Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2010

Dialog Imajiner dengan Pria Imajiner

Selamat Malam, Tuan... hmmm?

Jangan panggil saya Tuan, cukup Pria Imajiner.

Baiklah, Pria Imajiner, saya tak ingin berbasa-basi, ceritakan kisah cinta Anda?

Saya mencintai seorang perempuan. Sejak saya masuk ke kampus imajiner, pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh cinta. Perlu waktu dua tahun lamanya, setelah saya pindah ke kampus imajiner yang lain, tanggal 7 Desember 2007 saya jadian dengan dia. Saat itu saya bahagia sekali. Film pertama yang kami tonton adalah film tentang mencari harta karun, di BSD Serpong saat bakda libur natal. Saya juga ajak dia ke kosa say, naik kereta, itu pertama kalinya dia naik kereta. Tapi kami tak sempat berlama-lama karena pamannya menagih janji kepulangannya jam lima sore. Kami ke stasiun lagi dan kereta baru ada jam setengah empat sore, tentu akan telat sekali. Kami bersepakat naik taksi. Dan di taksi itulah pertama kali saya menggenggam tangannya, dalam diam, dalam tanpa kata-kata.

Anda tentu bahagia. Pernah bermasalah dengan dia?

Sangat bahagia.…

Template Malna

Ribut Wijoto
Radar Surabaya (7/11/2010)

Dalam beberapa hal, saya adalah penggemar Afrizal Malna. Ketika suatu kali Afrizal bilang bahwa banyak penyair sekarang sebenarnya tidak punya alasan untuk menulis puisi, sungguh, saya terpesona.

Apakah pernyataan itu dilontarkan setelah melalui riset yang panjang, pertimbangan mendalam, atau sekadar ceplosan, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, dalam beberapa hari bahkan bulan, pernyataan itu terus terngiang dalam benak saya. Dia seakan merasuk inheren pada otak saya, istilah Jawanya, saya terus kepikiran. Beruntung bagi saya, pernyataan Afrizal tidak sampai membetot mimpi saya. Mimpi saya tetap terisi persoalan-persoalan rumah tangga. Semisal percintaan saya dengan istri saya yang tidak pernah jenuh kami lakukan. Pernyataan Afrizal hanya berkelindan dalam pikiran ketika saya sepenuhnya sadar.

Pernah suatu kali saya iseng menanyakan kepada Afrizal, apakah puisi-puisi yang termuat di media itu bisa dijadikan standar kualitas puisi di Indonesia. D…

Rilke, Kepada Penyair Muda

Engkau bertanya apakah sajak-sajakmu baik. Engkau bertanya padaku. Sebelum ini engkau telah menanyai orang lain. Kau kirimkan sajak-sajakmu ke berbagai majalah. Kau bandingkan karyamu dengan sajak-sajak orang lain, dan engkau gelisah bila ada redaksi majalah yang menolak sajak-sajakmu. Sekarang kuminta agar kau jangan memperdulikan semua itu. Tidak ada orang yang dapat memberimu nasihat dan pertolongan, tidak seorangpun. Hanya ada satu jalan saja, masuklah ke dalam dirimu.

DEMIKIAN Rainer Maria Rilke (1875-1926) mengawali tulisannya “Kepada Penyair Muda” yang dimuat dalam Majalah Sastra Horison No.2 Thn.II Februari 1967 terjemaahan Taufiq Ismail, yang diambilnya dari “Surat-surat Kepada Seorang Penyair Muda”. Sayang, dalam tulisan tersebut Rilke tidak menyebut nama siapa pun yang disebut atau dimaksudnya sebagai “penyair muda” itu. Bahkan, dalam majalah sastra yang terbit 40 tahun yang lalu itu, ketimbang terbaca sebagai sebuah surat seperti yang menjadi sumber pemuatannya, tulisan i…

Agus Noor: Bayi Bersayap Jelita

BAYI BERSAYAP JELITA

Cerpen Agus Noor


KAKEK bisa membelah diri. Bisa berada di banyak tempat sekaligus…

Aku melihat Kakek tengah berdiri memandang keluar jendela, ketika aku masuk. Kamar gelap – mungkin Kakek sengaja mematikan lampu – aku merasa ia tak ingin diganggu. Pelan pintu aku tutup kembali. “Masuklah,” suara Kakek lemah. Ia tergolek, dengan selang oksigen dan infus yang bagai mencencangnya ke ranjang. Demi Tuhan! Aku tadi melihat Kakek berdiri dekat jendela itu. Benarkah Kekek bisa berpindah dalam sekejap?

Kurasakan, Kakek mengedipkan mata: sini, tak usah heran begitu. Padahal kulihat ia terbaring memejamkan mata begitu tenang.

Dua hari sebelum puasa, ibu menelpon. Kakek jatuh di kamar mandi, serangan jantung. Mas Jo memintaku segera saja ke Jakarta. Sebelum terlambat – ia rupanya tahu keenggananku menjenguk Kakek. “Biar aku urus Nina,” katanya. Bungsuku itu memang baru kena demam berdarah.

Aku tak terlalu dekat dengan Kaket. Bahkan tak menyukainya. Semasa kecil, kakak-kakak dan se…

Umar Kayam: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”

“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”

“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”

“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”

“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!”

“Kuning keemasan!”

“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”

Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.

“Marno, Sayang.”

“Ya, Jane.”

“Bagaimana Alaska sekarang?”

“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”

“Maksudku hawanya pada saat ini.”

“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”

“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska ada…

Kisah Pilot Bejo, Budi Darma

Kisah Pilot Bejo
Cerpen Budi Darma (dimuat di Kompas, 02/11/2007 )

Barang siapa ingin menyaksikan pilot berwajah kocak, tengoklah Pilot Bejo. Kulitnya licin, wajahnya seperti terbuat dari karet, dan apakah dia sedang gemetar ketakutan, sedih, atau gembira, selalu memancarkan suasana sejuk. Karena itu, kendati dia suka menyendiri, dia sering dicari.

Kalau dilihat dari ilmu pengetahuan, entah apa, mungkin pula sosiologi, dia masuk dalam kawasan panah naik. Hampir semua neneknya hidup dari mengangkut orang lain dari satu tempat ke tempat lain. Ada leluhurnya yang menjadi kusir, lalu keturunannya menjadi masinis, dan setelah darah nenek moyang mengalir kepada dia, dia menjadi pilot.

Karena pekerjaan mengangkut orang dapat memancing bahaya, maka, turun menurun mereka selalu diberi nama yang menyiratkan keselamatan. Dia sendiri diberi nama Bejo, yaitu “selalu beruntung,” ayahnya bernama Slamet dan karena itu selalu selamat, Untung, terus ke atas, ada nama Sugeng, Waluyo, Wilujeng, dan entah apa…

Darah yang Bercahaya (Seno Gumira Ajidarma)

ular sawah menelan telur ayam, o
padahal sungguh sedang dieram
di dalam perut telur itu menetas
merayap keluar dari mulut ular
anak ayam menghilang ke hutan
ular sawah tidur kekenyangan, o!

Kematian Dursasana yang mengenaskan segera tersebar ke segala penjuru pertempuran. Dengan rasa ngeri diceritakan bagaimana Bima tidak lagi bertindak seperti manusia. Ia menghancurkan wajah Dursasana yang buruk rupa, menggocohnya sampai menjadi bubur, menyobek perutnya dengan pisau, mengeluarkan ususnya, dan menghirup darah sebanyak-banyaknya. Demikianlah diceritakan dalam Kakawin Bharata-Yuddha:

Pada waktu itu berbicaralah Bhima dengan suara yang lantang dan tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya.

“Wahai kelompok pahlawan semuanya dan khususnya dewa-dewa yang menjelma di dunia ini! Lihatlah Bhima ini yang sedang akan memenuhi janjinya di tengah medan pertempuran. Darah Dussasana inilah yang akan saya minum. Lihatlah!

“Dan untuk dewi Drupadi inilah hari yang terakhir untuk mengurai rambutnya. Teri…

Senandika Dua Detik

aku mencintai dua detik di matamu. dua detik yang hilang di dua enam malam, menghablur, kau, bayanganmu, kereta, penerbangan yang gagal satu hari, ruang tunggu, siul laki-laki tua di beranda, duduklah ia di kursi serenta tulang-tulangnya sendiri. bagaimana mampu aku mencintai detik yang lain, detik bisu di pohon randu yang ranggas, api musim, api dini hari, api jam sebelas siang, api abu, api cinta kita, yang terbakar tanpa syarat. aku ibrahim baru, mengaku nabi, mengaku rasul, mengaku satria pninggit, mengaku mahdi, mengaku jibril, mengaku wahyu, mengaku Tuhan, mengakui cintaku kepadamu menguap tiba-tiba, pengorbanan sudah selayaknya bagi cinta, tidak sia-sia, kan? aku masih saja mencintai dua detik di matamu, yang sudah lama hilang, pias, cermin-cermin negeri dongeng, aih, aku adalah presiden yang memuja seribu dewa. meracau pagi hari, menangis siang hari, dan berfoya-foya di kamar sendiri. kekuasaan tak pernah tuntas, dan dibalas di akhirat. akhirat yang mana saja, sesudah kiamat d…