Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2012

Marwan Ja'far Sang Plagiat dan Esai Jusman Dalle yang Diplagiasinya

Berikut ini adalah esei Jusman Dalle yang diplagiasi anggota DPR dari Fraksi PKB.

Jusman Dalle
Quo Vadis Libya?

Setelah diamuk “pemberontak” pro demokrasi dari rakyatnya sendiri dengan mendapat dukungan dari kolaborasi Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris dan NATO, kekuasaan Muammar Abu Minyar al-Qaddafi (69) atau lebih populer dengan nama Muammar Khadafi, kini tinggal sejarah. Riwayat Sang Revolusioner berakhir oleh gerakan revolusi rakyat sipil yang mengarus bersama irama revolusi Timur Tengah.

Di kampung kelahiran sekaligus markas terakhir pendukung loyalisnya di Sirte, pada Kamis (20/10/2011) Khadafi diberondong senjata oleh rakyatnya sendiri. Rakyat yang dalam rentang waktu panjang menyimpan dan mengakumulasi bara sekam kesumat akibat represifitas sang tiran. Khaddafi harus pergi secara tragis karena ogah mendengar kemauan rakyat, pemilik kedaulatan yang memandatkan kekuasaan negara kepadanya.

Masa Depan Libya

Pertanyaan kini menyeruak pasca-Khadafi, quo vadis Libya, Libya ma…

Malaikat Purbaya, Majalah Story Edisi 24, Juli-Agustus

Tuhan tak seharusnya menciptakan malaikat kembar. Sepasang malaikat yang lahir dari satu rahim, berwajah sama, dan diberi nama serupa. Seperti halnya aku dan Raya. Seperti halnya juga kenyataan yang kubenci tiap kali kutatap wajahku di cermin dan menyaksikan wajah yang bukan hanya milikku itu.

Orang tuaku sedang meributkan tentang kemana kami harus melanjutkan kuliah nanti. Padahal baru kemarin kami naik ke kelas XII. Raya meraih predikat juara umum se-sekolah sementara aku harus dipanggil ke ruang konseling bersama Mama untuk mendengarkan ceramah dari guru dikarenakan tingkah lakuku yang begitu sering membolos sekolah. Mama meradang. Beliau tidak tahu aku membolos dan sebuah tamparan melayang tepat di pipi kananku.

“Mau jadi apa kamu, Gus?!” katanya membentak. Aku diam.

Agustino Raya Purbaya namaku. Agustina Raya Purbaya namanya. Kami berdua laki-laki. Dan sebetulnya, aku ingin menjadi Raya. Maksudku, aku ingin bisa diperlakukan sama dengan Raya. Sungguh lucu, aku masih ingat betul, …

Ajak Aku "Beternak Penyair", Komunitas Hysteria

Sebuah kabar gembira atau mungkin sedih datang dari Komunitas Hysteria, Semarang yang istiqomah dengan buletin sastranya itu. Dua puisi saya berjudul "Hujan, Sampaikan Padanya" dan "Ramalan Cuaca" termaktub di dalam antologi puisi tahunan itu, Beternak Penyair, bersama 77 penyair lainnya.

Bahagia, tentu, karena ini termasuk pencapaian. Sedih, karena bertanya-tanya apakah sastra kemudian hanya akan dibaca sesama pelaku sastra? Apakah sastra, yang sudah dikodifikasi, dapat berpengaruh kepada masyarakat atau malah terkubur sepi, menjadi kertas lusuh di sebuah perpustakaan yang tak pernah disentuh atau hanya sesekali tersentuh oleh seseorang yang tersesat di antara tebalnya debu-debu (perpustakaan)?

Tapi, tetaplah saling mengapresiasi, menjaga ikatan yang sudah ada sambil meluaskan jangkauan ikatan itu.




Antologi Puisi: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia

Alhamdulillah, puisi-puisi saya terkurasi dalam antologi terbari Kosakatakita ini, bersama 50 penyair lain. Yang membanggakan, sayalah yang termuda di antara penulis-penulis bernama kawakan seperti Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, dan Eka Budianta. Kabarnya akan hadir di TB Gramedia mulai akhir Januari ini. Salah satu puisi saya yang termaktub di dalamnya:


SUPPER MENU
: zasneda

Kau mengiris bunga kol, meletakkannya di
dalam panci dengan air mendidih.
Udara dingin mulai mengepung kita seperti
pertanyaan yang bertubi-tubi ke KPK:
Misalnya, apakah benar Nazaruddin telah
dicuci otaknya, apakah flashdisk yang
diungkap sama warnanya, apakah Anas
diizinkan berangkat umrah ke Saudi?

Aku pun jadi teringat gigilmu malam kemarin,
menyebut Mama dan keinginan pulang.
Padahal kita tidak berada di pelarian panjang,
perang yang menghabisi kemanusiaan juga
telah usai (dan barangkali kembali dimulai);
tapi hanya suara tumbukan--menu teriyaki
dicampur di seporsi fetuccino, sebutir telur
tambahan lada h…

Berita Pagi dan Secangkir Puisi

Talang Babungo

aku akan kembali ke
bukit tengkorak. jarak
selentur bambu, sedekat
belikat. insektisida yang
disemprotkan ke detil lahan
tak mematikan kupu-kupu—
ia ulat, bersembunyi
di liat liang. tahun depan
jadi kepompong.
bila musim lalu, kurasai
markisa yang matang di
pohonnya, bau rumput
yang mekar di sepanjang
alahan panjang, aku kini
ingin memetik segala
di tubuhmu, mengemasinya
juga luka yang diam-diam
berbekas, belum tuntas
jurang pasti bukan pemisah,
anak nelayan yang masih
bermain di danau mencari
berpotong riak sebagai
mahar. kuletakkan mereka
di dulang esok
malam sebagai tanda
janji seiya. itulah talang,
nagari elok nan babungo;
kau kata aku telah sampai
di masai rambutmu yang kini
tertinggal seperti gigi yang
tanggal. tapi baru kita mulai
kapal yang berlabuh mengangkat
sauh, mengembang layar, memugar
lunglai angin—dibekukan dingin.

(2011)





Di Danau Kembar

dari satu rahim ibu, takdir
mencemburu. lahir kanak-kanak
di batu danau; sepasang
lebah berebut ratu. sebandung
u…

Merayakan Tahun Baru, 2

Aku tidak ingin menangis. Kau berjanji
meniup terompet besar-besar biar
pekak semua telinga dan sebagian yang
selamat menutup kupingnya dengan
bantalan kapas. Aku merasa kehilangan.
Napas yang kuembus di 2011 pergi
entah kemana. Tapi aku tak mau menangis;
menonton drama korea, berita bakar diri,
kematian di ujung senjata, pasti mulanya
lelucon. Kau berjanji memberikanku
terompet itu--
dan aku akan menamainya sangkakala.