Skip to main content

Catatan Hati: Sepotong Ternate


Dulu, saya menulis dengan begitu banyak obsesi. Dan salah satu obsesi saya itu adalah sesuatu yang dinamakan titik puncak. Saya ingin bisa melihat dari atas, saya ingin tahu jalan-jalan yang sudah saya lalui dengan berdarah-darah, terseok-seok, berliku-liku. Saya menulis, kemudian saya kirim ke berbagai media. Pada saat itu saya memang memiliki banyak waktu luang sembari mengerjakan tugas akhir kuliah yang saya selesaikan kurang dari satu minggu, meski kemudian saya tahu (dan kecewa) hasilnya cuma dapat B.  Saya terhitung begitu produktif dan sering terpampang di koran-koran minggu baik puisi maupun cerpen baik kesemuanya itu tidak pernah menembus koran besar di Republik ini.

Terbitnya Dongeng Afrizal menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan itu. Dikirimkannya buku tersebut ke seleksi UWRF 2011 dan keyakinan bahwa ia akan memenangkan KLA Penulis Muda Terbaik (ketika itu saya berpikir kategori ini masih diadakan) membuat saya agak berbunga-bunga. Saya sempat yakin, saya puas dengan perjalanan itu. Terlebih kemudian saya mendapat undangan langsung dari panitia PPN V di Palembang, membuat saya merasa keberadaan saya telah diakui. Begitu bodohnya saya yang terjebak dalam teori hierarki kebutuhan Maslow.


Kala itu, pengumuman TSI IV di Tarnate baru saja diunggah ke jejaring sosial dengan pemberitaan kurasi karya (cerpen dan puisi) sebagai tiket masuk/yang berhak datang pada perhelatan tersebut. Saya kebetulan belum pernah datang ke acara besar semacam itu. Paling besar saya hadir di Fokus Sastra UPI pada 2010 lalu. Itu pun dengan segala ketidakseriusan/alasan penghiburan diri semata.

Tetapi kemudian muncullah 31 nama, yang disebut dengan parameter muda dan memiliki rekam jejak bagus dalam 1 tahun terakhir di dunia sastra. Nama-nama yang muncul membuat dahi saya bekernyit. Meski saya tak sefrontal Khrisna Pabichara dalam memberikan kritik/masukan terhadap alasan munculnya nama-nama itu, saya juga merasa pemilihan nama itu omong kosong. Jika panitia benar-benar memperhatikan geliat sastra dari segi kekaryaan di media, seharusnya nama-nama seperti Khrisna Pabichara, Guntur Alam, Syarif Hidayatullah, Rama Dira, Sungging Raga, Mugya Santosa dimunculkan ketimbang nama-nama muda yang besar yang hilang dari peredaran di tahun bersangkutan. Karena merekalah yang eksis/berada, muncul ke permukaan dan patut diperbincangkan. 

Jujur,  ego saya pun, saya mengatakan, seharusnya saya berada di situ, karena saya merasa rekam jejak saya tahun 2010 lebih baik dari beberapa nama yang ada di sana. Saya sempat melontarkan kekecewaan itu di sebuah status dan seorang teman/saudara sepersastraan sempat mengirimkan pesan akan membiayai akomodasi jika saya lolos kurasi. Saya terharu.

Itu ketika saya masih seorang bujangan. Barangkali ego saya masih berperan penting dalam penentuan cara berpikir.

Setelah saya mulai mempersiapkan pernikahan, semuanya berubah. Sudut pandang saya berubah. Saya kembali mengingat-ingat alasan saya menulis. Saya menulis untuk ketenangan batin, untuk kesenangan, untuk pelepasan. Jadi menulis hanya salah satu cara dari sekian banyak cara untuk mencapai tujuan tersebut. Apalagi saat itu saya mulai mengenal fotografi yang tidak kalah memberikan kepuasan batin.

Obsesi-obsesi itu pun mulai berlenyapan. Saya yang tadinya begitu bangga dengan Dongeng Afrizal mulai melupakan buku itu. Fokus saya yang tadinya banyak tercurah di kesusastraan terbagi setidaknya dalam dua garis besar: pekerjaan dan keluarga. Sementara sastra menempati urutan ke-4 atau 5 setelah nonton drama atau fotografi.

PPN V di Palembang saya tak bisa datang karena baru saja menikah dan sudah berada di Sumbawa Besar. UWRF saya tak lolos. Sementara KLA Penulis Muda ternyata telah ditiadakan, dan dalam longlist Prosa, meski sang editor berkeyakinan DA akan masuk di sana, tidak masuk juga. Tetapi, saya tidak kecewa. Saya merasa fine-fine saja. Dan menganggapnya sebagai dinamika hidup.

Saya sempat mencari gairah yang hilang itu dengan mengikuti berbagai perlombaan menulis, tetapi tak ada satu pun yang menang. Tapi, meski saya merasa tulisan saya itu bagus, saya tak kecewa juga.

Kemudian TSI IV melakukan perombakan pengumuman. Ada 6 peserta baru yang menjadi pengganti peserta khusus yang pertama. Salah satunya muncul nama saya, entah kenapa di kategori cerpen. Saya tentu bahagia dan menerka-nerka kalau bukan Benny Arnas, barangkali Isbedy Setiawan yang merekomendasikan saya. Sempat ada rasa kecewa, kenapa bukan di puisi. Tapi tentu saja saya bersyukur dan ego saya muncul kembali di sana. 

Waktu berlalu. Bakda prajab, saya baru menerima surat undangan resmi itu. Kepala Kantor sedang diklat. Pegawai baru di FO Pencairan Dana belum bisa diharapkan. Sementara saya tak tega melihat tumpukan pekerjaan akan dikerjakan satu orang saja, mengingat saat prajab dia sudah begadang sampai jam 12 malam untuk memeriksa SPM gara-gara saya tak ada. Saya pun jadi berpikir, apakah etis meninggalkan pekerjaan?

Di rumah dinas yang baru kami tempati itu, saya melihat istri saya. Sudah 5 minggu kami terpisah. Dia tengah hamil muda. Anak pertama kami. Melihatnya, saya menjadi tersadar betapa dia butuh saya ada di sisi dia. Dan saya pun butuh dia ada di sisi saya. Mengajaknya ke Tarnate tentu tak mungkin karena tak baik bagi kandungan untuk sering-sering naik pesawat mengingat dalam 2 bulan terakhir dia sudah melalui jarak Sumbawa-Jakarta-Palembang-Jakarta-Padang-Sumbawa.

Dalam dua malam saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari TSI IV dan berharap fasilitas itu diberikan kepada teman sesama NTB. Tidak seperti sindiran Matdon yang menyebutkan peserta akan berebut tiket itu. Dua peserta lain menghubungi saya dan mereka sama-sama mengusulkan satu nama untuk diberikan tiket mengingat ia tak bisa pergi dengan biaya sendiri. Tapi, keputusan tetap berada di tangan panitia.

Saya pandangi lagi surat undangan itu. Tidak saya buang. Biar nanti, jika anak di dalam perut istri itu sudah lahir, saya akan mendongeng kepadanya, "Dulu... Ayah pernah menjadi peserta khusus TSI IV di Tarnate, meski sebagai peserta pengganti..." Seterusnya dia akan membaca apa yang tertulis di catatan ini.


Tulisan ini disertakan pada Birthday Giveaway yang diadakan Nia Angga

Comments

Nia Angga said…
wow mantapp..
ditengah mengerjakan tugas akhir, masih bisa berkarya..

salut ama dirimu yang udah tau passionnya dimana

terus berkarya ya..

makasih atas partisipasinya, udah dicatat sebagai peserta :)

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<