Skip to main content

Dua Puisi di buku AMARAH, GPU, 31 Januari 2013


SINOPSIS


12 cerpen dari 12 cerpenis.
39 puisi dari 31 penyair.
Mereka masih muda dan mungkin bukan siapa-siapa dalam dunia sastra. Tetapi karya-karya mereka tak kalah mengagumkan dibandingkan para penyair dan cerpenis yang telah menjadi seseorang. “Amarah” mereka layaknya bom waktu yang meledak melahirkan puing kata-kata—puisi dan cerpen.
Amarah yang berkobar-kobar itu ditujukan kepada cinta yang tanpa restu, dogma yang meruntuhkan kemanusiaan dan mengubahnya menjadi manusia robot, kekerasan negara (dan kematian yang sia-sia), perusak kedamaian, isu SARA yang dipolitisasi, dan berujung pada pertanyaan kepada Tuhan.
Dalam buku ini, “Amarah” mereka menyaru dalam keindahan. Terus berproses dan berdialog untuk membebaskan amarah mereka (atau mungkin kita?).

Antologi AMARAH LEMBAGA BHINNEKA sudah bisa dipesan lewat Gramedia store (online) dan akan diterbitkan (didistribusikan) tanggal 31 Januari 2013 dengan harga Rp.45.000,-.



http://www.gramedia.com/book/page/author/Lembaga_Bhinneka


PUISI: 
Pada Nasib Kita Semua (Thoni Mukharrom)
Satire (Lauh Sutan Kusnandar)
Abad Penuh Laknat ( Joshua Igho)
Parodi Merah Putih ( AD Rusmianto)
Orkestra Kaligrafi (Manusia Perahu, Sudianto)
Sajak Mangga Muda ( Auliya Putri Larasingtyas)
Meme ( Elyda K. Rara)
Yang Merias Wajah di Kota Kami ( Fina Lanah Diana)
Luka Huluan Luka Si-Kulup (Malam Gerimis
Miris Sendiri ( Roby Saputra El Kuray)
Sore di Sana Tak Ada Lagi yang Mau Ditanak ( AB. Malik Anau)
Doa Seorang Hamba yang Senantiasa Melihat Sepi di Jiwa Terbening ( Arther Panther Oilii)
Bait-Bait Puisi yang Kutulis dan Kubaca Berulang Kali ( Arther Panther Olii)
Tuhan Manusia (Angga Aryo Wiwaha)
Izinkan Aku Mencium Ibuku Sebelum Pagi (Angga Aryo Wiwaha)
Sajak Untuk Kenangan ( Pringadi Abdi Surya)
Ujung Musim Kemarau ( Pringadi Abdi Surya)

Trah ( Lina Kelana)
Kepada yang Terhormat (A.Barud N.A)
Luka (Joshua Igho)
Sajak Seorang Anak Pelacur (De Baron Martha)
Sajak Untuk Han:Requiem Negeri Bhinneka(A.Ganjar Sudibyo)
Tuan Bukan Tuhan (Dwi Pratiwi)
Tuhan itu Berwarna Hitam (Bayu Gautama)
Domain Mendung (Manusia Perahu)
Lihatlah Luka di Daiku, Dinda (Lasinta Ari Nendra Wibawa)
Sekelumit Debat;Saya dan Negara (Lalu Arman Rozika)
Mati Dalam Ketakutan (Aqsha Al Akbar)
Laknat (Hamdani Chamsyah)
Dua Wajah (Ilham Jatioko)
Memoriabilia Orang Pinggiran (Ganz Pecandukata)
Butir Rosario yang Harus Kupetik Tanpa Hembus Nafasmu (Majenis Panggar Besi)
Dilema (Yudi Gunawan)
Binar Nista (Ila Rizky Nidiana)
Debuman Batu dan Reruntuhan Mata (Ahmad Moehdor al-Farisi/Cak Ndor)

CERPEN:
Perjamuan Terindah Sepanjang Masa
Iblis
Benalu
Pelangi Biru untuk Mona
Padang Gersang
Garuda Bisu itu Menangis
Laksana Pelangi
Aku dan Bara
Sebelas Indra Rahasia
Tawaba

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<