Skip to main content

39 Hal Tentang Keindahan dan 1 Hal yang Sengaja Ingin Kulupakan

1. Kau begitu rutin meninggalkan ibu jari di setiap statusku. Katamu, kata-kata dapat mendekatkan setiap orang, juga sebaliknya.

2. Ketika aku mengetikkan "Apa kabar?" ke nomor ponsel yang sudah lama aku simpan tetapi tidak pernah aku sentuh sebelumnya, aku tidak berharap ada sebuah balasan. Mungkin nomormu tidak aktif lagi karena sudah ganti ponsel karena rusak, hilang di kereta, atau kecebur air... seperti halnya nasib ponsel-ponselku.

3. Tetapi ada balasan baik, sebelum kita sama-sama berbagi cerita tentang cinta-cinta yang lalu.

4. Aku mengingat pada caramu membaca puisi ketika sekolah dulu, dan kamu lebih cantik kalau tersenyum.

5. Kamu pernah pacaran 7 tahun, kemudian ditinggalkan.

6. Ketika kamu bilang "sayang" padaku, sayang yang terlalu cepat itu, aku tidak percaya. Tidak mungkin seseorang bisa menyayangi tanpa bertukar masa depan.

7. Alasannya katamu aku berbeda, aku tidak memberikan perhatian seperti lelaki lain. Kamu suka pada kedinginanku itu.

8. Ketika kita menonton New Moon, dan aku bertanya lebih mirip mana aku, Edward atau Jacob, kau bilang Edward. Padahal hatiku sehangat Jacob, hanya aku sulit untuk menunjukkannya.

9. Maka di jalan Riau Bandung itu kita bertemu lagi untuk kali pertama, kau menaiki Pahala Kencana dan wajahmu begitu melelahkan.

10. Kamu mirip Moon Geun Yoong.

11. "Memangnya kamu berani menciumku?" Itu pertanyaanmu yang paling gila.

12. Aku masih ingat salah satu temanku pernah jadi pacarmu. Dan kini sahabatnya temanku yang juga temanku juga mengatakan suka padamu. Dia bilang kalian berpacaran.

13. Tapi kau bilang tidak demikian. Saat dia mengungkapkan cinta, kau hanya diam tak menjawab. Katamu, kau tak tega memberikan penolakan langsung.

14. Aku dibutakan cinta, dibutakan olehmu, apalagi ketika kau mengatakan, kau merasa sudah tidak memiliki siapa-siapa selain aku.

15. Kau cantik dengan kerudung, tetapi lebih cantik ketika kerudungmu dilepas, hanya untukku--katamu.

16. Kita menjadi kekasih yang terlalu cepat bertumbuh cinta. Aku tahu, hal-hal semacam ini tak akan bertahan lama.

17. Hanya katamu, tentang satu-satunya aku yang mengikatku untuk semakin sayang padamu, semakin peduli padamu.

18. Tetapi ketika kutunjukkan segala perhatian dan kepedulian itu, kau bilang aku mengekangmu.

19. Empat hari kebersamaan itu sebenarnya sudah ingin kuanggap selamanya.

20. Menjadi satu-satunya untukmu, di segala kisruh dan permasalahan keluargamu, yang tak pernah kupahami seperti apa rasanya menjadi anak dari istri kesekian ayahmu adalah tanggung jawab. Sebisa mungkin aku tak ingin kau terluka, melindungimu dari siapa saja, termasuk dari diriku sendiri.

21. Nyatanya, aku tak bisa melindungimu, justru dari dirimu sendiri.

22. Apa kau bahagia dengan segala rahasiamu? Itu pertanyaan terbesarku untukmu.

23. Aku tak pernah tahu lukamu sedalam apa. Kau masih mencintainya, jelas, aku hanya pelarian untuk mengalihkan perasaanmu yang begitu sakit itu.

24. Dan bukan hanya aku, kau memiliki laki-laki lain, terlalu banyak sehingga tak dapat kuterima kau hanya milikku.

25. Aku tak pernah membayangkan memiliki seorang perempuan yang memiliki bekas bibir lelaki lain di bibirnya.

26. Hubungan kita memburuk, sangat buruk, ketika kubuka kotak pandora itu, kau dan segala pesan dari lelakimu. Tetapi aku masih ingin bersabar, akulah yang hendak kau tuju.

27. Aku berpikir, apakah semua ini lahir karena latar belakangmu. Padahal aku telah siap menjadi tempat penampungan sampah hatimu.

28. Ketika kita sama-sama berada di Palembang, aku ingin menemuimu lagi dan lagi. Aku mencari pemaafanmu dan kata-kata cintamu dulu yang semakin kini, semakin tidak kau ucapkan.

29. Termasuk ketika aku tahu, pada sahabatmu saja, kau tidak mengakuiku. Pada siapa saja kau bilang aku hanya temanmu dengan kebohongan yang begitu menyakitkan, kau ke Bandung karena tugas.

30. Aku akan pahami kesepianmu, yang bertugas di daerah begitu terpencil, karena suatu hari aku juga akan berada jauh di dalam sepi.

31. Aku membelikanmu boneka, aku mencium keningmu malam itu. Aku tahu itu akan menjadi ciuman terakhirku untukmu.

32. Aku ingin menangis dalam perjalanan pulang bermotor itu. Mungkin kau menganggapku miskin karena aku hanya bisa naik angkutan umum dan motor di setiap pertemuan yang hendak dilahirkan. Tidak sepertimu, yang kemudian mengendarai sebuah mobil, bahkan mengantarku pulang dengannya.

33. Segala sesuatu yang lahir begitu cepat, juga dapat menghilang begitu cepat. Dengan segala kesabaran, aku masih mencoba membuka kelapangan hatiku untukmu.

34. Kau tidak membalas pesanku, kau begitu sulit mengangkat teleponku. Ini harus segera diakhiri.

35. Aku meminta putus, kau bilang break, sebaiknya kita menjauh untuk sementara. Tapi aku ingin pergi sejauh-jauhnya darimu. Cinta ini sudah terlanjur menyakiti dadaku. Sesak.

36. Kita berdebat tentang segala hal yang pernah kita lalui. Kau bilang aku brengsek.

37. Akhirnya aku bilang mengetahui banyak hal  dari kotak pesan yang tak sengaja kubaca.

38. Kau bilang, apa hakku mengetahui semua itu? Dan aku jawab, apa kau benar-benar menganggapku sebagai kekasih?

39. Kita pun berpisah. Tak ada lagi pembicaraan tentang cita dan cinta yang pernah hadir di antara kita.

Meski, segala hal itu telah berlalu, segala luka telah demikian pintarnya bersarang di dadaku, ada satu hal darimu yang sengaja ingin kulupakan, yakni bahwa rinduku padamu, sayangku padamu, belum pernah benar-benar pergi dari dadaku.

Comments

Popular posts from this blog

Pantai Leppu di Labangka

Terjemahan Bebas dari The Arrow and the Song by Henry Wadsworth Longfellow

Anak Panah dan Lagu Henry Wadsworth Longfellow
aku melepaskan anak panah ke udara ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; begitu cepat ia melesat, pandangan mataku tak dapat mengikuti arah lesatannya.
aku menghembuskan lagu ke udara, juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana; siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat, sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?
lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak aku menemukan anak panah, belum patah juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.
The Arrow and the Song Henry Wadsworth Longfellow
I shot an arrow into the air, It fell to earth, I knew not where; For, so swiftly it flew, the sight<