28 August 2009

Apel Newton

"aku ingin jadi apel yang pura-pura jatuh
sebelum ulat telah mengerat, di akar, di
batang, di daun, dan di kambium-kambium
yang telah pun makin mengulum.

dan gedung-gedung, yang pun makin bertingkat
sudah mulai mengusir kau yang kerap berjingkat
memegang tongkat, membaca ayat-ayat, dan
nyanyian-nyanyian yang lumat di sepanjang
terik lampu sebelum hijau, sebelum daun-daun
yang tampak kering kembali ke ranting.

ah, aku ingin jadi apel saja, yang pura-pura
jatuh sebelum bulan makin merapat,dan dosa
kian melekat

di urat nadimu

urat nadiku?"

Hukum Pascal

Hukum Pascal:
Jika suatu zat dikenakan tekanan, maka tekanan itu
akan merambat ke segala arah dengan tidak bertam
-bah atau berkurang kekuatannya.


"Hei, kenapa tak kau bawa kompas
yang menyelamatkan kita dari sejuta
taman kanak-kanak, dari hukum-hukum,
dari seribu satu bangun gedung, dan dari

makam yang asing?

berapa lama lagi kau akan kembali
dari ombak laut yang membuat kakimu
kusut, dan mukamu pucat berkerut?

rumah kita sudah angin, dan gambar
layang-layang yang kaubuat, setiap
kau pulang sekolah, belajar fisika
malah menjadi asap, menjadi kumpulan
rumus yang konon telah terhumus?

Hei, matikah kau. matikah
kau tertekan angin, tertekan

ingin?"

26 August 2009

Hukum Newton I

HUKUM NEWTON I :

Setiap benda akan tetap bergerak lurus beraturan
atau tetap dalam keadaan diam jika tidak ada resultan
gaya (F) yang bekerja pada benda itu, jadi:

S F = 0 a = 0 karena v=0 (diam), atau
v= konstan (GLB)



sudah berapa jam kau menanti resultan
dalam keadaan diam, dan tetap?


empat menit lalu sudah kubilang dengan
cukup gamblang; tentang ada sembilan tikungan
dan enam empat kelok sebelum kau menemukan
pinangan: orang ladang, rumah-rumah gadang
dan dia, yang kau ejan dengan kata ambang

sedang kau-kini, malah tersesat, dengan kecepatan
dan kilometer-kilometer lampau yang membuat parau
suara ibu, suara ayah, suara kakek. kakek?


sudah berapa jam kau menanam kenangan
dalam gerak lurus beraturan yang menanti

sebuah perubahan?

Habis Rendra, Terbitlah Pringadi

oleh: Kasman Daeng Matutu

“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu, keridlaanmu menerima segala tiba, tak kutahu setinggi itu atas debu, dan duka maha tuan bertakhta”, bait-bait puisi Nisan yang diguriskan oleh si Binatang Jalang, Chairil Anwar kembali terngiang bukan hanya di gendang telinga namun pun di lubuk hati.

Berita duka bertandang mengaduk-aduk kalbu, begitu berat rasanya untuk percaya Si Burung Merak W.S. Rendra dimakamkan, 7 Agustus 2009. Rendra pergi dengan jejak yang membekas dalam pada dunia kesenian negeri ini melalui puisi-puisi yang bernas, puisi-puisi yang tak akan pernah dibekukan oleh tafsir.

Tentulah sebagai sebuah teks, setiap puisi akan tetap punya potensi untuk membeku karena tafsir yang memenjara. Keadaan ini juga menjadi ancaman latent bagi puisi-puisi Rendra yang begitu kaya dengan rasa kreativitas. Kreativitas yang meletupkan keluh, kreativitas yang memaparkan gelisah.

Suatu kali, Adrian Mitchell pernah bersabda bahwa “Kebanyakan orang melupakan puisi karena kebanyakan puisi melupakan orang”. Nampaknya Rendra sudah mahfum dengan hukum ini, sehingga puisi-puisi yang dibuatnya sangat hati-hati dalam melupakan orang, Rendra berusaha keras membuat puisinya terhindar dari kelupaan.

Ikhtiar Rendra untuk membuat puisi-puisinya abadi, berangkat dari karakter kreativitasnya yang memang bermuara dan berakar pada tetek-bengek orang kebanyakan. Rendra dengan sadar memilih untuk membahasakan manusia dan mempuisikan kehidupan. “Kreativitas saya adalah kreativitas orang yang bertanya pada kehidupan”, ujar Rendra suatu kali.

Ketika kemudian Rendra beranjak pergi selamanya, tanya bergayut di kebimbangan hati, akankah ada lagi penyair yang kan senantiasa bertanya tentang hidup pada kehidupan melalui karya-karyanya? Akankah lahir generasi yang tetap menghargai puisi sebagai sebuah jalan, titian menuju yang ganjil, yang misterius dan yang fantastis dalam kehidupan?

Tanya itu terjawab ketika tepat sebulan terkuburnya jazad Rendra, sebuah antologi puisi tunggal Pringadi Abdi Surya yang dilabelinya Alusi hadir. Gumpalan-gumpalan aksara yang dipahat Pring --demikian sapaan tak resminya--, disimpulnya dalam dua ikatan, Everything is (not) Alright dan Love Lesson.

Membaca Alusi serasa berlayar di lautan kata-kata yang penuh dengan karang terjal bergumpal-gumpal aksara. Kadang, seperti membaca keheningan, liris-lirisnya yang terkesan lirih, memunculkan makna-makna berdenting, menyayat-nyayat sunyi. Kadang pula seperti mencanda kebingaran, bait-bait yang ramai, ibarat riangnya pesta.

Hal yang menggembiarakan hati adalah, Pringadi yang baru menapak usia 21 tahun pada 18 Agustus kemarin telah berani bertanya pada kehidupan --sebagaimana Rendra, tentang ketimpangan yang dia saksikan. Sebuah pertanyaan terbuka tentang ketimpangan hidup yang disaksikannya, berkali-kali Pring ajukan dalam beberapa puisinya.
Seperti gugatan Pring terhadap siaran sebuah stasiun tivi yang menggunakan tukang Bajaj daripada tukang becak untuk menggambarkan penderitaan masyarakat bawah,
……….
Pulang ke rumah
Aku bertanya
Kenapa cuma Bajaj Bajuri
yang ada di televisi

bukan becak Mang Toha
yang sudah mengayuh
sekuat tenaga?

(Di Sini Ada Bajaj)


Bahkan, di tempat lain dalam Alusi-nya, Pring dengan berani menyindir penguasa,
……….
ayat keempat:
tak berlaku ketiga ayat
sebelumnya: bumi, air, dan
kekayaan alam lainnya bebas kita
eksploitasi, bebas kita kuasai dan
kita jual ke luar negeri

biar tak sibuk kita nanti

(Menyoal Ayu)


Keberanian Pringadi seperti menjawab John F. Kennedy yang mengungkap bahwa, “tatkala kuasa mengarahkan orang pada kepongahan, puisi mengingatkan pada keterbatasannya. Tatkala puisi menyempitkan ruang kepedulian orang, puisi mengingatkan akan kekayaan dan keragaman hidupnya. Tatkala kuasa korup, puisi membersihkannya”.

Terhadap orang-orang yang pongah dan lupa akan keterbatasan diri, salah satu puisi Pringadi mengingatkan dengan cukup keras,
……….
dia tak lagi shalat dan bayar zakat, dia
lupa ceramah masa kecil tentang akhirat
dan pertimbangan segala manfaat

“orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”
(sprinter)


uk mereka yang tak lagi memiliki ruang kepedulian yang luas terhadap sesamanya manusia, Pringadi mengajukan puisinya untuk mengingatkan mereka,
……….
Aku melipat puisi saja
Kelak ku kirim ke politisi
Biar tak lupa diri

Aku melipat puisi saja
Kelak ku kirim ke pengusaha
Biar tak lupa berderma

(Origami)


Dan sebagaimana kegelisahan serta fanatisme anak muda terhadap penderitaan orang lain, puisi-puisi Pringadi pun berkecambah dari kubangan yang sama. Tumbuh dari semangat perlawanan terhadap praktek-praktek kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara yang korup dan penuh manipulasi. Namun sebagai seorang penyair, Pring tidak memilih jalanan sebagai tempat perjuangannya, melainkan puisi.

Buat para penguasa korup, Pringadi dengan lugas mengancam,

tuhan, tuhan, tuhan
boleh aku mendoakan
selain hidayah dan inayah
kepada beliau-beliau yang tega
menjadi pemerintah?

(Siti)

Sebagai penyair baru dengan usia yang masih belia, Pringadi memiliki bekal waktu yang cukup untuk makin mematangkan kepenyairannya. Modal lain, seperti ungkap Hasan Aspahani, Pringadi merupakan seorang penulis puisi yang lancar, intens tetapi juga santai. Selain itu, Hasan melihat Pringadi akan lekas menjadi dan menemukan dirinya sendiri karena dia tidak mengelak-elak dan mencoba mengepas-ngepaskan sajaknya dengan sajak orang lain.

Ya, seperti apapun Pringadi nanti, tapi kehadirannya dengan Alusi-nya disaat dunia puisi kita kehilangan Rendra adalah sebuah kehadiran yang ibarat kelahiran, penuh dengan harap yang membuncah dan degup gairah yang meletup akan lahirnya generasi baru penyair Indonesia yang akan menyemarakkan dunia kesenian bangsa ini.

23 August 2009

Lamaranmu Kutolak (Sumber dari Artikel Berantai)

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah.

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang
perempuan. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut'
sang perempuan muda, dari sisinya.

"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang setengah baya.

"Iya, Pak," jawab sang muda.

"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? " tanya sang setengah baya
sambil menunjuk si perempuan.

"Ya Pak, sangat mengenalnya, " jawab sang muda, mencoba meyakinkan.

"Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak
bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model
seperti itu!" balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal
sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu."

"Lamaranmu kutolak. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung' kan, aku
takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya,
keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang
lelaki muda. Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."

"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.

"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di
Kampus," jawab sang muda, percaya diri.

"Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?"

"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat."

"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok
mau ngatur keluargamu?"

Sang perempuan membisik lagi, membantu, "Ayah, dia pinter lho."

"Kamu lulusan mana?"

"Saya lulusan Fakultas Ekonomi UNPAD Pak. UNPAD itu salah satu kampus
terbaik di Indonesia lho Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM
ini tho? Menganggap saya bodoh kan?"

"Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya
saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak."

"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?"

Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."

"Jadi kamu sudah bekerja?"

"Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera
jualan produk saya Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu."

"Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak
terlalu laku."

"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,
kalau kerja saja nggak becus begitu?"

Bisikan kembali, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."

"Rencananya maharmu apa?"

"Seperangkat alat shalat Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf."

"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan
uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."

Bisikan, "Dia jago IT lho Pak"

"Kamu bisa apa itu, internet?"

"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak
saya nge-net."

"Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan
anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."

"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak."

"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,
Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu."

Bisikan, "Tapi Ayah..."

"Kamu kesini tadi naik apa?"

"Mobil Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya
Riya'. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik."

"Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"

"Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini
namanya payah. Memangnya anakku supir?"

Bisikan, "Ayahh.."

"Kamu merasa ganteng ya?"

"Nggak Pak. Biasa saja kok"

"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini."

"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"

Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan
soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang
muda yang sudah menyerah pasrah.

"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh
juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.
Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula."

Sang setengah baya tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu
cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja
pun, aku masih tertatih."

Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

21 August 2009

Sajak: Bendera

: mereka yang berulangtahun di 17 Agustus

HERAN aku melihat kalian berpakaian rapi
megenakan dasi dan topi berwarna merah
seperti mau datang ke pesta mewah, dan
aku duduk berleha-leha di bawah pohon
menjahitkan sebuah bendera yang aku lupa
harus dengan warna apa ia kurenda

tayangan tivi, tak ada berita. cuma kisruh
marshanda yang sudah kehilangan akal
berlaku binal. dan aku turut menyesal
telah menolak cintanya dulu, waktu masih
mengemut bekal

tapi kudengar kalian tiba-tiba berteriak
seperti mengiringi arak-arak dari aku pun
terpaksa menahan berak demi tahu kalian
telah berebut kerak. kerak yang lain dari
bapak-bapak bersuara serak.

"Hei, ini pesta ulangtahun. kau tak mau
ikut? ayo ganti bajumu!"

dan kubuka lemari, aku tak punya baju
apalagi dasi. tapi aku melihat darah
dan kain kafan yang membuatku
teringat seperti apa rupa bendera

lekas. lekas. kujahit benderaku...
aku lilitkan di tubuhku
di tubuhku
d i
t u b u h k u

Pringadi dan Fadjroel Rachman, Dua Calon Presiden Independen Berbeda Zaman

20 August 2009

Setan di Kepala Ibu

#1

Ada setan di kepala ibu.

Mungkin setan. Aku sendiri tak yakin. Sama tak yakinnya dengan kenapa aku harus memanggilnya ibu. Tapi, aku kemudian menggambarnya dengan sosok bertanduk dan lidah yang menjulur panjang, seperti hendak memakan aku. Memakan kami.

Aku menyebut ‘kami’ karena tak cuma aku yang berada di kelas ini. Sebuah kelas melukis yang baru pertama kali kuikuti atas desakan ayahku yang juga seorang pelukis. “Mulai besok, kamu ikut les lukis,” katanya tiba-tiba sepulang ia menghadiri pembukaan galeri lukisan miliknya sendiri, sebuah galeri tunggal dari pelukis handal. Ia tidak bertanya tentang jawabanku, ya atau tidak. Tidak. Setelah berkata seperti itu, ia langsung masuk ke kamar. Menutup pintu, dan meninggalkan aku di ruang tengah sambil bertanya-tanya, apakah memang buah tak boleh jatuh jauh dari pohonnya?

Tapi saat ini aku lebih tertarik pada setan di kepala ibu ketimbang memikirkan hal itu. Dia terkikik-kikik dan mengacungkan jari tengahnya kepadaku. Kontan saja kubalas dengan perlakuan yang sama. Aku acungkan jari tengahku padanya. Dan ibu mendekat. Dengan ekspresi kesumat.

“Kau tak suka pada ibu?”

Aku diam saja. Pasti ibu tak akan percaya jika kukatakan ada setan di kepalanya. Dan setan itu sekarang sedang menjulurkan lidahnya, menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan --- meledekku. Tapi, aku sabar kali ini. Aku memilih menundukkan kepalaku. Seperti merasa bersalah.

Aku tahu tindakan seperti ini akan menyelamatkanku. Terbukti, sesaat kemudian ibu melenggang pergi dari mejaku dan melihat meja anak-anak lainnya. Dan setan itu, kembali tampak menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, mengejekku karena tak mampu berbuat apapun.

#2

Sebenarnya aku tak pernah melihat setan. Tak pernah melihat penampakan, sebelum ini. Kata orang, setan itu menakutkan. Tapi nyatanya, tadi, setan itu begitu menjengkelkan. Ingin sekali aku memukul kepalanya. Mematahkan tanduknya. Dan melemparnya keluar dari jendela. Tapi, satu yang kemudian aku tahu, setan itu licik. Dia begitu licik dengan berlindung di atas kepala ibu.

Aku sering ditinggal di rumah sendirian. Rumah yang dipenuhi berbagai lukisan dan kanvas-kanvas berisi coretan cat yang belum jadi. Kadang aku heran, aku tak pernah melihat ayah melukis di rumah ini. Yang aku tahu, begitu aku bangun akan bertambah satu lukisan dengan campuran warna-warna yang menurutku begitu sempurna. Begitu menggoda.

Pernah aku berpikir, pasti setan yang melukis ini semua. Tak ada bunyi-bunyi di malam hari. Tak ada suara-suara yang membangunkan aku dari tidurku. Begitu senyap. Tapi ayah tak mungkin setan. Meski kami jarang bertemu dan bahkan tak pernah berpelukan.

#3
Setan itu masih di kepala ibu. Aku melihat buku gambarku yang berisi coretan sosok setan. Membanding-bandingkannya dengan setan di kepala ibu. Tapi ibu tidak tahu. Sebab aku tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.

Semua orang sedang asik melukis. Tapi aku masih menggambar garis-garis.

“Ibu penggemar lukisan ayahmu,”

“Oh ya?”

“Dulu ia tak begitu hebat.”

Aku mulai tertarik mendengarkan ceritanya. Tanganku masih terpaut di kanvas. Sambil membayangkan kucing. Sebab aku suka kucing walau aku tak pernah memegangnya secara langsung. Tak boleh ada kucin di rumah. Ayahku tak suka kucing. Atau lebih tepatnya, ia tak suka memelihara kucing.

“Yah, tapi mungkin dewa lukis sedang memiihnya satu dekade ini. Ayahmu begitu luar biasa sekarang. Lukisannya memang luar biasa.”

“Jadi, sejak kapan ibu mulai kenal ayahku?”

Dan untuk itulah, kali pertama aku mendengarkan cerita tentang ayahku. Cerita dari teman semasa kuliahnya dulu. Ayah memang seorang yang tertutup. Ia tak pernah bercerita apa-apa kepadaku. Pernah suatu kali aku menanyakan dimana ibu, ibu yang melahirkanku. Tapi ia diam saja. Aku tak lagi berani bertanya setelah itu. Tak lagi menginggung-nyinggung ibu. Anggap saja aku tak punya ibu. Aku cuma punya ayah.

#4

Aku membawa kanvas itu pulang tanpa sepengetahuan ayah. Aku letakkan di kamar, di bawah tempat tidur. Takut jika tiba-tiba ayah pulang dan masuk ke kamarku tanpa sepengetahuanku. Ia pasti marah. Selama ini memang aku dilarang melukis di rumah ini oleh ayah. Toh, aku memang tak berminat melukis sebelum ini. Tapi gara-gara setan di kepala ibu itu, aku jadi jadi ingin melukis. Aku ingin meluki sosoknya yang tak bisa kutangkap. Yang begitu menjengkelkan.

Kalau kurasa ayahku sudah tak ada, aku pindahkan kanvas itu di pinggir jendela. Biar terkena cahaya. Dan aku akan mulai melukis. Tidak peduli disebut apa lukisanku, kubisme kah? Impressionis kah? Ah, aku cuma mau melukis setan itu. Setan yang begitu suka menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Dan tanganku pun bergerak ke kiri dan ke kanan. Bergoyang-goyang. Warna. Warna. Aku campur warna sesukaku. Aku pun menari seperti digerakkan oleh kuasku. Ah, aku tak butuh kuas. Aku membuangnya. Dan mulai kucelupkan tanganku sendiri ke dalam kaleng-kaleng cat. Menggoreskannya ke kanvas.

Aku mulai heran, ini bukan seperti pertama kali aku melukis. Seperti sudah berulang kali kulakukan. Satu, dua, sepuluh, atau sudah beribu-ribu kali kulakukan ini. Kerasukan setankah aku? Setan yang sejak pertama kali kulihat bertengger di kepala ibu itu?

Tidak, tidak. Aku mulai melihat setan itu di kanvas. Tertawa-tawa. Mencibir. Menjulurkan lidah. Dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.

Aku mulai tertawa-tawa. Balas mencibir. Balas menjulurkan lidah. Dan balas menggoyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan.

Hei setan, rasakan! Kini aku mampu balaskan dendamku setiap saat aku mau!

#5

Lukisanku hilang. Padahal aku yakin beberapa hari lalu aku meletakkannya kembali di bawah tempat tidur. Aku mencarinya sekali lagi. Mungkin saja setan sedang menjahiliku. Kabarnya setan sering ‘meminjam’ barang yang kita punya. Mereka akan tertawa-tawa menyaksikan kita kebingungan, kalap, dan menyerah Dan di pandangan selanjutnya, barang yang kita cari itu akan berada di tempatnya semula. Padahal kita yakin, sebelumnya tak ada. Tapi aku tak percaya. Sebab aku tak pernah mengalami hal seperti itu. Tapi sekarang, aku berpikir mungkin saja seperti itu.

Dan kesekian kalinya aku melongok ke kolong tempat tidur, lukisan itu tetap tak ada. Bodohnya aku yang percaya pada kabar burung macam itu.

Lantas siapa? Dan kemana? Tidak mungkin kan kalau lukisanku bisa hilang tiba-tiba? Tidak mungkin pula kalau setan di kepala ibu yang mencurinya?

Aku mencari ayah. Tapi aku ingat, ayah mungkin marah jika tahu aku mulai melukis di kamarku. Toh, saat aku memanggilnya, ia memang sudah tak ada. Rumah ini sudah senyap seperti biasanya. Cuma ada aku. Sendiri.

#6

“Bagaimana lukisanmu?” ibu bertanya kepadaku dengan rasa ingin tahu. Ibu pasti meremehkanku sebab di kelas ini aku cuma biasa mencorat-coret kertas dan kanvas, membuat garis-garis yang tak ada satu pun mereka pahami. Aku seringkali merasa segerombolan anak-anak menertawakanku diam-diam saat aku merasa sudah selesai membuat sebuah gambar. Aku merasa telah menggambar banyak kucing. Tapi mereka bilang itu cuma garis. Saat kutatap ibu, dirinya malah diam saja. Seperti membela segerombolan anak-anak, yang menurutku, bodoh yang hobinya menggambar fragmen senja, daun gugur, dan hal-hal yang remeh. Aku pikir kucing lebih indah. Dan setan di kepala ibu ini, yang bergerak-gerak, akan jauh lebih indah.

Aku menggelengkan kepala. “Hilang, Bu.”

“Hilang?”

Ah, aku makin gemas pada setan di kepalanya. Sama halnya kegemasanku pada ketidakpercayaan ibu bahwa lukisanku benar-benar hilang. Aku tahu, ibu pun pasti meremehkanku. Ibu pasti memandang hanya karena aku anak pelukis handal dan terkenal. Tidak lebih. Di matanya, mungkin aku cuma seorang anak yang patut dikasihani karena terpaksa mengikuti kelas melukis yang tidak aku sukai. Tapi itu tidak benar. Aku benar-benar ingin melukis sejak kulihat setan di kepala ibu. Setan yang membuatku merasa gemas setiap dia menjulurkan lidahnya, mencibir, dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.”
“Ya sudah, kamu coba lukis ulang saja. Nanti ambil saja peralatannya di ruang sebelah.”

Aku menganggukkan kepala.

“O, iya, beberapa hari yang lalu ibu bilang pada ayahmu tentang kanvas yang kaubawa pulang. Ayahmu sepertinya senang akhirnya kamu tertarik pada kanvas.”

Aku terperangah. Ayah tahu aku membawa kanvas ke rumah? Bisa habis aku dimarahinya. Kakiku mulai gemetar. Tanganku mulai gemetar. Dan sekujur tubuhku juga ikut-ikutan gemetar. Ayah memang belum pernah marah. Tapi aku mulai membayangkan kemarahan ayah. Ia akan menamparku di pipi kiri dan kanan. Ia akan mengikatku dan menggantung tubuhku di bawah langit-langit. Memasukkan semut dan serangga ke tubuhku. Biar menggeranyangi kesakitanku.

“Hei, kamu tidak apa-apa?”

Aku menoleh ke ibu. Ke kepalanya. Dan aku lebih kaget, setan di kepala ibu sudah tak ada. Setan itu benar-benar tak ada. Aku berdiri dan berjalan ke belakang ibu. Mungkin saja setan itu sedang bersembunyi di punggung ibu. Tapi ternyata setan itu memang tak ada. Kulihat sekeliling. Aku tak peduli pada pandangan ibu yang kebingungan menyaksikan gerakku yang berpindah-pindah dari kolong meja, ke belakang lemari, melongok ke atasnya, lalu berpindah ke jendela. Tapi memang setan itu sudah benar-benar tak ada. Baik di kepala ibu, maupun di ruangan ini.

“Kamu kenapa, Nak?”

“Ke mana?”

“Apanya yang ke mana?”

“Setan itu.”

“Setan apa?”

“Setan yang selama ini kulihat di kepala ibu?”

“Apa maksudmu?!”

“Aku menggambar setan itu. Setan yang kulihat saat pertama kali bertemu dengan ibu. Setan yang punya tanduk. Bermuka buruk. Dan acapkali meledekku, Bu. Dia suka sekali menjulurkan lidahnya, mencibir, dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.”

“Kamu gila, Nak!”

“Aku tidak gila.”

“Pasti cuma halusinasimu.”

“Tidak. Halusinasi tak mungkin muncul setiap hari.”

“Sebaiknya, kamu pulang sekarang. Kamu butuh istirahat. Ibu akan menelpon ayahmu.”

“Tidak, tidak. Jangan telepon ayahku, Bu?”

“Oh iya, kamu ternyata anak yang baik. Hari ini pasti ia sedang berada di dalam konferensi penting. Ibu tak boleh mengganggunya.”

“Konferensi apa?”

“Lho? Kamu nggak tahu?”

Aku menggeleng. Kepanikanku akan kehilangan setan di kepalanya teralihkan dengan rasa penasaranku terhadap ayah. Aku memang tak pernah tahu apa-apa tentang ayah selain sosoknya di rumah dan keberadaannya sebagai pelukis handal dan terkenal. Aku tak pernah diajaknya mengikuti pameran lukisannya. Mencari tahu pun aku tak diperbolehkan. Aku menurut karena aku takut ayah akan marah. Karena aku takut ayah akan meninggalkanku jika ia marah. Dan aku tak punya siapapun selain ayah.

“Lukisan terbarunya memecahkan rekor penjualan termahal se-Asia.”

“Lukisan?”

“Memangnya kamu tidak pernah melihat lukisannya? Lukisan yang ajaib!”

“Tidak. Ayahku bahkan melarangku melukis di rumah. Aku cuma melihat beberapa lukisannya yang digantung di rumah, dan beberapa coretan kanvas yang tak selesai.”

Ibu tampak kaget. “Nanti sore lukisan itu dipamerkan, kamu mau ikut?”

“Tapi nanti ayah marah?”

“Tidak, ada ibu yang akan melindungimu. Ibu merasa sudah saatnya kamu melihat lukisan ayahmu. Kamu harus melihat betapa mengagumkannya dia.”

Aku pun mengangguk. Setuju.

#7

Surga. Aku pikir aku sedang berada di surga. Galeri ternyata adalah tempat yang sangat indah. Aku pun jadi bertanya-tanya kenapa ayahku tak pernah mengajakku kemari.

Suasana begitu ramai. Aku yakin mereka semua adalah penggemar lukisan ayahku. Sesekali kucuri dengar pembicaraan mereka yang memuji lukisan-lukisan ayah.

“Mereka cuma orang awam,” ibu memulai pembicaraan, “kamu lihat lukisan ini?” ia tampak memandang sebuah lukisan berwarna mayor coklat keemasan. Pemandangan senja. Di kiri jalannya terlihat sebuah gereja, dan seorang anak laki-laki tergeletak memegang sapu lidi. “Lukisan ini tidak istimewa,” lanjutnya lagi.

Aku memandangi lukisan itu sekali lagi. Mencoba memahami apa yang ibu katakan.

“Keistimewaan ayahmu akan kamu lihat di ruangan setelah ini,” ucapnya sambil tersenyum. Aku makin penasaran. Jika lukisan sebagus ini dibilang ‘biasa’ saja. Bagaiamana dengan yang luar biasa?

Dan memang aku menganga setelahnya. Aku melihat berjajar lukisan yang seperti bergerak. Aku
melihat awan-awan menggumpal yang membentuk rupanya. Aku melihat debu-debu yang melingkar menjadi asap. Aku melihat genangan air yang tumpah ke atas. Tidak. Tidak. Ini bukan kali pertama aku melihat lukisan-lukisan ini. Langkahku makin cepat. Melihat satu per satu lukisan yang dipajang dan semakin akrablah aku dengan suasana yang tergambar dalam lukisan.

“Hei, Nak…” aku tak lagi hirau pada ibu. Aku mulai menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tergesa. Melihat sejuta daun gugur dan merambas menjadi air. Dan tanganku. Dan tanganku yang kulihat mengusap kanvas. Mencelupkannya di kaleng-kaleng cat. Aku melihat aku menari di malam hari, sambil menggerakkan-gerakkan tangan, kaki, badan, semuanya. Aku melihat aku, diriku lah, yang melukis semua lukisan ini.

Tidak. Tidak. Aku mulai mencari ayah. Aku ingin bertanya kenapa aku bisa merasa seperti ini. Kenapa aku bisa merasa akulah yang melukis semua ini. Aku susuri jalan galeri sambil setengah berlari. Dan di ujungnya, aku lihat ayahku. Aku lihat ayahku di balik kerumunan orang. Dan sebuah lukisan lain yang tampak begitu akrab bagiku. Lukisan setan di kepala ibu!

“Minggiiir!!!” Aku berteriak saja.

Ayah mulai melangkah mendekat.

Aku mulai kesumat.

Aku menatapnya. Menatap kepalanya.

Dan kulihat sosok itu. Dia mencibir. Menjulurkan lidahnya. Dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.

Ada setan di kepala ayah!*


(Bintaro, 2009)

Alusi: Asap, Waktu, dan kupu-Kupu

oleh: Imamuddin SA

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Ungkapan Chairil Anwar itu terasa lantang disuarakan kembali dalam dewasa ini. Kata-kata itu seolah menjiwai setiap pribadi anak bangsa. Sungguh betapa dahsyat aura perjuangan yang tecermin di dalamnya.

Dan hal itu melingkupi segala sektor kehidupan yang ada di bangsa ini. Tengok saja dari sektor ekonomi; anak bangsa kita saling berlomba memperjuangkan nasibnya demi suatu pekerjaan dan kesejahteraan hidup yang mapan. Sektor sosial kemasyarakatan lagi gencar-gencarnya menggalang kerukunan antarkelompok masyarakat. Dari sektor pendidikan, generasi muda kita tengah berjuang untuk meraih masa depannya. Mencoba berusaha mendiami lembaga pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya. Dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang digencarkan anak bangsa kita demi terciptanya suatu keharmonisan hidup yang sejahtera.

Ada lagi jika dihubungkan dengan aksi teror bom belakangan ini. Pasalnya, pelaku aksi bom bunuh diri kali ini adalah seorang remaja yang berusia belasan tahun. Jangankan peluru, bom saja tengah diterjangnya. Alih-alih ia pasti berdalih berjuang demi menegakkan kebenaran. Tentunya kebenaran yang berdasar pada sudut pandang pribadi dan kelompoknya. Dari kacamatanya, mereka yang melakukan aksi itu pasti melihat banyaknya ketimpangan-ketimpangan sosial atau praktik-praktik tertentu yang dirasa kurang cocok dengan kepribadian dan ideologi meraka. Dan entah, kebenaran mana dan bagaimana yang dalam realitas fisikal ini dapat dikatakan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang muncul hanya bersifat relatif. Yang benar dan menang hanyalah yang mayoritas. Sebab segelintir kebenaran yang hadir di tengah-tengah kesungsangan akan menjadikannya berada dalam posisi yang salah dan terlihat konyol. Dan hanya butuh keajaiban saja, kebenaran itu dapat diakui realitas yang ada. Itu tampak dari tayangan film yang ada di negara kita. Kebanyakan akhir-akhir ini tayangan televisi menayangkan film-film yang berbau magic (keajaiban). Hampir seluruh film populer jebolan Indonesia berbau seperti itu. Ini sebenarnya citra kita dan bangsa kita sendiri yang menjadi pembeda dengan bangsa lain, khususnya bangsa Barat. Lihat saja, setiap film yang diproduksi bangsa Barat, mayoritas yang ditonjolkan adalah heroik logistik. Jadi, dapat diasumsikan bahwa kehidupan mereka membutuhkan pejuang kebenaran yang sesuai dengan kebenaran logika. Selama tindakan yang dilakukan itu dapat diterima akal dan berdalih kuat, maka dengan sendirinya masyarakat akan mengakui bahwa itu benar. Dan ini tidak harus menunggu keajaiban datang layaknya realitas di negara kita.

Sebenarnya semua usaha yang mereka lakukan di atas itu tidak lain hanyalah agar hidupnya bermanfaat dan berkenang bagi orang lain. Bahkan akan melampaui usianya. Namanya tetap hidup walaupun jasad telah tiada. Tujuan itulah yang menjadi tonggak eksistensialisme perjuangan mereka. “Mereka ingin hidup seribu tahun lagi”.

Tidak kalah menariknya dengan aksi teror bom beberapa saat yang lalu. Tepatnya pada bulan Juni 2009 kemarin, dunia kesusastraan juga terjangkit serangan bom. Tapi amunisinya bukan mesiu atau yang lain, melainkan karya. Pelakunya adalah Pringadi AS. Pemuda kelahiran Palembang 18 Agustus 1988. Pringadi membombastis dunia kesusastraan dengan meluncurkan antoligi puisi tunggalnya yang berjudul Alusi, yang diterbitkan oleh PUstaka puJAngga 2009. Semangat perjuangan untuk memberi kenangan manis pada kehidupan sesemangat hari kelahiranya, di mana tanggal tersebut adalah masih berbau momen sejarah semangat perjuangan kemerdekaan negara kita. Ia ingin menjadi Chairil muda yang bisa hidup seribu tahun lagi dengan kehadiran karyanya. Semangat perjuangan yang bersifat positif seperti Pringadi inilah yang kiranya patut ditanamkan jauh lebih dalam pada jiwa-jiwa anak bangsa kita. Bukan doktrin-doktrin perjuangan negatiflah yang semestinya ditanamkan. Dan inilah jalur perjuangan hidup yang tampaknya tengah ditempuh oleh Pringadi untuk mengubah tatanan baru kepribadian manusia serta bangsa. Esensial makna sajak yang digurat Pringadi diharapkan mampu menjadi mercusuar bagi seseorang dalam setiap langkahnya.

Ini tampaknya pilihan yang tepat bagi Pringadi untuk berjuang dan menorehkan kenangan manis hidupnya. Dalam ilmu sastra ada istilah majas atau bahasa kiasan. Fungsinya cukup variatif. Dan yang paling menonjol adalah memberikan suasana yang indah bagi jiwa seseorang, meski menggigit hati. Istilahnya memukul dengan perasaan, sehingga orang yang terpukul tidak merasakan sakit, namun justru mampu membuat perubahan yang berarti dalam hidup dan kehidupannya.

Dari sisi judul antologi yang digurat, tujuan Pringadi sudah terlihat jelas. Alusi secara leksikal bermakna sindiran halus. Dengan ini ia ingin berusaha membuat perubahan dalam pribadi seseorang secara halus tanpa menyakiti perasaannya. Setiap orang yang membaca karya ini diharapkan akan tergugah hatinya dan berkenan membuat perubahan dalam hidup dan kehidupannya tanpa sakit hati, meski sedang tersindir oleh kata-kata dan maknanya. Itulah tujuan Pringadi.

Esensial makna sajak yang dibangun Pringadi cukup baik. Ia membangun jiwa manusia ke arah yang lebih positif, baik dari sisi eksistensialisme, religius, sosial, maupun politik. Hanya saja secara struktural, bangun sajak yang diguratnya terasa lemah. Mungkin ini faktor dari usia kepenyairannya. Ia baru mengawali karir kepenyairannya tahun 2007, sebelumnya ia adalah cerpenis. Ada beberapa hal yang patut dijadikan sebagai pusat perhatian dalam sajak-sajak Pringadi. Hal itu di antaranya adalah masalah enjambemen, penulisan huruf kapital, diksi, style, karakter, dan konjungsi.

Enjambemen dalam pengguratan sebuah sajak sangatlah penting. Sebab dengan penyematan enjambemen, seorang penyair akan mampu menciptakan konstruksi makna yang baru atau ambiguitas makna dalam karyanya. Pringadi dalam menggurat sajaknya masih kurang memperhatikan adanya enjambemen sehingga tafsiran sajaknya terasa datar dan kentara.

Penulisan huruf kapital dalam sebuah karya puisi Indonesia lama biasanya dilakukan dalam setiap kata pertama dalam setiap baris sajak. Itu merupakan ciri khasnya. Perkembangan puisi Indonesia baru, penulisan huruf kapital tersebut mengalami sedikit perubahan. Dalam sajak-sajak puisi Indonesia baru kebanyakan huruf kapital hanya disematkan pada awal kata dalam setiap bait serta hanya disematkan pada penulisan kata yang merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan nilai ketuhanan. Dalam puisi Indonesia kontemporer, penulisan huruf kapital sudah jarang ditemukan dalam karya-karya penyair. Kebanyakan mereka menuliskannya dengan huruf kecil semua kecuali judul puisinya. Untuk membiaskan makna dan penafsiran, mereka juga menanggalkan penulisan huruf kapital pada hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan. Alasan lain meniadakan penulisan huruf kapital adalah agar tidak mengganggu fokus dan konsentrasi pembaca saat melakukan proses penikmatan karya.

Karya-karya Pringadi sangat variatif. Dalam sajaknya, ia menggunakan gaya puisi Indonesia lama, baru, serta kontemporer. Namun kadang kala dalam penulisan sajaknya sebagian kata ada yang ditulis dengan huruf kapital semua. Ia tampaknya kurang memperhitungkan efek penulisan tersebut. Padahal dengan tindakan itu, suasana pikiran pembaca akan terusik sehingga mampu memecah konsentrasi penikmatan karya. Andaikan penulisan tersebut dilakukan pada kata-kata yang berkekuatan, ini bisa jadi berfungsi sebagai penajaman makna. Namun ini beda, Pringadi melakukannya pada kata-kata biasa yang tidak memiliki daya magis tertentu. Dan inilah yang saya kira mengganggu dalam kadar mengganggu yang bersifat negatif.

Dari sisi diksi, sajak-sajak Pringadi kurang menunjukkan kepadatan. Ia kerap melakukan pemborosan kata. Hadirnya konstruksi konjungsi juga menjadikan sajak-sajak Pringadi terasa encer. Sajaknya juga kerap terlihat menggurui pembaca. Ia seolah-olah menganggap bahwa pembaca adalah orang yang tidak mengerti akan esensial makna sajaknya. Hal itu terlihat dari penyematan dan penegasan kata-kata yang ditandai dengan tanda kurung dalam sajaknya. Tindakan ini justru malah melemahkan dan mengencerkan eksistensi sajak yang telah diguratnya.

Karakter cerpenis masih begitu mendominasi puisi-puisi Pringadi. Hal itu menyebabkan style bahasa yang dipergunakan dalam setiap puisi Pringadi terlihat dan terasa seperti style cerpen. Namun ini dapat dimaklumi sebab basik dasar Pringadi adalah seorang cerpenis. Ini terbukti dari prestasi yang tengah dirainya, yaitu sebagai juara lomba 1 Cerpen Hoki Literary Award 2008, juara harapan lomba menulis cerpen 2008 di kolomkita.com. Selanjutnya perhatikan sajak-sajak Pringadi berikut ini.

SPRINTER

BARU saja dipecahkan rekor lari seratus
meter atas namannya sendiri yang dibuatnya
tahun lalu (dalam debutnya)

dari eSDe, sehingga eSeMA, dia selalu
menjadi yang tercepat, pernah sampai
empat koma dua dalam empatpuluh yard
(dunia kecepatan cahaya yang sulit
dan langkah ditempuh manusia)

BESAR kepalanya akhirnya dengan medali
emas digantung di leher yang semakin
jenjang dan panjang dengan nama yang
semakin sering dicetak di media mana-mana

dia tak lagi shalat dan bayar zakat, dia
lupa ceramah masa kecil tentang akhirat
dan pertimbangan segala manfaat

“Orang yang paling baik adalah orang yang
paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”

DIPIKIRNYA dia sudah bermanfaat bagi negara,
Berarti seluruh rakyat yang duaratus juta jiwa itu
Harus berterimakasih kepadanya karena telah dia
Membuat negara bangga dan berjaya

TOH jikapun dia masuk neraka, dia bisa lari
kapan saja sebab tak ada yang lebih cepat
darinya – dari kakinya yang sudah sudah itu.

(Alusi, hal 51)



PEMILU

tak usah pilih kaus mana yang hendak kupakai
di masa kampanye damai. mana saja kuterima
apalagi jika disertai berlembar rupiah entah itu
bitu atau merah atau hijau pun bolehlah. asal
tak kurang itu.

kau ajak aku konvoi ke senayan pun tak masalah
asal tak lupa kau gantikan bensin yang biasa habis
untuk narik ojek sampai petang sebab tlah dipecat
aku dari kerjaku akibat krisis ekonomi kemarin.

dan tak usah kau paksa aku jadi tim sukses yang
mempromosikan dirimu sebagai caleg, entah itu
apa kepanjangannya: calon budeg kah? ah tak
masalah asal rupiah kau titipkan di kupiahku
yang sudah kumal dan bulukan.

tapi untuk hak pilih tak bisa kaupaksa. atau terima
apa saja tapi hak pilih adalah privasi seperti hak
opsi yang kautawarkan dalam perjanjian. asasi
yang dilindungi peraturan dan undang-undang
bisa kutuntut di mahkamah jika kau paksa.

(Alusi, hal 36)


Terjun Bebas

Ini areal bebas terjun kan? kita
tak perlu takut pada ketinggian
yang sering membuat kita gemetar
menyebut “akbar, akbar” padahal
sebelumnya TAK PERNAH.

TANYA dulu, berapa meter kita dari
permukaan laut? berapa cadangan
oksigen yang mampu mengembungkan
parasut yang dua dan dijamin akan
mampu membuka dalam keadaan

apapun itu?

kompensasi surga tak cukup meski
segala dosa tak digubris, lesat
saja seperti kereta tak tua di
gerbang pertimbangan kelak

TIDAK. TIDAK. kami ingin terjun
-terjunan saja, dari atas atap
rumah kami yang bocor, dari ayunan
tua kami yang ringkuh tak mau
dibohongi waktu

pun KAU!

(Alusi, hal 88)


Puisi-puisi panjang Pringadi di atas terasa begitu lemah berdasarkan kriteria yang telah saya ungkapkan sebelumnya. Justru bagi saya, puisi-puisi Pringadi yang berhasil adalah puisi-puisi pendeknya. Pringadi dengan puisi pendeknya mampu menawarkan kealaman makna yang begitu wah kepada pembaca. Pembaca seolah diberi keleluasaan dalam menafsirkan serta mengambil kandungan makna yang ada di dalamya. Namun yang begitu menarik bagi pribadi saya pada Pringadi adalah semangat bekaryanya. Ini yang tidak dimiliki dari kebanyakan orang. Pringadi begitu subur dan eksis dalam menggurat puisi sehingga dengan waktu yang terbilang relatif singkat ini, ia mampu menyuguhkan antologi puisi tunggalnya di hadapan kita semua. Sejenak marilah kita perhatikan sajak-sajak pendek Pringadi berikut.

Halaman Ini

Kau seolah paham: tak ada gerbang
di halaman ini

serumpun babmbu di sudut pertama,
ayunan dari besi tua, dan sebuah kolam yang
tak sempat kau beri nama

Kau cari jejak-jejak itu, sia-sia

(Alusi, hal 75)


Le Mois

Pada secangkir kopi,
tertinggal jejak

bulan malam tadi

(Alusi, hal 76)


Potongan Wajah

Di bibir bulan kutemukan
Sepotong wajahmu yang sempat
Kau lupakan.

(Alusi, hal 85)


Berkacamata pada beberapa puisi di atas, saya kira Pringadi butuh pengenalan karakter puisi yang diguratnya, sehingga ia mampu menentukan bentuk puisi yang bagaimana yang pas baginya. Dan ia pun pada akhirnya akan mampu menggalang kekuatan eksistensialisnya melalui kekuatan sajak-sajaknya. Hal itu tampaknya tengah terlukis dalam cover antologi puisinya ini; Alusi. Antologi ini bercover lonceng yang dikaitkan dengan kupu-kupu. Ini mengisyarahkan bahwa untuk menemukan keindahan sajak yang sesungguhnya, Pringadi masih butuh proses metamorfosa lebih jauh lagi. Ia masih butuh waktu pengenalan karakter pribadinya dan mengenal lebih jauh lagi tentang puisi. Selain itu, ilustrasi covernya yang lain adalah seolah-olah ada kepulan asap yang memerah. Ini menunjukkan bahwa Pringadi butuh semangat yang lebih gigih dan bergairah lagi dalam proses kreatifnya. Ia butuh kedekatan emosional dengan penyair-penyair yang lebih tua usia kepenyairannya untuk memberi dorongan psikologi serta motivasi fisik kepadanya. Selanjutnya, selamat berproses. Selamat bekarya. Dan jika ingin hidup anda menjadi cerita yang luar biasa, mulailah dengan menyadari bahwa anda adalah penulisnya dan setiap hari anda punya peluang untuk menulis satu halaman baru darinya (Mark Houlahan).

17 August 2009

Ruang Renung: Penyair dan Koran

Tergelitik sekaligus menyedihkan tatkala aku membaca sebuah statement dari seseorang, yang kurang lebih mempertanyakan eksistensi kepenyairan dari para penyair yang sering dimuat di koran-koran. Adakah para penyair ini tahu bahwa ada anak-anak yang menjajakan koran yang berisi puisi-puisi yang juga kerap berisi tentang kehidupan kelas bawah itu? Adakah penyair hadir memberi jawaban kepada mereka secara realitas, integer, bulat, dan utuh?

Tidak salah memang apa yang dinyatakan seseorang itu.

Tapi, aku benar-benar ingin bertanya kepadanya,

APAKAH DI HARI ITU, DI HARI IA MEMBUAT PERNYATAAN ITU, IA MEMBELI KORAN YANG DIJAJAKAN OLEH ANAK-ANAK KECIL TERSEBUT, ATAU CUMA DIAM?

...

(Intermezzo)

HIPOTESA. Beberapa orang yang membuat pernyataan negatif tentang penyair koran hampir tidak pernah dimuat di koran. Percaya?

...


TIba-tiba aku jadi ingat teman SMPku yang sampingan jadi pengantar koran. Mereka berdua mampu membiayai sekolah sampai lulus SMP dengan pekerjaannya itu. Ah, sekarang entah kemana mereka. Tapi aku ingat namanya. Aku ingat.

Aku juga jadi ingat salahsatu penerima anugerah pena kencana yang mengembalikan uang hadiah karena ia merasa bahwa puisi tak sepantasnya dinilai dengan uang.

Tetapi tidak semua manusia merasa cukup uang dan tidak butuh uang, bukan?

OK. Salahsatu alasan terbesarku kenapa aku masih terus mencoba kirim ke koran adalah honor alias uang. Seperti kata Mas Aan Mansyur, hal yang membuatnya bahagia kalo dimuat di koran adalah setelah itu ia dapat mentraktir teman-temannya.

(Tentu kalau aku, masih ada salah duanya. Aku ingin tulisanku dibaca lebih banyak orang lain. Dan koranlah yang masih menjadi jawaban atas keinginanku itu)

Kinerja kepenyairan (meski gara-gara ia mengirim ke koran dan lantas disebut penyair koran) adalah memberi aufklaerung (pencerahan) terutama bagi dirinya sendiri. Puisi lahir dari sebuah panggilan penciptaan akibat adanya pertanyaan-pertanyaan sastra di dalam dirinya. Ada sebuah gejolak hebat yang memaksa penyair untuk turun jari ke kertas atau media tempat ia menumpahkan itu semua. Puisi tak semata hadir dengan keinginan untuk berindah-berindah, bergaya-gaya, atau hedonis. Tetapi ada sebuah beban di pundak penyair, untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri. atau minimal mengajak pembaca ikut memikirkan jawabannya.

...

Mau lanjut?

Ah, aku capek. Kata nenek, tak boleh merenung lama-lama, nanti bisa kerasukan.

10 August 2009

Teka-Teki Silang

: hudan hidayat

1 Mendatar. Tujuh Huruf

baru mulai, kami ragu pada ingatan. tentang judul sinetron. tentang dongeng. dan tentang seorang pemain bulutangkis yang selalu gagal menjuarai inggris. kami menggaruk-garuki kepala kami yang kami harap gatal. berketombe. berkutu. atau berborok sekalian biar kami punya alasan untuk tampak lebih aristoteles. tampak lebih tak berakhiran less.

2 Menurun. Lima Huruf

pindah ke arah lain, kami yakin menemukan satu huruf paling makruf. mengawali nama nabi dan kitab. dan bangsa. dan bahasa, yang masih kami yakini sebagai sabda. sebagai doa. sebagai makna yang kami imani dengan indulgersia baru. berupa nama-nama yang akan kami lindungi. dan kami sepakati sebagai darah sang suci. sang ruci.

3 Menurun. Tiga Huruf

ikan apa yang menarikan matahari. membentuk yin dan yang di malam keempat belas. o, kisah sang avatarkah ini. di kedua ekor kami yang saling mengejar, bulan lahir. bulan hadir memberi kekuatan kepada para pengendali air. membentuk tabir antara lagu dan syair yang baru kami dengar di sebuah tembang. di sebuah gelombang.

7 Menurun. Lima Huruf

tujuh lima tiga. kembali lima. dan kami mengucap sang maha dalam nama makhluk. dalam kuntum-kuntum bilangan prima yang tak berjodoh dengan angka genap (selain dua).

kami kembali ke satu mendatar. pada ingatan yang kami ragukan. pada judul sinetron, dongeng dan pemain bulutangkis. dan kami ingat tentang seorang tuhan. seorang tuhan yang menangis hutan:

hutan hikayat.

04 August 2009

dollar, huntelaar!

1
sebelum jatuh ke pasaran, bukankah kau
memimpikan alfredo; bikin gol yang banyak
biar mata penonton terhenyak menyaksikanmu
menjaga tradisi yang makin tergusur oleh musuh
bebuyutanmu, raksasa cataluna?

tapi raul. raul yang lain dengan nomor punggung
tujuh juga kerap mengeluh. mengeluh-ngeluhkan
kau memanggil-manggil kenangan 1928, saat presiden
musuhmu (joan laporta kah?) mati – bunuh diri –
tak lagi kuat menahan laju resesi

2
tiga ratus lima puluh tahun kami adalah janin
dan dollar yang harus terbayar dari kedua belah
kaki dan kepalamu yang bikin harapan lawanmu
buyar, gusar, dan kami menanti dengan debar paling
debar sebelum, sebelum kini kau duduk saja di bangku
cadangan sambil meratapi kaus kaki hasil rajutan
dan mengemut permen kojek

rasa kenangan?

3
jual. jual. dan kami seperti termakan bualanmu
yang membuat perut kami mual teramat mual
sampai-sampai kami duduk di atas pispot sambil
memegangi pipi-pipi kami yang kempot

kecewa gagal mendapat jackpot.

4
“dollar, huntelaar?” atau kau memilih mimpi
menjadi televisi, menjadi bintang yang disorot
dari karirmu yang cenderung

makin melorot?

(2009)

Pantai Mutun