Skip to main content

Inferno: Tiga Sajak Terakhir

I.

Aku yakin, hujan terjadi hari itu
Saat engkau keluar dari rahim
Mencium bumi

Sebab aku yakin, tuhan pun menangis
malaikat pun menangis
kehilangan bidadari
seindah engkau

II.

Tak biasa kutulis sansekerta di prasasti yang kau minta. Atau
Hatiku pun tak sudi, tak bisa mengeja tiap ayat-ayat yang hendak
Kau hidang dan, kau tuang di beribu sidang pertikaian;
Tentang bagaimana seharusnya aku mengungkapkan cinta
Tentang bagaimana seharusnya aku mencintai

Atau telah kerikil, telah rumput-rumput liar yang tumbuh
Menjadi ilalang yang menghalangi pandang?

Di lemari tua pemberian ibu, aku pun melukis wajahmu, melukis
Pengakuan cintaku. Lalu kubeli kimono biru dari sebuah toko tua yang
Sudah ingin tutup karena tak lagi mampu menahan laju resesi, kehilangan
Setiap asumsi (sebagai pembuktian cinta).

Maka katamu, kau tak suka warna biru. Sebab biru bukan bintang,
Bukan terang yang hendak kau pajang di depan etalase tokomu
Yang baru saja kau buka sebagai pengingat gerhana yang begitu kau cinta
Serupa doa-doa, serupa tiga meter karet tali yang selalu kau mainkan dulu,
Saat sepulang sekolah

Lalu apalagi, yang bisa kujewantahkan untuk membuatmu mengerti;
Tentang begitu aku peduli kepadamu,
tentang begitu aku mencintaimu

Seutuhnya.

III.

Adalah bulan yang sempat kumakamkan di pekarangan
Saat aku melihatmu datang, menjadi bunga di perkampungan

Comments

Popular posts from this blog

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Puisi Pringadi Abdi Surya, diterjemahkan oleh John H. McGlynn

The Last Rain in Memory

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
for leaves have only just begun to grow
after the curse of a century of drought
for my failure as a man to turn stones
into gold

an elderly alchemist named khidir
who disappeared into eternity
left a message for me:

even one drop of the bitter rain that fell that evening
is capable of becoming a new world

no one knows, I've even concealed my shadow
in that old and windowless house
and that I'm looking now for other shadows
cast by a woman with reddened lips

upon seeing her, the rain will lessen
and everyone will begin to affirm the feeling of pain

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
and the leaves that are styudying to write down names
don't come to know how your name is spelled

as death or as love

(2014)

John H. McGlynn adalah seorang penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika yang telah tinggal di Indonesia sejak 1976.Selain sebagai Ketua Lontar[10], ia jug…

4 Musim Cinta

Ketika Timor Timur di ambang disintegrasi, kerusahan pecah. Banyak kantor pemerintahan tutup. Semua pegawai negeri pusat pulang ke daerahnya masing-masing. Namun, satu kantor harus bertahan. Kantor itu dikenal dengan nama Kantor Kas Negara. Sampai seorang pegawainya yang memberanikan diri dan harus datang ke kantor dicegat oleh Fretilin, ditanyai, ditodong senjata, hendak kemana dan siapa. Ia menjawab ia pegawai Kantor Kas Negara. Seketika itu juga ia dilepaskan. Kantor Kas Negara adalah kantor terakhir yang bertahan dan menjadi identitas negara saat itu.
Begitu pun ketika terjadi tsunami di Aceh. Kantor yang pertama kali harus dipulihkan adalah KPPN Khusus Aceh. Kantor Kas Negara (sekarang bernama KPPN) adalah jantung sekaligus darahnya negara. Keberadaannya adalah keniscayaan. Ia hadir bukan karena ada potensi pendapatan yang besar di daerah itu, melainkan karena ia harus hadir untuk menghidupi perekonomian dengan salah satunya mencairkan dana APBN.
Sekelumit cerita itu menjadi pen…