Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2009

Kau, Aku, dan Kota Ini

di kota ini, Tuan

seribu kunang-kunang di Manhattan
yang pernah kau ceritakan, saat
aku masih mengemut sejuta anyaman
dari rotan yang diam-diam
kami sembunyikan di pepatah,
telah kutangkapi satu satu
dan kugantungkan di lampu-lampu taman
sebagai penerang malam yang kesepian

jadi mungkin saja suatu malam
kalau kau bosan di kuburmu, kau akan
menyaksikan perempuan (dan laki-laki)
bercumbu memagut malam, dan
meredupkan bintang-bintang yang
sebelumnya kau benci

*

di kota ini, Tuan

para priyayi sudah tak pandai mengaji
sudah tak pandai mengayomi gula-gula
mimpi yang pernah kau emut di kecup
keningmu yang manis

jadi mungkin saja suatu hari
kalau kau rindu televisi, kau akan saksikan
mereka di barisan supporter sepakbola atau
ikut berjoget dangdut ria yang tak lagi
dinyanyikan dengan irama (kecuali dengan
goyangan yang tak pernah kau saksikan
sebelumnya)

Euler

SETELAH bertahun ia hidup, ia baru sadar
Tak ada i di namanya sendiri. Ia tanya orang
Tuanya yang sudah pikun, dan nekad pergi
Ke dukun biar tahu kenapa tak ada i
Di namanya sendiri?

TAPI bukan jawaban yang diraih, malah pepatah
Lama yang sudah beruban pikirnya: Berakit-rakit
Ke hulu, berenang-renang ke tepian. Ia pun
Berdiri di podium , menanyakan maksud yang
Sudah ia coba pecahkan di kertas-kertas yang
Sobek seperti mulutnya yang baru saja dijahit
Dengan serat eceng gondok.

Di abjad lain pun, ia coba rumuskan seluruh kisah yang
Ia hafal, tentang janin yang dihanyutkan di sebuah
Sungai tabu begitu penuh darah dan amarah, tentang
Nama yang masih menjadi rahasia.

TAPI tetap tak ada.

AKHIRNYA ia bertualang saja, mencari i di
Nama-nama lain yang tercerabut, dari batang
Dari daun, dari akar-akar yang minus dan
Sinus di hidung-hidung yang sudah
Melupakan bau.

Melupakan aku.

Valhalla

SEJAK kecil ia takut disuntik
meski oleh dokter yang cantik

tiap ia lihat jarum ia akan ingat
bapaknya yang mati waktu
diakupuntur oleh laki-laki
penjual parfum

tapi kini dia sakit, kena teluh
sepasang pendeta yang telah
ia hina, kami bukan domba katanya
lalu ia potong kepala domba
peliharaannya yang sudah sakit
tertular flu babi

silahkan digembala, lanjutnya sambil tertawa

TAPI tak disangka itu jadi tawa
terakhirnya. Tangis dan ringis yang terus
ia masukkan ke list favoritnya, dan
ia ajukan ke chart tangga lagu
mungkin saja akan banyak penonton
merequest dan mendengarkan keluhannya

seribu satu telepon masuk dan
ia jadi juara tangga lagu minggu ini
dengan lirik yang penuh tangis itu
dan seribu satu pula saran
menganjurkannya suntik ke valhalla
rumah sakit para dewa yang murah
tarifnya akibat subsidi
dari pemerintah

TERPAKSA ia datang dengan nekad
takut malu dan dibilang
tidak punya kemaluan

Tapi tetap saja ia menangis
lihat jarum suntik di meja saji
yang kan segera menusuk hati

dok dok dok, jangan suntik saya dulu ka…

Sepasang Gitar Yang Tak Mau Berbunyi

BINGUNG saja waktu dia bawa dua gitar
yang baru dibeli di taman puring

taman itu memang murah dan murahan
gitar saja seharga sepuluh ribuan
satunya dan dua dia tawar saja sampai
tak lebih setengahnya

tapi dua-duanya tak mau berbunyi waktu
kami petik sama-sama, mencoba memainkan
lagu yang paling merdu, tentang sepasang
manusia yang hendak mencumbu akasia

yang tumbuh di sepanjang debur ombak

*
kami sama-sama marah, tapi tak sampai
membanting gitar yang sungguh kami sayang

meski tak ingat kami pada jumlah fret yang
menekuk leher kami yang pegal

*
dua puluh senar telah kami coba, tapi
tetap tak mau berbunyi

kami yang kecewa datang ke dukun saja
kalau-kalau ada jin yang merasuki gitar
ini sampai ngambek tak mau bunyi

lagi.

*

dua puluh menit yang lalu, kami sama-sama
setuju untuk mempertanyakan apakah gitar ini
punya garansi

kami ke taman puring yang ternyata sudah
diungsi di atas kali yang mengambang

dan sadar kami tak bisa berenang.

*

O, Orpheusku yang malang
hendak kemana kucari hulubalang
yang bisa mengembalikan nada

Simpang Tiga Berikutnya

Kita masih asik taruhan, siapa yang
menunggu di simpang tiga berikutnya

kau pasang harga dirimu yang baru saja
jatuh akibat resesi ekonomi kemarin, dan
aku memilih jadi bandar saja, mengumpulkan
berbagai kepingan kenyataan yang sering
kita hiraukan

dengan tidak puas, kau pasang iklan di tivi
tentang taruhan kita ini
pejabat, politisi, bahkan peramal macam
mama lauren pun ikut asik dalam menerka
ada apa di simpang tiga berikutnya itu

diam-diam aku tertawa saja saat si Mama
menyebutkan si hidung besar, sebesar uang
rakyat yang telah ia khianati dan disumpal
ke lubang hidungnya yang sama gempal

maka sama-sama saja kita lihat, jalan lurus
dengan pancingan belok kanan dan kiri yang
tak pernah kita gubris

dan betapa banyak yang bunuh diri, dengan
menggantungkan lehernya ke atap langit atau sekadar
minum baygon yang begitu kita sayangi

dan aku asik tertawa saja, melihat taruhan-taruhan
yang aku menangi (sebab aku tahu, pasti itu
dan itu lagi)

lum diedit

Bang Jo kaget, waktu bertandang ke rumah mas Pri, dilihatnya mas Pri menangis di depan televisi. ternyata Mas Pri sedang nonton dvd, drama korea yang pemeran wanitanya Eun Hyee. Coffe Prince judulnya. Bang Jo jadi ingat, waktu pertama kenal, mas Pri dikira bernama Prince-Adi. Taunya cuma nama plesetan.

Bang Jo jadi nggak enak sendiri mau menggangu mas Pri yang sedang asik dalam tangisnya sendiri. Duduk di ruang tamu pun bang Jo jadi gelisah, sebab kok dia ga disuguhi kopi dan gorengan seperti minggu lalu saat mas Pri bertandang ke rumahnya.

Bang Jo jadi serba salah.

"Ada apa kamu ke sini, Jo?!" mas pri tampak membentak, seperti emosi. Begitu bang Jo berasumsi.

"Ndak mas.. ndak...saya cuma mau ketemu sama Mas Pri" jawab bang Jo kikuk.... Baca Selengkapnya

"Anjing...!!"

Bang Jo kaget. gak menyangka dia diteriaki anjing sama mas Pri.

"eh maaf maaf, bang Jo. maksud saya, apa Bang Jo tau dimana saya beli anjing?" ralat mas pri yang mulai tampak mengatur emo…

Sebuah lagu yang telah Usang

: hasan aspahani

Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali

Tapi aku bingung, gunung mana yang harus kudaki,
tak ada gunung di sini. Sudah dikeruk menjadi ceruk:
menjadi genang yang menggelinang, persis airmata
ibu saat aku tak mau bersembahyang

“Gunung itu, yang tersisa, sudah meletus tadi pagi,” kata
seorang bekas juru kunci yang tadinya mau hidup abadi.
Tapi lalu lari, mengungsi ke lapak-lapak di sebelah kali, yang
jika banjir pun, akan tenggelam. Akan terendam.

*
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara

Cemara mana, pohon mana. Langit-langit pun tak ada.
Bercak-bercak akar yang tersisa sudah dijual menjadi pepatah;
menjadi petuah yang menyunggingkan senyum di dua
sosok berpeci di lembar kertas berwarna merah hati

“Kanan telah konon. Kiri telah tiri. Lurus saja,
tak usah tengak-tengok,” kata seorang sopir bus
yang badannya telah berdaki, tak mandi
berhari-hari. Persis kendaraannya yang tak lolos uji emisi.

Kisah Mas Pri #1 - Sama bang Jo

Bang Jo sedang asik memainkan kuncir rambutnya yang kemilau itu, habis pake shampo buaya katanya. Sementara Mas Pri, seperti biasa, tampak seadanya dengan rambut yang tak pernah disisir, dan matanya sayu habis menyaksikan MU dibantai Barcelona, 0-2, malam tadi

"Mas Pri, saya khawatir..."

Mas Pri diam saja dan tampak menemukan mainan baru pada segelas kopi dan beberapa gorengan yang baru saja dihidangkan.... Baca Selengkapnya

"Gini, mas... saya khawatir akan lahir penyair besar dengan jiwa yang kerdil," lanjut bang Jo sambil sesekali mencomot gorengan yang masih asik dihadapi mas Pri. Dalam bathinnya Bang Jo berpikir mungkin saja mas Pri gemuk gara-gara suka makan gorengan macam ini.

Sementara mas pri mengambil toge dari tahu isi yang tadi dilahapnya, "kerdil macam ini maksudmu?"

"Mas Pri, saya serius ini..." bang Jo mulai kesal dengan tingkah Mas Pri yang masa bodoh itu. Bang Jo memang terkenal sebagai orang yang serius, dan berkoar-koar tentang idea…

Sepasang Sepatu Yang Tak (Lagi) mengenal Tuannya

Yehuda punya sepasang sepatu yang lucu
Dibelikan ibu di pasar Minggu

Warnanya biru, motifnya seperti peluru
Dan kalau dicium pasti berbau mesiu

Yehuda sayang sepatu barunya
Jadi ia bawa kemana-mana sambil
Tersenyum bangga
“Ini sepatu baruku, dibelikan oleh ibu”

Tapi suatu hari, sepatunya tak ketemu
Meski sudah ia cari kemana saja: rak sepatu,
Kamar mandi yang bau, atau lemari kakak
Yang memang suka iri karena tak juga
Dibelikan sepatu.

“Ibu, Ibu, mana sepatuku?”

Tahu tahu ia lihat sepatunya terbang di langit
Seperti melakukan pertarungan yang sengit

“Sepatu sepatu… aku rindu”

Tiba-tiba sepatu pergi
Seperti berjalan dan berlari

Meninggalkannya sendiri.

Agustus Milikmu

Kalau kau mau, kuberikan
Agustus milikku

Biar kau tahu betapa licin
Gemuk untuk didaki di
Pohon pinang yang panjang

TAPI kau terbiasa mendaki
Surga dengan penantian
Yang tak kalah panjangnya

DENGAN dadamu yang bidang
Dan panjang kau punya jambang,
Kau malah pergi ke medan perang
Tanpa sedikit pun perlindungan
Kecuali dari Tuhan yang kau Agungkan.

*

Kalau kau mau, kuberikan
Agustus milikku ini
Dan kau berikan pendakian
Surga yang panjang itu
Untukku

(Sebab sudah bosan aku
Memanjat pinang tanpa
Pernah tahu rasanya

Menang)

Seorang Murid Yang Juling Satu

SELALU saja terhenti di angka dua sembilan
setiap ia maju di depan kelas, membacakan
angka-angka kematian

BAJUNYA putih, walau tak pernah dicuci
matanya juling yang satu, menoleh ke kiri
meratapi nasibnya sendiri (sebagai anak tiri)

PADAHAL ini hari SABTU, sebelum minggu yang
begitu ia kenang, melagukan kidung-kidung agung
dalam orkestra para pemenang

"Baju PRA MUKAMU mana?" bisik guru yang begitu
hobi membawa gundu, lalu menggaris tiga segi
di lantai yang sudah gontai

"DIBAWA Ibu," jawabnya lesu

IBUnya yang tiri itu suka sekali mengoleksi
kartu telepon genggam meski cuma satu
miliknya yang putih juga warnanya

IA bawa kemana-mana dengan sejumlah nomor
dan jenis kartunya yang kesemuanya berlabel
PRA BAYAR, biar tak teralu buyar
pikirannya buat beli pulsa yang bermilyar-milyar

"Ibumu ke mana?" si guru nampak tak sabar.
ia pun berhenti mengajar sejarah barbar tentang
gundu yang ia tebar

"Ibu???
Ke udara, ke suara
ke langit-langit tanpa rupa, tanpa wicara,"
jawab ia sambil m…

Magnitudo

ini tentang skala yang pernah kita gubris
di sebuah peta, antara sumatra dan jawa
yang dipisahkan selat sunda

tapi tiba-tiba kau menyela dan menunjuk
langit yang pernah kita boikot: takkan sekali
pun kita menengadahkan tangan yang begitu
sulit untuk menadah, meski cuma
sebutir kisah

selembar kertas kau keluarkan dari tasmu
yang berisi nafas-nafas yang pernah terlepas
(dari genggaman bibir yang terlanjur mengelupas)

satu dua tiga dan enam, aku hitung
jemarimu yang tampak melukis garis
yang begitu simetris

kau ambil pemantik dengan jentik
tanganmu yang begitu lentik

maka kita lihat cahaya itu membumbung, menengadahkan
kepala yang sudah lama tertunduk

memandangi enam garis yang
kaubentuk

Menyoal Ayu

Naik kereta Parahyangan membuatku ingat
soal keempat waktu ikut cepat tepat

"Sebutkan bunyi undang-undang dasar empat
lima pasal tiga tiga ayat empat?"

TIBA-TIBA saja aku berkeringat, mencoreti
kertas buram yang sudah penuh dengan
berbagai tanda pengingat

TAK ada peserta yang kunjung memencet bel
yang warnanya kuning agak coklat. semua

memandangi sepatu besi yang kian tampak
berkarat, kalau-kalau jawaban mendadak mencuat

*

Ayu, kau duduk di pinggir kiri, menenteng Larung
karanganmu, sementara aku setia pakai sarung

babaku petani, Ayu. ke sawah sampai terik, dan
ke surau waktu malam sudah melirik

epistemo sampai teori kosmos itu apa lah, lebih baik
mengolah kompos yang akan dikirimkan kepadamu
lewat selembar kartu pos (katanya)

*

Ayu, setelah jadi pejabat aku ingat, tak ada ayat
keempat yang pernah membuatku berkeringat

maka diam-diam saja aku catat, kalau-kalau nanti
ada tempat untuk lampiaskan dendamku yang kesumat

ayat keempat:
tak berlaku ketiga ayat
sebelumnya; bumi, air, dan
kekayaan alam lainnya…

Pareto

KUPAKSA dia naik Trans-Jakarta malah
membuatnya muntah-muntah. keluar
semua kata-kata yang pernah dilipatnya
di kertas, waktu menahan amarah

"Kubilang juga apa, enakan kita jalan
kaki saja, atau mengayuh sepeda roda
tiga yang kita penggal satunya dan
kita gelindingkan ke lengkung kurva
yang turunkan harga-harga."

DIA pegangi perutnya yang membuncit
kebanyakan makan pangsit di warung-
warung yang pemiliknya bermata sipit

persis kapit, katanya

*

TIBA saja dia bercerita tentang pernah
ia punya ladang dan menanaminya dengan
minyak mentah, kalau-kalau bisad ia jadi
saudagar kaya dan punya istri lebih dari dua

"Kulubangi tanahnya, kuberi pupuk
dari kotoran telinga yang sudah dikeringkan
lalu kupanggil pawang, biar tak ada hujan
sampai minggu depannya."

TAPI minggu depannya ia babak belur, dihajar
warga yang kering punya sumur. satu, dua,
dan ternyata sepuluh lebih warga sudah teriak-
teriak, mogok makan mogok buang hajatan,
memintanya pindah dan mengubur ladang
minyak mentah miliknya

*

SEKARANG, kam…