20 July 2014

Alamat Media dan Teknik Pengiriman Naskah

Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis sebelum mengirimkan cerpen/puisi ke suatu media adalah kecenderungan tema cerpen/puisi yang biasa dimuat oleh media tersebut. Biasanya sejalan dengan visi dan misi media.
Majalah Ummi, Tabloid Nova, tentu tidak akan memuat cerpen dengan tema remaja yang lagi patah hati dengan gaya tutur gaul seperti loe, gue, apalagi memuat kisah peri hijau dan cinderella. Begitu pula Majalah Bobo, mustahil menerima cerpen dengan tema keluarga dan rumah tangga.
Naskah diketik dalam MS Word, kertas A4, Times New Roman 12, line spacing 1.5, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi—tergantung media, disimpan dalam format RTF (Rich Text Format), dan dikirim via file attachment.
Jangan lupa di bagian akhir naskah cantumkan nomer rekening Anda untuk pengiriman honor—jika dimuat, NPWP (nomor pokok wajib pajak—bagi yang sudah punya), alamat email, dan nomer hp.
Pada subjek email untuk pengiriman cerpen ditulis CERPEN: JUDUL CERPEN .
Tulis pengantar singkat-padat-jelas pengiriman cerpen pada badan email. Dan, akan lebih baik jika dalam pengantar ditegaskan tentang lama status cerpen yang dikirim.
“Jika setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain….”
Selesai.
Tarik nafas dalam-dalam, ucapkan syukur karena telah menyelesaikan sebuah cerpen/puisi dan mengirimkannya ke media. Berdoalah semoga layak muat dan dikirim honornya jika dimuat. Amin.
Dan, teruslah (belajar) menulis kreatif lebih baik lagi!
 .
Selatan Jakarta, Gatsu 52-53 Lt.14
17 Januari 2012 09:29 WIB
.
Contoh pengantar pengiriman.
.
Dari                   : Saroni Asikin
Kepada            : sastra@jawapos.co.id Jawapos
Dikirim             : Kamis, 15 September 2011 5:25
Judul                 : Cerpen STRIPTEASE DI JENDELA–Saroni Asikin
.
Semarang, 15 September 2011
Kepada
Yth. Redaktur Cerpen Jawa Pos
di tempat.
Dengan hormat,
Bersama ini saya kirimkan sebuah cerpen saya bertajuk “STRIPTEASE DI JENDELA” (dalam Lampiran). Saya sangat berharap cerpen ini Anda baca dan kelayakan pemuatannya sepenuhnya hak Anda. Atas pembacaan dan pertimbangan Anda, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Saroni Asikin
saroniasikin@yahoo.co.id
Tlp. 08xxxxxxxxxx
Rekening Bank Xxxxxxx Nomor Xxxxxxxxxxxxx a.n. Saroni Asikin
.
.
BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnal dan tabloid yang menerima kiriman CERPEN/PUISI. Anda yang mengetahui info terkini terkait alamat-alamat email redaksi dan honor pemuatan cerpen/puisi dimohon bantuannya dengan menuliskannya pada komentar Anda. Terima kasih.
1. Kompas

opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
Honor cerpen Rp. 1.400.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), biasanya 2-3 hari setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

23 June 2014

Puisi Pringadi Abdi Surya, diterjemahkan oleh John H. McGlynn

The Last Rain in Memory

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
for leaves have only just begun to grow
after the curse of a century of drought
for my failure as a man to turn stones
into gold

an elderly alchemist named khidir
who disappeared into eternity
left a message for me:

even one drop of the bitter rain that fell that evening
is capable of becoming a new world

no one knows, I've even concealed my shadow
in that old and windowless house
and that I'm looking now for other shadows
cast by a woman with reddened lips

upon seeing her, the rain will lessen
and everyone will begin to affirm the feeling of pain

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
and the leaves that are styudying to write down names
don't come to know how your name is spelled

as death or as love

(2014)

John H. McGlynn adalah seorang penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika yang telah tinggal di Indonesia sejak 1976.Selain sebagai Ketua Lontar[10], ia juga menjadi editor Indonesia untuk Manoa, jurnal kesusastraan dari Universitas Hawaii , sekaligus menjadi editor tamu Words Without Borders.[1] Ia adalah anggota Komisi Internasional dari IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), PEN International-New York, dan The Association of Asian Studies

20 June 2014

Pringadi Abdi Surya dalam Negeri Poci 5





Alhamdulillah, puisi saya masuk dalam antologi ini. Beberapa puisi dapat dilihat di http://www.teraslampung.com/2014/06/puisi-puisi-dari-negeri-poci-5-negeri.html

Dari redaksi: Puisi-puisi ini adalah sebagian dari 153 penyair dalam Antologi Puisi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit yang diterbitkan Kosakata Kita bekerja sama dengan Komunitas Radja Ketjil. Pada 20 Juni 2014 akan diluncurkan di Tegal. Diperkirakan 50-an penyair akan hadir pada acara berajuk "Temu Penyair Dari Negeri Poci" tersebut. 

SEPANJANG TUBAGUS, SEPEREMPAT ABAD

i.
ia akan berusia seperempat abad, tetapi
belum mengerti caranya mengusir kesepian.

ii.
ia bermimpi menjadi remaja, menelepon dan mengirim sms cinta.
tetapi tiada lagi kekasihnya, tiada lagi perempuan-perempuan
yang lahir dari ujung daun. ia menengok ke seberang jalan,
bangunan-bangunan lebih tinggi dari kesombongan.

kepada siapa ia harus menjadi remaja, pikirnya
tetapi ia lupa, ia telah tak memiliki pikiran.

iii.
ia akan menyalakan tungku. tetapi tak ada kayu bakar
daun-daun kering di sepanjang tubagus menebarkan bau hangus

ada api kecil menyala di tulang daun, ia menangis melihatnya
api kecil lain di matanya sudah lama tiada

iv.
di kehidupan yang lalu, ia pasti seorang superhero
punya sayap dan tak malu memakai pakaian dalam di luar celana
yang ia herankan, kehidupan sekarang orang-orang lebih tak punya malu
sebagianbahkan tak memakai pakaian dalam

ia tahu, ia harus benar-benar menutupi dadanya yang gosong
karenaluka, dari kenyataan atau dari perasaan

ia tahu, ia harus belajar memiliki kelamin yang terpotong kekuasaan

2013


PRINGADI ABDI SURYA. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang bekerja di KPPN Sumbawa Besar. Buku puisinya, Alusi(2009).

12 June 2014

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh

dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukea

dan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanya

dan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiri

dan melamun-merenungi sejauh yang aku mampu

demi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;

 

lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,

dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik

karena begitu serut dan kurang terjamahi;

meskipun untuk berjalan terus ke sana

sedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaan

 

Dan keduanya, secara seimbang membaringkan pagi

menginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, 

oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!

Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaran

aku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembali

 

Aku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhan

di suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:

Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--

aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,

dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

 

08 June 2014

Palasik, (Berita Kota Kendari 7 Juni 2014)


Ketika orang-orang tengah meributkan partikel Tuhan dan tanpa sadar melupakan bahwa Boston-Higgs bukan satu orang (aku jadi kasihan pada orang India itu) sementara sebagian yang lain asik mendebat tentang Grand Design milik Stephen Hawking (dan aku kerap keliru menyebutnya Stephen King), Zane malah berkata tak ingin membawa Hanna keluar rumah karena takut palasik. Padahal besok 1 Syawal. Idul Fitri. Dan ia lulusan Fisika ITB dengan IPK di atas tiga.

            "Apa hubungannya lulusan Fisika ITB dengan 1 Syawal?" Ia berbalik tanya, mengerutkan dahi, tak terima. "Kenapa tak sekalian Ayah bilang saja, ijazah cap gajahku itu tak ada gunanya karena aku hanya menjadi ibu rumah tangga?" Ah, aku benci jika ia mulai mengungkit-ungkit hal ini.
         
   "Bukan, Sayang. Ayah cuma menyarankan Mama untuk ikut shalat besok. Sayang 'kan, setahun sekali lho..."
            "Lalu Hanna bagaimana?"
            "Dia tidak bisa ikut?"
            "Palasik Ayah, palasik!"
“Palasik?”
            Aku tidak paham alasan mitos palasik begitu kuat di sini. Di Palembang, tak ada palasik. Yang ada sawan. Diberi penjelasan ilmiah, bayi yang terkena sawan disebabkan oleh bakteri atau virus saat berada di luar rumah sementara imunitas sang bayi lemah. Bukan karena kesambet jin. Tapi, di Talang, ah, aku tak bisa membayangkan ada sesosok kepala melayang di malam hari, mengikuti bayi kemudian mengisap darahnya. Dan bila di siang hari, ia manusia biasa. Namun, bila melihat bayi lewat, ia akan melotot dan mengisap energi sang bayi.
            "Anak Etek Fitri, yang rumahnya dekat Tunggaek, baru empat hari meninggal. Padahal lahirnya sehat, normal, tak ada masalah. Dua koma tujuh kilogram. Hanna cuma satu koma enam. Ayah mau ambil resiko?" lanjutnya.
            “Hidup mana yang tak ada resiko, Ma? Kita lagi makan enak pun bisa tersedak. Allah yang mengatur hidup mati kita. Ayah tak suka kalau bau-baunya sudah mendekati syirik begini.” Aku menjawab tegas.
            “Ya sudah, bilang ke Mama dulu,” ia mengalah.

14 May 2014

Sebuah Esai Milik Memori





            Hal paling menyedihkan dari Sumbawa adalah tidak adanya bioskop. Dan hal yang paling menyedihkan dari bioskop adalah mereka lebih memilih menampilkan film-film porno berkedok horor ketimbang film-film berkualitas seperti Introduction to Architecture.

            Maka, malam-malam sendiri yang biasa saya isi dengan petikan gitar yang sembarang itu kini berubah menjadi kesetiaan di depan layar komputer, menunggu unduhan judul demi judul selesai, lalu menontonnya sampai pukul dua pagi ketika suara-suara misterius dari dapur, ketukan-ketukan kecil di dinding mulai terdengar, dan suara tapak berat yang tidak mungkin tikus di atas atap mulai bermunculan. Saya tidak takut hantu. Saya takut kalau tidak punya uang.

            Namun malam ini ada kamu di depan saya. Dan malam ini juga tidak akan ada cerita lain tentang Tuan Alien dan Teruna. Masa bodoh dengan mereka berdua.
            “Ceritakanlah tentang sesuatu...” Sedari tadi kita diam. Kamu beberapa kali menoleh ke jalan. Saya tidak tahu hal yang kamu khawatirkan. Mungkin motormu di parkiran tidak punya kunci pengaman. Tapi Sumbawa relatif aman selain tragedi 22 Januari silam dan beberapa kasus pembunuhan. Mungkin juga kamu risih bersama saya saat ini dan ingin segera pulang.
            “Tidak, Mas, Sari bukan memikirkan pulang...”
            “Lalu?”
            “Sari suka melihat lalu lalang kendaraan, apalagi kalau ada dua orang berpelukan di motor...”
            “Kamu ingin dipeluk?”
            Tidak ada jawaban. Kamu memisahkan sambal dari bumbu satenya. Lalu menggigit daging kambing yang tampak alot itu dengan semangat. Itu pasti kambing tua yang kesepian.
            “Kamu tidak takut kolesterol?”
            “Mas sendiri kenapa kulitnya tidak dimakan?”
            Seporsi sate milik saya sudah habis duluan. Tapi saya tidak pernah mau memakan kulit ayam yang biasanya diletakkan di tengah tusuk sate, diapit dua potongan kecil daging itu. Saya pikir begitulah nasib manusia kebanyakan yang sering didesak dua pilihan. Ketika dua pilihan itu menghilang, yang tersisa hanyalah sepi kembali.
            “Rupanya kamu memperhatikan saya...” jawab saya singkat.
            Bupati yang sekarang konon katanya menggalakkan peremajaan taman-taman. Tapi tidak ada yang signifikan. Taman di sepanjang sisi sungai Brang Biji misalnya, kurang cahaya. Ada baiknya bila di sana dibangun talud, lalu dipancangkan lampu-lampu yang terang benderang. Orang-orang bisa berjualan. Bukan malah menjadi tempat mesum. Pasangan muda duduk berpangku di motor. Siapa pun tahu, hal yang mereka inginkan bukanlah membiarkan oksigen diserap pohon-pohon, tapi saling mencoba memberikan napas buatan. Juga taman di depan Polres ini. Satu tugu yang menjulang gagal menjadi POI. Awalnya saya ingin mengajakmu duduk di sana, dan kita akan persis orang yang berpacaran. Tapi lampu tamannya sudah keburu mati. Putus. Kamu tidak berniat memutuskan pertemanan ini ‘kan?
            Dua rembulan di langit masih tertutup awan. Saya mulai terbiasa dengan segala omong kosong ini. Kamu lalu bercerita tentang kucing. Kucingmu yang sudah dipelihara dari kecil sepulang ini akan kamu berikan ke teman. “Warnanya putih. Persia. Biaya perawatannya mahal,” katamu lagi.
            “Kenapa tidak diberikan ke saya?”
            “Telat.”
            “Kalau pemiliknya, kenapa tidak diberikan ke saya?”
            “Telat.”
            Dua jawaban. Dua-duanya telat. Ini menyakitkan. Lalu satu teguk jus wortel-jeruk membasahi kerongkongan. Itu menyegarkan.
            Setelah kamu bilang untuk tidak mencintaimu, saya belum menyerah sepenuhnya. Meski menjengkelkan rasanya, sebelum saya sempat bilang apa-apa, kamu sudah menolak untuk dicintai. Saya ingin katakan kepadamu, mencintai itu adalah hak saya. Hak kamu adalah menerima atau menolak cinta saya. Suka bingung, ada saja orang yang salah mengartikan hak. Saya tidak suka asam padeh dipertanyakan. Saya tidak suka sinetron dipertanyakan. Saya tidak suka Jokowi malah dihina-hina. Saya mau suka kamu saja dipersulit. Bukan birokrasi saja ternyata yang suka mempersulit.
            Rasanya di tahun omong kosong ini, hak dan kewajiban, benar dan salah, jadi semakin sulit dibedakan. Sama halnya Son Ye Jin dan Han Ga In. Jangan-jangan mereka operasi plastik di dokter bedah kulit yang sama. Kecantikan artifisial seperti itu hanya indah dipandangi dari jauh. Saya lebih suka kecantikan alami. Seperti yang Laura Basuki bilang, kecantikan itu simpel, nggak perlu dengan jahit benang segala. Bagi saya, kecantikan alami itu kamu. Kamu yang rela akan pergi ke Labangka, dua jam perjalanan berpanas-panasan hanya untuk membuktikan pasir-pasir di sana memang mirip merica. Demi kamu, bila kamu mau, saya akan borong seluruh merica di Sumbawa dan menaburkannya di Pantai Kencana. Lalu kita duduk di sana sambil melihat senja terbaik yang memang hadir di bulan Mei dan Juni.
            Laut yang terbentang di depan mata kita adalah void. Itu adalah ruang kosong yang memotong kontinuitas ruang antara dua area. Area kamu dan area saya.
            “Bila kamu membangun rumah, kamu ingin rumah yang seperti apa?”
            Kamu bertanya itu seolah-olah ingin bertanya, “Bila kamu membangun rumah tangga, kamu ingin rumah tangga yang seperti apa?”
            “Saya ingin rumah yang ada kamunya.”
            Kembali kamu asik memainkan sisa bumbu sate dengan tusuk lidi. Kamu mengaduk-ngaduknya. Kamu mengaduk-aduk perasaan saya.
            “Mas tidak ikut ke Lappe?”
            “Tidak.”
            “Sari ingin Mas ikut....”
            “Tidak.”
            “Kenapa?”
            “Karena kamu ikut.”
            “Jadi kalau Sari tidak ikut, Mas akan ikut?”
            “Tidak juga.”
            “Jadi itu cuma alasan?”
            “Ya, itu hanya sebuah alasan.”
            “Kenapa Mas mengajak Sari bertemu malam ini?”
            Tiba-tiba pertanyaanmu menohok. Saya diam, menghela napas panjang dan berkata, “Sari tahu kenapa Mas suka pantai? Itu karena pasirnya. Banyak yang menganggap remeh pasir-pasir itu, tapi siapa yang sanggup menghitung berapa banyak pasir yang ada di pantai?” Seperti itu juga perasaan saya.
            Kita terlalu sering seperti ini. Melempar pertanyaan bukan untuk menemukan jawaban. Kamu mungkin tak ingat, pada mula berkenalan, kamu duluan yang memberiku pertanyaan saat melihat Tanjung Menangis, memutar kembali kisahnya, dan kala itu saya mengingat Tuan Alien, dan berharap semoga saja dia sedang berkelana ke ujung dunia, kalau bukan musim kolong, Tanjung Menangis tak mungkin ujung dunia. Di ujung dunia, ombak-ombak akan setinggi gunung, ombak-ombak yang lapar, ombak-ombak yang kalut karena tersingkir dari kehidupan.
            “Mas ingin membangun rumah yang sederhana dengan banyak jendela. Bertingkat dua dan menghadap ke laut. Kamu?”
            “Berapa kamar?” tambahmu sambil menopang dagu.
            “Dua.”
            “Mas tahu cara mengisi kekosongan hati?” tanyamu lirih.
            “Bahkan Mas tidak tahu bagaimana caranya menciptakan kekosongan di antara segala yang berisi...”
            Dan waktu begitu cepa berlalu. Itu sudah jam malammu. Kamu harus pulang. Kamu harus mengantar kucing. Kamu harus mengetuk langit dan mengucapkan doa-doa. “Kenapa?” Dan kamu bilang, ayahmu baru saja meninggal dua bulan yang lalu. Saya melihat air mata seperti danau di kedua matamu. Begitu rupanya, saya belum tahu banyak tentang kamu seperti kamu belum tahu banyak tentang saya.
Hantu-hantu yang bernaung di langit malam mungkinlah mendengar suara hati. Tak ada bintang jatuh. Tak ada harapan yang diucapkan. Tak ada setan-setan yang berusaha mencuri rahasia langit lalu diusir dengan panah bintang itu. Tak ada citraan galaksi bima sakti yang seperti taburan gula putih di atas roti. Tak ada apa-apa kecuali dua rembulan yang kini tampak berbeda. Salah satunya tampak lebih besar. Pada itu, saya baru mengerti, di bulan purnama nanti, dan hanya di bulan purnama nanti, rembulan di langit akan kembali menjadi satu.

Haruki Murakami: Hari yang Sempurna untuk Kangguru

Cerpen Haruki Murakami (Koran Tempo, 9 Juni 2013)

ADA empat ekor kangguru di kandang—satu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir.

Aku dan pacarku berdiri di depan kandang kangguru. Kebun binatang ini tidak terlalu populer di pagi hari Senin seperti ini, jumlah binatangnya melebihi jumlah pengunjung. Tidak ada yang menarik di kebun binatang ini.

Hal yang menarik kami mendatangi kebun binatang ini adalah seekor bayi kangguru. Maksudku, apa lagi coba yang bisa dilihat di kebun binatang ini?

Sebulan sebelumnya, di sebuah rubrik di sebuah koran lokal, kami tak sengaja membaca sebuah pemberitahuan tentang lahirnya seekor bayi kangguru, dan sejak saat itulah kami sudah menunggu-nunggu sebuah pagi yang sempurna untuk mengunjungi bayi kangguru tersebut. Namun bagaimana pun juga, hari yang tepat tidak juga datang. Suatu pagi, turun hujan deras, dan kami cukup yakin hujan bakal turun lagi di hari-hari berikutnya, dan angin pun berembus-embus kencang untuk dua hari berturut-turut. Suatu pagi, pacarku mengeluh sakit gigi, dan di pagi yang lain aku punya urusan yang harus aku selesaikan di pusat kota. Aku tidak hendak membuat pernyataan yang dibesar-besarkan di sini, namun aku berani untuk mengatakan bahwa:

Inilah kehidupan.

Jadi bagaimana pun juga satu bulan itu waktu yang singkat.

Selama sebulan sesuatu bisa berlalu apa adanya. Aku tidak pernah benar-benar mengingat sesuatu yang sudah kulakukan selama sebulan. Sewaktu-waktu, seolah-olah aku sudah melakukan banyak hal, namun sewaktu-waktu yang lain aku merasa tidak menyelesaikan satu hal pun. Satu hal yang membuatku sadar kalau satu bulan telah berlalu adalah ketika lelaki yang mengantarkan koran harian datang ke rumah untuk menagih uang langganan.

Ya, itulah hidup.


09 May 2014

Catatan Hati: Fiksi

Segala hal yang tak dapat kulakukan di kenyataan, dapat kurengkuh di dalam fiksi, termasuk memilikimu.

Aku tidak tahu apakah fiksi adalah sebuah tempat pelarian terbaik bagi perasaan. Segala hal yang tidak dapat dikatakan, tidak patut dan pantas diucapkan, bisa dituangkan di dalam fiksi.

Kadang-kadang aku bingung sendiri, hidupku yang nyata itu adalah seseorang yang mengetik ini atau seseorang yang sedang kuketikkan. Aku pun jadi takut sendiri bila suatu saat tiba-tiba aku terjebak di dalam fiksiku, atau itu sudah pernah terjadi.

Ya, itu pernah terjadi, dan menjadi masalah besar. Ketika aku melampaui batas antara imajinasi dan kenyataan itu, penyesalanlah yang kudapatkan.

Maka sebaiknya aku tetap berada di balik pena, memandangi layar putih yang meminta ditulisi.
Maka sebaiknya aku tetap berhati-hati, bahkan pada fiksiku sendiri.

(Kamar Gelapa, 2014)

07 May 2014

Alienasi




“Bagaimana rasanya punya pacar alien?”

Pertanyaan itu disusul dengan sejumlah pertanyaan lain yang berdengung seperti lebah. Kilatan lampu dari kamera DSLR milik para pemburu berita menimpa wajah Teruna tanpa belas kasihan. Ia ingin menjawab seperti artis D yang baru saja terpilih menjadi anggota legislatif, tetapi apa gunanya sebuah konferensi pers bila ia tidak memberikan satu pun jawaban memuaskan.
Keadaan seperti ini bukanlah hal baru bagi Teruna. Hanya saja, biasanya Teruna berada di posisi penanya. Pekerjaannya sebagai wartawan sebuah majalah baru-baru ini juga membuatnya bertemu Kim Hyun Soo. Alih-alih bertanya yang serius, terpesona pada kulitnya yang secerah buah pir, Teruna malah bertanya, “Apakah kamu benar-benar seorang alien?”
Teruna tidak tertarik membicarakan penjiplakan drama itu. Wartawan lain meributkannya. Tidak mungkin Kim Hyun Soo dibandingkan dengan Morgen. Kejantanannya berbeda. Teruna hanya berharap, SBS akan menuntut televisi yang menyiarkan sinetron tersebut untuk tidak disiarkan lagi.

~

            Begitu mendengar Teruna akan mengadakan konferensi pers, saya begitu gelisah. Saya ingin mengasingkan diri sejauh-jauhnya. Beruntung, pada saat yang sama, anak-anak Adventurous Sumbawa memberikan undangan perjalanan ke Moyo.
            Saya sendiri kaget ketika suatu hari menyalakan tivi, melihat berita dan dikatakan bahwa seorang gadis berusia sekitar 27 tahun tertangkap kamera sedang digendong seorang lelaki lalu menghilang tiba-tiba. Beberapa detik kemudian, kamera CCTV yang lain menangkap sosok yang sama dengan jarak yang begitu jauh berbeda. Tidak usah banyak penyelidikan, saya langsung mengenali sosok perempuan itu adalah Teruna. Dan laki-laki yang mukanya bercahaya adalah si alien. Alien itu pernah jadi sahabat saya.
            Hati saya berakhir saat itu juga. Tidak mungkin saya bersaing dengan seorang alien. Tidak ada yang spesial di diri saya. Sama tidak spesialnya dengan martabak di penjuru Indonesia meski menggunakan merk “martabak spesial” di promosinya.
            “Apa kamu akan kuat berpacaran dengan alien seperti dia?”
            “Cinta selalu memberi kita kekuatan.”
            Dialog terakhir kami. Cinta tidak selalu memberi kita kekuatan. Mencintaimu membuat saya semakin rapuh.
            Pagi seharusnya indah ketika kamu tidak tahu diam-diam saya begitu merindukanmu. Tapi pagi ini rindu tampak seperti ketiadaan ombak di bibir pantai. Laut ketenangan. Sampah-sampah plastik mengambang. Saya lebih menyukai laut yang berombak, lebih normal. Segala hal yang tampak tenang lebih menakutkan. Dia bisa berubah jadi monster ganas. Misalnya beberapa saat sebelum tsunami, laut akan terseret jauh dari bibir pantai dan jauh lebih tenang dari biasanya.

Kami berkumpul di Pantai Baru, Desa Labuhan. Dua kapal sudah disiapkan. Teruna pasti sedang mempersiapkan apa-apa saja yang ia harus katakan. Saya tidak menyiapkan apa-apa kecuali baju ganti dan gitar.
Randal Patisamba langsung mengambil tempat di hidung perahu. Itu sebenarnya tempat favorit saya juga, tapi untunglah hari ini saya tak begitu berminat memegang pancing dan menyaksikan perahu membelah lautan. Saya ambil tempat di sisi kanan perahu. Di sebelah saya semuanya perempuan. Belum mulai berjalan, mereka sudah saling papo. “Pringi, senyum dong!” Saya pun ikut terkena papo.
Apa perasaan Teruna di hadapan kamera. Dia pernah meminta saya untuk memfotonya. Dalam pose apa pun. Sebagai lelaki, mendengar itu, tidak mungkin pikiran tidak menjadi kotor. Dan belum ada penjual sapu otak di toko mana saja. Teruna pastilah tidak akan merasa nyaman saat ini. Apalagi si Alien itu sudah menghilang. Dasar lelaki tak bertanggung jawab. Padahal sudah saya pesankan untuk tidak meninggalkan Teruna apa pun yang akan terjadi.
Kapal nelayan yang kami naiki mulai berjalan. Saya mulai mengencangkan jaket, menebar pandangan, dan melihat salah satu perempuan yang duduk di sebelah kanan memikat. Kamu. Gigimu gingsul seperti Agnes Monica. Bedanya, bila Agnezmo terskandal nipple slip di video klip Coke Bottle, kamu tampak manis dengan kerudung. Saya tidak mempermasalahkan seorang perempuan setertutup apa dengan pakaiannya, asal ia cukup terbuka di pikirannya, ketimbang sebaliknya. Saya curi-curi pandang ke arahmu. Kamu sepertinya rela-rela saja pencuri datang menyambangimu.
Halo, kenalkan, saya pencuri.
Apa hati kamu masih ada di tempatnya?
Lalu kamu menatapku, tersenyum.
Saya hanya bisa mengenang senyummu selama dua jam perjalanan itu. Lebih lambat setengah jam dari waktu yang direncanakan sebab mesin kapal satunya satu tidak menyala sehingga lajunya tidak sekencang seharusnya. Penumpang lainnya banyak yang tertidur sambil menikmati matahari pagi yang hangat. Pulau Moyo sudah terlihat dari kejauhan. Saya tidak bisa tidur di atas laut. Kamu juga tidak tidur di atas laut. Tertunduk, termenung, apa kamu sedang memikirkan negara?
Saya beranikan diri untuk mengajak kamu mengobrol, “Hai...” Kaku sekali sapaan ini. “Sudah berapa kali ke Moyo?”
“Ini yang pertama, Mas...”
“Jadi, ini petualangan pertamamu?”
“Sebelumnya pernah ke Ai Loang...”
“Kamu tahu, paling dekat ke Moyo, lewat Ai Loang. Naik dari Sea Side.”
“Iya, tapi kan hampir satu jam perjalanan daratnya.”
“Memang, barangkali kamu takut terlalu lama di laut.”
“Nggak Mas, Sari suka laut.”
“Sari?”
“Iya. Mas siapa namanya?”
Nah, beginilah cara mengetahui nama tanpa bertanya nama. Setelah ini saya akan tahu akun facebookmu, nomor ponselmu, PIN BBM kamu, segalanya. Tuan Alien yang terhormat, yang dapat mendengar suara sedetil apa pun dari jarak ratusan kilometer, cobalah dengar suara hati saya ini. Kamu boleh merebut Teruna dari pandangan saya, tapi saya sekarang akan punya Sari. Saya akan move on dari Teruna.

~

            Begitu Labu Aji terlihat, semua orang bersemangat. Sudah pukul sembilan, Teruna akan diwawancara pukul satu siang nanti. Kemarin Teruna berulang tahun, tapi sengaja saya tak memberi ucapan selamat. Toh, pasti ponselnya akan dinonaktifkan. Semua orang akan berburu kebenaran, bertanya tentang tuan alien itu. Malam tadi, Teruna pasti mengurung diri di kamar. Hotel bintang lima yang privasinya terjaga. Saya suka bingung juga dengan definisi privasi itu. Bila menjelang bulan puasa, hotel-hotel melati dan wisma digerebek oleh ormas-ormas, hotel bintang lima tidak pernah tersentuh. Padahal saya yakin, para pelacur kelas atas yang dipakai borjuis dan birokrat kelas atas pula banyak sedang bercinta di ruangan ber-AC dan berkasur empuk itu.
            Komandan Sirajuddin memberi Komando untuk berhati-hati menginjak dermaga. Randal Patisamba dengan sigap melompat tanpa rasa takut. Dasar laut terlihat. Pasir putih, penuh terumbu. Padahal hanya beberapa meter dari bibir pantai. Tapi spot snorkling paling menarik ada di Takat Segale. Saya takut snorkling. Saya takut pada keberadaan ular laut dan bulu babi. Saya takut pada arus bawah laut meski hanya di laut dengan kedalaman paling dalam 5 meter. Beberapa bulan lalu, lima turis Jepang berpredikat master dive saja hilang di Nusa Dua. Hebatnya semua bisa selamat dan terdampat di pulau-pulau kecil puluhan kilometer dari tempat mereka menyelam.
            Seusai saya menapakkan kaki di dermaga, kamu selanjutnya. Dari gesturmu, kamu meminta pegangan. Saya berikan tangan kanan, kamu menggenggamnya. Jadi begini rasanya telapak tanganmu. Ada pikiran melintas, sebaiknya kamu terjatuh saja. Lalu saya akan menangkapmu, atau menghentikan waktu sejenak seperti yang biasa Tuan Alien lakukan. Tapi momen-momen seperti itu sangat picisan.
            Kita beristirahat di rumah warga yang sudah dikosongkan. Meletakkan tas, menaruh barang-barang yang bisa ditinggalkan, buang air kecil dan menikmati terik matahari pinggir laut yang digandrungi bule-bule berpigmen buruk.
            Satu tower terlihat menjulang dan sendiri. Saya sedikit penasaran di mana resor milik Amanwana. Tarifnya 1000 dolar. Lady Diana dan Doddi Al Fayed pernah menginap di sana. Sharapova juga. Untunglah Gayus Tambunan tidak. Ia sudah puas duduk di tribun Wimbledon sebelum tertangkap meski penjara adalah sebuah sandiwara lain. Tahanan yang punya uang bisa dapat kamar mewah dan keluar penjara diam-diam saat malam hari. Asal tidak ketahuan Denny Indrayana saja.
            “Kamu tahu kenapa kenapa Tuhan menurunkan Adam ke bumi?” Tuan Alien itu bertanya suatu hari. “Kalau tidak begitu, tidak akan ada kisah cinta-mencintai...” Tuan Alien itu menjawab sendiri pertanyaannya.
            Teruna pasti sedang patah hati akut. Tuan Alien begitu pandai merayu. Kata-katanya penuh filosofi. Tak ada perempuan yang tak luluh.
            Saya tak ingin memikirkan Teruna lagi. Biarlah, ada kamu sekarang. Ini bukanlah sebuah pelarian. Ini harapan.
            Lalu kita berjalan kurang lebih satu jam ke Mata Jitu. Air terjun yang selama ini hanya saya lihat di foto, yang cerita keindahannya begitu mendunia itu akan segera tampak di depan mata saya. Perjalanan mendaki. Saya sengaja samakan irama langkah kaki saya dengan langkah kaki kamu. Sampai-sampai jika ini sebuah lomba gerak jalan, kita akan menang dengan pasti.
            “Kamu kuat mendaki?”
            “Insyaa Allah, Mas...”
            “Yakin?”
            “Kalau pun tidak, kan ada Mas Pringi yang akan membopong Sari...”
            Wah, alamat. Terik matahari yang masih gigih menembus celah dedaunan tidak begitu mendera kulitku. Memandangimu saja sudah sejuk rasanya. Seharian kemarin, padahal badan saya tak enak, tidur saya pun tak nyenyak. Memikirkan Teruna, memikirkan dia sedang menangis, dada saya sesak. Untunglah kemarau setahun, dihapus hujan sehari. Luka sepanjang umur pun bisa terobati dengan cinta pandangan pertama. Kamu.
            Jantung yang berdetak lebih cepat, keringat yang menetes seperti berada di kran bocor, dan tenggorakan yang semakin haus adalah kelelahan. Kamu tidak sekali pun mengeluh. Malu dong kalau saya mengeluh dan meminta beristirahat. Untunglah, hampir sampai di batas stamina, suara air terjun itu terdengar. Selamat datang di Hutan Buru Pulau Moyo. Kita pun berfoto di sana. Saya sudah berhasrat ingin mencemplung ke air terjun itu sebelum Komandan Sirajuddin berkata untuk melanjutkan perjalanan ke Kolam I. Tidak jauh. Hanya 200 meter. Dua ratus meternya orang Sumbawa bisa lebih dari satu kilometer.
            Dan Komandan Sirajuddin benar adanya, hanya sekitar 200 meter dan surga yang ditinggalkan Tuhan di dunia itu salah satunya ada di Pulau Moyo. Diberkahilah orang-orang yang mengungsi dari Sumbawa dan menemukan Pulau Moyo di zaman Soekarno demi menghindari pajak. Kolam berair hijau berkilauan seperti zamrud, beralaskan batu kapur terbentang luas. Teksturnya seperti terasering. Diornameni daun-daun menguning yang jatuh tertiup angin. Saya melihat senyummu merekah. Surga di depan mata, dan bidadari ada di samping saya. Meski katanya, terjemahan yang tepat untuk wanita surga bukanlah bidadari (angel), melainkan perawan (virgin).
            Randal Patisamba memang orang yang paling berinisiatif. Dia membuka baju dan langsung melompat ke kolam itu. Saya tidak membuka baju, malu pada lipatan lemak di perut. Saya langsung menggamit tangan kamu. “Ayo!” Dan kita kembali menjadi anak kecil yang lugu dan tak malu-malu di hadapan air.
            Buuur!
Tubuh kita adalah batu yang dilempar. Tubuh kita adalah kanak-kanak abadi yang tak akan takluk pada permainan zaman kini—mata yang selalu berada di depan layar, dan jempol yang tak habis berolahraga melebih waktu-waktu lari pagi. Surga seharusnya cukup seperti ini. Keindahan alam yang tidak ada duanya, dan seorang kekasih yang setia mencintai, tak menua dan abadi, meski saya sendiri tak yakin, jika emosi masih ada setelah kehidupan ini, apakah cara hidup yang selalu bahagia itu adalah kebahagiaan, atau memicu kebosanan? Kebahagiaan seperti ini ada karena upaya dan ketahanan dari perjalanan, karena tenaga dan air mata yang terkuras untuk menghadapi setiap tantangan.
“Pringi... Pringi...”
Ada suara laki-laki memanggil nama saya. Saya menoleh ke kamu yang berenang di samping saya. “Sari, kamu dengar suara itu?”
Kamu menggeleng.
“Pringi... Pringi... dia tak akan mendengar aku. Aku hanya berbicara padamu. Jadi, tanpa aku, apa kamu sudah cukup bersenang-senang?”
Ini suara yang begitu kukenali. Saya melihat ke atas pohon. Di setiap cabang. Di setiap dahan. Dan... dia, Tuan alien, ada di salah satu pohon yang tinggi, hanya memakai celana pendek, tubuhnya berkilau lebih baik dari wajahnya sebelum kembali berkata, “Apa kamu lupa aku menyukai tempat-tempat yang indah nan sepi untuk mengasingkan diri?”

~

            “Bagaimana rasanya bersahabat dengan alien?”
            Pertanyaan ini tidak menarik. Teruna mengirimkan pesan singkat yang saya baca malam sebelum kepulangan dari Moyo. Tower menjulang itu ternyata tower milik sebuah provider seluler. Ada sinyal yang cukup baik di Pulau Moyo, bahkan mendapat EDGE.
“Kamu bahkan lupa ulang tahunku, ya?”
“Kamu juga lupa katanya ingin membuatkan puisi terindah buatku di hari ulang tahunku?”
“Kamu juga lupa, kamu pernah bilang, sebagai apa pun kita, kamu akan tetap menemaniku bicara?”
Saya tak ada bisa menjawab satu pun pertanyaannya. Tuan Alien itu sekarang sedang naik perahu bersama saya. Identitasnya tentu tidak diketahui orang-orang. Dia mencuri pandang ke arah kamu, saya tahu itu. Kekhawatiranku kemudian terbukti ketika dia berbisik, “Perempuan yang bersamamu tadi itu cantik, Pringi... Dia mirip cinta pertamaku.”

(2014)

Pantai Mutun