Skip to main content

Drama Sekian Babak

Babak pertama seperti halnya KTTA, adalah pendahuluan sebenarnya
Dada yang lapang memulai latar belakang sebelum aku menemukan
Keheningan di matamu yang lalang---mata dari para pialang yang menanti
Angka-angka bergerak naik lewat tangga di balik bilik jantung.

Ada yang degup, seolah ketukan kecil di pintu hati, Aku berteriak, memanggil
Namamu yang lampu, lilin malam minggu. Lalu melayang jadi kembang api
Menyambut tahun baru. Tetapi tahun-tahun terlihat sama bagi aku, selalu
Hanya kau yang seperti sedang menangis, di balik tawamu yang liris.

Aku tidak sanggup, masuk ke babak lain yang menunggu---intipan penonton
Lewat dasi kupu-kupu maupun sorotan lampu. Aku cahaya tiba-tiba saja sudah
Redup. Aku lebih tak sanggup ketika matamu takjub pada dada lelaki
Yang berisi lonceng tua, menandai waktu yang terlupa.

Setelah sekian babak, semua rangkaian drama ini masih tidak tertebak.
Entah suatu hari, aku akan memasang konde di wangi rambutmu yang semerbak.

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

And The Moon And The Stars And The World, Charles Bukowski

Long walks at night--
that's what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.




Dan Bulan dan Bintang dan Dunia
karya Charles Bukowski

Perjalanan panjang di malam hari--
sungguh baik buat jiwa:
melongok melalui jendela
menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan
mencoba menyingkirkan
suami-suami yang mabuk dan gila