05 December 2010

Bait--Bait Hujan

http://oase.kompas.com/read/2010/12/03/12545717/Bait.bait.Hujan

Kamu seperti hujan. Yang datang menghapus bau-bau kematian, di hatiku yang telah gersang oleh kemarau. Padahal kamu pernah menciptakan mendung, di awan awan yang putih, di hamparan langit yang biru. Tapi secepatnya aku lupa. Sebab kamu segera menggantinya dengan hujan. Yang merontokkan segenap kerinduan.

Melihat hujan hari ini, aku teringat kamu. Kamu yang hadir dengan manis di setiap hujan. Menggenggam sebelah tanganku---menarikku ke arah hujan. Bermain dengan hujan. Dan ketika kita telah begitu basah, kamu membelai rambutku yang penuh hujan. Menggerainya, hingga tak menghalangi wajahku yang pernah kamu sebut sebagai karya seni terindah Tuhan.

“Nggi, tidak bawa payung?”

Aku menggeleng.

Ardi. Aku tahu, sudah sebulan ini dia memberikan perhatian lebih kepadaku. Mungkin sebentar lagi dia akan mengatakan cinta. Aku yakin itu. Tapi tidak mungkin kuterima, sebaik dan seperhatian apapun dirinya. Sebab hatiku telah kamu. Rinduku pun telah kamu.

“Nanti sakit lho, Nggi?” bujuknya sambil membuka payungnya yang berwarna biru muda bermotif bunga. Ciri khas laki-laki bertipe lembut, mudah terluka. Mungkin.

“Di, Anggi suka hujan.”

Ardi diam, menatapku penuh rasa keingintahuan.

Aku menjulurkan tangan kananku ke rintik-rintiknya, mencuri segenang hujan. “Lihat, hujan adalah kehidupan.”
Dia diam. Masih menatapku dengan sedikit heran. Lalu ia pun ikut mengulurkan tangannya ke arah hujan.

“Aku tak pernah suka hujan,” diam sejenak sebelum ia melanjutkan, “kau tahu, Nggi? Dari kecil aku selalu dilarang main hujan-hujanan. Aku hanya bisa melihat teman-temanku bermain dengan riangnya dari balik jendela kamarku. Aku ingin… ingin sekali bisa bermain dengan hujan. Tapi aku tahu, aku tak boleh. Karena fisikku, Nggi… aku alergi hujan.”

Aku menatapnya yang masih menatap ke arah hujan. Menyunggingkan senyuman yang lebih dari kerinduan.

“Sulfat.” Aku memecah keheningan.

“Maksudmu?”

“Sekarang aku juga tidak akan main hujan-hujanan lagi.”

“Karena aku?”

“Enak saja. GR kamu.”

“Lalu?”

“Sulfat. Bukannya sudah kukatakan tadi?”

***

Tentang kamu, yang pernah kulihat berdiri menunggu hujan reda di pintu gerbang sekolah. Kamu mengenakan kemeja berwarna hitam dengan rambut acak-acakan, seperti tak disisir. Kamu memakai tas punggung yang juga berwarna hitam, yang tampak penuh menggelembung. Tak tahu apa isinya. Sesekali kamu melirik tangan kananmu, melihat waktu di arlojimu. Ah aku jatuh cinta padamu, pada ekspresi wajahmu yang waktu itu seperti terburu-buru.

Aku tergoda untuk mendekatimu. Berdiri di sampingmu.

“Payung?”

Kamu menatapku sekilas. Lalu menggeleng.

“Anggi. Kamu?”

“Pring.”

“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?”

“Nggak…”

“Ah pasti karena namaku kan?”

Dan kamu diam. Diam yang begitu aku suka. Bisa kuhitung berapa kalimat yang kamu ucapkan di tiap kita bertemu. Seperti pertemuan pertama kita ini, kamu diam dan aku memayungimu. Kamu tidak menolak. Aneh. Padahal kita baru saling mengenal nama. Tetapi aku merasa begitu dekat kepadamu. Merasa seakan kamulah orang yang tepat untukku.

***

Kamu tidak begitu tampan. Ardi jelas jauh lebih tampan. Tapi garis mukamu begitu tegas. Begitu lugas. Kamu adalah tipe orang yang tahu dan paham apa yang harus dan boleh dilkakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dan kamu seperti menemukan alasan, di pertemuan kita yang bahkan belum menginjak angka belasan, untuk mengatakan perasaanmu kepadaku.

Hari itu memang hujan.

“Momen yang sama, kan?” Aku kaget. Tidak biasanya kamu memulai pembicaraan. Belum aku menjawab, kamu sudah melanjutkan pertanyaanmu, “Payung?” Dan aku hanya bisa menatapmu. Kamu benar-benar aneh hari ini.

“Katakan saja apa maumu? Tidak biasanya kamu seperti ini.”

“Sudah kubilang kan? Momen yang sama.”

“Maksudmu?”

“Saat kita pertama kali bertemu.”

Kamu menatapku. Menatapku dengan pandangan yang di malam kesendirianku tidak dapat terhapus dari bayangan. Dan perkataanmu selanjutnya adalah sesuatu yang mungkin menjadi hal terindah dalam hidupku. Meski kamu tidak bertanya bagaimana perasaanku dan tidak memintaku untuk menjadi pacarmu. Tidak memintaku untuk selalu berada di sisimu. Tapi ya, kau dengan tegas mengucapkan itu, bahwa kamu suka aku. Cukup. Dan aku seperti tersihir atau terhipnotis oleh pernyataanmu itu. Tanpa bisa berkata-kata.

***

“Apa kamu suka sama orang lain, Nggi?” Ardi bertanya. Aku diam.

Bahasa terbaik adalah diam. Itu adalah ucapanmu. Aku tidak mengerti kenapa kamu lebih suka diam dan tersenyum. Sampai pembicaraan-pembicaraan kita seringkali semata lewat kertas atau SMS, padahal kita sedang duduk bersebelahan.

“Pring, bicaralah...”

“Ehmm, tidakkah ini romantis?”

“Old school...”

“Kamu mau aku cium?”

Giliranku yang terdiam. Kamu bilang ingin menciumku. Aku memejamkan mata. Beberapa detik kutunggu, kamu malah menjitak kepalaku. “Nanti, kalau kita sudah menikah...” lanjutmu sambil tersenyum.

Tetapi, kamu tidak ada di depanku kini. Malah Ardi. Dia masih menatapku dengan tanda tanya. Lama-lama aku jadi kasihan padanya. Maksudku, tidak baik untuk terus membiarkan seseorang mencintai sementara hati sudah milik orang lain. Ya, meski, kebanyakan perempuan begitu. Menebar kail di dua ikan. Menunggu sampai mendapatkan ikan yang paling besar. Aku tentu berbeda. Jika sudah ada satu ikan, ya cukup satu saja. Menunggu terlalu lama beresiko sia-sia.

“Kalau iya, kenapa?” Aku malah balik bertanya.

“Apa dia juga menyukaimu?”

“Ya, katanya begitu, tapi...”

“Tapi?”

“Kenapa kamu mau tahu?”

“Karena aku suka kamu!” Ardi menjawab dengan tegas.

“Sudahlah, Di... aku minta maaf, aku sudah terlanjur menyukainya.”

“Siapa dia... kelas berapa?”

Tiba-tiba aku terdiam. Pringadi. Kelas berapa ya? Sekolahku memang besar dan luas. Satu angkatan saja terdiri dari 12 kelas dan masing-masing kelas bersiswa 45 orang. Aku tidak pernah bertanya dia kelas berapa. Aku memang jarang melihatnya. Bahkan pertemuan pertama kami di gerbang sekolah itu pun adalah memang pertama kali aku melihatnya.

“Nggi... kok diam?” tanya Ardi lagi.

“Pringadi, kamu kenal?”

Ardi mengerutkan keningnya. “Rasanya tidak ada nama seaneh itu di sekolah kita.”

***

Bisa kuhitung jari berapa kali aku bertemu denganmu. Pertama, di gerbang sekolah, dan hari itu hujan. Kedua, di depan ruang guru, sore-sore saat aku baru selesai ekskul, dan hari itu hujan. Ketiga, di kantin, saat aku membolos karena bosan, hari itu kamu menyatakan suka aku, dan hari itu juga hujan. Keempat, di belakang sekolah, saat aku membeli beberapa alat tulis, kamu menghampiriku dan mengirim SMS, berkata ingin menciumku. Sebelum akhirnya, aku sudah berbulan-bulan tidak melihatmu.

Aku ingat sekarang, aku belum pernah memberikan nomor handphoneku ke kamu.

***

“Tidak ada yang namanya Pringadi di sekolah ini.”
“Tidak mungkin.”
“Sudah kuselidiki, Nggi. Sudah kutanyakan ke administrasi.”
“Aku pernah bertemu dengannya. Aku pernah berSMSan dengannya. Aku pernah bertulis kata-kata dengannya. Kamu hanya tidak suka kalau aku menyukai orang lain, Di!”
“Aku cuma tidak suka kamu tersesat dalam rasa sukamu, Nggi.”
“Masa bodoh!”
“Aku peduli padamu. Apa kau bisa menunjukkan semua bukti keberadaannya, Nggi?”
Aku masuk ke dalam kelas. Kuambil tas. Kutunjukkan SMS-SMS dari Pringadi. Pun kertas-kertas yang berisikan dialog kami berdua. Ardi mulai membacanya satu per satu. “Sekarang kamu percaya?”
Hari ini hujan lebih deras dari biasanya. Aku juga tidak menyangka Ardi bisa senekat ini menyelidiki apa-apa yang pernah kuceritakan kepadanya. Murid-murid lain sudah pulang dengan jemputan-jemputan mereka yang beragam. Kami berdua di pojok sekolah. Ardi masih mengamati semua kata-kata itu. Aku mengetuk-ngetukkan sepatu ke lantai. Tiba-tiba di pojok lain, akhirnya, aku melihatmu lagi. Kamu tersenyum. Hatiku berteriak. Segera aku lari menghambur ke arahmu, melewati hujan. Melewati genangan-genangan. Hujan menyamarkan airmataku. Aku memelukmu.

***

Hari itu, Ardi melihatku berlari tiba-tiba. Tasku jatuh dan berhamburan isinya. Ardi tidak pernah mengejarku. Pandangannya teralihkan pada sebuah handphone lain di tasku itu. Ia memungutnya. Ketika kembali memandangiku, ia tahu aku sedang mengejar sesuatu. Tetapi, satu yang tidak aku tahu, Ardi tidak melihat siapa-siapa di sana. Ardi melihatku seperti sedang memeluk seseorang. Tetapi, tidak pernah benar-benar ada orang dalam pandangannya. Ketika ia mulai membuka handphone itu, ia temukan SMS yang sama seperti di handphone sebelumnya. Pun ketika ia membongkar isi tas itu, ia temukan catatan-catatan dengan tulisan tangan yang sama dengan kertas-kertas dari Pringadi. Catatanku sendiri. Tulisanku sendiri.

(Palembang, 2010)

04 December 2010

Tiga Puisi Pringadi

FYI, GOOD BYE

Selamat tinggal hati yang sudah kuberikan, aku sudah bukan sahabat baikmu yang mampu menjadi gunung Sinai. Menangislah, menangislah, saat kuganti nomor teleponku dan operator perempuan berpura-pura menjadi partner selingkuhanku. Tekanlah, tekanlah bel rumahku dan gonggong anjing akan menyambutmu. Atas namaku sendiri, aku akan menjadi malam ini, tiba-tiba meredupkan segala nyala bintang di luar jendelamu. Kesepian bukanlah barang langka, bahkan diobral di pasar loak. Tiga seribu dan segala sesuatu menjadi tidak masuk akal. Hatiku mendadak bersinar. Pikiranku meledak. Bom atom Hiroshima kembali. Pergi, pergilah, aku ingin bermeditasi di kolong tempat tidur, meratapi dipan-dipan yang melapuk. Bagaimana bisa bertahun mereka menahan berat tubuhmu, dan tulang-tulangku sendiri menahan hanya sebuah nyawaku? Yang mungkin tidak berharga? Aku tidak ingin merasakan cinta. Ketika di taman, sebuah meteor lewat, dan aku mengepalkan tangan,mengajukan permohonan. FYI, [...]

BTW, KOPI

Tidak semua penyair minum kopi. Bahkan merokok. Aku sudah puas mereguk pahitnya kehidupan apalagi membakar paru-paruku sendiri. Kecemasan barang tentu teronggok di sepanjang jalan, tak laku, dan membusuk. Segerombol mahasiswa meneriakkan reformasi, mengingkari revolusi, menginginkan resolusi. Bebaskan Irian Barat sudah jadi masa lalu. Baret-baret hitam di pipi kini bersembunyi di balik televisi. Penyair duduk di warung-warung, ngedumel, dan membicarakan cinta yang tak pernah selesai. Bagaimana cinta bisa mengenyangkan perut dan menghapus penderitaan rakyat? Penyair miskin. PNS yang kaya. Mahasiswa jadi bulan-bulanan pemerintah. Masing-masing menggelar meja dan berdiri di atasnya. Aku penyair kecil, berkredo kecil, bersajak kecil, tetapi berkemaluan besar. Upss, sensor, hatiku yang besar. BTW, [...]

Malaikat Bernama PLN

Jam delapan malam, lagi-lagi mati lampu.
Harga nyawa sebuah lampu ditentukan oleh PLN.

01 December 2010

Dua Beranak Temurun, Benny Arnas

Bada ditinggalkan pinangan hatinya, lelaki paruh baya itu sangat suka mendongeng. Semua dongengannya pun memiliki potongan cerita menarik. Tak heran bila putranya sangat suka menajamkan telinga di sela-sela desauan angin yang memapas kisah dari bibir hitam yang berkerut merut itu.

Entah, yang didongengi pun tak tahu mengapa lelaki yang tampak beberapa tahun lebih tua dari usianya tersebut sangat suka melakukannya. Dalam setiap dongengannya, entah itu melankolis, romantis, atau epik; entah itu surealis atau absurd; entah juga itu tentang gadis, bujang, janda, duda, atau manusia-manusia yang hampir berbau liat; lakon-lakon yang baik-baik sifat, perilaku, dan tutur bahasanya, adalah seseorang bernama Jarun.

”Agar hidupmu tidak menggelambir noktah kelam, Nak.” Itulah yang diucapkan lelaki itu ketika anaknya bertanya mengapa ia sangat sering bercerita.

Wajar bukan kalau putranya tak pernah mengerti alasan mengapa lelaki itu senang mendongeng. Mana cepat mengerti putranya dengan jawabannya itu. Memang sejatinya tak penting bagi sang putra memahami leliku bahasa-bahasa tingkat tinggi yang kerap dibunyikan lelaki itu. Baginya yang utama adalah setelah mendengarkan dongengan sang ayah ia bisa memintal angan dalam mimpi yang terbilik oleh purnama-purnama yang indah.

Yah, ketika angin diam-diam menghembuskan hawa hampanya, manusia-manusia kerap menutup kelopak matanya, maka masing-masing tetiduran pun memekarkan bunga-bunga malamnya. Tak terkecuali untuk seorang bocah delapan tahun yang sangat senang mendengarkan kisah-kisah kehidupan bernuansa merah muda dari ayahnya. Oleh sang putra, semua kerap—dan memang diharapkan—tidak hanya terjelma dalam mimpi belaka, tetapi suatu hari akan menguap menjadi kenyataan yang jelas berupa-rupa.

”Mengapa tidak Jarun saja namaku, Yah?”

”Tak penting nama itu, Nak. Yang penting, segala kebaikan Jarun itu hadir dalam kehidupanmu.”

”Tetapi, aku mau Ayah juga memanggilku seperti itu!”

Lelaki legam itu tak memerhatikan, apalagi memedulikan, permintaan putranya barusan.

”Tidurlah, Nak. Besok kau harus sekolah.”

Putranya mengangguk.

”Jangan lupa berdoa agar tidur berkat, dan sebangun kau darinya pun juga bisa berkat. Dan yang terpenting adalah semoga doa-doa itu turut membantu agar dirimu tidak diboyong ke pusat kota suatu hari.”

Lagi-lagi Jarun tak mengerti kata-kata ayahnya. Lelaki itu memang tak panjang jalan pikirannya. Apa ia kira anaknya itu setua dirinya sampai kata-katanya harus selalu berumpama-umpama dan memilih bahasa-bahasa yang tidak biasa.

Putranya sudah menguap. Tidur. Tidur. Mimpi jadi Jarun….

”Besok tolong Mami ya, Dre? Ambilkan uang yang baru dikirim papimu dari desa.”

Andre hanya mengangguk. Lucu, masak tinggal di kota, tetapi dikirimi uang oleh orang yang tinggal di desa.

”Halooo! Kau dengar, kan?!”

”Eeeh iya, Bu… eh salah, Mi.”

”Sekalian kau belilah perlengkapan keelokan fisikmu. Deodorant, parfum, t-shirt, jeans, dan lainnya. Engkau lebih pahamlah apa yang kiranya serasi untukmu. Setelah itu pergilah nge-gym ke tempat fitness-nya Om Andi, biar kau bisa membantu Mami mencari uang kelak.”

Apa hubungannya?

”O ya, nanti kalau ada gadis-gadis itu, jangan sedikit pun kau tergoda. Ingat, kau masih 16 tahun, Dre. Mami tak mau kau justru melampiaskan hasrat birahimu kepada mereka. Kau masih mau bermewah-mewah, bukan? Ha ha ha…,” Mami menutup kalimatnya dengan tawa panjang.

Tak lama berselang, rumah itu dipenuhi para penjual yang barang bawaannya tak kunjung habis. Berkurang tantangan dan rupa kepuasan saja yang membedakannya dari hari ke hari.

Bordir, bordir! Andre menggerutu sebelum meninggalkan rumah yang penuh dengan cekakak-cekikik puluhan pasangan haram itu.

”Aku harus jadi anak baik seperti pesan orangtuaku dulu,” hati kecilnya bertekad.

”Bukankah Mami adalah orangtuamu juga? Lagi pula kalau kau lari, apa kau tak takut dimarahinya?” belahan jiwanya yang lain berujar.

”Mami? Hueekh! Siapa peduli!” hati kecilnya bertahan.

Sebagaimana layaknya hari Kamis, Ahmad harus melakukan persiapan ekstra di An-Nur, masjid yang dia huni. Maklum esok salat Zuhur absen dari ritualitas manusia-manusia masjid. Salat dua rakaat yang bernama sama dengan hari dilaksanakannya ibadah tengah hari tersebut memaksa pemuda 25 tahun itu membentangkan sajadah panjang-panjang hingga memenuhi ruangan masjid; memastikan kotak wakaf berjumlah delapan agar ia tak terlalu lama melewati saf-saf yang kian Jumat kian memendek dan berkurang; mengecek soundsystem tua agar suara Kiai Anam tak memarau dan putus-putus olehnya hingga mengganggu jamaah yang hendak tidur siang selama ia membusa mulut dengan khotbahnya; serta mengamplopkan beberapa puluh ribuan untuk Kiai Anam, Wak Jamil, dan Mang Marlis.

Uh, Mang Marlis. Jumat lalu lelaki yang menderita radang tenggorokan akut itu mencak-mencak di hadapan Ahmad. Perihalnya sepele-pele rumit, sudah beberapa hari belakangan becaknya sepi.

”Orang lebih suka naik ojek, lebih cepat katanya,” jawab dia waktu itu ketika Ahmad bertanya mengapa tiba-tiba ia mengeluhkan, bahkan terkesan menyalahkan dirinya, setelah salat Jumat hari itu.

Yah, wajar kalau Ahmad awalnya bingung dengan tuturan-tuturan Mang Marlis. Baru saja salat Jumat berakhir, lelaki itu langsung menyeracau hingga Ahmad terkejut sejenak sebelum mencoba memahami semuanya.

”Apa hubungannya denganku, Mang?” respons Ahmad saat itu.

”Kau kan garin masjid. Kau sampaikanlah kepada Haji Dullah, ketua pengurus masjid, kalau aku juga pandai berazan. Muazin dapat 25 ribu, kan? Itu lebih besar dari tarikanku sehari. Biar Jumat nanti aku bisa rehat sejenak untuk persiapan enam hari ke depan. Tolong usahakan ya, Mad. Nanti kuberi uang rokok untukmu.”

”Aku tak merokok, Mang,” Ahmad masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.

Mang Marlis hanya nyengir kuda sebelum menepuk bahu Ahmad dan berlalu dengan penuh harap.

Sejak saat itu Ahmad tidak pernah melihat Mang Marlis dengan becaknya lagi. Dan dua hari lalu, tiba-tiba saja lelaki 40 tahun-an tersebut tak henti-hentinya mengumbar terima kasih ketika tahu ia diizinkan menjadi muazin salat Jumat esok. Hari itu juga, Ahmad baru tahu becak lelaki itu ditarik juragan Marwan karena ia sudah satu minggu tidak pernah setor.

”Dooor!”

”Eeh… iya.” Ahmad tersentak mendapati tangan yang baru saja menepuk bahunya.

”Pagi-pagi udah ngelamun, Mad,” Harun tetangganya, sudah berdiri di belakang. ”Tolong umumkan ini di masjid, biar aku yang beduk.” Harun memberikan kepalan kertas lusuh. Ahmad terkesiap melihat tulisan yang tergores di sana.

”Meninggalnya jam dua subuh tadi.”

Ahmad masih melongo.

”Entah lucu juga kalau kau dengar musabab kematiannya. Kata Bi Anis, istrinya, dari pagi hingga tengah malam, ia seharian di kamar, membuka-buka buku bacaan salat. Berteriak-teriak sendiri di kamar seperti orang melagu-lagu arab tak jelas rupa bunyinya. Lewat tengah malam tenggorokannya tersekat, tak ada air pula dijerang Bi Anis. Akhirnya mati….”

Ahmad menelan air ludah. Ia melangkah menuju mikrofon yang mesti disambungkan dulu kabelnya ke equalizer murahan di balik mimbar.

”Oya aku baru ingat, Mad. Matinya karena belajar berazan….”

Sudah kuduga.

”…ada-ada saja cara Tuhan mencabut nyawa orang…,” lanjut Harun.

Tak lama berselang. Beduk dipukul dengan ritmis sumbang. Penduduk menajamkan telinga.

”Innalillahi wa innalillahi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, Marlis bin Ajip Makmun….”

”Mengapa kau bisa sampai di sini?”

”Untuk apa kau tahu?”

”Banyak yang masuk ke sini hanya karena salah tangkap, tak ada uang, salah paham, dan…”

”Apa peduliku? Penjara ya penjara, tempat orang-orang berwatak dan berperi laku bejat dikandangkan.”

”Tidak denganku, anak muda.”

”Maling mana mau mengaku maling!”

Paaak.

”Mengapa kau menamparku?”

Paaak.

”Nah kau puaskan? Sekarang kau yang balas menampar wajahku yang memang sudah remuk ini?”

Beberapa jam kemudian dua lelaki senjang usia tersebut sudah akrab. Entah api dari mana yang mengasapkan kehangatan hubungan mereka. Tiba-tiba saja, tamparan, rasa skeptis, dan caci-maki yang kerap mewarnai awal jumpa mereka di lembaga pemasyarakatan sore tadi mulai berkurang—bukan hilang sama sekali.

”Itulah leliku hidupku, Pak,” lelaki yang lebih muda menutup cerita hidupnya pada malam yang memekat. ”Sekarang giliranmu.”

”Istriku selalu meminta kiriman uang dariku.”

”Wajar, bukan?” sela yang lebih muda.

”Iya. Sebelum semuanya terungkap bahwa ia berprofesi sama dengan ibumu yang baru kau ceritakan tadi. Aku murka setelah mengetahui semuanya. Aku datangi tempatnya, kuacak-acak sarang setan yang dia buat. Ia pun membawa kasus ini ke meja hijau. Aku tak cukup beruang lagi saat itu. Ia menang. Tetapi, aku tak heran. Seorang mucikari seperti dia pasti memiliki bekingan berlapis, tak mengenal profesi, tanggung jawab, dan sumpah jabatan yang menyertainya. Wajahku saja, seperti kaulihat saat ini, lebam mengungu, sampai hampir tak berupa.”

”Jadi?”

”Jadi, ya aku dipenjara,” lelaki tua itu menerawang, ”salahku juga yang belum sempat menceraikannya. Sakit hatinya aku adalah ketika di pengadilan terungkap bahwa ternyata kirimanku selama ini sudah beberapa tahun belakangan tak pernah dia terima. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Katanya anak bujang kami yang melarikannya karena memang atas nama ia buku tabungan tersebut ditandatangani. Kalau penegak hukum itu mau adil, seharusnya mereka berlogika, mana tahu aku perkara diterima atau tidaknya uang itu. Lagi pula wanita iblis itu tak pernah mengabariku.”

”Jadi tepatnya, apa pasal hingga Bapak mendekam di sini?”

”Sangkaan terhadapku sangat berlapis. Selain masalah tak pernah menafkahi istri dan anak, juga tindakan anarkis terhadap rumah pelacuran istriku. Tetapi…”

”Tetapi apa, Pak?”

”…aku tak rela ditangkap, maka melarikan dirilah aku ke suatu daerah yang kuyakini bisa menumpang teduh pada adikku. Walaupun aku tak dapat menemukannya dan akhirnya aku tertangkap juga,” lelaki itu menyebut nama suatu tempat.

”Aku sempat tinggal di sana.”

“Hah? Benarkah? Kau kenal adikku?”

”Siapa namanya?” tanya yang lebih muda sok peduli.

”Marlis. Ya hanya Marlis tok! Kau kenal?”

Deg!

Air muka lelaki yang lebih muda memerah. Tetapi, raut itu belum sempat ditangkap mata tua lelaki di hadapannya. Ah, aku tak mau memanjangkan cerita, cukup membosankan juga nanti berbalas omong dengan lelaki tua ini. Paling ia akan menerorku dengan tanya ini-tanya itu perihal Marlis miskin buta agama itu. Kasihan kalian, dua beradik yang tak mujur dua-duanya!

”Kau kenal?” lelaki tua mendesak.

”Huaaap…,” lelaki yang lebih muda menggeleng sambil pura-pura menguap. ”aku ngantuk, Pak. Tidur dulu, ya. Nanti kalau ada sipir yang mengantar makanan, bangunkan aku!”

”Ya sudah kalu begitu. O ya, tadi kau bercerita panjang lebar tentang dirimu, tetapi kau belum menyebutkan namamu?

”Huh! Banyak bacot pula, kau! Baiklah, biarkan aku istirahat setelah kau dengar semuanya!”

Lelaki tua mengangguk ragu. Keder juga dia melihat ekspresi kesal lelaki 27 tahun-an di hadapannya itu.

”Namaku macam-macam. Saat aku dimasukkan ke sini perihal kucuri semua uang wakaf masjid yang telah kutunggui lebih dari lima tahun, namaku Ahmad. Sebelumnya namaku Andre, semasa kecil namaku Amrul.”

”Amrul?” lelaki tua membelalak, serasa tak percaya.

”Iya. Tidak ada pertanyaan lagi, kan?” Ahmad tak memedulikan ekspresi rekan sekamarnya. Ia langsung berbalik, membaringkan tubuhnya

Senyap. Hanya angin penjara yang berseliweran mengisi ekspresi murung, sedih, pedih, dan kacau para penghuninya.

”Semasa kecil, kau sangat suka didongengi, bukan?” suara lelaki tua memecah hening. Ia telah membelakangi Ahmad, menghadap ke jeruji, memegangi bilah-bilah besinya.

Ahmad membuka kelopak matanya yang baru saja menutup.

”Umur delapan tahun kau dibawa ibumu ke kota. Aku baru tahu beberapa tahun lalu, tepat pada usiamu ke-17 kau akan digigolokannya. Untung kau melarikan diri satu tahun sebelumnya.”

Ahmad bangkit dari pembaringannya. Mukanya memerah.

”Jarun… Jarun… kau hanya manusia impian. Percuma saja kisah-kisah rekaan tentangmu kuhembuskan ke telinga putraku. Semua tak membekas. Ia tak jadi jua seperti yang diharapkan.”

”Kau… kau…?” Ahmad terbata-bata.

”Tak usah berharap. Aku sudah lupa dongeng-dongeng tua itu. Aku tak akan mendongeng lagi.” lelaki tua itu menyeringai kecil. ”Lagi pula, pemilik pusat kebugaran itu sudah menjadi papi tirimu.”

Ahmad bangun. Perlahan, mendudukkan tubuhnya yang layu di dinding penjara.

”Mungkin sudah takdirnya pula, dua beranak mati di jeruji ini,” lelaki tua itu membalikkan tubuhnya menghadap Ahmad yang meremas-remas rambut kusutnya.

Jeruji besi berbunyi seperti dipukul-pukul. Makanan anjing telah datang. Tampaknya malam itu akan menjadi lebih panjang dari biasa.

Pohon Kersen, Linda Christanty

RUMAH kami menghadap pantai. Namun, pantai tak terlihat dari jendela-jendela yang terbuka. Pantai belum juga tampak ketika aku berdiri tegak di halaman pasir dan telapak kakiku yang telanjang bagai diserbu jarum-jarum halus-panas di siang terik itu. Pantai cuma gemuruh laut dan peluit kapal, meski aku bertengger di dahan tertinggi pohon kersen yang menjulang pongah di sudut halaman.

RUMAH kami menghadap pantai. Namun, pantai tak terlihat dari jendela-jendela yang terbuka. Pantai belum juga tampak ketika aku berdiri tegak di halaman pasir dan telapak kakiku yang telanjang bagai diserbu jarum-jarum halus-panas di siang terik itu. Pantai cuma gemuruh laut dan peluit kapal, meski aku bertengger di dahan tertinggi pohon kersen yang menjulang pongah di sudut halaman.

Tebing curam yang dihampari tanaman rambat berduri telah menyembunyikan pantai di bawah sana. Dan sebatang pohon nangka yang kurang subur di pinggir tebing, dengan ranting-ranting tua meranggas, berdiri murung mengawasinya. Menjelang malam, ketika sedikit cahaya memberi siluet pada benda-benda di alam raya, pohon nangka tadi benar-benar menyerupai makhluk asing kesepian merenung di tebing. Hitam. Bisu. Sebatang kara.

Pandanganku yang linglung segera membentur garis pertemuan langit dan tebing. Bukan garis lurus yang terlihat, bukan semacam garis yang dihasilkan mistar dan pensil di atas kertas gambar, melainkan gelombang garis dengan ketinggian puncak dan kedalaman lembah yang berbeda. Semak, pohon, tonggak kayu, tonjolan tanah… telah mencemarinya. Langit yang kulihat pun selalu berubah warna. Biru, abu-abu, hitam, atau putih menyilaukan. Seperti warna-warna bersemburat di benak. Sulur-sulur tumbuhan liar yang menjalar dan menyelimuti tebing selalu terlihat hijau cerah di musim hujan, tapi kering kecoklatan di musim kemarau dan lebih mirip rajutan kawat berkarat ketimbang tumbuhan yang pernah hidup, pernah segar.

Beberapa kali aku diajak kakek pergi ke pantai. Kami terpaksa mengambil jalan memutar. Sudut kemiringan tebing tersebut hampir 90 derajat. Mustahil dituruni.

Begitu kakiku menyentuh pasir, aku segera berbalik menatap tebing. Sungguh tinggi. Pohon nangka tampak sayup.


SAAT aku masih di sekolah dasar, sebagian waktuku habis di atas pohon kersen itu. Bukan sekadar membayangkan pantai yang tersembunyi, melainkan untuk tujuan lain.
Sepulang sekolah dan seusai makan siang, aku memanjat sambil menyandang tas kain berisi buku-buku cerita, kemudian duduk di salah satu dahannya yang kokoh untuk membaca dan menyimak bualan para pendongeng serta terpengaruh oleh kata-kata mereka. Komik Tin Tin, serial detektif Nancy Drew, Kisah dari Lima Benua…

Angin tipis berembus dan memberi sejuk di kulitku, lalu mulai mengusap-usap pelupuk mata. Lama-kelamaan huruf-huruf saling berimpitan atau menggandakan diri mereka.

Aku mulai mengantuk, tapi tak berani lelap. Bukan lantaran ulat-ulat hijau gemuk yang tiba-tiba merayap, menjengkali tubuh sewaktu-waktu, lalu menebar rasa gatal di pori-pori, melainkan lebih pada rasa takut jatuh. Meski angin kencang lebih sering datang pada bulan tertentu, musim tertentu, perasaan takut diterbangkan dan dihempas angin itu memaksaku segera turun saat rasa kantuk mulai menyerang.

Angin kencang memang menakjubkan. Butir-butir pasir terangkat, melayang, dan menyepuh udara. Lantai teras berpasir. Kaca-kaca jendela berdebu. Dinding rumah kami makin kusam. Mak Sol, keponakan kakekku yang tinggal bersama kami, akan sibuk menyapu teras dan mengelapi kaca pintu serta jendela selama berminggu-minggu, lebih sering dari hari-hari biasa. Yu Ani, yang hampir setahun ini membantu memasak dan mencuci pakaian di rumah kami tergopoh-gopoh mengangkat ember dan mengepel lantai. Kadangkala aku memandangi angin kencang dari jendela paviliun, tempat kakek tinggal.

Paviliun itu memiliki jendela-jendela besar. Kusen-kusennya yang dicat putih terbuat dari kayu meranti. Bidang kaca yang luas di kamar kakek membuatku leluasa melihat angin melanda dan meliukkan cabang dan ranting kersen. Daun-daun gugur. Ulat-ulat terpental dan terkapar di pasir seperti korban tabrak lari. Anehnya, musim ulat selalu bersamaan waktunya dengan kedatangan angin kencang.

“Angin Barat sudah sampai,” kata kakek, seraya menyimpan buku belanja di laci mejanya yang bisa menampung seluruh kuitansi pembelian barang, kartu iuran televisi dan radio, surat-surat penting, dan botol-botol bekas obat batuk yang berisi bermacam akar-akaran (dan sebuah botol istimewa berisi koleksi gigi kakek yang tanggal!).

Kakek kemudian memisahkan uang kertas dari uang logam atau sebaliknya, dengan cekatan. Uang kertas dimasukkan ke amplop coklat bertulis UANG BELANJA BULANAN, sedang uang logam disuapkan ke mulut seekor gajah tembikar yang tengah mendongak seraya mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, celengan hadiah dari keponakan kakek yang bekerja di perusahaan pelayaran. Setelah itu amplop uang disimpan dalam brankas. Celengan gajah digeser kembali ke sudut meja. Diam-diam aku pernah mengorek-orek celengan gajah itu dan berusaha menjatuhkan beberapa keping logam di dalamnya. Jarang berhasil. Tapi suatu kali jumlahnya cukup untuk membeli lima bungkus ham lam, manisan dari sejenis buah yang bentuk bijinya seperti kacang almond dan ukurannya dua kali lipat kacang almond. Rangkaian huruf kanji yang tertera pada kertas pembungkus sama sekali tak kupahami. Tulisan ‘ham lam’ dalam huruf Latin di bawah rangkaian huruf kanji itulah yang kuartikan sebagai nama manisan buah tersebut.

Kukira, kakek mengetahui perbuatanku, mencuri keping-keping logamnya. Suatu hari ia membelikan aku sebuah celengan ayam dari tanah liat dan berkata, “Tabung uang logammu di sini. Nanti pecahkan kalau sudah penuh.” Aku tiba-tiba merasa sedih dan malu.

Kualihkan pandanganku dari bidang kaca, mengamati kakek yang duduk memunggungiku. Sebenarnya, kakeklah yang menjadi pemimpin keluarga kami, bukan ayah. Setiap hari ia memeriksa tetek-bengek keperluan rumah, dari soal garam dapur sampai mendatangi tetangga kami yang mencuri air dari pipa ledeng di belakang rumah.

Kakek juga yang datang ke kantor polisi untuk membebaskan sopir kami yang dituduh menabrak orang. Ayah malah ingin memberi uang sogok pada polisi agar urusan cepat selesai. “Jangan! Kalau benar, kita harus berani sampai mati pun,” katanya, menghardik menantunya yang lemah hati.

Kakek pelan-pelan mengangkat cangkir kopi, lalu meneguk isinya. Kopi robusta, kental. Aku pernah mencicipi kopi kakek, seteguk. Pahit. Kumuntahkan di wastafel. Hitam pekat. Warna yang menakutkan, tapi selalu ada. Kulihat jari-jari kakek bergetar.

“Angin kencang ini membawa penyakit. Kalau bermain, di dalam rumah saja. Lebih aman,” ujar kakek, seraya meletakkan cangkir di atas piring tatakan. Sebentar kemudian ia pun beranjak dari kursi, meletakkan kaca mata baca di atas bufet, lalu berjalan melewati ambang pintu.


KETIKA pandanganku kembali membentur bidang kaca itu, kulihat gumpalan awan hitam berarak pelan di langit. Angin masih menggila. Butir-butir tanah terangkat ke udara, lalu terhempas ke bumi. Laut di bawah tebing sana bergelora. Teman sekolahku, Kang Haw, hilang di laut itu gara-gara ikut mendorong perahu nelayan sampai ke tengah. Mayatnya mengapung setelah dua minggu. Bengkak. Biru. Penuh lubang bekas gigitan. Meski kakek melarang, aku nekad melihat jasadnya yang ditandu orang-orang setelah diangkat dari laut. Begitu rombongan duka menikung di sudut jalan, aku buru-buru memanjat pohon kersen dan terus mengamati mereka membawa Kang Haw. Tiupan angin mendadak kencang. Pori-poriku meremang.

Di malam hari, saat aku terbangun untuk ke kamar mandi, gemuruh angin terdengar lebih keras, serupa geram raksasa yang berulang-ulang. Aku berlari di lorong panjang itu; penghubung kamar mandi di rumah belakang dengan kamarku yang terletak di rumah induk. Kamarku lebih dekat ke kamar mandi di ujung lorong ketimbang ke kamar mandi keluarga di rumah induk.

Lantai semen sedingin es. Aku sering lupa memakai sandal flanel. Telapak kaki seolah beku. Bang Husni, cucu angkat kakek, sudah berdiri tegak di muka kamarnya yang bersebelahan dengan kamar mandi. Ketukan kaki yang lembut dan irama langkah yang ringan telah menyentaknya dari lelap. Rumah yang sunyi membuat bunyi lebih nyaring terdengar. “Seperti dering weker,” ujarnya, menyeringai. Ia mendekat. Jari-jarinya mencengkeram lenganku, “Jangan lari terlalu kencang, nanti jatuh.”

Bang Husni sering meminjamiku buku-buku komik. Ia menyewa buku-buku itu dari kios buku di pasar. “Komik-komik ini boleh dibaca dengan satu syarat,” katanya, suatu hari. Matanya berbinar ganjil.

Angin terus berembus melalui lubang-lubang jendela kawat di sepanjang lorong. Malam menghitam. Angin mendesis, dingin, tajam. Tubuhku menggigil. Daun-daun kersen gemeresak. Ia mematikan lampu lorong.


POHON kersen itu pernah ingin ditebang kakek. “Kalau musim ulat bikin orang jadi jijik. Kau lihat itu… di mana-mana ulat,” gerutu kakek, mengarahkan telunjuknya ke jendela.

Aku tak setuju. Di atasnya, aku ingin membangun sebuah rumah mungil. Aku ingin punya rumah sendiri. Bukankah ulat-ulat tak berlimpah ruah tiap waktu? Bukankah pohon itu bisa disemprot dengan racun ulat?

“Lebih baik kita tanam pohon rambutan atau jambu, lebih bermanfaat,” bujuk kakek, mengelak berbantahan.

Ayah dan ibu mendukung niat kakek, tapi nasib baik masih berpihak pada pohon tersebut. Perlahan-lahan semua orang lupa pada rencana semula. Hanya ketika angin kencang datang dan merontokkan ulat-ulat, percakapan tentang penebangan pohon muncul lagi. Rencana tersebut berkali-kali batal terlaksana, lenyap di tengah hingar persoalan sehari-hari yang lebih penting. Tentu saja, aku bersyukur.

Aku mulai melihat-lihat papan sisa di belakang rumah. Aku mengamati cara kakek menggergaji, menyugu, dan memaku. Rumah kayu itu memerlukan persiapan yang matang. Ia harus tahan terhadap serbuan angin beliung sekalipun. Aku akan membangunnya sendiri. Tak seorang pun kuberitahu. Aku mulai membuka-buka buku keterampilan pertukangan milik kakek. Tiap memandang pohon kersen, keinginan tinggal di atasnya makin kuat dan berakar dalam hati. Aku berkhayal tidur malam di situ. Dari jendelanya yang mungil kulihat bintang-bintang berkelip. Oh, ya, aku punya keker pemberian ayah. Kamar mandi? Aku bisa buang air dalam kaleng bekas cat. Beres.

Kadangkala aku juga putus asa. Apakah aku sanggup membangun sebuah rumah? Pikiranku tiba-tiba jadi kacau. Kepalaku sakit. Namun, selama rumah impian belum terbangun, aku tetap bisa berlindung di pohon kersen, sejenak bersenang-senang, dan terus mencari akal mewujudkannya kelak. Aku juga bisa mengintai dan mengetahui banyak peristiwa yang berlangsung di rumah kami dari balik daun-daun kersen yang hijau rimbun.


PADA hari Minggu, lelaki tua yang membawa ikan-ikan laut dalam dua keranjang rotan di kanan-kiri sepedanya, selalu berhenti di muka rumah kami. Aku menutup buku ceritaku, sengaja mengamati gerak-geriknya dari atas pohon.

Ia melayangkan pandangannya ke paviliun kakek. Ia tak melihatku. Betis-betisnya yang kurus menyangga sepeda dan muatan yang dibawa.

Kakek tak pergi ke pasar pada hari Minggu. Ia menunggu gerobak sayur atau sepeda ikan lewat di muka rumah.

Si penjual ikan membunyikan bel sepedanya dua kali, lalu berhenti sebentar dan menekan bel dua kali lagi lantaran kakek belum juga muncul. Tak berapa lama kakek membuka pintu paviliun, melangkah di halaman sambil tersenyum, kemudian berteriak pada lelaki itu, “Apakabar, Suk? Ada ikan bagus? Udang ada? Kerang? Ikan pari? Belanak? Selar?”

Lelaki Tionghoa yang berkulit coklat terbakar dan kerut-merut wajahnya bagai guratan-guratan pisau di kulit kayu itu menyambut kakek dengan senyum lebar. “Ada, Pak. Semuanya baru datang. Ikan-ikan kembung ini masih segar. Pari tinggal sedikit,” katanya, bernada riang.

Kakek memilih-milih ikan dalam keranjang. Penjual ikan mengeluarkan dacin. Kakek meletakkan ikan-ikan di mangkuk timbangan. Penjual ikan mulai menggeser anak timbangan, melihat skala berat pada tongkat dacin. Setelah itu kakek mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari saku celana dril-nya. Penjual ikan menganggukkan kepala, memamerkan gigi-gigi yang ompong, lalu mengayuh sepedanya menjauhi rumah kami. Kring-kring… Ia membunyikan bel dua kali sebagai ucapan perpisahan.

Kakek menenteng plastik ikan, menuju paviliun, lalu sejenak menengadah ke arah pohon kersen. “Hati-hati jatuh!” teriaknya padaku. Aku membalas dengan melambaikan tangan dan menjulurkan lidah. Kakek tertawa.

Namun, kakek tak selalu membeli ikan di hari Minggu. Penjual ikan itu melarang kakek membeli ikan-ikannya, meski ia tetap mampir di muka rumah kami seperti biasa, membunyikan bel sepeda, dan menunggu kakek. Ketika kakek muncul, ia berteriak, “Hari ini tak ada ikan bagus, Pak. Nelayan belum pulang dari laut.” Kakek membalas teriakannya, “Ya, ya… tunggu sebentar!” Aku tahu apa yang akan dilakukan kakek. Ia meminta Yu Ani menakar dua liter beras kami dan menuangnya ke kantung plastik untuk diberikan pada si penjual ikan. Selalu, pada hari-hari tak ada ikan segar, kakek mengantar sebuah bungkusan pada lelaki tersebut. Bertahun-tahun aku menyaksikan pagi hari Minggu seperti itu.

Suatu hari Minggu penjual ikan tak datang. Hari Minggu berikutnya bunyi bel sepedanya tak terdengar juga. Hari-hari Minggu berlalu tanpa ikan-ikan. Berbulan-bulan kakek mengganti menu ikan dengan daging sapi atau ayam. Percakapan tentang penjual ikan yang menghilang terdengar berkali-kali di meja makan atau di dapur. “Apa sakit tu orang?” gumam kakek. Yu Ani malah menyangka penjual ikan mengalami musibah yang lebih berat. “Mungkin meninggal. Sudah tua, Pak. Anak-anaknya ke mana ya, Pak? Orang sudah tua masih dibiarkan kerja,” ujarnya, cemas. Namun, perlahan-lahan peristiwa tadi terlupakan seiring datangnya peristiwa lain.


TENGAH malam dan selalu tengah malam, aku kembali terbangun dan berlari ke kamar mandi. Bang Husni sudah menunggu di depan pintu kamarnya. “Ada komik baru, dik,” ujarnya, setengah berbisik. Sebenarnya aku enggan melihat komik-komik itu. Aku buru-buru menekan gagang pintu kamar mandi.

Ia menyusulku dan menarik tanganku, “Mahabharata dan Superman.”

Kusentakkan pegangannya.

“Aku sedang malas baca komik,” jawabku, kesal.

“Ayolah,” bujuknya. Aku enggan mematuhi persyaratan.

“Cuma sebentar, setelah itu kau bisa baca semua komik.” Suaranya terdengar manis.

Ia menuntunku ke kamarnya, membaringkan tubuhku seperti boneka di tilam. Tangan-tangannya membekap mulutku.

Keesokan harinya aku sukar buang air kecil. Aku malas berangkat ke sekolah. Kakek menawarkan diri mengantarku ke sekolah. Ayah dan ibu sudah berangkat ke kantor. Kedua adikku naik mobil jemputan.

Tubuhku panas, seperti demam. “Pohon kersen itu jangan ditebang,” pintaku pada kakek. Kakek meraba dahiku. “Kita lihat nanti,” jawabnya, sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku menangis.

Apakah kakek mengetahuinya?

“Taruh pispot ini di kamarmu, biar tak usah menahan kencing, nanti anyang-anyangan,” katanya, sepulang dari pasar. Kakek menaruh pispot di bawah tempat tidur.

Tiba-tiba Bang Husni kabur dari rumah kami.

“Tak pandai membalas budi. Disekolahkan, diberi makan, dibelikan kain baju… malah lari,” rutuk Mak Sol, panjang pendek.

Bang Husni sebentar lagi menempuh ujian akhir sekolah menengah atas dan kakek ingin ia menamatkan sekolah. Kepergiannya membuat kakek murung berhari-hari. Di mana dia sekarang? Bagaimana keadaaannya?


RUMAH kayuku akhirnya gagal bertengger di pohon itu, tapi aku tetap menghabiskan sebagian waktuku dengan duduk di salah satu dahan dan membaca buku-buku. Sesekali aku memandang ke arah pantai. Cuma gemuruh laut dan peluit kapal yang menandai keberadaannya. Sekitar 100 meter dari sini, tebing yang dihampari tanaman rambat berduri itu telah menyembunyikan pantai di bawah sana dan sebatang pohon nangka di pinggir tebing curam itu adalah makhluk kesepian yang berdiri murung mengawasi laut di kejauhan. Dan laut sanggup menelan apa saja.

Sekali waktu, tanpa sengaja, aku melihat seseorang berdiri di pinggir tebing. Hari menjelang malam. Adzan maghrib baru usai. Aku hendak menutup tirai jendela paviliun. Kakek sedang pergi ke luar kota, mengunjungi saudara kami yang sakit. Mak Sol ikut bersamanya. Siapa orang yang terpaku di tebing itu? Dan untuk apa?

Jawaban kuperoleh dari ibu. “Yu Ani,” bisiknya, singkat.

Aku penasaran. Apakah Yu Ani berniat terjun dari tebing? Ibu enggan berbicara lebih panjang.

“Yu Ani patah hati. Ah, kau pasti tak paham ‘kan? Yu Ani tu suka sama orang kapal. Nah, sudah sebulan dia pacaran. Eh, si laki ini ternyata sudah berkeluarga. Banyak anak-anak gadis datang ke kapal, terus piknik ke pantai situ… Pasti Yu Ani masih ingat terus,” kisah Mak Sol, prihatin.

Kakek lalu menghiburnya dengan bermain ramalan. “Kau akan dapat jodoh tak lama lagi,” kata kakek.

Yu Ani tersipu-sipu. Pipi-pipinya merah dadu.

“Kalau saya, Man?” tanya Mak Sol, bersemangat.

Kakek memeriksa garis tangannya, mengerutkan dahi, “Ee… agak berat, tapi jodohmu pasti ada. Orang jauh… mungkin orang seberang.”

Mereka bertiga tergelak-gelak. Ha-ha-ha-ha… Aku ikut tertawa.

“Hei, anak kecil, jangan kau mencuri dengar ya… Pergi jauh-jauh sana. Pergi ke pohonmu.” Mak Sol mengusirku.

Aku berlari menghindari cubitannya.

“Dasar hantu pohon kersen!”

“Hantu dapur!”

Ha-ha-ha-ha…

Kenangan-kenangan selalu kembali.


*) Dipublikasikan pertama kali di Koran Tempo, 2005. Versi bahasa Inggris yang berjudul The Kersen Tree dimuat di The Asia Literary Journal, Hongkong, 2006.

Cerpen Seno Gumira: Sepotong Senja Untuk Pacarku

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993

Pantai Mutun