30 September 2009

Sonnet Yang Bersembunyi di Balik Punggungmu

---Kepada Kau

Empat belas baris lagi yang kucari mungkin sedang bersembunyi
Di balik punggungmu yang selalu saja membelakangiku.
Aku bertanya-tanya, kepada seorang pengendara ojeg yang kerap
Menjadi langgananmu setiap sore ke murid-murid les privatmu.

Tapi beliau itu malah bercerita tentang rumahnya yang baru saja kena gusur
Oleh pemerintah dengan alasan untuk lahan hijau, padahal kabarnya untuk
Sorum internasional yang uang ganti ruginya bahkan tak cukup buat bayar
Tunggakan kredit motornya yang belum lunas itu.

Aku beralih kepada ibu-ibu penjual jamu kunyit asem yang kau beli
Setiap pagi, agar makin mulus kulit wajahmu seperti mulusnya
Proyek-proyek para pemilik modal setelah memberi gratifikasi kepada
Pada anggota dewan yang terhormat itu.

Ah, belum juga kutemu jawabnya. Bagaimana kalau nanti malam aku datang saja
Ke dalam mimpimu, berpura-pura jadi murid les privatmu?

(2009)

28 September 2009

Cerpen Gregorio Lopez y' Fuentes: Surat Untuk Tuhan


Diindonesiakan oleh Saut Situmorang
dari READER’S DIGEST GREAT SHORT STORIES OF THE WORLD



Rumah itu – satu-satunya di lembah itu – terletak di puncak sebuah bukit yang rendah. Dari situ nampak sungai dan, setelah tempat kandang binatang, nampak ladang jagung yang sudah matang diselang-selingi bunga-bunga kacang yang menjanjikan musim panen yang baik.

Hanya satu saja yang dibutuhkan ladang itu saat itu: turunnya hujan, atau paling tidak gerimis. Sepanjang pagi Lencho, yang akrab dengan setiap lekuk ladangnya itu, tak henti mengamati langit bagian timur laut.

“Hujan pasti akan segera turun sebentar lagi.”

Istrinya yang sedang menyiapkan makan malam menjawab:

“Ya, mudah-mudahan.”

Anak-anak laki-lakinya sedang kerja di ladang sementara yang masih kecil-kecil bermain-main di dekat rumah waktu perempuan itu memanggil mereka:

“Makan malam sudah siap...”

Waktu mereka sedang makan malam hujan lebat pun turun, tepat seperti yang diramalkan Lencho. Di langit sebelah timur laut nampak awan-awan sebesar gunung berarakan mendekat. Udara sejuk dan segar.

Lencho beranjak ke luar rumah menuju kandang binatang hanya untuk merasakan nikmat air hujan di tubuhnya, dan waktu kembali ke dalam rumah dia berseru:

“Bukan air hujan yang sedang turun dari langit ini tapi uang! Gumpalan-gumpalan air yang besar adalah uang limapuluh ribuan, dan yang kecil-kecil sepuluh ribuan...”

Dengan wajah puas dipandanginya ladang jagungnya yang penuh bunga kacang diselimuti tirai hujan.

Tapi tiba-tiba angin kencang berhembus dan bersama hujan mulai turun pula batu-batu es yang besar-besar. Batu-batu es itu kelihatan seperti uang perak benaran. Anak-anak laki-lakinya menghambur ke luar rumah dan mengutipi mutiara-mutiara beku itu.

“Hujan ini sudah mulai merusak sekarang!” teriak Lencho, cemas. “Semoga segera berhenti.”

Hujan tidak segera berhenti. Selama satu jam hujan batu es itu turun menghajar rumah, kebun, bukit, ladang jagung, seluruh daerah lembah. Ladang jadi putih seperti ditutupi garam. Tak satu pun daun tertinggal di ranting pohonan. Jagung semuanya rusak. Bunga-bunga tanaman kacang musnah. Lencho betul-betul sedih. Setelah badai itu berlalu, dia berdiri di tengah-tengah ladangnya dan berkata pada anak-anaknya:

“Wabah belalang pun masih menyisakan lebih daripada ini... Hujan es telah merusak semuanya. Tahun ini kita bakal tak punya jagung atau kacang...”

Malam itu adalah malam yang sangat menyedihkan.

“Semua kerja kita sia-sia.”

“Tak ada yang bisa menolong kita.”

“Kita akan kelaparan tahun ini...”

Tapi dalam hati mereka yang tinggal di rumah terpencil di tengah lembah itu ada satu harapan yang tinggal: pertolongan dari tuhan.

“Jangan terlalu bersedih walau semuanya ini seperti sebuah kehilangan total. Ingat, tak ada yang mati kelaparan!”

“Begitulah kata mereka: tak ada yang mati kelaparan.”

Sepanjang malam Lencho hanya berpikir tentang satu-satunya harapannya itu: pertolongan tuhan, yang menurut apa yang diajarkan padanya melihat segalanya termasuk apa yang ada dalam hati nurani manusia.

Lencho adalah seorang pekerja keras, dan dia juga tidak buta huruf. Hari Jumat berikutnya setelah matahari terbit dan setelah berhasil meyakinkan dirinya akan keberadaan suatu zat yang akan memberikan pertolongan, Lencho pun mulai menulis sepucuk surat yang akan dibawanya sendiri ke kota untuk diposkan.

Surat itu tidak tanggung-tanggung ditujukannya kepada TUHAN.

“Tuhan,” tulis Lencho, “kalau Kau tidak menolong aku, keluargaku dan aku akan kelaparan tahun ini. Aku perlu satu juta rupiah untuk menanami ladangku kembali dan untuk biaya hidup sampai panen tiba, karena badai hujan es....”

Dia menulis “KEPADA TUHAN” di amplop, memasukkan surat itu ke dalamnya dan, masih merasa sedih, berangkat ke kota. Di kantor pos ditempelkannya perangko dan dimasukkannya surat itu ke kotak surat.

Salah seorang pegawai kantor pos menemui atasannya sambil ketawa geli dan menunjukkan surat untuk tuhan itu. Belum pernah dalam sejarah karirnya sebagai tukang pos dia mengalami hal seaneh ini. Kepala kantor pos yang gemuk dan ramah itu juga terpingkal-pingkal dibuatnya tapi tiba-tiba dia jadi serius dan sambil meletakkan surat itu di atas meja, dia berkata:

“Betapa kuat imannya! Seandainya saja aku punya iman seperti orang yang menulis surat ini. Seandainya saja aku punya keyakinan sebesar keyakinannya ini. MENULIS SURAT KEPADA TUHAN!!!”

Untuk tidak mengecewakan iman luar biasa yang ditunjukkan sepucuk surat yang tak mungkin dikirimkan itu, kepala kantor pos itu mendapat satu ide: balas surat itu. Tapi waktu amplop surat dibukanya, ternyata untuk membalasnya, maksud baik, tinta dan kertas belaka tidaklah cukup. Tapi dia tetap pada pendiriannya. Dia lalu minta sumbangan uang dari para pegawainya dan dia sendiri menyumbangkan setengah dari gajinya, sementara beberapa kawannya dengan sukarela juga menambah “sumbangan kemanusiaan” itu.

Tapi tak mungkin untuk mengumpulkan uang sebanyak satu juta rupiah, maka dia mengirimkan hanya sedikit lebih daripada setengah yang dibutuhkan petani itu. Dimasukkannya uang itu ke dalam amplop yang dialamatkan kepada Lencho dengan disertai secarik kertas yang hanya bertuliskan satu kata sebagai tanda tangan si pengirimnya: TUHAN.

Hari Jumat berikutnya Lencho datang lebih cepat dari biasanya ke kantor pos dan bertanya kalau ada surat untuknya. Tukang pos itu sendiri yang menyerahkan surat itu padanya sementara kepala kantor pos yang merasa bahagia telah melakukan sebuah perbuatan mulia mengintip dari pintu kantornya.

Lencho sama sekali tidak menunjukkan rasa heran waktu melihat uang dalam amplop itu – begitulah besarnya imannya – tapi dia malah jadi marah setelah menghitung jumlah uang tersebut... Tuhan pasti tidak membuat kesalahan, atau menolak apa yang dimintanya!

Cepat-cepat Lencho mendatangi loket dan minta kertas dan tinta. Di meja yang khusus disediakan untuk umum di kantor pos itu dia pun segera mulai menulis, sambil mengerutkan keningnya karena berusaha keras untuk mengutarakan isi pikirannya. Setelah selesai, dia pergi membeli perangko di loket yang lalu dijilat dan dilekatkannya ke amplop dengan pukulan tinjunya.

Begitu surat itu masuk ke dalam kotak surat, kepala kantor pos segera mengambil dan membukanya. Beginilah isinya:

“Tuhan, dari jumlah uang yang aku minta itu, hanya tujuhratus ribu saja yang sampai ke tanganku. Kirimkanlah sisanya karena aku betul-betul membutuhkannya. Tapi jangan kirim uang itu lewat pos karena para pegawai kantor pos bajingan semuanya. Lencho.”

Sonnet Lain Dari Gugur Daun Di Kedua Telapak Tanganku

Apa yang hendak kau genang di kedua belah telapak tangan
Selain semacam airmata kenangan dari cinta yang tak biasa?
Cicak, buaya, kau memilih berada di pihak mana? Aku memilih
Jadi kunang-kunang saja yang pura-puranya lampu
Memberi harapan pada kerlap-kerlip aku.
Tapi kau memilih jadi kupu-kupu, pilihan lain yang bersembunyi
Di balik gugur daun bulan Juni, sehingga aku benar-benar harus
Mencari mana kau mana daun ketapang di ranting itu yang dulu
Pernah kita tandatangani, seolah-olah baru saja proklamasi kebebasan
mencintai antara kau yang kupu-kupu dan aku yang kunang-kunang.
Jadi, apa yang kau tangkupkan di kedua belah telapak tangan kau itu
Seolah segalanya harus tampak malu-malu dan rahasia
Padahal, tidakkah kau tahu, seluruh dunia tengah memperhatikan kau,
aku, dan tingkah kita yang makin jauh dari kunang-kunang dan kupu-kupu.

23 September 2009

Semacam Sonnet Tentang Bunga Yang Tak Ingin Kubiarkan Berkembang

: kau

aku takut membiarkanmu berkembang. dari sekumpulan putik
menjadi puisi dengan larik-larik yang menuntut jawaban-jawaban
dari sekian pertanyaan yang tak ingin kucatat di berlembar surat
entah itu cuma kata 'mungkin' yang kerap melahirkan derap kaki

kuda yang terpacu oleh pengendara, tanpa pelana. tapi sepertinya
aku telah patah, sebelum engkau menjadi bunga. sebelum menjadi
teratai yang tertawa-tawa pada cassanova, tatkala ia bertanya
pada dewi air, "wahai siapa yang paling indah di muka bumi ini?"

tapi aku tak bertanya demikian. aku tak bertanya tentang mengapa
aku (mungkin) bisa jatuh cinta. aku diam. dengan seribu bahasa
yang kudekam di dalam riam-riam hatiku yang karam.

tetapi kau mungkin saja tersenyum. jika tak tahu betapa ada hati
yang patah sebelum kau berkembang menjadi bunga. menjadi
jejak bulan baru yang mati sebelum purnama.

Tentang Jam di Tangan dan di Dinding Kamar-Kamar Aku itu

: dd

sebenarnya aku ingin menawari kau jam baru. jam dengan tahta seribu teratai yang mengambang di antara mimpi-mimpi kau dan aku. jam dengan sejuta taman bermain dari masa kanak-kanak yang tidak ingin kau (dan aku) lupakan. jam yang akan terus setia melingkari keduabelas angka itu. angka-angka yang kerap kau perhati ketika aku telah mengingkari pertemuan yang telah aku (dan kau) janjikan.

tapi kesekian kali pertemuan, tak kau saksikan jam di tangan. tak kau saksikan pula di dinding kamar-kamar aku itu.

kata kau, apa aku tak punya jam?
apa aku mau kau belikan jam?

sudah aku buang semua jam aku. jam yang tidak aku percayai. jam yang membuat aku ingat ada enam jam kau yang sudah kau berikan ke lelaki yang bukan aku. jam yang semakin lama semakin cepat seperti mau berkhianat kepada aku. jam yang setiap hari menuntut aku untuk mengingat kau.

sementara aku tidak tahu, sudah berapa jam kau mengingat aku?

(2009)

21 September 2009

Seolah Sajak Berjudul Panjang

KETIKA KUPIKIR KAU AKAN MUNCUL DALAM MIMPI AKU, KAU BENAR-BENAR MUNCUL DALAM MIMPI AKU DENGAN BAJU PENGANTIN YANG LELAKI KAU BUKAN AKU. YANG HATI KAU BUKAN AKU. SAMBIL BERDADAH-DADAH KEPADA AKU SEBELUM KAU MELEMPAR KARANGAN BUNGA KAU ITU YANG JATUH TEPAT DI PELUKAN AKU

: desi diarnitha

tapi tak ada mawar di karangan bunga itu. sebab mawar aku adalah kau yang membuat aku terluka dengan hanya memandang kau. memunggungi kau yang semakin lama semakin menjauh.

kata kau dulu, di hari kematian sebuah lagu kanak-kanak berjudul satu-satu yang liriknya sudah kau ganti itu, kau akan mencintai lelaki yang mencintai pasir. mencintai desir dari setiap airmata kau. tapi kemudian kau bilang sudah mencintai lelaki yang bukan aku. lelaki yang memiliki enam jam dalam satu hari kau.

tapi aku tak punya jam. di tangan dan di dinding kamar-kamar aku. aku cuma punya hati. cuma punya puisi. dan setangkai mawar yang persis kau.

Enigma

Engkau selalu seolah paham: aku adalah makhluk paling kelam. Kulitku yang hitam legam setidaknya telah menjadi salah satu parametermu dalam menilaiku. Matamu bahkan akan selalu terpicing saat aku dengan pakaianku yang sudah compang-camping ini melewati rumahmu. Padahal aku tak pernah menganggumu. Tak pernah mengusikmu. Tapi selalu saja engkau mengusirku pergi, melemparku dengan kerikil-kerikil dari halaman rumahmu. Sebab katamu, aku adalah makhluk paling kelam. Hanya akan merusak pandangan matamu.

Tapi, tetap saja aku melewati rumahmu setiap hari. Sebab rumahmu adalah salah satu jalan hidupku. Sebab di depan rumahmu ini, aku menemukan banyak hal yang berguna untuk mengisi perutku dan adik-adikku. Sesuatu yang engkau sebut sampah tak berguna, telah menjadi sumber kehidupanku.

Seperti hari ini, aku kembali melewati rumahmu. Kuperhatikan dulu sejenak, barangkali engkau sedang duduk di teras menungguku. Menunggu untuk melempariku lagi dengan kerikil-kerikil itu. Tapi tampaknya engkau sedang tidak ada. Maka aku dengan santai memunguti setiap sampah yang masih kuanggap berguna. Tapi belum beberapa lama, aku sudah mendengar teriakanmu yang sudah tidak asing lagi di telinga. Engkau baru saja pulang sekolah. Seragam putih abu-abu itu buktinya. Sementara aku tidak lagi melanjutkan sekolah. Terhenti di sekolah dasar tahun kedua.

“Itu Si Kelam,” katamu sambil menunjukku. Di belakangmu, tidak kurang dari tiga orang memakai pakaian serupa seragammu.

“Loe barusan ngambil apa di sini?” Bentakmu padaku. Dan aku diam saja. Bukan tak ingin. Tapi tak bisa.

“Loe maling ya?”

Aku menggeleng.

“Udah, ngaku aja!”

Aku masih terus menggeleng, dengan suara sengau tanpa satu pun kata yang terucap dari bibirku. Sementara engkau dan teman-teman sejenismu mulai menarik paksa karung yang masih kupegang erat dengan tangan kiriku. Menggeledah isinya satu per satu.
Aku berontak. Lantas engkau meninjuku tepat di ulu hati. Membuatku meringkuk, sulit bernafas. Engkau bukannya puas malah menginjak tubuhku sambil meludahiku. Aku marah. Aku gerah. Dengan segenap tenaga yang kupunya, aku balik menyerangmu. Mengarahkan benda yang ada di tangan kananku ke arah tubuhmu. Besi (ternyata besi) untukku memulung itu berujung runcing. Menembus perutmu. Darah. Warnanya merah.
Engkau teriak kesakitan memegangi lukamu. Teman-teman sejenismu mulai mengerubunimu, salah satunya berteriak ke dalam rumah, meminta pertolongan. Tak sampai satu menit kukira, sudah belasan orang mengerubuni kita. Salah satunya mendekatiku. Lalu membekukku. Dan engkau, kuperhatikan, digotong ke dalam kendaraan. Lalu hilang.

***

Di ruangan ini, aku tak lebih seorang perindu yang cemas. Pertanyaan orang-orang berseragam tadi tak kujawab. Bukan tak ingin. Tapi tak bisa. Alhasil, mereka yang kebingungan malah memasukkanku ke ruangan ini: sebuah ruang dengan jeruji-jeruji tua, dan gelap.

Aku cemas. Bukan mencemaskan diriku. Tapi mencemaskan kedua adikku yang pasti sedang menungguku hari ini. Aku mulai menangis. Membayangkan bagaimana kedua adikku itu bisa makan hari ini. Sebab kami sudah tak memiliki orangtua. Aku yang menjadi tulang punggung bagi mereka. Tapi, dulu kami punya ibu. Saat usiaku dua belas tahun, ibu menghilang. Tak kembali. Tanpa pernah kutahu apa sebabnya. Saat itulah aku tiba-tiba kehilangan suaraku. Tak lagi bisa bicara.

Sebilah tangan menepuk pundakku, “Dik, kamu lapar?”

Aku baru menyadari keberadaannya. Seorang laki-laki dengan janggut yang lebat ternyata juga berada di ruangan ini. Kutaksir usianya sekitar empat puluhan akhir. Kutebak dari rambutnya yang sudah banyak beruban.

Aku diam. Tak menjawab. Dan laki-laki itu tersenyum sambil menyodorkan sebungkus roti kepadaku.

“Makanlah,” katanya lagi.

Aku pun makan pelan-pelan, sambil memperhatikan sekelilingku. Ruangan ini gelap, Remang-remang. Tapi ada yang berbeda. Tidak seperti citra penjara yang umumnya sering kudengar. Tak ada bau pesing. Tak ada sampah atau kotoran yang berserakan. Semua tertata rapi. Bahkan di ujung sebelah kanan, ada sebuah sajadah. Dan laki-laki itu, sedang memegang sebuah buku. Ah, tidak. Ia memegang Al-Quran. Dan mengaji. Aku tahu karena dulu aku pernah belajar mengaji. Tapi kini sudah tidak lagi. Aku sudah berhenti mengaji saat ditinggal ibuku pergi. Sebab tidak ada gunanya mengaji. Aku tak bisa hidup dengan mengaji. Tak kenyang dengan mengaji. Jadi, lebih baik aku tak mengaji lagi. Lebih memilih untuk bekerja mencari sesuap nasi.

“Dik, kenapa kau di sini?” Tanyanya membuyarkan lamunanku. Ia sudah selesai mengaji.

Aku mengarahkan tanganku ke mulutku, lalu kugoyangkan ke kanan dan ke kiri.

“Kau tak bisa bicara?”

Aku menganggukkan kepalaku. Lalu kuarahkan tangan ke dada, lalu ke telingaku sambil mengacungkan jempolku. Dan ia tersenyum. Mengerti bahwa aku bisa mendengar dengan baik.

Aku masih menatapnya. Ingin bertanya, kenapa dia sampai berada di sini.

“Apa kau bingung, kenapa aku bisa berada di sini?” Tanyanya paham.

Aku menganggukkan kepalaku lagi.

“Aku membunuh.”

Dan ia mulai bercerita. Dulu, ia adalah seorang tukang kebun di rumah seorang pengusaha. Suatu malam katanya, ia menyambangi rumah itu, hendak mencuri. Sebab ia tahu, saat itu, hanya anak majikannya yang berada di rumah. Tapi sayangnya, ia kepergok. Karena panik, tanpa sadar ia pukulkan linggis ke kepala anak itu. Terkapar. Dan tak bernyawa.

Setelah beberapa hari penyelidikan, ia tak bisa mengelak dari tuduhan. Melakukan pengakuan. Hingga ditahan selama dua puluh tahun.

Aku melihat ia menangis. Airmata penyesalan.

“Aku menelantarkan anak dan istriku.”

Dan aku kembali terenyuh, mengingat kedua adikku.

***

“Semoga Allah menerima taubatku, Dik.”

Aku hanya diam. Bukan tak bisa. Tapi tak mengerti.

Aku menggerakkan anggota tubuhku, memberi bahasa isyarat, “Kenapa kau masih percaya Tuhan?”

Ia hanya tersenyum. Aku tambah tak mengerti.

“Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar,” sementara aku dibiarkannya berpikir sejenak, “dulu aku tidak pernah shalat,” lanjutnya lagi.

Aku masih diam.

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, Dik. Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa diatasi oleh kita. Seperti sekarang. Aku, di sisi lain, merasa bersyukur dengan dipenjaranya diriku ini. Di sini, aku mengenal Tuhan, Allah. Di sini, aku belajar shalat. Dan dengan shalat lah aku mendapatkan ketenangan hati…”

Ia diam sejenak. “Ini sebuah skenario, Dik. Skenario yang terbaik buat kita. Percaya lah.”

Aku diam. Merenung. Kalau begitu, skenario macam apa yang disiapkan untukku. Membiarkan adik-adikku mati kelaparan? Membiarkan aku yang tak bersalah ini dihukum bertahun-tahun di dalam kurungan?

“Kau hanya harus bisa berpikir positif, Dik. Mengambil hikmah.”

Ia beranjak, meminta izin kepada sipir penjara. Lalu kembali dengan muka basah, berseri-seri. Menunaikan shalat. Entah shalat apa.

***

Hari ke tiga. Masih pukul tiga pagi. Aku terbangun ingin ke kamar mandi. Sipir pasti masih pulas. Aku buang saja di botol yang sudah disiapkan untuk keadaan seperti ini.

Samar terdengar suara, Allah… Allah… Allah

Bukan dari tempat tidur. Ia sedang di atas sajadah, menunaikan shalat malam. Kepalanya tertunduk ke tanah. Aku masih ingat, ini sujud namanya.

Kuperhatikan sesaat, dan ia masih dalam sujud. Dan lebih lama, ia tetap dalam sujud. Maka kudekati ia. Kugoyang-goyangkan tubuhnya.

Ia tak menjawab. Hanya lafadz Allah yang mengalun dari bibirnya.

Aku ikut menunduk, memperhatikan wajahnya. Dan aku tersentak, saat kulihat wajahnya bercahaya. Benar-benar bercahaya. Dan tiba-tiba ia ambruk.

“Dik… Dik…” ia memanggilku dua kali. Aku lebih kaget. Kupikir tadi, ia sudah mati.

Matanya kosong. “Ambilkan aku air…”

Segera kupenuhi permintaannya. Ia minum air itu. Cuma seteguk.

“Dik… sepertinya waktuku akan tiba. Apa Allah menerima taubatku?”

Aku diam. Lalu menganggukkan kepalaku.

Ia tersenyum. Mulai meringis. Lalu perlahan, matanya mulai terkatup. Tidak lagi ada nafas terasa dari hidungnya. Tidak detak jantungnya. Tidak denyut nadinya. Kali ini, ia benar-benar mati. Dan ini, kali pertama dalam hidupku, menyaksikan kematian seseorang, dengan tersenyum pula.

***

Aku masih ingat senyum terakhirnya itu. Membuatku menangis mengingatnya. Bukan karena kesedihan akibat kematian. Lebih kepada kehilangan sosoknya, yang selalu memberikanku ketenangan meski baru beberapa hari kami berkenalan. Aku buka Al-Quran peninggalannya, tak satu pun masih kukenali hurufnya, apalagi artinya. Aku buka buku-buku peninggalannya yang lain: tentang doa, tentang shalat.

Maka pagi itu, aku mengambil wudhu, membasuh tubuhku. Menunaikan shalat meski aku tak hafal bacaannya. Tak paham gerakannya. Aku hanya mencoba shalat. Dengan tanpa kata-kata. Hendak mencari ketenangan yang ia ceritakan. Hendak mencari Tuhan yang ia agung-agungkan.

17 September 2009

From Poetry Organization

Among the Rocks

by Robert Browning

Oh, good gigantic smile o’ the brown old earth,
This autumn morning! How he sets his bones
To bask i’ the sun, and thrusts out knees and feet
For the ripple to run over in its mirth;
Listening the while, where on the heap of stones
The white breast of the sea-lark twitters sweet.

That is the doctrine, simple, ancient, true;
Such is life’s trial, as old earth smiles and knows.
If you loved only what were worth your love,
Love were clear gain, and wholly well for you:
Make the low nature better by your throes!
Give earth yourself, go up for gain above!




Autumn Song

by Dante Gabriel Rossetti


Know'st thou not at the fall of the leaf
How the heart feels a languid grief
Laid on it for a covering,
And how sleep seems a goodly thing
In Autumn at the fall of the leaf?

And how the swift beat of the brain
Falters because it is in vain,
In Autumn at the fall of the leaf
Knowest thou not? and how the chief
Of joys seems—not to suffer pain?

Know'st thou not at the fall of the leaf
How the soul feels like a dried sheaf
Bound up at length for harvesting,
And how death seems a comely thing
In Autumn at the fall of the leaf?

Pablo Neruda: From The Book Of Questions

From The Book of Questons

III.

Tell me, is the rose naked
Or is that her only dress?

Why do trees conceal
The splendor of their roots?

Who hears the regrets
Of the thieving automobile?

Is there anything in the world sadder
Than a train standing in the rain?





Dari Lembaran Pertanyaan


III.

Katakan padaku, apakah mawar turut telanjang
Ataukah hanya itu yang melekat di tubuhnya?

Kenapa pohon-pohon menyembunyikan kenyataan
Tentang betapa megah lilitan akar?

Siapa yang mendengarkan penyesalan
dari kendaraan-kendaraan yang tercuri?

Adakah di suatu tempat, apapun itu, yang melebihi kesedihan
Dari gerbong panjang kereta api yang tertunduk di bawah hujan?

Tentang Film Kau Itu

: dea anugerah

malam angslup
ke balik dada
tujuh mutiara
telah kosa

yo ho yo, teriakmu
dari balik mata

apa masih
ada puisi
di balik galian timah?
atau tinggal cerita
yang kita saksikan
di layar sekian inchi
oleh para artis
yang tampak autis?

yo ho yo,
aku tak mau bayar karcis
ini filmku sendiri
kampungku sendiri

yo ho yo,
mari mari
kita buat
film kita sendiri!

16 September 2009

Sonnet Shakespeare

Sonnet 01

From fairest creatures we desire increase,
That thereby beauty's rose might never die,
But as the riper should by time decease,
His tender heir might bear his memory:
But thou, contracted to thine own bright eyes,
Feed'st thy light'st flame with self-substantial fuel,
Making a famine where abundance lies,
Thyself thy foe, to thy sweet self too cruel.
Thou that art now the world's fresh ornament
And only herald to the gaudy spring,
Within thine own bud buriest thy content
And, tender churl, makest waste in niggarding.
Pity the world, or else this glutton be,
To eat the world's due, by the grave and thee.

Sonnet 02

When forty winters shall beseige thy brow,
And dig deep trenches in thy beauty's field,
Thy youth's proud livery, so gazed on now,
Will be a tatter'd weed, of small worth held:
Then being ask'd where all thy beauty lies,
Where all the treasure of thy lusty days,
To say, within thine own deep-sunken eyes,
Were an all-eating shame and thriftless praise.
How much more praise deserved thy beauty's use,
If thou couldst answer 'This fair child of mine
Shall sum my count and make my old excuse,'
Proving his beauty by succession thine!
This were to be new made when thou art old,
And see thy blood warm when thou feel'st it cold.

Sonnet 03

Look in thy glass, and tell the face thou viewest
Now is the time that face should form another;
Whose fresh repair if now thou not renewest,
Thou dost beguile the world, unbless some mother.
For where is she so fair whose unear'd womb
Disdains the tillage of thy husbandry?
Or who is he so fond will be the tomb
Of his self-love, to stop posterity?
Thou art thy mother's glass, and she in thee
Calls back the lovely April of her prime:
So thou through windows of thine age shall see
Despite of wrinkles this thy golden time.
But if thou live, remember'd not to be,
Die single, and thine image dies with thee.

Sonnet 04


Unthrifty loveliness, why dost thou spend
Upon thyself thy beauty's legacy?
Nature's bequest gives nothing but doth lend,
And being frank she lends to those are free.
Then, beauteous niggard, why dost thou abuse
The bounteous largess given thee to give?
Profitless usurer, why dost thou use
So great a sum of sums, yet canst not live?
For having traffic with thyself alone,
Thou of thyself thy sweet self dost deceive.
Then how, when nature calls thee to be gone,
What acceptable audit canst thou leave?
Thy unused beauty must be tomb'd with thee,
Which, used, lives th' executor to be.

Sonnet 05

Those hours, that with gentle work did frame
The lovely gaze where every eye doth dwell,
Will play the tyrants to the very same
And that unfair which fairly doth excel:
For never-resting time leads summer on
To hideous winter and confounds him there;
Sap check'd with frost and lusty leaves quite gone,
Beauty o'ersnow'd and bareness every where:
Then, were not summer's distillation left,
A liquid prisoner pent in walls of glass,
Beauty's effect with beauty were bereft,
Nor it nor no remembrance what it was:
But flowers distill'd though they with winter meet,
Leese but their show; their substance still lives sweet.

Sonnet 06

Then let not winter's ragged hand deface
In thee thy summer, ere thou be distill'd:
Make sweet some vial; treasure thou some place
With beauty's treasure, ere it be self-kill'd.
That use is not forbidden usury,
Which happies those that pay the willing loan;
That's for thyself to breed another thee,
Or ten times happier, be it ten for one;
Ten times thyself were happier than thou art,
If ten of thine ten times refigured thee:
Then what could death do, if thou shouldst depart,
Leaving thee living in posterity?
Be not self-will'd, for thou art much too fair
To be death's conquest and make worms thine heir.

Sonnet 07

Lo! in the orient when the gracious light
Lifts up his burning head, each under eye
Doth homage to his new-appearing sight,
Serving with looks his sacred majesty;
And having climb'd the steep-up heavenly hill,
Resembling strong youth in his middle age,
Yet mortal looks adore his beauty still,
Attending on his golden pilgrimage;
But when from highmost pitch, with weary car,
Like feeble age, he reeleth from the day,
The eyes, 'fore duteous, now converted are
From his low tract and look another way:
So thou, thyself out-going in thy noon,
Unlook'd on diest, unless thou get a son.

Sonnet 08

Music to hear, why hear'st thou music sadly?
Sweets with sweets war not, joy delights in joy.
Why lovest thou that which thou receivest not gladly,
Or else receivest with pleasure thine annoy?
If the true concord of well-tuned sounds,
By unions married, do offend thine ear,
They do but sweetly chide thee, who confounds
In singleness the parts that thou shouldst bear.
Mark how one string, sweet husband to another,
Strikes each in each by mutual ordering,
Resembling sire and child and happy mother
Who all in one, one pleasing note do sing:
Whose speechless song, being many, seeming one,
Sings this to thee: 'thou single wilt prove none.'

Sonnet 09

Is it for fear to wet a widow's eye
That thou consumest thyself in single life?
Ah! if thou issueless shalt hap to die.
The world will wail thee, like a makeless wife;
The world will be thy widow and still weep
That thou no form of thee hast left behind,
When every private widow well may keep
By children's eyes her husband's shape in mind.
Look, what an unthrift in the world doth spend
Shifts but his place, for still the world enjoys it;
But beauty's waste hath in the world an end,
And kept unused, the user so destroys it.
No love toward others in that bosom sits
That on himself such murderous shame commits.

Sonnet 10


For shame! deny that thou bear'st love to any,
Who for thyself art so unprovident.
Grant, if thou wilt, thou art beloved of many,
But that thou none lovest is most evident;
For thou art so possess'd with murderous hate
That 'gainst thyself thou stick'st not to conspire.
Seeking that beauteous roof to ruinate
Which to repair should be thy chief desire.
O, change thy thought, that I may change my mind!
Shall hate be fairer lodged than gentle love?
Be, as thy presence is, gracious and kind,
Or to thyself at least kind-hearted prove:
Make thee another self, for love of me,
That beauty still may live in thine or thee.

Sonnet: Aku Menyerah Melukis Namamu di Kanvas Hatiku

: eny sapratilla

sudah lupa. sejak kapan aku mengenal lukisan dan mulai menggoreskan
kuas di atas kanvas-kanvas. termasuk ketika aku mengenalmu, aku pun
mencoba melukis namamu dengan latar melodrama seumpama pelukan
yang tak kunjung memberikan kehangatan. mungkin cuma opera sabun

dengan judul-judul yang sering ditonton para ibu, tetapi tidak kamu, karena
aku tahu kamu lebih suka duduk di bawah pohon mahoni, sambil
memejamkan matamu dari silau sinar lain yang hendak merayu retinamu
kah aku yang merekam momen itu di dalam warna cat lukisku

tapi sudah beberapa babak, lukisan namamu belum jua selesai. mungkin
ada yang kurang dari cat lukis ini ataukah memang aku yang mulai samar
oleh jejak melankolia yang sempat kau tinggalkan dulu, di rumahku
dengan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu

aku menyerah sajalah melukiskan namamu di kanvas ini. mungkin kali lain aku
datang membawa cat lukis baru yang sebanding dengan indah warna namamu

Palembang, 2009

15 September 2009

Sonnet: Mungkin Tuhan Cuma Bisa Memainkan Nada Minor di Piano Itu


: desi diarnitha


apalah artinya kita ikut les piano di gereja tua itu kalau cuma
nada-nada minor yang kita dengar. kemarin kita baru saja
ditantang untuk memainkan lagu bernada kasar, agar mungkin
tak ada lagi sepasang burung gereja yang datang

membuat sarang di atas atap rumah kita yang setiap hari
menderitkan nama ibu yang sudah menjadi melodi kenang itu
“aku tak ingin lagi memainkan piano itu, kalau tuhan tengah
terus mengutukku untuk mencampur airmata dalam menu-menu

makan malam yang sudah tinggal lilin dan nyalanya yang redup.”

keluhmu dengan saputangan bermotif winnie the pooh, sementara
aku memandangimu dari jauh sambil mencoba melukis senyum lain
yang tengah hilang dari wajahmu (wajah dengan ketukan-ketukan

hangat yang pernah kuingat, saat kita masih berpikir bahwa tuhan
bisa memainkan seluruh nada di atas piano yang kita rindukan itu)

Palembang, 2009

Pertemuan dengan Gus tf

Sonnet: Baines, Berikan Kami Resep Tuamu

: gertrude baines

selain bulan dan mawar kering, apa yang menjadi
menu sehari-harimu, wahai baines tua --- si pengumpul ranting?
"aku tak pernah tertawa-tawa, tak pernah menonton
maria ozawa, tak pernah mengendapkan segelas teh

hingga dingin dan tak pernah bermain layang-layang.
aku pun tak pernah menonton sinetron dan telenovela
dan mematikan tivi saat jam sudah genap sepuluh
atau aku yang tak mengenal kata sebelas?"

sampai tadi kau terhenti di angka seratus lima belas
di samping segelas tehmu yang sudah dingin
dan lukisan layang-layangmu yang masih angin

di pemakamanmu, wahai baines tua, aku datang
membawakan segulung benang untuk layang-layang
yang selalu urung kau terbangkan itu

14 September 2009

Sonnet: Aku Pikir Kiamat Hari Ini

aku pikir benar kiamat hari ini saat kamu nyatakan
kamu tidak lagi mencintaiku dan telah mencintai
laki-laki lain yang memajang bunga krisan di kamarnya
dan menanam magnolia di halaman rumahnya

padahal kemarin, kita baru saja sama-sama berjanji
hari ini kita akan pergi ke istana, merayakan kelahiran presiden
yang kamu anggap manusia setengah dewa (padahal aku meng-
anggapnya pengecut yang hanya besar badannya dan ciut nyalinya)

“kenapa kamu memilih berdemo di jalan raya ketimbang
menelponku di malam buta, setiap saat aku merindukanmu?”
selalu itu alasanmu di setiap pertengkaran kita, mengeluhkan aku
yang terkesan lebih cinta negeri ini ketimbang kamu

tapi tahu-tahunya itu benar-benar menjadi alasan perpisahan kita hari ini
sementara kiamat yang kupikir benar malah tidak terjadi


Palembang, 2009

Sonnet: Setelah Jadi Ratu Sejagad

masa kecil kita adalah semak yang berduri, dan ilalang
tempatmu biasa bersembunyi dari kerumunan banyak orang
sudah menjadi kamera-kamera dari berbagai stasiun tivi
menanyakan ukuran-ukuran tubuhmu yang begitu seksi

mungkin ada panekuk di balik rok mini yang kau kenakan
panekuk hangat yang sering kau buat dulu, saat masih sering
menyanyikan lagu country di lahan gandum pada akhir pekan
tanpa pernah terpikir bahwa suatu saat, cinta kita akan mengering

tapi tubuhmu, kini, sudah tak ada lagi dalam pelukan
saat kau isi formulir pendaftaran kontes ratu kecantikan
saat itulah, kau dan aku, tak lagi bisa bergenggaman taman
tak lagi mencatat mimpi-mimpi di berlembar perjanjian

stefanieku sayang, haruskah aku menjadi raja sejagad
agar terus dapat menemanimu selama berabad-abad?

13 September 2009

Tuhan Tak Bisa Menghitung Lebih dari 56

Kenapa, Bu?
Kenapa Tuhan tak bisa menghitung lebih dari 56?
Apa Dia pernah bolos pelajaran matematika?
Apa Dia memang tak pandai matematika?
Apa Dia memang tak suka matematika?
Apa Dia cuma tak suka pada guru matematikanya, yang sering
juga memukul kami kalau kami tak bisa berhitung?

Atau karena Dia tak punya Kau, Bu?

Dari Merak, Sebuah Jam Tanganku Tiba-Tiba Berhenti Berdetak

1
apa yang kutunggu, selain kedatanganmu
di arah pukul dua yang biasa, pukul dua yang
selalu kita baca di koran-koran dan majalah
menghiasi headline dengan nama-nama
termasuk namamu
yang dicetak dengan begitu tebalnya

tapi aku kadang tak begitu peduli
selain melongok ke lengan sebelah kiri
sudah jam duakah kini?
tapi tampaknya masih lima menit lagi
dari perjanjian kita yang selalu kita catat
di pinggir kalimat-kalimat lain yang biasa
kau ucapkan di meja persidangan,
di mana dulu, kau dan aku,
juga telah sepakat
menandatangani sebuah surat
untuk sehidup semati
di dunia dan di akhirat

2
aku bercerita ombak
dari sebuah geladak

apa yang kau sembunyikan di balik riak

apakah ada sebuah sajak
yang tertolak dari media cetak?


tapi ada pria lain yang tengah terbahak-bahak
aku meninggalkan merak, aku meninggalkan merak
katanya sambil sesekali memunguti dahaknya
yang konon lebih berharga dari berkeping perak

3
mungkin kau titik
yang tengah mematung di sebuah ujung
dari dermaga yang mengapung

sedang aku garis
atau mungkin juga kumpulan titik lain
yang membentuk kurva
seumpama anak Krakatau

4
meletuskah kau---kita?
dari jarak kemarin
yang kita nyalalakan di pukul dua?

tapi sudah pukul duakah kini?

aku tak tahu
jamku baru saja mati

Dari Merak, Sebuah Jam Tanganku Tiba-Tiba Berhenti Berdetak

1
apa yang kutunggu, selain kedatanganmu
di arah pukul dua yang biasa, pukul dua yang
selalu kita baca di koran-koran dan majalah
menghiasi headline dengan nama-nama
termasuk namamu
yang dicetak dengan begitu tebalnya

tapi aku kadang tak begitu peduli
selain melongok ke lengan sebelah kiri
sudah jam duakah kini?
tapi tampaknya masih lima menit lagi
dari perjanjian kita yang selalu kita catat
di pinggir kalimat-kalimat lain yang biasa
kau ucapkan di meja persidangan,
di mana dulu, kau dan aku,
juga telah sepakat
menandatangani sebuah surat
untuk sehidup semati
di dunia dan di akhirat

2
aku bercerita ombak
dari sebuah geladak

apa yang kau sembunyikan di balik riak

apakah ada sebuah sajak
yang tertolak dari media cetak?

tapi ada pria lain yang tengah terbahak-bahak
aku meninggalkan merak, aku meninggalkan merak
katanya sambil sesekali memunguti dahaknya
yang konon lebih berharga dari berkeping perak

3
mungkin kau titik
yang tengah mematung di sebuah ujung
dari dermaga yang mengapung

sedang aku garis
atau mungkin juga kumpulan titik lain
yang membentuk kurva
seumpama anak Krakatau

4
meletuskah kau---kita?
dari jarak kemarin
yang kita nyalalakan di pukul dua?

tapi sudah pukul duakah kini?

aku tak tahu
jamku baru saja mati

Antara Cerita, Realita, dan Cita-Cita Dalam Menciptakan Iklim Ekonomi Yang Kondusif

Seorang pecatur amatir menyatakan kepada grandmaster Tartakower, bahwa dirinya sudah secara patuh memainkan pembukaan yang belum lama direkomendasikan grandmaster lainnya, Loewenstein, dalam sebuah majalah dengan hasil malapetaka. Tartakower menjawab “Jangan kau memainkan yang ditulis Loewenstein. Yang mesti kau mainkan adalah yang ia mainkan”

Ucapan Tartakower ini seolah menyindir pemerintah Indonesia dan negara-negara lemah lainnya dalam hal takluknya kita pada ekonomi neo-liberal yang dibawa oleh Amerika Serikat. Ekonomi yang nyatanya juga menyeret (hampir) semua Negara dalam krisis ekonomi yang disebut-sebut lebih parah dari Great Depression tahun 1929 yang lalu.

Sejarah mencatat, Great Depression membutuhkan waktu kurang lebih lima puluh tahun untuk kembali dalam keadaan stabil. Kejatuhan pasar saat itu, telah menyebabkan pengangguran yang meningkat pesat akibat merosotnya lapangan pekerjaan. Krisis tersebut merambat hingga Eropa, yang menyebabkan (salah satunya) Presiden FC Barcelona pun bunuh diri. Ada sebuah kesalahan langkah yang menyebabkan lamanya pemulihan. Pemerintah pada saat itu justru menaikkan nilai suku bunga, dengan tujuan utama menurunkan tingkat inflasi yang sangat tinggi. Masyarakat dipancing untuk saving sehingga mata uang yang beredar turun. Akan tetapi, satu hal yang di luar perhitungan, perusahaan-perusahaan tidak dapat bertahan dan satu per satu berguguran. Dan bagaimana mungkin masyarakat yang kehilangan pekerjaan, tidak mempunyai penghasilan, dapat menyimpan uang? Tepatnya, uang darimana?

Presiden USA yang baru dilantik, Barrack Obama, belajar dari pengalaman pahit tersebut. Seperti berita yang kini santer terdengar, Obama meminta bailout untuk menyuntik dana pada perusahaan-perusahaan nasional, salah satunya perusahaan otomotif. Dan seperti janji kampanyenya, Obama juga menjanjikan dana segar bagi perusahaan-perusahaan yang bisa menciptakan tiga ribu lapangan pekerjaan baru.
Krisis dan Celah Ekonomi Liberal

Anomali. Ingat dengan fluktuasi harga minyak yang tidak masuk akal, menembus kisaran USD 140? Dan lalu mengalami gerak jatuh bebas sampai USD 24?

Kita mengenal adanya hukum permintaan dan penawaran yang melahirkan harga di ekuilibrium. Lalu apakah harga minyak mengikuti hukum ini?

Kita tarik garis ke tahun 1637. Tidak dapat disangkal bahwa tulip bulb mania merupakan cikal bakal dari bubble ekonomi di dunia modern. Tulip bulb mania mengacu pada periode keemasan Belanda di mana pada saat itu tulip mencapai harga yang luar biasa tinggi dan kemudian jatuh dalam dalam waktu singkat. Sebagai gambaran, pada puncak dari bubble ini di bulan Februari 1637, harga satu kontrak tulip setara dengan 20 kali gaji tahunan seorang pengrajin berpengalaman. Sampai dengan saat ini, tulip bulb mania merupakan simbol dari bubble dan crash ekonomi.

Tulip berasal dari bahasa Turki yang artinya sorban. Tulip diperkenalkan ke Belanda oleh Conrad Guestner yang mengimpornya dari Konstantinopel pada tahun 1593. Tulip diimpor dari Vienna dan dibudidayakan di Inggris pertama kali pada awal tahun 1600. Dengan cepat, tulip menjadi simbol status dan kebanggaan bagi orang-orang kaya dan terkenal. Orang yang tidak memiliki tulip dianggap berselera rendah. Dengan cepat harga tulip bulb semakin meroket. Pada fase selanjutnya, keinginan untuk memiliki tulip mulai merambah ke golongan menengah, pedagang bahkan penjaga toko. Pada tahun 1634, tulip mania telah menjalar ke seluruh pelosok negeri di mana setiap orang mengorbankan tanah, ternak, kebun, dan tabungannya untuk memperoleh sejumlah tulip bulb. Yang menjadikan mania ini semakin buruk adalah adanya opsi yang membuat orang yang sebenarnya tidak mampu membeli, ikut berspekulasi. Dengan adanya leverage dari opsi ini, pembeli dapat mengontrol jumlah bulb yang lebih besar dari yang seharusnya dapat dimilikinya.

Tulip tumbuh dari bonggolnya (bulb). Pengembangbiakan tulip sendiri dapat melalui bulb-nya maupun bibitnya. Setelah beberapa waktu, muncul suatu virus tidak mematikan yang disebut dengan mosaic. Virus ini mengakibatkan tulip menjadi indah berwarna-warni. Efek dari virus ini mengakibatkan tulip menjadi eksklusif sehingga meningkatkan nilai jualnya. Tulip sendiri diklasifikasikan berdasarkan warnanya. Tulip dengan satu warna yaitu merah, kuning, atau putih dikenal dengan nama Couleren. Namun varian tulip yang lebih populer tulip multi-warna seperti Rosen (merah atau putih dengan background putih), Violetten (ungu atau nila dengan background putih), dan Bizarden (merah, coklat atau ungu dengan background kuning). Warna-warna spektakuler tulip tersebut merupakan efek dari virus mosaic disebut di atas.

Seperti bubble pada umumnya, pada saat itu orang-orang percaya bahwa harga tulip bulb kebal dari crash dan yakin bahwa harga akan terus naik. Naiknya kepopuleran tulip bulb, para pembudidaya profesional membayar harga yang semakin lama semakin tinggi untuk tulip bulb yang mengandung virus. Pada tahun 1934, adanya permintaan tulip bulb yang tinggi dari Perancis mengundang para spekulan memasuki pasar. Pada tahun 1935, tercatat penjualan 40 bulb dengan nilai 100,000 florins. Sebagai gambaran, 1 florin setara dengan 10.28 Euro pada tahun 2002 (data dari International Institute of Social History). Artinya, harga satu tulip bulb adalah 2,570 Euro atau sekitar 3.6 juta rupiah.

Seiring dengan pesatnya perkembangan pasar tulip bulb, pada tahun 1936 pemerintah Belanda membuat futures market di mana kontrak pembelian tulip bulb pada akhir musim, mulai diperjualbelikan. Para trader membayar fee transaksi 2.5% dari nilai transaksi sampai dengan maksimal 3 florin. Setiap pihak yang melakukan perdagangan tidak harus memiliki initial margin (seperti perdagangan futures saat ini) dan kontrak merupakan perjanjian antar individu, bukan melalui bursa. Mungkin lebih tepatnya kita sebut kontrak ini adalah kontrak forward karena tidak melalui bursa. Kenyataannya, tidak ada tulip bulb yang secara fisik dikirimkan dalam perdagangan ini. Transaksi yang dilakukan adalah murni spekulasi. Oleh karena itulah orang-orang menyebut perdagangan kontrak tulip ini sebagai “windhandle” atau “wind trade”.

Begitu pun dengan minyak dunia, efek bubble terjadi. Meroketnya harga minyak hanya didasarkan pada kerakusan/greedy sejumlah pialang dalam mencari keuntungan. Dan layaknya permen karet, pada saat masyarakat menyadari bahwa harga sudah tidak logis, kekuatan kerakusan itu terkalahkan dan harga jatuh.

Inilah salah satu kelemahan ekonomi liberal yang tidak mendasarkan dirinya pada keseimbangan ekonomi pasar. Dan dengan cara ini ekonomi berkembang pesat (dan juga bisa jatuh pesat).

Mortgage Hingga Krisis Dunia

Inilah yang dianggap biang keladi krisis kali ini: mortgage di bidang KPR (Kredit Perumahan Rakyat). Tahun 1925, AS memiliki UU Mortgage Tentang KPR, yaitu setiap orang yang memenuhi syarat berhak mengajukan dan mendapatkan kredit rumah. Jika penghasilan setahun 100 juta maka ia berhak mengambil kredit mortgage 250 juta. Karena cicilan jangka panjang maka terasa ringan. Tahun 1980, Keluar kebijakan untuk menaikan bunga. bisnis perumahan ada peluang, bank bisa mendapatkan bunga tambahan dan broker dan bisnis terkait bisa berusaha kembali.

Namun karena semua sudah punya rumah, maka Tahun 1986 pemerintah AS menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya, pembeli rumah diberi keringanan pajak. Bagi warga di negara maju, keringanan pajak akan mendapat sambutan luar biasa karena nilai pajak yang tinggi.

Tahun 1990, dengan fasilitas pajak bisnis rumah meningkat hingga 12 tahun ke depannya. Dari mortgage 150milyar USD dalam setahun menjadi 2 kali lipat di tahun-tahun berikutnya. Tahun 2004, mortgage mencapai 700 milyar USD per tahun. Gairah bisnis rumah yang terus meningkat ini membuat para pelaku bisnis menghalalkan segala cara. Mulai dari iklan yang jor-joran, keluarnya lembaga investment bank, hingga melunaknya persyaratan KPR. Dalam pikiran pengembang, jika orang tidak bisa membayar kredit atau kredit macet, toh rumah masih bisa dijual karena perhitungannya tiap tahun harga rumah meningkat. Jadi mereka masih untung ketika terjadi kredit macet.

Namun ternyata dalam jangka kurang dari 10 tahun, banyak kredit Macet. Banyak orang menjual rumah, harga menjadi turun sehingga nilai jaminan rumah tidak cocok lagi dengan nilai pinjaman. Satu per satu lembaga investment banking bergururan seperti efek domino.

Lalu apa pengaruhnya ke Indonesia?


Indonesia memang tidak terkena efek langsung dari Si Mortgage ini. Hingga Agustus 2008, kondisi perbankan masih terbilang solid. Posisi rasio kecukupan modal (CAR) perbankan berada di kisaran 16% atau jauh di atas ketentuan minimal, yakni 8%. Begitu pula halnya dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang bisa dibendung di posisi 3,59%. Tapi ekportir lah yang merasakan dampaknya. Ekspor Indonesia ke Amerika dan Eropa dikurangi kapasitasnya disebabkan krisis yang melanda mereka. Hal ini mengakibatkan adanya surplus ekspor, dimana stok barang di Indonesia tidak dapat dijual. Kemudian, harga-harga barang bumi mengalami penurunan hingga 80% (karet yang sempat mencapai level Rp3500/kg dari sebelumnya Rp15000/kg, atau sawit yang tadinya di level 2000-an lalu jatuh sampai hilang satu digit menjadi 200-an). Efek ini juga dialami Bakrie sebagai pemilik PT Bumi yang sahamnya turun drastis di level 1600-an.

Hal ini berbanding terbalik dengan krisis 1998, dimana saat itu kegiatan ekspor berjalan dengan subur, memperkaya pengusaha-pengusaha/eksportir Indonesia.

APA YANG HARUS INDONESIA LAKUKAN?


Pasal 33 UUD 1945 sebenarnya membawa amanat dasar yang harus dilakukan bangsa ini. Adalah ekonomi kerakyatan yang menjadi jawabannya. Dimana sektor riil yang dihidupkan oleh rakyat dan untuk rakyat lah yang menjadi pondasi dasar. Dan koperasi menjadi penyangga. Sementara pemerintah berfungsi sebagai atap dengan menerapkan kebijakan proteksionis.

Masih ingat dengan slogan “CINTAILAH PRODUK DALAM NEGERI”? Slogan ini sungguh benar adanya. Masyarakat Indonesia harus lebih memilih produk buatan anak bangsa ketimbang produk asing. Tapi fakta membuktikan kapasitas impor Indonesia sangat tinggi. Pribadi Indonesia cenderung konsumtif dan menganggap luar lebih baik daripada dalam. Contohnya saja (tanpa bermaksud promosi), berapa perbandingan pembelian Zyrex dengan Acer? Atau ayam potong local dengan ayam potong olahan yang sudah dikemas semacam KFC?

Pemerintah, dalam hal ini, sangat berperan dengan menentukan taxation bagi investor luar negeri. Misal, Carrefour dikenakan pajak yang lebih tinggi sehingga harga yang mereka tetapkan mau tidak mau tidak lebih rendah dengan yang ada di pasar tradisional. Sehinga pasar tradisional terjaga eksistensisnya.

Dan dalam ekonomi jangka panjang, factor teknologi sangat berpengaruh. Pemerintah harus menjadi backup bagi pengusaha Indonesia untuk melakukan riset pengembangan produk yang memiliki kualitas lebih baik dan dengan prize yang lebih rendah dibanding produk asing. Dalam pertanian misalnya, pemerintah wajib memberikan bantuan agar petani menemukan alat yang memiliki efisiensi tinggi, sehingga cost dapat ditekan. Atau dalam plasma nutfah, meneliti bibit-bibit unggul yang nantinya dapat menghasilkan lebih.

Hal-hal di atas memang seperti mengeksklusifkan bangsa kita. Tapi sebenarnya tidak. Amerika pun sekarang melakukan hal yang serupa. Mengapa kita tidak? Mengapa kita takut untuk hidup dari tangan kita sendiri?

Sebuah simpulan solusi, dengan menambahkan semangat ekonomi syariah yang penulis kira cocok dengan semangat ekonomi kerakyatan (atau malah sama). Pertama, menghapuskan sistem bunga dari segala transaksi keuangan yang ada dalam suatu sistem, karena menurut beberapa analisis salah satu penyebab krisis keuangan global diamerika adalah adanya kebijakan tingkat suku bunga yang rendah. Rendah atau tinggi, hal ini merupakan hal yang mustahil bahwa segala aktivitas cenderung mendapatkan return yang tetap (fix) dan tidak berisiko. Inilah yang menjadi kritik bagi sistem ekonomi islam, sebagai alternatifnya adalah menerapkan sistem profit sharing (bagi hasil). Dalam hal ini, transaksi syariah baik dalam perbankan maupun keuangan lainnya harus berdasarkan sistem bagi hasil.

Kedua, dalam kebijakan fiskal aktifitas yang dilakukan harus mendukung aktifitas riil domestik; dan penentuan jenis serta tingkat pajak yang merangsang sekaligus melindungi aktifitas riil domestik & Kebijakan yang mendorong UMKM, karena kontribusinya pada penyerapan tenaga kerja dan output ekonomi. Upaya pada program-program sosial dan pembiayaan/kredit mikro akan sangat dibutuhkan. Ini merupakan basis activity dari sistem ekonomi Islam, terutama menggerakkan sektor riil. Kita bisa lihat sekarang negara cina dan india memiliki PDB yang tinggi cina sebesar 9,7 dan India 7,9 dibandingkan dengan negara lain (Sumber: IMF, WEO October 2008), karena negara tersebut lebih fokus pada pengembangan sektor riil untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian. Kalau kita tinjau dalam negeri Indonesia memiliki potensi yang sangat besar jika UMKM tersebut dikembangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya sinergi antara lembaga keuangan yang berbasis syariah dengan umkm yang ada. Dimana jumlah UMKM Indonesia sekitar 43 juta UMKM dan yang paling besar sebanyak 90% adalah usaha kecil dan mikro artinya usaha tersebut dapat dijangkau baik lembaga keuangan mikro syariah maupun perbankan syariah, sehingga lembaga keuangan syariah dapat berperan dalam pendanaan usaha. Sehingga sektor riil bisa terus eksis dan berkembang.

Ketiga, dalam kebijakan moneter yaitu pasar keuangan baik pasar uang dan pasar modal harus dijalankan sesuai dengan sistem ekonomi Islam yakni mewujudkan teknis transaksi di secondary market, betul-betul menghindari transaksi seperti transaksi derivatif dan menghilangkan motif spekulasi seperti transaksi short selling.
Nietsche, dan Indonesia,
“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita – dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu…” (Nietsche)


Indonesia adalah Negara dengan kepungan samudra. Menyimak apa yang dikatakan Marwah Daud Ibrahim di sebuah acara di Metro TV bahwa Indonesia mampu menjadi poros ekonomi dunia di masa depan. Semua energi bangsa harus dikerahkan, dan satu yang menjadi fokus utama: pendidikan. Di luar konsep-konsep yang sudah penulis utarakan di atas, pemerintah harus mengiringinya dengan perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia. Tujuannya agar SDM yang ada tidak tersia-sia dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri Atau agar kita perlahan membangun kapal mungil ini menjadi kapal besar dengan amunisi yang begitu disegani nantinya. SDM yang mampu menciptakan keseimbangan antara liberte, egalite, fraternite untuk dunia baru, bukan binatang dengan hukum rimba persaingan bebasnya. Bahwa ada aspek egaliter dan fraternite dalam eksistensi kemanusiaan, panggilan hidup dan fitrah manusia, bukan hanya mengumbar liberte dengan mengabaikan dua lainnya. Karena dengan mengagung2kan liberte dan monomer-sekiankan egalite dan fraternite akan sampai pada cerita tentang keserakahan dan ketamakan, yang akhirnya akan menjerumuskan pada keterpurukan.)

)Ditulis oleh Pringadi Abdi Surya (dari berbagai sumber)

11 September 2009

Kalaulah Boleh, Kuminta Empat Mata Angin Itu

+
sebut. sebut. sebutlah tiga permintaan
apapun yang kau inginkan bisa kukabulkan
harta, tahta, wanita?
ha ha ha

aku tuhan semesta, yang maha segela maha
tapi aku tak pernah jadi mahasiswa

upss, aku cuma bercanda

-
kalaulah boleh, cukuplah aku memanggilmu tuan
sebab aku tak percaya tuhan, tuan

dan cukuplah beri aku satu permintaan
aku tak berminat pada keserakahan,
kekuasaan untuk harta, tahta, dan wanita
seperti yang kau sebutkan

bisa?

+
ha ha ha
sudah kubilang tadi
ataukah harus berulang-ulang kuulang lagi
aku ini maha segala maha

apa yang tak bisa?

-
ok, tuan
kalaulah boleh, kuminta empat mata angin itu
yang kautempelkan di kaki para pengelana
yang dengan tabah melakukan perjalanan
keliling dunia?

+
sebentar, sepertinya kau terlambat
baru saja ada orang lain yang memintanya

-
siapa
siapa
siapa
?


dan tuan menunjuk sekelebat makhluk
yang sedang memeluk gurun, menjelajah arafat

07 September 2009

Hitam-Putih Merpati

#1

Aku baru saja mencium langit. Kembali dari duniaku yang berada di balik awan. Ada sebuah harap yang kusembunyikan di sana. Yang kuharap suatu akan terlepas bebas meski kusadari nyaris tak bisa terwujudkan. Karena aku merpati hitam. Merpati hitam yang hanya ditakdirkan untuk sesama merpati hitam. Padahal aku telah takluk pada sesosok makhluk. Sayangnya bukan mepati hitam sepertiku. Ia merpati putih. Pujaan di
istana hatiku. Yang dalam hari-hariku selalu kupandangi dari duniaku
bersembunyi; di balik awan.

“Merpati tak pernah ingkar janji,” seperti itu ayahku berpesan kepadaku. Aku ingin menyanggah. Tapi kuurungkan demi seonggok rasa hormatku pada ayahku.

Aku ingin bertanya, apa arti sebuah janji? Toh nyatanya janji itu hanyalah janji
yang terungkap oleh nenek moyangku dulu. Bahwa kami –kaum merpati hitam- hanya akan menikahi sesama kami. Setelah sebelumnya dijodohkan terlebih dahulu oleh kaum manusia itu. Kaum yang merasa jumawa, seakan penuh kuasa. Nyatanya mereka hanya makhluk lemah.

#2

Hari ini sama seperti hari-hari belakangan dalam sebulan ini. Hari pelarianku. Karena
aku dijodhkan. Bagaimana mungkin aku harus mencintai sosok yang bahkan tak pernah kukenal dan kulihat sebelumnya? Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya bung! Kenapa tak biarkan kehendak bebas melenting sempurna? Jangan berikan tumbukan di jalurnya. Toh, nantinya tumbukan akan melahirkan momentum, p=m.v, begitu kata kaum manusia, kuintip di suatu ketika pelajaran yang namanya Fisika.

Aku berani bertaruh, besok tak akan jauh berbeda dari hari ini. Ayahku yang kolot itu pasti akan kembali memaksaku menemui si Ms. Nonsense yang tak kukenal itu.
Pastinya bakal keluar lagi bujukan-bujukan kuno dari mulutnya itu. “Sebenarnya apa sih yang jadi masalah dari semua ini? Lihat ayah dan ibumu! Kami juga dijodohkan sama seperti halnya kamu. Dan nyatanya cinta bersemi di antara kami berdua. Melahirkan kamu. Melahirkan adik-adikmu. Yang namanya cinta itu akan tumbuh seiring kebersamaan. Weting trisno jalaran soko kulino, begitu kata kaum manusia Jawa.” Ya ya ya, aku menganggukkan kepalaku sebagai formalitas belaka.

#3

Aku merpati hitam. Kini kembali bersembunyi di balik awan. Sekali lagi aku mengintai pujaanku; merpati putih. Ia memang benar sempurna adanya. Matanya yang bening, bulu-bulunya yang halus lembut memancarkan keindahan, dan pada setiap kepakannya seakan menebarkan cinta. Tapi semakin jauh harapku untuk memilikinya. Entah bagaimana ku bisa membujuk keduaorangtuaku agar menyetujui pendapatku ini.

Kembali kukepakkan sayapku. Mengusir sayu yang sejak tadi menyelimuti. Dibawah sana, mahadewi gravitasi menyumpah serapahku karena tak terikat diriku olehnya. Aku sungguh bingung. Kenapa rasisme masih terjadi di zaman ini? Kenapa kaum merpati tak mencontoh para manusia dalam hal ini? Di sebuah Negara yang namanya Amerika misalnya, kulit hitam sudah berani dan berhasil mengekspresikan dirinya. Para penyanyi-penyanyi favoritku rata-rata berkulit hitam. Rihanna misalnya.

Aku sedikit lelah. Lalu hingap pada beringin tua yang sudah jadi tempat peristirahatanku dari saat ku belajar mengepakkan sayap. Sungguh teduh. Sesekali angin manja menggoda dengan semilirnya. Aku kembali berpikir bagaimana mewujudkan keidealisanku ini. Revolusi! Ya REVOLUSI MERPATI. eperti halnya manusia, berbagai kemajuan dicapai dengan sebuah revolusi. Revolusi industry di Eropa misalnya yang mengubah gaya hidup bertani menjadi industry. James Watt kalau tak salah. Nama dari manusia yang menjadi inspirasi revolusi ini dengan menciptakan mesin uap. Dan
kini, haruskah aku menjadi James Watt-nya kaum merpati? Mengubah gaya hidup dan tradisi yang sudah tak cocok lagi di zaman ini? Aku tersenyum. Mengembang.

#4

Esoknya segera kusebarkan woro-woro pada setiap merpati hitam. Gairah revolusi coba kukoorkan dengan penuh kesungguhan.

“Saudara-saudaraku yang terhormat, waktu telah berganti. Dan sekarang bukanlah yang dulu lagi. Apalah arti sebuah janji yang tak memiliki arti? Kita, merpati hitam, sudah saatnya mengubah prinsip dan tradisi. Tak perlu lagi menikah hanya dengan sesama jenis merpati. Hitam sudah selayaknya menyatu dengan putih!”

Aku berteriak penuh semangat. Aku pikir tadinya ucapanku akan disambut dengan standing ovation dari mereka semua. Tapi yang ada hanya keheningan. Ah, kupikir mereka hanya sedang termangu memikirkan kata-kataku barusan. Tak peduli, lantas kulanjutkan lagi.

“Saudara-saudaraku semuanya, merpati memang tak seharusnya ingkar janji. Tapi itu jika janji terebut memang penuh arti. Nyatanya tidak. Tanyakan pada pikirmu kawan, logika mana yang mengizinkan kehendak bebas dari kita terkurung dalam tirani janji? Biarkan lepas seperti saat kita terbang di langit tinggi. Bayangkan moleknya para
merpati putih. Sudah saatnya kita, sebagai generasi di zaman ini, memilih untuk melakukan persilangan dengan mereka. Melahirkan abu-abu!”

Mereka masih diam. Ada yang tatapannya kosong tak mengerti. Ada yang menatapku
rendah. Seakan aku ini hina. Seakan pemikiranku hanyalah sampah yang tak punya harga. Hingga satu per satu dari mereka pergi terbang meninggalkanku.

Semangatku surut. Tapi ternyata ada seekor merpati masih menatapku. Menungguiku. Seakan ingin menyampaikan katanya padaku.

“Wahai, terima kasih kau mau mendengarkanku. Terima kasih atas kepedulianmu dengan tidak meninggalkanku sendiri.”

“Oh Tidak, aku hanya sedang menikmati pemandangan makhluk terbodoh dan terhina yang ada di hadapanku. Mungkin takkan ada lagi pemandangan seperti ini dalam satu abad ke depan.”

Ia tertawa. Benar-benar merendahkanku. Lantas ia terbang menjauh. Meninggalkanku di sini. Sendiri.

#5

Air mataku sudah ingin mengalir. Tak percaya akan kenyataan yang baru terjadi. Tidak adakah satupun dari kaumku yang punya pikiran yang sama denganku? Hah, betapa menyedihkannya aku. Segera kuistirahatkan tubuhku di beringin favoritku. Menyenandungkan irama hatiku yang sendu. Lantas dari kejauhan terlihat sesosok merpati hitam terbang mendekat. Tampak asing bagiku. Tak kukenal. Menghampiriku.

“Ada keperluan apa engkau terbang ke sini? Aku tak sudi kau ganggu, apalagi jika hanya ingin mengejekku atas pemikiranku yang kalian bilang hina tadi!”

Aku memang masih emosi. Aku sedang ingin sendiri. Tak ingin diganggu.Tapi anehnya ia malah tersenyum lembut. Memang manis untuk ukuran merpati hitam. Meski tak sebanding dengan pujaan hatiku.

“Maaf, aku tak berniat mengganggumu. Apalagi mengejekmu. Justru aku kagum dengan
keberanianmu, dengan kegagahanmu barusan. Aku ingin mengenalmu sebagai teman. Bisakah?”

Aku diam tak menjawab. Sedikir ganjil kurasa. Meski kuakui ada perasaan bahagia menyelinap karena setidaknya ada yang ‘menganggap’ keberadaanku.

“Ah, aku tahu kau selalu hinggap di sini di sela terbangmu. Rasanya cukup pertemuan kita hari ini. Biarkanlah kau menenangkan dirimu dulu. Kapan-kapan aku akan kembali
menghampirimu di sini. Mungkin saja kita bisa berbincang hangat dengan secangkir kopi.”

Ia tersenyum. Aku pun seakan dipaksa untuk tersenyum padanya. Menganggukkan kepalaku. Lalu ia pergi, terbang ke langit tinggi.

#6

Langit masih biru. Setia dalam perjalanannya. Aku masih memikirkan ‘kehinaan’-ku. Apa yang salah dari semua itu? Mungkinkah tak cukup hanya kata? Tapi bukti! Ya, benar. Aku harus bisa membuktikan bahwa merpati hitam bisa menyatu dengan merpati putih.

Entah tertakdirkan atau tidak, di langit tinggi itu, merpati putih pujaanku sedang mengepakkan sayapnya sendiri. Segera kukerahkan segenap tenaga dan keberanian untuk menghampirinya. Menyatakan perasaan dan pemikiranku padanya.

“Wahai merpati putih, bisakah sejenak kita berbicara dari hati ke hati?”

Ia menatapku dari atas hingga ke bawah. Seakan menilai ‘harga’-ku. Ekspresinya dingin. Mungkin karena ia tak mengenalku.

“Maaf, aku tak mengenalmu. Bisakah kau tinggalkan aku?”

Aku maklum pada ucapannya. Antara merpati hitam dan merpati putih memang seakan terhalang tabir yang tinggi. Sulit untuk terlewati. Dunia kami pun tak sama. Jadi, mungkin saja ia takut dan asing padaku.

“Jujur saja, aku menyukaimu merpati putih. Aku selalu memperhatikanmu dari balik awan. Selalu memimpikanmu dalam setiap malam-malamku …”

Ia mengernyitkan alis matanya, “Bisa kau ulangi?”

“Wahai, zaman sudah berubah. Kini tradisi butuh revolusi. Tak perlu lagi terikat janji yang tak berarti. Aku ingin kau tahu perasaanku padamu. Aku mencintaimu. Aku ingin memberi bukti pada kaumku bahwa merpati hitam dan merpati putih memang bisa bersatu. Tak perlu lagi seperti halnya selama ini.”

“Wahai, sadarkanlah dirimu. Pemikiranmu itu hina. Bid’ah terkejam yang pernah kudengar. Saranku untukmu segeralah periksakan otakmu ke psikiater kaum manusia. Mungkin saja ada salah satu aksonmu yang konslet hingga tersalah pikirmu. Coba kau tatap dirimu di cermin, dan bandingkan dengan aku. Kita berbeda bung! Melihatmu saja aku sudah merasa jijik. Hitam, seperti tak pernah mandi berhari-hari. Dan aku benci hitam! Jadi sebaiknya kau kubur harapmu itu dalam-dalam di perut bumimu. Jangan pernah kau cuatkan lagi. Ya, karena kau yang tak mau pergi.maka biarkanlah aku yang pedgi. Dan jangan pernah kau intai aku lagi di balik awanmu itu!”

Ia menjauh pergi. Sementara telah lebur hatiku. Sedikitpun ia tak mau mengerti.
Aku menangis. Dan perlahan kehilangan dayaku. Kepakkanku melemah. Lalu terjatuh.

Aku merpati hitam
Baru saja mencium langit
Mengintip jeruji darimu
Pergi
Lantas tersenyum
Tapi di hatiku ada hujan*


(Awal 2008)

04 September 2009

Tak Ada Hakim di Acara Televisi Itu

1

Kalaulah nanti anak kita bertanya kenapa tak ada hakim
mengenakan jubah hitam dan berkepala roda emas di televisi
kita akan memilih pilihan jawaban e, yang biasa kita pilih
jika keadaan sudah begitu terdesak, begitu tersesak

kalaulah ia terus merengek, tak puas pada jawaban kita yang termehek
maka cukup beri ia permen kojek, biar dia lupa
dan kembali tertawa, memindahkan acara ke channel lain dimana
mungkin ada seorang hakim, sedang membaca pasal-pasal
dan ayat-ayat yang termisal

2

Suatu hari, remote televisi kita itu sudah kehabisan battery
kali ini ia menangis, sesekali menggertak dengan bengis
memukuli kita yang semakin asik menahan ringis

bagaimana caranya mengganti channel televisi ini, Mama?


dan kita pun mengajarinya menaiki atap, sambil meratap
untuk menjemur battery agar kembali penuh terisi


3

Tiba-tiba kita sudah seperti pembantu, yang suka disuruh-suruh
ini pasti gara-gara acara televisi yang tak bermutu itu

esoknya kita pecahkan televisi itu, dengan semangat yang menggebu
tapi sorenya kita begitu terkaget, saat ia pulang
membawa televisi baru


(2009)

Melankolia, Seusai Neruda

I.
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap


Saya masih saja menatap ke dinding, ke jam dinding. Menatap jarumnya yang terus bergerak menghitung detiknya sendiri – detik yang entah kapan akan berhenti di kematiannya. Tapi, saya sama sekali tidak sedang memikirkan kematian. Saya malah sedang berpikir bagaimana caranya hidup, caranya bertahan hidup.

Cuma sisa cahaya bulan yang menerangi kamar ini. Ukuran kamar ini cukup kecil, sekitar 2,5 x 3 m. Tidak ada ranjang. Tidak ada lemari. Tidak ada meja. Ada selembar kasur kapuk dan beberapa helai baju yang tergantung di balik pintu. Dan abu rokok yang setia tergeletak di asbaknya.

Kalau kamu melihatnya, dengan matamu sendiri, kamu pasti heran bagaimana saya bisa bertahan hidup di ‘kamar’ ini. Tapi saya bahkan pernah bertahan hidup di dalam hutan selama beberapa hari. Saya tidak bohong. Waktu saya masih sekolah dulu, saya hobi naik gunung. Di suatu liburan, saya memutuskan naik gunung Dempo dengan kelima orang teman. Dan beruntungnya, kami sempat tersesat. Selama beberapa hari saja, kami makan dan minum seadanya. Dari daun, dan dari tanam-tanaman yang kami sangka saja bisa kami makan. Akhirnya setelah dua hari, kami berhasil ditemukan oleh warga setempat. Kenangan yang begitu memikat bukan?

Makanya, di kamar ini saya masih merasa hidup. Saya masih bisa membaringkan tubuh di kasur yang sudah kehilangan kata ‘empuk’. Dan menikmati sisa cahaya bulan yang menerangi kamar. Menyaksikan bagaimana cicak-cicak di dinding diam-diam merayap. Mengendap. Menanti seekor nyamuk bersedia untuk dilahap. Ah, bicara cicak saya jadi ingat kisah bahwa cicak tak bisa bertepuk tangan. Tapi saya tidak yakin. Cicak bukannya tidak bisa bertepuk tangan. Cicak hanya tidak mau bertepuk tangan. Karena itulah saya berjanji dalam hati saya sendiri, suatu saat saya akan membuat cicak bertepuk tangan. Bertepuk tangan atas kesuksesan yang saya raih.

II.

“Kamu mau jadi apa, Di?”

Saya masih ingat pertanyaan itu. Pertanyaan yang sudah berulang kali ditanyakan kepada saya, semenjak saya masih kecil. Saya pernah mengatakan saya mau jadi presiden, saya mau jadi tentara, saya mau jadi pilot, saya mau jadi dokter, dan lain-lain. Tapi sayangnya perkataan saya itu hanya menjadi sebatas kemauan. Kemauan yang nasibnya behenti di sebatas ucapan. Faktanya, sampai kini, saya belum menjadi apa-apa. Saya bukan siapa-siapa.

Dan sekarang saya tidak tahu dimana dia, bagaimana nasibnya. Terakhir kali kami bertemu setelah dua tahun lulus SMA, dalam sebuah reuni sekolah. Dia juga belum menjadi apa-apa saat itu. Sama seperti saya.

“Aku mau ke Jakarta,” kata dia. “Aku tidak mau hidup seperti ini, luntang-lantung tidak karuan, membebani orangtua,” lanjut dia lagi.

Saya masih diam, mencoba mencerna ucapannya. Belum sempat saya mencerna, dia sudah bertanya kepada saya, “kamu mau ikut?”

Saya belum pernah ke Jakarta, ibukotanya Negara Indonesia. Kabarnya ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Dan saya jadi ingat dengan ibu tiri saya yang memang suka menyiksa saya sejak kecil. Tapi kini beliau tidak lagi berani menyiksa saya. Sebab saya sudah berani melawannya. Sebab saya sudah lebih perkasa, bisa saja balik menyiksanya. Tapi itu tidak saya lakukan. Saya sangat menyayangi ayah yang mencintai ibu tiri saya itu. Ayah saya sudah tua. Saya tidak tega menyakiti hati ayah yang kadang terlihat begitu tegar dengan bengkel mininya. Saya kadang mangkal di situ, melayani beberapa pelanggan yang hendak mengisi angin atau menampal ban. Dan setiap saya menampal ban saya jadi ingat, dari sinilah saya ‘diberi’ hidup. Makanya kemudian saya menggeleng saat dia mengajak saya ke Jakarta. Saya tidak tega meninggalkan ayah saya sendirian. Saya tidak tega.

III.

Tapi saya sekarang berada di Jakarta. Sudah hampir satu tahun saya di Jakarta. Saya bukannya tega meninggalkan ayah saya. Tapi ayah sayalah yang telah meninggalkan saya lebih dulu, sekitar satu tahun setelah ajakan itu. Saya masih ingat pucat wajahnya. Pucat wajah yang terakhir kali saya lihat dari balik kafan putih sebelum ia dikuburkan.
Nama di nisan dan kenanga di pekuburan menjadi pemandangan terakhir yang saya lihat sebelum saya memutuskan pergi merantau. Merantau. Ke kota asing yang penuh orang-orang asing. Ke kota asing yang kabarnya cuma saya tahu dari televisi, tentang kepadatan dan kemacetan yang menjadi ciri khasnya.

IV.

Saya tidak mengerti apa-apa tentang asuransi. Sama sekali. Tapi tahu-tahu saya menjadi pegawai sebuah perusahaan asuransi. Saya pikir, awalnya, ini adalah pekerjaan yang besar. Suatu saat saya akan jadi orang besar, begitu kata atasan saya yang melambungkan hati saya ke langit ketujuh (meski saya tidak tahu bagaimana langit ketujuh itu).

Tapi memang kenyataan tidak selalu semanis yang diharapkan. Akhirnya saya sadar, saya cuma sales di sebuah perusahaan asuransi kecil tak bernama. Saya diwajibkan keliling-keliling ibukota, naik bus, metromini, sampai bajaj yang rodanya cuma tiga, hanya untuk menawarkan program-program yang ada di perusahaan asuransi ini.

Kebanyakan dari mereka (atau hampir seluruhnya sebenarnya) mengernyitkan dahi ketika membaca nama perusahaan ini.

“Apa?! Asuransi Jiwa Antah Berantah? Saya belum pernah dengar itu. Jangan-jangan kamu penipu ya?”

Tidak terhitung berapa kali ucapan itu masuk tanpa permisi ke telinga saya.
Atau:

“O, maaf. Saya sudah terdaftar di AJB Bumiputera 1912.”

Rata-rata dari mereka mengaku telah menjadi partnernya. Saya jadi penasaran dengan perusahaan asuransi yang satu ini. Saya benar-benar mau tahu seperti apa AJB Bumuputera 1912. Jadi saya datangi kantornya. Saya lihat laki-laki dan wanita keluar – masuk. Dan saya tak jadi masuk.


V.

Pablo Neruda, siapa dia? Tiba-tiba saya tertarik membaca sebuah buku yang tetinggal di sebuah kursi metromini yang baru saya duduki. Saya buka, dan saya tidak mengerti artinya. Tapi kemudian mata saya tertarik, sangat tertarik, pada sebuah judul “Lost in the Forest”. Mungkin karena saya tahu atau tak asing pada kata ‘forest’. Sebab waktu kecil, meski ibu tiri saya sangat kejam, beliau suka membuat black forest setiap ulangtahunnya. Dan saya diberi sepotong. Setiap saya minta nambah, selalu saja beliau beralasan saya tak boleh makan ini banyak-banyak. Nanti sakit perut lah, nanti gigi saya berlubang lah. Dan saya hanya bisa cemberut. Mengurut kening yang saat itu belum berkerut.

Tapi tiba-tiba saja ada seorang laki-laki menaiki metromini ini. Merebut perhatian saya dari buku tadi. Saya sangat mengenali sosoknya meski sudah berbeda penampilannya. Itu dia. Tak salah lagi, itu dia – sahabat saya yang pernah mengajak saya ke Jakarta. Dia begitu rapi dan mengenakan dasi. Pakaiannya tampak mahal, setidaknya lebih mahal dari saya.

“Hei…” saya berusaha memanggilnya.

Dia menatap saya beberapa detik sebelum mengenali saya.

“Adi?”

Saya pun menganggukkan kepala.



Setelah dia duduk di samping saya, kami saling becerita.

“Kapan kamu ke sini?”

“Sudah hampir setahun, sejak…” saya diam sejenak, “sejak ayah meninggal.”

“O, maaf, aku benar-benar menyesal mendengar itu. Kamu kerja di sini?”

Saya mengangguk. “Iya, saya kerja di Asuransi Jiwa Antah Berantah.”

“Asuransi?”

“Pasti kamu tidak mengenal perusahaan ini kan? Saya jadi sales marketing di sini.”

“Nggak, bukan begitu. Kebetulan banget. Aku sedang mencari asuransi.”

“Memangnya kamu kerja dimana?”

“Aku sudah jadi manajer sekarang. Begini, Di… asuransi ini untuk bangunan pertokoan kami. Kami sedang mencari perusahaan asuransi yang tepat. Dan kebetulan aku ketemu kamu. Aku bisa rekomendasikan perusahaanmu tadi itu, apa namanya?”

“Asuransi Jiwa Antah Berantah..”

“Nah, itu dia, untuk jadi partner kerja kami.’

“Beneran? Kamu serius?”

“Ya iyalah, Di. Tapi ini ga main-main, kontaknya ratusan juta. Kamu bisa?”

“Tentu, tentu. Kenapa tidak?”

Kami tertawa bersama. Saya benar-benar bersyukur bisa bertemu dia. Apalagi dengan kontak baru yang besar ini, saya senang sekali.

VI.

Tapi kemudian setiap saya telepon dia, tidak pernah diangkatnya. Saya pikir mungkin dia sedang sibuk. Maklum, dia manajer. Sedangkan saya cuma sales marketing.

Tapi kemudian malah handphone saya yang berdering, dari atasan saya.

“Di, cepat kamu ke kantor. Sekarang!” Nadanya tiba-tiba menghardik.

VII.

Di kamar ini saya masih menatap dinding, dan jam dinding. Baru saja saya berhasil menerjemahkan Pablo Neruda yang saya temukan dulu, dengan berantakan.

Lost in the Forest
Tersesat di Hutan

Lost in the forest, I broke off the dark twig
And lifted its whisper to my thirsty lips:
Maybe it was the voice of rain crying,
A cracked bell, a torn heart


Tersesat di hutan, aku mematahkan ranting
Dan menaikkan bisikannya ke bibir yang haus
Mungkin ini adalah suara tangisan hujan,
Rintihan hantu, desahan hati

Something from far off it seemed
Deep and secret to me, hidden by the earth
A shout muffled by huge autumns
By the moist of half-open darkness of the leaves


Sesuatu dari kejauhan terlihat
Dalam dan tersembunyi untukku, tertutup oleh bumi
Jeritan teredam oleh musim semi yang besar
Oleh lembabnya kegelapan daun-daun

Wakening from the dreaming forest there, the hazel-sprig
Sang under my tongue, its drifting fragrance
Climbed up through my conscious mind


Terbangun dari mimpi hutan di sana,
Menyanyi di bawah lidahku, aroma berkelana
Memanjat ke atas alam sadarku

As if suddenly the roots I left behind
Cried out to me, the land I had lost with my childhood---
And I stopped, wounded by the wandering scent


Seperti tiba-tiba akar-akar yang kutinggalkan
Menangis kepadaku, tanah tempat aku pernah tersesat dengan masa kanak-kanakku
Dan aku berhenti, terluka oleh aroma tak bertuan

VIII.
Datang seekor nyamuk
Lalu ditangkap


Saya bukan seekor cicak. Tapi saya juga bukan seekor nyamuk. Tapi kenapa saya seperti seekor nyamuk yang baru saja ditangkap dan dilahap oleh cicak?

Tersesat di hutan, Neruda itu. Sedangkan saya tersesat di kehidupan. Tapi saya tidak cemas. Saya sudah pernah bilang sama kamu, saya sudah pernah tersesat di hutan dan bertahan hidup selama dua hari. Tapi ini sudah hari keenam sejak saya melihat sisa api yang membakar perkantoran yang baru saja terasuransikan.

Saya pun kembali menatap dinding, jam dinding, dan cicak-cicak di dinding yang seolah tampak tersenyum sinis kepada saya.

Dan mereka bertepuk tangan.

Bertepuk tangan.

Lalu jatuh.

Saya pun tersenyum dan segera menyalakan api dari korek yang tersisa hanya beberapa biji.

Hei cicak, mari saya ajari bagaimana caranya menjadi Ibrahim!

Nol: Angka---Manusia

I.

Saya sungguh tak pernah berbohong. Tak pernah menyebut satu sebagai dua. Dua sebagai tiga. Atau sebagai lainnya. Sebab saya yakin bahwa satu adalah satu, dua adalah dua. Tak boleh diganti-ganti. Saya juga tak pernah menyebutkan lima tambah lima sama dengan lima kali dua meski sama-sama sepuluh hasilnya. Sebab saya tahu keduanya tak sama: beda struktur aljabarnya. Seperti itulah saya, yang tidak pernah berbohong.

Sejujurnya saya tidak pernah mempercayai angka-angka, kecuali angka nol. Bayangkan, dua kali dua sama dengan dua tambah dua, sementara satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu, dan tiga kali tiga lebih besar dari tiga tambah tiga. Aneh bukan?


II.

Ini hari pertama saya bekerja. Pekerjaan yang saya benci sebenarnya. Sebab setiap hari saya harus berhadapan dengan angka-angka. Dan saya tidak menyukai angka-angka, kecuali angka nol tentunya. Kamu pasti bertanya, mengapa angka nol adalah pengecualian. Sebab angka nol itu istimewa. Ia adalah Tuhannya angka-angka. Kamu pasti tidak tahu, angka nol selalu menyertai angka-angka lainnya di dalam struktur aljabar. Yang umumnya kamu tahu cuma, berapapun angkanya, jika ditambah dengan nol maka akan tetap angka itu sendiri. Dan jika dikalikan dengan nol maka akan menjadi nol. Sebab itulah saya percaya dengan angka nol. Sebab nol sangat jujur, apa adanya. Seperti saya.

Tumpukan kertas itu berisi angka-angka. Harus saya selesaikan secepatnya. Saya tidak pernah memakai kalkulator untuk menghitungnya. Saya tidak percaya pada kalkukator. Sebab kalkulator adalah mesin. Bukan manusia. Tidak patut saya percayai. Seperti angka.

“Sudah selesai?” Tanya atasan saya yang badannya juga serupa angka nol itu. Sebab itulah mungkin saya agak hormat dengannya.

“Sedikit lagi, Pak.”

“Kamu pegawai yang baik,” saya cuma diam mendengarkan, “tapi kamu tidak akan bisa maju kalau kamu tetap seperti ini.”

Saya mengernyitkan dahi, tidak tahu apa maksudnya. Tampaknya beliau tahu kalau saya tidak mengerti yang ia bicarakan. “Kamu memang lugu, Nak.”

“Maksud Bapak?”

“Laporan yang sedang kamu kerjakan sekarang itu adalah laporan perusahaan milik sepupu saya.”

Saya masih diam.

“Sudah kamu hitung berapa pajaknya?”

“Hmm… dua ratus juta lebih, Pak.”

“Hapus saja satu angka nolnya.”

Saya mengernyitkan dahi. Tambah tidak mengerti. “Kalau dihapus satu nolnya, ‘kan jadi dua puluh juta, Pak?”

“Iya, saya tahu itu. Hapus saja. Sepuluh juta untuk kamu.”

Saya tambah bingung. Saya sangat menghargai angka nol, sangat mempercayai angka nol. Jadi, sangat tidak mungkin saya menghapus angka nol walau sebuah. Sebab saya tahu, angka nol begitu berharga.

“Saya tidak mau, Pak.” Jawab saya tegas.

“Kamu mau menentang saya?!” Bentaknya pada saya.

“Bukan begitu, Pak. Saya hanya…”

Belum sempat saya menyelesaikan kalimat saya, beliau sudah menyanggah. “Sebaiknya kamu kemasi barang-barangmu, bersiap untuk pindah dari kantor ini.”

Ternyata benar, satu minggu kemudian saya dipindahkan.


III.

Saya tidak mempercayai angka-angka, kecuali angka nol tentunya. Saya juga tidak percaya kalkulator, produk mesin praktis yang merupakan pembodohan publik. Penumpulan kinerja otak. Dan kini, saya menambah daftar ketidakpercayaan saya. Saya juga tidak percaya manusia selain saya. Manusia sama seperti angka. Suka memanipulasi dan dimanipulasi. Mungkin karena itulah, ada manusia yang membuat kalkulator. Sebab ia ingin pintar sendiri. Makanya ia bodohi manusia-manusia lainnya dengan label praktis yang menipu.

Kantor baru saya sangat sepi. Setiap hari saya ditugaskan membuat kopi dan absensi lalu merekapitulasinya. Tapi tetap saja saya bertemu angka-angka pada urutan absensi. Ibu tua yang duduk di sebelah meja kerja saya juga sama. Ia juga membuat kopi dan absensi. Saya ingin bertanya kenapa tetapi saya tidak berani memulai pembicaraan.

“Kenapa kamu menatap saya?” Ibu tua itu tiba-tiba bertanya, seolah tahu apa yang sedang saya pikirkan. “Kamu pasti heran kenapa saya melakukan pekerjaan yang sama seperti kamu.” tambahnya lagi.

Saya malah bertambah heran.

“Saya sama seperti kamu, Nak.”

“Maksud Ibu?”

“Saya juga tidak percaya angka-angka. Saya juga tidak percaya manusia, selain saya.”

Saya termenung sejenak, “Lalu kenapa Ibu mengajak saya bicara? Bukannya Ibu tidak percaya manusia selain Ibu sendiri?”

Beliau tersenyum. “Saya tidak bilang saya mempercayai kamu. Saya cuma tahu, kita bernasib sama. Sama-sama tidak mempercayai angka. Sama-sama tidak lagi mempercayai manusia. Sebab itulah kita di sini, mengerjakan hal yang sama, kopi dan absensi.”


IV.

Semakin hari, Ibu tua itu semakin sering bercerita kepada saya. Saya cuma bisa mendengarkan. Sebab saya tidak suka bercerita. Saya lebih suka diam. Diam dan diam. Sebab diam itu emas. Lagipula tidak ada gunanya lagi saya berbicara, mengaspirasikan pendapat dan keinginan saya. Sebab saya tahu, saya tidak akan didengarkan karena saya bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa.

“Kamu tahu dia?” Ibu tua itu menunjuk seorang laki-laki muda di ruangan sebelah. Dari tampang dan perawakannya, usianya paling jauh terpaut lima tahun dari saya.

“Dulu dia sama seperti kamu, seperti kita.”

“Tidak percaya angka-angka?”

Ibu tua itu mengangguk.

“Lalu kenapa dia berbeda? Tidak seperti kita, membuat kopi dan absensi?”

“Dua tahun yang lalu, dia berubah. Dia mulai berdamai dengan angka-angka.”

Saya perhatikan lagi laki-laki yang dimaksud. Ia masih gagah, sama seperti saya. Hanya saja kemejanya tampak lebih berkelas disbanding yang saya pakai.

“Kamu lihat, baru saja dia memanipulasi dana asuransi kita?”

“Maksudnya?”

“Sekarang dia kedatangan klien baru, dari pihak asuransi. Tahun lalu kita pakai AJB Bumiputera 1912, Tapi tahun ini, dia menggantinya. Kamu tahu kenapa?”

Saya menggeleng.

“Pihak Bumiputera tidak bisa diajak bernegosiasi. Tidak bisa diajak memanipulasi angka-angka.”

Braak!

Tiba-tiba saya menghentak meja. Marah. Pandangan pegawai lainnya beralih ke ruangan saya. Ke saya. Termasuk laki-laki itu yang memandang saya dengan ekspresi mencari tahu. Saya balas pandangannya. Sementara tangan saya sudah terkepal erat, ingin memukulnya. Sebab saya tidak suka pada pengkhianat, yang dengan begitu mudah tergoda angka-angka.

Saya langkahkan kaki saya menuju ruangannya. Ibu tua itu tampak memegangi tangan saya, berusaha mencegah. Tapi apa daya, tenaganya yang telah renta tidak sebanding dengan darah muda saya.

Tiba-tiba saya sudah mencengkram kerah bajunya.

“Kamu sudah gila ya?!” Tangannya menepis cengkraman saya. Lalu berganti dia yang mencengkram kerah baju saya.

“Saya ini atasan kamu di sini! Mengerti?!”

“Orang sepertimu, yang dengan begitu mudah tergoda angka-angka, tidak pantas ada di sini!” Saya balas membentaknya.

Plak!

Dia menampar saya. Saya balas meludahinya. Orang-orang mulai tampak melerai kami berdua. Saya masih ingin memukulnya, membalas tamparan yang baru saja dia hadiahkan dengan manis di pipi saya. Tapi tidak bisa. Orang-orang terlalu kuat untuk saya lawan

“Mulai besok kamu tidak akan bekerja lagi di sini. Karirmu sudah berakhir!” Teriak laki-laki itu di sebelah lain dari kerumunan yang melerai kami berdua.

Saya sempat menoleh ke arah ruangan saya. Ke arah ibu tua itu. Dan dia tersenyum. Menyeringai. Seolah menertawakan saya. Seolah menunjukkan kemenangan telah membodohi saya. Saya semakin sadar, ibu tua itu telah memprovokasi saya. Ibu tua itu telah menipu saya!

Dia mengangkat sebuah kertas. Samar terbaca.
“SAYA BEGITU MENCINTAI ANGKA NOL. DAN TELAH BERHASIL ME-NOL-KAN KAMU!”

(Seharusnya saya tetap tidak percaya manusia, selain diri saya sendiri. Sama halnya saya tidak percaya pada angka-angka, kecuali angka nol tentunya)


























Bumiputera News




Pemenang Lomba Menulis Cerita Pendek (cerpen) Asuransi. Dadang Sukandar (pemenang III), Pringadi Abdi Surya (Pemenang Harapan), Irine Rakhmawati (Pemenang Harapan), Jakarta 2 September 2009.

Pantai Mutun