Skip to main content

Penyakit Gila No. 5 (Jurnal Bogor, 8 Agustus 2010)

Mendadak Lubuk Parau gempar. Sudah lima pemuda terkapar hari ini. Tidak diketahui apa sebabnya. Pastinya, kelima pemuda itu tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal kemudian jatuh tak sadarkan diri. Sampai malam ini, Mbah Darmo, yang memang dukun paling sakti di desa ini, masih menemani mereka berlima dengan kemenyan dan air kembang tujuh rupanya yang tak pernah lupa ia bawa kemanapun ia pergi.

“Jangan-jangan desa kita dikutuk!”

“Tidak, tidak, pasti ada penyakit menular. Pasti!”

“Virus!”

“Virus?”

“Iya, virus. Di mana-mana penyakit menular itu pasti disebabkan oleh virus.”

“Virus apa?”

“Virus baru. Mutasi baru. Aku yakin sekali.”

***

Sakum sudah bosan mendengar ocehan-ocehan semacam itu. Sakum tahu, kalaulah benar virus yang menyerang desa ini, tak mungkin kejadiannya bisa terjadi bebarengan. Terlalu kebetulan untuk sebuah virus bisa membuat kelima pemuda tertawa terpingkal-pingkal dan jatuh tak sadarkan diri secara bersamaan.

Tiga dari lima pemuda itu Sakum kenal. Marjan, Mingin, dan Misran. Sampai kemarin, Sakum masih berbincang dengan mereka bertiga.

“Kum, kau mau jadi kaya?” Marjan memulai pembicaraan hari itu.

“Iya, Kum, nanti kita bisa punya mobil. Bisa jalan ke Palembang, bisa karaokean ke kafe-kafe sama cewek-cewek cantik!” Mingin menimpali.

“Duit dari mana, Boi? Halal?” tanya Sakum sambil mengernyitkan dahinya.

“Alahhh, jaman sekarang, halal haram hantam, boi! Mikirin halal apa nggak hidup ntar luntang-lantung nggak karuan kayak sekarang ini. Nggak ada majunya.” Misran menjawabnya dengan nada yang meninggi. Sakum jadi malas untuk melanjutkan.

Tapi ketiganya mendadak terkapar seperti itu sebelum keinginannya tercapai. Sakum bukannya tak mau tahu apa sebab kejadian ini. Sakum punya praduga sendiri. Apalagi setelah sakum mengetahui kedua korban lainnya bernama Mardi dan Marlan.

“Kelima-limanya berhuruf awal M di namanya!” Sakum mengutarakan pendapatnya di depan Subhan, teman sepengajiannya.

“Lantas bagaimana bisa orang-orang behuruf awal M tak sadar tiba-tiba? Kau mau bilang ini adalah kutukan, Kum?”

“Hush, syirik itu namanya…”

“Lalu?”

“Itulah yang aku masih bingung, Han. Tapi apa kau tahu kalau kemarin…” Sakum menghentikan ucapannya. Subhan penasaran dibuatnya. “Kalau kemarin apa, Kum?”

“Ah, tidak…lupakanlah.”

Sakum mengurungkan niatnya untuk menceritakan pembicaraan kemarin. Sakum ingat, ghibah itu tidak diperbolehkan dalam agama meskipun benar ceritanya. Kalaulah ia menambahinya dengan bumbu-bumbu pemanis, itu jadi fitnah namanya.

Meski Sakum tidak suka pada ketiga pemuda itu, ia masih merasa kasihan dan penasaran. Perihal apa yang membuat mereka bisa mengalami kejadian seperti ini? Benar-benar kutukan Tuhan kah?

***

Keeseokan harinya, Lubuk Parau bertambah gempar. Kelima pemuda itu bangun tepat ketika azan subuh berkumandang. Tetapi ada yang berbeda, belum nampak kesadaran di matanya yang mendelik kosong. Lidahnya sesekali menjulur seperti anjing-anjing kampung.

Hampir semua warga berkumpul ingin menyaksikan kejadian ini. Mulai dari ibu-ibu yang masih menggendong anaknya yang balita sampai kakek-kakek tua ringkih yang sudah bau tanah. Sakum dan Subhan pun berada di barisan depan. Konon, Mbah Darmo akan memberikan penjelasan atas fenomena ini.

“Mbah, cepat katakan… ini apa? Ini pertanda apa?”

“Kami takut, Mbah…”

“Bagaimana kalau ini terjadi pada anak-anak kami, Mbah?”

Teriakan-teriakan semacam itu semakin riuh. Sakum merasa getir, bagaimana mungkin manusia menggantungkan harapan dan ketakutannya pada seorang dukun?! Padahal hanya Allohlah yang Maha Kuasa, Maha Segala-galanya. kepadaNyalah seharusnya kita memohon doa dan takut pada azabNya yang teramat perih.

Laki-laki tua itu akhirnya muncul dari balik pintu. Seperti biasa, blangkon dan jarik warna coklat ia kenakan. Mulutnya pun tak pernah letih mengunyah sirih. Sementara tangan kanannya memegang sebuah tongkat yang kata orang-orang sumber kekuatan mistisnya bersama batu-batu akik di jemarinya.

“Tenang… semua tenang,” mbah Darmo mulai membuka suaranya, “kalian tidak perlu panik. Mbah sudah mengatasi masalah ini. Mbah jamin tidak akan ada lagi warga desa yang kena kutukan ini…”

“Kutukan, Mbah?” tanya seorang ibu yang mukanya menyiratkan kegelisahan.

Mbah Darmo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “tetapi kalian tidak perlu khawatir. Ini cuma kutukan ringan.”

“Kutukan ringan?”

“Iya, penyakit gila nomor lima…”

“Penyakit gila nomor lima? Memangnya ada berapa penyakit gila, Mbah?”

Mbah darmo mengangkat kedua tangannya. Tongkatnya disampirkan di tubuhnya. “Ada sembilan!”

“Sembilan??! Katakan mbah, apa saja itu?”

Mbah Darmo menggeleng. “Tidak perlu kalian ketahui. Pastinya penyakit gila nomor lima ini akan sembuh sendiri dalam lima hari. Kalian tidak perlu khawatir. Sekarang kembalilah ke rumah. Lakukan pekerjaan kalian seperti biasa.”

***

“Mereka ingin ngepet, Kum…”

“Ah, kau ini, jangan asal bicara…”

“Tetapi begitulah yang aku dengar.”

“Seperti peluru Han… meleset satu mili di moncongnya bisa meleset beberapa meter pada sasaran!” Subhan tampak bingung. Tak bisa mencerna kata-kata Sakum barusan. “Maksudku, yang namanya katanya itu selalu tidak benar. Selalu ditambah-tambahkan, dibumbui biar lebih sedap kedengarannya,” kata Sakum menjelaskan.

“Tidak… Tidak… ini aku dengar langsung dari Marni, Kum. Istrinya Marjan…”

“Tetapi kelimanya berhuruf awal M kan di namanya? Tidak mungkin kan kalau itu cuma kebetulan?”

“Terkadang kebetulan pun adalah sebuah kebenaran, Kum… Kau tahu Kum kepada siapa mereka meminta ilmu ngepet itu?”

“Siapa?” tanya Sakum penasaran.

“Mbah Darmo…”

***

Tuhan selalu menawarkan kemudahan. Tidak ada tiket yang mahal untuk surga-Nya. Surga itu murah. Tidak perlu membayar beberapa puluh ribu untuk shalat di mesjid ketimbang pergi ke diskotik dan membeli narkotik. Tidak perlu puasa empat puluh hari untuk mendapatkan keutamaan di hadapan Ilahi ketimbang demi mendapatkan ilmu sakti. Sakum heran dengan orang-orang yang memilih jalan yang lebih sulit padahal di sampingnya ada kemudahan yang lebih mulia yang ditawarkan.

Pintu itu ia ketuk dua kali. Tidak ada jawaban.

Ia coba sedikit mengintip, tetapi pintu itu malah terbuka. Tidak terkunci.

Aroma kemenyan segera mampir di hidung Sakum. Baunya menusuk dan membuatnya pusing. Sakum memberanikan dirinya untuk masuk dan menemui Mbah Darmo sendirian, tanpa Subhan.

“Sakum…” suara parau itu mengagetkannya. Sosoknya tampak mistis. Dengan asap-asap yang tampang berkelibat di sekitarnya. “Ada apa kau kemari?” tanya Mbah Darmo lirih.

“Ini benar ulahmu, kan?” Sakum balas bertanya dengan nada sedikit sinis.

“Duduklah dulu… sudah lama kan kau tidak kemari, memeluk ayahmu ini?” Mbah Darmo berdiri. Tangan di tongkatnya seolah menjadi penyangga bagi tubuhnya yang tingkih.

“Kau tidak pernah menjadi ayahku…”

“Ikatan darah itu tidak pernah akan berbohong, Kum… kau tetaplah anakku.”

“Kalau begitu, kalau kau menghargai aku sebagai anakmu, bertobatlah, kembali ke jalan yang benar…”

“Tidak pernah ada anak lebih pintar dari bapaknya!”

“Orang pintar seringkali hanya sok pintar!”

“Kau?!” Mbah Darmo sudah menaikkan telapak tangannya. Matanya mendelik marah. “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya!”

“Tetapi pohon yang ini tumbuh di dekat sungai dan buahnya jatuh mengikuti arus dan tumbuh di tempat lain yang lebih baik!” tegas Sakum.

***

Hari kelima.

Kelima pemuda itu didudukkan di depan rumah mbah Darmo. Ada gentong besar di sampingnya. Gentong yang berisi air jejampian untuk memandikan kelima pemuda itu. Orang-orang sudah mulai berdatangan. Sakum dan Subhan tentu sudah datang duluan.

“Kalian semua tenang. Ini adalah ritual penyembuhan. Mbah perlu berkonsentrasi,” ujar Mbah Darmo dengan suaranya yang tatih.

“Kalau gagal, Mbah?” tanya seorang pengunjung.

“Gagal? Mbah tidak pernah mengenal kata gagal. Mbah jamin dengan nyawa mbah!” jawab Mbah Darmo dengan meyakinkan.

Ritual itu pun dimulai dengan menyiram kelima pemuda itu dengan air di gentong sebanyak lima kali. Mulut Mbah Darmo komat komit, entah mengucapkan apa. Ia mulai berputar lima kali. Bersujud lima kali. Melompat lima kali. Dan lima kali pula, ia berteriak parau kesakitan. Matanya mendelik-delik menakutkan.

Mata kosong kelima pemuda itu mulai tampak kembali seperti semula. Tetapi, mata si Mbah mulai berbeda. Tiba-tiba langit mendung. Kilat menyambar-nyambar. Orang-orang mulai merasakan kepanikan. Sebagian berlari ketakutan. Sakum masih bertahan memperhatikan ritual itu meski Subhan sudah mengajaknya untuk menghindar.

Duar!

Tiba-tiba ada petir menyambar Mbah Darmo. Kilatannya juga memantul mengenai Sakum. Mbah Darmo hilang kesadaran. Sakum pun ikut jatuh pingsan.

***

Satu hal yang dilihat Sakum setelah ia bangun adalah sosok itu bangun juga. Tetapi tidak lagi dengan tongkat tua yang dikira sumber kekuatannya. Ia mendelik kosong dan lidahnya menjulur seperti anjing-anjing kampung. Ia berjalan mendekat. Tetapi, kaki Sakum seperti terpahat.

“SAKUM… adalah ANAK KANDUNGKU. DARAH DAGINGKU…” sosok itu mulai berkomat. Sakum tersengat, ingin membantah, tetapi bibirnya malah terkunci rapat. “ILMUKU SUDAH KUTURUNKAN KEPADANYA. SEKARANG HORMATILAH DIA SEBAGAI ORANG PINTAR LUBUK PARAU. HAHAHA!” lanjutnya terbahak. Brak! Mbah Darmo ambruk setelah mengucapkan itu.

Tiba-tiba saja Sakum kesetanan. Matanya mendelik seperti sedang kerasukan.

Ia tidak ingat lagi kenapa ia hidup sendiri. Ia tidak tahu lagi kenapa ayahnya tiba-tiba jadi dukun sakti. Ia bahkan lupa apakah ia adalah buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya atau ikut arus sungai dan tumbuh di tempat yang lebih baik.

Sakum berdiri. Tongkat sakti ayahnya sudah berpindah ke tangan kirinya. **)

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<