Skip to main content

Tidakkah Homofictus Itu Engkau, Tuan?



Kesan Pembacaan Tangan Untuk Utik---Bamby Cahyadi
Tidakkah Homofictus Itu Engkau, Tuan?

#1
Penyair adalah pencuri. Penyair adalah pemburu. Begitu dua pernyataan yang begitu saya ingat dari kedua ‘guru’ saya, TS Pinang dan Hasan Aspahani. Penyair mencuri kejadian, mencuri fakta, bahkan mencuri frase dari lingkungannya. Dalam menuliskannya, penyair jua pemburu, yang mengincar sesuatu untuk ditembaki, bila perlu sampai mati. Tak jauh berbeda sebenarnya, seorang cerpenis pun seperti itu. Yang membedakannya adalah cerpenis memiliki ruang lebih untuk berburu. Ia jauh lebih tidak terpancing untuk terburu-buru. Ia bisa meneliti ruang terlebih dahulu, mengasah alat burunya hingga tajam, atau bahkan sengaja tidak ditajamkan, agar buruannya mati pelan-pelan, tersiksa pelan-pelan. Begitu pun Bamby Cahyadi. Ia adalah seorang pemburu, yang bisa saya katakan tenang. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik senyum manisnya itu, ia juga cukup kejam. Ia juga cukup berani dalam mengambil tindakan untuk mengeksekusi buruannya.

#2
Seseorang bertanya pada saya, apa sih yang membuat kamu terekstasi hingga menyukai sebuah cerpen? Pertama, dan yang utama, saya akan melihat homofictusnya. Homo fictus adalah ‘makhluk’ yang hidup di dalam fiksi, di dalam cerita. Ia bukan manusia. Ia bahkan melebihi manusia. Sebuah karya yang mampu mengekstasi saya adalah manakala homofictusnya tidak moderat, tidak tanggung, tidak ragu-ragu. Manakala ia baik, ia akan muncul sangat baik. Manakala ia jahat, ia akan tampil sangat jahat. Ia (homofictus) mampu membuat kita membayangkannya, atau lebih tepat ‘menghidupkannya, di dalam pikiran kita. Kita mampu membayangkannya dengan jelas, bukan hanya fisiknya tetapi juga sampai ke bathinnya.

Kedua, adalah konflik. Tentu saja, konflik juga dapat terbangun baik apabila homofictus tadi sudah hidup terlebih dahulu. Kemudian, akan lahir emosi dan gejolak yang dimainkan di dalam cerita. Membuat pembaca tidak sekadar merasa, tetapi juga berpikir, dan larut di dalam cerita.

Sementara unsur-unsur lainnya seperti latar dan alur, bagi saya, adalah sesuatu yang terbangun otomatis apabila kedua unsur sebelumnya sudah mampu diciptakan.

#3
Memandang Bamby Cahyadi dan ceritanya, terkait unsur homofictus dan konflik, membuat saya berpikir tentang kredo yang ia miliki. Apa yang menjadi dasar ketertarikan atau prinsip seorang Bamby Cahyadi sehingga ia menuliskan cerita-cerita ini?

Saya langsung tercengang dengan cerpen pertama yang ia sajikan. Ini seperti sebuah menu makanan yang diberi nama sederhana, terhidang sederhana, tetapi begitu kita makan pelan-pelan, kita akan menemukan berbagai kelezatan dan sensasi khusus di akhirnya. Homofictusnya, seperti yang saya katakan tadi, adalah seseorang yang tercitra sangat baik sekali. Ini bukan saja menciptakan citra di tokoh-tokoh lain di sekitarnya, tetapi saya jamin juga di pikiran pembaca. Tetapi begitu ‘jahat’nya Bamby ini, ketika dia mematahkan prasangka semua orang. Ia membunuh sang tokoh utama dengan tidak segan-segan. Memang, ada ruang yang tercipta dari bantingan pencitraan itu. Tetapi di situlah kekuatan cerpen ini, ruang tersebut mempersilahkan pembaca masuk untuk menjadi penulis juga. Mereka-reka sebenarnya apa sih latar belakang sehingga Bamby Cahyadi dengan begitu tega membunuh sang Karyawan Tua tersebut? Kita diberi kebebasan. Kita diuji kekreatifan. Tidakkah karya yang baik ditulis oleh penulis dan pembacanya sekaligus?

Berlanjut ke cerpen kedua, judulnya sudah sangat mengekstasi saya: Tuhan, Jangan Rusak Televisi Ibuku. Cerita ini pun dibangun dengan baik sebenarnya. Pembaca bertanya-tanya. Pembaca juga menebak-nebak. Tetapi sayangnya, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Cerpen ini yang menurut saya tadinya bernafas surealis, menjadi cerita fantasi biasa yang klise, dan tidak terjaga energinya.

Saya hampir saja kecewa setelah membaca cerpen kedua, dan hampir kehilangan semangat untuk membaca lebih jauh. Apakah Bamby Cahyadi cuma sebatas ini? Apakah Bamby Cahyadi tidak menawarkan yang lebih? Saya buka ragu-ragu halaman selanjutnya. Saya baca pelan-pelan judulnya, O, Bendera Itu Tidak Berkibar di Sini…

Begini, bayangkan Anda bangun tidur, dan berada di atas kasur dalam keadaan baik-baik saja. Lalu Anda pergi ke kamar mandi, dan becermin, Anda berubah kelamin? Atau saat Anda keluar kamar, Anda menjadi anak orang lain? Atau Anda keluar rumah, Anda sudah berada di galaksi yang bukan bima sakti? Cerita ini pun seperti itu, Anda kehilangan Indonesia. Anda kehilangan Negara Anda. Apa yang akan Anda rasakan? Tentu jika Anda memiliki nasionalisme yang tinggi, Anda akan sangat geram dan terkestasi. Pun kalau Anda tidak memiliki nasionalisme, Anda akan memiliki pertanyaan tentang kenasionalismean Anda setelah membaca cerpen ini.

Cerpen selanjutnya yang menjadi judul buku ini, Tangan Untuk Utik, sebenarnya membuat saya ragu dan tidak berharap banyak akan seperti apa cerita ini. Homofictus dan konflik seperti apa yang ditawarkan oleh Bamby. Dan saya akhirnya sependapat tentang peletakan judul cerpen ini sebagai judul buku. Bukan karena ia yang terbaik, tetapi karena di dalamnya kredo itu bermain. Di dalamnya lah saya melihat seorang Bamby Cahyadi yang menjelma ‘Aku-Narasi’. Saya melihat sebuah kerinduan besar dari seorang Bamby tentang bagaimana ia bersedia mengorbankan apapun yang ia miliki agar sebuah harapan lain itu bisa terwujud. Saya juga melihat karakter Bamby yang pasti sering memperhatikan keadaan di sekitarnya lewat kacamatanya itu. Kacamata yang seakan membuat hati tertegun, kemudian mengupas sesuatu dari sisi psikologis---latarbelakanng tokoh yang ingin ia ceritakan.

#4
Masih ada sepuluh cerpen lain yang Bamby tawarkan di sini. Tentu tidak bijak apabila saya menceritakan pandangan saya terhadap kesemua cerpen itu. Secara khusus, saya simpulkan, cerpen-cerpen Bamby tidak dibangun dari sebuah keadaan yang mustahil. Keadaan-keadaan itu ada. Keadaan-keadaan itu nyata. Ia (atau mereka) memang hadir di tengah-tengah kita. Namun, kerap luput.

Bamby mengubah itu. Ia mengubah hal-hal yang tampak biasa dan berusaha menguak sisi-sisi yang tak nampak di baliknya. Seseoran mungkin saja kita anggap humoris, selalu menawarkan senyum setiap saat, tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ia simpan di hatinya. Bamby juga berusaha mengubah benda-benda. Benda-benda yang tak sadar kerap kita jadikan ‘tuhan’. Bamby membuka ruang renung dari benda-benda yang ia sajikan. Kemudian dengan benda itu, ia memanusiakan kita sebagai pembaca.

Pada akhirnya, saya berharap Bamby akan terus berkarya, dan pasti ia akan terus berkarya. Karena yang saya lihat adalah Bamby memiliki kredo yang tak ada puncaknya. Kredo Bamby adalah jalan panjang yang berliku, dimana ia berada di jalan itu. Ia melihat, ia mendengar, ia merasakan, dan ia menuahkan semua hasil indranya ke dalam tulisan dengan kebijaksanaan pribadinya, sekaligus ketegaan emosinya yang kadang-kadang mencuat di batas kesadaran.

Saya percaya, Bamby akan menjadi sejarah, setidaknya bagi kita yang sudah membaca karya-karyanya.

Pringadi Abdi Surya
Cerpenis dan Penyair. Kelahiran Palembang, 18 Agustus 1988. Buku Kumpulan Puisinya, ALUSI.

Comments

Sidik Nugroho said…
aku terganjal dengan penggunaan kata "saya" yang terlalu banyak digunakan di sekujur esai. kesannya ini catatan pribadi, ini seperti bukan esai yang ditujukan untuk orang lain.

selain itu, penomoran #1 dst kurasa tidak perlu, cukup dengan menggunakan jeda paragraf saja.

nah, secara keseluruhan, esai ini kunilai dibuat dengan menggunakan diksi yang selektif dan berbobot; mas pring tentunya menggarap dengan konsentrasi tinggi dan telah menumpahkan segenap kemampuan berbahasa.

penyair seperti mas pring dengan referensi kosakata yang bervariasi biasanya prigel bila menulis cerpen atau esai yang mengeksplorasi keindahan bahasa; bukan jenis cerpen/esai yang berfokus pada kekuatan naratif, ketertaaan alur, atau penokohan yang mantap. nah, terutama pilihan duka kata yang menyatu itu: homo-fictus, apik sekali!

salam,
sidik

Popular posts from this blog

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<

Pantai Leppu di Labangka