Skip to main content

Senandika Dua Detik

aku mencintai dua detik di matamu. dua detik yang hilang di dua enam malam, menghablur, kau, bayanganmu, kereta, penerbangan yang gagal satu hari, ruang tunggu, siul laki-laki tua di beranda, duduklah ia di kursi serenta tulang-tulangnya sendiri. bagaimana mampu aku mencintai detik yang lain, detik bisu di pohon randu yang ranggas, api musim, api dini hari, api jam sebelas siang, api abu, api cinta kita, yang terbakar tanpa syarat. aku ibrahim baru, mengaku nabi, mengaku rasul, mengaku satria pninggit, mengaku mahdi, mengaku jibril, mengaku wahyu, mengaku Tuhan, mengakui cintaku kepadamu menguap tiba-tiba, pengorbanan sudah selayaknya bagi cinta, tidak sia-sia, kan? aku masih saja mencintai dua detik di matamu, yang sudah lama hilang, pias, cermin-cermin negeri dongeng, aih, aku adalah presiden yang memuja seribu dewa. meracau pagi hari, menangis siang hari, dan berfoya-foya di kamar sendiri. kekuasaan tak pernah tuntas, dan dibalas di akhirat. akhirat yang mana saja, sesudah kiamat dua ribu dua belas, pertumbuhan ekonomi palsu, kenaikan tarif dasar listrik, satuan kerja anak menantu, perusahaan air kencing, badan layanan umum, orang miskin dilarang kaya, orang kaya dilarang foya-foya, kecuali diam-diam, takut wartawan, takut televisi, takut radio, kecuali dua detik yang sama di matamu, dua detik sebelum malaikat maut memamerkan sepatu pantofel barunya, dan laras panjang ak-47 miliknya, yang baru saja dicuri dari batalion kosong, penjara dua detik, kurungan menggelitik, fasilitas hotel bintang lima, minuman mabuk bintang tujuh, jenderal-jenderal bintang tiga, kematian meneguk bir merk bintang, campur minyak tanah, campur bau gas lpg, plastik gorengan lima ratus rupiah, kosmetik palsu, mie goreng beracun, rayuan pulau kelapa, aih, rayuan cuma milik penyair, dua detik milik penyair, penyair asu! penyair bau kambing ngata-ngatai pemerintah. kekasihku, aku bukan penyair dua detik itu, aku tidak merayumu yang benar-benar mencintai dua detik di matamu. benar-benar kehilangan dua detik di matamu. dua detik yang dimakan anggota dpr, dua detik yang dibawa ke yunani, dua detik yang pura-puranya naik haji. haji asu! asu naik haji. pesawat rusak melempar besi-besi, menimpa inova, dua puluh rumah, starbucks jatuh satu juta dollar, aih, pesawat asu! dua detik asu! penyair asu! asu asu asu!

Comments

Popular posts from this blog

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

Terjemahan Bebas The Road Not Taken By Robert Frost

Jalan yang Tak Ditempuh dua jalan menyimpang di hutan cladrastis kentukeadan sungguh maaf, aku tak bisa menempuh keduanyadan menjadi musafir sendiri, lama aku berdiridan melamun-merenungi sejauh yang aku mampudemi kemana jalan ini berbelok dalam semak-semak;lalu tempuhlah yang lain, biar terasa lebih adil,dan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baikkarena begitu serut dan kurang terjamahi;meskipun untuk berjalan terus ke sanasedikit mengusangkan pikiran mereka pada persamaanDan keduanya, secara seimbang membaringkan pagimenginjak daun-daun itu, tanpa meninggalkan jejak, oh, aku mengenang yang pertama untuk suatu saat nanti!Dan belum aku tahu, cara jalan menuntun ke kebenaranaku meragukan bahwa yang telah aku tinggalkan akan kembaliAku harusnya mengatakan semua ini dengan lenguhandi suatu tempat, usia demi usia yang berguguran:Dua jalan menyimpang di sebuah hutan, dan aku--aku telah memilih satu, yang sepertinya sunyi,dan di situlah aku telah membuat suatu perbedaan.

Sajak-Sajak Pringadi Abdi Surya di Kompas.com 27 Maret 2011

Daun Jendela

Ia berharap ada yang membukanya setiap pagi
dan seekor burung gereja yang tersesat
bertengger ramah di punggungnya. Engselnya
yang berkarat masih begitu kuat menahan
ketukan-ketukan angin di tiap malam sebelumnya.
Dulu, ada kutilang yang berkandang di dekatnya.
Kutilang yang sering bernyanyi dan belum belajar
cara membuang kotoran. Ternyata, nyanyian
kutilang pun tak sanggup menahan kematian.

Ia tahu, di luar sana, udara semakin berat.
Dan mahahebat Tuhan yang menjinjing matahari.
Sesekali, ia melirik ke dalam kamar, dan
membuang suar lampu yang belum dipadamkan.
Seorang laki-laki tengah mendengkur
dan beradu sakti dengan jam waker.



Ceritanya tentang Jambu Bangkok

Pohon jambu bangkok di pekarangan rumahnya sedang musim-musimnya. Ada yang masih pentil, berwarna hijau tua. Ada juga yang sudah dibungkus kantung kresek, kira-kira seukuran bola tenis. Ia tahu, tiap saat ia harus berjaga dari ulat dan segerombolan anak yang lewat saat pulang sekolah. Ia bersembunyi …