Skip to main content

Densha Otoko, Cerpen

DENSHA OTOKO
Pringadi Abdi Surya


Bertemu cerpenis itu, aku tiba-tiba melihat kereta seperti keluar dari matanya. Kereta dengan gerbong-gerbong yang sesak dan penuh. Para penumpang duduk dan berdiri, tanpa membeda-bedakan kelamin, sebab tak pernah ada feminis berdada setengah terbuka yang berani naik kereta ekonomi, Jogja—Jakarta, delapan jam, dikebuli asap rokok, bau keringat, kencing, dan kentut (perihal terakhir ini sungguh keterlaluan).

“Naiklah kereta ekonomi, Lempuyangan—Senen, tak sampai tiga puluh ribu!”

Jauh-jauh berangkat dari Bintaro, naik Sumber Alam, sembilan puluh ribu dan kukira ber-AC, aku malah disambut dengan perintah semacam itu. Seumur-umur aku belum pernah naik kereta.

Setidaknya, aku mengira, ia akan memberiku petuah-petuah magis, bersemedi di Kaliurang, merenung di Parangtritis, ngemenyan di Borobudur, atau duduk di Jendelo, kafe yang sama yang pernah diceritakan Sungging Raga ketika ia mendapat ilham untuk menjadi cerpenis. Aku pun ingin jadi cerpenis.

***

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Kamu jadi cerpenis?”

“Aku ingin jadi pemain bola kok,”

“Seperti M. Nasuha?”

“M. Nasuha?”

“Ya, bek kanan Timnas kita, dulu main di Sriwijaya FC sebelum ikut RD ke Persija. Dia mirip kamu....”

“Apanya yang mirip? Kelaminnya?”

“Aku serius.”

“Aku justru dua rius.”

“Hahaha...”

“Hihihi...”

“Tidak lucu.”

“Aku memang tidak sedang melucu.”

“Orang gila.”

“Dunia memang sudah gila.”

Dan akan bertambah lagi satu hal gila jika benar aku mengikuti petuahnya.

“Ada tiga syarat buat menjadi cerpenis, Pring?”

Wah, cuma tiga.

“Pertama, sering-seringlah bernyanyi di kamar mandi.”

Nah, kalau yang ini aku sudah sering melakukannya.

“Kedua, tinggalkanlah sidik jari di mana-mana.”

“Maksudmu?”

“Kamu sudah pernah pacaran berapa kali?

“Baru satu kali dan itu pun diselingkuhi...”

“Nasibmu itu, Pring.”

“Terus?”

“Belajarlah untuk berselingkuh... seperti aku.”

“Dengan mantan pacar Dadang Ari Mujiono?”

“Murtono ah.”

“Mujiono saja, biar mirip penyanyi dangdut, geal geol gendat gendut plagiat plagidut...”

“Masih hidup dia ya, kapan digantung kemaluannya?”

“Nunggu SBY turun jabatan.”

“Lho?”

“Partai Cabang Rashomon Indonesia.”

“Hahaha....”

“Hihihi...”

“O, ya, yang terakhir yang paling penting, pulang ini kamu harus naik kereta!”


***

Densha Otoko, drama Jepang sebelas episode yang diangkat dari komik itu sedikit bisa menghiburku. Membayangkan perempuan secantik Hermes, dengan rambut pirang dan tinggi yang semampai, bibir tipis yang lembut buat dikecup, bisa bikin jantung deg-degan tak karuan. Kalau saja di kupe pertama, begitu masuk kereta, ia ada dan sedang diganggu pria pemabuk yang lama tak menyusu istrinya, aku bisa tampil bak pahlawan dan memamerkan otot-otot hasil binaan di gym beberapa bulan belakangan. Aku hajar pria itu sampai giginya rontok satu per satu, kemudian kusuruh ia menelannya lagi. Duh, wanita mana yang tak langsung jatuh hati dan menyandarkan kepalanya di dadaku ini?

“Sekali lagi, Pring, tak pernah ada feminis di kereta ekonomi!”

Raga seperti tahu saja apa yang kukhayalkan. Makhluk satu itu memang pintar membaca pikiranku, termasuk menjejalkan pikiran yang jorok-jorok ke otakku. Aku beri tahu sesuatu ya, aku kenal Sora Aoi sampe Nagase Ai, itu gara-gara Sungging Raga. Oke, tapi ini rahasia ya?

Bicara tentang feminis, kami sering mengidentikannya dengan perempuan yang tak mau kawin, berpakaian terbuka, dan bisa dipakai kapan saja. Kalaulah kau memperdebatkan arti kawin, aku bersedia menggantinya dengan kata ‘nikah’. Jadi, makhluk bernama feminis ini rata-rata bisa cuap-cuap tentang kebebasan, mengatai-ngatai laki-laki yang penuh ketidaksetiaan, pelaku pelecehan seksual, sampai perampas kebebasan hak asasi para perempuan itu sendiri. Padahal, ini rahasia ya, Pringadi Abdi Surya itu adalah laki-laki paling setia yang pernah ada di muka bumi ini, tidak pernah selingkuh, apalagi sampai meninggalkan sidik jari dan menuliskan perkataan semacam “Pringadi was here!” di suatu bagian tubuh. Dan satu lagi, jarang sekali laki-laki yang agresif kalau perempuannya tidak memamerkan onderdil miliknya. Faktanya, sekarang paha dan dada diobral di mana-mana, bukan? Lumayan buat cuci mata, apalagi di kereta.


***


Hanya memang, selain kebohongan-kobohongan yang dikarang-karang dalam ceritanya, Raga itu makhluk yang jujur adanya. Baru sampai di stasiun, aku sudah kebingungan. Orang-orang membawa barang berkarung-karung, kotak-kotak mie, kantung-kantung kresek. Membayangkan akan ditaruh di mana mereka itu, membuatku ingin membatalkan niat naik kereta. Tapi, ketimbang tawa sinis Raga itu meledekku, mending aku nekat naik kereta ini.

Aku mendapatkan tiket berdiri, tetapi beruntung sekali (dalam ekspresi bingungku itu) seorang perempuan—yang kukira sebaya—mempersilakan aku duduk di sampingnya. Awalnya, aku sempat curiga dan teringat dengan cerita-cerita hipnotis, copet, dan hal itu membuatku terjaga memegangi dompet.

“Baru pertama kali naik kereta, ya?” Dia memulai pembicaraan.

Memang tidak secantik Hermes, tetapi bibirnya itu membuatku suka. Aku memang menyukai tipe bibir yang mungil dan agak kemerahjambuan. Kalau dikecup, laki-laki yang semi-agresif seperti aku bisa mendaratkan ciuman dengan mudah—meladeni setiap cara yang dia inginkan. Tentu, dia tak akan bisa menguasai bibirku.

“Dari mana kamu tahu?”

“Tergambar jelas di wajahmu...”

“Baru pertama kali ke Jakarta?” Aku balik bertanya.

“Lha, dari mana kamu tahu?”

“Secret makes a man man.”

“Hahaha, epigon Vermouth.”

“Suka Conan juga?”

“Ya, siapa yang tak suka Conan? Aku ingin punya pacar tampan kaya’ Heiji Hattori.”

“Hitam?”

“Eksotis.”

“Seperti aku?”

“Kamu... ah, kamu kegemukan.”

“Tapi ‘kan seksi?”

“Seksi di bagian mananya?”

Aku pun tersipu. Dia lebih tersipu melihat aku tersipu.

Kereta mulai bergerak. Sesekali tubuh kami bergesekan.

“Kamu Jogja di mananya? Gejayan atau Kaliurang?”

“Kamu bahkan belum tahu namaku, tapi sudah bertanya tempat tinggalku.”

“Oh iya, aku Pringadi.”

“Waginem.”

“Waginem?”

“Ya, kamu mau mencemooh namaku?”

“Ya, apalah artinya sebuah nama.”

“Keliru. Shakespeare tak pernah bilang begitu.”

“Lantas?”

“What is in a name?”

“Kamu tahu banyak ya, kuliah di mana?”

“Bahasa dan Sastra Indonesia.”

“Di?”

“Surabaya.”

“Jadi bukan warga Jogja?”

“Kekasihku ada di Jogja, ah tidak pantas juga kalau aku menyebutnya kekasih...”

“Kenapa?”

“Secrets make a woman woman.”

“Ayolah, aku tidak suka penasaran.”

“Aku tidak suka rendang Padang.”

“Aku tidak suka orang Padang.”

“Aku nggak nanya.”

“Hahaha...”

“Lucu?”

“Sedikit.”

“Dia sudah punya kekasih.”

“Dia?”

“Kekasihnya tahu dia juga mencintai aku.”

“Cinta?”

“Cinta yang terbata-bata.”

“Orang belajar membaca dengan mengeja. Orang mengeja pun memulainya dengan terbata.”

“Tapi, aku mencintainya.”

“Lantas, kenapa kamu ke Jakarta?”

“Aku ingin bunuh diri.”

Dia mengangkat sedikit roknya. Naik ke atas lutut. Sayang, cuma sedikit di atas lutut. “Dia sudah merabaku di sini, sampai ke tempat lain yang tak mungkin aku perlihatkan, Pring.” Dia menangis. Aku memberinya sapu tangan. Ia membuang ingusnya di sapu tangan itu.

“Tapi, kamu masih perawan ‘kan?”

“Penting kujawab?”

“Tes keperawanan di mana-mana.”

“Tapi, bukan dia... bukan dia yang mengambil keperawananku.”

“Lalu siapa?”

“Pacarku yang sebelumnya.”

“Hah?”

“Aku benci cerpenis.”

“Lho?”

“Mereka berdua cerpenis. Pokoknya aku tidak mau melihat cerpenis lagi mulai sekarang!”

“Memang cerpenis-cerpenis itu brengsek. Sekaligus bodoh. Akutagawa, Hemmingway, ah, mereka mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Jadi, jika kamu bunuh diri, kamu akan sama bodohnya dengan mereka, Nem.” Aku menjawab sambil menjilat ludah sendiri.

“Jadi kamu bukan cerpenis?”

“Bukan. Aku PNS.”

“PNS?”

“Ya. Penyair Negeri Sipil.”

“Hahaha...”

“Pokoknya jangan mati di Jakarta. Biaya pemakamannya mahal.”

Kereta masih berjalan dengan kecepatan yang sama. Suara riuh kereta, keluhan orang-orang, mereka yang mengorok di depan kami, tapi kami tidak berteriak. Kami saling berbisik dalam jarak beberapa centi. Aku ingin menciumnya.

“Lalu aku akan tinggal di mana jika aku batal bunuh diri di Jakarta nanti?”

“Ke kosku saja.” Aku sudah mulai membayangkan adegan-adegan romantis yang terjadi jika sepasang manusia dibiarkan berduaan dalam satu kamar.

Dia mencubit lenganku genit.

“Eh, ngomong-ngomong siapa cerpenis yang kamu maksud tadi? Aku juga lumayan banyak kenal cerpenis.”

“Mereka berdua cukup terkenal sebagai cerpenis muda baru-baru ini. Aku putus dengan Dadang gara-gara kebiasaannya yang suka memplagiat karya orang lain. Aku tidak suka plagiasi. Kalau Raga, ya, dia nggak ganteng-ganteng amat sih, tapi orangnya tegas. Misterius. Suka bikin aku penasaran.”

Tiba-tiba laju kereta ini mendadak seperti berhenti dan berbalik. Kereta tidak jadi ke Jakarta dan kembali ke Yogyakarta di mana Sungging Raga akan duduk tersenyum di stasiun, melambai, dan memelukku sambil mengatakan, “Apa yang sudah kamu pelajari dari perjalanan keretamu yang singkat itu, Pring?”***

(2011)

Comments

Popular posts from this blog

And The Moon And The Stars And The World, Charles Bukowski

Long walks at night--
that's what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.




Dan Bulan dan Bintang dan Dunia
karya Charles Bukowski

Perjalanan panjang di malam hari--
sungguh baik buat jiwa:
melongok melalui jendela
menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan
mencoba menyingkirkan
suami-suami yang mabuk dan gila

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<