Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari November, 2009

Jorge Luis Borges

We are the time. We are the famous
by Jorge Luis Borges

We are the time. We are the famous
metaphor from Heraclitus the Obscure.

We are the water, not the hard diamond,
the one that is lost, not the one that stands still.

We are the river and we are that greek
that looks himself into the river. His reflection
changes into the waters of the changing mirror,
into the crystal that changes like the fire.

We are the vain predetermined river,
in his travel to his sea.

The shadows have surrounded him.
Everything said goodbye to us, everything goes away.

Memory does not stamp his own coin.

However, there is something that stays
however, there is something that bemoans.



The Art Of Poetry
by Jorge Luis Borges

To gaze at a river made of time and water
And remember Time is another river.
To know we stray like a river
and our faces vanish like water.

To feel that waking is another dream
that dreams of not dreaming and that the death
we fear in our bones is the death
that every night we call a dream.

To see in every day an…

Aku Bayangkan Ampera Itu Terbelah Dua Persis Ambacang Yang Kau Cinta

#1
Mungkin sebab pondasi, bayanganku itu tak terjadi
atau jumlah lantai kami yang cuma sebilah panjang
lalu memanjang seperti bayang-bayang

menyambungkan seberang ulu dan ilir.

Tapi mungkin nanti, akan dibangun hotel di ampera itu
enam lantai dengan lima bintang yang menjulang
dan ku memanggilmu dari ketinggian, meneriakkan
sebuah dukungan untuk kiamatkan saja dunia
biar tak ada lagi cicak yang tertindas saat sedang merayap
mengendap dengan tiada derap.

Tapi derap sore itu, yang kau dengar adalah nyanyian kematian
atau sebuah sangkakala kecil yang ditupkan kunang-kunang.

#2
Amperaku ini adalah sebuah amanat penderitaan
seperti pesan yang masih sempat terkirim
oleh korban di reruntuhan itu

tapi kunang-kunang malam itu, saat kita bermain di pematang
adalah kuku dari nyawa-nyawa yang terbang
dan memantik kerinduan


#3
Suatu malam, aku bayangkan
ampera itu terbelah dua
aku yang sedang duduk memandang kapal ketek, rumah rakit,
dan sepasang ibu yang menyuci baju di air yang parit,
tiba-tiba terhenyak
seolah ada dua …

Kiri, Bang!

kiri, bang. kiri, bang. aku sudah mau turun nih
sudah teriak-teriak begini masa' abang ga dengar sih?

apa telinga abang tuli, seperti pemerintah negeri ini
yang pura-puranya sutradara paling canggih?

tapi lucu ya, bang, seperti komedi saja---opera van java
yang suka main pukul, tapi cuma pura-pura?

*

kiri, bang. kiri, bang. kenapa abang ga mau berhenti
apa karena aku begitu rapi seperti selebriti?

tapi nggak mau ah, bang, kerjaannya kawin-cerai melulu
bolak-balik ke pengadilan buat bikin sensasi yang nggak mutu

aku sih cocoknya jadi pengusaha, bang---eksekutif muda
kemana-mana naik mobil mewah, dikelilingi para wanita?

*

kiri, bang. kiri, bang. lihat nih sudah jam berapa
sudah kelewat jauh, aku jadi telambat, tau?

aduh, aku jadi malu begini, teriak-teriak dari tadi
jadi mirip mahasiswa yang suka demonstrasi

mana ada cewek lagi, yang dari tadi behaha-hihi
....................ih, benar-benar bikin keki

*

kiri, bang! kiri, bang! aku sudah tak sabar saja
sudah ingin memanggil pengacaraku yang sepuluh itu

bi…

Bakal Calon Penyair Paling Kreatif di Dunia

---diam, dan perhatikan!
tidakkah kau merasakan
ada sesuatu yang ia sembunyikan
dan tersimpan

di balik matanya yang misteri?

Distikon: Falling In Love

---sebuah dimensi pembacaan lain dari lagu J-Rock, Falling In Love

bagaimana membaca lagu ini, jirok atau jorok?

*

tapi kita malah ingat dengan gadis yang memakai rok
yang membuat kita jatuh hati. roknya seperti puisi

yang terhidang pagi-pagi bersama sepiring nasi,
segelas kopi, dan selintasan berita tentang konspirasi

kita mulai bertanya-tanya apa yang tersembunyi
di balik roknya yang makin hari makin mini

mungkin ada hutan lebat yang tiba-tiba gundul
seperti pemerintahan kita yang makin amburadul

*

aih, aku tak bisa berhenti memikirkanmu, memikirkan
rok minimu yang beberapa centi di atas lutut itu

tapi ada ketakutan jika aku coba-coba mengintipmu
takut ketahuan lalu dihukum tiga bulan kurungan

padahal aku tidak korupsi, tidak mencuri, membunuh,
apalagi meminta kakao di kebunmu dengan sesukaku

*

aku jatuh cinta, sejak pertama berjumpa
entah senyummu, entah rok minimu tadi itu

sampai kemudian kutemukan rok minimu hanyut
bersama banjir bandang yang gemar bertandang

aih, aku jadi memikirkanmu. memikirkan perj…

Ketika Tiba-Tiba Aku Menjadi Adrian Martadinata Sore Itu

Tiba-tiba aku berada di MTV AMPUH. bukan menguji keris
sakti buatan para empu. bukan duduk bersimpuh lantas
membaca mantra-mantra keluh. bukan. bukan itu.

aku membawa gitar yang lekuknya persis tubuhmu dengan
lima senar yang sama jumlahnya dengan sila-sila yang kita
hafal sejak dulu.

Adrian, bernyanyilah. Entah itu Marissa atau siapa, pastinya
dadanya mengingatkanku pada utang negeri ini yang makin
membengkak. pada cicilan bunganya yang makin menunggak.

Intro C 2X

baru intro, matanya sudah menganggap aku maestro.

C F

ajari aku untuk bisa melipat kertas ini menjadi pesawat mini.
dari dulu sekali aku selalu gagal, pesawatku selalu kandas
dengan korban-korban yang meninggal.

G C

supaya aku bisa menjadi yang engkau cinta. lalu terbang
ke eropa. menaiki menara pissa. lalu ke eiffel, tempat kita
membuang hajat tanpa pernah takut dikena hujat.

Am F C

tapi ini negara yang pemerintahnya tak punya rasa.
tak pernah sadar bahwa masyarakatnya sudah pintar
semua. malah dibikinnya melodrama yang dianggapnya
luar biasa h…

Rendra Main Kelereng

#1

Rendra main kelereng, sampai maghrib. Pagi-pagi sekali
tadi dia ke sekolah membawa kelereng tiga butir. Warnanya
hitam semua seperti kain-kain yang dikenakan ibunya
di pemakaman yang ia tak tahu namanya.
Saat bel sekolah berbunyi satu kali itu tanda
Rendra akan main kelereng di halaman depan.
Ia gambar pohon beringin yang lebat buat mengurung
kelereng-kelerengnya yang jahat. Temannya protes
ingin menggambar segitiga atau segi-segi lain yang mereka
suka. Tapi Rendra melarangnya.
Rendra takut teman-temannya akan hilang
seperti kelereng-kelerengnya yang lain yang bukan
hitam warnanya.


#2

Saat bel dua kali, Rendra tahu ini saatnya ia main kelereng lagi.
Ia tidak takut ada ayahnya yang membawa kayu sabit
menyuruhnya pulang ke rumah untuk makan masakan ibu.
Rendra memilih puasa sambil main kelereng bersama teman-temannya
sepuasnya, sampai maghrib. Sampai ada bedug enam kali terdengar
di telinganya. Rendra sudah menang banyak, dihitung kelerengnya
ia selalu lupa setelah angka sembilan. Diulang-ulang hitunga…

Main Petak Umpet

Kalah suit, aku yakin mereka sekiwit. Aku tak tahu
kenapa aku selalu memilih gunting. Bukan batu bukan
kertas. Aku terpaksa berjaga, menghitung sampai lima.
Tapi bilamana mereka minta tambah, aku pun menghitung
sampai lima puluh lima. Kalau sudah, tinggal aku bertingkah
peramal. Tukang prediksi. Mencari di mana mereka bersembunyi.
Bak truk yang terbuka, atap rumah, atau lubang sampah,
aku terbiasa bersembunyi di situ kalau mereka yang jaga.
Tapi kulihat-lihat tetap tak ada.

Aku ingin menangis, Ibu. Tapi ibu bilang cuma perempuan
yang boleh menangis. Seperti kadang kulihat ayah pulang
membawa kemarahan yang panjang. Teriakan yang
panjang. Sampai kemudian ibu memelukku dengan air
mata berlinang.

Lima puluh lima menit lebih aku mencari, aku bosan sendiri.
Aku tak peduli. Terus pulang ke rumah, mencari ibu. Di ruang
tamu, di dapur, di kasur atau di kamar mandi tempat aku
biasa berkumur pagi-pagi. Ibu juga tak ada.

Sepertinya sedang menantangku main petak umpet juga.

Anafora: Aku Ingin

Aku ingin menjadi sunyi yang menyelinap di balik bola matamu
Aku ingin menjadi nada yang kau dengar dari speaker-phonemu
Aku ingin menjadi tuts-tuts keyboard yang bersentuhan dengan jemarimu
Aku ingin menjadi bahasa bagi bibirmu
Aku ingin menjadi kupu-kupu di atas jendela rumahmu
Aku ingin menjadi ragu yang terus bergerak di benakmu
Aku ingin menjadi udara yang menghidupi nafasmu
Aku ingin menjadi mendung yang kemudian menghujanimu
Aku ingin menjadi korek api dalam tubuhmu
Aku ingin menjadi diary bagi kehidupanmu
Aku ingin menjadi mimpi yang diam-diam datang di tidurmu
Aku ingin menjadi cita-cita di masa depanmu

Aku Ingin
Ingin
Kau

Kau?

Tentang Seorang Yang Terbunuh Disekitar Hari Pemilihan Umum

oleh: Goenawan Muhammad

“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku”

Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan mayatnya
di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan hangat padi.

Tapi bau sing itu dan dingin pipinya jadi aneh, di bawah bulan.
Dan kemudian mereka pun berdatangan - senter, suluh dan
kunang-kunang - tapi tak seorang pun mengenalnya. Ia bukan orang sini, hansip itu berkata.

“Berikan suara-Mu”

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih.
Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik.
Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak
bertandagambar. Ia tak ada yang menagisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya ?

“Juru peta yang Agung, dimanakah tanah airku ?”

Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman
pertama. Ada seorang menangis entah mengapa. Ada seorang
yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang letih
dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan angin
kemudian.…

Aku Ingin

oleh: Sapardi Djoko Darmono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Lomba Cipta Puisi Religius

Batas akhir: 14 Desember 2009

Dewan Ekskutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto menyelenggarakan lomba cipta puisi religius. Tercantum dalam jajaran dewan juri ialah Evi Idawati, Abdul Wachid B.S., Heru Kurniawan, dan Kuswaidi Syafi’ie.
Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia

Diselenggarakan Oleh Dewan Ekskutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto

TEMA “Puisi Religius”

KETENTUAN UMUM

Melampirkan copy Kartu Mahasiswa yang masih berlaku;

Puisi diketik dengan hurup time new roman size 12, di antara baris spasi 1, di antara bait spasi direnggangkan ;

Puisi yang diikutkan lomba adalah karya yang belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun;

Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 5 judul puisi dari karya terbaiknya;

Melampirkan biografi singkat maksimal 1 halaman;

Semua hal tersebut diemailkan ke obsesipress@gmail.com ;

Batas terakhir penerimaan naskah 14 Desember 2009.

PENGUMUMAN NOMINATOR DAN PEMENANG PUISI: 1 Jan…

Pahlawan Tak Dikenal

Pahlawan Tak Dikenal
oleh: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

Lomba Karya Tulis dalam Rangka Hari Pahlawan 2009

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November 2009 Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Yogyakarta Mengadakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Dengan Tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan Dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa”.

A. KETENTUAN LOMBA
1. Karya tulis harus asli, bukan kutipan, terjemahan atau saduran dari tulisan orang lain, dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba karya tulis manapun, serta belum pernah dipublikasikan.
2. Karya tulis disusun dengan menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dalam bentuk ilmiah populer, dan harus mengacu salah satu judul yang telah ditetapkan panitia.
3. Karya tulis diketik dengan jarak 2 (dua) spasi menggunakan kertas HVS ukuran kuarto sebanyak 15-20 halaman tidak timbal balik (tidak termasuk lampiran, daftar isi, dan foto).
4. Karya tulis yang jumlah halamannya kurang atau melebihi dari ketentuan tersebut tidak akan dinilai oleh dewan juri.
5. Lomba bersifat karya ind…

Daftar Isi dari Buku Puisi Penyair Muda yang sedang Naik Daun

Hal. 1

Pikirnya buntu, seperti habis kena flu---mungkin hujan, mungkin
tarian, dan sepasang sayap patah mengingatkannya pada alergi
yang dulu lupa dicek ke dokter yang hobinya pake baju abu-abu
itu.

Hal. 2

Padahal hari ini dia sudah ada janji, buat naik daun bersama
teman-temannya yang lucu---mengenakan sepasang sepatu
dengan motif peluru atau bom yang bentuknya dibikin imut
mirip boneka barby yang cenderung laku di pasaran.

Hal. 3

Mengecek kopernya: baju, celana, kutang atau beha,
lengkap sudah (parfumnya pun tak ketinggalan), tapi sepertinya
ada yang kurang di benaknya, sebuah remote televisi yang kerap
ia tonton di setiap minggu: seperti gereja-gereja yang rutin
ia tunggu.

Hal. 4

Ah, minggu yang lalu ia ke pasar saham, mengecek indeks harga
sebuah nyawa.

Hal. 5

Sebelum pergi, ia menonton tivi dan menyaksikan Noordin M Top
tertembak mati.

Hal. 6

Ia jadi geli sendiri, menyaksikan namanya diakui.

Hal. 7

Akhirnya ia memutuskan untuk menyamar menjadi penyair
dengan mengirimkan kesepuluh sajaknya ke koran ib…

Pita Hitam di Lengan Kiriku

mari kita kenakan
pita hitam di lengan kanan
tanda duka cita
sebuah kematian
dari lagu masa kanak-kanak
tentang cicak-cicak di dinding
yang diam-diam merayap

aduh, tapi kau
bersikeras tak mau
mengenakan pita hitam
di lengan kanan

bagaimana kalau di kiri saja?

katamu sambil memainkan lagu baru
semi-melayu
yang nadanya mendayu-dayu
persis kesedihan

tapi ini rayuan (katamu)
supaya aku tak memakai pita hitam
di lengan kanan

sebab kanan selalu saja penuh kepura-puraan
dalam hal kebaikan

makan tangan kanan
memberi tangan kanan

korupsi tangan kanan juga kah?

tanyamu sok retorika

tapi akhirnya aku mengalah saja
takut kalau saja aku korupsi
pakai tangan kananku

oke lah
besok mari kita kenakan
pita hitam di lengan kiri

Ke Mana Rekanmu, Wahai Kakek Tua Penanam Benih?

: sapardi djoko

panggung itu sudah tinggal kau, menoleh ke kanan
atau menunduk seperti mencari sebuah kerinduan

kami terdesak dan berebut, mungkin ada sebait
di kolammu yang hijau, benih-benih rasa sakit

seperti hujan di bulan juni, dan kemarau-kemarau
lain di balik teriak dan suara-suara yang memarau

o, wahai kakek tua penanam benih, bolehlah kami
ikut mencari barang sehelai dua helai uban putihmu

lewat lampu sorot, dan sebuah kursi kosong yang
seperti menunggu, seperti menunggu kedatangan

jarum jam yang menyilang di atas pangkuanmu?

(2009)

Ketika Teleponku Tak Kunjung Kau Angkat

1
aku menebak-nebak
dalam sembilan ketukan panjang
ada irama di sana
seperti bunyi piano
yang kaumainkan dulu
dengan merdu
dengan jemarimu
yang masih
genap sepuluh

2
aku berharap kali ini suara lelaki
bukan suara perempuan pemberi kabar
bahwa nomor yang kutuju
mungkin sedang sibuk
mungkin sedang menghitung bintang
yang semakin menghilang dari pandangan
tetapi tidak cintaku
yang masih kutaruh
di atas meja judi
aku pasang sepuluh
semuanya
tanpa ragu
tanpa takut
mungkin saja ada suara lelaki
yang menghardikku
untuk tidak lagi meneleponmu

3
aku masih menebak-nebak
dalam sembilan ketukan panjang yang lain
mungkin kau sedang berbaring di atas tempat tidur
memikirkan kenapa tanganku terus terulur
menunggu kau
menyambutnya
mungkin juga kau sedang di hadapan segelas kopi
yang sudah berjam-jam kau pandang
dan dingin

4
aku masih saja menebak-nebak
setelah berapa menit saja aku menatap namamu
dalam daftar kontakku yang sedikit

tapi mungkin kau
sudah tak lagi mau
mengangkat teleponku itu

(2009)