Skip to main content

Review Simbiosa Alina oleh Suryawan WP

tulisan ini dicopy paste dari http://suryawanwp.wordpress.com/2014/04/12/simbiosa-alina-review/
ditulis oleh Suryawan WP


Setahun ke belakang saya mulai membaca cerpen-cerpen yang dimuat di koran. Sungging Raga adalah salah satu penulis yang cerpennya sering muncul di koran-koran Minggu. Saya mengagumi tulisannya yang ajaib. Beberapa cerpennya bahkan sampai membekas di ingatan hingga waktu yang lama karena saking ajaibnya.
Bersama Pringadi Abdi, Sungging Raga menerbitkan kumpulan cerpen “Simbiosa Alina”. Judulnya merupakan penggabungan dua judul cerpen milik mereka berdua, “Simbiosa” dan “Alina”.

Ada dua puluh cerita pendek dalam buku ini. Untuk ukuran buku yang tidak terlalu tebal (192 halaman) ternyata tidak bisa saya baca langsung selesai. Butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya.

Dari kesepuluh cerita pendek Sungging Raga, favorit saya adalah Sebatang Pohon di Loftus Road, Pelukis dari St. Mary’s, Senja di Taman Ewood, dan Biografi Cartesia. Saya sudah membaca tiga di antaranya, namun ternyata membacanya kembali dalam bentuk buku memberikan suasana yang berbeda. Saya tidak bosan dan tetap terbius meski sudah tahu jalan ceritanya. Dalam buku ini, segala sesuatu bisa terjadi meski sama sekali tidak masuk akal, seperti wanita yang berubah menjadi pohon, ataupun kisah hantu terbang di sebuah stasiun.

Setiap orang memiliki selera masing-masing, termasuk untuk cerpen. Saya kurang suka dengan cerpen yang penulisnya ikut muncul dalam cerita karena itu membuyarkan imajinasi saya. Saya juga kurang suka dengan pelabelan kisah “paling” yang membuat pembaca seolah dipaksa menerima, seperti kalimat terakhir dalam cerpen Simbiosa “Barangkali, itu kisah cinta yang paling mengharukan”. Meskipun dalam cerita itu label “paling” tersebut diberikan oleh rembulan yang kesepian.

Paruh kedua dari buku ini berisi cerpen-cerpen milik Pringadi Abdi. Sembilan dari sepuluh cerpennya memiliki tema “kasih tak sampai”, ataupun “cinta tak harus memiliki” yang dialami anak muda. Saya suka dengan gaya bahasanya. Ada permainan kata dalam kalimat-kalimatnya. Beberapa kejutan yang cukup mencubit di tiap akhir cerita. Namun sepertinya formula tersebut terlalu sering dipakai sehingga kalau malas membaca tengah cerita akan langsung menuju bagian akhir saja. Banyak pengetahuan penulis seperti tentang rumus matematika, sejarah, dan ilmu biologi serta hal-hal yang dekat dengan kehidupan penulis yang diselipkan dalam cerita tapi sayangnya peletakannya kurang smooth sehingga hanya seperti tempelan saja.
Buku ini bisa menjadi hiburan dengan ceritanya yang segar, ringan, dan ajaib.

Comments

Popular posts from this blog

70 Kata-Kata Sok Bijak Mereka

1. Marah itu gampang. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ing…

KATAK BUNUH DIRI

“Katak-katak ini tidak perlu bunuh diri,” ujarku pada Randal Patisamba yang tengah memegang dua mayat katak. Aku tidak berani memegang satu pun dari mereka, apalagi dengan badan sudah acak-acakan begitu. Aku jadi membayangkan jika tubuhku yang terlindas kendaraan yang besarnya jutaan kali lipat, ya, katak-katak itu terlindas kendaraan yang melintas dari dan ke Labangka.
“Kau yakin kalau katak-katak ini bunuh diri?” Randal Patisamba meragukan ucapanku. Dahinya berkerut. Dia sudah seperti petugas otopsi yang menduga bahwa setiap mayat dengan luka memar, usus terburai, adalah buah kejahatan. “Empat ratus mayat katak dalam jarak lima kilometer itu tidak masuk akal. Artinya, setiap dua belas koma lima meter, ada satu mayat katak yang kita temukan,” tambah Randal sambil bersungut-sungut.
“Jadi, apa kamu ingin bilang kalau ada orang, psikopat yang tidak puas pada satu sesi pembedahan katak di pelajaran Biologi yang melakukan ini semua?” Dengan enggan kuingat sesi paling menjijikkan dalam sej…

Puisi Pringadi Abdi Surya, diterjemahkan oleh John H. McGlynn

The Last Rain in Memory

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
for leaves have only just begun to grow
after the curse of a century of drought
for my failure as a man to turn stones
into gold

an elderly alchemist named khidir
who disappeared into eternity
left a message for me:

even one drop of the bitter rain that fell that evening
is capable of becoming a new world

no one knows, I've even concealed my shadow
in that old and windowless house
and that I'm looking now for other shadows
cast by a woman with reddened lips

upon seeing her, the rain will lessen
and everyone will begin to affirm the feeling of pain

I will set aside this mist for you
until the time comes to meet
and the leaves that are styudying to write down names
don't come to know how your name is spelled

as death or as love

(2014)

John H. McGlynn adalah seorang penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika yang telah tinggal di Indonesia sejak 1976.Selain sebagai Ketua Lontar[10], ia jug…