Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2009

Apel Newton

"aku ingin jadi apel yang pura-pura jatuh
sebelum ulat telah mengerat, di akar, di
batang, di daun, dan di kambium-kambium
yang telah pun makin mengulum.

dan gedung-gedung, yang pun makin bertingkat
sudah mulai mengusir kau yang kerap berjingkat
memegang tongkat, membaca ayat-ayat, dan
nyanyian-nyanyian yang lumat di sepanjang
terik lampu sebelum hijau, sebelum daun-daun
yang tampak kering kembali ke ranting.

ah, aku ingin jadi apel saja, yang pura-pura
jatuh sebelum bulan makin merapat,dan dosa
kian melekat

di urat nadimu

urat nadiku?"

Hukum Pascal

Hukum Pascal:
Jika suatu zat dikenakan tekanan, maka tekanan itu
akan merambat ke segala arah dengan tidak bertam
-bah atau berkurang kekuatannya.

"Hei, kenapa tak kau bawa kompas
yang menyelamatkan kita dari sejuta
taman kanak-kanak, dari hukum-hukum,
dari seribu satu bangun gedung, dan dari

makam yang asing?

berapa lama lagi kau akan kembali
dari ombak laut yang membuat kakimu
kusut, dan mukamu pucat berkerut?

rumah kita sudah angin, dan gambar
layang-layang yang kaubuat, setiap
kau pulang sekolah, belajar fisika
malah menjadi asap, menjadi kumpulan
rumus yang konon telah terhumus?

Hei, matikah kau. matikah
kau tertekan angin, tertekan

ingin?"

Hukum Newton I

HUKUM NEWTON I :

Setiap benda akan tetap bergerak lurus beraturan
atau tetap dalam keadaan diam jika tidak ada resultan
gaya (F) yang bekerja pada benda itu, jadi:

S F = 0 a = 0 karena v=0 (diam), atau
v= konstan (GLB)


sudah berapa jam kau menanti resultan
dalam keadaan diam, dan tetap?


empat menit lalu sudah kubilang dengan
cukup gamblang; tentang ada sembilan tikungan
dan enam empat kelok sebelum kau menemukan
pinangan: orang ladang, rumah-rumah gadang
dan dia, yang kau ejan dengan kata ambang

sedang kau-kini, malah tersesat, dengan kecepatan
dan kilometer-kilometer lampau yang membuat parau
suara ibu, suara ayah, suara kakek. kakek?


sudah berapa jam kau menanam kenangan
dalam gerak lurus beraturan yang menanti

sebuah perubahan?

Habis Rendra, Terbitlah Pringadi

oleh: Kasman Daeng Matutu

“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu, keridlaanmu menerima segala tiba, tak kutahu setinggi itu atas debu, dan duka maha tuan bertakhta”, bait-bait puisi Nisan yang diguriskan oleh si Binatang Jalang, Chairil Anwar kembali terngiang bukan hanya di gendang telinga namun pun di lubuk hati.

Berita duka bertandang mengaduk-aduk kalbu, begitu berat rasanya untuk percaya Si Burung Merak W.S. Rendra dimakamkan, 7 Agustus 2009. Rendra pergi dengan jejak yang membekas dalam pada dunia kesenian negeri ini melalui puisi-puisi yang bernas, puisi-puisi yang tak akan pernah dibekukan oleh tafsir.

Tentulah sebagai sebuah teks, setiap puisi akan tetap punya potensi untuk membeku karena tafsir yang memenjara. Keadaan ini juga menjadi ancaman latent bagi puisi-puisi Rendra yang begitu kaya dengan rasa kreativitas. Kreativitas yang meletupkan keluh, kreativitas yang memaparkan gelisah.

Suatu kali, Adrian Mitchell pernah bersabda bahwa “Kebanyakan orang melupakan puisi karena ke…

Lamaranmu Kutolak (Sumber dari Artikel Berantai)

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah.

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang
perempuan. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut'
sang perempuan muda, dari sisinya.

"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang setengah baya.

"Iya, Pak," jawab sang muda.

"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? " tanya sang setengah baya
sambil menunjuk si perempuan.

"Ya Pak, sangat mengenalnya, " jawab sang muda, mencoba meyakinkan.

"Lamaranmu kutolak. Berarti engkau…

Sajak: Bendera

: mereka yang berulangtahun di 17 Agustus

HERAN aku melihat kalian berpakaian rapi
megenakan dasi dan topi berwarna merah
seperti mau datang ke pesta mewah, dan
aku duduk berleha-leha di bawah pohon
menjahitkan sebuah bendera yang aku lupa
harus dengan warna apa ia kurenda

tayangan tivi, tak ada berita. cuma kisruh
marshanda yang sudah kehilangan akal
berlaku binal. dan aku turut menyesal
telah menolak cintanya dulu, waktu masih
mengemut bekal

tapi kudengar kalian tiba-tiba berteriak
seperti mengiringi arak-arak dari aku pun
terpaksa menahan berak demi tahu kalian
telah berebut kerak. kerak yang lain dari
bapak-bapak bersuara serak.

"Hei, ini pesta ulangtahun. kau tak mau
ikut? ayo ganti bajumu!"

dan kubuka lemari, aku tak punya baju
apalagi dasi. tapi aku melihat darah
dan kain kafan yang membuatku
teringat seperti apa rupa bendera

lekas. lekas. kujahit benderaku...
aku lilitkan di tubuhku
di tubuhku
d i
t u b u h k u

Pringadi dan Fadjroel Rachman, Dua Calon Presiden Independen Berbeda Zaman

Setan di Kepala Ibu

#1

Ada setan di kepala ibu.

Mungkin setan. Aku sendiri tak yakin. Sama tak yakinnya dengan kenapa aku harus memanggilnya ibu. Tapi, aku kemudian menggambarnya dengan sosok bertanduk dan lidah yang menjulur panjang, seperti hendak memakan aku. Memakan kami.

Aku menyebut ‘kami’ karena tak cuma aku yang berada di kelas ini. Sebuah kelas melukis yang baru pertama kali kuikuti atas desakan ayahku yang juga seorang pelukis. “Mulai besok, kamu ikut les lukis,” katanya tiba-tiba sepulang ia menghadiri pembukaan galeri lukisan miliknya sendiri, sebuah galeri tunggal dari pelukis handal. Ia tidak bertanya tentang jawabanku, ya atau tidak. Tidak. Setelah berkata seperti itu, ia langsung masuk ke kamar. Menutup pintu, dan meninggalkan aku di ruang tengah sambil bertanya-tanya, apakah memang buah tak boleh jatuh jauh dari pohonnya?

Tapi saat ini aku lebih tertarik pada setan di kepala ibu ketimbang memikirkan hal itu. Dia terkikik-kikik dan mengacungkan jari tengahnya kepadaku. Kontan saja kubalas den…

Alusi: Asap, Waktu, dan kupu-Kupu

oleh: Imamuddin SA

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Ungkapan Chairil Anwar itu terasa lantang disuarakan kembali dalam dewasa ini. Kata-kata itu seolah menjiwai setiap pribadi anak bangsa. Sungguh betapa dahsyat aura perjuangan yang tecermin di dalamnya.

Dan hal itu melingkupi segala sektor kehidupan yang ada di bangsa ini. Tengok saja dari sektor ekonomi; anak bangsa kita saling berlomba memperjuangkan nasibnya demi suatu pekerjaan dan kesejahteraan hidup yang mapan. Sektor sosial kemasyarakatan lagi gencar-gencarnya menggalang kerukunan antarkelompok masyarakat. Dari sektor pendidikan, generasi muda kita tengah berjuang untuk meraih masa depannya. Mencoba berusaha mendiami lembaga pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya. Dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang digencarkan anak bangsa kita demi terciptanya suatu keharmonisan hidup yang sejahtera.

Ada lagi jika dihubungkan dengan aksi teror b…

Ruang Renung: Penyair dan Koran

Tergelitik sekaligus menyedihkan tatkala aku membaca sebuah statement dari seseorang, yang kurang lebih mempertanyakan eksistensi kepenyairan dari para penyair yang sering dimuat di koran-koran. Adakah para penyair ini tahu bahwa ada anak-anak yang menjajakan koran yang berisi puisi-puisi yang juga kerap berisi tentang kehidupan kelas bawah itu? Adakah penyair hadir memberi jawaban kepada mereka secara realitas, integer, bulat, dan utuh?

Tidak salah memang apa yang dinyatakan seseorang itu.

Tapi, aku benar-benar ingin bertanya kepadanya,

APAKAH DI HARI ITU, DI HARI IA MEMBUAT PERNYATAAN ITU, IA MEMBELI KORAN YANG DIJAJAKAN OLEH ANAK-ANAK KECIL TERSEBUT, ATAU CUMA DIAM?

...

(Intermezzo)

HIPOTESA. Beberapa orang yang membuat pernyataan negatif tentang penyair koran hampir tidak pernah dimuat di koran. Percaya?

...


TIba-tiba aku jadi ingat teman SMPku yang sampingan jadi pengantar koran. Mereka berdua mampu membiayai sekolah sampai lulus SMP dengan pekerjaannya itu. Ah, sekarang entah kemana mer…

Pringadi dalam Sosok Kepenyairannya

Teka-Teki Silang

: hudan hidayat

1 Mendatar. Tujuh Huruf

baru mulai, kami ragu pada ingatan. tentang judul sinetron. tentang dongeng. dan tentang seorang pemain bulutangkis yang selalu gagal menjuarai inggris. kami menggaruk-garuki kepala kami yang kami harap gatal. berketombe. berkutu. atau berborok sekalian biar kami punya alasan untuk tampak lebih aristoteles. tampak lebih tak berakhiran less.

2 Menurun. Lima Huruf

pindah ke arah lain, kami yakin menemukan satu huruf paling makruf. mengawali nama nabi dan kitab. dan bangsa. dan bahasa, yang masih kami yakini sebagai sabda. sebagai doa. sebagai makna yang kami imani dengan indulgersia baru. berupa nama-nama yang akan kami lindungi. dan kami sepakati sebagai darah sang suci. sang ruci.

3 Menurun. Tiga Huruf

ikan apa yang menarikan matahari. membentuk yin dan yang di malam keempat belas. o, kisah sang avatarkah ini. di kedua ekor kami yang saling mengejar, bulan lahir. bulan hadir memberi kekuatan kepada para pengendali air. membentuk tabir antara lagu dan …

dollar, huntelaar!

1
sebelum jatuh ke pasaran, bukankah kau
memimpikan alfredo; bikin gol yang banyak
biar mata penonton terhenyak menyaksikanmu
menjaga tradisi yang makin tergusur oleh musuh
bebuyutanmu, raksasa cataluna?

tapi raul. raul yang lain dengan nomor punggung
tujuh juga kerap mengeluh. mengeluh-ngeluhkan
kau memanggil-manggil kenangan 1928, saat presiden
musuhmu (joan laporta kah?) mati – bunuh diri –
tak lagi kuat menahan laju resesi

2
tiga ratus lima puluh tahun kami adalah janin
dan dollar yang harus terbayar dari kedua belah
kaki dan kepalamu yang bikin harapan lawanmu
buyar, gusar, dan kami menanti dengan debar paling
debar sebelum, sebelum kini kau duduk saja di bangku
cadangan sambil meratapi kaus kaki hasil rajutan
dan mengemut permen kojek

rasa kenangan?

3
jual. jual. dan kami seperti termakan bualanmu
yang membuat perut kami mual teramat mual
sampai-sampai kami duduk di atas pispot sambil
memegangi pipi-pipi kami yang kempot

kecewa gagal mendapat jackpot.

4
“dollar, huntelaar?” atau kau memilih mimpi
menjadi t…