Skip to main content

Keputusan Dewan Juri Lomba Puisi Ibu

PEMENANG



M Aan Mansyur
Mencatat Ibu Buat Ayah


1.
jika dia dengar buah-buah mangga
di belakang rumah berjatuhan.
dia selalu bertanya kepada engkau

“apakah mereka sudah matang
atau tak betah bertahan di dahan?”

tapi tubuhmu sudah bertahun-tahun
memilih diam dalam selembar foto,
tubuhmu yang tak punya bayangan.
sebab tubuhmu yang hidup pergi
menjelajah tempat-tempat tanpa alamat.

tetapi dia tetap tersenyum dan yakin
engkau semakin jauh masuk ke dalam
jiwanya yang dipenuhi mata air.

dia tabah seperti perigi.



2.

dia akhirnya membeli telepon genggam
meskipun tidak tahu berapa nomormu

dari balik kamar selalu aku dengar
dia meminta kepadamu dengan
bibir gemetar

“suamiku, dekatkan sedikit bibirmu
ke telepon. lebih dekat. lebih dekat...”

3.

aku pikir di bulan-bulan ini hujan
semata air yang bergerak vertikal
ke bawah dan ke atas bergantian

mengubah halaman dan jalan-jalan
menjadi laut yang compang-camping
tidak ada pelayaran mampu sampai

tetapi dia tidak pernah berpaling
dari keyakinannya tentang hujan:
cahaya basah, matanya dan matamu
yang berair. matamu yang di hulu
matanya yang di hilir.



4.

setiap pagi dia selalu membangunkan aku
dan menceritakan mimpinya yang sama

lautan ditumbuhi bintang-bintang
dan engkau datang mengajaknya memancing
ikan berdua di langit yang baru dan lapang.

5.

sebelum berangkat tidur aku selalu menatap
matanya, bertanya tanpa berucap.

dan dia tahu jawaban untuk pertanyaan
yang berulang-ulang aku lontarkan itu

“setia adalah pekerjaan yang baik, nak!
berangkatlah…”

6.

aku menemaninya ke pantai
dia berbaring di pasir seperti kerang
yang terdampar. tubuhnya terbuka
dan angin mencium sebiji mutiara
dari dadanya yang berkilau-kilau.

katanya engkau seorang penyelam
mampu bertahan di palung-palung dalam

itulah kenapa dia selalu datang ke pantai
menunggu kapan engkau datang menghirup
bekal menyelami hidup dari jantungnya

7.

dia memasak selalu dengan rambut
wangi yang tersisir dan terikat rapi
dia selalu ingat suatu malam sebulan
sebelum aku lahir, engkau tumpahkan
sayur dan kemarahan karena menemukan
sehelai rambut terselip di daun kemangi.

dia menyajikan makanan mengenakan
senyum dan pakaian berbunga-bunga.
setiap hari. seolah engkau akan datang
membawa dirimu yang kelaparan.

dia berdoa lalu makan pelan sambil bicara
soal cuaca dan sesekali melirik ke televisi.
dia selalu mengkhawatirkan kesehatan
dan keselamatanmu.

8.

dia suka duduk di muka cermin membunuh
wajah sendiri dengan nafas yang basah
kemudian menghapusnya dengan tangan,
menggantinya dengan wajah yang lebih cantik.

aku sering berdiri di belakangnya
sehingga dia menemukan wajahku
di hadapannya sedih dan berair

dia akan berbalik, tersenyum dan berkata:
menangis adalah upaya untuk tertawa lebih lepas.
sudah, menangislah!

9.

dia melingkari setiap angka di kalender
seperti mengikat mereka agar tak tanggal
dan di akhir tahun dia menghitungnya
sebagai kekayaan. begitu caranya dia
mengajari aku menabung.

tunggulah, katanya, akan tiba waktunya
buat dicairkan dan kita berpesta sekeluarga.

10.

dia terus bernyanyi untuk menidurkan
mata dan nadinya—dan di dalam mimpi
aku menyaksikan malaikat-malaikat riang
terbang dan hinggap dari nada ke nada.

aku selalu tidur mengenakan senyum
karena mengetahui dia selalu jatuh cinta
kepada engkau.



11.

di senja saat mendengar kabar engkau mati
sepasang matanya tak berkobar bagai neraka
sebab mata, katanya, surga bagi kesedihan

sementara kesedihan adalah kebahagiaan
yang lembut dan lembab

ibu selalu meletakkan engkau
di surga itu, ayah!






10 PUISI NOMINE


Nyoman Sukaya Sukawati
Penari Tua: Gambar Ni Polok Di Museum Le Mayeur


Selain kepada langit untuk siapa pula hatimu menari
Apakah untuk kami agar kami bisa menandai batas samudera
Sebagaimana kami kenang tarianmu seperti derai ombak yang susut ke dalam raga
Betapa pun sunyi tapi itu mengingatkan kepada cintamu
Bukan soal berharga atau tidak, tapi kami jadi paham betapa tubuh inilah tarian semesta itu
Selain untuk para dewa kepada siapa pula tarianmu kau persembahkan
Mungkin untuk samudera atau bahkan bagi kesunyian di batas terjauh pantai ini

Atau ini hanya pengisi waktu senggangmu hingga laki-laki asing itu
Memiliki dan melukis tubuhmu setelanjang imajinasi dan seredup cahaya pagi
Di saat mana kau menari seperti camar yang terbang rendah menembus kabut
Serupa lintasan cahaya di lidah ombak yang lalu memenuhi pikiran tentang kesemestaan cinta
Sebelum ia menghilang begitu cepat terseret ke arus dalam

Tapi di matamu cahaya itu tetap menggenang sebening hati seorang ibu
Yang memimpikan kekasih dan anak-anaknya lahir dari rahimnya
Anak-anak yang kelak meneruskan tarian yang tertunda
Yang akan melanjutkan gerak-gerik tubuhmu hingga melampaui batas usiamu

“Aku adalah ibu bagi setiap anak yang menari untuk semesta.”

Saat laut pasang di rambutmu
Senja tiba-tiba jatuh dalam bayang-bayang suram yang bisu
Bergerak di antara jejak perahu dan sisa-sisa matahari yang membakar gambar tua
Kau masih juga bermimpi tentang pulau yang menyamar di kaki langit
Di antara deretan pohon kamboja, akar bakau, biji-biji padi, dan duri pandan
Di mana setiap gerak tarian dipahat jadi patung batu yang angker dalam samadinya

Kau menari mengurai horizon jadi desis buih sepanjang pantai
Mendaratkan para nelayan di dermaga-dermaga tak terpetakan
Lalu setiap kerling matamu merangkum semua teluk rahasia
Hingga tubuhmu jadi ucapan paling mistis tentang suara-suara yang diam di dalam

Jika ingin tahu impian terindah maka kini telah kami temukan padamu
Serupa gema yang memantul dan membuat merindu
Tapi masa silam yang disimpan di bilik museum ini
Sewarna kanvas lapuk dengan coretan tinta merah-hitam yang luntur
Menunjukkan mimpi itu terlalu sunyi bersembunyi di balik senyum indahmu
Mimpi yang kemudian seperti air, menghapus jejak-jekak kakimu yg tertanam di pasir
Jejak yang digerakkan oleh rasa rindu terhadap tarian anak-anak jiwa yang tak sempat lahir


Khoerudin
Minyak Telon Ibu

Akhirnya aku mengerti. Kenapa ibu selalu melumuri kulitku dengan minyak telon saban pagi. Tatkala matahari menyeruak dari balik daun singkong, mengintipku melalui celah jendela, lalu dengan pelukannya yang lembut ibu membawaku ke ladang singkong guna menjemur dan membasuh telapak kakiku dengan bulirbulir embun. Aroma telon yang harum akan menjadi azimat jika kelak engkau tersesat, bisik ibu di sela doanya pagi itu.

Ibu adalah baiduri, tempat pertama kali aku mengenal cinta. Suatu hari, kulihat baiduriku diamdiam menjatuhkan embun serupa pecahan beling di kedua danau pada wajahnya yang bening. Bapak pulang, membawaku pergi dari rumah di samping ladang singkong. Suara ibu terdengar samar, memanggilku untuk kembali. Tapi bapak malah menyuruhku memanggil perempuan lain dengan sebutan ibu. Padahal belum sekalipun ia melumuri tubuhku dengan minyak telon dan doadoa seperti yang dilakukan ibu padaku.

Ibu benar, aku tidak akan bisa pergi terlalu jauh darinya. Kota membuat telingaku tuli, bangku kayu terlalu sunyi untuk kujadikan kawan berbagi. Tubuhku mulai di tumbuhi lumut, jalan pulang mulai berkabut. Kucari aroma minyak telon di sudutsudut gang, di malammalam tanpa mimpi, di etalase toko, tapi tidak ada satu pun minyak telon yang bisa mengantarkanku ke ladang singkong, kepada surga di bawah telapak kakimu.

Cianjur 2010


Sunlie Thomas Alexander
Periuk
:ibu


di tanah rantau, kurindukan
wangi nasimu, tanak dalam
legam periuk tua,
sesekali hangus kerak juga

hitam jelaganya
isyaratkan setia dan tabah perempuan,
seperti waktu:
tahan dipanaskan tungku

alangkah gurih nasimu (ai, nasibmu!)
di dapur becek yang senantiasa
memanggil laparku

laparku, ibu:
gembur cinta dalam periuk tua,
hitam jelaga
yang menyerukan hangat rumah
hingga rantauku pun menjelma
percik bara!

demikian kau menjaga api dari padam,
menjaga air dari kering
agar hidup terus mengepul ditanak:
menyejarah legam periuk;
silsilah beranakpinak

walau terkadang pahit seperti kerak

Yogyakarta, 2008


Isbedy Stiawan Zs
Susu Ibu


hari petang dan matahari sebentar lagi melenggang. aku masih
berdepan-depan dengan cahaya. kulitku berpeluh. sudah berapa waktu aku duduk di sini menunggu yang datang dan berlalu, tapi kau tak juga tiba membawakan berita. Masih seperti tadi pagi aku menatah setiap yang tiba, dan memilah yang pergi. "jangan dusta, karena aku tahu kau tak beramai-ramai di tempat itu. kau selu beharap orang-orang pergi hingga yang tinggal berdua. sepasang kelinci lalu mencari sarang kawin," kataku.

kau terdiam. akhirnya kau kirim berita: mereka sudah pulang beberapa menit
lalu, kini tinggal aku dan ia. kami memasak untuk makan siang. anak-anak
sejenak lagi datang dengan perut lapar. "kau suka cumicumi, sudah kusiapkan
sepiring. juga sambal terasi. makanlah dengan lahap supaya kau sehat."

kau yang dimanja meminta pula dibelikan susu. sejak kecil kau biasa minum
segelas susu—pagi atau malam kalau lupa boleh juga siang maupun petang—sebab kata paramedis, susu dapat menjaga kesehatan atau memperkuat badan. apalagi air susu ibu, katamu, itu sebabnya kau selalu menyusu di puting-puting yang belum punya air.

habis sudah susu ibu, kau pun berkelana memburu puting dalam suasana
genting. di temaram atau remang ruang, di selokan maupun tepi trotoar. aduhai, saat aku mati kenapa lebih berat tubuhku daripada katil?

: habis sudah susu ibu. aku haus


Maret-April 2008


Faisal Syahreza
Perempuan Setengah Abad


jika burung-burung yang terbang dari pepohonan
tak lagi memberikan keteduhan padaku.
maka, hanya senyuman seorang perempuan
setengah abad yang bisa melakukannya.
ia lebih mirip permukaan kolam yang memantulkan
sinar bulan ke taman-taman. seperti gerigi yang tak
pernah aus menetaki sepi. dan aku selalu dibidiknya
dengan doa-doa yang cemas di sepanjang usianya.

jika ia berada di kejauhan, ribuan kali namaku ditasbihkan.
hingga tiang-tiang langit yang memisahkan bergetar.
seluruh eter menari di dalam hatinya.
sungai bermakmum kembali pada lautan. gerimis
bersaf menyalami kenangan. dan aku, terbayang
di dasar sumur kanak-kanak yang silam.

karenanya, aku selalu mencintai rumah. menciptakan sajak
yang tak pernah ada di buku-buku sekolah. merenda semua
perih dan nyeri di atas bahunya.
ia setiap waktunya, seperti terus mengalungi leherku
dengan bintang-bintang.

dan jarak, tak pernah mengurung cahaya
yang memancar dari mercusuar di sepasang matanya.

Mei, 2010


Dian Aza
Menanam Bintang


“Buatkan aku sayap, Bunda! Agar aku bisa terbang memetik bintang sebelum malam terbenam. Kau bisa membuat mahkota dan tongkat sihir ajaib dari bintangbintang yang sudah kupetik. Lalu kita bisa menyihir kapas bekas jadi gulagula merah muda, batubatu jadi permen, tanah liat jadi pasta coklat, dan genangangenangan air jadi sirup atau es serut, segar pun teramat manis.

Kita bisa menyihir semua gambar kue tart cantik di sobekan majalah itu jadi sungguhsungguh, dengan lilin menyala hangat. Lembut dan manis rasanya, seperti kecupan selamat malammu: yang singgah di kening saat malam paling hening. Ayolah Bunda, kita juga bisa menyulap setiap hari cerah penuh cahaya warnawarni, bungabunga mekar di halaman. Burung nuri dan gelatik bermain di rantingranting mawar. Angsa, kelinci dan penguin juga mampir. Apa sih yang tak bisa disihir?

Semua teman mengunjungi kita tiap hari, membawa hadiah dalam bungkus berkilat, berwarna indah. Kita berpesta di tepi kolam renang yang kau sihir dari selokan. Lampion bergantungan di sepanjang sisi kebun. Bunda, aku lihat kau menyambut ayah pulang dengan senyum dan peluk di bawah cahaya jingga. Kita akan bahagia, aku tahu kita akan bahagia jika kita punya tongkat sihir ajaib dari bintang yang akan kupetik, buatkan aku sayap!''

Bunda tersenyum meraih tubuhku, berbisik di rambutku, “Kau tak perlu terbang, sayang! Sudah kutanam biji bintang di jiwamu, sejak kau masih di rahimku. Kelak akan tumbuh bintangbintang dari matamu, senyummu, katakatamu, sentuhmu, dan mimpimimpimu. Kau akan menyihir semua airmata jadi butirbutir permata, hanya dengan mengerjapkan mata.”



Budhi Setyawan
Dalam Dekapan Puisi
: kepada ibu


waktu menghamparkan bukit bukit dan lembah lembah
bagi musafir yang memanggul ritus silsilah kehadiran
belantara merawat gerak daun dan elegi embun
juga bentang kepak cita dan narasi aum
serta kecipak mimpi yang ranum

: ricik mata air menekuni celah batu, mengalirkan kemurnian arusmu

sawah ladang mengabarkan aroma tanam
mata bajak cangkul dan tugal menuliskan tembang kenangan
belalang dan capung bergantian menggetarkan degupan
di sela hikayat dewi sri yang hijau
bunga padi telah mengirimkan gugusan riang

: tanah menyediakan tubuhnya bagi segala apa, demi tumbuh cinta

camar bersahutan merunut harmoni percakapan karang
lumba lumba berenang di depan laju ilusi yang lesat dari rumah kerang
arus sejarah menanyakan pantai pantai yang rekah
biduk biduk kecil mengayuhkan asa
erat menggenggam bayang jumpa

: laut mengekalkan ombak dan gelombang dalam kesetiaan pencarian

tak nampak dalam riwayat agung
yang tersimpan jauh di ceruk lakon pertunjukan
kesejatian meruangkan tubuh bagi nafas nafas tuhan
membangun rumah rumah udara bagi kelestarian hayat
mengikis perih perih waktu merupa bakti

: angin sejuk mengetuk kamar dada dalam suluk tulus memberi

bait bait membuka wilayahnya bagi
kata kata yang takzim menajamkan puasa
menahan tegak dalam selimut licin perburuan
mendedahkan makna yang menumbuhkan tarian
lembut mengukir palung rasa terdalam

: gugusan lelaku metafora dan perlambangan bertumbuh mewujud puisi putihmu

Bekasi, 18 Mei 2010


Ria Febrina
Musim Menyusu


aku melukis tubuhmu dalam mataku yang tak pernah bisa membedakan malu dan mau. hanya tanganmu yang berbicara, merangkul kepalaku dengan kasih yang kurasakan sebagai air mata. ketika kulitku lesut, kau merabanya dengan kepang rambutmu yang sepinggang, menahan sakit yang menghadang di atas perut, di mana jahitanmu masih menyisakan lukaluka tentang malam yang bisu.

kau tak peduli dengan dingin yang diam, sementara orangorang menghimpit tangannya di atas guling, mendengkurkan igau agar tak ada yang semayam malam itu. kau dengan mata yang masih menyipit mendiamkan suara yang haus. gelisahmu kau ketepikan, antara debar dan bunyi lapar yang mulai memergoki mulutmu.

dalam bedung yang kau lilit dengan kainpanjang, kau melepaskanku dengan senyuman. aku tak bisa menangis, sebab ada yang mengalir di antara payudaramu, yang kunisbahkan sebagai darahku. tangan kananmu membuka baju hingga ke bahu, sementara tangan kirimu menahan tubuhku yang masih lunak, mengkerut dan belum kuat dagingnya. engkau yang mendekatkannya pada ujung yang mengeluarkan airsusu. kau tahan ujungnya agar tak menetes ke mataku. saat itu aku merasakan lembutnya cintamu, ketika ada air memasuki mulutku yang hanya bisa meminta darimu. aku menghirupnya, karena Tuhan menciptakannya untukku, yang lebih beruntung dari anak kucing yang mengeong menanti ibunya menyelesaikan makan, agar ada airsusu di tubuhnya.

tak ada lelah bagimu ketika bulan ketujuhbelas, mulutku membuatmu tak bisa menahan ujungnya yang membiru. gigiku mulai tumbuh. aku tak menikmatinya seperti usiaku sebulan dulu. aku mulai mempermainkan air yang berwarna putih di ujungmu, yang mulai sedikit meneteskannya untukku.

aku mengeak sesukaku, padahal dalam matamu ada haru.


April-Mei, 2009


Mei Hua
Kau Juga Ilalang Ibu



tahukah kau cerita tentang ilalang ibu
ilalang yang terseok lunglai kerna cintanya
cinta di bulan mei, yang berdarah penuh lara
tahukah kau cinta ilalang ibu, dia punya misteri
pada putik bunganya ada kemilau airmata
airmata cinta bumi pertiwi, juga eksistensi diri
padanya kita bisa mendengar rapal kwa mia
merasakan yin yang pengukir pualam hati
menikmati cakrawala tarian naga di bumi cinta
siluet liong yang meliuk indah jalin senyawa jiwa
yang disiarkan melalui mercusuar imlek pada lunarnya

pada pesta musim semi lunar nanti,
selipkanlah setangkai ilalang di antara bibir sangjit sunglimu
biarkan dia rekah, rebah dalam hitungan kelima jemari cintanya
katamu satusatu berjalan lurus, seanggun hong berlenggaklenggok
lalu duadua menyimpan airmata pada kota lampion lentera hati ibu
yang tigatiga harusnya setegar bunga mei hua di puncak bukit salju
pada empatempat berhiaskan cinta kasih abadi ruh sampek-engtai
akhirnya limalima biarkan yu mengalirkan giok kebahagiaan sunyi

di senja penghujung mei ini,
mari sentuh ujung kaki ilalang, pada bumi bersujud uhau.
juga tengadah pada lembayung langit di sela suara surga,
ini nyanyian ilalang dalam semangat alam manis hong sui tou
pada aliran xiang qi semesta, yang beraura teratai bianglala hati.
dalam melestarikan cemara berdaun hijau pada segala iklim dunia
kau juga ilalang ibu, pelukis zhong yong damai pada kanvas nurani


Catatan:

* Kwa Mia : meramal dengan bantuan rohroh
* yin yang : konsep keseimbangan antara yin mempunyai sifat negatif, dan yang bersifat positif
* Imlek : hari raya memasuki musim semi di belahan bumi atau pesta musim semi. Hari Raya Imlek (Yinli Xinnian) jatuh pada tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek (Cia Gwee Che It), bertepatan dengan pergantian tahun Imlek yang berdasarkan perhitungan lunar (peredaran bulan)
* Lunar : perhitungan waktu berdasarkan peredaran bulan
* Sangjit (Sung Li) : antar-antaran oleh pihak keluarga laki-laki kepada pihak perempuan, biasanya membawa enam atau delapan perangkat (uang, pakaian, sepatu, kue-kue, gula-gula dan manisan, buah-buahan, makanan, anggur dan minuman)

* Hong : sebagai penjelmaan dari binatang dari khayangan, melambangkan keanggunan, kemewahan dan kecantikkan. hong mempunyai sifat feminim.
* Bunga Mei Hua : bunga berwarna pink, yang tumbuh bersemi di segala musim. Pada bukit salju yang semakin tinggi, bunga ini berkembang semakin indah. Mei Hua menjadi bunga khas perayaan Imlek, di Jepang disebut bunga Sakura.
* Yu berarti ikan : melambangkan kelebihan, maksudnya penghasilan selalu lebih besar dari pengeluaran, ini diambil dari lafanya yaitu yu
* Uhau : hormat kepada kedua orang tua, sesepuh daan leluhur
* Sampek Engtai : legenda yang sangat terkenal, melambangkan cinta kasih suami istri yang abadi, di lambangkan dengan sepasang kupu-kupu
* Hong Sui (Feng Sui) : kepercayaan adanya pengaruh letah rumah dan tata ruangannya, dihadapkan dengan arah, struktur dan kondisi alam lingkungannya. Pengaruh ini bisa positip dan negatip.
* Tou : melambangkan kebahagiaan dan panjang umur. Tou dianggap sebagai buah para dewa, yang bila dimakan bisa panjang umur dan bahagia.
* Xiang Qi (Siang Ci) : sejenis permainan catur Cina, di Indonesia diakui sebagai olah raga resmi yang disebut Catur Gajah,sebagai umit dari Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) di bawah KONI Pusat.
*zhong yong : Kitab Tengah Sempurna, berisi ajaran mengenai hakikat manusia dan keimanan pada Tuhan, jalan suci dan peran agama.


Pringadi Abdi Surya
Memasang Bubu


Memasang bubu di seberang ulu, aku tak kunjung
mendapatkan ibu. Aku tebar jaring di sepanjang sungai komering,
ibu selalu lolos lewat celah sempit seolah pikiran yang tak pernah paham
ibu telah berada dalam makam.
Inikah yang kau sebutkan di makan siang dengan pindang
patin terlezat itu, Bu ---- rasa asam yang selalu mewakili kebenaran
dan asin laut yang selalu menggugurkan kekalutan, menjernihkan kekeliruan.
Aku di atas perahu,
mendayung kehidupanku sendiri. Kapal ketek dari pohon boddhi
membawaku melihat ibu yang mencuci airmatanya, menghanyutkan selendangnya
ke hilir
dengan kereta-kereta lebaran yang meletakkan ketupat dan opor ayam
demi menu makan malam. “Aku
tidak bisa berenang, tidak bisa mengenang lebih
dari lelaki yang menggosok giginya di tepian, menunaikan hajatnya
di sepanjang pagi seperti sedang menunggu
kapan kematian yang jelas ditakdirkan akan merenggut semua
kesepian itu.”
Tetapi aku yang terlalu riang seolah anak-anak yang
berjumpalitan melompat ke keruh sungai tanpa pernah peduli
bahwa sekitaran limbah terdapat banyak bakteri e-coli. Bahwa segala umur
bisa terhisap oleh lamur mata yang tak pernah memberi kepuasan;

Memasang bubu di seberang ulu, aku sebenarnya menanti ibu kembali
mengajarkan hal yang kusia-siakan selama hidup tanpa

kepulangan.


Demikianlah keputusan dewan juri, ditetapkan pada tanggal 29 Mei 2009.

Acep Zamzam Noor
Joni Ariadinata

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<