Skip to main content

Menyeduhmu, di Pukul Dua

1
“Octopus, sial!”


menyeduhmu di pukul dua membuatku ragu
membaca tanda-tanda dan jejak arah dari arus
yang kian bersilangan seperti wajah di bendera
yang lama tenggelam di dasar laut dengan detak
kerut bak mukamu yang kerap cemberut
menahan sakit yang akut

tetapi kita menikmati derita ini, bukan? mengingat
kenangan di pemanggangan, pesta barbeque
di sepanjang malam: gurita, udang, dan cumi, dan
yakinlah kita pada tanda yang samar, pada getah
yang damar – melukis jejak-jejak memar.

2
“ Expecto Patronum, Potter”

sapaanmu yang lalu adalah sebongkah cahaya
yang kurangkum dalam sebuah summary yang
kusimpan di laci sebelah kiri. kiri yang tak pernah
kau toleh, meski aku meleleh memohon-mohon kau
sambil menyeduh teh kita di pukul yang biasa – pukul dua,
denyut nadiku.

3
“avakadavra!”


mati maka matilah. kisah octopus di pukul dua
ternyata bukanlah fakta, kawan. ia adalah sekumpulan
ranting yang kusut seperti rambut yang tak pernah
kau gerai, bahkan, untuk sekedar mencari apakah
uban telah kau miliki. apakah ketuban (yang dulu
kau kubur di pekarangan) telah kau gali?

4
“grim, grimjow … “

tetapi hitam rambutmu adalah kita yang masih setia
di pukul dua, pukul dua yang sama dan pukul dua
yang berbeda.

(2009)

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

And The Moon And The Stars And The World, Charles Bukowski

Long walks at night--
that's what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.




Dan Bulan dan Bintang dan Dunia
karya Charles Bukowski

Perjalanan panjang di malam hari--
sungguh baik buat jiwa:
melongok melalui jendela
menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan
mencoba menyingkirkan
suami-suami yang mabuk dan gila