20 June 2011

Seketeng, Kenangan

Tidak perlu Kau tenteng, luka telah akrab dengan
Pasar Seketeng. Berapa pikir yang telah ditinggalkan,
Kau kenangan, suatu hari akan dijaja laik Rombengan.

Waktu laun habis, terkikiskan tapal sepatumu. Tidak
ada bioskop, mal, ancol, kapan Kau akan berhenti
dari perjalanan ke perjalanan, dari luka ke luka?

08 June 2011

Pidato BJ HABIBIE yang Memukau, 1 Juni 2011

Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.

Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?

Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?

Para hadirin yang berbahagia,

Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah "lenyap" dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 -- 66 tahun yang lalu -- telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain:

(1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;
(2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM);
(3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap "manipulasi" informasi dengan segala dampaknya.

Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional' tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai "tidak Pancasilais" atau "anti Pancasila" . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!

Para hadirin yang berbahagia,

Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.

Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi' sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Para hadirin yang berbahagia,

Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus "membeli jam kerja" bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu "VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru".

Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau "VOC-baju baru" itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan "jam kerja" bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan "Neraca Jam Kerja" tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan "nilai tambah" berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari "biaya tambah"; dengan ungkapan lain, "value added" harus lebih besar dari "added cost". Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan' lagi dalam kehidupan kita.

Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,

Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.

Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu ‘alaikum wr wb.

05 June 2011

Dua Sajak Sederhana Tentang Rindu

I.

Ketika kumulai sajak ini, udara berhenti
bertiup. Tapi Kau terus berada di dalam degup.
Semula aku kira kegelisahan yang kurasakan
tidak akan pernah terjawab. Udara yang lembab,
sisa hujan semalam, mungkin tangismu.

Kadang aku bayangkan bila Kau tiada,
berapa Waktu yang sanggup tertahan di jantung
hatiku?

Sebab cinta telah menjadi milikmu. Segala
yang kuhirup berbau kelopak mawar yang mekar
dari ujung lidah Kau.

Kini, ketika aku rindu, tak ada yang dapat
kulakukan selain menuliskan sajak cinta yang tak
pernah cukup. Seolah sebuah kendi yang meneteskan
air, namun tak pernah habis.


II.


Jadi jauh, bayangan yang pernah Kau tinggalkan.
Aku sudah bunuh suara seruling di padang rumput itu,
masihkah Kau bersedih? Matahari tinggal satu kilan,
tidak ada yang perlu disesali.
Barangkali masih ada keinginanmu mengejar angin
yang pandai bersembunyi di ceruk akar, menjadi jalan
bagi yang kusebut seseorang belajar menepuk dahan,
mematahkan tulang, memenggal leher kemudian
menetes sungai-sungai yang rindu kembali ke muara.

Aku jadi ingat, surat terakhir yang Kau tulis,
terlampirkan tangis. Berapa sayatan yang coba meraba
kedalaman dadaku?

Bagi hutan, yang pelan-pelan mulai terkikis, kerinduan
tidak pernah baka. Pengembara yang tersesat mencari
sisa ingatan juga kehilangan bayangannya.

Berhentilah, barangkali masih ada ranting yang
dipatahkan menuntun jalan kembali ke lembut ilalang,
ke lenguh gembalaan yang setia menanti
tanpa Kau.

(2011)

04 June 2011

Suguhan Fiksi Surealis yang Fantastis dan Romantis

Peresensi Dodi Prananda

Judul buku : Dongeng Afrizal
Pengarang : Pringadi Abdi Surya
Penyunting : Benny Arnas
Penyelaras Bahasa : Salahuddien Gz
Pemindai Aksara : Khrisna Pabichara
Penerbit : Kayla Pustaka
Cetakan : I, 2011
Harga : Rp.39.900,-


Setelah sukses dengan buku kumpulan puisi tunggalnya, Alusi (Pustaka Pujangga, 2009), Pringadi Abdi Surya menyapa publik ranah sastra Indonesia dengan sebuah buku kumpulan cerpen tunggalnya, Dongeng Afrizal (Kayla Pustaka). Sebagai seorang penulis muda Indonesia, Pringadi terbilang produktif dalam menulis cerpen dan puisi di media nasional dan lokal-nasional seperti Suara Merdeka, Jurnal Bogor, Harian Global, Sumatera Ekspres, Padang Ekspres, hingga Berita Pagi.

Buku ini menghimpun 15 cerpen Pringadi yang pernah dipublikan di pelbagai media di Indonesia. Hampir sebagian dari cerpen dalam buku Dongeng Afrizal ini, Pringadi mengusung genre fiksi surealias yang mengedepankan kisah-kisah fantastis yang absur tetapi dibalut dengan hal-hal yang menyentuh perasaan manusia dengan sisi romantis yang pas. Beberapa kisah fantastis itu tersaji dalam cerpen-cerpen seperti Surat Kedelapan, Resital Kupu-Kupu, Seseorang dengan Agenda di Tubuhnya, Macondo,Melankolia, Setan di Kepala Ibu, Domba-domba dalam Suratmu, Djibril dan Aku, Tuan,Nyonya dan Cerita di Balik Kartu Pos, Satu Cerita tntang Cerita yang Tak Pernah Kuceritakan Sebelumnya, Vaginalia, Dongeng Afrizal, Dongeng Ikarus, Pareidolia, Fiksimaksi:Tuhan dan Racauan yang Tak Tuntas, dan Senja Terakhir di Dunia.

Balutan kisah surealis yang disuguhkan secara romantis kental terasa pada cerpen Surat Kedelapan. Pringadi menawarkan kisah yang dibalut secara unik, romantis dan akhir cerita yang menyentak. Cerita bermula tentang seorang aku yang mempunyai koleksi tujuh surat cinta yang belum sempat diberikannya kepada Zane, kekasih yang merupakan istrinya. Hingga kemudian tanpa sengaja ketika ia membaca ulang semua surat itu, ia melihat sebuah figura yang didalamnya ada jawaban atas semua surat yang belum sempat dikirimkan kepada Zane. Pringadi terlihat sangat sukses dalam menggarap cerpen Surat Kedelapan ini, hal ini terlihat dari begitu sabarnya Pringadi dalam menulis cerita ini sehingga emosi yang terkumpul dalam penulisan cerpen ini dengan mudah ditransfer kepada pembaca. Kendatipun unggul pada bahasa tutur aku yang sangat berkaitan dengan emosi pembaca, cerpen Surat Kedelapan ini mengingatkan kita dengan gaya tutur Seno Gumira Ajidarma dalam beberapa cerpennya yang mengusung konsep surealis serupa yaitu Alina dan Sukab. Ditambah dengan adanya tokoh Sukab dan Zane yang mengingat pada tokoh perempuan yang kerap dihadirkan Seno dalam kebanyakan cerpennya.

Kelihaian Pringadi dalam membangun suspense (ketegangan) dalam cerpen-cerpennya juga terlihat dalam cerpen Resital Kupu-Kupu. Cerpen ini bermula dengan tiga hal yang tidak ingin dilakukan tokoh aku. Pertama, memakai dasi kupu-kupu yang selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa kematian sahabatnya yang ditabrak truk ketika ia memegang kupu-kupu. Kedua, ketakutan tokoh aku pada kupu-kupu dan terakhir yaitu menceritakan semua hal yang dianggapnya sebagai sebuah rahasia kepada oranglain. Tanpa disadari, pembaca terhipnotis dalam alam khayal dan imajinasi Pringadi melalui cerita yang sangat absurd tersebut.

Pada sisi lain, Pringadi juga menyuguhkan sentilan-sentilan yang bersifat satir pada cerpen Seorang dengan Agena di Tubuhnya. Pringadi memilih gaya tutur Solilokui, yaitu bahasa tutur aku yang didomonasi pada narasi aku hingga akhir cerita tanpa melibatkan tokoh lain pada segmen dialog dan kalimat langsung. Ada sentilan yang dialamatkan pada aparat kepolisian dalam cerpen ini seperti yang terlihat dalam kutipan berikut “…dia seorang anak yang bercita-cita menjadi polisi. Saya geli dengan profesi yang satu ini. Baru kemarin saya kecurian. Kemudian saya ke kantor polisi melakukan pelaporan. Bukan bantuan yang saya dapatkan, saya malah dimintai biaya dua ratus ribu dengan alasan administrasi…(hal 30).

Sentilan yang lebih ekstrem pun terdapat pada kalimat “..daripada merekaditangkap polisi lebih baik mereka menjadi polisi..”. Cerpen ini sarat akan penceritaan terhadap tekanan batin yang dialami oleh tokoh aku yang merupakan anak seorang pelacur. Ia kerap diolok, dipandang sebelah mata bahkan kerap menjadi bahan gunjingan. Pelabelan sosial terhadap dirinya, semakin jauh membuat ia semakin dideskeditkan. Cerita ini berakhir dengan antiklimaks dimana ibu tokoh aku bunuh diri, diluar hal itu, diceritakan bahwa yang membuhnuh ibu adalah anaknya sendiri karena ibu telah berbohong padanya.

Cerpen-cerpen lain dalam buku ini banyak mengundang misteri, tanda tanya bahkan emosi yang diaduk-aduk oleh keliahaian Pringadi dalam menaik-turunkank suspense cerita. Buku ini menjawab kerinduan pembaca sastra Indonesia akan karya-karya surealis yang sarat mutu, seperti cerpen-cerpen yang dihadirkan Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Dewi Ria Utari hingga sederet cerpenis yang concern pada penulisan fiksi bergenre surealis. Buku ini wajib Anda miliki sebagai koleksi buku fiksi berkualitas Anda. (Dodi Prananda)


Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, 8 Mei 2011.

Pantai Mutun