Skip to main content

Catatan Hati: Cincin, Buku, dan Persahabatan

Tahun 2012 menjadi tahun yang pasif bagi riwayat kepenulisanku di koran-koran. Tercatat hanya dua kali aku dimuat dalam koran atau majalah yakni sejumlah puisi di berita pagi dan cerpen "Dua Kelopak Krisan" di Majalah Story edisi 31. Bakda itu, tak ada kabar. Beberapa kali mencoba mengirimkan ke koran Kompas atau Tempo, tapi tak ada yang dimuat. 

Barangkali ini bukan tahunku. Itu yang ada di dalam pikiran. Saya pun kembali menulis di blog, sekadar menuntaskan rasa sepi dan ekspresi yang tak kuat lagi terbendung di dalam diri. Ketika sebelumnya saya cenderung menyepi, bersunyi-sunyi dalam aktivitas kepenulisan, menulis blog dan aktif di twitter membuat saya "terpaksa" membuka diri, bergaul dan berinteraksi.

Beberapa kali aku ikut kurasi dan perlombaan, dan ada yang menghasilkan. Bedanya, bila dulu akumenulis untuk kemenangan, kini aku menulis untuk hati. Ternyata dari hati yang terbuka itu, aku menerima lebih dari sekadar hadiah, tetapi juga cinta dan perkenalan. Awal tahun dimulai dengan sebuah antologi "Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia" terbitan kosakatakita, 4 puisiku ada di dalamnya. Lalu ada pula "Dongeng Museum Nusantara" yang memuat sebuah pengalaman ketika pergi menemui Benny Arnas di Museum Geologi Bandung. Di sana pula saya kali pertama bertemu dengan Medy Loekito, salah satu penyair yang paling kukagumi. Bertemu dengannya, membuat kekaguman itu bertambah karena keluasan sekaligus kedalaman pemikirannya. Yang terbaru, baru akan dilaunching 13 Desember ini adalah Merentang Pelukan, antologi puisi 13 penyair yang dikurasi oleh M. Aan Mansyur. Di luar itu sebenarnya ada beberapa medium lain tetapi saya lupa detilnya.

Nah, yang terasa spesial adalah sebuah cincin yang kudapatkan dari lomba blog. Ia spesial karena temanya adalah harapan orang tua terhadap sang anak. Aku baru saja punya seorang anak. Kini ia sudah nyaris 9 bulan. Perempuan. Fariishta Hanna Diza.


Baru-baru ini aku terkena cacar. 14 hari aku harus "terpisah" darinya. Rasanya dunia begitu sepi tanpa sapa darinya setiap pagi yang biasa bangun terlebih dahulu lalu menggelinding ke arahku. Merambat-rambat di tubuhku karena ia sudah mulai belajar berdiri. Kadang-kadang ia melihatku dari luar pintu dan berusaha masuk ke kamar tempat aku diisolasi. Aku terpaksa menutup pintu lagi meski pintu hati begitu terbuka untuk menyambutnya. Aku merasa dia sudah tidak sabar minta kugendong, sama halnya aku tak sabar untuk menggendongnya. Belum sembuh benar dari cacar, aku harus ke Mataram. Dua hari. Aku harus mengikuti tes DIV STAN, salah satu jalan keluar termanis dari penempatan di Sumbawa ini. Sebenarnya aku tak keberatan ditempatkan di Sumbawa kecuali soal tiket pesawat bila rindu terlalu gebu untuk sebuah kepulangan. Nah, bila lulus, aku akan kembali ke Bintaro bersama Hanna tentu saja. 

Di tes itu, staminaku belum penuh meski cacar-cacar itu sendiri sudah mulai mengering. Aku memakai masker di perjalanan, takut bila ada anak-anak atau ibu hamil. Cacar memang sangat berbahaya bila menular ke ibu hamil. Janin yang berada di dalam hamil pun bisa terserang dan mengakibatkan cacat. Aku tak ingin berdosa dengan cara itu. Ya, dengan staminaku yang masih setengah itu, aku merasa tak begitu prima mengerjakan soal-soal yang ada. Keringat dingin. Lemas. Dan pula, selama dua hari itu aku tidak makan masakan rumahan. Aku sendiri begitu suka masakan Zane. Pedas, tapi tidak bikin sakit perut.

Cincin itu membuatku bingung. Ukurannya terlampau besar untuk seorang bayi. Kadarnya 70%, jumlah gramnya tidak jelas tertulis. Aku sendiri bingung, 70% itu berapa karat. Apakah 70% dikali 24 karat dengan hasil 16,8 karat? Iseng kucari di google dan hasilnya memang 17 karat. Kemudian aku penasaran, apa sih maksud "karat" itu? Apakah emas bisa karatan seperti besi? Tidak mungkin. Emas logam mulia, tidak akan karatan. 

Pengertian karat emas bukanlah lapisan merah (kekuning-kuningan) sebagai akibat proses kimia yang terjadi karena oksidasi logam dengan zat asam (oksigen) yg terdapat di udara atau yang dikenal dengan korosi. Karat adalah sistem pengukuran tingkat kemurnian emas. Kemurnian emas diukur berdasarkan jumlah persentase emas murni yang terkandung dalam suatu logam. Dan 24 karat adalah standar paling murni itu. Tetapi perhiasan tidak menggunakan standar 24 karat itu. Emas dikenal sebagai logam yang langka dan memiliki sifat unik. Warna nya yang berkilau juga dipersepsikan orang sebagai jaman dahulu sangat bernilai dan digunakan sebagai alat pertukaran. Mengacu kepada sifat uniknya, logam emas yang memiliki kadar kemurnian semakin tinggi akan semakin lunak logam nya. Oleh karena sifat logam yang terlalu lunak ini maka agak sulit bagi pengrajin untuk mempertahankan durabilitas barang tersebut ketika digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu emas harus dicampur oleh logam lain seperti perak, tembaga dan logam lain sehingga menghasilkan perhiasan emas yang memiliki durabilitas tinggi dalam aktivitas sehari-hari.

Gara-gara mendapatkan cincin ini, pengetahuan saya bertambah lagi, bukan?

Soal ukuran, saya curiga jangan-jangan cincin ini ditujukan untuk dipakai saat Hanna besar nanti. Saya sendiri pertama memberi cincin pada Zane saat saya sudah bertemu orang tuanya. Hanya berupa cincin perak, namun itulah kali pertama saya memberikan cincin untuk seorang perempuan. Mas kawinnya sendiri berupa cincin 5g, emas putih 22K. Saya beli itu dari rapel remunerasi saya.

Seharusnya tulisan ini disertai foto-foto ya? Tapi ini pakai komputer kantor. Menyusul saja lah. Beserta beberapa puisi yang sudah dituliskan di laptop.

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<