Skip to main content

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono



Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil
Berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun
Rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil
Menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
Memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
Menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di
Lorong sepi pada suatu pagi.


Pada Suatu Hari Nanti

pada suatu hari nanti
jasadku takakan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetapa kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari



Di Restoran

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
Ilalang panjang dan bunga rumput -
Kau entah memesan apa. Aku memesan
Batu di tengah sungai terjal yang deras -
Kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
Saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
Yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
Memesan rasa lapar yang asing itu.


Dalam Sakit

waktu lonceng berbunyi
percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
kau berbisik: siapa lagi akan tiba
siapa lagi menjemputmu berangkat berduka
di ruangan ini kita gaib dalam gema. Di luar malam hari
mengendap, kekal dalam rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi


Dalam Diriku

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma.
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya


Akulah Si Telaga

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
yang menggerakkan bunga-bunga padma
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya,
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja perahumu
biar aku yang menjaganya


Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Comments



Bagi anda pecinta togel yg sering kalah bermain togel ane punya solusinya,,,,,!!!
karna dulu saya sering kalah bermain togel tapi setelah saya
hub AKI BAYU REKSO minta bantuan beliu alhamdu lillah saya bisa menang,"6356"
tapi kalau anda mau di bantu sama KI BAYU REKSO anda harus tau presyaratannya.
jangan cuma mua minta atau di bantu tapi, tidak mau melaksanakan syaratnya dulu
dari pada anda otak atik angka atau prediksi anda yg belum tentu tembus atau jebol
kalau tidak percaya coba saja karna saya sudah buktikan sendiri,
beliu tidak pernah mengobral janji-janji manis, tapi faktalah yg berbicara
silahkan anda gabung jadi member KI BAYU REKSO
Langsung saja lihat gubuk beliu Di http://ramalantotosgphk.blogspot.com
>>KLIK PREDIKSI ANGKA 4D DI SINI<<
Untuk sukses dalam bermain togel kuncinya adalah anda harus yakin dan percaya
ini adalah pegakuan tulus dari saya prediksi KI BAYU REKSO memang paling akurat,
Di jamin 90% karna di atas masih ada TUHAN TERIMA KASIH, ROOM NYA, salam jp,,
LarikSyair said…
Saya juga suka dengan karya Pak Guru Sapardi :)

Popular posts from this blog

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<

Pantai Leppu di Labangka