29 September 2010

Penyakit Gila No. 5 (Jurnal Bogor, 8 Agustus 2010)

Mendadak Lubuk Parau gempar. Sudah lima pemuda terkapar hari ini. Tidak diketahui apa sebabnya. Pastinya, kelima pemuda itu tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal kemudian jatuh tak sadarkan diri. Sampai malam ini, Mbah Darmo, yang memang dukun paling sakti di desa ini, masih menemani mereka berlima dengan kemenyan dan air kembang tujuh rupanya yang tak pernah lupa ia bawa kemanapun ia pergi.

“Jangan-jangan desa kita dikutuk!”

“Tidak, tidak, pasti ada penyakit menular. Pasti!”

“Virus!”

“Virus?”

“Iya, virus. Di mana-mana penyakit menular itu pasti disebabkan oleh virus.”

“Virus apa?”

“Virus baru. Mutasi baru. Aku yakin sekali.”

***

Sakum sudah bosan mendengar ocehan-ocehan semacam itu. Sakum tahu, kalaulah benar virus yang menyerang desa ini, tak mungkin kejadiannya bisa terjadi bebarengan. Terlalu kebetulan untuk sebuah virus bisa membuat kelima pemuda tertawa terpingkal-pingkal dan jatuh tak sadarkan diri secara bersamaan.

Tiga dari lima pemuda itu Sakum kenal. Marjan, Mingin, dan Misran. Sampai kemarin, Sakum masih berbincang dengan mereka bertiga.

“Kum, kau mau jadi kaya?” Marjan memulai pembicaraan hari itu.

“Iya, Kum, nanti kita bisa punya mobil. Bisa jalan ke Palembang, bisa karaokean ke kafe-kafe sama cewek-cewek cantik!” Mingin menimpali.

“Duit dari mana, Boi? Halal?” tanya Sakum sambil mengernyitkan dahinya.

“Alahhh, jaman sekarang, halal haram hantam, boi! Mikirin halal apa nggak hidup ntar luntang-lantung nggak karuan kayak sekarang ini. Nggak ada majunya.” Misran menjawabnya dengan nada yang meninggi. Sakum jadi malas untuk melanjutkan.

Tapi ketiganya mendadak terkapar seperti itu sebelum keinginannya tercapai. Sakum bukannya tak mau tahu apa sebab kejadian ini. Sakum punya praduga sendiri. Apalagi setelah sakum mengetahui kedua korban lainnya bernama Mardi dan Marlan.

“Kelima-limanya berhuruf awal M di namanya!” Sakum mengutarakan pendapatnya di depan Subhan, teman sepengajiannya.

“Lantas bagaimana bisa orang-orang behuruf awal M tak sadar tiba-tiba? Kau mau bilang ini adalah kutukan, Kum?”

“Hush, syirik itu namanya…”

“Lalu?”

“Itulah yang aku masih bingung, Han. Tapi apa kau tahu kalau kemarin…” Sakum menghentikan ucapannya. Subhan penasaran dibuatnya. “Kalau kemarin apa, Kum?”

“Ah, tidak…lupakanlah.”

Sakum mengurungkan niatnya untuk menceritakan pembicaraan kemarin. Sakum ingat, ghibah itu tidak diperbolehkan dalam agama meskipun benar ceritanya. Kalaulah ia menambahinya dengan bumbu-bumbu pemanis, itu jadi fitnah namanya.

Meski Sakum tidak suka pada ketiga pemuda itu, ia masih merasa kasihan dan penasaran. Perihal apa yang membuat mereka bisa mengalami kejadian seperti ini? Benar-benar kutukan Tuhan kah?

***

Keeseokan harinya, Lubuk Parau bertambah gempar. Kelima pemuda itu bangun tepat ketika azan subuh berkumandang. Tetapi ada yang berbeda, belum nampak kesadaran di matanya yang mendelik kosong. Lidahnya sesekali menjulur seperti anjing-anjing kampung.

Hampir semua warga berkumpul ingin menyaksikan kejadian ini. Mulai dari ibu-ibu yang masih menggendong anaknya yang balita sampai kakek-kakek tua ringkih yang sudah bau tanah. Sakum dan Subhan pun berada di barisan depan. Konon, Mbah Darmo akan memberikan penjelasan atas fenomena ini.

“Mbah, cepat katakan… ini apa? Ini pertanda apa?”

“Kami takut, Mbah…”

“Bagaimana kalau ini terjadi pada anak-anak kami, Mbah?”

Teriakan-teriakan semacam itu semakin riuh. Sakum merasa getir, bagaimana mungkin manusia menggantungkan harapan dan ketakutannya pada seorang dukun?! Padahal hanya Allohlah yang Maha Kuasa, Maha Segala-galanya. kepadaNyalah seharusnya kita memohon doa dan takut pada azabNya yang teramat perih.

Laki-laki tua itu akhirnya muncul dari balik pintu. Seperti biasa, blangkon dan jarik warna coklat ia kenakan. Mulutnya pun tak pernah letih mengunyah sirih. Sementara tangan kanannya memegang sebuah tongkat yang kata orang-orang sumber kekuatan mistisnya bersama batu-batu akik di jemarinya.

“Tenang… semua tenang,” mbah Darmo mulai membuka suaranya, “kalian tidak perlu panik. Mbah sudah mengatasi masalah ini. Mbah jamin tidak akan ada lagi warga desa yang kena kutukan ini…”

“Kutukan, Mbah?” tanya seorang ibu yang mukanya menyiratkan kegelisahan.

Mbah Darmo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “tetapi kalian tidak perlu khawatir. Ini cuma kutukan ringan.”

“Kutukan ringan?”

“Iya, penyakit gila nomor lima…”

“Penyakit gila nomor lima? Memangnya ada berapa penyakit gila, Mbah?”

Mbah darmo mengangkat kedua tangannya. Tongkatnya disampirkan di tubuhnya. “Ada sembilan!”

“Sembilan??! Katakan mbah, apa saja itu?”

Mbah Darmo menggeleng. “Tidak perlu kalian ketahui. Pastinya penyakit gila nomor lima ini akan sembuh sendiri dalam lima hari. Kalian tidak perlu khawatir. Sekarang kembalilah ke rumah. Lakukan pekerjaan kalian seperti biasa.”

***

“Mereka ingin ngepet, Kum…”

“Ah, kau ini, jangan asal bicara…”

“Tetapi begitulah yang aku dengar.”

“Seperti peluru Han… meleset satu mili di moncongnya bisa meleset beberapa meter pada sasaran!” Subhan tampak bingung. Tak bisa mencerna kata-kata Sakum barusan. “Maksudku, yang namanya katanya itu selalu tidak benar. Selalu ditambah-tambahkan, dibumbui biar lebih sedap kedengarannya,” kata Sakum menjelaskan.

“Tidak… Tidak… ini aku dengar langsung dari Marni, Kum. Istrinya Marjan…”

“Tetapi kelimanya berhuruf awal M kan di namanya? Tidak mungkin kan kalau itu cuma kebetulan?”

“Terkadang kebetulan pun adalah sebuah kebenaran, Kum… Kau tahu Kum kepada siapa mereka meminta ilmu ngepet itu?”

“Siapa?” tanya Sakum penasaran.

“Mbah Darmo…”

***

Tuhan selalu menawarkan kemudahan. Tidak ada tiket yang mahal untuk surga-Nya. Surga itu murah. Tidak perlu membayar beberapa puluh ribu untuk shalat di mesjid ketimbang pergi ke diskotik dan membeli narkotik. Tidak perlu puasa empat puluh hari untuk mendapatkan keutamaan di hadapan Ilahi ketimbang demi mendapatkan ilmu sakti. Sakum heran dengan orang-orang yang memilih jalan yang lebih sulit padahal di sampingnya ada kemudahan yang lebih mulia yang ditawarkan.

Pintu itu ia ketuk dua kali. Tidak ada jawaban.

Ia coba sedikit mengintip, tetapi pintu itu malah terbuka. Tidak terkunci.

Aroma kemenyan segera mampir di hidung Sakum. Baunya menusuk dan membuatnya pusing. Sakum memberanikan dirinya untuk masuk dan menemui Mbah Darmo sendirian, tanpa Subhan.

“Sakum…” suara parau itu mengagetkannya. Sosoknya tampak mistis. Dengan asap-asap yang tampang berkelibat di sekitarnya. “Ada apa kau kemari?” tanya Mbah Darmo lirih.

“Ini benar ulahmu, kan?” Sakum balas bertanya dengan nada sedikit sinis.

“Duduklah dulu… sudah lama kan kau tidak kemari, memeluk ayahmu ini?” Mbah Darmo berdiri. Tangan di tongkatnya seolah menjadi penyangga bagi tubuhnya yang tingkih.

“Kau tidak pernah menjadi ayahku…”

“Ikatan darah itu tidak pernah akan berbohong, Kum… kau tetaplah anakku.”

“Kalau begitu, kalau kau menghargai aku sebagai anakmu, bertobatlah, kembali ke jalan yang benar…”

“Tidak pernah ada anak lebih pintar dari bapaknya!”

“Orang pintar seringkali hanya sok pintar!”

“Kau?!” Mbah Darmo sudah menaikkan telapak tangannya. Matanya mendelik marah. “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya!”

“Tetapi pohon yang ini tumbuh di dekat sungai dan buahnya jatuh mengikuti arus dan tumbuh di tempat lain yang lebih baik!” tegas Sakum.

***

Hari kelima.

Kelima pemuda itu didudukkan di depan rumah mbah Darmo. Ada gentong besar di sampingnya. Gentong yang berisi air jejampian untuk memandikan kelima pemuda itu. Orang-orang sudah mulai berdatangan. Sakum dan Subhan tentu sudah datang duluan.

“Kalian semua tenang. Ini adalah ritual penyembuhan. Mbah perlu berkonsentrasi,” ujar Mbah Darmo dengan suaranya yang tatih.

“Kalau gagal, Mbah?” tanya seorang pengunjung.

“Gagal? Mbah tidak pernah mengenal kata gagal. Mbah jamin dengan nyawa mbah!” jawab Mbah Darmo dengan meyakinkan.

Ritual itu pun dimulai dengan menyiram kelima pemuda itu dengan air di gentong sebanyak lima kali. Mulut Mbah Darmo komat komit, entah mengucapkan apa. Ia mulai berputar lima kali. Bersujud lima kali. Melompat lima kali. Dan lima kali pula, ia berteriak parau kesakitan. Matanya mendelik-delik menakutkan.

Mata kosong kelima pemuda itu mulai tampak kembali seperti semula. Tetapi, mata si Mbah mulai berbeda. Tiba-tiba langit mendung. Kilat menyambar-nyambar. Orang-orang mulai merasakan kepanikan. Sebagian berlari ketakutan. Sakum masih bertahan memperhatikan ritual itu meski Subhan sudah mengajaknya untuk menghindar.

Duar!

Tiba-tiba ada petir menyambar Mbah Darmo. Kilatannya juga memantul mengenai Sakum. Mbah Darmo hilang kesadaran. Sakum pun ikut jatuh pingsan.

***

Satu hal yang dilihat Sakum setelah ia bangun adalah sosok itu bangun juga. Tetapi tidak lagi dengan tongkat tua yang dikira sumber kekuatannya. Ia mendelik kosong dan lidahnya menjulur seperti anjing-anjing kampung. Ia berjalan mendekat. Tetapi, kaki Sakum seperti terpahat.

“SAKUM… adalah ANAK KANDUNGKU. DARAH DAGINGKU…” sosok itu mulai berkomat. Sakum tersengat, ingin membantah, tetapi bibirnya malah terkunci rapat. “ILMUKU SUDAH KUTURUNKAN KEPADANYA. SEKARANG HORMATILAH DIA SEBAGAI ORANG PINTAR LUBUK PARAU. HAHAHA!” lanjutnya terbahak. Brak! Mbah Darmo ambruk setelah mengucapkan itu.

Tiba-tiba saja Sakum kesetanan. Matanya mendelik seperti sedang kerasukan.

Ia tidak ingat lagi kenapa ia hidup sendiri. Ia tidak tahu lagi kenapa ayahnya tiba-tiba jadi dukun sakti. Ia bahkan lupa apakah ia adalah buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya atau ikut arus sungai dan tumbuh di tempat yang lebih baik.

Sakum berdiri. Tongkat sakti ayahnya sudah berpindah ke tangan kirinya. **)

Sajak-Sajakku di Majalah Civitas

Di Gugur Daun

Perihalku hanya menyapu

daun gugur yang rebah

di basah tanah. Kematian

tidak pernah membutuhkan isak tangis

di pemakaman. Ketika ranting saja

tetap tabah menjadi tempat buah. Tapi

kutilang tak lagi mau menimang

kehilangan,

atau tunas baru?


Rantai Makanan

Sejatinya ulat tahu

Memaknai kerja keras. Sebelum unggas berkaki

Mematuki kematian

Dengan paruhnya yang tempayan. Ke mana tikus

Harus mencari lubang yang menyembunyikan

Cicit ibu? O, anak elang

Cakar-cakarmu adalah doa para

Pemburu, tanah basah

Airmata,

Nyanyian para petani di gabah-gabah

Yang tabah

Sebelum rebah di resah lelaki

Yang menukar keringatnya dengan

Anai-anai.


Kolam

Ada yang merasa bersalah, tiap hijau

lumut menutupi jalan cahaya.

Telur-telur katak menempuh jalan busa

belajar terbang,

lalu buih kehidupan. Di mana waktu, selalu

ada yang bertanya di gerak insang yang tak

mengenal kata berhenti. Segerombolan anak

lelaki, berdiri

mengeluarkan patung air mancur.


Di Taman, 1

Mengapa benalu, tumbuh di batang

sawo. Rumput-rumput jepang menangkap

embun, memimpikan diri menjadi

pohon yang rimbun.

Aku kumbang yang lupa kepulangan

tersesat di kuntum mawar,

tertusuk duri,

meluka sayap.


Di Taman, 2

Aku meranggas, berpura-pura kematian

telah datang menjemput.

Ular kadut yang berliang di celah kayu

seperti mandi sauna.


Di Taman, 3

Seekor tupai melompat

Dari kabel listrik, seekor capung

Sedang berpura-pura pesawat

Terbang,

Seekor kalajengking angkuh

Menantang para semut

Yang

Taat ratu, seekor katak

Mematai para serangga

Yang sabar menanti

Darah manis

Milikmu.

Aku batu, tumbuh di bawah pohon jambu.


Sedikit Saja, Kubiarkan Kau Mengerti

Kubiarkan kau mengerti, hujan

di bulan Juni

tidak lebih tabah

dari aku

dan musim yang gugur, akar yang

berpilin, cinta yang marah, atau bunga kecil

dari geneva,

sesungguhnya akan tersia-sia

dari teriakan kecil, “Avante, Avante, aku

memujaMu! akumerindui

Mu

lebih

dari malam-malam

di Kartika Plaza!”

Sedikit saja, kubiarkan

kau

mengerti

kalau aku tak akan

menyunting bulan sabit

ketimbang lesung pipit dan

betapa sipit matamu yang

mengutukku jadi Melayu!


Ruang Tamu

Satu ketukan pintu, pigura abrahah telah

menunggu. Pasukan gajah

lamur,

oleh sekumpulan jamur

mata rayap mengundang

ulat kayu. Meja marmer, kursi sofa

yang empuk, dan satu toples kue kering

mengalamatkan salam

pada secangkir kopi yang tandas

tinggal ampas.

Ke mana Tuan

rumah

yang berjanji

menyajikan mimpi?

Belum lama, seekor kucing mengeong

dan menggelayut manja

di samping tempat dudukku.

26 September 2010

Sajak=Sajak Pringadi Abdi Surya di Jurnal Bogor 26/9/2010

Pertemuan Terakhir



Terakhir kalinya, kubiarkan kau tersenyum dan

mataku menyimpannya jauh lebih dalam dari retina.

Pemandangan seperti ini tidak akan kulupakan:

sofa-sofa yang penuh, mengelilingi satu meja makan

dan masih menunggu beberapa menu mengisi perut

yang keroncongan. Aku memandangimu yang tak pernah

habis, kecuali umur

melapuk dan bersiap mengukir diri

di nisan batu. Tiba-tiba aku ngungun laiknya

pohon pinang, bukti pendakian panjang

dan jatuh berulang. Burung-burung terbang, keluar

dari sangkar. Tupai melompat, pada akhirnya

jatuh juga. Lamunan itu mengusikku

yang tengah mencoba menautkan rindu

yang terputus

oleh mimpi-mimpi rahasia. Hanya jam dinding,

mengembalikanku kepada kesadaran,

di meja makan itu, di kafe yang sibuk itu,

di segala tatapn matamu yang tak pernah habis,

kecuali pertemuan ini jadi akhir

bagi pelarian panjang

yang entah.





Hujan dalam Komposisi, XX



Dipenuhinya kolam itu, yang tadinya setengah

isi. Hujan masih menangis sendirian. Aku meratapi

jemuran yang kebasahan. Kolam meluber.

Ikan-ikan berenang dan berencana naik ke langit.





Selalu Begitu



Selalu begitu, aku tak mampu

menahan beban waktu. Angka-angka beranjak,

tetapi tak ada dering di handphoneku. Kutulis

sajak ini, berharap Tuhan membacanya

dan diam-diam mengizinkan segalanya

menjadi mudah—untuk sebuah pertemuan itu.

Matahari boleh saja hilang dari langit, bintang

meledak, dan angin malam bergerak cepat

ke utara. Selalu begitu, tetapi aku

menjadi laki-laki yang hirau pada

segalanya, kecuali bau

yang melekat di tubuhmu. Kecuali minggu

terlewati dan menjadi kosong

tanpa dirimu.





Kenangan Putih



Secangkir kopi di meja kubiarkan tandas dihirup udara yang haus. Musim ini begitu tak menentu, jejak-jejak sepatu tertutup tumpukan salju. Patahan ranting yang memiliki sidik jarimu pun sudah bersatu dengan tanah. Kecuali sebatang pohon yang diukirkan payung cinta bertuliskan nama kita berdua. Aku mengakui kamboja telah cemburu dan mencurimu dari bola mataku. Kecuali kenangan yang seberapapun tahun masih mampu kupanggil langsung lewat telepon genggam yang menyimpan suaramu. Jika suatu saat aku rindu, aku akan memanggilmu dan di sana, seolah-olah kamu sedang sibuk atau sedang tak ada di tempat. Kecuali di hatiku, sudah selalu kusiapkan istana dari gundukan musim-musim itu.



Kematian memang tidak pernah memilih, ya?





Motif, X



Aku tahu, Nda, perjalanan panjangmu dari

Prabumulih membuat matamu letih. Semua kulit

seperti keriput, dan cinta di antara kita beringsut

padam. Tetapi hanya malam yang mengingatkanku

betapa rindu sudah begitu menggebu. Dan tangan

kita belum jua bergenggaman, karena waktu.

Tetapi cinta sebenarnya tak pernah benar-benar

padam. Sebab duduk di Barong Cafe sore itu, aku

tahu betapa dalam dirimu bersarang. Aku paham

perjalanan hidup seperti naik halilintar di dufan itu,

yang tak pernah berani aku pilih. Hanya dirimu

yang bukan pilihan dan telah diantarkan Tuhan

kepadaku. Aku tahu, Nda, persis setelah

pertemuan

itu,

cinta akan mendekapku lebih erat. Dan Tuhan

akan memberikan cobaan yang lebih berat.



Sonet Motif, XX



Dan kupaki barang-barang. Tiga tahun belakangan tak muat

di kepalaku. Buku-buku, catatan, dan foto-fotomu masih kusimpan

dan tak berani aku hapus. Akun fesbukmu pun diam-diam kulihat,

barangkali kamu sudah ketemu cowok tampan baru teridaman.



Aku suka cemburu, marah-marah, dan bertingkah laku

seenak perutku sendiri. Tetapi, cintalah yang membuat kita mampu

berdiri bersama dan saling bergenggaman tangan, andai, waktu

terus melekat di tangan kirimu. Dan mata kita terus saling beradu.



Tetapi, Tuhan menerapkan cobaan pada cinta ini. Ada airmata

yang jatuh tertumpah. Ada cinta yang tak dapat kita jaga.

Sampai segalanya begitu jauh, dan terlambat. Hati masing-masing

mulai goyah dan menjadi gasing yang berputar terlalu sering.



Zasneda, tiba-tiba aku rindu kamu. Tiba-tiba aku kembali

memikirkanmu. Tiba-tiba pula, hatiku mendadak mati.









Biodata Singkat:

Pringadi Abdi Surya, dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Buku sajaknya berjudul ALUSI. Bergerak di komunitas sastra kota jakarta (Kosakata).



link:

http://www.jurnalbogor.com/?p=127033

25 September 2010

Pintu Hati

Tidak ada jalan kembali ke hatiku. Ibarat pintu, siapa pun boleh

mengetuknya, membuka dan memasuki ruang-ruang itu.

Kamar gelap dengan nyala lilin yang muram, rak-rak buku berdebu,

dan televisi yang tak pernah dinyalakan.

Aku lelaki yang beramah-tamah pada tamu, menyajikan kue-kue cantik

secantik bola matamu. Segelas Rosela hangat begitu kecut, seperti

halnya kecupanku di bibirmu.

Bulan boleh saja mencuri sejuta ciuman, tetapi tidak ciumanmu---

kucuri ia dengan hati-hati seolah aku pencuri

dan bisa saja merengkuh semesta dalam genggamanku.



Jalan ke hatiku cuma satu arah. Masuk dan keluar. Tetapi tak

ada pintu untuk kembali. Tak ada. Tak ada.

19 September 2010

Kebebasan Publikasi, Tantangan Berbahaya


Jurnal Bogor, 19 September 2010
Rubrik: Jendela Halimun


Begitulah ucapan Charles Bukowski-dikutip dari Hot Water Music, 1995-penyair Beat Generation gelombang ke dua, yang terkenal karena vitalitasnya bertahan hidup dan peminum berat di masyarakat pinggiran. Sebelum memulai karirnya sebagai penyair, Bukowski bekerja dalam pekerjaan kasar dan jurnalis di Harlequin. Dia digambarkan oleh Jean Genet dan Jean-Paul Sartre sebagai penyair Amerika terbesar.

Setelah lulus dari Los Angeles High School, Bukowski belajar selama setahun di Los Angeles City College, mengambil kursus jurnalistik dan sastra. Dia meninggalkan rumah pada tahun 1941 – ayahnya telah membaca cerita-ceritanya dan melemparkan barang-barang miliknya ke halaman. Ia pernah bekerja di pom bensin, operator lift, sopir truk, buruh pabrik biskuit, dan di kantor pos. Pada usia tiga puluh lima dia mulai menulis puisi.

Melihat perjalanan hidup Bukowski, agaknya bisa membantah pameo antara aktor dan penyair yang ditulis oleh Boleslawski dalam buku Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani)-aktor dan penyair datang ke sebuah pertunjukan teater, di depan gedung teater mereka melihat pengemis yang sangat menyedihkan, penyair berhasrat menuliskan puisi untuk menggambarkan pengemis itu, sedangkan si aktor tak perlu melakukan apa-apa karena ia ‘merasa’ sudah menjadi pengemis itu, atau dengan kata lain sindiran halus bahwa aktor memiliki empati ‘lebih’ daripada penyair. Benarkah klaim Boleslawski itu? Belum tentu. Sangat belum tentu.

Empati bisa digali dari pengalaman bersentuhan langsung dengan kehidupan, dan itu telah memberi ‘kekuatan’ pada puisi Bukowski. Dimana Bukowski mengaku, 93 persen puisinya adalah otobiografi. Puisinya sangat dipengaruhi oleh keadaan kota tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga menulis cerita pendek dan novel.

Secara intrinsik dan ekstrinsik karya Bukowski juga bisa membantah apa yang ditulis oleh ‘manusia hotel’ Iwan Simatupang dalam novel Merahnya Merah: penulis yang tak pernah kena sengatan sinar matahari.

Bisakah spirit dan pergulatan Charles Bukowski ‘memasuki hidup’ yang diretrospeksikannya dalam puisi itu, misalnya, ditemukan pada puisi generasi muda sekarang-yang barangkali adalah Poets Society yang datang dari masa depan-bahwa menulis puisi, khususnya otobiografi maupun liris, bukan sesuatu ’seolah-olah’ atau khayalan semata, tapi berangkat dari empiris, tak terpisah dari kehidupan (lingkungan), dan tak cuma mengandalkan pada bakat alam. Apalagi, kecenderungan puisi generasi sekarang banyak bermain pada ranah otobiografi dan lirisme.

***

Publikasi yang terbuka luas sekarang ini (koran, majalah, buletin, buku, milis, web, blog, facebook, twitter) dan mulai runtuhnya pusat kekuasaan sastra yang kerjanya cuma membaptis kepenyairan seseorang secara arsesif, adalah sebuah kemenangan masa sekaligus tantangan yang berbahaya, yang dimiliki penyair muda!

Pada ruang cyber, dibandingkan media publikasi konvensional (cetak), puisi hadir di publik tidak lagi setelah melalui tangan yang lain, yang masing-masing pemilik tangan tersebut, tentu memiliki selera berbeda-beda.

Namun kebebasan itu, sesungguhnya meminta pertanggungjawaban lebih, agar puisi tidak sekadar kecanggihan bermain bahasa, mengindah-indahkan bahasa (bahasa itu sudah indah!) dan produksi teks dari mesin (komputer) semata. Hal ini juga menjangkiti beberapa penyair yang konon sudah senior. Kegenitan publikasi di media cetak pun cyber, kadang tak ubahnya seperti status di facebook dan twitter, berisi persoalan pribadi yang seolah-olah menyangkut hajat orang banyak.

Wilayah domestik, ruang pribadi, bilik dalam, yang tak menyangkut hajat orang banyak itu tanpa ‘diolah’ tapi tetap dipublikasikan, mengingatkan kita pada infotaiment. Lebih mengejar sensasi yang banal. Adakah Selebritis Syndrom juga tengah merasuk dalam sastra kita?

Jika kritik pingsan, jurusan sastra Indonesia mandul, sudah sepatutnya penyair membikin perhitungan habis-habisan dengan puisinya, sebelum puisinya itu melangkah bergelanggang mata orang banyak, bertemu pembaca aktif maupun pasif. Sebagaimana dokter, penyair juga profesi yang menuntut keseriusan dan tanggungjawab agar tidak terjadi malpraktek terhadap karyanya.

Puisi adalah dunia yang menjadi, tulis Chairil Anwar. Bagaimana puisi bisa menjadi ‘dunia yang menjadi’? Inilah tantangan terberat bagi penyair, sesungguhnya. Bukan berapa sering dimuat di media. Lalu berharap dapat undangan resepsi sastra. Apalah guna ikut ‘pesta satra’ itu, jika cuma ibarat mentimun bungkuk yang masuk karung tapi tak masuk hitungan. Jadi tukuk tambah.

Dan apabila puisi menjadi ‘dunia yang menjadi’ itu, agaknya, kita bakal bertemu apa yang disampaikan Konfusius: “Tidak belajar sajak, tidak ada yang bisa dibicarakan.”
Li Po, Jalaludin Rumi, Matsuo Basho, William Shakespeare, Arthur Rimbaud, Rainer Maria Rilke, TS Eliot, Pablo Neruda, menyebut beberapa nama yang cukup familiar di publik sastra kita misalnya, ketika kita membaca puisi mereka, secara diam-diam puisi mereka menyusup ke dalam memori intim, membuat ingatan bersama. Pengalaman penyair, pengalaman pembaca juga.

Bahkan, puisi bisa menjadi spirit bagi zamannya. Allen Ginsberg, lewat puisinya, turut memberi warna pada gerakan Beat Generation di Amerika Serikat tahun 1950-an. Wiji Tukul, penyair cum aktivis asal Solo yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya, puisinya “Hanya Ada Satu Kata: Lawan! ” Diteriakkan lantang dan jadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru oleh mahasiswa pergerakan, hingga runtuhnya rezim para jenderal itu pada tahun 1998.

Pun Chairil Anwar, yang memberi kontribusi terhadap perkembangan puisi modern dan bahasa Indonesia. Meski berusia pendek, ia hanya mempublikasikan sekitar 77 puisi saja, namun bukan kuantitas yang menjadi tolak ukur, melainkan kualitas. Toh, karya seni bukan seperti barang kerajinan yang berorientasi pasar semata (media).
Yang pasti, masa depan perpuisian Indonesia terletak di tangan penyair muda yang berani melawan ucapan Bukowski di awal tulisan ini. Tentu saja dengan “memiliki persiapan” dalam puisi yang mereka ciptakan. Dan karya bukan sekadar produksi teks dari mesin (komputer), tapi teks yang bersumber dari kehidupan.

= Y. Thendra BP, Penyair, Berdomisili di Yogyakarta

12 September 2010

Baris Paling Pedih yang Bisa Kutulis Malam Ini

diterjemahkan Pringadi Abdi Surya
dari "Tonight, I Can Write The Saddest Lines" Pablo Neruda


Malam ini, aku mampu menulis baris paling pedih.

Tulis saja, seperti, “Malam hancur berkeping-keping

Dan gugusan bintang biru merinding di kejauhan.”

Angin malam berpusar di langit dan bernyanyi.



Malam ini, aku mampu menulis baris paling pedih.

Dulu, aku mencintainya, dan kadang-kadang dia juga sama.

Melalui malam-malam seperti malam ini, aku memeluknya erat.

Aku menciumnya lagi dan lagi di langit yang tak bertepi.



Dia mencintaiku kadang-kadang, dan aku mencintainya juga—

Bagaimana bisa seseorang tidak mencintai matanya yang indah?



Malam ini, aku mampu menulis baris paling pedih.

Berpikir bahwa aku sudah tidak memilikinya—kehilangannya.

Mendengar malam yang hampa, jauh lebih hampa tanpa dia.

Dan bait ini jatuh ke jiwaku layaknya embun di padang rumput.



Apa ini menjadi masalah—cintaku yang tak mampu menjaganya.

Dan malam kembali hancur berkeping. Dan dia tak bersamaku.

Sudahlah. Dalam jarak seseorang bernyanyi di kejauhan.

Sementara jiwaku tak puas telah kehilangan dirinya.



Pandanganku mencari-cari seolah pikiranku berlari ke arahnya.

Hatiku juga menelisiknya, dan memang dia sudah tak bersamaku.



Malam yang sama penuh kabut di baris pepohonan.

Kami, di masa itu, sudah tidak lagi bersama.

Aku sudah tak lagi memilikinya, hanya saja, aku mencintainya.

Suaraku mencoba menemu angin dan membisikkan ini kepadanya.



Lainnya, ya, dia akan menjadi yang lain. Seperti ciuman sebelumnya

Keabaiannya. Tubuh mulusnya. Dan matanya yang dalam tak berdasar.

Aku tidak lagi mencintainya, itu pasti, tapi mungkin aku masih mencintainya.

Cinta memang begitu singkat. Dan melupakan butuh waktu yang panjang.



Karena melalui malam-malam seperti malam ini, aku memeluknya

Tak seharusnya aku tidak puas telah kehilangannya.



Berpikir ini akan jadi luka terakhir yang membuatku menderita.

Dan ini akan jadi baris terakhir yang aku tulis unutknya.



Cerpen Franz Kafka: Bucket Rider

Penunggang Ember Arang





Seluruh arang telah habis; embernya kosong; sekopnya tidak berguna saat ini; perapian menghembuskan hawa dingin; ruangan dibumbung oleh hawa membeku; pepohonan di luar kaku oleh embun beku; langit bagai perisai keperakan menolak siapa pun yang mengharapkan pertolongan dari sana. Aku harus mendapatkan arang; aku tidak mau membeku hingga ajalku; di belakangku ada perapian yang tidak mengenal kasihan, di hadapanku langit pun tidak mengenal kasihan, alhasil, aku harus berkendara dengan seluruh kecepatan di antara mereka, dan mencari pertolongan dari penjual arang di tengah. Bagaimanapun perasaannya telah menjadi tumpul terhadap permohonan-permohonanku; aku seharusnya membuktikan padanya dengan jelas bahwa aku tidak memiliki sebutir pun debu arang, dan bahwa ia menjadi sangat berarti untukku bagai matahari di cakrawala. Aku mesti datang seperti pengemis muncul di depan pintu dengan gemerincing kematian di tenggorokannya, dan mengakhiri hidupku disana, sehingga juru masak dalam rumah besar itu memutuskan untuk memberinya ampas dari poci kopi terakhir; demikian juga si penjual arang, marah, namun samara-samar tersentuh oleh perintah-Nya, “Janganlah kamu membunuh; melemparkan satu sekop penuh arang ke dalam emberku.



Cara pendekatanku harus menentukan persoalan, jadi aku berangkat dengan ember arangku. Sebagai seorang penunggang ember arang, dengan kedua tanganku pada pegangannya, kendali yang paling sederhana, aku mengemudikan diri dengan sedikit kesulitan saat menuruni tangga; namun begitu di bawah, emberku terangkat, gagah, gagah; unta-unta, membungkuk rendah di tanah, tidak mampu bangkit dengan lebih bangga, gemetar di bawah tongkat penunggangnya. Berangkatlah kami melewati jalanan yang licin karena es dengan derap yang mantap, sering aku terangkat setinggi tingkat pertama rumah-rumah; tidak pernah aku aku lebih rendah dari ketinggian pintu-pintu depan. Kemudian pada ketinggian yang luar biasa aku mengambang di luar gudang bawah tanah si penjual arang, tempat ia meringkuk jauh di bawah menekuri meja kecilnya, menulis; sehingga untuk mengurangi panas yang berlebihan dia membuka pintu.



“Penjual arang!” aku berteriak, dengan suara menggaung oleh hawa beku, diselimuti uap napasku "tolonglah penjual arang, beri aku sedikit arang; ember yang aku tunggangi ini kosong melompong saat ini. Berbaik hatilah. Aku akan membayarnya segera, aku bisa."



Si penjual arang meletakkan tangan pada telinganya. “Apakah benar yang aku dengar?” Ia bertanya sambil berpaling pada istrinya yang duduk menyulam di atas kursi menghadapi perapian. “Apakah benar yang aku dengar? Seorang pembeli!”



“Aku tidak mendengar sesuatu pun," kata istrinya sambil menarik napas dan menghembuskannya dengan tenang di atas jarum sulamnya, punggungnya terasa hangat menyenangkan.



“Tapi tentu saja.” Aku berteriak, “Ini aku seorang langganan lama, setia dan jujur; hanya saja baru kehabisan uang.”



“Istriku,” kata si penjual, “pasti ada seseorang; aku tidak bisa dikelabui sama sekali; ia pasti langganan lama, sangat lama yang menegur hatiku selama ini.”



“Ada apa gerangan denganmu?” Tanya istrinya, berhenti sebentar dan menekan sulamannya ke dada, “tidak ada siapa-siapa, jalanan sepi, semua pelanggan kita telah dipenuhi; kita dapat menutup toko untuk beberapa hari dan beristirahat.”



“Tapi aku duduk di sini di atas ember arangku,” aku berteriak bersamaan mataku berkaca-kaca tanpa merasakan dinginnya airmataku, “tolonglah, hanya melihat ke atas sini; kalian akan segera melihatku; aku mohon pada kalian satu sekop penuh arang; dan jika kalian memberi aku dua sekop, aku akan sangat berbahagia. Semua pembeli lain sudah dipenuhi bukan? Oh, jika saja aku dapat mendengarnya gemerincing ke dalam emberku saat ini!”



“Aku datang,” kata si penjual dan pergilah ia dengan kakinya yang pendek menaiki tangga gudang bawah tanah, tetapi istrinya sudah berada di sampingnya, menahan dengan tangannya dan berkata: “Kamu diam saja di sini, jika kamu sangat keras kepala, aku akan pergi melongoknya ke atas. Ingat buruknya serangan batukmu yang tiba-tiba datang semalam. Tapi demi urusan kecil, walaupun hanya sebuah khayalan, kamu segera melupakan istri dan anakmu dan mengorbankan paru-parumu. “Aku akan pergi.” “Kalau begitu yakinkan dia akan semua jenis persediaan yang kita miliki. Aku akan menyebutkan harganya nanti.” “Baiklah,: kata istrinya, dan naik ke atas jalan. Tentu saja ia melihatku seketika itu juga.



“Nyonya penjual arang," aku berteriak, “hambamu yang rendah ini; hanya satu sekop penuh arang; langsung ke dalam ember ini; aku akan membawanya pulang sendiri; satu sekop penuh yang paling buruk mutunya; aku akan membayarmu penuh, tentu saja, tetapi tidak saat ini, tidak saat ini.” Batapa kata-kata “tidak sata ini” tersebut berbunyi seperti sebuah lonceng. Dan betapa membingungkannya kata-kata itu bercampur dengan suara lonceng-lonceng senja dari menara gereja di dekat sini!



“Apa yang dia inginkan sebenarnya?” panggil si penjual.



“Tidak ada," istrinya berseru kembali, “tidak ada apa-apa disini; aku tidak melihat apa pun; hanya lonceng berdentang enam kali dan ini adalah waktunya untuk tutup. Dinginnya amat mengerikan; besok mungkin saja kita harus bekerja lebih banyak.”



Dia tidak melihat apa pun dan tidak mendengar apa pun; walau begitu dia melepaskan celemeknya dan dengan celemeknya itu, ia mencoba mengebaskan aku menjauh. Aduh, ia berhasil. Seluruh kebaikan dari sebuah tunggangan bagus dimiliki ember arangku, tapi kurang daya tahannya; sangat ringan; hingga celemek seorang wanita menyapu kakinya dari bawahnya.



“Kamu perempuan jahat,: aku berteriak selagi aku enyah, sementara dia, sambil berbalik kembali ke toko, melambaikan satu tangannya di udara, setengah jijik, setengah puas. “Kamu perempuan jahat! Aku minta satu sekop penuh arang dengan mutu paling buruk, tetapi kamu tidak memberi.” Dan serta merta aku mendaki ke celah-celah sungai es lalu menghilang untuk selamanya.



The Bucket Rider





Coal all spent; the bucket empty; the shovel useless; the stove breathing out cold; the room freezing; the leaves outside the window rigid, covered with rime; the sky a silver shield against anyone who looks for help from it. I must have coal; I cannot freeze to death; behind me is the pitiless stove, before me the pitiless sky, so I must ride out between them and on my journey and seek aid from the coal dealer. But he has already grown deaf to ordinary appeals; I must prove irrefutably to him that I have not a single grain of coal left, and that he means to me the very sun in the firmament I must approach like a beggar, who, with the death rattle already in his throat insists on dying on the doorstep, and to whom the grand people's cook accordingly decides to give the dregs of the coffeepot; just so must the coal dealer, filled with rage, but acknowledging the command, "Thou shalt not kill," fling a shovelful of coal into my bucket.



My mode of arrival must decide the matter; so I ride off on the bucket. Seated on the bucket my hands on the handle, the simplest kind of bridle, I propel myself with difficulty down the stairs; but once down below my bucket ascends superbly, superbly; camels humbly squatting on the ground do not rise with more dignity, shaking themselves under the sticks of their drivers. Through the hard frozen streets we go at a regular canter; often I am upraised as high as the first story of a house; never do I sink as low as the house doors. And at last I float at an extraordinary height above the vaulted cellar of the dealer, whom I see far below crouching over his table, where he is writing; he has opened the door to let out the excessive heat.



"Coal dealer!" I cry in a voice burned hollow by the frost and muffled in the cloud made by my breath, "please, coal dealer, give me a little coal. My bucket is so light that I can ride on it. Be kind. When I can I'll pay you."



The dealer puts his hand to his ear. "Do I hear rightly?" he throws the question over his shoulder to his wife. "Do I hear rightly? A customer."



"I hear nothing," says his wife, breathing in and out peacefully while she knits on, her back pleasantly warmed by the heat.



"Oh, yes, you must hear," I cry. It's me; an old customer; faithful and true; only without means at the moment."



"Wife," says the dealer, "it's someone, it must be; my ears can't have deceived me so much as that; it must be an old, a very old customer, that can move me so deeply."



"What ails you, man?" says his wife, ceasing from her work for a moment and pressing her knitting to her bosom. "It's nobody, the street is empty, all our customers are provided for; we could close down the shop for several days and take a rest."



"But I'm sitting up here on the bucket" I cry, and unfeeling frozen tears dim my eyes, "please look up here, just once; you'll see me directly; I beg you, just a shovelful; and if you give me more it'll make me so happy that I won't know what to do. All the other customers are provided for. Oh, if I could only hear the coal clattering into the bucket!"



"I'm coming," says the coal dealer, and on his short legs he makes to climb the steps of the cellar, but his wife is already beside him holds him back by the arm and says: "You stay here; seeing you persist in your fancies I'll go myself. Think of the bad fit of coughing you had during the night But for a piece of business, even if it's one you've only fancied in your head you're prepared to forget your wife and child and sacrifice your lungs. I'll go."



"Then be sure to tell him all the Kinds of coal we have in stock; I'll shout out the prices after you."



"Right," says his wife, climbing up to the street. Naturally she sees me at once. "Frau Coal dealer," I cry, "my humblest greetings; just one shovelful of coal; here in my bucket; I'll carry it home myself. One shovelful of the worst you have. I'll pay you in full for it, of course, but not just now, not just now." What a knell-like sound the words "not just now" have, and how bewilderingly they mingle with the evening chimes that fall from the church steeple near by!



"Well what does he want?" shouts the dealer. "Nothing," his wife shouts back, "there's nothing here; I see nothing, I hear nothing; only six striking, and now we meet shut up the shop. The cold is terrible; tomorrow we'll likely have lots to do again."



She sees nothing and hears nothing; but all the same she loosens her apron strings and waves her apron to waft me away. She succeeds, unluckily. My bucket has all the virtues of a good steed except powers of resistance, which it has not; it is too light; a woman's apron can make it fly through the air.



"You bad woman!" I shout back, while she, turning into the shop, half contemptuous, half reassured, nourishes her fist in the air. "You bad woman! I begged you for a shovelful of the worst coal and you would not give it me." And with that I ascend into the regions of the ice mountains and am lost for ever.

07 September 2010

Malam Lebaran

: sitor situmorang


Bila perlu, kukirimkan malam lebaran ini
ke bulan. Menyusul jejak kaki Armstrong yang
ragu-ragu. Orang-orang boleh saja bersenang-senang,
menyalakan petasan, konvoi keliling kota Palembang
dengan bedug yang ditabuh berulang-ulang.
Andai, memang, tidak ada yang menangis di
sekitaran lampu merah. Kematian
disambut dengan ranggas daun mahoni,
dan hujan boleh saja bersorak, dan mengetuk
pintu hati. Bila perlu, bila perlu,
aku akan lebaran di bulan dan mengibarkan
bendera yang lain sebagai bukti
kepergianku itu.

06 September 2010

Ke PIM

Bukan hanya kita, yang abai pada seribu

bulan itu. Jalanan penuh. Kendaraan seperti

mengantri sembako. Toko-toko kehilangan jam

sembilan malam, dan bersepakat tidak tutup

sampai mata menemu embun di pelataran

parkir. Berapa hari saja kita telah mangkir

dari doa malam ramadhan? Sebelum sajak lahir

dan bulan kembali mendekam di atas kuburan?

Selalu begitu, duduk berlima di dalam mobil itu,

aku teringat koran yang kutinggalkan di meja

makan. Dan segelas kopi dingin yang masih,

01 September 2010

Sajak-Sajak Sapardi tentang Hujan


Hujan di Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu..



Tajam Hujanmu


Tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
Payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu …
sembilu hujanmu …


Gadis Kecil

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang, ada pohon
dan seekor burung…

Hujan dalam Komposisi, I

“Apakah yang kautangkap dalam suara hujan,
Dari daun-daun bugenvil basah yang teratur
Mengetuk jendela?Apakah yang kau tangkap
Dari bau tanah, dari ricik air
Yang turun di selokan?”

Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah
Dan hujan, membayangkan rahasia daun basah
Serta ketakutan yang berulang

“Tidak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri
Yang di balik pintu memimpikan ketukan itu,
Memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan
Bisik yang membersit dari titik air
Menggelincir dari daun dekat jendela itu
Atau memimpikan semacam suku kata
Yang akan mengantarmu tidur.”

Barangkali sudah terlalu sering ia
Mendengarnya, dan tak lagi mengenalnya


Hujan dalam Komposisi, 2


Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula
ia di udara tinggi, ringan, dan bebas; lalu
mengkristal dalam dingin; kemudian melayang
jatuh ketika tercium bau bumi; dan menimpa
pohon jambu itu, tergelincir dari daun-daun,
melenting di atas genting, tumpah di pekarangan
rumah dan kembali ke bumi

Apakah yang kita harapkan? Hujan juga jatuh di
jalan yang panjang, menyusurnya dan tergelincir
masuk selokan kecil, mericik suaranya
menyusur selokan, terus mericik sejak sore,
mericik juga di malam gelap ini, bercakap
tentang lautan

Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di
lautan. Selamat tidur.


Hujan dalam Komposisi, 3

dan tik tok jam itu kita indera kembali akhirnya :
terpisah dari hujan


Hujan, Jalak, dan Daun Jambu

Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba

Tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia.
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara,
Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia



Pada Suatu Pagi Hari


Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi



Membebaskan Hujan


ada yang ingin menjaring hujan
dengan pepatah-petitih tua
yang tak lekang meski basah -
hujan buru-buru menghapusnya

ada yang ingin mengurung hujan
dalam sebuah alinea panjang
yang tak kacau meski kuyup -
hujan malah sibuk menyuntingnya

ada yang ingin membebaskan hujan
dengan telapak tangan
yang jari-jarinya bergerak gemas -
hujan pun tersirap: air mata


Sihir Hujan


Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
– suaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan


*Sapardi Djoko Damono*

Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982

Pantai Mutun