Skip to main content

Solilokui Kebebasan

I

Kebebasan berpendapat, mengungkapkan perasaan, tertuang
di gelas kopi ayah. Diaduk-aduknya pelan, sambil membaca
koran kemarin yang tak sempat dibacanya. Aku kira, kisah pi
ada di dalamnya, seorang pemuda terombang-ambing di atas

sekoci, menatap langit dan laut yang sulit dibedakan. Ia
begitu benci dan bosan, kematian telah jadi lelucon, ditonton
seperti menunggu nomor undian.

Ayah juga melarang kami menyalakan televisi, sebab ini 27 Juli—
pahlawan yang tak dikenal dibawa mati Toto Sudarto Bachtiar.


II

Ketika itu kuturut ayah ke kota, mencari bunga kantan.
Dipotong pada bagian yang lembut, dikelupas kulit yang keras.
O, demi salad ikan jantung pisang, kami mengutuk kemacetan.
Rumput yang terinjak mati, suatu hari akan menuntut balas.

Tapi siapa yang masih peduli kemanusiaan—kemerdekaan telah
tanpa cinta. Jalanan seperti mati, mengaduk-aduk isi dada.
Di sanalah ayah menyimpan gerimis—seekor rubah sedang

menangis kehilangan kekasihnya; seorang gadis bercerita
tentang padang rumput dan seekor burung di seberang jalan.

(2011)

*Puisi ini akan masuk dalam antologi Forum Sarbi

Comments

mantap gan artikelnya hebat euyyy :D
inverter said…
nice article gan :) menarik sekali untuk dibaca
iya nih artikelnya mantap nih bagus buat dibaca :DDD

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

And The Moon And The Stars And The World, Charles Bukowski

Long walks at night--
that's what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.




Dan Bulan dan Bintang dan Dunia
karya Charles Bukowski

Perjalanan panjang di malam hari--
sungguh baik buat jiwa:
melongok melalui jendela
menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan
mencoba menyingkirkan
suami-suami yang mabuk dan gila