23 June 2014

Puisi Pringadi Abdi Surya, diterjemahkan oleh John H. McGlynn

The Last Rain in Memory

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
for leaves have only just begun to grow
after the curse of a century of drought
for my failure as a man to turn stones
into gold

an elderly alchemist named khidir
who disappeared into eternity
left a message for me:

even one drop of the bitter rain that fell that evening
is capable of becoming a new world

no one knows, I've even concealed my shadow
in that old and windowless house
and that I'm looking now for other shadows
cast by a woman with reddened lips

upon seeing her, the rain will lessen
and everyone will begin to affirm the feeling of pain

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
and the leaves that are styudying to write down names
don't come to know how your name is spelled

as death or as love

(2014)

John H. McGlynn adalah seorang penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika yang telah tinggal di Indonesia sejak 1976.Selain sebagai Ketua Lontar[10], ia juga menjadi editor Indonesia untuk Manoa, jurnal kesusastraan dari Universitas Hawaii , sekaligus menjadi editor tamu Words Without Borders.[1] Ia adalah anggota Komisi Internasional dari IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), PEN International-New York, dan The Association of Asian Studies

20 June 2014

Pringadi Abdi Surya dalam Negeri Poci 5





Alhamdulillah, puisi saya masuk dalam antologi ini. Beberapa puisi dapat dilihat di http://www.teraslampung.com/2014/06/puisi-puisi-dari-negeri-poci-5-negeri.html

Dari redaksi: Puisi-puisi ini adalah sebagian dari 153 penyair dalam Antologi Puisi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit yang diterbitkan Kosakata Kita bekerja sama dengan Komunitas Radja Ketjil. Pada 20 Juni 2014 akan diluncurkan di Tegal. Diperkirakan 50-an penyair akan hadir pada acara berajuk "Temu Penyair Dari Negeri Poci" tersebut. 

SEPANJANG TUBAGUS, SEPEREMPAT ABAD

i.
ia akan berusia seperempat abad, tetapi
belum mengerti caranya mengusir kesepian.

ii.
ia bermimpi menjadi remaja, menelepon dan mengirim sms cinta.
tetapi tiada lagi kekasihnya, tiada lagi perempuan-perempuan
yang lahir dari ujung daun. ia menengok ke seberang jalan,
bangunan-bangunan lebih tinggi dari kesombongan.

kepada siapa ia harus menjadi remaja, pikirnya
tetapi ia lupa, ia telah tak memiliki pikiran.

iii.
ia akan menyalakan tungku. tetapi tak ada kayu bakar
daun-daun kering di sepanjang tubagus menebarkan bau hangus

ada api kecil menyala di tulang daun, ia menangis melihatnya
api kecil lain di matanya sudah lama tiada

iv.
di kehidupan yang lalu, ia pasti seorang superhero
punya sayap dan tak malu memakai pakaian dalam di luar celana
yang ia herankan, kehidupan sekarang orang-orang lebih tak punya malu
sebagianbahkan tak memakai pakaian dalam

ia tahu, ia harus benar-benar menutupi dadanya yang gosong
karenaluka, dari kenyataan atau dari perasaan

ia tahu, ia harus belajar memiliki kelamin yang terpotong kekuasaan

2013


PRINGADI ABDI SURYA. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang bekerja di KPPN Sumbawa Besar. Buku puisinya, Alusi(2009).

12 June 2014

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh

dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukea

dan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanya

dan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiri

dan melamun-merenungi sejauh yang aku mampu

demi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;

 

lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,

dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik

karena begitu serut dan kurang terjamahi;

meskipun untuk berjalan terus ke sana

sedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaan

 

Dan keduanya, secara seimbang membaringkan pagi

menginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, 

oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!

Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaran

aku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembali

 

Aku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhan

di suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:

Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--

aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,

dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

 

08 June 2014

Palasik, (Berita Kota Kendari 7 Juni 2014)


Ketika orang-orang tengah meributkan partikel Tuhan dan tanpa sadar melupakan bahwa Boston-Higgs bukan satu orang (aku jadi kasihan pada orang India itu) sementara sebagian yang lain asik mendebat tentang Grand Design milik Stephen Hawking (dan aku kerap keliru menyebutnya Stephen King), Zane malah berkata tak ingin membawa Hanna keluar rumah karena takut palasik. Padahal besok 1 Syawal. Idul Fitri. Dan ia lulusan Fisika ITB dengan IPK di atas tiga.

            "Apa hubungannya lulusan Fisika ITB dengan 1 Syawal?" Ia berbalik tanya, mengerutkan dahi, tak terima. "Kenapa tak sekalian Ayah bilang saja, ijazah cap gajahku itu tak ada gunanya karena aku hanya menjadi ibu rumah tangga?" Ah, aku benci jika ia mulai mengungkit-ungkit hal ini.
         
   "Bukan, Sayang. Ayah cuma menyarankan Mama untuk ikut shalat besok. Sayang 'kan, setahun sekali lho..."
            "Lalu Hanna bagaimana?"
            "Dia tidak bisa ikut?"
            "Palasik Ayah, palasik!"
“Palasik?”
            Aku tidak paham alasan mitos palasik begitu kuat di sini. Di Palembang, tak ada palasik. Yang ada sawan. Diberi penjelasan ilmiah, bayi yang terkena sawan disebabkan oleh bakteri atau virus saat berada di luar rumah sementara imunitas sang bayi lemah. Bukan karena kesambet jin. Tapi, di Talang, ah, aku tak bisa membayangkan ada sesosok kepala melayang di malam hari, mengikuti bayi kemudian mengisap darahnya. Dan bila di siang hari, ia manusia biasa. Namun, bila melihat bayi lewat, ia akan melotot dan mengisap energi sang bayi.
            "Anak Etek Fitri, yang rumahnya dekat Tunggaek, baru empat hari meninggal. Padahal lahirnya sehat, normal, tak ada masalah. Dua koma tujuh kilogram. Hanna cuma satu koma enam. Ayah mau ambil resiko?" lanjutnya.
            “Hidup mana yang tak ada resiko, Ma? Kita lagi makan enak pun bisa tersedak. Allah yang mengatur hidup mati kita. Ayah tak suka kalau bau-baunya sudah mendekati syirik begini.” Aku menjawab tegas.
            “Ya sudah, bilang ke Mama dulu,” ia mengalah.

Pantai Mutun