Skip to main content

Dialog Imajiner dengan Pria Imajiner

Selamat Malam, Tuan... hmmm?

Jangan panggil saya Tuan, cukup Pria Imajiner.

Baiklah, Pria Imajiner, saya tak ingin berbasa-basi, ceritakan kisah cinta Anda?

Saya mencintai seorang perempuan. Sejak saya masuk ke kampus imajiner, pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh cinta. Perlu waktu dua tahun lamanya, setelah saya pindah ke kampus imajiner yang lain, tanggal 7 Desember 2007 saya jadian dengan dia. Saat itu saya bahagia sekali. Film pertama yang kami tonton adalah film tentang mencari harta karun, di BSD Serpong saat bakda libur natal. Saya juga ajak dia ke kosa say, naik kereta, itu pertama kalinya dia naik kereta. Tapi kami tak sempat berlama-lama karena pamannya menagih janji kepulangannya jam lima sore. Kami ke stasiun lagi dan kereta baru ada jam setengah empat sore, tentu akan telat sekali. Kami bersepakat naik taksi. Dan di taksi itulah pertama kali saya menggenggam tangannya, dalam diam, dalam tanpa kata-kata.

Anda tentu bahagia. Pernah bermasalah dengan dia?

Sangat bahagia. Tapi saya tidak terlalu jujur dalam memulai hubungan ini. Maksud saya, saya memang mencintainya, tapi ada hal-hal di luar konteks, terjadi lebih dulu, dan kemudian saya korbankan.

Maksudnya?

Setelah saya keluar dari kampus imajiner di Bandung, saya sempat dekat dengan Nona N. Enam bulan. Tapi kami tidak jadian. Saya sempat menyatakan perasaan lewat SMS, tapi tidak dianggap. Dia bilang saya harus menyatakan cinta di depannya. Hal itu amat berat bagi saya.

Anda laki-laki bukan? Kenapa tidak berani?

Tentu saya laki-laki. Tepatnya, pria sejati. Hanya saja, saya akan mengucapkan cinta hanya pada perempuan yang sudah saya yakini akan menjadi istri saya nanti.

Lalu?

Di saat yang sama, setelah Nona N mulai tampak menyebalkan dengan prinsip-prinsipnya itu, saya bertemu lagi dengan cinta monyet saya di jaman SMP. Dalam tiga minggu PDKT, saya berhasil jadian dengan Miss A. Di saat bersamaan dengan pendekatan saya dengan Nona N. Akan tetapi, ya, akhirnya saya tak tahan ketika Ze yang saya cintai di kampus imajiner di Bandung itu mulai dekat dengan saya. Saya sadar harus memilih. Dan perempuan yang pertama saya gugurkan adalah Nona N. Saya bilang ke Nona N saya sudah punya pacar.

Bagaimana dengan Miss A?

Saya butuh waktu untuk menimbang-nimbang mana yang akan saya pilih. Pada akhirnya, karena waktu, saya tak suka perempuan yang telat datang saat memenuhi janji, saya akhirnya meninggalkan Miss A, dan bersumpah setia ke Ze.

Anda benar-benar setia dengan Ze?

Hanya bertahan sekitar satu tahun pertama.

Hah?

Ada seorang perempuan lagi menggoda saya di akhir tahun 2008. Sebut saja dia Ca. Saya ditelepon berjam-jam, disms berkali-kali sampai akhirnya terpecah rekor bertelepon ria saya selama enam jam dengan dia. Dia suka puisi, dan itu bikin pembicaraan kami berdua nyambung.

Anda sempat jadian sama Ca? Bagaimana dengan Ze?

Akhirnya Ze tahu ada yang berubah sama saya. Sementara, Ca ternyata juga mendayung di dua perahu. Dan perahu yang ditinggalkannya adalah saya. Saya menceritakan semuanya pada Ze. Lalu meminta maaf.

Anda dimaafkan?


Sepertinya.

Apakah setelah itu Anda masih selingkuh lagi?

Anehnya, ya. Tentu, Anda tahu saya ini pria imajiner. Saya juga punya kehidupan imajiner. Ze adalah sosok realis, tidak imajiner, dan dia tidak bisa memuaskan imajinasi saya terhadap sesuatu terutama sastra.

Maksud Anda?

Ada beberapa perempuan yang bikin saya ingin menulis puisi.

Bisa Anda ceritakan lebih detil?

Ini agak rumit. Saya begitu mudah jatuh cinta. Itu satu. Tetapi saya sulit mencintai. Itu dua. Dan kedua hal tersebut bikin saya merasa puas ketika seorang perempuan sudah mengatakan cinta kepada saya. Itu tiga.

Anda membuat para perempuan mengatakan cinta pada Anda?

Ya.

Setelah itu?

Saya meninggalkan mereka.

Anda jahat sekali?

Sepertinya.

Ada dendam di masa lalu?

Tidak ingin diceritakan di sini.

Lalu berapa perempuan yang sempat menjadi kepuasan imajiner Anda itu?

Banyak.

Yang paling berkesan?

Ada tiga orang yang berkesan dalam hal-hal tertentu. Tetapi sebelumnya saya ingin meralat pertanyaan Anda tentang 'menjadi kepuasan' itu. Mereka berkesan karena sesuatu yang ada pada diri mereka, bukan atas apa yang menjadi reaksi saya.

?

Pertama, Nona Mily, rasanya dia adalah perempuan paling sedih yang pertama saya temui. Saya tidak mencintainya, tetapi saya merasa senang tiap saat dia ada dan bercerita tentang kesedihannya pada saya.

Kedua, Nona D. Saya mungkin mencintainya. Saya tidak yakin. Sampai kini pun kami masih berteman cukup baik. dan saya merasa senang berkawan dengannya.

Ketiga, Ind. Saya singkat begitu saja. Dia manis sekali. Dia juga bikin saya ingin terus menulis bait-bait puisi untuknya.

Dari ketiga itu, bisa Anda bandingkan?

Saya tak mau membanding-bandingkan mereka.

Hanya Ind itu adalah katalis dalam aksi reaksi. Ketika kehilangannya saya tidak bisa menulis puisi cinta senormal biasanya. Ada sesuatu yang pergi juga dari diri saya. Entahlah, Ind adalah sosok puisi yang belum puisi ditulis.

Nona D adalah serendipity saya, soulmate saya. Entahlah, saya meyakini itu. Dia begitu mirip dengan saya. Dia cantik sekali. Tapi saya menyadari dia telah dicintai oleh pria yang lebih baik dari saya. Dalam artian, pria itu bisa membahagiakannya, bisa mencintainya. Tidak seperti saya yang tidak profesional dalam perihal mencintai.

Nona D, kalau bersama dia, membayangkan kebersamaan dengan dia, saya rasa, waktu akan hanya jadi milik kami berdua.

Lalu Ze?

Yah, Ze adalah sosok istri yang baik. Saya akan mempertahankannya.

Anda yakin tidak akan ada perempuan lagi?

Saya tak ingin. Tapi siapa yang tahu...

Ok, baiklah, terima kasih atas pembicaraan ini. Sukses untuk perjalanan cinta Anda.

Sama-sama.

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<