Skip to main content

Catatan Hati: Mulut yang Manis

Entah berapa malam yang lalu, Zane tiba-tiba berbisik kepada saya, "Uda, kok mulut Uda manis sekali sih?"

Saya tidak tahu apakah pertanyaan itu merupakan sebuah ungkapan pujian atau malah kekhawatiran. Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama saya dicap demikian. Mama Nelfi, ibu Zane, bahkan dalam beberapa kesempatan mengatakan, "Manisnya mulut Adi ini ya?"

Menilik ke belakang, saya pernah dikenal (dan terkenal) bermulut pedas. Itu terjadi tatkala saya duduk di bangku kelas III SMA. Saya sangat pendiam dan ketus di kelas. Maksudnya, saya lebih sering diam. Namun bila berbicara selalu ketus dan sering menyakiti perasaan orang lain. Pernah suatu ketika saya membikin nangis Dian, jilbaber yang duduk di bangku sebelah saya. Saat itu entah dia menanyakan apa, saya tak begitu peduli. Begitu dia selesai bicara, saya katakan, "Tolong ya, kalau mau bicara sama saya, sikat giginya dilepas dulu..." Dian pun langsung ngelonyor pergi. Kata Genta, dia menangis di kamar mandi.

Lain halnya dengan Genta, jilbaber yang duduk bersebelahan dengan Dian itu mengaku sangat benci kepadaku. Karena pada suatu kesempatan dia bertanya tentang penyelesaian Logaritma. Saya memang mengerjakan soal yang dia berikan bahkan tidak sampai satu menit. Tapi setelah itu, mulut ini berkata, "Goblok banget sih kamu, soal segampang ini saja tidak bisa?" Sebenarnya banyak korban lain semisal Ayu yang sering kusebut penderita Sindrom Down yang pada suatu kesempatan ia mengikuti tes IQ lalu menunjukkan hasil tesnya itu kepadaku dengan alasan hanya untuk membuktikan dia tidak terkena Sindrom Down.

Hanya saja, waktu berlalu dan orang bilang saya banyak berubah. Yang tadinya pendiam, jadi banyak bicara. Yang tadinya tidak suka atau tidak berani berinteraksi dengan perempuan, jadi penyuka perempuan. Bahkan sempat dicap buruk karena terlalu sering dekat dengan banyak perempuan. Di suatu kesempatan reuni, Kokom bahkan berkata, "Sudah sudahlah, Pring... nikahlah. Jangan terlalu banyak main hati."

Nah, di sana kadang saya bingung. Saya tidak ganteng, cenderung biasa saja orangnya. Tapi kenapa banyak perempuan yang suka sama saya. Baru kenal sebentar, sudah rela curhat apa pun kepada saya. Dan akhirnya mengaku jatuh cinta. Saya bertanya itu kepada Rahmi di suatu hari, dan ia menjawab, "Karena mulutmu itu manis, Pring..." Belum sempat tahu di mana manisnya ia melanjutkan, "Kamu memang ketus. Tapi orang maklum, karena kamu punya kemampuan dan reputasi untuk bersikap demikian. Orang yang tahu keterbalikan sifatmu itu, akan mudah jatuh hati. Karena seolah-olah mereka menjadi spesial di mata kamu."

Tapi memang, bakda menekuni dunia kepenulisan, saya ini sangat andal dalam berkata-kata, apalagi bila lewat telepon atau empat mata. Saya menyadari itu, makanya saya hampir tidak pernah menyapa perempuan duluan kecuali bila memang ada ketertarikan. #eh

Comments

Popular posts from this blog

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<

Pantai Leppu di Labangka