30 May 2011

Dua Puisi di Jurnal Amper

Sonet Kenangan, 2

"Ada yang salah di jantungku." Kau diam dan berpikir
mungkin aku sedang bercanda, dan bikin kau khawatir.
Tetapi, kita pergi merekam jantung, mengecek hormon,
dan betapa sengat membuat kita rindu pada segelas lemon.

Bus kuning ke arah Kertapati tak kunjung mau berhenti,
pukul satu nanti, kita akan menonton film Alice in Wonderland,
"Bagaimana kalau kita berjalan kaki?"
Aku mengangguk saja, sambil menghitung kerikil yang berceceran.

"Ada yang salah di kenangan." Hari ini kau katakan itu, ketika
kata-kataku jadi kerikil di sepanjang jalan itu.
Aku terpaksa bertingkah keras kepala,
demi mengiyakan semua prasangkamu.

Ada yang salah di jantungku, memang. Tetapi tak pernah
ada yang salah di kenangan. Percayalah.


Meninggalkan Palembang

Yang berat adalah melepaskan udara--
terlanjur mengikat tubuh ringkihku. Kenangan-kenangan
memang bisa menyesaki dadaku. Duduk di sampingmu
malam itu, aku mencoba mencuri yang berkilauan
di bibirmu. Seperti berlian,
begitu berharga. Cinta ini sudahlah akan kulupakan.
Hangat tubuhmu, wangi rambutmu, dan ciuman-ciuman
yang menggenapi malam di antara kita seperti cuma
angin yang diam-diam sujud
di kedua kaki, lalu pergi mencari Tuannya yang lain.
Yang berat adalah kehilangan cinta--
bukan kehilanganmu, benda, tua, lalu mati suatu saat
nanti.


Jurnal Puisi amper
Pemimpin Redaksi : Alek Subairi
Redaktur Pelaksana : A Muttaqin
Dewan Redaksi : Mardi Luhung, Timur Budi Raja, M Fauzi
Redaksi : Salamet Wahedi, Umar Fauzi Ballah,
Dody Kristianto, Choirul Wadud
Redaktur Senior : KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Akhudiat
Publikasi : Tzalis Abdul Azis, Ashif Hasanuddin
Sekretaris : Putri Mayasari
ISBN : 978 6028567053
Penerbit : amper media
Penata Letak : Alek Subairi
Desain Sampul : A Muttaqin
Gambar Sampul : “Lelaki Bersayap”
karya Harsono Sapuan
Alamat Redaksi : Babatan III-D, No. 2D. Wiyung, Surabaya
Telp : 085648817032
E-mail : amperpuisi@yahoo.com
Cetakan Pertama : Mei, 2011


Redaksi menerima kiriman naskah puisi, manuskrip puisi yang belum diterbitkan dan esai puisi. Tema esai puisi edisi ke 2 adalah “Membaca Puisi Religi”. Apabila ada perubahan tema, redaksi akan mengumumkan melalui surat terbuka. Kirimkan naskah ke
E-mail redaksi: amperpuisi@yahoo.com


Untuk Pemesanan Hubungi : Putri Mayasari (085648817032), Ashif Hasanuddin (03170964667), Tzalis Abdul Asis 081230239112)

Harga 35.000
(Luar Surabaya tambah ongkos kirim)

26 May 2011

Puisi-puisi Pringadi Abdi Surya di Warta Sumbar, 15 Mei 2011

Brandeinburg Concerto

aku ingin mati di senja brandeinburg
di negeri seribu danau. seribu sungai
yang mengalir dari mata
kekasihku
di seberang pulau, empat puluh kilometer
dari kail-kailmu
yang berenang
mengitari bach—di tengah-tengah
ikan yang berkumpul. senja yang memantul
dari tatapanmu di balik tiang
jembatan tua yang penuh
orang-orang berkumpul.

entah apa yang dipandangnya di balik tembok
tua itu. tembok yang membuat pertemuan kami adalah
sebatas imajinasi dari kata-kata
di pesan singkat
lewat sebuah surat yang diantarkan angin
seperti sebuah melodi lain
dari piano tua

o, aku sungguh ingin mati
di senja brandeinburg yang pucat

menuliskan arti timur dan barat.




Requiem Mass in D Minor

dengar. dengar, nada itu adalah malaikat
maut di padang rumput
yang hijau
dengan kupu-kupu yang kerap melingkar
di lehermu dan kini
di
leherku

kenapa aku harus mati di tangan kupu-kupu

lacrimosa,

trombon. dan timpani. delapan bar kecil
di bir-bir kota vienna
gelas-gelas yang penuh. dansa. salsa
dan romansa di remang-remang lampu

kauKah itu, wahai
malaikat bersayap kupu-kupu?

(2010)



Con Giovanni Overture K.5

dor. aku ingin mati
di peperangan. bukan di tempat tidur
setelah meneguk anggur, salieri

peperangan denganmu sudah seharusnya menjadi
peluru dan desau-desau mesiu
seperti angin yang risau
di padang-padang tandus dengan pasir-pasir
yang haus

dor. aku ingin mati di dawai biolamu
mati berdiri dengan alunan yang makin
meninggi

bukan terbaring, salieri.



Piano Concerto No. 2 in C. Minor

1
pelan. pelan, malam adalah lampu-lampu jalanan
dan cahaya bulan. jejak-jejak kaki yang tipis di lapisan
salju. toko-toko yang tutup. dan bar-bar
yang kian malam kian
hingar.

di mariinsky. mariinsky yang sesak. mariinsky
yang penuh dengan dasi kupu-kupu
dan sepasukan pemusik yang hijrah dari hamelin
dengan seruling, bass, dan violin

seorang pemain dadu berdiri tegak. sergei. sergei yang
mengubah peluru menjadi melodi bulu domba.
melodi rumput. melodi ilalang. melodi rambut
pirang dan memanjang

mengalun dengan begitu tenang.


2
malam adalah kunang-kunang. lubang

ode. eulogia. dan makam.
kamboja-kamboja yang tidak pernah tumbuh
selain gugur salju musim itu

di langit. langit yang nyaris selalu
gelap. pucat. dan matahari-matahari lain
di belahan bumi yang
seperti not-not balok. tuts-tuts piano. gesekan biola
dan suasana orkestra, sergei. sergei

angkat tanganmu dan mainkan lagi tentang
malam kunang-kunang itu.


3
ini mimpi kamar tidur yang berairmata
sendiri. jarum-jarum jam. boneka-boneka di atas
almari tua pemberian nenek. dan buku-buku lusuh
di dalam rak

seperti hidup. dan mati.

sergei, tidurkan kami. ninabobokan kami. gantikan
domba-domba yang harus kami hitung dengan
sosokmu yang satu memainkan mariinsky yang selalu sesak
dan penuh.

(2010)


Tiga Sajak untuk Perempuan

I
Pengakuan

sebuah televisi yang sedang menyala. rak-rak buku
yang kosong. almari kayu yang kaubiarkan terbuka.

ada baju-baju di balik pintu yang digantung sempurna.
kau telanjang dada. aku telanjang selebihnya. mata
kita pun saling menelanjangi. "apalagi yang kau

rahasiakan dari aku selain yang ada di balik rok mini itu?

II
Rumah

rumah ini sunyi. kita berdua yang saling datang dan
pergi. tetapi, bandul jam selalu bergerak ke kanan
dan ke kiri. menanti meja makan itu terisi. televisi pun
menyala kembali. menayangkan sosok suami-istri
yang sudah lama tak memadu kasih

di kamar mandi yang kering, ada jejak-jejak kemarin
dari mayat ibu yang kusembunyikan di kolong tempat
tidur itu, yang sudah lama tidak pernah kita singgahi.


III
Taman

kita adalah sepasang gagak muda yang bertemu
di atas jenazah, malam itu, ketika angin pun telah
sampai di peraduannya.

bangku-bangku kosong. bayang-bayang pohon.
suara-suara jangkrik. desah kau di bawah remang
lampu taman.

sejak itulah aku bermimpi jadi manusia.

(2010)

Tentang Penulis :

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Duta Bahasa Provinsi Sumatera Selatan 2009 ini baru saja menulis DONGENG AFRIZAL, Kumpulan Cerpen (Kayla Pustaka, 2011). Blognya http://reinvandiritto.blogspot.com Twitter: @pringadi_as

12 May 2011

Densha Otoko, Cerpen

DENSHA OTOKO
Pringadi Abdi Surya


Bertemu cerpenis itu, aku tiba-tiba melihat kereta seperti keluar dari matanya. Kereta dengan gerbong-gerbong yang sesak dan penuh. Para penumpang duduk dan berdiri, tanpa membeda-bedakan kelamin, sebab tak pernah ada feminis berdada setengah terbuka yang berani naik kereta ekonomi, Jogja—Jakarta, delapan jam, dikebuli asap rokok, bau keringat, kencing, dan kentut (perihal terakhir ini sungguh keterlaluan).

“Naiklah kereta ekonomi, Lempuyangan—Senen, tak sampai tiga puluh ribu!”

Jauh-jauh berangkat dari Bintaro, naik Sumber Alam, sembilan puluh ribu dan kukira ber-AC, aku malah disambut dengan perintah semacam itu. Seumur-umur aku belum pernah naik kereta.

Setidaknya, aku mengira, ia akan memberiku petuah-petuah magis, bersemedi di Kaliurang, merenung di Parangtritis, ngemenyan di Borobudur, atau duduk di Jendelo, kafe yang sama yang pernah diceritakan Sungging Raga ketika ia mendapat ilham untuk menjadi cerpenis. Aku pun ingin jadi cerpenis.

***

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Kamu jadi cerpenis?”

“Aku ingin jadi pemain bola kok,”

“Seperti M. Nasuha?”

“M. Nasuha?”

“Ya, bek kanan Timnas kita, dulu main di Sriwijaya FC sebelum ikut RD ke Persija. Dia mirip kamu....”

“Apanya yang mirip? Kelaminnya?”

“Aku serius.”

“Aku justru dua rius.”

“Hahaha...”

“Hihihi...”

“Tidak lucu.”

“Aku memang tidak sedang melucu.”

“Orang gila.”

“Dunia memang sudah gila.”

Dan akan bertambah lagi satu hal gila jika benar aku mengikuti petuahnya.

“Ada tiga syarat buat menjadi cerpenis, Pring?”

Wah, cuma tiga.

“Pertama, sering-seringlah bernyanyi di kamar mandi.”

Nah, kalau yang ini aku sudah sering melakukannya.

“Kedua, tinggalkanlah sidik jari di mana-mana.”

“Maksudmu?”

“Kamu sudah pernah pacaran berapa kali?

“Baru satu kali dan itu pun diselingkuhi...”

“Nasibmu itu, Pring.”

“Terus?”

“Belajarlah untuk berselingkuh... seperti aku.”

“Dengan mantan pacar Dadang Ari Mujiono?”

“Murtono ah.”

“Mujiono saja, biar mirip penyanyi dangdut, geal geol gendat gendut plagiat plagidut...”

“Masih hidup dia ya, kapan digantung kemaluannya?”

“Nunggu SBY turun jabatan.”

“Lho?”

“Partai Cabang Rashomon Indonesia.”

“Hahaha....”

“Hihihi...”

“O, ya, yang terakhir yang paling penting, pulang ini kamu harus naik kereta!”


***

Densha Otoko, drama Jepang sebelas episode yang diangkat dari komik itu sedikit bisa menghiburku. Membayangkan perempuan secantik Hermes, dengan rambut pirang dan tinggi yang semampai, bibir tipis yang lembut buat dikecup, bisa bikin jantung deg-degan tak karuan. Kalau saja di kupe pertama, begitu masuk kereta, ia ada dan sedang diganggu pria pemabuk yang lama tak menyusu istrinya, aku bisa tampil bak pahlawan dan memamerkan otot-otot hasil binaan di gym beberapa bulan belakangan. Aku hajar pria itu sampai giginya rontok satu per satu, kemudian kusuruh ia menelannya lagi. Duh, wanita mana yang tak langsung jatuh hati dan menyandarkan kepalanya di dadaku ini?

“Sekali lagi, Pring, tak pernah ada feminis di kereta ekonomi!”

Raga seperti tahu saja apa yang kukhayalkan. Makhluk satu itu memang pintar membaca pikiranku, termasuk menjejalkan pikiran yang jorok-jorok ke otakku. Aku beri tahu sesuatu ya, aku kenal Sora Aoi sampe Nagase Ai, itu gara-gara Sungging Raga. Oke, tapi ini rahasia ya?

Bicara tentang feminis, kami sering mengidentikannya dengan perempuan yang tak mau kawin, berpakaian terbuka, dan bisa dipakai kapan saja. Kalaulah kau memperdebatkan arti kawin, aku bersedia menggantinya dengan kata ‘nikah’. Jadi, makhluk bernama feminis ini rata-rata bisa cuap-cuap tentang kebebasan, mengatai-ngatai laki-laki yang penuh ketidaksetiaan, pelaku pelecehan seksual, sampai perampas kebebasan hak asasi para perempuan itu sendiri. Padahal, ini rahasia ya, Pringadi Abdi Surya itu adalah laki-laki paling setia yang pernah ada di muka bumi ini, tidak pernah selingkuh, apalagi sampai meninggalkan sidik jari dan menuliskan perkataan semacam “Pringadi was here!” di suatu bagian tubuh. Dan satu lagi, jarang sekali laki-laki yang agresif kalau perempuannya tidak memamerkan onderdil miliknya. Faktanya, sekarang paha dan dada diobral di mana-mana, bukan? Lumayan buat cuci mata, apalagi di kereta.


***


Hanya memang, selain kebohongan-kobohongan yang dikarang-karang dalam ceritanya, Raga itu makhluk yang jujur adanya. Baru sampai di stasiun, aku sudah kebingungan. Orang-orang membawa barang berkarung-karung, kotak-kotak mie, kantung-kantung kresek. Membayangkan akan ditaruh di mana mereka itu, membuatku ingin membatalkan niat naik kereta. Tapi, ketimbang tawa sinis Raga itu meledekku, mending aku nekat naik kereta ini.

Aku mendapatkan tiket berdiri, tetapi beruntung sekali (dalam ekspresi bingungku itu) seorang perempuan—yang kukira sebaya—mempersilakan aku duduk di sampingnya. Awalnya, aku sempat curiga dan teringat dengan cerita-cerita hipnotis, copet, dan hal itu membuatku terjaga memegangi dompet.

“Baru pertama kali naik kereta, ya?” Dia memulai pembicaraan.

Memang tidak secantik Hermes, tetapi bibirnya itu membuatku suka. Aku memang menyukai tipe bibir yang mungil dan agak kemerahjambuan. Kalau dikecup, laki-laki yang semi-agresif seperti aku bisa mendaratkan ciuman dengan mudah—meladeni setiap cara yang dia inginkan. Tentu, dia tak akan bisa menguasai bibirku.

“Dari mana kamu tahu?”

“Tergambar jelas di wajahmu...”

“Baru pertama kali ke Jakarta?” Aku balik bertanya.

“Lha, dari mana kamu tahu?”

“Secret makes a man man.”

“Hahaha, epigon Vermouth.”

“Suka Conan juga?”

“Ya, siapa yang tak suka Conan? Aku ingin punya pacar tampan kaya’ Heiji Hattori.”

“Hitam?”

“Eksotis.”

“Seperti aku?”

“Kamu... ah, kamu kegemukan.”

“Tapi ‘kan seksi?”

“Seksi di bagian mananya?”

Aku pun tersipu. Dia lebih tersipu melihat aku tersipu.

Kereta mulai bergerak. Sesekali tubuh kami bergesekan.

“Kamu Jogja di mananya? Gejayan atau Kaliurang?”

“Kamu bahkan belum tahu namaku, tapi sudah bertanya tempat tinggalku.”

“Oh iya, aku Pringadi.”

“Waginem.”

“Waginem?”

“Ya, kamu mau mencemooh namaku?”

“Ya, apalah artinya sebuah nama.”

“Keliru. Shakespeare tak pernah bilang begitu.”

“Lantas?”

“What is in a name?”

“Kamu tahu banyak ya, kuliah di mana?”

“Bahasa dan Sastra Indonesia.”

“Di?”

“Surabaya.”

“Jadi bukan warga Jogja?”

“Kekasihku ada di Jogja, ah tidak pantas juga kalau aku menyebutnya kekasih...”

“Kenapa?”

“Secrets make a woman woman.”

“Ayolah, aku tidak suka penasaran.”

“Aku tidak suka rendang Padang.”

“Aku tidak suka orang Padang.”

“Aku nggak nanya.”

“Hahaha...”

“Lucu?”

“Sedikit.”

“Dia sudah punya kekasih.”

“Dia?”

“Kekasihnya tahu dia juga mencintai aku.”

“Cinta?”

“Cinta yang terbata-bata.”

“Orang belajar membaca dengan mengeja. Orang mengeja pun memulainya dengan terbata.”

“Tapi, aku mencintainya.”

“Lantas, kenapa kamu ke Jakarta?”

“Aku ingin bunuh diri.”

Dia mengangkat sedikit roknya. Naik ke atas lutut. Sayang, cuma sedikit di atas lutut. “Dia sudah merabaku di sini, sampai ke tempat lain yang tak mungkin aku perlihatkan, Pring.” Dia menangis. Aku memberinya sapu tangan. Ia membuang ingusnya di sapu tangan itu.

“Tapi, kamu masih perawan ‘kan?”

“Penting kujawab?”

“Tes keperawanan di mana-mana.”

“Tapi, bukan dia... bukan dia yang mengambil keperawananku.”

“Lalu siapa?”

“Pacarku yang sebelumnya.”

“Hah?”

“Aku benci cerpenis.”

“Lho?”

“Mereka berdua cerpenis. Pokoknya aku tidak mau melihat cerpenis lagi mulai sekarang!”

“Memang cerpenis-cerpenis itu brengsek. Sekaligus bodoh. Akutagawa, Hemmingway, ah, mereka mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Jadi, jika kamu bunuh diri, kamu akan sama bodohnya dengan mereka, Nem.” Aku menjawab sambil menjilat ludah sendiri.

“Jadi kamu bukan cerpenis?”

“Bukan. Aku PNS.”

“PNS?”

“Ya. Penyair Negeri Sipil.”

“Hahaha...”

“Pokoknya jangan mati di Jakarta. Biaya pemakamannya mahal.”

Kereta masih berjalan dengan kecepatan yang sama. Suara riuh kereta, keluhan orang-orang, mereka yang mengorok di depan kami, tapi kami tidak berteriak. Kami saling berbisik dalam jarak beberapa centi. Aku ingin menciumnya.

“Lalu aku akan tinggal di mana jika aku batal bunuh diri di Jakarta nanti?”

“Ke kosku saja.” Aku sudah mulai membayangkan adegan-adegan romantis yang terjadi jika sepasang manusia dibiarkan berduaan dalam satu kamar.

Dia mencubit lenganku genit.

“Eh, ngomong-ngomong siapa cerpenis yang kamu maksud tadi? Aku juga lumayan banyak kenal cerpenis.”

“Mereka berdua cukup terkenal sebagai cerpenis muda baru-baru ini. Aku putus dengan Dadang gara-gara kebiasaannya yang suka memplagiat karya orang lain. Aku tidak suka plagiasi. Kalau Raga, ya, dia nggak ganteng-ganteng amat sih, tapi orangnya tegas. Misterius. Suka bikin aku penasaran.”

Tiba-tiba laju kereta ini mendadak seperti berhenti dan berbalik. Kereta tidak jadi ke Jakarta dan kembali ke Yogyakarta di mana Sungging Raga akan duduk tersenyum di stasiun, melambai, dan memelukku sambil mengatakan, “Apa yang sudah kamu pelajari dari perjalanan keretamu yang singkat itu, Pring?”***

(2011)

10 May 2011

Cerpen Kontroversial Zaman HB. Jassin

LANGIT MAKIN MENDUNG

Cerpen: KIPANDJIKUSMIN


LAMA-LAMA mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti.”

Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw..

“Daulat, ya Tuhan.”

“Apalagi yang kurang di surgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu, buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”

“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”

“Lihat rumput-rumput jamrud di sana. Bunga-bunga mutiara bermekaran.”

“Kau memang mahakaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”

Tengok permadani sutra yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”
Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. la ingat, waktu sowan ke surga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.

“Apa sebenamya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis, dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”

“Hamba ingin mengadakan riset,” jawabnya lirih.

“Tentang apa?”

“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.”

“Ahk, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”

“Betul, kau memang maha tahu.” “Kemarau kelewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh.” Kacamata model kuno dari emas diletakkan di atas meja dari emas pula.

“Bagaimana, ya Tuhan?”

“Umatmu banyak kena tusukan siar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”

“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”

“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”

“Dan yang mati?”

“Ada stempel Kalimat Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”

“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” dengan kening sedikit mengerut.

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”

“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”

“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan! Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka. (Muhammad saw. nampak gusar sekali. Tinju mengepal). Usman, Umar, Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”

Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian –penuh kebapaan.

“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jedah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”

“Singkatnya, hamba diizinkan turba ke bumi?” (Ia tak takut bom atom).

“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai Botes polisi-polisi dan hansip-hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”

“Tidak bisa mereka disogok?”

“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibril serta, supaya tak sesat!”

“Daulat, ya Tuhan.” (Bersujud penuh sukacita).

***

Sesaat sebelum berangkat, surga sibuk sekali. Timbang terima jabatan Ketua Kelompok Grup Muslimin di surga, telah ditandatangani naskahnya. Abubakar tercantum sebagao pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.

“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Jibril bertanya takzim.

“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Medinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Di sini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak berhingga.”

Seluruh penghuni surga mengantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut bidadari-bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad saw. harus berjabat tangan.

Nabi Adam as. sebagai pinisepuh tampil di depan mikropon. Dikatakan bahwa pengorbanan Muhammad saw. merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni surga dan bumi.

“Akhir kata saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad saw. harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, saudara-saudara para suci! Sebagai kaum arrive surga, kita tak boleh melupakan perjuangan saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis di neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif, agar mereka scmua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad. Hidup persatuan Rakyat Surga dan Bumi.”

“Ganyang!!!” Berjuta suara menyahut serempak.

Muhammad segera naik ke punggung buroq-kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mikraj.

Secepat kilat buroq terbang ke arah bumi, dan Jibril yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang.

Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.

“Benda apa di sana?” Nabi keheranan.

“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”

“Orang? Menjemput kedatanganku kiranya?” (Gembira).

“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”

“Orang-orang malang; semoga Tuhan mengampuni mereka. (Berdoa). Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo, buroq!”

Buroq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibril memberi isyarat sputnik berhenti sejenak.

Namun sputnik Rusia memang tak ada remnya. Tubrukan tak terhindarkan lagi. Buroq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala botak-botak di lembaga aeronetika di Siberia bersorak gembira.

“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet yang tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi …,” terdengar siaran radio Moskow.

Muhammad dan Jibril terpental ke bawah, mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.

“Sayang, sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Berbisik sedih.

Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.

“Jibril, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”

“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta namanya. Ibukota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas B.H.”

“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodomah dan Gomorah?”

“Hampir sama.”

“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”

“Bukan, paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”

“Adakah umatku di Malaysia?”

“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”

“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”

“Sama sekali tidak, 9o persen dari rakyatnya orang Islam juga.”

“90 persen,” wajah nabi berseri, “90 juta umatku! Muslimin dan muslimat yang tercinta. Tapi tak kulihat mesjid yang cukup besar, di mana mereka bersembahyang Jumat?”

“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abubakar di surga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”

“Aneh. Gilakah mereka?”

“Tidak, hanya berubah ingatan. Kini mereka akan menghancurkan negara tetangga yang se-agama!”

“Aneh!”

“Memang aneh.”

“Ayo Jibril, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku terlalu rindu pada Medinah!”

“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”

“Tidak, tidak di tempat ini!” jawabnya tegas, “rencana risetku di Kairo.”

“Sesungguhnya pdukalah nabi terakhir, ya Muhammad?”

“Seperti telah tersurat di kitab Allah,” sahut Nabi dengan rendah hati.

“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”

“Apa peduliku dengan nabi palsu!”

“Umat paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu!”

“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsense!” Kegusaran mulai mewarnai wajah Muhammad.

“Ya, Islam terancam. Tidakkah paduka prihatin dan sedih?” terdengar suara Iblis, disambut tertawa riuh rendah.

Nabi tengadah ke atas.

“Sabda Allah tak akan kalah. Betapapun Islam, ia ada dan tetap ada, walau bumi hancur sekalipun!”

Suara Nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi, di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, di kebun-kebun karet, dan berpusar-pusar di laut lepas.
Gaungnya terdengar sampai ke surga, disambut takzim ucapan serentak:

“Amien, amien, amien.”

Neraka guncang, iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.

“Naiklah, mari kita berangkat ya Rasulullah!”

Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri-kanannya.
Jibril menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

***

Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influensa, pusing-pusing dan muntah-muntah.

Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip.

Kata orang, sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen Naspro mati kutu. Hanya politik-politik Cina dan tukang-tukang catut orang dalam leluasa nyomoti jatah lewat jalan belakang.

Koran sore Warta Bahari menulis: Di Bangkok 1000 orang mati kena flu, tapi terhadap flu Jakarta Menteri kesehatan bungkem.

Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkem dipanggil menghadap Presiden alias PBR.
“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin mati orang apa tidak?”
“Tidak, Pak.”
“Jadi tidak berbahaya?”
“Tidak Pak. Komunis yang berbahaya, Pak!”
“Akh, kamu. Komunisto-phobi, ya!”

Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya. Flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-nyonya menteri-sampai presiden diterjang semena-mena.

Pelayan-pelayan istana geger, menko-menko menarik muka sedih karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.

Sekejap mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking.

“Mohon ssegera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, Pemimpin Besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”

Kawan Mao di singgasananya tcrsenyum-senyum, dengan wajah penuh welas-asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratulmaut.

“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara.”

Terhampir obat kuat akar jinsom umur seribu tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao. (Tidak lupa, pada tabib-tabib dititipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit).

Rupanya berkat khasiat obat kuat, si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap sjukur pada Tuhan yang telah mengaruniai seorang sababat sebaik kawan Mao.

Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kyai-kyai yang hadir tersenyum-senyum kecut.

“Saudara-saudara. Pers nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (Hadirin tertawa. Menertawakan kebodohan nekolim). Wah, saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-kemudu melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia ini akan gampang mereka iles-iles, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negaranya Tengku.

“Padahal (menunjuk dada) lihat badan saya, saudara-saudara, Soekarno tetap segar-bugar. Soekarno belum mau mati. (Tepuk tangan gegup gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan). Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum proyek nekolim ‘Malaysia’ hancur lebur jadi debu. (Tepuk tangan lagi).”

Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng Spesial diundang.

Patih-patih dan menteri-menterinya tak mau kalah gaya. Tinggal hulubalang-hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.
Dokter pribadinya berbisik.

“Tak apa. Baik buat ginjalnya, biar kencing batu PYM tidak kumat-kumat.”

“Menyanyi! Menyanyi dong Pak!” Gadis-gadis merengek.

“Baik, baik. Tapi kalian mengiringi, ya!” Bergaya burung unta.

Siapa bilang Bapak dari Blitar
Bapak ini dari Prambanan
Siapa bilang rakyat-
Malaysia yang kelaparan …!

“Mari kita bergembira….” Nada-nada sumbang bau champagne.

Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik dengan seorang menteri.
“Gembira sekali nampaknya dia.”
“Itu tandanya hampir mati.”
“Mati?”
“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”
“Tapi kami belum siap.”
“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”
“Tunggu saja tanggal mainnya!”
“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)

Mereka berpisah.

Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam ‘Kembang Kacang’ dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.
“Kawan lama Presiden!” bisik orang-orang.

Kemudian tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas; beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir.
Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.

Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah.
Anjing-anjing istana mendengkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!

***

Desas-desus Soekarno hampir mati lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina.

Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibril yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas bebas.

“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Jibril sambil mengepakkan sayap.

“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku,” mendengus kesal.

“Apa benar yang paduka risaukan?”

“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk umatku!”

“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”

“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”

“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”

“Buat apa?”

“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”

“Tapi tetap di luar manusia?”

“Ya, untuk mengikuti gerak hati dna pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”

“Aku tahu!”

“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”

“Akh, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu Jibril. Mari kita keliling lagi. Betapapun durhaka, kota ini mulai kucintai.”

Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka asap knalpot dari beribu mobil.

Di atas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum.
Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas atap seng, sementara Jibril membuat lingkaran manis di atas gerbong-gerbong kereta Daerah planet.

Pelacur-pelacur dan sundal-sundal asyik berdandan. Bedak-bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan.

Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang –lagi palang merah– kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah. Senja terkapar menurun, diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot.

Di kamar lain, bandot tua asyik… di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan … dihimpit sibuk cari … dan … lagu melayu.
Hansip repot-repot …

“Apa yang Paduka renungi.”
“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” Menggeleng-gelengkan kepala.
“Mungkin pengaruh adanya Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.
“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai di sini? Berzina, laangkah kotor bangsa ini. Batu, mana batu!!”
“Batu-batu mahal di sini. Satu kubik 200 rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”
“Cari di sungai-sungai dan di gunung-gunung!”
“Batu-batu seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan masjid pun masih kekurangan, Paduka lihat?”
“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” Nabi merentak.
“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”
“Astaga! Sudahkah Iblis menguasai dirimu Jibril?”
“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba. Kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya :

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Naikkan tarifmu dua kali
dan mereka akan kelabakan
mogoklah satu bulan
dan mereka akan puyeng
lalu mereka akan berzina
dengan istri saudaranya


“Penyair gila! Cabul!”

“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka.” Muhammad membisu dengan wajah bermuram durja.

Di depan toko buku ‘Remaja’ suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli menertawakan kebodohannya sendiri: hari naas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari naas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan baginya. Tapi itu rutin–. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sesosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana.
Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.

“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”

“Orang tadi mencuri tidak?” Pandangan Nabi penuh selidik.

“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”

“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”

“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”

“Toh, bisa diimpor!”

“Mereka perlu menghemat devisa. Impor pedang dibatasi untuk perhiasan kadet-kadet Angkatan Laut.”

“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”

“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”

“Negara kapir itu?”

“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”

“Sama jahat keduanya pasti!”

“Sama baik dalam mengaco dunia dengan kebencian.”

“Dunia sudah berubah gila!” Mengeluh.

“Ya, dunia sudah tua!”

“Padahal Kiamat masih lama.”

“Masih banyak waktu ya, Nabi!”

“Banyak waktu untuk apa?”

“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”

“Betul, betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”

Kedua elang terbang di gelap malam.

“Jibril! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak.”

“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”

Sebentar kemudian di atas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.
“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”
“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”
“Sebetulnya siapa menurut kamu?”
“Dia hanya Togog. Begundal raja-raja angkara murka.”
“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”
“Dokumen.”
“Dokumen?”
“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”
“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”
“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”
“Ooh.”

Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu.

Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.
“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengaman Baginda Raja.”

Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.
“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”

Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda Tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya.

Pintu markas BPI ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!
“Apa kabar Yang Mulia Togog?”
“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”
“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris…?”
“Baik, baik Yang Mulia” Pura-pura ketakutan.
“Nah, kan begitu. BPI-Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”
“Betul, Pak, eh, Yang Mulia.”
“Jadi kapan selesai?”
“Seminggu lagi, pasti beres.”
“Kenapa begitu lama?”
“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”
“Bagus, kau rajin meng-up-grade otak. Soalnya begini, saya mesti lempar kopi-kopi itu di depan hidung para panglima waktu meeting dengan PBR. Gimana?”
“Besok juga bisa, asal uang lembur…,” sembari membuat gerak menghitung uang dengan jari-jarinya.

Togog meluruskan seragam-dewannya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.
“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”
“Siapa mereka?”
“Siapa lagi? Natuurlijk de— ‘our local army friends’. Jelas toh?”

Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas BPI secara gelap sejak bertahun-tahun.

Syahdan desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kakerlak-kakerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.
“Soekarno hampir mati lumpuh, jenderal kapir mau coup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”

***

Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.

Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.

Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu berdua di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.
“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” PBR marah-marah.
“Akh, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya, jimat tulen.”
“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”
“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang, siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”
“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”
“Lebih dari itu, jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”
“Apa katanya?”
“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid…!”
“Akh, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel –. Dia tidak berbahaya lagi.
“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”
“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA dicampuradukkan!”
“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita– kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”
“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”
“Kenapa begitu?”
“Formil kita berhadapan dengan Inggris-Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!”
“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRC?” Ada suara cemas.
“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. “

Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran.

Kiriman bom atom –upah mengganyang Malaysia– tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. Tiba-tiba PBR naik pitam.
“Togog, panggil Duta Cina kemari. Sekarang!”
“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”

Seperti maling kesiram air kencing togog berangkat di malam dingin kota bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia cuma pakai piyama, mulutnya berbau angciu dan keringatnya berbau daging babi.

“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rejeki nih!” Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya.
“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti tuh?”
“Buat apa bom atom, sih?” Duta Cina mengingat kembali instruksi dari Peking, “tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Akh, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”
“Gimana ini, Togog?”
“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini,” Togog mendongkol.
“Jelasnya?” tanya PBR dan Duta Cina serentak.
“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk). Dan sampai sekarang pemerintahmu cuma nyokong dengan omong kosong!”
“Kami tidak memaksa, Bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”
“Tidak mungkin!” PBR meradang, betul or tidak, Gog?”
“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”
“Nekad bagaimana?” Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.
“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-cina WNA.” Menggertak.
“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”
“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”
“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”
PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkul-rangkulan.
“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”
“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”
“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang malaysia?”
“Maaf PYM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRC.”
“Yani ragu-ragu?”
“Begitulah. Sebab PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”
“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”
“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak? Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”
“Bagaimana itu?”
“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”
Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisia buatan Togog.
Hari berikutnya berkicaulah Togog di depan rakyat jembel yang haus, penjual obat pinggir jalan, ia berpidato. Ia sering lupa mana propaganda dan mana hasil gubahan sendiri.
“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PYM Presiden PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah… dengan barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara. Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.
“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”
Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.
Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempuan-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.
Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.
Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti melek politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.
“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”
“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”
“Pak Yani, tentu.”
“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”
“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” Suara sember.
“Untung Menteri Luar Negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”
“Dia nggak takut mati?”
“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup. Berapa perawan dia ganyang!” suara sember menyela lagi.
Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.
***
Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.
“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang, jenderal-jenderal asyik ngobyek cari rejeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong.
Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya tekstil, korek api, senter, sandal, pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.
Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras.
“Padahal saudara-saudara. Saya tahu banyak sekali makanan bervitamin selain beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot, dan bahkan kadal justru obat eksim yang paling manjur. Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”
“Itu Pak Leimena di sana (menunjuk seorang kurus kering). Dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”
Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan sekalian potretnya.
Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di HI. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.
Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang.
Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi. ***



(Dikutip dari: Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin: 17-41, 2004, MELIBAS: Jakarta).

08 May 2011

Puisi Terakhir untuk Tami


Karena dirimu, aku tahu, bahwa dicintai itu tidak lebih baik dari mencintai
.

Bahkan kita belum sempat bertemu. ya?

Padahal, antara Musi dan Batanghari sesungguhnya masih satu jiwa. Mungkin karena itu pula, perkenalan kita yang singkat, kata-kata yang serba terbatas, dan senyum yang belum kunjung tertangkap oleh retina itu bukanlah penghalang bagi hati kita untuk saling mendekat.

"Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di?"
"Tergantung sejauh mana pemahaman kita tentang kepemilikan, Mi."
"Apa kamu siap memiliki kehilangan?"

Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Aku hanya paham bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan hilang. Siap atau tidak siap, kita harus menerimanya.

~

Belakangan ini aku disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Pak Yovie mendaulatku untuk membacakan monolog di sebuah acara di Pangalengan. Ya, baru saja aku lulus kuliah dan menjalani hari-hari pengabdianku di sebuah instansi di bawah Kementerian Keuangan.

Sebenarnya aku tidak suka udara dingin. Udara dingin pernah membuatku menyerah menempuh pendidikan di ITB. Saat itu hidungku hampir selalu berdarah-darah karena pembuluh darah yang rapuh—tak kuat udara dingin. Dan besok aku harus pergi ke sana lagi. Dua ketakutan lahir di dadaku. Pertama, karena udara dingin itu. Kedua, karena kenangan-kenangan di masa lalu yang segera menyergapku begitu aku menjejakkan kaki di Bumi Parahyangan itu.

"Hati-hati, Di."

Kau berkata seakan-akan aku akan menghilang selamanya. Memang, di acara itu juga akan diadakan arung jeram. Siapapun yang lengah bisa saja terpental dari perahu, menumbur batu, pingsan, lalu terbawa arus ke kematian. Tetapi, tentu aku tidak ingin berpikir macam-macam. Aku percaya pada standar keamanan yang diterapkan.

Hal kedua, entahlah, aku juga merasa kau mencintaiku. Sementara aku belum siap mencintaimu. Kau sendiri yang paham, betapa luka telah akrab dengan dadaku. Segala cinta yang pernah mampir tiba-tiba berlenyapan satu per satu dengan cara yang kadang tidak bisa kuterima dengan logika. Katakanlah pacar pertamaku yang mata duitan itu, pacar keduaku yang memutuskan menikah dengan orang lain tanpa memberikan alasan yang dapat kuterima, dan terakhir Si Dokter Gigi yang menyerah karena mengetahui pola mutasi di tempat bekerjaku yang baru. Hanya kau, yang berani meyakinkan aku, bahwa bagaimanapun aku, kau akan tetap di sampingku.

***

Kau takut kecoa. Aku takut cacing.

Kau suka kucing. Aku suka kepiting.

Dahimu bekernyit, "Apa bagusnya kepiting?"

"Apa bagusnya kucing?"

"Kucing itu hewan yang lucu dan manja."

"Kepiting itu jalannya miring."

"Semua orang juga tahu kepiting jalannya miring."

"Kepiting punya capit."

"Semua orang juga tahu kepiting punya capit."

"Tapi orang-orang tidak tahu kalau kau malu, mukamu akan seperti kepiting rebus."

Kau diam. Dan pasti memerah. Aku memang belum pernah melihat wajahmu. Tapi aku yakin jenis kulitmu yang putih itu akan mudah memerah kalau terkena panas dan menahan malu.

"Di...."
"Ya?"

"Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki?"

Giliran aku yang diam. Kau juga diam di seberang sana. Perlahan, udara dingin di Kemayoran mengepung tulang-tulangku. “Di, aku mencintaimu....” lanjutmu pelan dan langsung menutup telepon setelahnya.


***

Aku sempat beranggapan bahwa perempuan-perempuan yang mencintaiku akan berakhir dengan airmata. Hal ini tentu bukan tidak beralasan. Penyair seperti aku cenderung memilih kesunyian sebagai tempat pelepasan. Katarsis. Dan pada akhirnya, mereka merasa diduakan. Padahal, aku tentu masih mencintainya. Masih mencintai setiap kenangan dan waktu yang pernah kubagi. Aku hanya memiliki duniaku sendiri. Aku hanya mencintai kesunyianku sendiri—selain cintaku pada kecintaan yang dipersembahkan untukku.

“Luka adalah lelucon yang datang tiba-tiba.”

Tiba-tiba di perteleponan kita yang kesekian, kau mengatakan hal itu. Sepertinya selama ini aku abai pada perasaanmu. Sepertinya selama ini aku hanya peduli pada kelukaanku sendiri. Dan hari itu aku menyadari bahwa luka bukan hanya milikku. Tetapi juga milikmu. Dan aku begitu ingin belajar kepadamu tentang cara menghadapi kelukaan yang sedemikian akut.

“Hidup yang lucu, atau kita yang lucu?”

“Atau Tuhan yang lucu?”

Aku tertawa. Kau tertawa. Dan kita saling menertawakan diri kita masing-masing.

“Kenapa kau mencintaiku, Mi?”

“Karena itu kamu....”

“Karena aku?”

“Jika orang lain, aku tidak akan mungkin mencintai.”

“Apa istimewanya aku?”

“Apa butuh keistimewaan untuk mencintaimu, Di?”

Kau begitu sering membuat aku terdiam dengan pertanyaan dan pernyataanmu.

“Kau tidak tahu masa laluku?”

“Apa kau tahu masa laluku?”

“Tidak.”

“Aku tidak peduli dengan segala hal yang pernah kau lakukan di masa lalumu, Di....”

“Aku tidak berani mencintaimu, Mi.”

“Aku tidak memaksa kamu mencintaiku. Tapi setidaknya biarkan aku mencintaimu, ya?”


***


Mungkin seminggu lagi aku akan pulang ke Palembang. Tetapi, kau bilang seminggu lagi kau akan kembali ke Bandung—sebab telah habis masa liburmu. Jarak antara Palembang—Jambi sama dengan jarak antara Jakarta—Bandung. Tetapi jarak di antara kita sesungguhnya jauh lebih dekat dari sepasang bola mata yang tak kunjung saling bisa membaca.

Setelah buku Kumpulan Cerpen “Dongeng Afrizal” ku terbit, aku memang merencanakan akan melakukan tur ke sejumlah kota untuk bedah buku. Palembang, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, sudah barang tentu menjadi tujuan wajib. Sebentar lagi juga ulang tahunmu, mungkin menemuimu nanti akan menjadi sebuah hadiah kejutan terindah.

Akan tetapi, kesibukan-kesibukan yang makin padat, antara pekerjaanku sebagai CPNS di Ditjen Perbendaharaan yang dimix dengan rutinitasku sebagai penulis (dan penyair) membuat kita jarang sekali berkomunikasi. Terakhir kali kau mengirim SMS untuk mengirimkan bukuku itu ke rumahmu. Aku sempat mencandaimu, ingin ditambahkan apa di buku tersebut—semisal tanda tangan, cap bibir, atau foto-fotoku. Tetapi, SMS yang terlewat malam itu tidak kau balas. Kau pasti sudah tertidur.

Setelah itu, aku tidak tahu kenapa aku lupa menanyakan kabarmu. Dan heran pula diriku mengetahui kau tidak sekali pun megirim atau menanyakan kabarku. Mungkin kau sedang sangat sibuk—sepertiku.

Akhirnya, karena aku lamat-lamat merasakan rindu mengalir di benakku—memikirkanmu, aku mengirim SMS kepadamu:


Tami, apakah kirimanku sudah sampai ke hatimu?


Tidak dibalas. Mungkin kau sedang tidak punya pulsa.

***

Beberapa jam kemudian, kau menghubungiku. Namun bukan suaramu.

“Nak Pringadi, ya?” Suara seorang perempuan yang lebih tua terdengar bersahaja. “Saya ibunya Tami.” Lanjutnya mengenalkan diri. Mendadak hatiku gelisah.

“Iya, Bu, saya Pringadi, Taminya ke mana, Bu?”

“Bukunya sudah sampai. Tadi kami baca. Tidak salah Tami mengagumimu dan banyak terinspirasi dari tulisan-tulisan Nak Pringadi.”

Aku diam.

“Kalau Tami ada salah-salah kata selama berteman dengan Nak Pringadi, mohon maafkan dia ya?”

“Tami ke mana, Bu?” aku mengulang pertanyaanku. Dadaku tiba-tiba sesak.

“Tami belum sempat membaca bukunya. Tami keburu dipanggil Allah. Beberapa hari lalu, dia masuk rumah sakit. Demam berdarah. Dia....”

“Jangan dilanjurkan, Bu!” aku memotongnya. “Ini pasti bercanda, kan?”

“Ini kenyataan, Nak.”

“Tapi baru beberapa hari lalu kami berkomunikasi, Bu. Kematian tidak mungkin datang secepat ini pada perempuan sebaik dia!”


Aku tidak mendengarkan perkataan selanjutnya dari ibunya Tami. Aku mendadak lemas. Terisak. Dan membiarkan suara di sana berbicara sendiri.

Kubuka laptopku dan kusaksikan profil facebooknya. Segala kenangan tentangnya mendadak bermunculan dan berkelindan di mataku. Sebuah kalimat yang sering ia utarakan itu mengiang-ngiang di benakku.

Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di?



Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah
mengisi rongga dadaku. Sebab di langit mana pun kita
berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender
yang bertanggalan, seperti helai dedaunan---
terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali
tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan,
kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian
yang lebih buruk dari cuaca. Aku tahu, aku tahu
keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit,
tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah
melebihi semua gegabah yang sering kulakukan.
Andai kita berpisah, pastilah karena bulan
di langit sudah tak sama. Angin malam,
gerak bayangan di remang taman, dan
sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim;
Aku tergeletak. dadaku retak.



Jakarta, 2011

06 May 2011

Lima Sajak Pringadi di Majalah Horison, Maret 2011

Ubin

Ia sebetulnya benci sapu ijuk tiap kali disuruh ibunya
membersihkan teras rumah yang berubin itu.
Bentuknya yang persegi membuat ia membayangkan
luasnya adalah kuadrat tiap sisi dan matematikanya yang
selalu dapat nilai lima.

Dua buah kursi dibiarkan menganggur di dekat pintu, ia
duduk sejenak dan menyaksikan ubin-ubin itu menggodanya.
Ia tertawa gembira, diangkatnya satu kaki, dan bermain
cak ingkling semaunya sendiri.



Di Ayunan

Bermain ayunan sendirian sore itu, seekor kucing melompat
manja ke pangkuannya. Ia ingat, dulu, seorang temannya pernah
meninggalkan tanda hati di ayunan ini. Cinta masa lalu tak lebih
dari cinta monyet.


Diraba dadanya, seperti ada sesuatu yang kosong.

Diraba yang kosong itu, sungai lahir dari matanya.



Menyeberang Jalan

Jalan di depan rumahnya sulit diseberangi. Ia harus menoleh
ke kanan dan ke kiri, sampai benar-benar yakin tak ada kendaraan
yang sedang ditunggangi malaikat maut. Ia takut, pesan ibu
di kantong bajunya tercecer di aspal yang berlubang itu. Karena itulah,
ia menyeberang pelan-pelan sambil memegangi dadanya yang
menyimpan kesepian.

Ia tak pernah percaya pada zebra cross.

Ia juga tak pernah percaya lampu merah.




Hujan dalam Sebuah Ingatan

Sepanjang Jalan Bungur, hujan mengantarkan jejak
kaki yang ia tinggalkan. Ada yang terselip di antara roda
kendaraan. Didedahkannya betis kaki, bulu-bulu halus
berlomba-lomba memanjat sampai pangkal paha.

Mungkin hujan adalah wanita.

Seketika ia berharap tak ada degam di dadanya.


Musim Penghujan

Musim hujan terpanjang waktu itu, kita berteduh di
beringin yang rimbun. Selalu ada yang memercik ke balik
kemejamu, titik-titik air yang lincah, berkelit dari dedaunan
yang rapat.

Aku tidak sudi, melihatmu berlari sambil menangkupkan
jaket di rambutmu yang pecah oleh sinar matahari. Jejak-jejak
sepatumu lengket di tanah yang becek. Lalu menjadi kolam-kolam
kecil yang merindukan ikan dan kehidupan.

Mungkinlah, seorang pengembara tidak pernah takut
musim penghujan.

Pantai Mutun