Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2008

Arogansi Tak Bertu(h)an

Mana kretekmu, Kawan?
biar kita hisap perlahan
menikmati detik detak yang menawan
melayang terbang ke atas awan

Linglung langling longlang ...,

bisikmu tak jelas, Kawan!

"Apa? Kau mengaku Jibril?!"

Sudah! Tu(h)an macam apa yang ingin KAU dustakan?!

"Apa? Aku NABI BARU! KAU MAU MENYAMPAIKAN WAHYU?!"

Cukup!

dingdung dangding dongdang ...,

hentikan gurauanmu, Kawan!

"Apa?"

Boleh tak sholat, boleh tak zakat?
Boleh tak ngaji, boleh tak haji?
Boleh arak, boleh tuak?
Boleh berdusta, boleh berzina?

"OK!OK! Aku nabi baru. Cukup begitu?"

Concerto #2

Dengan bulan tak purnama pun, aku mampu memandang kelam di atas telaga tenang. Takdirku menjadi pungguk tak selalu jadi buruk, apalagi membuatku terpuruk.
Seperti malam ini, segenggam bayang membuat cahayanya terhalang. Tetap indah meski sabit yang meronta memintaku menjemput - datang. Aku pun terbang dengan wangi rafflesia surga, 'tuk runtuhkan langit yang kuasa. Mungkin saja suatu saat akan ter-rela – terengkuh dalam dekapanku.

Ode Untuk Pendosa

Aku butakan matamu dari puisi-puisi yang kusuguhkan. Yang aromanya pun tak mampu kaubaui dengan hidung yang telah kusumbat nafas dosa dosa mustajab. Cuma telingamu saja yang tak tuli. Yang tiap hari kubisikkan mantra-mantra kalam semesta. Kuperdengarkan pula puja puji palsu, jerit pekik wanita dengan desah yang ingin kau raba pastinya. Jangankan bukan! kepalamu hanya bergeleng-geleng nikmati iramanya. diam-diam aku curi pedangmu yang telah tumpul berkarat - tak pernah kau asah. Bila sudah tiba waktumu, biarkan izrail puas mencumbui ruhmu tidak dari kepalamu. Hingga erangan buatmu terkejang mencapai klimaks cinta yang sudah kau dustakan.

Aku Bukan Mahasiswa Matematika

Aku bukan mahasiswa matematika. Jadi aku tak mampu menetukan deret cintaku, deret geometri biasa atau tak hingga? Atau malah deret ukur biasa dengan beda tak lebih satu? Hei, aku bahkan tak pernah bertemu Rymann yang kau puja. Jadi bagaimana bisa aku belajar 'tuk berintegrasi tepat di hatimu tanpa sedikitpun terdiferensiasi oleh waktu yang kau rumuskan sebagai t pada d? Dan kali itu, kau ajak aku berdiri di puncak kurva hati, titik stasioner tertinggi untuk mencari sejauh mana maksimum yang kau ingin aku beri bukti. Dan pada tiap jarak langkah yang kau tapakkan sebelum itu, kau berlirih pelan menghitung kemungkinan setiap jejak, yang kuyakin kau kombinasikan dengan harap yang kau prediksi melalu kurva regresi. Sudah! Lelah hatiku kau hitung serpihnya satu persatu, tepat integer. Aku ingin berhenti di sini. Tidak pada ekuilibrium yang pernah kita - atau tepatnya hanya kau - rencanakan. Camkan kataku, aku bukan makhluk integer atau real seperti nominal-nominal yang biasa kau hitung lug…

Pringadi Abdi Surya

Aku hanya sebatang bambu yang berada di pucuknya. Bukan seperti ranting pada dahan-dahan yang cepat mengering, lapuk, lalu patah. Lihat aku! Terserah angin hingga badai merayuku - membuat liukan indah di tubuhku. Tatapanku tetap takkan bergeming. Menghamba pada sebuah cahaya yang juga setia pada dunia. Lantas kau?