24 Juni 2010

Koko ni Iru Yo (I'm Here)

Baby Boy watashi wa koko ni iru yo
Doko mo ikazu ni matteru yo
YOU KNOW DAT I LOVE YOU dakara koso
Shinpai shinakuteinda yo
Donna ni tooku ni itemo kawaranai yo kono kokoro
Itai koto wakaru desho?
Anata no koyo matteru yo

Bukyou na ore tooku ni iru kimi tsutaitai kimochi
sono mama iezuni kimi wa ichimatta
Ima ja nokosareta kimi wa arubamu no naka
Denpa de shika aenai hibi dakedo mienaize
Kimi no hohoemi kimi no nukumori kami no kaori
Kono nodo no kawaki wa sonomama mitasarezuni

Sugiteku hibi no naka nandaka kimi no omokage hitasura sagashiteta
Kimi to yoku aruita ano michi wa ima ore dake no ashioto ga hibiteita
Na koto yori omae no houwa genki ka?Chanto meshi kuteru ka?
Chikusho yappa ieneya matta kondo okuru yo ore kara no LETTER

Baby Boy watashi wa koko ni iru yo
Doko mo ikazu ni matteru yo
YOU KNOW DAT I LOVE YOU dakara koso
Shinpai shinakuteinda yo
Donna ni tooku ni itemo kawaranai yo kono kokoro
Itai koto wakaru desho?
Anata no koto matteru yo

Kamakura no sunahama de mita kimi no sugata nami ni nomareta
Kimi ni itai kotoba nanda ka maji setsune otoko na no ni nande...
Kotoba detekone ya
Oboetemasuka?Kimi to itta karaoke no naka ore ga ireta kiyoku
no kotoba monita ni ukandamama honto wa kimi ni tsutaetakatta

Kimi to futari kiri de hajimete machiawase
Wo shita ano hi maru de guzen ni ata ka no youni hashagi
Hohoemu kimi ga wasurerarenaitte hanashi kanari sorechimatta
ga wakaru yo na?
Itai kotoba SxxT nokori kaku basho ga ne ya
Gomen tsugi zettai okuru kara

Baby Boy watashi wa koko ni iru yo
Doko mo ikazu ni matteru yo
YOU KNOW DAT I LOVE YOU dakara koso
Shinpai shinakuteinda yo
Donna ni tooku ni itemo kawaranai yo kono kokoro
Itai koto wakaru desho?
Anata no koto matteru yo

Ore ga motto kanemochi dattara motto matomona
shigoto wo shitetara moshi mo subete gisei ni dekita no nara
Ore wa zettai ni kimi wo...Daga PLEASE kanchigai dake wo
Sunna kimi ni sabishi omoi wa sasetakune ga
Isogashi naka anma hanase ga BABY BELIEVE kore wa
ALL FOR OUR FUTURE BUT shijiki ima sugu kimi to aitai
Ima sugu dakishimete yaritai

Mukashi kimi ga ore no tonari de suwatteta seki ni wa
mo dare mo inaitte...
Ma sonna koto wa iinda itai koto wa sonan janen da
Ima sara daga zutto itakatta kotoba wo kome
Okuru UNSENT LETTER

Baby Girl watashi wa koko ni iru yo
Doko mo ikazu ni matteru yo
YOU KNOW DAT I LOVE YOU dakara koso
Shinpai shinakuteinda yo
Donna ni tooku ni itemo kawaranai yo kono kokoro
Itai koto wakaru desho?
Anata no koto matteru yo

Baby Boy watashi wa koko ni iru yo
Doko mo ikazuni matteru yo
YOU KNOW DAT I LOVE YOU dakara koso
Shinpai shinakuteinda yo
Donna ni tooku ni itemo kawaranai yo kono kokoro
Ima nara sunao ni ieru yo
I DON`T EVA WANNA LET YOU GO

Baby boy I am over here Waiting and not going anywhere Just here waiting for you
You know that I love you As such do not worry
No matter how far you go This heart of mine will not change
You should know what I want to say
I am waiting for you

The useless me The distant you
The words that I want to say were not even said and you left already
What's left behind now is only your photo album
On days of only wired communication Could not see your smile
Your warmth The fragrance of your hair This thirsty throat that could not be satiated
Everyday that passes All I do was searching madly for your face
The streets that I strolled with you are now only filled with the sound of my footsteps
No matter how Are you well? Have you eaten well?
Annoying Still I can't say it out
Next time I will send my letter

Baby boy I am over here Waiting and not going anywhere Just here waiting for you
You know dat I love you As such do not worry
No matter how far you go This heart of mine will not change
You should know what I want to say
I am waiting for you

At Kamamura's beach I watched your silhouette The words I wanted to say were swallowed by the waves
I feel really pitiful...I'm a guy...yet I couldn't speak up...
Do you still remember? I went to the karaoke with you
The lyrics of the song that I chose It showed plainly on the screen
Actually are words that I wanted to transmit them to you
The first time we waited for each other on that date
That shy smile of yours as though I bumped into you I did not forget to mention
What I said seemed to be unrelated Could you understand? What I meant to say
Shit No place to write it
Excuse me Next time I would definitely send it to you

Baby boy I am over here Waiting and not going anywhere Just here waiting for you
You know that I love you As such do not worry
No matter how far you go This heart of mine will not change
You should know what I want to say
I am waiting for you

If I were slightly richer If I were to have a job of some sort
If everything is sacrificed Then I would definitely ...
But please do not mistaken I definitely am not trying to make you feel lonely
At the moment I am a bit busy I can't say too much But baby believe all this all for our future
But truthfully Now I really want to see you Now I want to hold you
In the past the seat where you sat next to me is no longer occupied
Ha All this is still fine What I want to say is the following
Right now All that I want to say I would input them in
Send Unsent letter

Baby girl I am over here Waiting and not going anywhere Just here waiting for you
You know that I love you As such do not worry
No matter how far you go This heart of mine will not change
You should know what I want to say
I am waiting for you

Baby boy I am over here Waiting and not going anywhere Just here waiting for you
You know that I love you As such do not worry
No matter how far you go This heart of mine will not change
Now you could be straight forward and tell me
I don't eva wanna let u go
You should know what I want to say
Waiting for you

(Thanks to Mary Elizabeth McGlynn for these lyrics)

23 Juni 2010

Teka-Teki tentang Tubuh dan Kematian

Setengah Hati Mencintaimu

Dengan setengah hati engkau keringkan kolam di pekarangan di sebuah taman kecil yang sepi dari bunyi cicit burung itu. Ada sebatang pohon sawo yang diikat janji oleh benalu hingga sebagian rantingnya mati mengorbankan dirinya sebagai tumbal kumbang-kumbang yang mencuri madu bunga sebelum buah. Musim gugur yang lamban, andai pun ada, tetapi buah-buah selalu jatuh ke kolam daripada ditikam kelelawar saat malam. Dengan setengah hati aku menyaksikan kematian ikan-ikan yang kehilangan insang dan anak-anak katak yang masih belajar memiliki kaki harus terenggut oleh engkau yang menjadi malaikat kematian sore hari.

Sejak saat itu, aku mengerti mencintaimu adalah setengah hati sementara setengah hati yang tersisa sudah menjadi ulat sebelum kupu-kupu. Sebelum daun-daun sawo itu runtuh menjadi pupuk, andai pun, tak ada tukang sapu yang menemuinya.








Salah satu contoh puisi di dalam buku ini. Ditulis oleh delapan penyair muda dengan warnanya masing-masing. Berjumlah 82 puisi.

Harga Rp30.000,- (ongkos kirim disesuaikan)

Jika berminat, bisa pesan ke 08998070696 (Tidak ada di toko buku)


*Bagi yang membeli buku ini bisa mendapatkan ALUSI dengan harga Rp15.000 saja

Di Sebuah Stasiun #2

aku sendiri penasaran
apa yang kutunggu dari kedatanganmu
selain wajah dan tubuh yang begitu kecut
dan baju-baju kusut dalam kopermu

sisir poni, gincu pink, dan bra hitam kesukaanmu
sudah saja aku kenakan
sampai dering handphoneku berbunyi---kau
memanggil dari seberang ingatan

"Sayang, keretanya mogok di tengah jalan
baru saja kehabisan kenangan."

padahal kudengar deru rel beradu
menautkan rindu

(Pringadi Abdi Surya, Alusi Hal. 109)

Langit Tak Ada Beda

Langit Bintaro tak jauh beda dari pemandangan pohon lamtoro dengan
Daun yang melambai karena rindu pada musim gugur. Ada burung-burung yang
Sesekali lewat, kemudian singgah di tiang listrik. Ada sekumpulan awan
Yang berencana hujan. Ada asap pesawat terbang yang tertinggal manis, meski
Sejenak, namun seperti airmata yang menyesak bagi laki-laki.
Aku berjalan kaki, melihat lantai konblok yang rapi seperti perasaan
Yang tertata seperti buku-buku di laci, tentangmu yang baru saja kutulisi
Kuletakkan paling atas paling bebas jika sesekali aku ingin mengintipmu
Dan membacamu bersama alunan musik klasik, piano concerto,
Rachmaninoff, tiga nada minor yang bikin hati tak ingin berdandan menor.
Seandainya aku sandal, yang dengan sabar menahan berat tubuh
Dan perjalanan, aku bisa saja tak ingin lepas dari setiap langkah
Yang diam-diam kauhitung itu. Tetapi aku takut kehilangan, takut kau
Lepaskan meski dalam sebuah ibadah dengan doa yang teramat panjang,
Di luar dengan gigil malam yang menggeratakkan gigi geraham itu.

Malam ini, Langit Bintaro seperti bulan yang malu-malu nampil, dan beberapa
Bintang masih setia menunggu jatuh, biar ada kau (dan aku) yang memandangnya
Tahu bahwa harapan mungkin saja masih bisa diminta.

17 Juni 2010

Puisi Penyair Wanita Jepang

PUISI PENYAIR WANITA JEPANG (1)

Abdul Hadi W. M.




Kazuko Shiraishi

PEMAIN SEPAK BOLA

Dia pemain sepak bola
Setiap hari ditendangnya bola di lapangan
Suatu hari dia tendang cinta
Setinggi-tingginya ke langit
Sejak itu cinta melayang-layang di angkasa
Dan tak pernah lagi turun ke bumi


Kazuo Shinkawa

JANGAN IKAT DAKU

Jangan ikat daku
Dengan sekeranjang makanan
Seperti sebungkus bawang bakung.
Kuminta, jangan ikat daku! Sebab aku telinga padi
Telinga padi berhektar-hektar keemasan di musim gugur
Dan buah dada bumi yang penyayang.

Jangan tempelkan daku
Seperti bangkai serangga di kertas
Seperti kartupos bergambar dari negeri dataran tinggi.
Kuminta, jangan tempelkan daku! Sebab aku lagi menjaring sayap-sayap,
Menjaring sayap-sayap gaib gemetaran
Yang terus bertiup menuju ufuk angkasa raya.

Jangan tuang aku!
Seperti susu ternoda kekesalan sehari-hari
Seperti sake hangat.
Kuminta, jangan tuang aku! Sebab aku adalah lautan
Yang pasang surutnya tak terduga
Yang mengalir tak henti-hentinya setiap malam.

Jangan cap daku
Sebagai anak gadis atau istri belaka.
Jangan biarkan daku terpaku di kursi kebiasaan
Sambil memanggilku ibu, kuminta. Sebab aku angin
Tahuku hanya kemana aku harus bertiup dan terbang
Menemukan pohon apel berbunga, menemukan musim semi.

Jangan pisahkan daku!
Seperti isi surat dengan koma atau titik
Dan sejumlah paragraf yang kalimat-kalimatnya berakhir dengan selamat tinggal!
Jangan bodohi aku, kuminta! Sebab aku
Adalah kalimat tanpa akhir, sebaris puisi
Yang mengalir bagaikan sungai
Dan terus mengalir, tak kunjung henti berhamburan, tak kunjung henti.



Ishigaki Rin

MARI KITA TINGGALKAN RUMAH

Rumah adalah bercak-bercak kudis di muka bumi
Bila anak-anak kita sudah mulai mendidih
Kerjanya hanya mengambil kudis-kudis itu.

Rumah adalah kain brokat emas dan selimut tebal
Bulu-bulu indah menciptakan burung yang indah
Pesta malam hari: kepura-puraan yang buruk.

Rumah adalah jambang-jambang bunga
Kita sirami, kita beri pupuk agar subur
Namun akar-akarnya segera pula merintangi kita.

Rumah adalh batu berat menekan
Sedikit rasa kemanusiaan, jadilah!
H betapa kecut lidahku!

Rumah adalah ruang penuh keharuan
Ke tempat itu setiap orang melarikan diri
Membawa harta rebutan.

Rumah adalah lemari besi terkunci rapat
Tiada yang berdaya
Membukanya dengan paksa.

Rumah adalah kuburan hidup sehari-hari
Namun orang berkata
Rumah bukan tempat istirah penghabisan.

Mereka pun menyayangi rumah
Karena rumah bukan tempat istirah terakhir
Mereka cinta rumah.

Cinta bagaikan kudis
Yang lengket pada kapas pembalut untuk anak-anak
Karena itu mari kota ingkari rumah.

Biar setiap orang berhamburan keluar
Bersin di lapangan luas terbuka
Seraya menolak rumah-rumah sempit mereka
Yang pinti-pintunya sengaja dibiarkan terkunci rapat.



Taeko Tomioka

ANTARA

Ada dua kesedihan layak dibanggakan

Usai nutup pintu kamar di sebelah
Usai nutup pintu
Masuk rumah di sebelah lagi
Dan pergi ke jalan yang kelihatan lengang sebab gerimis
Ketika hari bergegas
Mana jalan yang mesti kutempuh
Apa yang mesti kulakukan
Menghadapi sesuatu yang tak mengandung harapan
Apa aku ini teman atau musuh
Siapa bisa kutanyai
Tentang soal nyata ini
Aku benci perang
Tetapi bukan pula penyinta perdamaian
Upayaku cukup dengan membiarkan mataku selalu terbuka
Hanya inilah kesedihan yang bisa kulakukan

Ada dua kesedihan layak dianggakan
Aku bersamamu
Aku tak memahamimu
Karena itu aku mengerti kau ada
Karena itu aku mengerti aku ada
Sedih karena tak memahami
Sedih karena kau adalah kau seperti adanya kau.

Terjemahan: Abdul Hadi W. M.

07 Juni 2010

Seseorang dengan Agenda di Tubuh (Suara Merdeka, 6 Juni 2010)

[1]
Biasanya, setiap cerita pembunuhan akan dimulai dengan ditemukannya mayat korban. Lalu dimulailah penyelidikan oleh seorang inspektur polisi, meneliti satu per satu misteri sampai ditemukan motif dan bukti-bukti yang mengarahkan kebenaran siapa pelaku pembunuhan. Tetapi, saya tidak akan bercerita dengan metode kuno seperti itu. Saya akan mulai dengan sebuah pengakuan, sayalah yang telah melakukan pembunuhan dengan memukulkan benda keras ke kepala, berkali-kali (saya akan berhenti kalau sudah merasa puas), sampai berdarah-darah dan sang korban sudah tak lagi menghembuskan napas. Kemudian, akan saya tinggalkan sebuah jam dinding di samping mayat korban. Jam dinding yang jarum-jarumnya sudah saya atur sesuai urutan dan waktu pembunuhan.

Ini sudah korban yang kesebelas. Tidak seperti cerita-cerita yang umum terjadi, saya tidak butuh topeng darah yang misteri yang bikin saya jadi gila. Saya juga tidak memiliki kepribadian ganda atau motif biasa seperti untuk melindungi diri, kepentingan bisnis, atau cinta. Tiba-tiba saya jadi ingin membunuh kalau ada orang yang rasanya sedang berbohong pada saya. Saya tahu itu dari matanya. Saya tahu dari bahasa tubuhnya. Mudah sekali mengenali orang-orang yang bisa berbohong. Terlebih saya adalah seorang psikolog. Bertahun-tahun bergelut dengan pribadi dan bahasa tubuh.

[2]
Namun, cerita ini tidak bisa dimulai dari jarum jam yang kesebelas. Semua akibat pasti memiliki sebab. Setiap perjalanan pasti memiliki permulaan. Begitupun pembunuhan ini yang juga mengenal kata pertama kali. Tetapi, sebelum kamu tahu siapa dan bagaimana saya membunuh korban pertama saya, hendaknya kamu pikirkan apa cita-citamu semasa kecil. Cita-cita yang kerap ditanya oleh ibu guru gendut yang tiap bagi rapor akan menanti kue-kue kecil dari muridnya. Kemudian sebagian kue dibagikan lagi ke setiap murid. Sementara sebagian yang lain (yang biasanya lebih banyak atau lebih enak) akan ia bawa pulang ke rumah. Dibagikan kepada anak-anaknya sendiri.

Cita-citaku ingin jadi pesulap. Mengeluarkan burung dari topi. Memotong-motong tubuh tetapi tidak mati. Tetapi mereka bilang pesulap itu tukang bohong. Pesulap itu tukang tipu. Ada pula yang bilang pesulap itu budaknya setan, penentang Tuhan. Saya ingat siapa yang bilang itu. Dia seorang anak yang bercita-cita jadi polisi. Saya geli dengan profesi yang satu ini. Baru kemarin saya kecurian. Kemudian saya ke kantor polisi melakukan pelaporan. Bukan bantuan yang saya dapatkan, saya malah dimintai biaya dua ratus ribu dengan alasan administrasi. Begitu pula ketika saya baru lulus sekolah, dua puluh ribu rupiah melayang untuk mendapatkan surat berkelakuan baik. Bayangkan betapa paradoksnya profesi yang satu ini. Saya hanya miris melihat slogannya yang berbunyi melayani masyarakat. Benar mental pelayan yang bergaji rendah, tetapi diam-diam mencuri barang milik majikan. Tidakkah kamu juga berpikir demikian, bahwa rakyat adalah majikan, adalah Tuan? Tetapi, berkat itu pula saya jadi mengerti, bahwa polisi-polisi di negeri ini banyak tak memiliki dedikasi, tak memiliki kemampuan untuk menyelidiki sebuah misteri. Terlebih misteri pembunuhan.

“Kamu tidak punya cita-cita lain selain jadi tukang sulap, Nak?” Tanya ibu guru itu. Saya diam, memikirkan hal-hal lain seperti dokter, pilot atau presiden. Tetapi belum sempat saya menjawab, laki-laki kecil tadi berteriak, “Dia ‘kan anak pelacur, Bu… tidak pantas punya cita-cita!” Dan dia (beserta teman-temannya) menertawakan saya. Saya tidak menjawab meski sangat ingin mengatakan kalau ibu saya bukan pelacur. Ibu saya adalah seorang ibu yang baik hatinya dan bekerja siang malam untuk menyekolahkan saya.

[3]
Mempunyai ibu yang dicap pelacur adalah takdir saya.

Ibu memang suka pulang malam-malam. Malam sekali sampai televisi hanya menyisakan gambar semut yang buram. Kata ibu, semut-semut di dalam televisi itu sedang bertengkar memperebutkan posisi raja. Ibu juga bilang kalau semut itu hanya punya satu ratu yang berkuasa. Ratu yang mengatur segala-galanya. “Ibu adalah ratu saya,” saya katakan itu kepadanya dan dia tersenyum sambil kembali menyanyikan tembang yang tidak tahu saya judulnya. Tetapi, tembang itu selalu berhasil membuat saya tertidur.

Saya juga tidak punya teman. Tetapi tak ada yang berani melawan saya soal pelajaran. Saya selalu juara kelas. Saya selalu meraih nilai-nilai tertinggi di setiap pelajaran yang saya ikuti. Laki-laki kecil yang bercita-cita jadi polisi itu tentu mendapat nilai terendah. Saya jadi tertawa-tawa sendiri kalau memikirkan asumsi ini, bahwa setiap laki-laki yang bercita-cita jadi polisi adalah laki-laki yang paling bodoh dalam pelajaran dan paling pandai membuat ulah di masa kecilnya. Karena itulah, daripada suatu saat mereka ditangkap polisi, lebih baik mereka jadi polisi.

“Anak pelacur pasti mencontek. Mana ada anak pelacur yang pintar. Anak pelacur hanya akan jadi pelacur.”

Dia mulai mengolok-ngolok saya lagi. Kali ini saya tidak bisa menahan emosi. Saya berjalan mendekat. “Kamu mau apa?” tanyanya menantang. Seketika saya lemparkan pasir ke matanya. Saya tendang kemaluannya. “Semoga suatu saat kemaluanmu ini tidak kau pakai di tempat pelacuran!” ucap saya dengan kasar.

[4]
Apa dari tadi kamu berpikir saya ini seorang lelaki?

Kamu salah. Saya seorang perempuan. Murni seorang perempuan.

Sudah hampir tujuh belas tahun berlalu sejak saya menendang kemaluan laki-laki (untuk pertama kali). Untuk perihal yang satu ini, saya tidak ketagihan. Tetapi hanya jika ada kesempatan, saya akan melakukannya lagi. Tetapi anehnya mereka kini menyukainya. Setiap saya tekan kaki saya di kemaluan mereka, mereka akan mendesah sambil meneriakkan slogan, “Lanjutkan, lanjutkan!” O, jangan dulu menuduh kalau ini perihal keturunan. Saya tidak suka disebut buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya

Ibu memang pernah membawa laki-laki datang ke rumah. Tapi itu cuma satu kali. Hanya satu kali dan itu diakhiri dengan pertengkaran. Saya disuruh ibu masuk ke dalam kamar, tetapi saya nekat mencuri dengar.

“Kamu tidak pernah bilang kamu punya anak?!” teriak laki-laki itu.

“Tapi kamu bilang mencintai aku apa adanya?” ibu berkilah.

“Ah, persetan!”

Braak! Pintu dibanting dan laki-laki itu pergi entah ke mana.

Saya muncul dari balik kamar, “Siapa dia, Bu?”

Ibu diam saja.

“Apa dia ayah saya?” Tanya saya lagi.

“Ayah? Kamu pikir kamu punya ayah?” Ibu menangis sambil tertawa. “Ayahmu mungkin saja pejabat. Mungkin saja dia wartawan keparat atau preman-preman pasar yang suka menggoda ibu dengan bayar lima puluh ribu itu!” lanjut ibu berteriak.

Saya menangis. “Kenapa ibu berbohong? Ibu bilang ayah adalah seorang prajurit yang pergi ke medan perang. Bukan pejabat. Bukan wartawan keparat. Bukan preman-preman pasar yang cuma bayar lima puluh ribu untuk mengoda ibu?”

“Ibu ini cuma pelacur, Nak…” ibu diam. Mengusap air matanya. Membenahi rambutnya yang awut-awutan. “Kembalilah ke kamar… tidurlah, sudah terlalu malam,” lanjutnya. Dan saya menurut saja. Tak lama ibu menyusul dan memeluk saya sambil masih ada airmata yang basah di pipinya.

Keeseokan harinya, ibu sudah tergeletak tak bernyawa. Ada pisau yang tertancap di dada kirinya. Saya berteriak memanggil orang-orang. Orang-orang datang. Orang-orang panik. “Kamu tahu siapa pelakunya, Nak?” seorang polisi yang sedang mengidentifikasi bertanya pada saya. Katanya ibu bukan bunuh diri, tetapi dibunuh.

“Semalam ada laki-laki…” dan saya mulai bercerita tentang apa yang semalam terjadi. Tetapi saya tahu ibu tidak mati di tangan sang lelaki. Tetapi di tangan saya sendiri, tentu, tanpa meninggalkan sidik jari.
Tak seharusnya kamu membohongi saya, Ibu…

[5]
Sendok. Air. Gula. Dan gelas. Kamu pilih yang mana?

Perempuan ini sepertinya akan menjadi korban keduabelas. Dia baru mengaku kalau ia tengah selingkuh. Padahal ia sudah bertunangan. Sebentar lagi akan menikah. Dia mengambil gelas. Itu artinya dia merasa menjadi wadah tempat menampung cinta. Pantas saja dia seolah bisa menerima semuanya. “Kamu tahu kenapa jam dinding itu selalu mengarah ke pukul dua belas?”

“Dia akan kembali ke pukul satu dan selanjutnya dan selanjutnya. Tidak hanya menuju pukul dua belas.” Dia menjawab dengan enteng.

“Kenapa kamu selingkuh?” tanya saya lagi.

“Karena dia sudah lebih dulu selingkuh. Satu-satu kan?” jawab wanita itu.

“Kamu merasa bersalah?” saya mulai mengetuk-ngetukkan sendok ke gelas. Matanya mengikuti setiap ketukan-ketukan saya. “Kamu tahu, setiap kamu dengar ketukan ini, kamu akan terlelap dalam dan lebih dalam?” saya mulai memainkan teknik hipnotis. Dan tentu saja berhasil. Pelan tapi pasti dia mulai memejamkan mata. Lalu tertidur, masuk ke alam bawah sadarnya. “Mulai sekarang kamu akan merasa bersalah dan sangat ingin mati dengan membenturkan kepalamu ke jam dinding yang membentuk angka dua belas,” ucap saya memberi sugesti.

[6]
Apakah wanita tadi sudah mati? Apakah saya tertangkap polisi?

Pasti pertanyaan-pertanyaan semacam itu sekarang ada di dalam benak kamu.

Seorang polisi datang mengetuk pintu. Tentu laki-laki, seusia saya. Rambutnya rapi. Senyumnya juga rapi seakan sudah diatur satu centi ke kanan dan ke kiri. Tetapi, ada yang saya kenali. Matanya yang tengil dan tahi lalat di samping kanan hidungnya membuat saya tertawa geli, akibat sebuah prediksi.

“Maaf, apa benar perempuan ini adalah pasien Anda?” dia bertanya sambil menyodorkan sebuah foto. Foto perempuan kemarin itu.

“Ya. Baru dua hari yang lalu dia datang kemari, berkonsultasi,” jawab saya.

“Dia ditemukan meninggal hari ini. Kemungkinan dia bunuh diri,” lanjutnya dengan tatapan menyelidik. Saya tahu tatapan itu. Saya juga tahu harus bagaimana menghadapi tatapan itu. Saya tetap tenang dan juga balik menyelidik.

“Saya pikir dia tipe perempuan yang mandiri. Tidak mungkin bunuh diri. Apa tidak ada kemungkinan lain?” saya balik bertanya. Balik menatap matanya. “Seperti dibunuh misalnya?” saya ajukan pertanyaan ini dan matanya terkesiap.

“Tidak, tidak ada petunjuk yang mengarah ke sana. Dia membenturkan kepalanya ke jam dinding sampai mati. Tapi…” dia terdiam sejenak, “tapi ada yang aneh dengan jam dinding itu. Jarum jamnya tepat menunjuk ke jam dua belas, dan setelah diotopsi dia pun mati tepat di jam dua belas. Bukankah ini terlihat seperti bunuh diri yang sangat direncanakan?” gumamnya kebingungan, atau sengaja dibuat kebingungan.

“Sebentar…” saya ke belakang. Tak lama kemudian saya kembali dengan secangkir kopi.
“O, terima kasih,” ucapnya sambil tersenyum. Dia meneguknya dengan pelan. Memandangi belahan di dada saya yang elegan. Saya pun sengaja sedikit menunduk. Matanya sudah seperti banteng yang mau menyeruduk.

“Menurutmu, apakah tukang sulap itu pekerjaan setan? Apakah tukang sulap itu adalah pekerjaan penipuan?”

Sejak saat itulah harusnya dia sadar bahwa matanya tak akan pernah lagi jelalatan. Matanya tak akan pernah lagi sembarangan. Dan jam dinding besar yang ada di ruang tamu ini pun berdentang keras menunjukkan pukul satu yang baru. Pukul satu yang berbeda.***

03 Juni 2010

Sajak Subagio Sastrowardoyo

GENESIS

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


pembuat boneka
yang jarang bicara
dan yang tinggal agak jauh dari kampung
telah membuat patung
dari lilin
serupa dia sendiri
dengan tubuh, tangan dan kaki dua
ketika dihembusnya napas di ubun
telah menyala api
tidak di kepala
tapi di dada
--aku cinta--kata pembuat boneka
baru itu ia mengeluarkan kata
dan api itu
telah membikin ciptaan itu abadi
ketika habis terbakar lilin,
lihat, api itu terus menyala



HAIKU

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


malam rebah
di punggung
sepiku
gigir gunung
susut di kaca
hari makin surut
dan bibir habis kata:
dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja



JENDERAL LU SHUN

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


Jenderal Lu Shun kewalahan. Ia tidak dapat menyelesaikan puisinya. Ia baru menulis dua dari empat baris pantun Cina, tetapi fantasinya seperti tersekat dalam kata-kata kosong tak berarti.
Maka ia keluar dari tendanya dan memerintahkan perwiranya mengumpulkan bala tentaranya."Kita serang dusun itu di lembah dan bunuh penduduknya."
Perwira itu masih mencoba mengingatkannya:"Tetapi Jenderal, ini malam hari dan orang tak boleh berperang waktu musuh sedang tidur. Hanya perampok dan pengecut yang menyerang musuh di malam hari."
"Aku butuhkan ilham," seru Jenderal Lu Shun, "dan aku tak peduli apa siang atau malam. Aku butuhkan kebengisan untuk menulis puisi."
Kemudian ia naik kudanya yang beringas dan mendahului pasukan-pasukannya menyerbu ke lembah. Diayunkan pedang dan dicincang penduduk dusun yang tidak berjaga, sehingga puluhan laki-laki, perempuan dan anak-anak terbunuh oleh tangannya. Ia sungguh menikmati perbuatan itu, dan sehabis melihat dengan gairah darah mengalir dan tubuh bergelimpangan di sekelilingnya, ia kembali ke tendanya. "Jangan aku diusik sementara ini," pesannya kepada seluruh bala tentaranya. Di
dalam keheningan malam ia kemudian menulis puisinya.
Ia menulis tentang langit dan mega, tentang pohon bambu yang merenung di pinggir telaga. Burung bangau putih mengepakkan sayapnya sesekali di tengah alam yang sunyi. Suasana hening itu melambangkan cintanya kepada seorang putri dan rindunya kepada dewa yang bersemayam di atas batu karang yang tinggi.
Itu semua ditulis dalam pantun Cina yang empat baris panjangnya.



KATA

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa



KEHARUAN


Oleh :
Subagio Sastrowardoyo



Aku tak terharu lagi
sejak bapak tak menciumku di ubun.
Aku tak terharu lagi
sejak perselisihan tak selesai dengan ampun.

Keharuan menawan
ktika Bung Karno bersama rakyat
teriak "Merdeka" 17 kali.

Keharuan menawan
ketika pasukan gerilya masuk Jogja
sudah kita rebut kembali.

Aku rindu keharuan
waktu hujan membasahi bumi
sehabis kering sebulan.

Aku rindu keharuan
waktu bendera dwiwarna
berkibar di taman pahlawan

Aku ingin terharu
melihat garis lengkung bertemu di ujung.
Aku ingin terharu
melihat dua tangan damai berhubung


Kita manusia perasa yang lekas terharu

Pustaka dan Budaja,
Th III, No. 9,
1962

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air




KUBU


Oleh :
Subagio Sastrowardoyo




Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini
ada bayi mati kelaparan atau seorang istri
bunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserang
wabah sakit - barangkali di dekat sini
atau jauh di kampung orang,
Tak ada alasan untuk bergembira selama masih
ada orang menangis di hati atau berteriak serak
minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi -
barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.
Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa
untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata
dekat dinding kubu dan menanti.


Daerah Perbatasan,
Jakarta : Budaya Jaya, 1970
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo, 3

LAHIR SAJAK

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

Malam yang hamil oleh benihku
Mencampakkan anak sembilan bulan
Ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu
membawa dosa pertama
di keningnya. Tangisnya akan memberitakan
kelaparan dan rinduku, sakit
dan matiku. Ciumlah tanah
yang menrbitkan derita. Dia
adalah nyawamu.


MANUSIA PERTAMA DI ANGKASA LUAR

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


Beritakan kepada dunia
Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali.
Aku kini melayang di tengah ruang
Di mana tak berpisah malam dengan siang.
Hanya lautan yang hampa di lingkung cemerlang bintang.
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.
Jagat begitu tenang. Tidak lapar
Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah.
Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.
Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu
Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota
Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat
Kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari.
Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa
Yang terselip dalam surat yang membisikkan cintanya kepadaku
Yang mesra. Dia kini tentu berada di jendela
Dengan Alex dan Leo, --itu anak-anak berandal yang kucinta--
Memandangi langit dengan sia. Hendak menangkap
Sekelumit dari pesawatku, seleret dari
Perlawatanku di langit tak terberita.
Masihkah langit mendung di bumi seperti waktu
Kutinggalkan kemarin dulu?
Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita
Sebab semua telah terbang bersama kereta
ruang ke jagat tak berhuni. Berilah aku satu kata puisi
daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih. Angkasa ini ini bisu. Angkasa ini sepi
Tetapi aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali.
Ciumku kepada istriku, kepada anak dan ibuku
Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang
Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.
Aku makin jauh, makin jauh
Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi
Makin gemuruh.

Bunda,
Jangan membiarkan aku sendiri.



Monginsidi

Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

Aku adalah dia yang dibesarkan dengan dongeng di dada bunda
Aku adalah dia yang takut gerak bayang di malam gelam
Aku adalah dia yang meniru bapak mengisap pipa dekat meja
Aku adalah dia yang mengangankan jadi seniman melukis keindahan
AKu adalah dia yang menangis terharu mendengar lagu merdeka
Aku adalah dia yang turut dengan barisan pemberontak ke garis pertempuran
Aku adalah dia yang memimpin pasukan gerilya membebaskan kota
AKu adalah dia yang disanjung kawan sebagai pahlawan bangsa
Aku adalah dia yang terperangkap siasat musuh karena pengkianatan
Aku adalah dia yang digiring sebagai hewan di muka regu eksekusi
Aku adalah dia yang berteriak 'merdeka' sbelum ditembak mati
AKu adalah dia, ingat, aku adalah dia




Budaja Djaja
No. 23, April 1970


NADA AWAL

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo


Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh takada titik darah. tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih


PIDATO DI KUBUR ORANG


Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

Ia terlalu baik buat dunia ini.
Ketika gerombolan mendobrak pintu
Dan menjarah miliknya
Ia tinggal diam dan tidak mengadakan perlawanan
Ketika gerombolan memukul muka
Dan mendopak dadanya
Ia tinggal diam dan tidak menanti pembalasan.
Ketika gerombolan menculik istri
dan memperkosa anak gadisnya
ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian.
Ketika Gerombolan membakar rumahnya
Dan menembak kepalanya
Ia tinggal diam dan tidak mengucap penyesalan.
Ia terlalu baik buat dunia ini




Daerah Perbatasan
Jakarta, Budaja Djaja, 1970

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air





PROKLAMASI

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo




Ketapang yang bercumbuan dengan musim
menjatuhkan daunnya di halaman candi
Aku ingin jadi pohon ketapang yang tumbuh
di muka gerbang berukiran huruf lam
yang dijaga orang kidal



SAJAK

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo






Apakah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk,
bau vicks dan kayuputih
melekat di kelambu.
Kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor buat
bayar dokter, bujang dan makan sehari.
Kalau terbayang pantalon
sudah sebulan sobek tak terjahit.
Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun:
hidup ini makin mengikat dan mengurung.
Apakah arti sajak ini:
Piaraan anggerek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir?

Ah, sajak ini,
mengingatkan aku kepada langit dan mega.
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian.
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali.
Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.



SALJU

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo







Asal mula adalah salju
sebelum tercipta Waktu
sentuhan perawan seringan kenangan
adalah semua yang disebut bumi
dan udara terus bicara
sebab bicara tak pernah berhenti
dan salju jatuh seperti mimpi
Angin kutub memanjang selalu
dan meraba tanpa jari
dan di ambang anjing belang menggonggong
sia sia membuka pagi
hanya geliat bayi dufah terasa
pada dinding tua dekat musim binasa
dan salju melebari hari
Bangunnya Waktu bersama penyesalan
ketika manusia dengan mukanya yang jelek
meninggalkan telapak kakinya di salju
sedang gelegar bintang berpadu ringkik kuda
terlempar damba ke angkasa
Pada saat begini terjadi penciptaan
ketika orang bungkuk dari gua di daerah selatan
menghembuskan napas dan bahasa
bagi segala yang tak terucapkan
sedang selera yang meleleh dari pahanya
menerbitkan keturunan yang kerdil
dengan muka tipis dan alis terlipat
suaranya serak meniru gagak menyerbu mangsa
Dengan tangan kasar digalinya kubur
di salju buat tuhan-tuhannya yang mati
dan di lopak-lopak air membeku
mereka cari muka sendiri terbayang sehari
di antara subuh dan kilat senja
sebelum kebinasaan menjadi mutlak
dan salju turun lagi menghapus semua rupa
dalam kenanaran mimpi