Skip to main content

Rendra Main Kelereng

#1

Rendra main kelereng, sampai maghrib. Pagi-pagi sekali
tadi dia ke sekolah membawa kelereng tiga butir. Warnanya
hitam semua seperti kain-kain yang dikenakan ibunya
di pemakaman yang ia tak tahu namanya.
Saat bel sekolah berbunyi satu kali itu tanda
Rendra akan main kelereng di halaman depan.
Ia gambar pohon beringin yang lebat buat mengurung
kelereng-kelerengnya yang jahat. Temannya protes
ingin menggambar segitiga atau segi-segi lain yang mereka
suka. Tapi Rendra melarangnya.
Rendra takut teman-temannya akan hilang
seperti kelereng-kelerengnya yang lain yang bukan
hitam warnanya.


#2

Saat bel dua kali, Rendra tahu ini saatnya ia main kelereng lagi.
Ia tidak takut ada ayahnya yang membawa kayu sabit
menyuruhnya pulang ke rumah untuk makan masakan ibu.
Rendra memilih puasa sambil main kelereng bersama teman-temannya
sepuasnya, sampai maghrib. Sampai ada bedug enam kali terdengar
di telinganya. Rendra sudah menang banyak, dihitung kelerengnya
ia selalu lupa setelah angka sembilan. Diulang-ulang hitungannya
makin pusing saja pikirannya. Rendra tahu, ia harus setia dengan kelereng hitamnya.
Dihitung kelerengnya yang hitam, masih sama berjumlah tiga butir.
Rendra pulang dengan kecewa, kelereng hitamnya tidak bertambah-tambah.

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

And The Moon And The Stars And The World, Charles Bukowski

Long walks at night--
that's what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.




Dan Bulan dan Bintang dan Dunia
karya Charles Bukowski

Perjalanan panjang di malam hari--
sungguh baik buat jiwa:
melongok melalui jendela
menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan
mencoba menyingkirkan
suami-suami yang mabuk dan gila