Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2009

Pemilihan Duta Bahasa 2009 Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan

Jumat, 16 Oktober 2009

Pemilihan Duta Bahasa 2009 Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan

Pemilihan Duta Bahasa 2009 dalam rangkaian Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan telah dilaksanakan tanggal 6-7 oktober 2009. Koordinator kegiatan ini Dewi Sartika, M.Pd. mengatakan bahwa Duta Bahasa yang terpilih nanti akan mewakili wilayah Sumatera Selatan ke tingkat Nasional yang akan diselenggarakan di Pusat Bahasa. Krireria penilaian Duta Bahasa meliputi: 1) Tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia., 2) Tes Bahasa Inggris tertulis, 3) Presentasi makalah atau artikel ilmiah yang ditulis untuk keperluan lomba., dan 4) Wawancara lisan dari juri yang ditunjuk oleh panitia.

Materi Yang diujikan meliputi: Pengetahuan umum/potensi akademik, Pengetahuan kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah, Kecakapan bahasa Inggris secara lisan, serta Etika dan kepribadian. Dewan juri terdiri atas Dr. Indawan Syahri, M.Pd., Prof. Dr. Ratu Wardarita, M.Pd., dan Dr. Rita Inderawa…

Sebab yang Mungkin Tertinggal di Balik Jas Warna Coklatmu

mungkin hujan
mungkin puisi
atau nyala lilin yang menari-nari
membiaskan titik-titik air
kemarin
di matamu

sebuah kuiskah ini
tebak-tebakan
atau mengisi
teka-teki silang
antara ilalang
dan bunga talang?

aih

mungkin hujan
mungkin puisi
mungkin bajumu yang warna putih
bersembunyi
di balik jas warna coklatmu

seperti kulitku

seperti cat tembok rumahku

seperti cintaku
yang terjemur

matahari terik
siang tadi

Tentang Kubur dan Aroma Tuan yang Tertinggal di Reruntuhan

#1
Mungkin kita anjing pemburu. Mencium bau. Mencium aroma-aroma yang tersembunyi di balik amuk bumi. Mungkin juga cacing. Menggeliat ke sana kemari. Mangaduk-ngaduk tanah tempatmu berpijak, wahai Tuan, atau mungkin kuburmu yang pernah kau impi untuk kau gali sendiri?

Tetapi ternyata, kau tak perlu repot-repot menggali, bukan?

#2
Aromamu kesturi, Tuan? Atau mawar dan melati seperti lagu kanak-kanak yang sering kau nyanyikan dulu bersama kampung yang jauh di mata---jauh di hati?

Tetapi katamu, kau adalah sang pejalan. Kau adalah sang pengembara yang mencari jejak doa ibumu. Melempar galau dari surau-surau tua di belakang rumahmu?

Dan aroma tubuhmu, tidak lupa kau masukkan ke dalam kopormu, bukan?

#3
Tapi mungkin kami yang keliru. Kata orang-orang kubur dan aromamu tertinggal di reruntuhan ini? Terkubur bersama kata-kata yang sering kau ucapkan tentang bai’at perantauan, dan nyatanya kau kembali?

Aih, aih, kami mungkin anjing pemburu.
Mungkin juga cacing.

Mungkin juga

Kau?

(2009)

Tiga Sajak Buat Antologi Puisi Padang

Tentang Sebab Gempa Kemarin Itu
: Prof. Tsuboi

kalau begitu, bolehlah kami pergi ke pengadilan
demi menggelar persidangan, siapa sesungguhnya
yang bersalah atas gempa kemarin itu?

begini: kami telah letih dengan segala macam spekulasi
ada yang bilang ini adalah azab, atau kutukan, atau
peringatan karena kami telah tidak taat pada jam gadang
yang selalu berdentang lima kali itu?

ada pula yang bilang ini gara-gara pergeseran lempengan
di perut bumi. padahal kami tak bisa membayangkan
apakah perut bumi itu sama seperti perut kami? Buncit,
kerempeng, ataukah bersisi rata laiknya binaraga?

aih, ada lagi yang berani tampil beda. katanya ini semua
karena letak planet-planet tengah sejajar dengan bumi, mempengaruhi
aliran listrik dari kutub ke kutub? aih aih, padahal di sini saja
pemadaman listrik bisa tiga kali seminggu. pusing tahu!

nah, jadi begitu. daripada kami berdebat, sampai melontarkan
ayat-ayat, merapal mantra dan jimat, bahkan terkomit-komat
kita pergi ke pengadilan saja, dan kau jadi saksi ahlinya
bi…

Tentang Seseorang yang Tiba-Tiba Ingin Jadi Cerpenis

#1

Sudah lima dukun ia datangi tetapi kelima-limanya mengaku pikun setiap ia bertanya bagaimana cara cepat menjadi cerpenis. Tidak, sebenarnya dukun kelima malah tertawa-tawa, mengolok-ngolok sambil memamerkan gigi-giginya yang kuning---tidak pernah digosok. “Oi bujang, ngapo la kau tanyoke hal cak itu. Kau tu la punyo penis. Ngapo masih nak jadi cerpenis? Ia cuma bisa terperangah mendengarkan pertanyaan itu. Ia tidak habis pikir, padahal dukun ini ngakunya lulusan S1 sebuah perguruan tinggi negeri sampai ijazah kelulusannya dibingkai di ruang tamu dengan pigura beremas sepuh. Mungkin biar pelanggannya makin yakin dialah dukun terhebat di negeri ini, satu-satunya dukun bergelar sarjana. Perguruan tinggi negeri pula.

Sakum mulai kehabisan akal. Tinggal seminggu tenggang waktu yang diberikan Maemunah, gadis dari desa tetangga yang dicintainya itu, untuk membuatkannya sebuah cerpen sebagai mahar jika Sakum mau mengawininya. Apalah Maemunah itu, padahal sudah mau diberikan segala yang Sakum…

Tentang Ramalan di Kelas Geologi Itu

Tentang Ramalan di Sebuah Mata Kuliah Geologi Itu


#1
Tidak ada yang tahu: nasib mengantarnya
Ke sebuah ruang mata kuliah geologi itu

Meneliti batu, meneliti tanah
Sampai membuatnya lupa waktu

Tapi itu dulu, sampai ia menemukan sebuah skala
Yang meramalkan kematian dan penderitaan

#2
Ia tidak pernah percaya ramalan
Seperti anak-anak lain yang kerap membaca zodiak
Di majalah-majalah para remaja

Hei, hei… berapa tanggal lahirmu?

Tiba-tiba ia ingat: ia lupa
Pada tanggal lahirnya sendiri

#3
Dosennya mirip dengan Antonio Banderas
Datang ke ruang kelas membawa sebuah tas
Yang mungkin gitar, atau senjata berkaliber teras
Tapi mungkin juga seismograf
Yang ia ciptakan sendiri---semalam
Sambil membuat ramalan lain
Tentang skala getaran yang akan terjadi

#4
Suatu hari, Sumatera akan terbagi
Gempa dahsyat melebihi yang lalu dan kini
Retak pulau, lahirlah selat

Ia pikir dosennya sedang bercanda
Sebab suatu saat beliau pernah berhasrat
Untuk menjadi seorang pendongeng
Tentang kisah ketimuran, di dunia Barat

#5
Tapi kisahnya di kel…

Tentang Perasaannya Sendiri

#1

Ada perasaan yang menyusun sendiri petualangannya

obsesi masa kecilnya kah ia?
bermimpi menjadi sutradara
mencipta film-film baru

tentang perasaannya sendiri?

#2

Akunya: ia suka drama korea
yang isinya airmata semua

dulu sekali, ia pernah jatuh cinta
pada un so, gadis bermata saphire
yang harus mati, karena kanker darah

penasaran ia dengan darahnya
apakah merah juga?

ah, tiba-tiba ia teringat dengan bendera.

#3

baru saja ia membeli film indonesia
ayat-ayat cinta, dan laskar pelangi

sebab malam tadi ia baru bermimpi
tiba-tiba ia jadi habiburrahman el shirazy

tapi setelah shubuh ia berkaca di jendela
kok malah makin mirip andrea hirata?

#4

siang ini, ia duduk di pinggir telepon
menunggu dering yang bunyinya merdu
seperti lagu indonesia raya itu
yang liriknya tak sengaja ia lupakan

tapi dua jam sudah berlalu
teleponnya tak kunjung memerdu

ah presiden sialan, kata kau
aku akan jadi menteri perfilman

#5

tiba-tiba saja sudah maghrib

ia ingat hikayat tua, saat ia masih kecil:

pulang ke rumah, gelar sajadah
jangan keluyuran…

Pelukis, Ksatria, dan Kuda Putih Itu

kanvas:
mata kau
yang awas
dan alismu
yang kuas
mungkin adalah
rajam
atau
tiang gantungan
bagi kepalaku
yang tunggal
hendak kaupenggal

tapi
aku ingat kata kau
yang percaya
sebelum
ada ksatria
membawa pedang
menusuk aku
di jantung

tetapi mungkin pancasona
atau rawarontek
yang membuatmu ingat
hari-hari
sekolahmu
dulu sekali
saat sejumlah lelaki
beradegan
atau berparodi
pura-puranya ksatria
yang memacu kuda putih

tetapi tidakkah kautahu
ada istal di belakang rumahku
yang diam-diam kusiapkan
ketika sepasang sepatu kaca
sudah kaukenakan
di kakimu

Tentang Setangkai Mawar Yang Tersisa di Vas Ruang Tamu Kau Itu

Aku benci pelajaran bahasa Indonesia, terutama mengarang
dan menulis puisi. Seperti ketika aku disuruh menganalogikan
kesepian yang akut, tentang bagaimana rasanya kehilangan,
patah hati, dan dikhianati orang yang kita cintai

Aku duduk di ruang tamu, memikirkan kata yang purba untuk
mewakilkan semuanya. Bulan dan kulit jeruk mungkin serasi,
kecut dan sunyi, bulat tetapi tak rapi. Tapi kopi pahit malah
membuat dahiku berkernyit, memikirkan kenapa setiap cinta

yang kujalani dengan kesungguhan selalu berujung penolakan?
Dan kulempar gumpalan kertas keseribu kalinya, mencoba
mengingat setangkai mawar hitam yang pernah aku simpan
diam-diam dari sebuah vas di ruang tamu kau itu

ruang tamu yang membuat aku heran, sebab ada foto lelaki yang mirip
guru bahasa Indonesia aku yang menyuruh aku membuat puisi ini.

Kalaulah putih tak pantas untukmu, lantas kemana Harus kucari kafan ungu di hari kematianmu?

Jejak-jejak pasir dan jam dinding kita adalah laut
Yang tiba-tiba seperti hendak merebut setiap kenangan
Dari seraut wajah yang kau goreskan di atas kanvas itu

Apalah aku, di lubang dua kali satu itu, ketika kau (dan aku)
Tiba-tiba berpikir hendak menjadi ulat, menjadi belatung
Daripada hidup terkatung-katung dan saling meninggalkan

Tapi di sebuah kalender yang kau letakkan di atas tempat tidur
Kau, tertanggal sebuah angka, seperti bentuk jam dinding
Yang sering kau tanyakan padaku: tentang detik ke berapa

Aku hendak mencuri sepasang rindu dari sepasang dada kau.

Sajak-Sajak Afrizal Malna

Kamar yang Terbuat dari Laut

Masa kanak-kanakmu terbuat dari sebuah pulau, Ram, di Tomia, Buton. Setiap malam, di antara suara batukku, demam yang tinggi, aku mendengar nafas laut. Laut yang tak punya listrik. Laut yang menyimpan masa kanak-kanakmu. Sebuah kamar yang dihuni orang-orang Bajau. Mereka, laut, kamar dan orang-orang Bajau itu, bercerita tentang …

Lidahku jatuh dekat ujung sepatuku. Laut memiliki sebuah kamar di atas bukit Kahiyanga. Ikan-ikan dan batu karang juga punya sebuah kamar di situ. Aku harus menggunakan lidahku sendiri untuk membukanya. Dan suara batuk, dan demam. Dan pulau yang bising oleh pengendara-pengendara ojek. Kamarmu itu, tempat bahasa melompat-lompat seperti ada api yang terus membakarnya.

Setiap malam, aku seperti mendengar nafas laut, ikan lumba-lumba yang sedang menidurkan anaknya … wa ina wandiu diu … malam tak pernah memukuli anak-anaknya di dasar laut. Malam tak pernah membuat dirimu terus menangis setelah bangun tidur. Lalu pulaumu itu, Tomia, mengam…

Sajak-Sajak Sapardi Djoko

RUANG INI



kau seolah mengerti: tak ada lubang angin

di ruang terkunci ini



seberkas bunga plastik di atas meja,

asbak yang penuh, dan sebuah buku yang terbuka

pada halaman pertama


kaucari catatan kaki itu, sia-sia



CATATAN MASA KECIL, 4


Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua

hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar

dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol.

Dan setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat

Kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam

Ketika ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di

Halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya

Dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat

Sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.



AUBADE





percik-percik cahaya. Lalu kembali hijau namamu,

daun yang menjelma kupu-kupu, ketika anak-anak bernyanyi—

melintas di depan jendela itu

lalu kembali…

Pringadi Abdi Surya, Duta Bahasa Sumatera Selatan 2009

Aku Ingin Mencurahkan Beberapa Hal Saja

1

aku akan muncul di koran, seakan
bintang masa depan yang dielu-elukan

padahal aku ingin memegang senjata,
mengusir penjajah, menurunkan kuasa
pemerintah yang sudah tak benar usahanya
seperti mahasiswa yang barapi-api
diculik, ditembak mati, dan hilang nama

sehingga aku tetap akan muncul di koran
sebagai salah satu korban tragedi '98

2

tapi selempang itu disarungkan menyilang ke kiri
padahal selangkah ke kiri lagi, aku akan jadi
lupa diri. lupa jati. lupa pada susi. pada santi.
yang namanya lebih dikenang dari aku.

3

aku tak paham tentang sungai musi
selain betapa kuning cokelatnya
seperti batang-batang emas yang dicuri
dari timika. dari papua dengan
kerugian yang tak terhingga

4

aku jadi duta bahasa katanya
mewakili provinsi, mewakili harga diri

tetapi aku cuma punya puisi
cuma punya hati yang seakan-akan
ingin dielu-elukan

dengan nama yang ditulis koran-koran
sebagai salah seorang pionir perjuangan

(2009)

Semacam Puisi atau Curahan hati

Aku Akan Menjelaskan Beberapa Hal Saja
: dd

1
Kau pasti akan bertanya: kenapa ada rasa sayang
Sementara kita belum pernah menukar pandang,
belum pernah duduk berdua, menonton film-film
bioskop yang kata kau kadang terlalu bising, terlalu
asing bagi telinga kau yang penuh melodi kenang itu
tentang lagu-lagu lain yang terdaftar di playlist kau

mata kau, menjelaskan itu, kepada aku yang tak pernah
bermain dadu, menebak angka yang cuma itu-itu: dua, tiga,
enam, satu. ah, tiba-tiba saja aku menawarkan kata aku:
“boleh aku membuatkan puisi untukmu?” tawar aku di
suatu saat, ketika aku menyadari ada kata-kata di dalam
tubuh kau, di mata kau yang menanti aku menuliskannya.

lalu di suatu hari yang lain, hari yang aku ingat, betapa debar
telah begitu hangat untuk mendengar suara kau, tangis kau,
dan keluh kau dalam telepon-telepon aku. aku sudah jatuh
cinta kepada kau. dan ingin mencintai kau dengan diam aku

tapi, kau mawar, bukan? mawar dengan kelopak yang membuat
dawai harpa orpheus itu putus. mawar dengan sejut…