Skip to main content

Tentang Setangkai Mawar Yang Tersisa di Vas Ruang Tamu Kau Itu

Aku benci pelajaran bahasa Indonesia, terutama mengarang
dan menulis puisi. Seperti ketika aku disuruh menganalogikan
kesepian yang akut, tentang bagaimana rasanya kehilangan,
patah hati, dan dikhianati orang yang kita cintai

Aku duduk di ruang tamu, memikirkan kata yang purba untuk
mewakilkan semuanya. Bulan dan kulit jeruk mungkin serasi,
kecut dan sunyi, bulat tetapi tak rapi. Tapi kopi pahit malah
membuat dahiku berkernyit, memikirkan kenapa setiap cinta

yang kujalani dengan kesungguhan selalu berujung penolakan?
Dan kulempar gumpalan kertas keseribu kalinya, mencoba
mengingat setangkai mawar hitam yang pernah aku simpan
diam-diam dari sebuah vas di ruang tamu kau itu

ruang tamu yang membuat aku heran, sebab ada foto lelaki yang mirip
guru bahasa Indonesia aku yang menyuruh aku membuat puisi ini.

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<