Skip to main content

Posts

Showing posts from 2011

Tuhan Milik Penyair

Ia mencari suara burung, tapi masih
terperangkap di dalam pagi.
Anak-anak yang tersesat tempo hari
bermukim di balik batu. Ia kasihan
meminjamkan sebuah pelepah kelapa
yang dipatahkan hujan tadi malam.

Tuhan telah mati, Tuhan telah mati

bunyi sebuah igau,
tapi tidak Tuhan milik penyair, pikirnya

Ia mencari suara burung, tapi tak ada
pohon-pohon.Ia pun mengatupkan
tangan, kembali belajar memohon.

Karena Kesedihan Tak Pernah Usai

Maka sebuah sapu tangan basah,
Kau melempar kesedihan ke udara.
Seekor burung memangsanya,
mengira ia adalah sebutir biji jagung
milik petani yang gagal tanam.
Aku tak hendak menebak, kemana
ia akan terbang. Sementara langit
betah gabak, sebatang pohon tumbang,
pohon-pohon lain banyak ditebang.
Karena kesedihan tak pernah usai,
air mata meluap, membanjir, mencapai
betis kaki. Kau berenang ke tepi
takut hanyut kemudian dilupakan.
Maka, sebuah sapu tangan basah
menjadi milik matahari yang masih
malu-malu mengatakan
aku cinta padamu;

Seekor burung dan air mata
adalah kita.

Mi Querido

cerpen yang dibukukan dalam rampai karya Temu Sastrawan Indonesia IV di Tarnate



Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran. Padahal kau (begitu pun aku) telah sama-sama jatuh cinta pada Braga yang menguapkan segala kekakuan kota. Kekakuanmu. Kekakuanku. Kekakuan segala tetek bengek rumus matematika dan fisika di kelas-kelas jam tujuh pagi. De Gauss gila. Descartes yang sia-sia. Cinta. Ah, aku padamu bagai dahan pohon cemara, ditepuk angin, dan benarlah Chairil itu, hidup hanya menunda kekalahan.

“Katakanlah...”

“Apa?”

“Yang seharusnya ingin kau katakan.”

Padahal aku tidak ingin mengatakan apapun. Aku tidak ingin membiarkan segala huruf berloncatan dan meledekku dari kejauhan, kemudian udara dingin menggigilkanku lewat sela sweater yang kuk…

Pemenang Lomba Blog Gempita Bulan Bahasa Powered by Indosat

Pada mulanya, rangkaian Gempita Bulan Bahasa yang digelar oleh Rumah Kata Bogor dan didukung penuh oleh Indosat hanya dirancang sehari saja, yakni pada 4 November 2011. Namun, setelah penyelenggara berbincang-bincang dengan pendukung acara, disepakati untuk menyertakan satu rangkaian tambahan, Lomba Menulis di Blog Pribadi.

Tersebab tenggat waktu penayangan tulisan yang sangat singkat, yakni 7 s.d. 15 November 2011, ditaksir pesertanya bakal tak banyak. Ternyata perkiraan itu meleset. Jumlah peserta mencapai 21 orang. Tentu saja, ini sangat menggembirakan. Terlepas dari waktu yang mepet, disadari bahwa tema yang diusung bukanlah sesuatu yang popular sehingga bisa memancing minat banyak orang.

Lumrahnya lomba yang lain, kegiatan ini juga meniscayakan penilaian. Ada empat kriteria yang digunakan dalam menilai tulisan peserta. Pertama, keunggulan bahasa. Kriteria ini meliputi penggunaan ejaan yang benar, kelengkapan struktur kalimat, penyajian bahasa yang mudah dicerna, dan penggunaan ka…

Mantra Leviosa

Berucaplah, “Wingardium Leviosa!” Dan benda-benda

akan melayang di udara, mengabaikan gravitasi.

Kau mencari kepala, “Seratus dua puluh delapan lagi…”

Tapi, lampu mati, kemudian kami tidak mengenali beda

kelapa dan kepala. Di malam-malam seperti ini, biasanya

banyak suara jangkrik. Seseorang yang bernyanyi, kukira

Presiden. Bila saja di radio, akan kumatikan.


Belum juga Kau tarik mantra itu, kantuk menyerang

kelopak, bunga di taman belum mekar, dan dadaku tak jua

berhenti berdebar, mengingat ciuman kemarin terekam

beredar di laman-laman maya;


Seorang anak kecil terkutuki mantramu, melayang ia

berenang-renang dan berucap ingin jadi presiden juga.

“Sebaiknya sedari sekarang kamu belajar memegang

pelantang,” Dan semalaman akhirnya kami mengajarinya

sebelum Tuhan di atas sana tengah sibuk menceramahi

Newton atas kegagalan hukum pertamanya.

Solilokui Kebebasan

I

Kebebasan berpendapat, mengungkapkan perasaan, tertuang
di gelas kopi ayah. Diaduk-aduknya pelan, sambil membaca
koran kemarin yang tak sempat dibacanya. Aku kira, kisah pi
ada di dalamnya, seorang pemuda terombang-ambing di atas

sekoci, menatap langit dan laut yang sulit dibedakan. Ia
begitu benci dan bosan, kematian telah jadi lelucon, ditonton
seperti menunggu nomor undian.

Ayah juga melarang kami menyalakan televisi, sebab ini 27 Juli—
pahlawan yang tak dikenal dibawa mati Toto Sudarto Bachtiar.


II

Ketika itu kuturut ayah ke kota, mencari bunga kantan.
Dipotong pada bagian yang lembut, dikelupas kulit yang keras.
O, demi salad ikan jantung pisang, kami mengutuk kemacetan.
Rumput yang terinjak mati, suatu hari akan menuntut balas.

Tapi siapa yang masih peduli kemanusiaan—kemerdekaan telah
tanpa cinta. Jalanan seperti mati, mengaduk-aduk isi dada.
Di sanalah ayah menyimpan gerimis—seekor rubah sedang

menangis kehilangan kekasihnya; seorang gadis bercerita
tentang padang rumput da…

Merilis Daftar Buku yang Pernah Memuat Nama Saya

1. Kepada Cinta
2. Alusi
3. Kain Batik Ibu
4. Musibah Gempa Padang
5. G 30 S
6. Akulah Musi
7. Memburu Matahari
8. Dongeng Afrizal
10. Jurnal Amper
11. Empat Amanat Hujan
12. Si Murai dan orang Gila
13. Hampir Sebuah Metafora
14. Koloid
15. Zane, Diary dan Cinta
15. Teka-teki Tentang Tubuh dan Kematian
16.
17.
18.






Kepada Cinta

Memuat dua judul:
1. Angin September
2. Love and Friendship


Alusi

Kumpulan puisi, beriisikan 88 puisi.


Kain Batik Ibu memuat satu cerpen berjudul Nol: Angka--Manusia

Katarsis, Sastra, dan Sutasoma

Saya pernah begitu terperangah menyaksikan penampilan Cok Sawitri dan Ayu Lakshmi di perhelatan konser koin sastra. Selain pembacaan puisi yang memukau, dipadukan dengan musik, nyanyi, dan tari, ada kalimat yang begitu menyedot perhatian saya. Yaitu ketika Cok mengutip kata-kata dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular mengenai definisi sastra (kurang-lebih) bening telaga, bayang bulan memantul sempurna di atasnya.

Saya juga pernah mengalami fase, memandang sastra dari sisi teknik semata. Mengutip De Poetica Aristoteles mengenai metafora sebagai dasar memandang keberhasilan sebuah puisi. Bahwa metafora lahir karena keterbatasan bahasa dalam merengkuh realitas, itu yang harus disepakati. Bahwa kemudian metafora membentuk ruang sebagai sebuah semesta—menghablur dari hanya sebuah pernyataan puitik, itu menjadi aksioma kedua.

Kritik sastra pada bakunya adalah perihal di atas teori dan sejarah sastra (dalam tiga unsur sastra). Akan tetapi, yang lamat saya sadari kemudian, kritik sastra m…

Hujan Menulis Ayam

Tentang Judul dan Tardji

Bila membaca judul di atas, ingatan kita akan tersengat oleh kumpulan cerpen milik Tardji berjudul sama. ‘Kebesaran’ Sutardji Caldzoum Bahri tentu tidak dibangun semata-mata dari hanya kredo mantra atau upayanya melepaskan diri dari pendefinisian leksikal—kata-kata dijungkirbalikkan sedemikian rupa hingga mereka memiliki definisi tersendiri yang bebas, mandiri, atau tidak terikat logika. Tardji, barangkali, mengembalikan pengertian kata sebagai wahyu—bahwa wahyu/kehendak Ilahiah tidak mungkin terperangkap dalam ruang dan waktu. Kata-kata (sebagai cerminan kata-kata yang berasal dari Tuhan) itu tidak hanya dinamis, tidak hanya beragam pemaknaan, tetapi juga memiliki fungsi hermeunatis: penemuan dan seni.

Namun, judul ini tak hendak membahas Tardji dan kredonya. Judul ini juga bukan ingin menelaah kumpulan cerpen Hujan Menulis Ayam dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Judul ini hanyalah sebuah pintu dari kedinamisan bahasa, pola-pola yang terbentuk se…

Simbiosis (Sumatera Ekspres. 30 Oktober 2011)

Simbiosis

Aku ingin membagi setengah jantungku, untukmu. Dan harga yang kuinginkan dari itu adalah kau menjadi sebelah sayapku. Sebab sayapku tak lagi dua, hingga aku tak lagi bisa terbang sempurna. Sebab sayapku tinggal sebelah. Sebelah satunya telah patah. Dan sebab aku juga tahu, sayapmu juga tinggal sebelah. Juga telah patah. Tidak ada salahnya bukan jika kau menjadi sebelah sayapku? Hingga kita bisa terbang bersama, berdua, kemana pun kau dan aku menginginkan.



“What I need is to be needed, what I loved is to be loved.”

Aku berterima kasih kepadamu karena telah membuatku berpikir kau membutuhkanku. Aku tidak pernah benar-benar tahu, angin apa yang membawamu ke hadapanku, dan menggodamu untuk membuka dirimu di hadapanku. Tak perlu dua kali kau tanya, aku tak merasa terganggu. Aku benar-benar menyukaimu. Menyukaimu karena telah membuatku berpikir kau membutuhkanku.

Aku ingin sekali bisa mencintaimu. Kau percaya? Atau malah tertawa geli mengelus kepalaku, dan berkata bahwa ucapanku…

Dingin, Couplet de Folie

Kepada Dingin


ingin sekali aku mengunyah gigil

yang sekian malam mengepungku

seakan-akan sudah minim jalan

kembali, genangan hujan musim lalu

biarlah dia menyamarkan air mata

milikmu

kita hanya bisa basah

sambil mendekap kenangan

masing-masing



Couplet de Folie


Tinggalkanlah aku sendiri, bayang-bayang
telah mencari kekasihnya

Di dadaku ada lubangnya, mulanya kukira
sebutir peluru, tapi bekas bibir perempuan

aku tak tahu kapan aku jatuh cinta,
kepada siapa aku mencintai

Kutatapi tegak tiang lampu taman, agak
condong ke kanan. Betapa tak rela

cahaya bulan mampu memantul di kolam
ikan-ikan berpacaran dan saling memagut

Tuhan, kenapa ada rasa bahagia?

(2011)

Bulan Kusut Api

Bulan Kusut Api
Pringadi Abdi Surya
dimuat pertama kali di annida-online.com


Pungguk merindukan bulan

Sebagaimana mestinya, sebagian besar laki-laki percaya perihal jatuh cinta pada pandangan pertama. Sementara sisanya memilih berpendapat bahwasanya cinta itu adalah proses, setelah mengalami penjajakan tertentu yang menimbulkan rasa aman, nyaman dan kepercayaan.

Malam tadi, bulan dilingkari kubah raksasa. Ia nampak seperti telur mata sapi yang digoreng matang sempurna dengan minyak yang bukan jelantah sehingga tak ada noda yang menghiasi putihnya yang selama ini didzalimi oleh mitos. Bahwa makan putih telur itu tidak ada gunanya. Yang paling bergizi adalah bagian yang berwarna kuning. Padahal sebaliknya, kuning telur justru mengandung kolesterol yang tinggi!

Orang-orang pintar berkepala plontos menyebutnya haloo, yang memang lebih populer untuk matahari – sejenis fenomena optik yang terjadi akibat adanya es dalam awan sirus yang dingin. Biasanya awan ini terletak pada ketinggian 5–10 km…

Hujan Terakhir dalam Ingatan

Aku sebenarnya tak pernah rela, membiarkan tubuhmu
dipeluk musim kemarau. Debu-debu beterbangan
bermimpi menjadi burung, mengepakkan sayap, menanti
cahaya lindap. Seringkali aku gagal mendekap bayangan
yang bosan berjalan di belakang. Kupandangi dia, tak
ada balasan: Hidup seperti bertepuk sebelah tangan.

Aini, aku tak ingin terbakar keputusasaan
mengingat hujan terakhir yang kulihat--mungkin
tangismu.

Sajak Subagio Sastrowardoyo

Kampung

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.


Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.

Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.





Sajak Yang Dewasa



sajak yang dewasa
sudah tak peduli
apakah aku menangis atau ketawa

di muka cermin
aku tak mengenal lagi
ia bayangan siapa

setiap hendak kutangkap
ia lolos dari dekap

tak mau menampung rasa

di luar jamah
ia sebagian dari semesta
satu dengan suara manusia

setelah ia dewasa
aku tak punya kuasa
maka kubiarkan dia ber…

Kangen, Rendra

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
Aku tungku tanpa api.

Pada Saat Kucingku Wafat

Kemudian, yang kudengar ia telah wafat dengan
mata limaunya yang sendu. Lewat
surat, kututipkan air mataku yang kelewat asin
tercampur ombak selat Sumba. Tidak seharusnya
kematian datang begitu cepat. Padahal
pesawat-pesawat begitu sering terlambat berangkat
dan para kekasih kerap gagal memenuhi janji
menjemput pasangannya dengan gaya rapi,
mengantarkannya ke salon, ke mal--membelanjakan
seluruh isi tabungan. Kucingku bak kekasihku
dan kami berhubungan jarak jauh. Sesekali
kutelepon ia, demi mendengar meongnya yang lucu.
Sekadar merindukan bulu-bulunya yang rontok
di pangkuanku. Kau harus percaya, ia lebih setia
dari banyak manusia yang sering pura-pura lupa
atau tuli ketika Kekasihnya memanggil di lima
waktu. Waktu baginya adalah semangkuk susu
dan tulang-tulang ikan, sisa makanan sang Tuan.

Ezra Pound

The Return


See, they return; ah, see the tentative
Movements, and the slow feet,
The trouble in the pace and the uncertain
Wavering!

See, they return, one, and by one,
With fear, as half-awakened;
As if the snow should hesitate
And murmur in the wind,
and half turn back;
These were the "Wing'd-with-Awe,"
inviolable.

Gods of that wing├Ęd shoe!
With them the silver hounds,
sniffing the trace of air!

Haie! Haie!
These were the swift to harry;
These the keen-scented;
These were the souls of blood.

Slow on the leash,
pallid the leash-men!




Ballad of the Goodly Fere


Simon Zelotes speaking after the Crucifixion. Fere=Mate, Companion.

Ha' we lost the goodliest fere o' all
For the priests and the gallows tree?
Aye lover he was of brawny men,
O' ships and the open sea.

When they came wi' a host to take Our Man
His smile was good to see,
"First let these go!" quo' our Good…

Dua Puisi Pringadi Abdi Surya di Akulah Musi [Buku Puisi Pertemuan Penyair Nusantara V, Palembang]

Beberapa Catatan Sebelum Ia Pulang ke Indonesia

I.

Ia sempat mengetukkan sepatunya ke batu, seakan-akan laut akan terbelah. Di belakangnya orang-orang meributkan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Kayu memang barang langka meski bisa patah kapan saja. Ia merasa dadanya pun terbuat dari kayu, sebagian sudah lapuk, sebagian yang lain sedang diintai oleh rayap yang kehilangan rumah,

dan amarah berlenyapan. Berubah menjadi burung-burung. Ia tahu mereka akan kembali ke kandang saat cuaca buruk. Saat badai menyerang gurun pasir dan piramida-piramida tak lagi berbentuk limas bersegi.

Ia mencoba lagi, mengetuk-ngetukkan sepatunya ke atas batu. Di belakangnya orang-orang mulai saling melempar sepatu masing-masing. Di depannya gelombang bersiap pasang.


II.

Ketika Tuhan mengutus Musa, ia masih belum bersekolah dan tak mengenal sejarah. Ia selalu iri manakala para tetangganya memakai seragam bendera, lalu memamerkan lagu Indonesia Raya dengan sumbang, berdiri dan hormat sambil sesekali menaha…

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …

Cinta Pertama

Tiba-tiba Kau sentuh ingatan, bau garam
pun menyengat tiba-tiba. Sajian ombak
seperti tarian selamat datang,
menyambut--menyebut nama Kau yang baru
saja kutulis di pesisir. Ada yang berdesir
lembut, kupikir Kau sedang menggelar jalan
kembali, berupa karpet merah Timur Tengah.
Banyak hal yang ingin kusebut, namun telah
Kau kunci mulut. Jantungkulah yang berdenyut,
kehilangan cinta pertama seperti ketinggalan
kapal terakhir sebelum senja. Gerimis
menetes setelahnya, dan mencoba memenuhi
cakupan telapak tangan.

Acep Zamzam Noor Lagi

Bagian dari Kegembiraan

1
Jalan di belakang stadion itu sudah lama tidak kulewati
Mungkin madrasah yang dibangun persis depan kamarmu
Sekarang sudah rampung. Aku teringat pohon beringin
Yang berdiri anggun dekat taman kanak-kanak dan pos ronda
Setiap pulang mengantarmu aku sering kencing di sulur-sulurnya
Yang rimbun. Sepi terasa menyayat jika kebetulan lewat:
Ingin sekali minum jamu kuat, tapi kios yang biasa kita kunjungi
Sudah tidak nampak di sana

2
Volkswagen yang bentuknya mirip roti tawar itu masih kusimpan
Di garasi. Aku belum berniat menjualnya meski dengan harga tinggi
Di badannya yang mulai karatan masih tersimpan ratusan senja
Yang pernah kita lewati bersama. Di joknya yang mulai rombeng
Masih melekat ribuan pelukan dan ciuman. Catnya belum kuganti
Aku masih ingat bagaimana dulu kau ngotot memilih hijau lumut
“Biar mirip seragam tentara,” ujarmu. Tapi mobil yang usianya
Delapan tahun lebih tua darimu atau tiga belas tahun di bawahku itu
Akhirnya kulabur dengan hitam. Kini m…

Acep Zamzam Noor

Puisi-puisi Acep Zamzam Noor


KAU PUN TAHU


Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi kerinduan
Bintang-bintang yang kuburu
Semua meninggalkanku
Lampu-lampu sepanjang jalan
Padam, semua rambu seakan
Menunjuk ke arah jurang

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi nyanyian
Suara yang masih terdengar
Berasal dari kegelapan
Kata-kata yang kusemburkan
Menjadi asing dan mengancam
Seperti bunyi senapan

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi keindahan
Kota telah dipenuhi papan-papan iklan
Maklumat-maklumat ditulis orang
Dengan kasar dan tergesa-gesa
Mereka yang berteriak lantang
Tak jelas maunya apa

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi persembahan
Aku sembahyang di atas comberan
Menjalani sisa hidup tanpa keyakinan
Perempuan-perempuan yang pernah kupuja
Seperti juga para pemimpin brengsek itu –
Semuanya tak bisa dipercaya

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Juga tak ada lagi yang perlu dinyatakan
Pidato dan kentut sulit dibedakan
Begitu juga memuji dan …

Perjalanan, 1

Menunggu di Kayangan, Kau berasumsi bukit yang tinggi itu
adalah Gunung Rinjani. Dan laut yang seperti tak berbatas
akan mengantarkanmu ke Antartika. Tidak perlu cemas, suatu
saat kita akan kembali ke Senggigi, bermain pasir pantai
dan berendam di dalam senja yang sedikit malu-malu. Itulah
cinta, lautan kini sedikit berombak tapi kuajak Kau berdiri
di geladak. Menikmati angin dan waktu yang pelan merambati
lekuk Kau. "Bagaimana Poto Tano nanti?" Bertanyalah seolah
tak ada jawaban yang dapat kuberikan. Kapal belum berangkat,
orang-orang duduk--beristirahat. Kita berupa inedia, memakan
cahaya yang kian raib itu.

Jompong Suar

1

Karena mulut adalah sarang ular: Tak dibilang
jadi binasa, dibilang pun jadi bencana.

Bilamana tak Kau dapatkan bambu berbatang
perak, berdaun emas, berbunga intan,
akan kualamatkan seribu luka yang dititipkan
sejuta penyair di ujung tombak ke dada Kau

dari lubangnya akan keluar Kekasih dengan tergesa
seperti tak akan kembali


2

Tinggimu hanya sehasta, empat ruas, empat pula buku.

Sebuah tangkai di tiap buku. Sebuah daun di tiap
tangkai. Darinya pun dian bermunculan dalam empat
kuncup. Tapi,

tak mampu menyaingi Mandang Wulan yang seperti putri.

Halnya aku dan penjagaan raksasa betina yang kesepian
tak mengenal cinta apalagi rindu. Kutinggalkan gua
yang bersarang laba-laba.


3

Pada suatu Desember, angin mengekalkan ingatan.
Barangkali akhir tahun ini akan tersaji kisah
yang bahagia,

ketika masing-masing kuncup menjelma api, bersemburan,
juga tanah yang ingin kembali ke tanah. Berapa
rindu yang dipendamnya, tercetak di batu nisan?

Aku kekekalan. KekekalanMulah kenangan.

Sabalong Samalewa

Ada beringin berakar lima. Barangkali menjangan
pernah berteduh di bawahnya. Menunggu buah jatuh
dan takkan jauh. Begitu pun jalan ke Seketeng,
yang tak mungkin Kau anggap enteng. Kita diberkahi

sepasang kaki, sepasang tangan, sepasang pendengaran
dan penglihatan. Tetapi Kau menyanggah bilamana
hanya ada satu dada, yang siap menampung jutaan gulung
angin yang turun dari gunung-gunung. Sebab berapa

langkah yang telah dititipkan, untuk suatu hari
kembali. Jika saja di jalan-jalan yang sepi, udara
kian mengaribi keleluasaanMu; seekor burung gereja
mungkin pula tengah membuat sarang di dahan-dahan itu.

Seketeng, Kenangan

Tidak perlu Kau tenteng, luka telah akrab dengan
Pasar Seketeng. Berapa pikir yang telah ditinggalkan,
Kau kenangan, suatu hari akan dijaja laik Rombengan.

Waktu laun habis, terkikiskan tapal sepatumu. Tidak
ada bioskop, mal, ancol, kapan Kau akan berhenti
dari perjalanan ke perjalanan, dari luka ke luka?

Pidato BJ HABIBIE yang Memukau, 1 Juni 2011

Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.

Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita m…