat
berisi bau laut dan sejumlah
butir pasir yang telampau suci
untuk diijak
atau terinjak
dan pelepah-pelepah itu
gagal disibak angin
yang sedemikian malu-malu
seperti gadis kecil
mengakui perasaan pertamanya

aku dan semua kau
yang tertinggal di ujung bibirku
masih meraba
adakah matahari
akan ditemukan seseorang
lalu kita yang tak pandai bersembunyi
mencari tempat yang tak dikenali
seperti juga pahlawan
yang ditulis Toto Sudarto Bachtiar
itu?

Beberapa Sajak Terbaik di Dunia

Sonnet 18
by William Shakespeare

Shall I compare thee to a summer's day?
Thou art more lovely and more temperate:
Rough winds do shake the darling buds of May,
And summer's lease hath all too short a date:
Sometime too hot the eye of heaven shines,
And often is his gold complexion dimm'd;
And every fair from fair sometime declines,
By chance, or nature's changing course, untrimm'd;
But thy eternal summer shall not fade,
Nor lose possession of that fair thou owest;
Nor shall Death brag thou wander'st in his shade,
When in eternal lines to time thou growest;
So long as men can breathe, or eyes can see,
So long lives this, and this gives life to thee.