29 March 2009

Bandung In Love

Apa yang kulihat di Bandung adalah
Zane dengan kedua bola matanya
yang coklat dan senyumnya yang tak
pernah berhenti mengembang untukku

entah berapa sajak yang diam-diam kusimpan
di balik lengan untuk kemudian kubisikkan
di telinganya pada setiap waktu bersama

meski

hujan dan hujan tak berhenti menyampaikan
kenangan tentang betapa masa lalu begitu sulit
untuk dilupa; tentang bagaimana manisnya kecupan
integral lipat tiga masih terasa di jemariku yang
masih genap sepuluh.


(Ah, Bandung tak berubah. Ada Kampanye PKS hari ini
ada Balubur yang belum selesai dibangun. Ada markas
tempat aku baca komik yang entah kenapa tutup hari ini
sehingga aku memutuskan untuk duduk di depan komputer
berselancar di dunia maya

dan Zane

Ia sedang pergi ke Pasteur dengan ibu yang melakukan pengobatan herbal
terhadap dirinya; senang melihatnya akhir-akhir ini aktif di kegiatan sosial
meski program untuk TA-nya belum kelar. Tapi doakan saja ia wisuda Agustus kelak
dan aku menjadi pendamping wisudanya

dan menikah setelah itu. )

26 March 2009

RAGANJING

Kautahu, aku tidak pernah sekesal ini sebelumnya. Dari korban, posisiku berbalik menjadi tersangka. How annoying they are. Sial, aku kena trik psikologi terbalik.

Itu satu.

Kedua, Sungging Raga adalah sudah anjing di mataku, kedudukannya sama dengan PK (Penjahat Kelamin) yang menjual ayat-ayat Tuhan untuk mendapatkan cinta dan kepentingannya, yang sudah sering saya temui di forum-forum dunia maya manapun.

Ketiga, saya tidak mengerti masalah khilafah, dan tidak mau tahu urusan itu.

Keempat, saya tidak benci salaf. Hanya benci oknumnya saja seperti Mr. Sungging Raga yang sudah amat saya hinakan itu.

Kelima, akhirnya mereka menghapus saya dari list friends mereka. Tanpa pernah tahu, saya mempertimbangkan tidak menghapus mereka karena mereka yang meng-add saya dulu. Saya menghormati saja.

Kesimpulan:

Kepada RAGANJING yang terhormat, malulah pada diri Anda. Malulah pada status kesalafan Anda. Malulah betapa berat tanggungjawab ketika sudah membawa salaf ke ruang publik, sebab salaf adalah hal paling elementer yang tak boleh dinodai dengan tindakan macam ANDA.

Kita memang tidak pernah bertemu. Tapi saya berjanji kalau kita bertemu, saya akan membacakan puisi RAGANJING ini buat anda.

Saya merasa kesal secara double kepada Anda karena Anda sudah membuat saya marah beneran untuk pertama kalinya sejak saya meninggalkan aktivitas dunia maya dulu di bidang ini(dan kembali lagi).

RAGANJING

1/
Ini tubuh. Ini raga. Bukan anjing yang
Begitu suka mengejar kucing dan mengangkat
Sebelah kaki ketika kencing.

Ini tubuh, bahkan, pernah, menjual ayat-ayat Tuhan
Dengan senyum setan yang kegirangan menikmati
Betapa indah tubuh perempuan untuk pelampiasan

Dengan sikap bijak, ini tubuh, bertingkah
Menjadi protagonist bagi muka-muka polos nan lugu
Dan menunjukkan wajah setan kami ketika
Bertemu dengan musuh yang kami labeli
Dengan KESESATAN.

2/
Ini tubuh. Ini raga. Bukan anjing
Yang suka melolong di purnama dan
Mengaing bila kaulempar dengan batu

Ini tubuh, bahkan, pandai berteriak-teriak
“Kami salaf. Kami salaf. Manhaj paling haq.”
Tanpa pernah introspeksi, betapa diri hina
Tak punya arti (bahkan untuk sekedar menceramahi diri).

Sampai ada lelaki yang begitu hobi mengorek hidung
Dan begitu gelap (gelap yang kami takuti)
Meneriaki kami anjing dan sampai meludahi kami
Tepat di depan jemaat yang sudah kena doktrin

Kami lari saja. Lari sejauh-sejauhnya.
Takut pada lelaki yang suka mengorek hidung
Dan melabeli dirinya dengan KEBEBASAN itu.
Kautahu, aku tidak pernah sekesal ini sebelumnya. Dari korban, posisiku berbalik menjadi tersangka. How annoying they are. Sial, aku kena trik psikologi terbalik.

Itu satu.

Kedua, Sungging Raga adalah sudah anjing di mataku, kedudukannya sama dengan PK (Penjahat Kelamin) yang menjual ayat-ayat Tuhan untuk mendapatkan cinta dan kepentingannya, yang sudah sering saya temui di forum-forum dunia maya manapun.

Ketiga, saya tidak mengerti masalah khilafah, dan tidak mau tahu urusan itu.

Keempat, saya tidak benci salaf. Hanya benci oknumnya saja seperti Mr. Sungging Raga yang sudah amat saya hinakan itu.

Kelima, akhirnya mereka menghapus saya dari list friends mereka. Tanpa pernah tahu, saya mempertimbangkan tidak menghapus mereka karena mereka yang meng-add saya dulu. Saya menghormati saja.

Kesimpulan:

Kepada RAGANJING yang terhormat, malulah pada diri Anda. Malulah pada status kesalafan Anda. Malulah betapa berat tanggungjawab ketika sudah membawa salaf ke ruang publik, sebab salaf adalah hal paling elementer yang tak boleh dinodai dengan tindakan macam ANDA.

Kita memang tidak pernah bertemu. Tapi saya berjanji kalau kita bertemu, saya akan membacakan puisi RAGANJING ini buat anda.

Saya merasa kesal secara double kepada Anda karena Anda sudah membuat saya marah beneran untuk pertama kalinya sejak saya meninggalkan aktivitas dunia maya dulu di bidang ini(dan kembali lagi).

RAGANJING

1/
Ini tubuh. Ini raga. Bukan anjing yang
Begitu suka mengejar kucing dan mengangkat
Sebelah kaki ketika kencing.

Ini tubuh, bahkan, pernah, menjual ayat-ayat Tuhan
Dengan senyum setan yang kegirangan menikmati
Betapa indah tubuh perempuan untuk pelampiasan

Dengan sikap bijak, ini tubuh, bertingkah
Menjadi protagonist bagi muka-muka polos nan lugu
Dan menunjukkan wajah setan kami ketika
Bertemu dengan musuh yang kami labeli
Dengan KESESATAN.

2/
Ini tubuh. Ini raga. Bukan anjing
Yang suka melolong di purnama dan
Mengaing bila kaulempar dengan batu

Ini tubuh, bahkan, pandai berteriak-teriak
“Kami salaf. Kami salaf. Manhaj paling haq.”
Tanpa pernah introspeksi, betapa diri hina
Tak punya arti (bahkan untuk sekedar menceramahi diri).

Sampai ada lelaki yang begitu hobi mengorek hidung
Dan begitu gelap (gelap yang kami takuti)
Meneriaki kami anjing dan sampai meludahi kami
Tepat di depan jemaat yang sudah kena doktrin

Kami lari saja. Lari sejauh-sejauhnya.
Takut pada lelaki yang suka mengorek hidung
Dan melabeli dirinya dengan KEBEBASAN itu.

Asmiranda(h)

Aku lebih suka Asmiranda ketimbang Nikita Willy. Sungguh, mungkin aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya.

Tapi, kautahu, aku lebih memilih mati ketimbang Asmiranda sekalipun. Asmiranda memang cantik dan indah untuk dinikmati. Tapi mati lebih nikmat bukan? Aku akan kehilangan semua beban? Aku akan kehilangan segala keangkuhan? Tidakkah kau berpikir sama?

Tapi, sebelum mati, aku ingin bercinta dulu dengan Asmiranda. Sebab aku masih perjaka. Aku ingin tahu rasanya kawin sebelum aku mati. Sebab katanya kawin itu nikmat. Apalagi dengan Asmianda, yang cantik itu. Putih kulitnya. Mancung hidungnya. Dan bibirnya. Ah, aku tak tahan jika aku membayangkan bibirnya yang tampak lembut itu. Setidaknya untuk kukecup.

...

Asmiranda. Semalam aku bertemu dengannya di alam mimpi. Tapi kami tidak bercinta sampai pagi. Kami hanya berkenalan, sebatas nama, setelah itu aku katakan padanya: aku ingin mati. Dia tidak bertanya kenapa. Tapi aku bilang untuk kedua kalinya: aku ingin mati. Sempat berpikir apakah Asmiranda itu tuli. Ah tidak, cantik-cantik tak mungkin Tuli. Asmiranda adalah sosok sempurna, setidaknya di mataku.

Asmiranda memanggilku lagi malam ini, tentu saja di dalam mimpi. Rindu katanya. Rindu dengan cerita-ceritaku yang ingin mati. Tapi dia masih diam saja. Tak menanggapi secara berarti. Bukan berarti aku bosan bercerita. Aku teruskan ceritaku padanya, aku ingin mati karena aku sudah merasa cinta itu tak berarti. Tak ada lagi wanita yang bisa dipercayai. Tak ada lagi tempat bagiku untuk bisa meletakkan setengah jiwaku yang sudah sekarat ini. Anehnya dia malah tersenyum. Dan aku menunggunya untuk berkata-kata sesuatu, menanggapiku. Tiba-tiba ia hanya bilang rindu dan menyuruhku untuk datang esok malam. Karena sekarang telah mendekati pagi. Aku harus pulang katanya.

Aku sudah hafal alamatnya di dunia mimpi. Ini sudah malam ketiga. Akhirnya dia bercerita. Asmiranda juga ingin mati. Sama sepertiku. Aku bilang jangan. Asmiranda tidak boleh mati. Akan banyak lelaki yang sedih hatinya. Murung harinya. Sebab Asmiranda adalah matahari bagi kami, penggemarnya, yang akan selalu bersinar setiap hari. Asmiranda menangis malam itu. Aku tidak tahu alasannya kenapa dia ingin mati. Aku tidak berani bertanya itu. Aku hanya bisa mendekapnya. Dia pun membalas dekapanku. Tiba-tiba aku tak bisa menahan hasratku mengecup bibirnya itu. Dia tidak menolak. Dia membalas kecupanku. Sampai aku tak tahu lagi harus berkata apa, kami menikmati malam itu. Benar-benar menikmati malam itu. Sampai pagi.

...

Tetapi, kami menikmatinya sampai terlalu pagi. Aku telat pulang. Ketika di depan pintu kulihat televisi, berita selebriti. Asmiranda mati. Kautahu, Asmiranda mati! Dan aku mendengar isak tangis di rumahku. Tepatnya dari kamarku, aku melihatku ditangisi. Kautahu, aku juga mati. Aku benar-benar mati.

(Tapi tak apa lah, setidaknya aku tahu rasanya kawin, dengan Asmiranda pula.)

Asmiranda(h)

Aku lebih suka Asmiranda ketimbang Nikita Willy. Sungguh, mungkin aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya.

Tapi, kautahu, aku lebih memilih mati ketimbang Asmiranda sekalipun. Asmiranda memang cantik dan indah untuk dinikmati. Tapi mati lebih nikmat bukan? Aku akan kehilangan semua beban? Aku akan kehilangan segala keangkuhan? Tidakkah kau berpikir sama?

Tapi, sebelum mati, aku ingin bercinta dulu dengan Asmiranda. Sebab aku masih perjaka. Aku ingin tahu rasanya kawin sebelum aku mati. Sebab katanya kawin itu nikmat. Apalagi dengan Asmianda, yang cantik itu. Putih kulitnya. Mancung hidungnya. Dan bibirnya. Ah, aku tak tahan jika aku membayangkan bibirnya yang tampak lembut itu. Setidaknya untuk kukecup.

...

Asmiranda. Semalam aku bertemu dengannya di alam mimpi. Tapi kami tidak bercinta sampai pagi. Kami hanya berkenalan, sebatas nama, setelah itu aku katakan padanya: aku ingin mati. Dia tidak bertanya kenapa. Tapi aku bilang untuk kedua kalinya: aku ingin mati. Sempat berpikir apakah Asmiranda itu tuli. Ah tidak, cantik-cantik tak mungkin Tuli. Asmiranda adalah sosok sempurna, setidaknya di mataku.

Asmiranda memanggilku lagi malam ini, tentu saja di dalam mimpi. Rindu katanya. Rindu dengan cerita-ceritaku yang ingin mati. Tapi dia masih diam saja. Tak menanggapi secara berarti. Bukan berarti aku bosan bercerita. Aku teruskan ceritaku padanya, aku ingin mati karena aku sudah merasa cinta itu tak berarti. Tak ada lagi wanita yang bisa dipercayai. Tak ada lagi tempat bagiku untuk bisa meletakkan setengah jiwaku yang sudah sekarat ini. Anehnya dia malah tersenyum. Dan aku menunggunya untuk berkata-kata sesuatu, menanggapiku. Tiba-tiba ia hanya bilang rindu dan menyuruhku untuk datang esok malam. Karena sekarang telah mendekati pagi. Aku harus pulang katanya.

Aku sudah hafal alamatnya di dunia mimpi. Ini sudah malam ketiga. Akhirnya dia bercerita. Asmiranda juga ingin mati. Sama sepertiku. Aku bilang jangan. Asmiranda tidak boleh mati. Akan banyak lelaki yang sedih hatinya. Murung harinya. Sebab Asmiranda adalah matahari bagi kami, penggemarnya, yang akan selalu bersinar setiap hari. Asmiranda menangis malam itu. Aku tidak tahu alasannya kenapa dia ingin mati. Aku tidak berani bertanya itu. Aku hanya bisa mendekapnya. Dia pun membalas dekapanku. Tiba-tiba aku tak bisa menahan hasratku mengecup bibirnya itu. Dia tidak menolak. Dia membalas kecupanku. Sampai aku tak tahu lagi harus berkata apa, kami menikmati malam itu. Benar-benar menikmati malam itu. Sampai pagi.

...

Tetapi, kami menikmatinya sampai terlalu pagi. Aku telat pulang. Ketika di depan pintu kulihat televisi, berita selebriti. Asmiranda mati. Kautahu, Asmiranda mati! Dan aku mendengar isak tangis di rumahku. Tepatnya dari kamarku, aku melihatku ditangisi. Kautahu, aku juga mati. Aku benar-benar mati.

(Tapi tak apa lah, setidaknya aku tahu rasanya kawin, dengan Asmiranda pula.)

Balas Kiriman Anda IniHapus Kiriman

25 March 2009

Pe(m)ilu

tak usah pilih kaus mana yang hendak kupakai
di masa kampenya damai. mana saja kuterima
apalagi jika disertai berlembar rupiah entah itu
biru atau merah atau hijau pun bolehlah. asal
tak kurang itu.

kau ajak aku konvoi ke senayan pun tak masalah
asal tak lupa kau gantikan bensin yang biasa habis
untuk narik ojek sampai petang sebab tlah dipecat
aku dari kerjaku akibat krisis ekonomi kemarin.

dan tak usah kau paksa aku jadi tim sukses yang
mempromosikan dirimu sebagai caleg, entah itu
apa kepanjangannya : calon budeg kah? ah tak
masalah asal rupiah kau titipkan di kupiahku
yang sudah kumal dan bulukan.

tapi untuk hak pilih tak bisa kaupaksa. aku terima
apa saja tapi hak pilih adalah privasi seperti hak
opsi yang kautawarkan dalam perjanjian. asasi
yang dilindungi peraturan dan undang-undang
bisa kutuntut di mahkamah jika kau paksa.

16 March 2009

Sebuah Malam

1/

apalagi jika bukan segelas kopi dan
beberepa lembar roti yang lembut
seperti kapas untuk dicelup sebagai
peneman rasa sepi

jurnal-jurnal yang asing hendak
memenuhi kepalamu yang tak biasa
dipakai di hari yang biasa sebab
betapa panas hari telah melelapkannya
menggoda intelejensia dengan mimpi
yang begitu membuai meski

dosen akuntansi yang tak segan
menegur kantuk hingga kejut dan malu
ketika disuruh maju mengerjakan soal
yang sama sekali asing

2/

dan musik-musik klasik (concerto-concerto
rahmaninof sampai soneta bethoven) kuhidupkan
di laptopku yang begitu kucinta lebih kau
yang di tidurku pun kudekap bagai guling
seolah istri yang ingin kuajak bersenggama

sudah konak di celana.

3/

kertas-kertas sudah berserakan, berhias
coretan pena yang penuh perhitungan persediaan
atau kontrak pendapatan yang akan diujakan besok

dan seperti demonstrasi, kertas-kertas mulai tampak
berdiri. memainkan mataku yang sudah mulai
kehabisan daya, menuntut recovery.

4/

tidak ada bunyi jangkrik seperti di desaku, atau
betapa indah kodok bernyanyi memainkan nada paling
agung untuk memanggil hujan yang kesekian

deru motor terdengar lirih seperti bisik yang
pernah kuingat kau tiupkan di bibirku

di hatiku.

Inferno: Tiga Sajak Terakhir

I.

Aku yakin, hujan terjadi hari itu
Saat engkau keluar dari rahim
Mencium bumi

Sebab aku yakin, tuhan pun menangis
malaikat pun menangis
kehilangan bidadari
seindah engkau

II.

Tak biasa kutulis sansekerta di prasasti yang kau minta. Atau
Hatiku pun tak sudi, tak bisa mengeja tiap ayat-ayat yang hendak
Kau hidang dan, kau tuang di beribu sidang pertikaian;
Tentang bagaimana seharusnya aku mengungkapkan cinta
Tentang bagaimana seharusnya aku mencintai

Atau telah kerikil, telah rumput-rumput liar yang tumbuh
Menjadi ilalang yang menghalangi pandang?

Di lemari tua pemberian ibu, aku pun melukis wajahmu, melukis
Pengakuan cintaku. Lalu kubeli kimono biru dari sebuah toko tua yang
Sudah ingin tutup karena tak lagi mampu menahan laju resesi, kehilangan
Setiap asumsi (sebagai pembuktian cinta).

Maka katamu, kau tak suka warna biru. Sebab biru bukan bintang,
Bukan terang yang hendak kau pajang di depan etalase tokomu
Yang baru saja kau buka sebagai pengingat gerhana yang begitu kau cinta
Serupa doa-doa, serupa tiga meter karet tali yang selalu kau mainkan dulu,
Saat sepulang sekolah

Lalu apalagi, yang bisa kujewantahkan untuk membuatmu mengerti;
Tentang begitu aku peduli kepadamu,
tentang begitu aku mencintaimu

Seutuhnya.

III.

Adalah bulan yang sempat kumakamkan di pekarangan
Saat aku melihatmu datang, menjadi bunga di perkampungan

14 March 2009

Kisah Sebuah Mata

: seseorang yang kurindukan

1/

ada duka yang tenang
di matamu yang begitu
bening untuk kutatap

daun-daun jatuh setelah
berapa Juni saja ia kuncup;
dan matamu masih
mengendapkan berbait tanya
yang tak pernah bisa kucerna

2/

lima hari saja harus
kunanti, sebelum salju turun
di Desember yang kasih;

sebelum kuucap doa di
Natal yang suci; lahirnya
Kristus putra roh kudus

3/

maka memang, di danau ini
masih ada matamu yang menggenang

bahkan, ketika burung-burung mulai
mencicit di mekarnya pagi

matamu masih.

Kisah Seorang Pembaca

Kisah Seorang Pembaca (kafe biblioholic?)
Bagikan
Kemarin jam 22:29 | Sunting Catatan | Hapus
: kafe baca biblioholic

Helai kafan membuatmu ingat betapa harta tak
Pernah akan ditanya penjaga kubur. Pun betapa
Gagah tubuhmu yang tak pernah absen latihan
Fitness tiga kali seminggunya.

Tapi betapa ilmu membuatmu pandai berkelit
Dari setiap Tanya yang diucap. Betapa kautahu
Siapa Tuhanmu dari kitab yang kau baca dan
Nabimu yang mengeluarkan hadits-hadits yang
Tak pernah kau dustai.

Dan betapa kau pernah membaca betapa lucu
Abu Nawas yang memesan kafan yang kusut
Agar makin pandai ia berkelit ketika ada Tanya
Yang tak bisa ia jawab dengan menipu
Serdadu serba patuh bahwa ia adalah ruh
Lama yang telah bosan ditanya.

Tapi Tuhan tahu. Maha Tahu betapa licik makhluk
Hendak mencari celah bagaimana menjawab
Setiap Tanya yang akan diajukan. diubahNya peraturan
Untuk mengganti ujian lisan dengan tulisan
Dengan jumlah soal puluhan.

Dan betapa mulutmu menganga tak pernah menyangka
Bahwa ilmu yang kaubaca selama hidupmu takkan lagi
Bisa berguna. Takkan lagi bisa kau pakai untuk berkelit
Dari setiap Tanya sebab seluruh hidupmu kauhabiskan
Untuk belajar membaca dan membaca itu sendiri tanpa
Pernah meluangkan waktu untuk MENULIS.

Pantai Mutun